Al Madinah

Al Madinah
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarga dan para sahabat beliau. Amma ba‘du:
Sesungguhnya nama “Al-Madinah” (المدينة) telah menjadi nama khusus bagi kota Yatsrib setelah Allah Tabaraka wa Ta’ala memuliakan dan meneranginya dengan kedatangan Nabi-Nya ﷺ ke sana. Penamaan ini disebutkan dalam nash-nash wahyu, baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah.
Di antaranya firman Allah Ta’ala:
> ﴿مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Tidaklah patut bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berada di sekitar mereka untuk tidak turut serta bersama Rasulullah dan lebih mencintai diri mereka daripada diri beliau. Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa rasa haus, keletihan, dan kelaparan di jalan Allah, tidak pula mereka menginjak suatu tempat yang membangkitkan kemarahan orang-orang kafir, dan tidak pula memperoleh kemenangan atas musuh, melainkan semuanya dicatat bagi mereka sebagai amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. At-Taubah: 120)
Dan firman-Nya:
> ﴿وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ ۖ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ ۚ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍ﴾
“Dan di antara penduduk Madinah ada orang-orang yang keterlaluan dalam kemunafikan. Engkau tidak mengetahui mereka, tetapi Kamilah yang mengetahui mereka. Kelak Kami akan mengazab mereka dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.”
(QS. At-Taubah: 101)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala sendiri menamainya dengan nama Al-Madinah, sebagaimana Nabi ﷺ juga menamakannya demikian.
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim serta kitab-kitab lainnya, Nabi ﷺ bersabda:
> «أُمِرْتُ بِقَرْيَةٍ تَأْكُلُ الْقُرَى، يَقُولُونَ يَثْرِبَ وَهِيَ الْمَدِينَةُ، تَنْفِي النَّاسَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ»
“Aku diperintahkan menuju sebuah negeri yang akan mengalahkan negeri-negeri lainnya. Orang-orang menyebutnya Yatsrib, padahal ia adalah Al-Madinah. Kota itu mengeluarkan orang-orang buruk sebagaimana alat peniup api pandai besi menghilangkan kotoran dari besi.”
Dari Aisyah رضي الله عنها, beliau berkata:
لما قدم رسول الله – صلى الله عليه وسلم – المدينة وعك أبو بكر وبلال ، فجئت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فأخبرته فقال اللهم حبب إلينا المدينة كحبنا مكة أو أشد ، وصححها وبارك لنا في صاعها ومدها وانقل حماها فاجعلها بالجحفة
> “Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, Abu Bakar dan Bilal terserang demam. Maka aku mendatangi Rasulullah ﷺ dan memberitahukan hal itu kepada beliau. Lalu beliau berdoa:
اللهم حبب إلينا المدينة كحبنا مكة أو أشد، وصححها، وبارك لنا في صاعها ومدها، وانقل حماها فاجعلها بالجحفة.
‘Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah, atau bahkan lebih dari itu. Jadikanlah Madinah sebagai negeri yang sehat, berkahilah bagi kami sha’ dan mud-nya, dan pindahkanlah wabah demamnya ke daerah Al-Juhfah.’
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan singkat:
كحبنا مكة أو أشد: agar kecintaan kaum Muhajirin kepada Madinah menyamai bahkan melebihi kecintaan mereka kepada kampung halaman mereka, Makkah.
وصححها: jadikan udara, air, dan lingkungan Madinah sehat dan baik untuk dihuni.
صاعها ومدها: dua ukuran takaran yang digunakan penduduk Madinah dalam makanan dan perdagangan; Nabi ﷺ memohon keberkahan dalam rezeki dan hasil bumi Madinah.
وانقل حماها: pindahkan wabah demam dan penyakit yang saat itu banyak menimpa penduduk Madinah.
فاجعلها بالجحفة: pindahkan wabah tersebut ke daerah Al-Juhfah, sebuah wilayah yang terletak di jalur antara Makkah dan Madinah.
Hadits ini menunjukkan keutamaan Madinah dan besarnya perhatian Rasulullah ﷺ terhadap kenyamanan serta kesejahteraan penduduknya, khususnya kaum Muhajirin yang baru meninggalkan kampung halaman mereka demi agama Allah.
Kota Madinah Al-Munawwarah pada masa jahiliyah dahulu dikenal dengan nama “Yatsrib” (يثرب), dinisbatkan kepada Yatsrib bin Qainah, salah seorang dari kaum Amaliqah (bangsa raksasa Arab kuno).
Kemudian setelah Nabi ﷺ berhijrah ke sana dan menetap di dalamnya, kota tersebut dinamakan Al-Madinah, serta juga dikenal dengan nama Thayyibah (طيبة) dan Thabah (طابة).
