Khutbah Jumat: Iduladha Kita Adalah Tauhid, Ketaatan, Dan Pengorbanan

Download Pdfnya Klik
IDULADHA KITA ADALAH TAUHID, KETAATAN, DAN PENGORBANAN
Penulis:
Ustaz Fahmi Alfian, Lc., M.A.
(Kandidat Doktor Qassim University, KSA)
Khutbah pertama:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ ٱلصَّالِحَاتُ، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ ٱلذُّنُوبُ وَٱلسَّيِّئَاتُ، وَبِكَرَمِهِ تُقْبَلُ ٱلْعَطَايَا وَٱلْقُرُبَاتُ، وَبِلُطْفِهِ تُسْتَرُ ٱلْغُيُوبُ وَٱلزَّلَّاتُ، ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي أَمَاتَ وَأَحْيَا، وَمَنَعَ وَأَعْطَى، وَأَرْشَدَ وَهَدَى، وَأَضْحَكَ وَأَبْكَى.
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya sempurnalah amal-amal saleh, dengan ampunan-Nya dihapuskan dosa dan kesalahan, dengan kemurahan-Nya diterima berbagai amal dan pendekatan diri kepada-Nya, dan dengan kelembutan-Nya ditutupi aib dan ketergelinciran.
﴿وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا﴾
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, serta seluruh sahabatnya.
Amma ba‘du.
Wahai kaum muslimin rahimakumullah,
Aku wasiatkan kepada diriku dan kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
ٱللَّهُ أَكْبَرُ، ٱللَّهُ أَكْبَرُ، ٱللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ، ٱللَّهُ أَكْبَرُ ٱللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ ٱلْحَمْدُ.
Wahai kaum muslimin,
Hari raya Iduladha bukan sekadar perayaan tahunan. Iduladha adalah syiar tauhid. Iduladha adalah madrasah ketaatan. Iduladha adalah pelajaran pengorbanan.
Lihatlah bagaimana seluruh rangkaian ibadah haji dipenuhi dengan pengagungan kepada Allah.
Ketika berihram, mereka meninggalkan pakaian kebanggaan dunia.
Ketika bertalbiyah mereka mengucapkan:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ.
“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Kalimat ini adalah kalimat tauhid. Kalimat yang menegaskan bahwa tidak ada ibadah, penghambaan, doa, pengharapan, rasa takut, dan tawakal kecuali hanya kepada Allah.
Wahai kaum muslimin,
Tauhid adalah inti dari seluruh ibadah. Karena itulah seluruh nabi memulai dakwah mereka dengan tauhid.
Allah Ta‘ala berfirman,
﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾
“Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul agar mereka menyembah Allah dan menjauhi thaghut.”
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang kisahnya sangat terkait dengan Iduladha adalah imam dalam tauhid. Beliau menghancurkan berhala, menentang kesyirikan, dan mengorbankan segala yang beliau cintai demi Allah.
Allah Ta‘ala berfirman tentang beliau,
﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang patuh kepada Allah, lurus dalam tauhid, dan bukan termasuk orang-orang musyrik.”
Maka Iduladha mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan seorang hamba bukan pada hartanya, bukan pada jabatannya, bukan pada kedudukannya, tetapi pada tauhid dan ketundukannya kepada Allah.
Wahai kaum muslimin rahimakumullah,
Iduladha juga mengajarkan tentang ketaatan.
Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, beliau tidak membantah.
Ketika Ismail ‘alaihis salam diperintahkan untuk disembelih, beliau tidak menolak.
Mereka berdua tunduk kepada perintah Allah.
﴿فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ﴾
“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya.”
Inilah hakikat Islam:
- Berserah diri kepada Allah,
- Tunduk kepada syariat-Nya,
- Ridha terhadap ketetapan-Nya.
Karena itu seorang muslim yang benar tidak memilih-milih syariat Allah. Jika Allah memerintah, ia taat. Jika Allah melarang, ia meninggalkan.
Wahai kaum muslimin,
Iduladha juga mengajarkan pengorbanan.
Tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan.
Tidak ada kejayaan Islam tanpa pengorbanan.
Tidak ada keteguhan iman tanpa pengorbanan.
Nabi Ibrahim meninggalkan negerinya demi tauhid.
Beliau dilempar ke dalam api demi mempertahankan akidah.
Beliau diperintah meninggalkan keluarganya di lembah tandus demi menjalankan perintah Allah.
Bahkan beliau siap menyembelih putranya demi ketaatan kepada Rabb-nya.
Karena itu ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Kurban adalah simbol bahwa seorang hamba harus siap mengorbankan hawa nafsunya demi ketaatan kepada Allah.
Allah Ta‘ala berfirman,
﴿لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ﴾
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
Maka yang Allah lihat bukan besarnya hewan kurban kita, tetapi besarnya keikhlasan dan ketakwaan dalam hati kita.
بَارَكَ ٱللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي ٱلْقُرْآنِ ٱلْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ ٱلْآيَاتِ وَٱلذِّكْرِ ٱلْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ ٱللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ ٱلْمُسْلِمِينَ فَٱسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ.
Khutbah kedua:
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ:
Wahai kaum muslimin rahimakumullah,
Sesungguhnya umat Islam hari ini sangat membutuhkan penguatan tauhid.
Banyak manusia mengenal Islam, tetapi hatinya bergantung kepada selain Allah.
Banyak manusia mengucapkan Lailaha illallah namun masih takut kepada makhluk melebihi takut kepada Allah.
Banyak manusia berharap kepada Allah, namun dalam waktu yang sama menggantungkan hati kepada benda, jabatan, manusia, dan dunia.
Padahal inti tauhid adalah memurnikan seluruh ibadah hanya untuk Allah.
- Doa hanya kepada Allah.
- Tawakal hanya kepada Allah.
- Rasa takut yang bersifat ibadah hanya kepada Allah.
- Permohonan pertolongan hanya kepada Allah.
Karena itu Allah berfirman,
﴿فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ﴾
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.”
Allah juga berfirman,
﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * لَا شَرِيكَ لَهُ﴾
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya.”
Wahai kaum muslimin,
Hari raya Iduladha mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati ada dalam iman, tauhid, ketaatan, dan pengorbanan di jalan Allah.
Bukan pada kemewahan.
Bukan pada banyaknya harta.
Bukan pada gemerlap dunia.
Maka marilah kita memperbaiki tauhid kita, memperkuat ketaatan kita, dan memperbesar pengorbanan kita demi agama Allah.
Marilah kita bershalwat kepada baginda Nabi kita Muuhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Allah berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
ٱللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا ٱلَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا.
ٱللَّهُمَّ ٱرْزُقْنَا ٱلْإِخْلَاصَ فِي ٱلْأَقْوَالِ وَٱلْأَعْمَالِ.
ٱللَّهُمَّ ٱجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ ٱلتَّوْحِيدِ ٱلْخَالِصِ، وَمِنْ أَهْلِ ٱلطَّاعَةِ ٱلصَّادِقَةِ، وَمِنْ أَهْلِ ٱلتَّضْحِيَةِ فِي سَبِيلِكَ يَا رَبَّ ٱلْعَالَمِينَ.
ٱللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَ ٱلْحُجَّاجِ حَجَّهُمْ، وَمِنَ ٱلْمُضَحِّينَ أَضَاحِيَّهُمْ، وَٱغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ.
وَصَلِّ ٱللَّهُمَّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَأَقِمِ ٱلصَّلَاةَ.

+6285333345252



