Hati-Hati dengan “Orang Berkain”: Bahaya Membawa Ucapan dan Mengadu Domba

Hati-Hati dengan “Orang Berkain”: Bahaya Membawa Ucapan dan Mengadu Domba
Mukadimah
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِحِفْظِ الْأَلْسِنَةِ، وَحَذَّرَنَا مِنَ النَّمِيمَةِ وَنَقْلِ الْكَلَامِ بَيْنَ النَّاسِ لِلْإِفْسَادِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، الَّذِي قَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Segala puji bagi Allah yang memerintahkan kita menjaga lisan dan memperingatkan kita dari namimah, mengadu domba, serta membawa perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan menimbulkan kerusakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Sebuah ucapan terkadang terasa ringan ketika keluar dari mulut, tetapi ketika dipindahkan kepada orang lain, ditambah, dikurangi, atau dilepaskan dari konteksnya, ia dapat berubah menjadi fitnah yang merusak kehormatan, memutus persaudaraan, bahkan menjadi sebab tertumpahnya darah.
Allah mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kalian tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan, lalu akhirnya kalian menyesali perbuatan kalian.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Di antara kisah salaf yang memberikan pelajaran sangat dalam tentang masalah ini adalah kisah seorang ulama besar dari kalangan tabi‘in, Rajā’ bin Ḥaiwah رحمه الله, dengan seseorang yang diam-diam mendengarkan pembicaraan majelisnya, kemudian membawa perkataan tersebut kepada Amirul Mukminin.
Kisah ini kemudian melahirkan sebuah peringatan yang terus diulang oleh Rajā’ setiap kali duduk dalam suatu majelis:
«احْذَرُوا صَاحِبَ الْكِسَاءِ»
“Waspadalah terhadap orang yang memakai kain penutup itu!”
Maksudnya bukanlah agar kita mencurigai setiap orang, tetapi agar kita memahami bahwa tidak setiap orang yang duduk dalam sebuah majelis datang dengan niat yang sama, dan tidak setiap telinga yang mendengar akan menjaga amanah perkataan yang didengarnya.
Penutup dan Pelajaran
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kisah ini memberikan pelajaran besar tentang amanah lisan dan amanah majelis.
Betapa banyak persahabatan rusak bukan karena ucapan pertama, tetapi karena orang ketiga yang membawa ucapan tersebut.
Betapa banyak hubungan keluarga retak karena kalimat, “Si fulan mengatakan begini tentangmu.”
Betapa banyak permusuhan muncul karena seseorang mendengar sebagian pembicaraan, kemudian menyampaikannya tanpa memahami konteksnya.
Lebih berbahaya lagi apabila sebuah ucapan dibawa kepada orang yang mempunyai kekuasaan sehingga mengakibatkan seseorang dihukum atau dizalimi.
Karena itulah kalimat Rajā’ bin Ḥaiwah sangat dalam:
«سَبْعُونَ سَوْطًا فِي ظَهْرِكَ خَيْرٌ مِنْ دَمِ مُؤْمِنٍ»
“Tujuh puluh cambukan di punggungmu lebih baik daripada tertumpahnya darah seorang mukmin.”
Maka jagalah lisan kita.
Jangan semua yang kita dengar kita ceritakan.
Jangan semua yang sampai kepada kita langsung kita percayai.
Jangan memotong perkataan seseorang dari konteksnya.
Jangan membawa perkataan dari satu majelis ke majelis lainnya untuk menimbulkan perselisihan.
Dan jangan menjadikan kedekatan dengan orang yang memiliki kedudukan sebagai sarana mencelakakan orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ»
“Tidak akan masuk surga seorang pengadu domba.”
(HR. Muslim)
Diceritakan oleh Adz-Dzahabi, Siyar A‘lām an-Nubalā’, jilid 4, hlm. 558:
قال صفوان بن صالح : حدثنا عبد الله بن كثير الدمشقي القارئ ، حدثنا عبد الرحمن بن يزيد بن جابر ، قال : كنا مع رجاء بن حيوة ، فتذاكرنا شكر النعم ، فقال : ما أحد يقوم بشكر نعمة ، وخلفنا رجل على رأسه كساء ، فقال : ولا أمير المؤمنين ؟ فقلنا : وما ذكر أمير المؤمنين هنا ! وإنما هو رجل من الناس . قال : فغفلنا عنه ، فالتفت رجاء فلم يره ، فقال : أتيتم من صاحب الكساء ، فإن دعيتم فاستحلفتم فاحلفوا . قال : فما علمنا إلا بحرسي قد أقبل عليه ، قال : هيه يا رجاء ، يذكر أمير المؤمنين ، فلا تحتج له ؟ ! قال : فقلت : وما ذاك يا أمير المؤمنين ؟ قال : ذكرتم شكر النعم ، فقلتم : ما أحد يقوم بشكر نعمة ، قيل لكم : ولا أمير المؤمنين ، فقلت : أمير المؤمنين رجل من الناس ! فقلت : لم يكن ذلك . قال : آلله ؟ قلت : آلله .
