Penyesalan Yang Paling Besar Setelah Kematian

PENYESALAN YANG PALING BESAR SETELAH KEMATIAN
Tidak ada seorang pun yang telah meninggal dunia meminta untuk kembali ke dunia demi menambah harta, memperluas usaha, menyelesaikan rumah, mengejar jabatan, atau menikmati kembali kenikmatan dunia.
Yang mereka inginkan hanyalah satu kesempatan lagi untuk beramal saleh.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ ﴾
“Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara mereka, dia berkata, ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada alam barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.”
(QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Ayat ini menunjukkan bahwa ketika tabir akhirat telah terbuka, seseorang baru menyadari betapa berharganya setiap detik kehidupan di dunia. Waktu yang dahulu dianggap panjang ternyata sangat singkat. Kesempatan yang dahulu dianggap masih banyak ternyata telah habis.
Mereka tidak meminta kembali untuk memperbaiki urusan dunia. Mereka tidak berkata, “Ya Rabb, kembalikan aku agar aku bisa mengumpulkan lebih banyak harta.” Mereka juga tidak berkata, “Agar aku bisa menikmati masa muda sekali lagi.”
Yang keluar dari lisan mereka hanyalah:
﴿ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا ﴾
“Agar aku dapat beramal saleh.”
Karena di alam akhirat mereka telah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa yang benar-benar bernilai hanyalah amal. Shalat yang dikerjakan dengan ikhlas, sedekah yang diberikan secara sembunyi-sembunyi, tilawah Al-Qur’an, dzikir, doa, bakti kepada orang tua, menuntut ilmu, berdakwah, membantu sesama, dan seluruh amal yang dilakukan karena Allah. Itulah bekal yang mereka harapkan, namun kesempatan telah berlalu.
Allah menjawab permintaan mereka dengan firman-Nya:
﴿ كَلَّا ﴾
“Sekali-kali tidak!”
Tidak ada lagi kesempatan kedua. Tidak ada lagi hari esok. Tidak ada lagi penundaan taubat. Pintu amal telah ditutup, dan yang tersisa hanyalah hisab serta balasan.
Betapa banyak orang yang hari ini masih berkata, “Nanti saja aku berhijrah.”
“Nanti saja aku memperbaiki shalat.”
“Nanti kalau sudah tua aku akan lebih rajin beribadah.”
Padahal tidak seorang pun mengetahui apakah ia masih diberi kesempatan hingga esok hari.
Selama ruh masih berada di dalam jasad, selama matahari masih terbit untuk kita, selama pintu taubat belum ditutup, maka manfaatkanlah setiap kesempatan untuk memperbanyak amal saleh.
Jangan sampai penyesalan terbesar kita kelak hanyalah mengucapkan:
﴿ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ﴾
“Ya Rabbku, kembalikanlah aku, agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memanfaatkan umur untuk ketaatan, mengakhiri kehidupan dengan husnul khatimah, dan mengumpulkan kita di surga-Nya bersama para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh. Āmīn.



