Tatsqif

Dakwah Nabi ﷺ di Thaif

Dakwah Nabi ﷺ di Thaif

Setelah wafatnya Abu Thalib, Nabi Muhammad ﷺ memandang perlu memindahkan pusat dakwah beliau ke kota Thaif, dengan harapan mendapatkan para pendukung yang akan beriman kepada risalah yang beliau bawa, jauh dari pengaruh kaum kafir Quraisy serta ancaman mereka berupa gangguan, penyiksaan, dan pemboikotan terhadap orang-orang yang beriman.

Maka Rasulullah ﷺ berangkat menuju Thaif untuk mencari dukungan dan perlindungan dari kabilah Bani Tsaqif agar mereka dapat melindungi beliau dari gangguan kaumnya sendiri.

Disebutkan dalam sebagian riwayat bahwa beliau berangkat seorang diri, sementara riwayat lain menyebutkan bahwa beliau ditemani oleh Zaid bin Haritsah رضي الله عنه.

Ketika tiba di Thaif, Nabi ﷺ mendatangi beberapa tokoh utama dari Bani Tsaqif yang merupakan para pemimpin dan pembesar mereka. Mereka adalah tiga orang bersaudara:

Abd Yalil bin Amr bin Umair

Mas’ud bin Amr bin Umair

Habib bin Amr bin Umair

Ketiganya adalah putra dari Amr bin Umair bin Auf. Pada saat itu, salah seorang dari mereka sedang bersama seorang wanita Quraisy dari Bani Jumah.

Rasulullah ﷺ duduk bersama mereka, berbicara kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah, serta menjelaskan bahwa beliau datang kepada mereka untuk meminta pertolongan dan dukungan dalam menghadapi penentangan kaumnya.

Namun jawaban yang beliau terima sangat menyakitkan.

Salah seorang dari mereka berkata:

> يَمْرُطُ ثِيَابَ الْكَعْبَةِ إِنْ كَانَ اللَّهُ أَرْسَلَكَ

“Semoga kain penutup Ka’bah tercabik-cabik jika benar Allah telah mengutusmu.”

Ucapan ini merupakan ungkapan orang Arab yang bermakna pengingkaran dan pendustaan terhadap kerasulan beliau.

Orang kedua berkata:

> أَمَا وَجَدَ اللَّهُ أَحَدًا أَرْسَلَهُ غَيْرَكَ؟

“Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain engkau untuk diutus?”

Sedangkan orang ketiga berkata:

> وَاللَّهِ لَا أُكَلِّمُكَ أَبَدًا، لَئِنْ كُنْتَ رَسُولًا مِنَ اللَّهِ كَمَا تَقُولُ، لَأَنْتَ أَعْظَمُ خَطَرًا مِنْ أَنْ أَرُدَّ عَلَيْكَ الْكَلَامَ، وَلَئِنْ كُنْتَ تَكْذِبُ عَلَى اللَّهِ مَا يَنْبَغِي لِي أَنْ أُكَلِّمَكَ

“Demi Allah, aku tidak akan berbicara denganmu selamanya. Jika engkau benar-benar seorang Rasul dari Allah sebagaimana yang engkau katakan, maka kedudukanmu terlalu agung sehingga aku tidak pantas menjawab perkataanmu. Namun jika engkau berdusta atas nama Allah, maka aku juga tidak pantas berbicara denganmu.”

Maka Rasulullah ﷺ pun bangkit meninggalkan mereka dalam keadaan telah kehilangan harapan terhadap kebaikan dari Bani Tsaqif.

Sebelum pergi, beliau berkata kepada mereka:

> إِنْ فَعَلْتُمْ مَا فَعَلْتُمْ، فَاكْتُمُوا عَلَيَّ

“Jika kalian tetap melakukan apa yang telah kalian lakukan (yakni menolak dakwahku), maka rahasiakanlah perkara ini dariku (jangan sebarkan penolakanku kepada orang lain).”

Hal itu beliau ucapkan karena beliau khawatir jika berita penolakan tersebut sampai kepada Quraisy, maka mereka akan semakin berani dan semakin keras dalam menyakiti kaum muslimin serta menghalangi dakwah Islam.

Namun ternyata, penduduk Thaif tidak hanya menolak dakwah beliau, bahkan mereka kemudian menghasut anak-anak kecil dan para budak untuk melempari beliau dengan batu hingga kedua kaki Rasulullah ﷺ berdarah, dan beliau terpaksa meninggalkan Thaif menuju kebun milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah. Di tempat itulah terjadi kisah pertemuan beliau dengan ‘Addas yang masyhur dalam kitab-kitab sirah, meskipun sanad kisah tersebut diperselisihkan oleh para ahli hadits.

