Tadabur Surah Al-Jumu’ah Ayat 1-2

321

Tadabur Ayat Pertama 

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

 

يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ الْعَزِ يْزِ الْحَكِيْمِ 

Artinya: “Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah Yang Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahaperkasa, lagi Mahabijaksana.” 

(QS. Al-Jumu’ah: 1) 

 

Beberapa faedah tadabur yang bisa dipetik dari ayat di atas, ialah: 

  1. Semua makhlukselain manusia dan jin senantiasa bertasbih kepada Allah. Bagaimana makhluk-makhluk tersebut bertasbih? 

Allahualam, kita sebagai manusia tidak mengetahui dan memahaminya; sebagaimana Allah Ta’ala tegaskan, 

  

تسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَا لْاَ رْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰـكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا 

     Artinya: Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra‘: 44) 

  1. Bila semua makhluk selain manusia dan jin senantiasa bertasbih kepada Allah, maka manusia lebih wajib dan pantas untuk bertasbih, karena mereka dikarunia hati dan akal yang dengan keduanya bisa memahami bahwa bertasbih kepada Allah adalah sebuah kewajiban sekaligus kebutuhan.
  2. Mengapa kita wajib bertasbih kepada Allah? 

Alasannya adalah karena: 

  • Allah adalah AlMalik Yang Mahasempurna kekuasaanNya, Dialah yang memiliki alam semesta dan yang mengaturnya. 
  • Allah adalah Al-Quddus Yang Mahaagung dan Mahasuci dari segala macam kekurangan dan kelemahan. 
  • Allah adalah Al-‘Aziz Yang Mahaperkasa, yang mengalahkan dan menundukkan seluruh makhlukNya. 
  • Allah adalah Al-Hakim Yang Mahabijaksana dalam penciptaan dan perintah- perintahNya. 

 

Seorang hamba yang mengenal Allah dengan 4 nama dan sifatNya di atas, dialah muslim sejati yang akan menyerahkan hati, jiwa serta raganya dalam ketundukan dan ketaatan kepada Rabb-nya. Dan bila seorang hamba telah menjadi muslim sejati, pasti dia akan merasakan kebahagiaan hidup di dunia. Dalam keadaan diuji dengan kesempitan dan kekurangan dia akan rida dan bersabar, tidak kesal atau kecewa, apalagi emosi. Demikian juga ketika diuji dengan kesenangan dan kecukupan dia akan bersyukur dan rendah hati, tidak sombong apalagi durhaka, karena dia yakin apa yang telah Allah takdirkan dalam hidupnya, semua terjadi karena kekuasaan, izzah serta hikmahNya, dan Allah Mahasuci dari sifat zalim. 

Tadabur Ayat Ke-2 

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, 

 

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُ مِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَاِنْ كَا نُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ 

 

Artinya: “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al-Jumu’ah: 2) 

 

Beberapa faedah tadabur yang bisa dipetik dari ayat di atas adalah: 

1.Diutusnya seorang Rasul merupakan konsekuensi nama Allah: Ar-Rahmaan dan Ar-Rahim. Oleh karenanya, Allah Ta’ala menegaskan bahwa Rasulullah sallallahu ‘alahi wa sallam tidaklah diutus kecuali sematasemata karena rahmat (kasih sayang) Allah Ta’ala, agar menjadi rahmat bagi seluruh alam. Dia berfirman, 

 

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ 

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya‘: 107) 

Para pewaris Rasul yang meniti jalan mereka dan melanjutkan tugas risalah mereka sebagai dai dan murabbi, hendaknya senantiasa menjadikan rahmat’ (kasih sayang) sebagai napas untuk ruh dan tenaga untuk tubuhnya, sehingga sikap dan tutur katanya selalu mencerminkan kasih sayang. 

 

2. Bersyukur kepada Allah atas nikmat diutusnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, dengan syukur yang sebenarnya, yaitu: 

  • Hati berikrar dengan mengakui dan meyakini bahwa hanya Allah yang memberi nikmat tersebut, 
  • Lisan bertahmid dengan memuja dan memuji Allah, 
  • Jiwa dan raga tunduk kepada Allah, sehingga nikmat yang diberikan tidak digunakan kecuali untuk ibadah kepadaNya. 

 

3. Diutusnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam merupakan nikmat yang agung, melebihi kenikmatan-kenikmatan dunia yang lain. Mengapa? 

Karena nikmat yang hakiki adalah nikmat yang mampu mendekatkan seorang hamba kepada Allah Ta’ala, dengan kedekatan itulah dia akan mendapatkan kenikmatan abadi dalam syurga. 

Dan tiada nikmat yang mampu mengantarkan seorang hamba kepada kemuliaan tersebut selain nikmat diutusnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Karena Rasulullah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam telah: 

  • Membacakan dan mengajarkan ayat- ayat Allah yang membuahkan keimanan, 
  • Menyucikan jiwa dan raga dari keburukan, kemudian mencelupnya dengan kebaikan atas izin Allah, 
  • Mengajarkan Al-Quran dan As-Sunnah. 

Sehingga para sahabat dan orang- orang yang mengikuti jejak mereka menjadi umat terbaik, padahal sebelumnya mereka adalah kaum yang bodoh dan sesat. Oleh karenanya, setiap kita harus merasakan agungnya nikmat menjadi bagian umat Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mensyukuri nikmat tersebut dengan bersungguh-sungguh menjadikan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan. 

 

4. Sumber terbaik untuk islah (perbaikan/ perubahan) pribadi, keluarga, masyarakat, maupun negara adalah Al-Quran dan As-Sunnah. 

Ini dibuktikan oleh Rasulullah sallalahu’alahi wasallam yang berhasil merubah para sahabat menjadi umat terbaik sepanjang masa. Hanya saja tugas penting para dai dan murabbi adalah menapak tilas dan mencontoh Rasulullah dalam dakwah dan tarbiyah. 

5. Metode terbaik dalam islah (perbaikan/ perubahan) pribadi, keluarga, masyarakat, maupun negara adalah mengajarkan Al-Quran dan As-Sunnah serta menerapkan nilai- nilai keduanya dalam kehidupan. 

 

Sejujurnya bila kita ingin berubah menjadi lebih baik, maka cukup kita perbaiki hubungan kita dengan AlQuran dan As-Sunnah. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah untuk kita sekalian, amin. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.