Abdullah bin Abbas al-Bahr (Lautan Ilmu)

Abdullah bin Abbas al-Bahr (Lautan Ilmu)
Adz Dzahabi menceritakan biografi Sahabat Abdullah bin Abbas radliallahu anhu dengan mengatakan:
Beliau adalah ulama besar umat ini (Habrul Ummah), ahli fikih pada zamannya, dan imam dalam bidang tafsir. Nama lengkapnya adalah Abul Abbas Abdullah bin al-Abbas bin Abdul Muththalib bin Syaibah (nama Syaibah adalah Amr) bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib, seorang Quraisy Bani Hasyim dari Makkah, sekaligus sepupu Rasulullah ﷺ. Semoga Allah meridhainya.
Beliau dilahirkan di Syi’b Bani Hasyim tiga tahun sebelum hijrah.
Beliau menyertai Nabi ﷺ selama kurang lebih tiga puluh bulan, dan meriwayatkan banyak hadis dari beliau. Beliau juga meriwayatkan hadis dari Umar, Ali, Mu’adz, ayahnya (al-Abbas), Abdurrahman bin Auf, Abu Sufyan Shakhr bin Harb, Abu Dzar, Ubay bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, dan banyak sahabat lainnya.
Beliau belajar membaca Al-Qur’an kepada Ubay bin Ka’b dan Zaid bin Tsabit.
Di antara murid yang belajar Al-Qur’an kepada beliau ialah Mujahid dan Sa’id bin Jubair, serta sekelompok ulama lainnya.
Hadis dan ilmunya diriwayatkan oleh putranya Ali, keponakannya Abdullah bin Ma’bad, para maulanya seperti Ikrimah, Miqsam, Kuraib, Abu Ma’bad Nafidz, juga oleh Anas bin Malik, Abu Thufail, Abu Umamah bin Sahl, saudaranya Katsir bin Abbas, Urwah bin az-Zubair, Ubaidullah bin Abdullah, Thawus, Abu asy-Sya’tsa Jabir, Ali bin al-Husain, Sa’id bin Jubair, Mujahid bin Jabr, Al-Qasim bin Muhammad, Abu Shalih as-Samman, Abu Raja’ al-‘Atharidi, Abu al-‘Aliyah, Ubaid bin Umair, putranya Abdullah, Atha’ bin Yasar, Ibrahim bin Abdullah bin Ma’bad, Arbadah at-Tamimi (ahli tafsir), Abu Shalih Badzan, Thaliq bin Qais al-Hanafi, Atha’ bin Abi Rabah, Asy-Sya’bi, Al-Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi, Syahr bin Hausyab, Ibnu Abi Mulaikah, Amr bin Dinar, Ubaidullah bin Abi Yazid, Abu Jamrah Nashr bin Imran adh-Dhuba’i, Adh-Dhahhak bin Muzahim, Abu az-Zubair al-Makki, Bakr bin Abdullah al-Muzani, Habib bin Abi Tsabit, Sa’id bin Abi al-Hasan, Ismail as-Suddi, dan banyak lagi selain mereka.
Dalam kitab Tahdzib disebutkan bahwa jumlah perawi yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas mencapai 197 orang (dua ratus orang kecuali tiga orang).
Ibu beliau adalah Ummul Fadhl Lubabah binti al-Harits bin Hazn bin Bujair al-Hilaliyah, dari kabilah Bani Hilal bin Amir.
Beliau memiliki beberapa orang anak. Yang tertua adalah Al-Abbas, sehingga beliau berkuniah Abul Abbas. Putra lainnya ialah Ali (ayah para khalifah Abbasiyah, dan merupakan anak yang paling muda), Al-Fadhl, Muhammad, Ubaidullah, serta dua orang putri yaitu Lubabah dan Asma’.
Ibnu Abbas dikenal sebagai seorang yang tampan, berwibawa, bertubuh tinggi, berkepribadian mulia, sangat cerdas, sempurna akalnya, dan termasuk tokoh manusia yang paling sempurna sifatnya.
