Khutbah Jumat: Meluruskan Keyakinan: Tidak Ada Kesialan Di Bulan Safar

MELURUSKAN KEYAKINAN: “TIDAK ADA KESIALAN DI BULAN SAFAR”
Penulis:
Ustaz Mubarak Umar, Lc., M.A.
(Kandidat Doktor Universitas Islam Madinah, KSA)
Khutbah pertama:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ… فَيَا عِبَادَ اللَّه، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin, Rahimakumullah…
Tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita umatnya, dan juga seluruh rasul kepada kaum-kaumnya, adalah untuk menegakkan tauhid di muka bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhkan manusia dari segala bentuk kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:
﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾
“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An-Nahl: 36)
Ayat ini mengingatkan kita untuk mempersembahkan segala bentuk ibadah kita—puasa kita, salat kita, sedekah kita—hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita harus meyakini bahwa satu-satunya yang memiliki kekuasaan mutlak di alam semesta ini adalah Allah. Yang memberikan manfaat dan mudarat pada hakikatnya hanyalah Dia. Wajtanibuth thaghuut, kita juga diperintahkan untuk menjauhi segala bentuk thaghut, yakni segala hal yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Hari ini kita telah memasuki bulan Safar. Bulan yang diyakini oleh orang-orang Arab Jahiliyah terdahulu sebagai bulan yang penuh dengan kesialan. Oleh karenanya, mereka tidak akan membuat hajat tertentu di bulan Safar. Mereka enggan melaksanakan hajat-hajat penting, menghindari perjalanan jauh, dan menunda pernikahan. Mengapa? Karena mereka meyakini siapa yang melakukan hajat penting di bulan Safar, maka cepat atau lambat orang tersebut akan mengalami musibah dan kecelakaan yang besar.
Keyakinan seperti ini tentunya menyelisihi dan bertentangan dengan risalah tauhid yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena menyandarkan datangnya musibah dan kesialan kepada sesuatu yang sama sekali bukanlah sebab baik secara syariat maupun hukum alam/sunnatullah, dan seolah meyakini ada hal selain Allah yang memiliki kekuatan untuk mendatangkan manfaat dan mudarat dengan sendirinya. Oleh karenanya, Rasulullah dengan tegas membantah keyakinan tersebut dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan:
لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ
“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya tanpa izin Allah), tidak ada kesialan (karena burung atau benda lain), tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perlu ditekankan di sini, jamaah sekalian, bahwa penyebutan bulan Safar dan burung hantu dalam sabda beliau ini tidaklah bermakna khusus atau hanya terbatas pada dua hal itu saja, melainkan mewakili makna yang sangat luas. ‘Walaa safara’ adalah penegasan untuk tidak mengaitkan kesialan dengan waktu, hari, tanggal, angka, atau bulan apa pun. Sementara ‘Walaa haamata’ adalah penegasan untuk tidak menyandarkan malapetaka pada hewan, suara, benda, atau peristiwa tertentu.
Semua ini bermuara pada satu kesimpulan yang sama: syariat kita melarang keras praktik thiyarah atau tathayur. Menghubungkan musibah atau nasib buruk dengan hal-hal yang tidak ada kaitannya sama sekali yang bukan merupakan sebab alamiah maupun syar’i adalah bentuk kesyirikan, karena semata-mata keberuntungan dan kesialan seseorang murni berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hadis lain, Rasulullah mempertegasnya hingga tiga kali:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
“Tathayur/thiyarah adalah kesyirikan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Jamaah yang dirahmati Allah,
Terkait dengan mitos waktu dan bulan, ketahuilah sesungguhnya seluruh waktu dan zaman adalah ciptaan Allah. Di dalam waktu itulah manusia menjalankan amal perbuatannya. Barangsiapa yang memanfaatkan suatu waktu untuk ketaatan kepada Allah, maka waktu itu menjadi waktu yang penuh kebaikan baginya. Sebaliknya, waktu apa pun yang dihabiskan seseorang untuk bermaksiat kepada Allah, maka waktu itu akan menjadi keburukan atasnya.
Kesialan dan keburukan yang hakiki itu sejatinya terletak pada kemaksiatan kepada Allah, bukan terletak pada suatu bulan yang diciptakan Allah. Bahkan, segala sesuatu yang melalaikan kita dari mengingat Allah—sekalipun itu keluarga, anak, atau harta benda—itulah yang sebenarnya membawa keburukan bagi kita.
Bulan-bulan dan hari-hari sama sekali tidak membinasakan manusia karena sekadar nama atau putaran waktunya. Yang membinasakan manusia tidak lain adalah dosa dan kemaksiatan yang dilakukannya pada waktu-waktu tersebut, atau ketika ia bergaul dengan para pelaku maksiat, serta berkumpul dengan setan-setan berwujud manusia yang membujuk dan menghiasi keburukan seolah-olah menjadi kebaikan.
Sikap yang benar bagi seorang mukmin adalah beriman penuh kepada takdir Allah. Jika mendapat takdir baik, dia bersyukur, dan apabila itu takdir buruk, dia akan bersabar, karena di dalamnya ada pahala yang besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sikap ideal seorang mukmin dalam menjalani hari-harinya, saat berusaha menempuh sebab yang benar, maupun ketika menyikapi sebuah kegagalan, adalah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu, janganlah engkau berkata: ‘Seandainya aku berbuat begini dan begitu…’, tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan,’ karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ itu membuka pintu amalan setan.” (HR. Muslim)
Kalau engkau gagal setelah berusaha, jangan berlarut dalam masa lalu, tapi fokuslah pada masa depan. Ambil pelajaran dan lanjutkan perjalanan. Karena sesungguhnya ucapan “andaikan-andaikan” yang bernada penyesalan meratapi takdir hanya akan membuka celah bagi setan, yang pada akhirnya membuat seseorang menyalahkan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah kedua:
الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْأَحَدِ، الْفَرْدِ الصَّمَدِ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَزِدْ وَأَنْعِمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Kaum muslimin sidang jamaah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Orang yang sering bertathayur, yang selalu menghubungkan kesialan dengan hal-hal yang bukan sebab, adalah orang yang hidup dalam kekhawatiran. Adapun orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah, merekalah orang yang paling tenang di muka bumi ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ﴾
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (kesyirikan, termasuk tathayur), mereka itulah yang mendapat ketenangan/keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)
Sidang Jumat rahimakumullah
Terdapat tiga tips dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala seseorang dihinggapi rasa was-was tathayur agar perasaan itu segera pergi:
- Bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
وَمَا مِنَّا إِلَّا… وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
“Dan tidak ada satupun dari kami melainkan pernah terbesit rasa tathayur itu… Tetapi Allah menghilangkannya seketika dengan rasa tawakal.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
- Tetap Melanjutkan Aktivitas.
Tathayur yang dianggap syirik adalah yang menyebabkan seseorang membatalkan aktivitasnya. Jika ia mendengar suara burung hantu, melihat angka tertentu, atau tertimpa sesuatu yang kerap dianggap pertanda buruk, lalu ia menepis rasa was-was tersebut dan tetap melanjutkan urusannya, maka itulah tauhid.
- Berdoa.
Berdoalah dengan doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali yang Engkau takdirkan, dan tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Engkau.” (HR.Ahmad)
Kaum muslimin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Hari Jumat adalah hari yang mulia untuk kita memperbanyak amalan saleh, di antaranya memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي فِلِسْطِينَ، اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي غَزَّةَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ حُكَّامَ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ إِنْدُونِيسِيَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
أَقِمِ الصَّلَاةَ.

+6285333345252