Nabi yang mulia ﷺ lah yang menamainya dengan nama-nama tersebut, karena beliau tidak menyukai nama Yatsrib. Hal ini disebabkan karena kata التثريب (at-tatsrīb) bermakna celaan, kecaman, atau teguran. Ada pula yang mengatakan bahwa kata Yatsrib berasal dari akar kata الثرب (ats-tsarb) yang bermakna kerusakan atau keburukan.
Oleh karena itu, Nabi ﷺ mengganti nama tersebut dengan nama-nama yang baik dan penuh keberkahan, yaitu Al-Madinah, Thayyibah, dan Thabah.
Sebagaimana sabda beliau ﷺ:
> «يَقُولُونَ يَثْرِبَ وَهِيَ الْمَدِينَةُ»
“Mereka menyebutnya Yatsrib, padahal ia adalah Al-Madinah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan dalam riwayat lain beliau bersabda:
> «إِنَّهَا طَابَةُ»
“Sesungguhnya ia adalah Thabah.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain:
> «إِنَّ اللَّهَ سَمَّى الْمَدِينَةَ طَابَةَ»
“Sesungguhnya Allah telah menamai Madinah dengan nama Thabah.” (HR. Muslim)
Karena itu para ulama memakruhkan penyebutan kota Nabi ﷺ dengan nama Yatsrib, meskipun penyebutannya dalam konteks sejarah atau penjelasan asal-usul nama tetap diperbolehkan.
Imam An-Nawawi رحمه الله berkata:
إنما كره تسميتها يثرب لأنه من التثريب وهو التوبيخ والملامة، وكان النبي صلى الله عليه وسلم يحب الاسم الحسن ويكره الاسم القبيح. اهـ.
> “Dibencinya penyebutan nama ‘Yatsrib’ karena kata itu berasal dari التثريب yang berarti celaan dan kecaman. Sedangkan Nabi ﷺ menyukai nama yang baik dan membenci nama yang buruk.”
Karena itu, nama Al-Madinah kemudian menjadi nama khas yang langsung dipahami merujuk kepada Kota Nabi ﷺ, di antara seluruh kota di dunia.
Kami tidak mengetahui adanya kota atau negeri lain selain Madinah Nabawiyah yang apabila disebut secara mutlak dengan kata ‘Al-Madinah’, maka langsung dipahami sebagai kota tersebut.
Adapun penggunaan kata “madinah” untuk kota-kota lain, biasanya disertai makna tertentu atau karena adanya konteks yang sudah diketahui, seperti firman Allah dalam kisah Fir’aun:
> ﴿إِنَّ هَٰذَا لَمَكْرٌ مَكَرْتُمُوهُ فِي الْمَدِينَةِ لِتُخْرِجُوا مِنْهَا أَهْلَهَا﴾
“Sesungguhnya ini hanyalah tipu daya yang telah kalian rencanakan di kota ini untuk mengusir penduduknya dari sana.” (QS. Al-A’raf: 123)
Yang dimaksud di sini adalah kota yang dikenal oleh mereka saat itu, yaitu Mesir, sebagaimana dijelaskan oleh para ahli tafsir.
Adapun kata “qaryah” (القرية) menurut ahli bahasa dapat digunakan untuk menyebut kota besar, negeri, atau tempat yang memiliki pemukiman dan bangunan. Oleh karena itu, istilah “qaryah” tidak khusus untuk Makkah saja.
Makkah disebut “Ummul Qura” (أم القرى) karena keutamaannya dan kedudukannya yang paling utama di antara seluruh negeri dan kota.
Madinah Al-Munawwarah
Madinah Al-Munawwarah merupakan ibu kota pertama dalam sejarah Islam dan kaum muslimin. Kota ini juga dikenal dengan nama “Thayyibah” atau “Ath-Thayyibah”. Sejak dijadikan sebagai pusat pemerintahan Islam oleh Rasulullah ﷺ, kaum muslimin memandangnya sebagai kota yang suci dan memiliki kedudukan yang agung.
Madinah terletak di wilayah Hijaz, di bagian barat Arab Saudi, dengan jarak sekitar 400 km dari Makkah Al-Mukarramah.
Luas wilayah Madinah mencapai sekitar 588 km², di mana hanya sekitar 100 km² yang merupakan kawasan perkotaan, sedangkan sisanya berada di luar kawasan permukiman dan didominasi oleh pegunungan, lembah, dataran miring, serta jalur aliran banjir (wadi).
