Tatsqif

Hajar Aswad

Hajar Aswad

Kedudukan dan sejarah Hajar Aswad

Hajar Aswad merupakan salah satu rukun Ka’bah yang mulia. Ia menjadi titik awal dan akhir thawaf serta memiliki kedudukan yang agung di hati kaum muslimin.

Disebutkan dalam berbagai riwayat bahwa Malaikat Jibril alaihis salam membawanya kepada Nabi Ibrahim alaihis salam ketika beliau membangun Ka’bah. Pada awalnya, batu tersebut berwarna putih bersih dan memancarkan cahaya ke arah timur dan barat, kemudian dijadikan sebagai tanda dimulainya thawaf.

Ka’bah beserta Hajar Aswad telah mengalami beberapa kali renovasi sepanjang sejarah. Di antara peristiwa yang paling terkenal adalah renovasi Ka’bah pada masa kaum Quraisy sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ sebagai rasul.

Ketika pembangunan telah selesai, mereka berselisih tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya. Akhirnya mereka sepakat:

> “Orang pertama yang masuk melalui pintu ini akan menjadi penengah dan dialah yang akan meletakkan Hajar Aswad.”

Ternyata orang pertama yang masuk adalah Rasulullah ﷺ. Ketika melihat beliau, mereka berkata:

> هَذَا الْأَمِينُ، رَضِينَا بِهِ

“Ini adalah Al-Amin (orang yang terpercaya), kami ridha dengan keputusannya.”

Kaum Quraisy memang telah menjuluki beliau dengan gelar Al-Amin sejak masa jahiliyah.

Rasulullah ﷺ kemudian meminta sehelai kain, lalu membentangkannya dan meletakkan Hajar Aswad di tengahnya. Setelah itu beliau memerintahkan agar setiap kabilah mengutus seorang wakil untuk memegang salah satu sisi kain tersebut. Mereka pun mengangkatnya bersama-sama hingga sampai pada tempatnya, kemudian Rasulullah ﷺ mengambil Hajar Aswad dengan tangan beliau sendiri dan meletakkannya pada posisinya.

Dengan kebijaksanaan ini, Rasulullah ﷺ berhasil menyelesaikan perselisihan yang hampir menimbulkan peperangan di antara kabilah-kabilah Quraisy.

Syariat mengusap dan mencium Hajar Aswad

Para ulama, di antaranya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, menjelaskan bahwa sunnah terhadap Hajar Aswad adalah:

1. Menciumnya apabila memungkinkan.

2. Menyentuhnya dengan tangan kanan lalu mencium tangan tersebut apabila memungkinkan.

3. Berisyarat kepadanya dengan tangan kanan apabila tidak memungkinkan untuk menyentuh atau menciumnya.

Tujuan dari amalan tersebut adalah ibadah dan ittiba’ (mengikuti sunnah Nabi ﷺ), bukan mencari berkah dari batu itu sendiri sebagaimana dipahami sebagian orang awam.

Hal ini ditegaskan oleh perkataan Umar bin Khattab:

> إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau hanyalah sebuah batu yang tidak dapat memberi mudarat maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi ﷺ menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Perhatian Kerajaan Arab Saudi terhadap Hajar Aswad

Sejak terbitnya cahaya tauhid di negeri yang diberkahi ini, Ka’bah selalu menjadi pusat perhatian dan tujuan kaum muslimin. Kerajaan Arab Saudi memberikan perhatian yang sangat besar terhadap seluruh fasilitas di Masjidil Haram dan pelayanan bagi para tamunya.

Karena itu, Hajar Aswad mendapatkan perhatian dan pemeliharaan khusus. Di antara upaya tersebut adalah:

1. Penandaan batas syar’i awal thawaf

Dipasang lampu khusus yang menunjukkan garis sejajar dengan Hajar Aswad sehingga para jamaah, termasuk mereka yang thawaf di lantai atas atau yang tidak dapat melihat Hajar Aswad karena padatnya jamaah, dapat mengetahui titik pasti untuk memulai thawaf dan melakukan isyarat ke arah Hajar Aswad.

2. Perawatan dan pembersihan Hajar Aswad

Hajar Aswad dibersihkan menggunakan teknik modern dan bahan-bahan berkualitas tinggi. Bingkai logam di sekelilingnya juga diganti apabila diperlukan.

Bingkai perak yang mengelilingi Hajar Aswad telah diperbarui beberapa kali, di antaranya pada masa Raja Khalid bin Abdulaziz Al Saud pada tahun 1979 M dan Raja Fahd bin Abdulaziz Al Saud pada tahun 2001 M.

3. Dokumentasi digital

Pada tahun 1442 H (2021 M), Hajar Aswad dipotret menggunakan teknologi Focus Stack Panorama. Dalam proyek tersebut diambil sekitar 1.050 foto beresolusi tinggi yang kemudian disusun menjadi model tiga dimensi Hajar Aswad.

Proses teknis tersebut memakan waktu lebih dari satu minggu dan merupakan proyek pertama di dunia untuk dokumentasi digital detail Hajar Aswad.

4. Pengembangan pengalaman virtual

Diluncurkan pula proyek “Kiswah Ka’bah Cerdas” dalam berbagai inisiatif digital sehingga umat Islam di seluruh dunia dapat melihat Ka’bah dan Hajar Aswad secara virtual dari jarak dekat.

5. Pengaturan jamaah yang ingin mencium Hajar Aswad

Petugas di Masjidil Haram menyiapkan sistem pengaturan khusus bagi jamaah yang ingin mencium Hajar Aswad. Di dekat Hajar Aswad biasanya terdapat petugas yang membantu mengatur arus jamaah serta mengarahkan cara yang benar dalam melaksanakan sunnah tersebut sehingga ibadah dapat dilakukan dengan aman dan tertib.

6. Pemolesan bingkai perak

Bingkai perak di sekitar Hajar Aswad dibersihkan dan dipoles secara berkala, termasuk pada tahun 2021, 2022, dan 2024 menggunakan bahan khusus yang diimpor dari Jerman dan Italia serta dikerjakan oleh tenaga profesional dari Arab Saudi.

7. Pemberian wewangian dan pembersihan rutin

Hajar Aswad dan area Multazam dibersihkan serta diberi wewangian terbaik secara berkala untuk menjaga kebersihan, keindahan, dan kemuliaan tempat tersebut.

Penutup

Kerajaan Arab Saudi di bawah kepemimpinan Salman bin Abdulaziz Al Saud dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman Al Saud terus memberikan perhatian besar terhadap pelayanan dua tanah suci.

Upaya pemeliharaan Ka’bah dan Hajar Aswad ini bukan sekadar pekerjaan fisik semata, melainkan bentuk komitmen yang mendalam dalam melayani Islam dan kaum muslimin, memuliakan syiar Allah, serta memudahkan para tamu Allah dalam melaksanakan ibadah mereka di Baitullah al-Haram.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button