Adapun putra-putranya, yaitu Al-Fadhl, Muhammad, dan Ubaidullah, semuanya wafat tanpa meninggalkan keturunan. Sedangkan Lubabah memiliki anak-anak dan keturunan dari suaminya Ali bin Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib. Putrinya yang lain, Asma’, menikah dengan sepupunya Abdullah bin Ubaidullah bin al-Abbas, dan melahirkan dua orang putra bernama Hasan dan Husain.
Ibnu Abbas bersama kedua orang tuanya berpindah ke Madinah, negeri hijrah, pada tahun Fathu Makkah. Padahal beliau telah masuk Islam sebelum itu. Sebab diriwayatkan secara sahih bahwa beliau berkata:
> “Aku dan ibuku termasuk golongan orang-orang yang tertindas. Aku termasuk anak-anak, sedangkan ibuku termasuk kaum wanita.”
Khalid al-Hadza’ meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
> “Nabi ﷺ mengusap kepalaku dan mendoakan agar Allah menganugerahkan kepadaku hikmah.”
Syabib bin Basyir meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
> “Rasulullah ﷺ masuk ke tempat buang hajat, kemudian keluar. Ternyata ada sebuah bejana yang telah ditutup. Beliau bertanya, ‘Siapa yang melakukan ini?’ Aku menjawab, ‘Saya.’ Maka beliau berdoa:
اللهم علمه تأويل القرآن
‘Ya Allah, ajarkanlah kepadanya tafsir dan pemahaman terhadap Al-Qur’an.'”
Ibnu Syihab az-Zuhri meriwayatkan dari Ubaidullah, dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
> “Aku datang dengan menunggang seekor keledai betina, ketika usiaku telah mendekati balig, sementara Rasulullah ﷺ sedang mengimami manusia shalat di Mina.”
Abu Bisyr meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
> “Rasulullah ﷺ wafat ketika aku berusia sepuluh tahun.”
Riwayat ini dibawakan pula oleh Syu’bah dan selainnya dari Abu Bisyr.
Husyaim berkata:
> Abu Bisyr mengabarkan kepada kami dari Sa’id, dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
“Aku telah menghafal Al-Muhkam (ayat-ayat Al-Qur’an yang jelas hukumnya) pada masa Rasulullah ﷺ, dan beliau wafat ketika usiaku sepuluh tahun.”
Sedangkan Syu’bah meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
> “Rasulullah ﷺ wafat ketika aku berusia lima belas tahun, dan saat itu aku telah dikhitan.”
Al-Waqidi berkata:
> “Tidak ada perselisihan bahwa Ibnu Abbas dilahirkan di Syi’b Bani Hasyim ketika Bani Hasyim sedang diboikot. Ia lahir tidak lama sebelum mereka keluar dari sana, yaitu tiga tahun sebelum hijrah. Bukankah beliau sendiri mengatakan, ‘Aku telah mendekati usia balig.’ Riwayat ini lebih kuat daripada riwayat Abu Bisyr mengenai usianya.”
Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana diriwayatkan putranya Abdullah, berkata:
> “Menurutku hadis Abu Bisyr itu lemah. Abu Ishaq meriwayatkan dari Sa’id bahwa usia Ibnu Abbas ketika Nabi wafat adalah lima belas tahun. Riwayat ini sesuai dengan hadis Ubaidullah bin Abdullah.”
Az-Zubair bin Bakkar berkata:
> “Rasulullah ﷺ wafat ketika Ibnu Abbas berusia tiga belas tahun.”
Abu Sa’id bin Yunus berkata:
> “Ibnu Abbas ikut menaklukkan Afrika bersama Abdullah bin Abi Sarh, dan ada lima belas orang ulama Mesir yang meriwayatkan hadis darinya.”
Abu Abdullah bin Mandah berkata:
> “Ibu Ibnu Abbas adalah Ummul Fadhl, saudara kandung Ummul Mukminin Maimunah. Ibnu Abbas lahir dua tahun sebelum hijrah.”