Rasulullah ﷺ tidak menyukai apabila berita tentang apa yang terjadi di Thaif sampai kepada kaum Quraisy, karena hal itu hanya akan menambah penolakan dan gangguan mereka terhadap beliau. Sebab beliau datang ke Thaif untuk meminta dukungan dan perlindungan dari Bani Tsaqif dalam menghadapi Quraisy, namun mereka tidak memenuhi permintaan tersebut. Bahkan lebih dari itu, mereka menghasut orang-orang bodoh dan para budak mereka untuk mencaci maki dan melempari beliau dengan batu, hingga akhirnya beliau terpaksa berlindung di sebuah kebun milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah, sementara keduanya berada di sana.

Ketika orang-orang bodoh dari Tsaqif yang mengejar beliau telah pergi, Rasulullah ﷺ menuju ke bawah naungan pohon anggur dan duduk di sana. Dari kejauhan, kedua putra Rabi’ah itu memperhatikan beliau dan menyaksikan perlakuan buruk yang diterimanya dari orang-orang tersebut.

Beliau duduk beristirahat setelah penderitaan yang dialaminya, sementara hati beliau dipenuhi rasa kasih sayang terhadap umatnya. Kebodohan telah bersarang di dalam hati mereka sehingga membutakan mereka dari kebenaran. Mereka tidak mengetahui hakikat yang sebenarnya. Bagaimana mungkin mereka dapat diyakinkan? Bagaimana iman dapat masuk ke dalam hati mereka?

Karena itulah beliau mengadukan kelemahan dirinya kepada Allah dengan munajat yang sangat menyentuh berikut ini:

> اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ، وَأَنْتَ رَبِّي، إِلَى مَنْ تَكِلُنِي؟ إِلَى بَعِيدٍ يَتَجَهَّمُنِي؟ أَمْ إِلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِي؟ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي، وَلَكِنَّ عَافِيَتَكَ هِيَ أَوْسَعُ لِي، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِكَ الَّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ، وَصَلَحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَكَ، أَوْ تُحِلَّ عَلَيَّ سَخَطَكَ، لَكَ الْعُتْبَى حَتَّى تَرْضَى، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ

“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya kemampuanku, dan hinanya diriku di hadapan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara semua yang mengasihi, Engkaulah Rabb orang-orang yang lemah dan Engkaulah Rabbku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku? Ataukah kepada musuh yang Engkau beri kekuasaan atas diriku? Selama Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Akan tetapi keselamatan dan perlindungan-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang dengannya kegelapan menjadi terang dan urusan dunia serta akhirat menjadi baik, dari turunnya murka-Mu kepadaku atau datangnya kemurkaan-Mu atasku. Hanya kepada-Mu aku memohon keridhaan hingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu.”

Catatan:

> Kisah Thaif ini, termasuk doa yang terdapat di dalamnya, telah dinilai lemah (dha’if) oleh Al-Albani رحمه الله dalam kitab Difa’ ‘an Al-Hadits An-Nabawi was-Sirah halaman 25–26, serta dalam beberapa karya beliau yang lain. Oleh karena itu, perlu diberikan catatan dan peringatan mengenai hal tersebut.

Maksud pernyataan ini adalah bahwa Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani رحمه الله berpendapat bahwa kisah perjalanan Nabi ﷺ ke Thaif dengan rincian yang masyhur, khususnya doa berikut:

> اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي وَقِلَّةَ حِيلَتِي وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ …

“Ya Allah, kepada-Mulah aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya daya upayaku, dan hinanya diriku di hadapan manusia…”

tidak memiliki sanad shahih yang dapat dijadikan hujjah menurut standar ilmu hadits.

Karena itu, para peneliti dan penulis ilmiah biasanya memberikan catatan ketika membawakan kisah ini, agar pembaca mengetahui status sanadnya dan tidak menganggapnya sebagai riwayat yang pasti shahih.

Namun perlu diperhatikan bahwa yang dilemahkan adalah sanad riwayatnya, bukan makna doa tersebut. Isi doa tersebut mengandung makna-makna yang benar dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat, seperti:

mengadukan kelemahan hanya kepada Allah,

memohon perlindungan dari murka Allah,

mengutamakan keridhaan Allah di atas segala sesuatu,

serta mengakui bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Karena itu sebagian ulama sirah tetap menyebutkan kisah tersebut dalam konteks sejarah dan targhib, namun bukan sebagai dalil yang pasti dari sisi periwayatan hadits.

