Buku: Hukum Seputar Bulan Allah Al-Muharram

Download Pdfnya Klik
Hukum Seputar Bulan Allah
Al-Muharram[1]
Bulan Allah Al-Muharram adalah bulan pertama dari bulan-bulan Hijriah, dan salah satu dari empat bulan haram (suci). Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita hukum-hukum bulan ini yang terdapat di dalam Kitab Allah Ta’ala, atau dalam Sunnah yang suci. Di antara hukum-hukum yang paling penting adalah sebagai berikut:
Keutamaan Bulan Allah Al-Muharram
Bulan Al-Muharram termasuk salah satu bulan haram yang diagungkan oleh Allah Ta’ala dan disebutkan dalam Kitab-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Allah Ta’ala memuliakan bulan ini di antara seluruh bulan lainnya, sehingga dinamakan “Bulan Allah Al-Muharram”. Penyandaran bulan ini kepada diri-Nya adalah bentuk pemuliaan terhadapnya, serta isyarat bahwa Allah sendirilah yang mensucikannya, dan tidak ada seorang pun dari makhluk-Nya yang berhak menghalalkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menjelaskan pengharaman Allah Ta’ala terhadap bulan-bulan suci ini, yang di antaranya adalah bulan Al-Muharram. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram. Tiga bulan di antaranya berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Al-Muharram, serta bulan Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil Akhir dan Syakban.”[2]
Sekelompok ulama menguatkan pendapat bahwa Al-Muharram adalah bulan haram yang paling utama. Ibnu Rajab berkata:
وَقَدِ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي: أَيُّ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ الْحَسَنُ وَغَيْرُهُ: أَفْضَلُهَا شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَرَجَّحَهُ طَائِفَةٌ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ
“Para ulama berselisih pendapat mengenai bulan haram manakah yang paling utama? Al-Hasan dan yang lainnya berpendapat: Yang paling utama adalah bulan Allah Al-Muharram, dan pendapat ini dikuatkan oleh sekelompok ulama muta’akhirin.”[3]
Hal ini ditunjukkan oleh riwayat An-Nasa’i dan yang lainnya dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ اللَّيْلِ خَيْرٌ، وَأَيُّ الْأَشْهُرِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: خَيْرُ اللَّيْلِ جَوْفُهُ، وَأَفْضَلُ الْأَشْهُرِ شَهْرُ اللَّهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ
“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Malam apakah yang paling baik, dan bulan apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab: ‘Malam yang paling baik adalah pertengahannya, dan bulan yang paling utama adalah bulan Allah yang kalian sebut Al-Muharram.'”[4]
Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
وَإِطْلَاقُهُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ (أَفْضَلُ الْأَشْهُرِ) مَحْمُولٌ عَلَى مَا بَعْدَ رَمَضَانَ، كَمَا فِي رِوَايَةِ الْحَسَنِ الْمُرْسَلَةِ
“Penyebutan mutlak dalam hadis ini (sebagai bulan yang paling utama) dimaknai sebagai yang paling utama setelah bulan Ramadan, sebagaimana terdapat dalam riwayat Al-Hasan yang berstatus mursal.”
Di antara hukum-hukum terpenting dari bulan ini adalah sebagai berikut:
1. Pengharaman Berperang di Dalamnya
Di antara hukum bulan Allah Al-Muharram adalah haramnya memulai peperangan di dalamnya. Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
وَقَدِ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي تَحْرِيمِ ابْتِدَاءِ الْقِتَالِ فِي الشَّهْرِ الْحَرَامِ: هَلْ هُوَ مَنْسُوخٌ أَوْ مُحْكَمٌ؟ عَلَى قَوْلَيْنِ:
أَحَدُهُمَا، وَهُوَ الْأَشْهَرُ: أَنَّهُ مَنْسُوخٌ؛ لِأَنَّهُ تَعَالَى قَالَ هَاهُنَا: {فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ} وَأَمَرَ بِقِتَالِ الْمُشْرِكِينَ.
وَالْقَوْلُ الْآخَرُ: أَنَّ ابْتِدَاءَ الْقِتَالِ فِي الشَّهْرِ الْحَرَامِ حَرَامٌ، وَأَنَّهُ لَمْ يُنْسَخْ تَحْرِيمُ الشَّهْرِ الْحَرَامِ؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ} الْآيَةَ. وَقَالَ: {فَإِذَا انسَلَخَ الأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ} الْآيَةَ
“Para ulama berbeda pendapat mengenai keharaman memulai peperangan di bulan haram: Apakah hukumnya telah dimansukh (dihapus) ataukah masih muhkam (berlaku)? Terdapat dua pendapat:
Pendapat pertama, dan ini yang paling masyhur: Hukumnya telah dimansukh. Karena Allah Ta’ala berfirman di sini: ‘Maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu’ lalu Dia memerintahkan untuk memerangi kaum musyrikin.