Beliau berkulit putih, bertubuh tinggi, berwarna kuning kemerah-merahan, berperawakan besar, tampan, berwajah rupawan, berambut lebat hingga bahu, biasa mewarnai rambut dengan pacar (henna), dan Nabi ﷺ telah mendoakan beliau agar memperoleh hikmah.
Penulis berkata:
> “Ibnu Abbas juga merupakan sepupu Khalid bin al-Walid al-Makhzumi dari jalur ibu.”
Sa’id bin Salim meriwayatkan bahwa Ibnu Juraij berkata:
> “Kami sedang duduk bersama Atha’ di Masjidil Haram, lalu kami membicarakan Ibnu Abbas. Atha’ berkata:
‘Setiap kali aku melihat bulan purnama pada malam keempat belas, aku selalu teringat wajah Ibnu Abbas.'”
Ibrahim bin al-Hakam bin Aban meriwayatkan dari ayahnya, dari Ikrimah, ia berkata:
> “Apabila Ibnu Abbas melewati suatu jalan, para wanita yang berada di atas atap rumah berkata:
‘Apakah ini harum minyak kasturi, ataukah Ibnu Abbas yang sedang lewat?'”
Az-Zubair meriwayatkan dari Sa’adah bin Ubaidillah al-Muzani, dari Daud bin Atha’, dari Zaid bin Aslam, dari Ibnu Umar, bahwa Umar pernah memanggil Ibnu Abbas dan mendekatkannya. Umar berkata:
> “Aku melihat Rasulullah ﷺ suatu hari memanggilmu, mengusap kepalamu, meniupkan sedikit ludah ke mulutmu, lalu berdoa:
اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل
‘Ya Allah, jadikanlah ia seorang yang memahami agama dan ajarkan kepadanya tafsir Al-Qur’an.'”
Namun, Daud bin Atha’, seorang perawi Madinah, dinilai lemah.
Hammad bin Salamah dan yang lainnya meriwayatkan dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Sa’id bin Jubair, dari Abdullah bin Abbas, beliau berkata:
> “Aku pernah bermalam di rumah bibiku Maimunah. Aku menyiapkan air untuk mandi Rasulullah ﷺ. Beliau bertanya:
‘Siapa yang menyiapkan ini?’
Mereka menjawab, ‘Abdullah.’
Maka beliau berdoa:
اللهم علمه التأويل وفقهه في الدين
‘Ya Allah, ajarkan kepadanya tafsir Al-Qur’an dan berilah ia pemahaman dalam agama.'”
Amr bin Dinar meriwayatkan dari Kuraib, dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
> “Aku pernah shalat bersama Nabi ﷺ pada akhir malam. Beliau menempatkanku sejajar di samping beliau. Setelah selesai shalat aku berkata:
‘Apakah pantas seseorang berdiri sejajar denganmu sementara engkau adalah Rasulullah?’
Maka beliau berdoa kepada Allah agar menambah pemahamanku dan ilmuku.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
> “Rasulullah ﷺ mendoakan agar Allah menambah kepadanya pemahaman dan ilmu.”
Warqa’ meriwayatkan dari Ubaidullah bin Abi Yazid, dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
> “Aku menyiapkan air wudu untuk Rasulullah ﷺ. Beliau pun berdoa:
اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل
‘Ya Allah, berilah ia pemahaman dalam agama dan ajarkan kepadanya tafsir Al-Qur’an.'”
Ibnu Abbas juga berkata:
> “Rasulullah ﷺ mendoakan agar aku memperoleh hikmah sebanyak dua kali.”
Kautsar bin Hakim—seorang perawi yang lemah—meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar, secara marfu’:
> “Sesungguhnya ulama besar (Hibr) umat ini adalah Ibnu Abbas.”
Riwayat ini hanya diriwayatkan melalui jalur Muhammad bin Yazid ar-Rahawi.
Abdul Mu’min bin Khalid meriwayatkan dari Ibnu Buraidah, dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
> “Aku datang kepada Nabi ﷺ ketika di sisi beliau ada Jibril. Lalu Jibril berkata kepada Nabi:
‘Anak ini kelak akan menjadi ulama besar umat ini, maka berpesanlah agar ia diperlakukan dengan baik.'”