Ketika Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah melihat keadaan Rasulullah ﷺ, timbul rasa iba dalam diri mereka. Mereka berkata kepada pelayan mereka, ‘Addas:

> “Ambillah setangkai anggur ini, letakkan di atas piring, lalu bawalah kepada orang yang sedang duduk di bawah pohon anggur itu.”

Maka ‘Addas membawa anggur tersebut dan meletakkannya di hadapan Rasulullah ﷺ seraya berkata:

> “Silakan makan.”

Ketika Rasulullah ﷺ hendak mengambilnya, beliau mengucapkan:

> بِسْمِ اللَّهِ

“Dengan nama Allah.”

Mendengar hal itu, ‘Addas berkata:

> وَاللَّهِ إِنَّ هَذَا الْكَلَامَ مَا يَقُولُهُ أَهْلُ هَذِهِ الْبِلَادِ

“Demi Allah, ucapan seperti ini tidak pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini.”

Rasulullah ﷺ bertanya:

> مِنْ أَيِّ الْبِلَادِ أَنْتَ؟ وَمَا دِينُكَ؟

“Engkau berasal dari negeri mana dan apa agamamu?”

Ia menjawab:

> “Aku berasal dari Ninawa dan beragama Nasrani.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

> مِنْ قَرْيَةِ الرَّجُلِ الصَّالِحِ يُونُسَ بْنِ مَتَّى

“Dari negeri seorang hamba saleh, Yunus bin Matta.”

‘Addas bertanya:

> “Bagaimana engkau mengetahui Yunus bin Matta?”

Beliau menjawab:

> ذَاكَ أَخِي، كَانَ نَبِيًّا وَأَنَا نَبِيٌّ

“Dia adalah saudaraku. Dia seorang nabi dan aku juga seorang nabi.”

Maka ‘Addas segera mendekat kepada Rasulullah ﷺ dan mencium kepala, kedua tangan, dan kedua kaki beliau.

Peristiwa itu disaksikan oleh Utbah dan Syaibah dari kejauhan. Salah seorang berkata kepada yang lain:

> “Budakmu itu tampaknya telah dirusak agamanya oleh orang itu.”

Mereka tidak mengetahui bahwa agama para nabi pada asalnya adalah satu selama belum mengalami penyimpangan dan perubahan.

Ketika ‘Addas kembali kepada mereka, keduanya berkata:

> وَيْلَكَ يَا عَدَّاسُ، مَا لَكَ تُقَبِّلُ رَأْسَ هَذَا الرَّجُلِ وَيَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ؟

“Celaka engkau wahai ‘Addas, mengapa engkau mencium kepala, tangan, dan kaki orang itu?”

‘Addas menjawab:

> يَا سَيِّدِي، مَا فِي الْأَرْضِ شَيْءٌ خَيْرٌ مِنْ هَذَا، لَقَدْ أَخْبَرَنِي بِأَمْرٍ مَا يَعْلَمُهُ إِلَّا نَبِيٌّ

“Wahai tuanku, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih baik daripada orang ini. Dia telah memberitahuku tentang sesuatu yang tidak diketahui kecuali oleh seorang nabi.”

Keduanya berkata:

> وَيْحَكَ يَا عَدَّاسُ، لَا يَصْرِفَنَّكَ عَنْ دِينِكَ، فَإِنَّ دِينَكَ خَيْرٌ مِنْ دِينِهِ

“Hati-hati wahai ‘Addas, jangan sampai dia memalingkanmu dari agamamu, karena agamamu lebih baik daripada agamanya.”

Disebutkan pula bahwa penduduk Thaif berdiri dalam dua barisan di sepanjang jalan yang akan dilalui Rasulullah ﷺ ketika beliau kembali menuju Makkah. Setiap kali beliau mengangkat kedua kakinya untuk berjalan, mereka melemparinya dengan batu hingga kedua kaki beliau berdarah.

Akhirnya beliau berhasil lolos dari mereka sementara darah mengalir dari kedua kaki beliau. Beliau kemudian berteduh di bawah sebuah pohon kurma dalam keadaan sangat sedih dan letih untuk beristirahat.

Dalam hadits shahih riwayat Muslim, dari Aisyah binti Abu Bakar رضي الله عنها, ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

> “Apakah pernah engkau mengalami hari yang lebih berat daripada hari Perang Uhud?”