Berdirinya Madinah Al-Munawwarah
Madinah diperkirakan telah berdiri sejak sekitar 1600 tahun sebelum Masehi, jauh sebelum terjadinya hijrah Nabi ﷺ. Salah satu kabilah tertua yang disebut pernah menghuni wilayah tersebut adalah kabilah ‘Abil (عبيل), yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa mereka.
Bangsa Arab sejak dahulu dikenal memiliki kemampuan yang tinggi dalam bidang bahasa, sastra, dan syair Arab Jahiliyah.
Para sejarawan menemukan naskah-naskah Asyur kuno yang berasal dari sekitar abad keenam sebelum Masehi yang menyebut nama kota ini dengan sebutan “Lathribu” (لاثريبو). Nama Yatsrib juga ditemukan dalam sejumlah sumber sejarah Yunani kuno.
Ahli geografi Yunani, Ptolemaeus (Batlamyus), menyebut adanya sebuah oasis besar di wilayah Hijaz yang menjadi jalur perpindahan penduduk dan kafilah antara Yaman, Palestina, dan Hijaz sejak sekitar tahun 1300 SM hingga 600 M, yaitu wilayah yang saat ini dikenal sebagai Madinah Al-Munawwarah.
Gelombang Penduduk Madinah
Penduduk mulai berdatangan ke Yatsrib sejak masa awal pertumbuhannya. Di antara penduduk awalnya adalah sebagian kelompok dari Yaman, kemudian disusul oleh kaum Yahudi.
Menurut sebagian riwayat sejarah, orang-orang Yahudi mulai datang ke wilayah Hijaz untuk menghindari peperangan Romawi-Yahudi di Palestina. Setelah itu datang pula beberapa kabilah Yahudi besar, di antaranya:
Bani Qainuqa’ (بنو قينقاع)
Bani Nadhir (بنو النضير)
Bani Quraizhah (بنو قريظة)
Kabilah-kabilah Yahudi tersebut menetap di wilayah Hijaz hingga abad ketujuh Masehi.
Kedatangan Aus dan Khazraj
Menurut tradisi Arab kuno, runtuhnya Bendungan Ma’rib di Yaman menyebabkan migrasi sejumlah besar kabilah dari kerajaan Saba’. Di antara mereka terdapat dua kabilah terkenal, yaitu:
Aus (الأوس)
Khazraj (الخزرج)
Ketika kedua kabilah tersebut tiba di Yatsrib, mereka tertarik dengan kesuburan tanahnya dan akhirnya menetap di sana bersama beberapa kabilah Yahudi.
Di antara mereka kemudian dibuat perjanjian damai yang mengatur kehidupan bersama, menjaga keamanan Yatsrib, dan mempertahankan kota tersebut dari serangan musuh.
Kisah Raja Himyar dan Yatsrib
Menurut riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq, salah seorang raja Himyar pernah melewati Yatsrib. Ketika salah seorang anggota keluarganya terbunuh oleh sebagian penduduk setempat, ia berniat menghancurkan kota tersebut serta menebangi pohon-pohon kurmanya.
Namun dua orang ulama Yahudi menasihatinya agar membatalkan niat tersebut. Mereka menyampaikan bahwa kelak di tempat itu akan berhijrah seorang nabi dari keturunan Quraisy yang akan hidup, wafat, dan dimakamkan di sana, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.
Maka raja tersebut membatalkan rencananya untuk menghancurkan Yatsrib.
Permasalahan Riwayat Sejarah
Perlu dicatat bahwa sebagian kisah sejarah yang disebutkan di atas berasal dari riwayat-riwayat sejarah klasik yang sanadnya tidak selalu kuat menurut standar ilmu hadis. Oleh karena itu, sebagian informasi tersebut diterima sebagai catatan sejarah, bukan sebagai fakta yang pasti sebagaimana riwayat Al-Qur’an dan hadis-hadis sahih.
Yang pasti dan disepakati adalah bahwa:
1. Kota ini dahulu dikenal dengan nama Yatsrib.
2. Setelah hijrah Nabi ﷺ, kota ini dikenal dengan nama Al-Madinah, Thayyibah, dan Thabah.
3. Madinah menjadi ibu kota pertama negara Islam dan pusat penyebaran dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
4. Rasulullah ﷺ hidup di Madinah selama sekitar sepuluh tahun, dan beliau wafat serta dimakamkan di sana.
Hijrah Rasulullah ﷺ ke Madinah Al-Munawwarah
Pada abad ketujuh Masehi, Islam mulai menyebar melalui dakwah Nabi Muhammad bin Abdullah ﷺ yang mengajak seluruh manusia untuk memeluk agama Islam. Dakwah beliau menimbulkan kemarahan para pemimpin Quraisy di Makkah, sehingga mereka menggunakan berbagai cara untuk menghalangi dan menghentikan dakwah beliau.