قال : فأمر بذلك الرجل الساعي ، فضرب سبعين سوطا ، فخرجت وهو متلوث بدمه فقال : هذا وأنت رجاء بن حيوة . قلت : سبعين سوطا في ظهرك خير من دم مؤمن . قال ابن جابر : فكان رجاء بن حيوة بعد ذلك إذا جلس في مجلس يقول ويتلفت : احذروا صاحب الكساء .
Dari Shafwan bin Shalih, ia berkata: Abdullah bin Katsir ad-Dimasyqi, seorang qari, telah menceritakan kepada kami; Abdurrahman bin Yazid bin Jabir telah menceritakan kepada kami, ia berkata:
> “Kami pernah bersama Raja’ bin Haiwah, lalu kami berbincang-bincang mengenai mensyukuri nikmat. Raja’ berkata, ‘Tidak ada seorang pun yang mampu menunaikan syukur atas suatu nikmat dengan sempurna.’
Di belakang kami ada seorang laki-laki yang mengenakan kain penutup di kepalanya. Ia berkata, ‘Termasuk Amirul Mukminin juga?’
Kami menjawab, ‘Apa hubungannya Amirul Mukminin dibicarakan di sini?! Yang sedang dibicarakan hanyalah seseorang dari kalangan manusia.’
Kami kemudian tidak lagi memperhatikan orang tersebut. Raja’ menoleh, ternyata ia sudah tidak terlihat. Raja’ pun berkata, ‘Kalian akan mendapat masalah gara-gara orang yang memakai kain penutup kepala itu. Jika nanti kalian dipanggil lalu diminta bersumpah, maka bersumpahlah.’
Tidak lama kemudian, tanpa kami sadari, seorang pengawal datang menemui Raja’. Ia berkata, ‘Nah, wahai Raja’! Amirul Mukminin disebut-sebut, tetapi engkau tidak membelanya?!’
Aku [Raja’] berkata, ‘Apa maksudnya, wahai Amirul Mukminin?’
Ia berkata, ‘Kalian membicarakan tentang mensyukuri nikmat. Kalian mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang mampu menunaikan syukur atas suatu nikmat.” Lalu dikatakan kepada kalian, “Termasuk Amirul Mukminin?” Maka engkau menjawab, “Amirul Mukminin juga manusia biasa!”’
Aku menjawab, ‘Itu tidak pernah terjadi.’
Ia bertanya, ‘Demi Allah?’
Aku menjawab, ‘Demi Allah.’
Kemudian Amirul Mukminin memerintahkan agar orang yang mengadu tersebut dihukum. Ia pun dicambuk sebanyak tujuh puluh kali.
Ketika aku keluar, kulihat tubuhnya berlumuran darah. Ia berkata kepadaku, ‘Begini balasannya, padahal engkau adalah Raja’ bin Haiwah!’
Aku menjawab, ‘Tujuh puluh cambukan di punggungmu lebih baik daripada tertumpahnya darah seorang mukmin.’”
Ibnu Jabir berkata:
> “Setelah kejadian itu, setiap kali Raja’ bin Haiwah duduk dalam suatu majelis, ia selalu berkata sambil menoleh ke sekelilingnya, ‘Waspadalah terhadap orang yang memakai kain penutup kepala!’”
Maksud kisah: Raja’ bin Haiwah mengetahui bahwa orang berkain itu adalah pengadu atau mata-mata yang akan menyampaikan percakapan majelis kepada penguasa. Karena khawatir laporan tersebut dapat menyebabkan darah seorang mukmin tertumpah, ia mengingkari laporan itu dengan sumpah. Akibatnya, si pengadu justru dihukum 70 cambukan. Karena itulah Raja’ berkata bahwa cambukan tersebut lebih ringan daripada terbunuhnya seorang mukmin.
Doa
اللَّهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ، وَاحْفَظْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَالْحَسَدِ وَسُوءِ الظَّنِّ.
Ya Allah, jagalah lisan kami dari dusta, ghibah, dan namimah. Jagalah hati kami dari kedengkian, hasad, dan buruk sangka.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا.
Ya Allah, jadikanlah kami pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan. Perbaikilah hubungan di antara kami dan satukanlah hati kami.
اللَّهُمَّ احْقِنْ دِمَاءَ الْمُسْلِمِينَ، وَاحْفَظْ أَعْرَاضَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ، وَأَعِذْنَا مِنْ أَنْ نَكُونَ سَبَبًا فِي ظُلْمِ مُسْلِمٍ أَوْ أَذَاهُ.
Ya Allah, lindungilah darah kaum Muslimin, kehormatan dan harta mereka. Lindungilah kami agar tidak menjadi sebab seorang Muslim dizalimi atau disakiti.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَلْسِنَتَنَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوبَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَاجْعَلْ كَلَامَنَا ذِكْرًا، وَصَمْتَنَا فِكْرًا، وَنُطْقَنَا خَيْرًا.
وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.