Beliau menjawab:

> «لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ، وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ، إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلِ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ، فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ…»

“Aku telah mengalami berbagai gangguan dari kaummu, dan yang paling berat adalah apa yang aku alami pada hari Aqabah (di Thaif), ketika aku menawarkan dakwahku kepada Ibnu Abd Yalil bin Abd Kulal, namun ia tidak memenuhi apa yang aku harapkan…”

Beliau melanjutkan bahwa ketika sampai di Qarn Ats-Tsa’alib, beliau melihat awan menaungi beliau, kemudian muncul Malaikat Jibril عليه السلام bersama Malaikat Penjaga Gunung.

Malaikat gunung berkata:

> إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الْأَخْشَبَيْنِ

“Jika engkau menghendaki, aku akan menimpakan kepada mereka dua gunung besar yang mengapit Makkah.”

Namun Rasulullah ﷺ menjawab:

> بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Aku berharap Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”

Ketika penduduk Thaif tetap bersikeras dalam kekafiran dan terus menyakiti Nabi ﷺ, Allah menggantinya dengan keimanan dari makhluk lain.

Saat Rasulullah ﷺ bermalam di daerah Nakhlah dan menunaikan shalat Isya di sana, lewatlah sekelompok jin yang berjumlah sembilan orang. Mereka mendengar bacaan Al-Qur’an dan berhenti untuk mendengarkannya.

Allah Ta’ala berfirman:

> ﴿ وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ ۝ قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ ﴾

(Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepadamu sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Ketika mereka hadir, mereka berkata: “Diamlah kalian!” Setelah selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan. Mereka berkata: “Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa, membenarkan kitab-kitab sebelumnya, yang memberi petunjuk kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.”)

(QS. Al-Ahqaf: 29–30)

Allah juga berfirman:

> ﴿ قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا ۝ يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا ﴾

(Katakanlah: Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah mendengarkan Al-Qur’an, lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar bacaan yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, maka kami pun beriman kepadanya dan kami tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami.”)

(QS. Al-Jin: 1–2)

Inilah salah satu gambaran paling agung tentang kesabaran, kasih sayang, dan keluasan rahmat Rasulullah ﷺ kepada umat manusia. Meskipun beliau disakiti, diusir, dan dilempari batu, beliau tetap berharap agar dari keturunan mereka lahir generasi yang beriman kepada Allah semata.

Rasulullah ﷺ ingin kembali memasuki kota Makkah, namun beliau khawatir terhadap kekuasaan dan pengaruh Quraisy, terlebih jika mereka telah mengetahui apa yang terjadi di Thaif, sehingga gangguan mereka terhadap beliau akan semakin berat.

Karena itu beliau mengirim utusan kepada Al-Muth’im bin Adi untuk meminta perlindungan (jiwar) darinya agar beliau dapat masuk ke Makkah dengan aman.

Al-Muth’im menerima permintaan tersebut dan memberikan perlindungan kepada Rasulullah ﷺ. Ia keluar bersama enam atau tujuh orang putranya dalam keadaan bersenjata, kemudian mereka memasuki Masjidil Haram. Al-Muth’im berkata kepada Rasulullah ﷺ:

> طُفْ بِالْكَعْبَةِ

“Laksanakanlah thawaf di Ka’bah.”

Kemudian salah seorang pemuka Quraisy melihat pemandangan tersebut. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa yang bertanya adalah Abu Sufyan bin Harb, ia berkata kepada Al-Muth’im:

> أَمُتَابِعٌ أَمْ مُجِيرٌ؟

“Apakah engkau mengikuti Muhammad ataukah hanya memberikan perlindungan kepadanya?”

Al-Muth’im menjawab:

> بَلْ مُجِيرٌ

“Aku hanya memberikan perlindungan kepadanya.”

Maka ia berkata:

> إِذًا لَا تُغْدَرُ

“Kalau begitu, perlindunganmu tidak akan dilanggar.”

Al-Muth’im dan anak-anaknya tetap berada dalam posisi menjaga dan melindungi Rasulullah ﷺ hingga beliau selesai melaksanakan thawaf. Setelah beliau pulang, mereka pun mengiringinya kembali.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa yang mengucapkan pertanyaan tersebut adalah Abu Jahl bin Hisyam:

> أَمُجِيرٌ أَمْ مُتَابِعٌ؟

“Apakah engkau hanya memberi perlindungan ataukah menjadi pengikutnya?”

Al-Muth’im menjawab:

> بَلْ مُجِيرٌ

“Aku hanya memberikan perlindungan.”

Abu Jahl lalu berkata:

> قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتَ

“Kalau begitu, kami pun menghormati perlindungan yang engkau berikan.”