Namun hadis ini mungkar, dan hanya diriwayatkan oleh Sa’dan bin Ja’far dari Abdul Mu’min.
Hammad bin Salamah meriwayatkan dari Ammar bin Abi Ammar, dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
> “Aku bersama ayahku berada di hadapan Nabi ﷺ. Saat itu beliau tampak tidak memperhatikan ayahku. Setelah kami keluar, ayahku berkata:
‘Tidakkah engkau melihat sepupumu seakan-akan berpaling dariku?’
Aku menjawab, ‘Sesungguhnya tadi ada seorang laki-laki yang sedang berbicara rahasia dengan beliau.’
Ayahku bertanya, ‘Apakah memang ada seseorang di sisi beliau?’
Aku menjawab, ‘Ya.’
Ayahku kembali menemui Rasulullah ﷺ dan bertanya:
‘Wahai Rasulullah, apakah tadi ada seseorang bersamamu?’
Beliau lalu bertanya kepadaku:
‘Apakah engkau benar-benar melihatnya, wahai Abdullah?’
Aku menjawab, ‘Ya.’
Beliau bersabda:
‘Itu adalah Jibril. Dialah yang membuatku sibuk sehingga tidak sempat berbicara dengan ayahmu.'”
Riwayat ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
Al-Minhal bin Bahr meriwayatkan dari Al-‘Ala’ bin Muhammad, dari Al-Fadhl bin Habib, dari Furat bin as-Sa’ib, dari Maimun bin Mihran, dari Ibnu Abbas, beliau berkata:
> “Aku pernah melewati Rasulullah ﷺ. Saat itu beliau mengenakan pakaian putih yang sangat bersih dan sedang berbicara dengan Dihyah bin Khalifah al-Kalbi, padahal sebenarnya dia adalah Jibril dan aku belum mengetahuinya.
Beliau bertanya:
‘Siapakah anak ini?’
Dijawab:
‘Sepupuku.’
Lalu Jibril berkata:
‘Betapa kotornya pakaiannya. Namun keturunannya kelak akan memegang kekuasaan.’
Setelah itu Rasulullah ﷺ bertanya kepadaku:
‘Apakah engkau melihat orang yang berbicara denganku?’
Aku menjawab, ‘Ya.’
Beliau bersabda:
‘Ketahuilah, penglihatanmu kelak akan hilang.'”
Sanad riwayat ini lemah.
Tsaur bin Zaid ad-Daili meriwayatkan dari Musa bin Maisarah:
> “Al-Abbas pernah mengutus putranya, Abdullah, kepada Rasulullah ﷺ untuk suatu keperluan. Ketika sampai, Abdullah melihat ada seseorang bersama Nabi sehingga ia tidak jadi berbicara lalu pulang.
Setelah itu Al-Abbas bertemu Rasulullah ﷺ dan berkata:
‘Wahai Rasulullah, aku mengutus putraku kepadamu. Namun ia melihat ada seseorang di sisimu sehingga ia tidak berani berbicara.’
Rasulullah ﷺ bersabda:
**’Wahai pamanku, tahukah engkau siapa orang itu?’
Al-Abbas menjawab, ‘Tidak.’
Beliau bersabda:
‘Dia adalah Jibril. Putramu tidak akan meninggal hingga penglihatannya hilang, namun Allah akan menganugerahinya ilmu yang sangat luas.’**”
Riwayat serupa juga dibawakan oleh Sulaiman bin Bilal dan Ad-Darawardi melalui Tsaur.
Zakariya bin Abi Zaidah meriwayatkan dari Asy-Sya’bi:
> “Al-Abbas masuk menemui Rasulullah ﷺ dan tidak melihat ada seorang pun di sisi beliau. Namun putranya, Abdullah, berkata:
‘Aku melihat ada seseorang bersama beliau.’
Maka Al-Abbas bertanya kepada Rasulullah ﷺ.
Beliau menjawab:
‘Dia adalah Jibril.'”