Ketika tekanan dan gangguan kaum Quraisy semakin berat, Allah Ta’ala mengizinkan Rasulullah ﷺ untuk berhijrah dari Makkah menuju Yatsrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah Al-Munawwarah. Rasulullah ﷺ berangkat ditemani oleh sahabat beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه.
Sebelum memasuki Yatsrib, beliau singgah terlebih dahulu di Quba’, lalu mendirikan Masjid Quba, yang merupakan masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam.
Rasulullah ﷺ memasuki Madinah pada hari Senin, yaitu pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun pertama Hijriyah menurut pendapat yang masyhur, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan sejarawan mengenai tanggal pastinya.
Sejak saat itulah dimulai era Negara Islam pertama, yang diawali dengan pembangunan Masjid Nabawi sebagai pusat ibadah, pendidikan, pemerintahan, dan aktivitas sosial kaum muslimin.
Tidak lama setelah kedatangannya di Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar dalam peristiwa yang dikenal dengan Mu’akhah (persaudaraan Islam). Persaudaraan ini menjadi salah satu fondasi utama dalam membangun masyarakat Islam yang kokoh.
Piagam Madinah
Rasulullah ﷺ kemudian mengatur hubungan sosial dan politik masyarakat Madinah melalui sebuah dokumen yang dikenal dengan nama Piagam Madinah (دستور المدينة).
Piagam ini mengatur hubungan antara kaum muslimin, kaum musyrikin, dan kaum Yahudi yang tinggal di Madinah, serta menetapkan hak dan kewajiban masing-masing pihak. Di antara isinya adalah:
Menjamin keamanan seluruh penduduk Madinah.
Menetapkan kewajiban saling membantu dalam mempertahankan Madinah apabila diserang musuh.
Menjaga kebebasan beragama bagi masing-masing kelompok.
Menetapkan keadilan dan tanggung jawab bersama dalam kehidupan bermasyarakat.
Rasulullah ﷺ juga mengadakan perjanjian dengan kaum Yahudi dan memberikan jaminan atas agama serta harta mereka selama mereka memegang perjanjian tersebut.
Pada masa inilah nama Yatsrib diubah menjadi Al-Madinah.
Nama-nama Madinah
Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melarang penyebutan kota ini dengan nama Yatsrib, dan beliau menamakannya dengan nama-nama yang baik seperti Thayyibah dan Thabah.
Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah nama Madinah:
Imam As-Samhudi menyebutkan sekitar 94 nama.
Ibnu Zabalah menyebutkan 11 nama.
Sebagian ulama lainnya menyebut sekitar 29 nama.
Di antara nama-nama Madinah yang terkenal adalah:
طيبة (Thayyibah)
طابة (Thabah)
دار الهجرة (Negeri Hijrah)
دار السنة (Negeri Sunnah)
العاصمة (Kota yang terlindungi)
المرحومة (Yang dirahmati)
المحفوظة (Yang terjaga)
المختارة (Yang terpilih)
المدينة (Al-Madinah)
Adapun nama “Al-Madinah” adalah nama yang paling masyhur dan disepakati oleh mayoritas kaum muslimin sehingga apabila disebut secara mutlak, maka yang dimaksud adalah Madinah Nabi ﷺ.
Tata Kota Madinah pada Masa Awal Islam
Tata letak Madinah berbeda dengan Makkah. Di Madinah dahulu terdapat banyak benteng (حصون) dan atham (آطام), yaitu bangunan atau menara pertahanan yang tinggi.
Di antara benteng yang terkenal pada masa hijrah adalah:
Benteng milik Ka’b bin Al-Asyraf, pemimpin Bani Nadhir, yang terletak di tenggara Madinah di daerah Harrah Waqim.
Benteng Adh-Dhahyan yang berada di bagian barat daya kota.
Selain itu, kabilah-kabilah Aus dan Khazraj memiliki permukiman serta benteng masing-masing yang mereka gunakan sebagai tempat perlindungan ketika terjadi peperangan atau bahaya.
Benteng-benteng tersebut umumnya memiliki sumur-sumur sendiri untuk memenuhi kebutuhan air pada masa damai maupun saat peperangan. Karena melimpahnya sumber air bawah tanah, maka di Madinah berkembang banyak benteng, rumah, kebun, dan perkebunan kurma.
Semoga Allah memuliakan kota Nabi-Nya ﷺ dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai Madinah serta memperoleh syafaat Nabi ﷺ pada hari kiamat. Aamiin.
Wallahu a’lam.