Pendapat lainnya: Memulai peperangan di bulan haram adalah haram, dan bahwa pengharaman bulan haram belum dimansukh, berdasarkan firman-Nya Ta’ala: ‘Bulan haram dengan bulan haram, dan (terhadap) sesuatu yang dihormati berlaku hukum qisas. Oleh sebab itu, barangsiapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadapmu…’ (QS. Al-Baqarah: 194). Dan Dia berfirman: ‘Maka apabila bulan-bulan suci itu telah habis, bunuhlah orang-orang musyrik itu…’ (QS. At-Taubah: 5).”[5]
Dahulu, bangsa Arab pada masa Jahiliah sangat mengagungkan bulan ini, dan bulan ini dinamakan Syahrullah Al-Ashamm (Bulan Allah yang Tuli) karena betapa ketatnya pengharamannya. Puasa di bulan Muharram adalah puasa sunah yang paling utama. Imam Muslim meriwayatkan dari hadis Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ قِيَامُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan adalah puasa pada bulan Allah yang kalian sebut Al-Muharram, dan salat yang paling utama setelah salat fardu adalah salat malam (qiyamullail).”
2. Keutamaan Puasanya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan puasa di bulan Allah Al-Muharram melalui sabdanya:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
“Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan adalah puasa di bulan Allah Al-Muharram.”[6]
Para ulama—semoga Allah merahmati mereka—berbeda pendapat mengenai indikasi hadis ini: Apakah hadis tersebut menunjukkan anjuran puasa sebulan penuh atau sebagian besarnya saja? Zahir hadis—wallahu a’lam—menunjukkan keutamaan berpuasa di bulan Muharram secara penuh. Namun, sebagian ulama memaknainya sebagai anjuran untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram, bukan berpuasa sebulan penuh. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha:
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh melainkan di bulan Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa di suatu bulan yang lebih banyak daripada (puasanya) di bulan Syakban.” Diriwayatkan oleh Muslim.[7]
Namun, dapat pula dikatakan: Sesungguhnya Aisyah radhiyallahu ‘anha menyebutkan apa yang beliau lihat, akan tetapi nas (hadis sebelumnya) tetap menunjukkan anjuran berpuasa sebulan penuh.
3. Bulan Allah Al-Muharram dan Hari Asyura
Asyura adalah hari kesepuluh dari bulan Muharram. Hari ini memiliki keistimewaan tersendiri, dan berpuasa pada hari itu memiliki keutamaan yang telah dikhususkan oleh Allah Ta’ala, serta sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Keutamaan Hari Asyura
Asyura adalah hari di mana Allah Ta’ala menyelamatkan Musa beserta kaumnya, dan menenggelamkan Firaun beserta kaumnya. Musa kemudian berpuasa pada hari itu sebagai wujud rasa syukur, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun turut berpuasa padanya. Berdasarkan riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ، فَقَالُوا: هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْهَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ؛ فَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ، فَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka pun ditanya mengenai hal itu, lalu mereka menjawab: ‘Ini adalah hari di mana Allah memenangkan Musa dan Bani Israil atas Firaun, maka kami berpuasa untuk mengagungkannya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: ‘Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian,’ lalu beliau memerintahkan untuk berpuasa padanya.”[8]
Dalam riwayat Muslim disebutkan:
فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا، فَنَحْنُ نَصُومُهُ…
“Maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai bentuk rasa syukur, maka kami pun berpuasa padanya…”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki empat keadaan terkait puasa Asyura:[9]
Keadaan Pertama:
Beliau berpuasa di Makkah, namun tidak memerintahkan manusia untuk berpuasa. Dalam Ash-Shahihain (Bukhari dan Muslim), dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
كَانَتْ عَاشُورَاءُ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا نَزَلَتْ فَرِيضَةُ شَهْرِ رَمَضَانَ كَانَ رَمَضَانُ هُوَ الَّذِي يَصُومُهُ، فَتَرَكَ صَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ
“Dahulu Asyura adalah hari di mana kaum Quraisy berpuasa pada masa Jahiliah, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpuasa padanya. Tatkala beliau tiba di Madinah, beliau berpuasa padanya dan memerintahkan manusia untuk berpuasa. Namun ketika kewajiban puasa bulan Ramadan turun, maka Ramadan-lah yang beliau puasakan, dan beliau meninggalkan (kewajiban) puasa Asyura. Barangsiapa yang ingin, ia boleh berpuasa padanya, dan barangsiapa yang ingin, ia boleh berbuka.”[10]
Dalam riwayat Al-Bukhari: Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ، وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ
“Barangsiapa yang ingin, maka berpuasalah, dan barangsiapa yang ingin, maka berbukalah.”[11]
Keadaan Kedua:
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah dan melihat Ahli Kitab berpuasa serta mengagungkannya—dan beliau suka menyelisihi mereka dalam hal yang belum diperintahkan—maka beliau berpuasa padanya dan memerintahkan manusia untuk berpuasa padanya. Beliau sangat menekankan perintah puasanya dan memotivasi para sahabat hingga mereka turut membiasakan anak-anak mereka berpuasa.