Riwayat ini berstatus mursal.
Abdullah bin Abbas pada Masa Umar bin al-Khaththab
Pada masa kekhalifahan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau sangat memuliakan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan selalu meminta pendapatnya dalam berbagai urusan. Umar pernah berkata tentangnya:
> “Dia adalah seorang pemuda yang memiliki kedewasaan seperti orang tua; lisannya banyak bertanya dan akalnya sangat cerdas.”
Diriwayatkan pula bahwa Umar menempatkan Ibnu Abbas sejajar dengan para sahabat senior yang ikut dalam Perang Badar. Sebagian sahabat merasa heran mengapa Umar memberikan kedudukan setinggi itu kepada seorang yang masih muda.
Ketika al-Abbas melihat kedekatan putranya dengan Amirul Mukminin Umar, ia berpesan:
> “Sesungguhnya Umar mendekatkanmu dan mendudukkanmu bersama para sahabat senior. Maka ingatlah tiga nasihat dariku: jangan sekali-kali engkau membocorkan rahasianya, jangan menggunjing seorang pun di hadapannya, dan jangan sampai ia mendapati engkau berdusta.”
Ibnu Abbas tetap menjadi orang dekat Umar hingga Umar wafat sebagai syahid. Beliau senantiasa mendampingi Umar sampai akhir hayatnya.
—
Kehidupannya pada Masa Utsman bin Affan
Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, ketika diserukan jihad menuju Afrika (Ifriqiyah), Abdullah bin Abbas—yang dikenal sebagai Penerjemah Al-Qur’an (Tarjumanul Qur’an)—memenuhi panggilan tersebut.
Pasukan bergerak di bawah pimpinan al-Harits bin al-Hakam bin Abi al-‘Ash, kemudian bergabung di Mesir dengan panglima Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh. Ibnu Abbas ikut menyaksikan penaklukan Ifriqiyah pada tahun 27 H.
Pada tahun 30 H, beliau kembali ikut dalam ekspedisi ke Thabaristan di bawah komando Sa’id bin al-‘Ash.
Pada tahun 35 H, Utsman menugaskan Ibnu Abbas menjadi imam haji. Saat itu turut hadir para Ummul Mukminin, di antaranya Ummu Salamah dan Aisyah radhiyallahu ‘anhuma.
Di Padang Arafah beliau berkhutbah di hadapan kaum muslimin, kemudian menjelaskan tafsir Surah an-Nur dan Surah al-Baqarah. Tentang beliau, Aisyah berkata:
> “Beliau adalah orang yang paling berilmu di antara manusia.”
—
Perannya pada Masa Ali bin Abi Thalib
Abdullah bin Abbas senantiasa berada di sisi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau ikut serta dalam Perang Jamal, Perang Shiffin, dan juga memerangi Khawarij dalam Perang Nahrawan.
Ali pernah menugaskan Ibnu Abbas untuk berdialog dengan 6.000 orang Khawarij Haruriyah. Dengan hujah dan ilmunya, sekitar 2.000 orang di antara mereka akhirnya kembali kepada kebenaran dan meninggalkan permusuhan terhadap Ali.
Ali juga mengangkat Ibnu Abbas sebagai gubernur Bashrah. Di sana beliau rutin mengumpulkan masyarakat dan mengajarkan tafsir Al-Qur’an.
Ibnu Katsir berkata:
> “Penduduk Bashrah sangat beruntung dengan kehadirannya. Ia mengajarkan fikih kepada mereka, mengajari orang yang belum mengetahui, menasihati para pelaku maksiat, serta membantu orang-orang miskin. Beliau tetap menjabat hingga Ali wafat.”
Ada pula pendapat lain yang menyatakan bahwa Ali memberhentikannya dari jabatan gubernur pada tahun 39 H, kemudian digantikan oleh Abu al-Aswad ad-Du’ali.
—
Keilmuan dan Pengajarannya
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Hibrul Ummah (ulama besar umat ini), Abdullah bin Abbas, terus menuntut ilmu dari para sahabat.
