Khutbah Jumat: Menutup Dzulhijjah Dengan Muhasabah Dan Syukur

Atau
MENUTUP DZULHIJJAH DENGAN MUHASABAH DAN SYUKUR
Penulis:
Ustaz Dr. Eko Mishbahuddin, Lc., M.A.
(Doktor King Saud University, Riyadh, KSA)
Khutbah pertama:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْغِزَارِ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ مِنَ الذُّنُوبِ وَالأَوْزَارِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ. وَأَشْهَدُ أَنْ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خاتمُ الأَنْبِياءِ والْمُرْسَلِين، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَالتَّابِعِيْنَ، ومَنْ تَبِعهُمْ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْن.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، فَإِنَّ التَّقْوَى طَرِيقُ الْفَوْزِ بِالْجِنَانِ، وَالنَّجَاةِ مِنَ النِّيرَانِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:﴿إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ۞ حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا ۞ وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا ۞ وَكَأْسًا دِهَاقًا ۞ لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا ۞ جَزَاءً مِنْ رَبِّكَ عَطَاءً حِسَابًا ۞﴾ (النبأ: 31-36).
“Sungguh, bagi orang-orang yang bertakwa ada kemenangan besar, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, gadis-gadis cantik yang sebaya, gelas-gelas yang penuh (minuman). Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia, tidak (pula) dusta. Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (QS. An-Naba’: 31-36).
Jemaah Jumat yang Dirahmati Allah, Saat ini kita berada di penghujung bulan Dzulhijjah, sebuah momentum sacral, di mana selembar tirai waktu dari tahun Hijriah yang kita lalui akan segera ditutup rapat. Hari-hari di tahun ini telah melesat bagai kilatan cahaya yang menyambar sekilas, bergerak tanpa kompromi, dan tidak akan pernah berputar kembali.
Pergantian waktu ini bukanlah sekadar perubahan angka pada kalender dinding. Bagi jiwa-jiwa yang jernih, silih bergantinya siang dan malam adalah deklarasi sunatullah, bahwa usia kita semakin surut, jatah beramal kita sedang berkurang, dan langkah kita kian mendekat ke liang kubur. Dunia ini tidak lain hanyalah jembatan penyeberangan yang singkat, untaian hari yang fana, yang sesingkat apa pun kita tinggal di dalamnya, ia pasti akan sirna. Allah Azza wa Jalla mengingatkan hakikat perputaran usia ini dalam firman-Nya:
﴿هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ﴾ (غافر: 67).
“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).” (QS. Ghafir: 67)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Perhatikanlah bagaimana waktu mengubah kita. Jika kemarin kita adalah anak kecil yang lemah, lalu tumbuh menjadi remaja yang kuat, kini sebagian dari kita telah mendapati guratan keriput di wajah, rambut yang memutih, dan punggung yang kian membungkuk. Itu semua adalah isyarat visual dari Allah bahwa kita sedang mengantri di ambang pintu keberangkatan meninggalkan panggung dunia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala melukiskan betapa rapuh dan menipunya keindahan kehidupan duniawi melalui analogi yang sangat menyentuh hati, firman-Nya:
﴿إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾.
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, hanya seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan oleh manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah mencapai keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan ia seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang berpikir.” (QS. Yunus: 24).
Imam At-Thabari menafsirkan ayat ini dengan catatan yang mendalam, ungkapnya: “Maka janganlah penduduk dunia terpedaya oleh dunia mereka. Karena keindahannya akan terputus dan berubah menjadi kering rusak. Hendaknya seseorang beramal untuk sesuatu yang kekal yang tidak akan sirna.” (Jāmi’ul Bayān: 18/30)
Dunia ini hanyalah tempat persinggahan fana. Betapa indahnya wasiat yang disampaikan oleh Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu ketika beliau berkata: “Ketahuilah bahwa dunia telah bersiap-siap pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat telah datang menyongsong kita. Dan masing-masing dari keduanya memiliki pengikut. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Hari ini adalah waktu untuk beramal tanpa ada perhitungan (hisab), sedangkan esok hari adalah waktu untuk perhitungan (hisab) tanpa ada lagi kesempatan untuk beramal.” (Shahih Bukhari, Bāb Fil-Amali wa Thūlihi: 8/89)
Hadirin yang Berbahagia, Mengakhiri bulan Dzulhijjah ini, kita dituntut untuk membuka dua lembar utama dalam hati kita, yaitu: Lembar Muhasabah dan Lembar Syukur. Allah Azza wa Jalla menegaskan dalam surah Al-Furqan:
﴿وهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا﴾.
“Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran (muhasabah) atau orang yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62).
Melalui ayat ini, Allah membagi jalan manusia dalam menyikapi waktu menjadi dua golongan:
Pertama, golongan yang mengambil pelajaran (Muhasabah). Mari kita audit catatan amal kita selama satu tahun ke belakang. Di antara dua tahun ini, mari kita merenung, berapakah salat fardu yang kita lewatkan tanpa uzur syar’i? Berapa kali lisan kita menggores luka pada hati sesama manusia melalui ghibah, dusta, dan adu domba? Berapa banyak harta yang kita cari dari jalan yang haram atau syubhat?
Ingatlah seruan Sayyidina Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah), dan timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang. Karena sesungguhnya akan terasa lebih ringan bagi kalian dalam menghadapi hisab di hari esok, jika kalian menghisab diri kalian pada hari ini.” (Az-Zuhdu wa Ar-Raqā̀iq, Ibnu Mubarak: 1/103)
Maksiat-maksiat yang kita lakukan pada hari-hari yang lalu, apakah hari ini masih terasa kelezatannya? Demi Allah, tidak! Kelezatannya telah sirna, namun catatan dosanya tetap tinggal membekas dan menanti pertanggungjawaban.
Kedua, golongan yang bersyukur. Setahun ini dipenuhi dengan bentangan rezeki, nikmat kesehatan, serta ketenteraman yang mengalir deras tanpa putus. Lebih dari itu, nikmat tertinggi adalah ketika Allah memberikan kita taufik melangkah ke masjid untuk bersujud, berpuasa, berzikir dan menginfakkan harta di jalan-Nya.
Bagi orang-orang saleh, rasa lelah dan kepayahan dalam menaati Allah itu kini telah hilang, namun pahala dan ganjaran di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah akan tetap abadi mengalir. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur, sebagaimana kisah yang diriwayatkan oleh Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu anha ketika melihat Rasulullah salat malam hingga kaki beliau bengkak. Beliau bertanya, “Mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Rasulullah menjawab:
“أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا“
“Tidakkah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Muslim).
Maka, tutup lah tahun ini dengan banyak beristigfar atas segala dosa, juga mengikat nikmat-nikmat yang tersisa dengan untaian syukur yang tulus. Sungguh, beruntunglah mereka yang usianya berlalu dan tahunnya berakhir di atas ketaatan kepada Allah, dan merugilah mereka yang menutup tahunnya dalam keadaan lalai dan membatu hatinya dari mengingat Allah.
أَقُولُ هَذَا الْقَوْلَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah kedua:
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابٌ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلٌ.
Jemaah Jumat yang Dirahmati Allah, Di khutbah kedua ini, khatib kembali berwasiat, marilah kita sambut tahun baru yang akan datang dengan tekad yang kuat, niat yang jujur, dan iman yang menghunjam kokoh. Jangan biarkan lembaran baru yang suci nanti kembali dikotori oleh kelalaian dan maksiat yang membinasakan.
Allah Azza wa Jalla menjanjikan kelimpahan karunia bagi siapa saja di antara kita yang mau mengencangkan ikat pinggangnya untuk beramal saleh, firman-Nya:
﴿مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).
Pintu-pintu kebaikan begitu luas dibuka oleh Allah Ta’ala. Ingatlah sabda Baginda Nabi Muhammad ﷺ yang memberikan harapan besar bagi kita semua:
مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، تَابَ اللهُ عَلَيْهِ.
“Barang siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari arah barat, niscaya Allah akan menerima tobatnya.” (HR. Muslim).
Maka, pergunakanlah sisa sehatmu sebelum datang sakitmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu. Mari kita fungsikan diri kita sebagai penjaga amanah dalam keluarga; didiklah istri dan anak-anak kita dengan pendidikan Islam yang mulia, agar mereka tidak tergerus oleh badai fitnah zaman dan tipu daya dunia yang menyesatkan.
Hadirin sekalian, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mencuci bersih dosa-dosa kita di tahun lalu, dan menjadikan tahun depan sebagai tahun kemenangan, keamanan, ketenteraman, serta kedamaian bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia.
Selanjutnya, marilah kita bersalawat dan salam untuk penghulu para Rasul, Nabi kita Muhammad bin Abdillah, itulah titah Allah dalm firman-Nya:
﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَامَنَا الْجَدِيدَ عَامَ خَيْرٍ وَبَرَكَةٍ، وَأَمْنٍ وَإِيمَانٍ، وَسَلاَمَةٍ وَإِسْلاَمٍ لَنَا وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا في كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِن كُلِّ شَرٍّ.
﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

+6285333345252