Keadaan Ketiga:
Ketika puasa bulan Ramadan diwajibkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi memerintahkan para sahabatnya untuk wajib berpuasa pada hari Asyura. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
“Sesungguhnya Asyura adalah salah satu dari hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin, ia boleh berpuasanya, dan barangsiapa yang ingin, ia boleh meninggalkannya.”
Dalam riwayat Muslim yang lain:
فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ، وَمَنْ كَرِهَ فَلْيَدَعْهُ
“Barangsiapa di antara kalian yang suka untuk berpuasa padanya, maka berpuasalah, dan barangsiapa yang tidak suka, maka tinggalkanlah.”
Keadaan Keempat:
Di akhir hayatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad untuk tidak berpuasa Asyura secara sendirian (hanya tanggal 10), melainkan menggabungkannya dengan hari kesembilan (Tasu’a), sebagai bentuk penyelisisihan terhadap Ahli Kitab. Berdasarkan riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani!” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا التَّاسِعَ
“Maka apabila tiba tahun depan, insyaallah kita akan berpuasa pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas berkata: “Belum sempat tahun depan tiba, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.”[12]
- Keutamaan Puasa Asyura
Adapun keutamaan puasa hari Asyura, telah ditunjukkan oleh hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, di mana ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Asyura? Maka beliau menjawab:
أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
“Aku berharap kepada Allah agar puasa ini menghapuskan dosa-dosa satu tahun sebelumnya.”[13]
Jika seorang muslim berpuasa pada hari kesepuluh saja, ia tetap akan mendapatkan pahala yang besar ini, tanpa dihukumi makruh (berbeda dengan pandangan sebagian ahli ilmu). Namun jika ia menggabungkannya dengan puasa pada hari kesembilan, tentu pahalanya akan lebih besar. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَئِنْ بَقِيتُ أَوْ لَئِنْ عِشْتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
“Seandainya aku masih hidup atau berumur panjang hingga tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.”
Adapun hadis-hadis yang diriwayatkan mengenai anjuran berpuasa sehari sebelum dan sesudahnya, atau sehari sebelum atau sesudahnya, maka sanadnya tidak sahih secara marfu’ (disandarkan langsung) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibadah—sebagaimana diketahui bersama—bersifat tauqifiyyah (berdasarkan ketetapan syariat), sehingga tidak boleh dikerjakan kecuali dengan dalil. Meskipun demikian, hal tersebut dapat dijadikan penguat pendukung (istinas); sebab sebagian atsar (riwayat) ini berstatus sahih secara mauquf (hanya bersandar) pada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu. Oleh karena itu, tidak dicela bagi siapa saja yang berpuasa Asyura beserta sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, atau mencukupkan puasanya dengan ditambah sehari sesudahnya saja.
Bid’ah-bid’ah pada Hari Asyura
Al-Allamah Syaikh Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata:
وَقَدْ ضَلَّ فِي هَذَا الْيَوْمِ طَائِفَتَانِ:
طَائِفَةٌ شَابَهَتِ الْيَهُودَ؛ فَاتَّخَذَتْ عَاشُورَاءَ مَوْسِمَ عِيدٍ وَسُرُورٍ، تُظْهِرُ فِيهِ شَعَائِرَ الْفَرَحِ؛ كَالِاخْتِضَابِ، وَالِاكْتِحَالِ، وَتَوْسِيعِ النَّفَقَاتِ عَلَى الْعِيَالِ، وَطَبْخِ الْأَطْعِمَةِ الْخَارِجَةِ عَنِ الْعَادَةِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنْ عَمَلِ الْجُهَّالِ، الَّذِينَ قَابَلُوا الْفَاسِدَ بِالْفَاسِدِ، وَالْبِدْعَةَ بِالْبِدْعَةِ.