Pendapat bahwa yang berbicara adalah Abu Jahl dinilai lebih kuat, karena pada masa itu Abu Jahl merupakan pemimpin utama oposisi terhadap Nabi ﷺ, sedangkan Abu Sufyan baru menjadi pemimpin Quraisy setelah terbunuhnya para pembesar mereka dalam Perang Badar.

Beberapa hari kemudian Rasulullah ﷺ melewati majelis Quraisy dalam perjalanan menuju Ka’bah untuk thawaf.

Abu Jahl berkata dengan nada mengejek:

> هَذَا نَبِيُّكُمْ يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ

“Inikah nabi kalian wahai Bani Abdi Manaf?”

Maka Utbah bin Rabi’ah menjawab:

> وَمَا يُنْكِرُ أَنْ يَكُونَ مِنَّا نَبِيٌّ وَمَلِكٌ؟

“Apa yang aneh jika di antara kami ada seorang nabi dan seorang raja?”

Rasulullah ﷺ kemudian kembali kepada mereka dan bersabda:

> أَمَّا أَنْتَ يَا عُتْبَةُ فَمَا حَمَيْتَ لِلَّهِ وَلَكِنْ لِنَفْسِكَ

“Adapun engkau wahai Utbah, engkau tidak membela karena Allah, tetapi karena kepentingan dirimu sendiri.”

Kemudian beliau berkata kepada Abu Jahl:

> وَأَمَّا أَنْتَ يَا أَبَا جَهْلٍ، فَوَاللَّهِ لَا يَأْتِي عَلَيْكَ غَيْرُ بَعِيدٍ حَتَّى تَضْحَكَ قَلِيلًا وَتَبْكِيَ كَثِيرًا

“Adapun engkau wahai Abu Jahl, demi Allah, tidak lama lagi engkau akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Lalu beliau berkata kepada Quraisy:

> وَأَمَّا أَنْتُمْ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، فَوَاللَّهِ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ غَيْرُ كَثِيرٍ حَتَّى تَدْخُلُوا فِيمَا تُنْكِرُونَ وَأَنْتُمْ كَارِهُونَ

“Adapun kalian wahai kaum Quraisy, demi Allah, tidak lama lagi kalian akan masuk ke dalam agama yang sekarang kalian ingkari, meskipun kalian membencinya.”

Dan ternyata peristiwa terjadi sebagaimana yang beliau sabdakan.

Rasulullah ﷺ telah berulang kali berbicara dengan lembut kepada para pemuka Quraisy dengan harapan mereka masuk Islam. Beliau sangat memperhatikan keadaan mereka, agar dapat menghindari permusuhan mereka dan memenangkan mereka sebagai pendukung dakwah, karena mereka adalah keluarga dan kerabat beliau sendiri.

Namun Allah Ta’ala menegur Nabi ﷺ dalam beberapa kesempatan agar tidak mengutamakan para pembesar Quraisy dibandingkan kaum mukminin yang lemah.

Di antaranya adalah kisah Abdullah bin Umm Maktum رضي الله عنه, ketika Allah menurunkan firman-Nya:

> ﴿ عَبَسَ وَتَوَلَّى ۝ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى ۝ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى ۝ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى ۝ أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَى ۝ فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّى ۝ وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّى ۝ وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَى ۝ وَهُوَ يَخْشَى ۝ فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّى ﴾

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya. Tahukah engkau barangkali ia ingin membersihkan dirinya, atau ia ingin mendapatkan pelajaran lalu pelajaran itu bermanfaat baginya. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka engkau justru melayaninya. Padahal tidak ada tanggungan atasmu jika dia tidak menyucikan dirinya. Sedangkan orang yang datang kepadamu dengan bersegera dan ia takut kepada Allah, justru engkau mengabaikannya.”

(QS. ‘Abasa: 1–10)

Allah juga berfirman:

> ﴿ وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ﴾

“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Rabb mereka pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena menginginkan perhiasan kehidupan dunia.”

(QS. Al-Kahfi: 28)

Dan firman-Nya:

> ﴿ وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴾

“Janganlah engkau mengusir orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka pada pagi dan petang hari dengan mengharap wajah-Nya. Engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perhitungan mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perhitunganmu. Jika engkau mengusir mereka, maka engkau termasuk orang-orang yang zalim.”

(QS. Al-An’am: 52)

Dalam Shahih Muslim, dari Sa’d bin Abi Waqqash رضي الله عنه, beliau berkata:

> “Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ sebanyak enam orang. Kemudian

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button