Beliau membaca Al-Qur’an kepada Ubay bin Ka’b dan Zaid bin Tsabit, serta sering bertanya kepada para sahabat senior seperti Ali, Umar, dan Ubay bin Ka’b mengenai peperangan Nabi ﷺ dan ayat-ayat Al-Qur’an yang turun berkaitan dengannya.
Beliau sangat teliti dalam mencari ilmu. Untuk memastikan satu masalah saja, beliau bisa bertanya kepada 30 orang sahabat senior.
Kemudian beliau memiliki majelis ilmu yang besar di Madinah. Para penuntut ilmu datang dari berbagai daerah untuk belajar kepada beliau.
Orang-orang yang hidup sezaman dengannya menggambarkan bahwa cara beliau berbicara dan menyampaikan ilmu mampu menawan hati dan memikat akal.
Beliau juga mengatur jadwal pengajarannya:
Satu hari untuk fikih.
Satu hari untuk tafsir (ta’wil) Al-Qur’an.
Satu hari untuk syair Arab.
Satu hari untuk sejarah dan kisah-kisah bangsa Arab.
—
Keahlian dalam Fikih dan Tafsir
Abdullah bin Abbas termasuk faqih terbesar di kalangan sahabat, sekaligus salah seorang dari empat Abdullah (al-‘Abadilah) yang menjadi rujukan umat dalam ilmu dan fatwa.
Apabila para sahabat berbeda pendapat dalam suatu masalah fikih, mereka sering merujuk kepada beliau.
Mujahid bin Jabr berkata:
> “Aku tidak pernah mendengar fatwa yang lebih baik daripada fatwa Ibnu Abbas.”
Beliau juga mendapat gelar Tarjumanul Qur’an (Penerjemah/Penafsir Al-Qur’an). Meskipun masih muda, beliau termasuk mufasir paling terkemuka di kalangan sahabat.
Abdullah bin Mas’ud berkata:
> “Sebaik-baik penafsir Al-Qur’an adalah Abdullah bin Abbas.”
As-Suyuthi berkata:
> “Di antara para sahabat, yang paling terkenal dalam bidang tafsir ada sepuluh orang: empat khalifah, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, dan Abdullah bin az-Zubair.”
—
Riwayat Hadis
Abdullah bin Abbas bukan hanya seorang ahli fikih dan ahli tafsir, tetapi juga seorang muhaddits serta termasuk perawi hadis terbanyak.
Imam adz-Dzahabi menyebutkan bahwa jumlah hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas mencapai 1.660 hadis.
Rinciannya:
Disepakati oleh Imam al-Bukhari dan Muslim: 75 hadis.
Diriwayatkan sendiri oleh Imam Muslim: 9 hadis.
Diriwayatkan sendiri oleh Imam al-Bukhari: 120 hadis.
Sebagian besar hadis yang beliau riwayatkan diperoleh melalui para sahabat senior. Adapun hadis yang beliau dengar langsung dari Rasulullah ﷺ diperkirakan sekitar 9 atau 10 hadis, karena usia beliau masih muda ketika Nabi wafat.
Beliau meriwayatkan hadis dari Rasulullah ﷺ, para Khulafaur Rasyidin, dan para Ummul Mukminin.
Sementara itu, yang meriwayatkan hadis dari beliau berjumlah sekitar 297 orang, di antaranya:
Sa’id bin Jubair,
Thawus bin Kaisan,
Sa’id bin al-Musayyib,
putranya Ali bin Abdullah bin Abbas,
Ali bin al-Husain,
dan Muhammad bin Sirin.
—
Wafatnya Abdullah bin Abbas
Hibrul Ummah dan Tarjumanul Qur’an, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, wafat pada tahun 68 H di Thaif, dalam usia sekitar 71 tahun.
Sebelum wafat, beliau telah mengalami kebutaan.
Jenazah beliau dishalatkan oleh Muhammad bin al-Hanafiyyah.
Disebutkan bahwa makam beliau berada di Thaif, di depan pemakaman para syuhada, dan berdekatan dengan makam Muhammad bin al-Hanafiyyah.