وَطَائِفَةٌ أُخْرَى اتَّخَذَتْ عَاشُورَاءَ يَوْمَ مَأْتَمٍ وَحُزْنٍ وَنِيَاحَةٍ؛ لِأَجْلِ قَتْلِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- تُظْهِرُ فِيهِ شِعَارَ الْجَاهِلِيَّةِ؛ مِنْ لَطْمِ الْخُدُودِ، وَشَقِّ الْجُيُوبِ، وَإِنْشَادِ قَصَائِدِ الْحُزْنِ، وَرِوَايَةِ الْأَخْبَارِ الَّتِي كَذِبُهَا أَكْثَرُ مِنْ صِدْقِهَا، وَالْقَصْدُ مِنْهَا فَتْحُ بَابِ الْفِتْنَةِ، وَالتَّفْرِيقُ بَيْنَ الْأُمَّةِ، وَهَذَا عَمَلُ مَنْ ضَلَّ سَعْيُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا، وَهُوَ يَحْسَبُ أَنَّهُ يُحْسِنُ صُنْعًا.
وَقَدْ هَدَى اللَّهُ تَعَالَى أَهْلَ السُّنَّةِ، فَفَعَلُوا مَا أَمَرَهُمْ بِهِ نَبِيُّهُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الصَّوْمِ، مَعَ رِعَايَةِ عَدَمِ مُشَابَهَةِ الْيَهُودِ فِيهِ، وَاجْتَنَبُوا مَا أَمَرَهُمُ الشَّيْطَانُ بِهِ مِنَ الْبِدَعِ، فَلِلَّهِ الْحَمْدُ وَالْمِنَّةُ.
“Pada hari ini, terdapat dua kelompok yang tersesat:
Kelompok pertama menyerupai kaum Yahudi. Mereka menjadikan Asyura sebagai musim hari raya dan kegembiraan, menampakkan syiar-syiar kesenangan padanya, seperti memakai inai, memakai celak mata, memberikan kelapangan nafkah bagi keluarga, memasak hidangan yang di luar kebiasaan, dan amalan-amalan orang jahil semacamnya, yang membalas kebatilan dengan kebatilan, serta merespons bid’ah dengan bid’ah.
Kelompok kedua menjadikan Asyura sebagai hari perkabungan, kesedihan, dan meratap, lantaran terbunuhnya Al-Husain bin Ali -radhiyallahu ‘anhuma-. Mereka menampakkan syiar-syiar Jahiliah padanya, seperti menampar-nampar pipi, merobek-robek kerah baju, melantunkan syair-syair kesedihan, dan merawikan berita-berita yang kedustaannya lebih banyak daripada kebenarannya. Tujuannya adalah untuk membuka pintu fitnah dan memecah belah umat. Ini adalah amalan orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.
Adapun Allah Ta’ala telah memberi petunjuk kepada Ahlussunnah. Mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni berpuasa, seraya menjaga agar tidak menyerupai orang-orang Yahudi di dalamnya, dan mereka menjauhi bid’ah-bid’ah yang diperintahkan oleh setan. Maka segala puji dan karunia hanyalah milik Allah.”[14]
Para ulama rahimahumullah telah menegaskan bahwa tidak ada satu pun ibadah yang sah disyariatkan pada hari Asyura kecuali berpuasa. Tidak ada dalil sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan ibadah seperti menghidupkan malamnya dengan qiyamullail (secara khusus), memakai celak mata, memakai wewangian, melapangkan nafkah bagi keluarga, atau hal-hal lainnya di luar puasa tersebut.
- https://dorar.net/article/155 ↑
- Muttafaq ‘alaih. ↑
- Latha’if Al-Ma’arif, hal. 70. ↑
- Diriwayatkan dari Abu Dzar: Oleh An-Nasa’i dalam Al-Kubra; dan dari Abu Hurairah: Diriwayatkan oleh Ad-Darimi, Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi; serta dari Jundab bin Sufyan: Oleh An-Nasa’i dan Al-Baihaqi. Hadis ini sahih. ↑
- Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 2/468-469. Ibnu Katsir rahimahullah telah menyebutkan dalil-dalil beserta sanggahannya, silakan rujuk ke sana. ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim. ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim. ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. ↑
- Lihat: Latha’if Al-Ma’arif, hal. 96-102. ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. ↑
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari. ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim. ↑
- Diriwayatkan oleh Muslim. ↑
- Risalah fi Ahadits Syahr Allah Al-Muharram. ↑



