Kota Jeddah

Kota Jeddah
Pengertian dan Lokasi
Kota Jeddah merupakan ibu kota sekaligus pusat pemerintahan Provinsi Jeddah, salah satu provinsi yang secara administratif berada di bawah Wilayah Makkah Al-Mukarramah di Kerajaan Arab Saudi.
Jeddah adalah kota terbesar kedua di Arab Saudi berdasarkan jumlah penduduk, setelah Riyadh, dan merupakan kota terbesar di wilayah Makkah.
Jumlah penduduk Kota Jeddah mencapai sekitar 3.751.722 jiwa.
Kota ini terletak di bagian tengah barat Arab Saudi di pesisir Laut Merah, berjarak sekitar:
947 km sebelah barat ibu kota Riyadh,
89 km sebelah barat laut Makkah Al-Mukarramah.
Pentingnya Kota Jeddah
Sejak dahulu Jeddah merupakan pusat logistik utama di Arab Saudi, sekaligus menjadi pusat transportasi:
darat,
laut,
dan udara.
Jeddah juga merupakan gerbang udara utama menuju Masjidil Haram di Makkah, tujuan suci bagi lebih dari 1,5 miliar umat Islam di seluruh dunia.
Selain itu, Jeddah menjadi pusat dari salah satu sistem kereta api tercepat dan terbesar di Timur Tengah, yaitu Kereta Cepat Haramain, yang menghubungkan:
Makkah,
Jeddah,
dan Madinah.
Kota ini memiliki dua stasiun utama Kereta Haramain.
Di pesisirnya juga terdapat Pelabuhan Islam Jeddah, pelabuhan terbesar Arab Saudi di Laut Merah.
Jeddah Sebagai Pusat Kunjungan dan Pariwisata
Jeddah merupakan pusat aktivitas dan tujuan perjalanan harian bagi penduduk wilayah sekitarnya.
Sekitar 55,62% penduduk wilayah Makkah dapat mencapai Jeddah melalui jalur darat dalam waktu tidak lebih dari satu setengah jam.
Sekitar 9,17% penduduk Arab Saudi dapat mencapai Jeddah dalam waktu antara 20 menit hingga satu jam melalui Kereta Cepat Haramain.
Di samping itu, Jeddah juga merupakan pusat budaya dan destinasi wisata penting.
Di dalam kota ini terdapat kawasan Jeddah Bersejarah (Al-Balad) yang terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO karena masih mempertahankan bangunan dan peninggalan sejarah yang menjadi salah satu pusat perkotaan Islam tertua yang masih hidup hingga saat ini.
Sejarah Kota Jeddah
Terdapat berbagai pendapat mengenai awal mula pemukiman manusia di Jeddah.
Sebagian sejarawan, berdasarkan penelitian arkeologi, berpendapat bahwa manusia telah menetap di wilayah ini sejak zaman batu, sebagaimana dibuktikan oleh temuan arkeologi di Wadi Buwaib di bagian timur laut Jeddah.
Bukti sejarah tertua menunjukkan bahwa Jeddah telah menjadi pemukiman sejak masa prasejarah, yang dibuktikan oleh berbagai prasasti dan peninggalan kaum Tsamud di Wadi Buraiman di sebelah timur Jeddah.
Letaknya yang strategis menjadikan Jeddah mendapat perhatian sejak zaman dahulu, bahkan disebutkan bahwa Alexander the Great pernah mengunjungi wilayah tersebut pada masa antara 356–323 SM.
Pendapat lain menyebutkan bahwa Jeddah mulai berkembang sekitar 3.000 tahun yang lalu, ketika para nelayan menjadikannya tempat singgah setelah kembali dari melaut.
Kemudian suku Qudha’ah menetap di sana lebih dari 2.500 tahun yang lalu, terutama setelah runtuhnya Bendungan Ma’rib sekitar tahun 115 SM.
Jeddah pada Masa Islam
Pada masa Islam, Jeddah dikenal sebagai gerbang laut menuju dua tanah suci (Haramain).
Ketenaran Jeddah semakin meningkat ketika Khalifah ketiga, Uthman ibn Affan pada tahun 26 H / 647 M menetapkan Jeddah sebagai pelabuhan resmi bagi jamaah dan para pedagang yang hendak menuju Makkah melalui jalur laut.
Pada masa tersebut Jeddah juga dikenal dengan julukan:
> بلد القناصل
“Kota para Konsul.”
Jeddah pada Era Saudi Modern
Saat ini Jeddah merupakan salah satu kota terpenting di Arab Saudi.
Perannya meliputi:
gerbang utama menuju Makkah dan Masjidil Haram,
pusat logistik nasional,
pusat transportasi darat, laut, dan udara,
pusat perdagangan dan keuangan,
pusat pertumbuhan ekonomi,
serta pusat aktivitas politik dan keagamaan internasional.
Di Jeddah terdapat kantor pusat:
Organisation of Islamic Cooperation
Islamic Development Bank
International Islamic Fiqh Academy
serta forum ekonomi tahunan Jeddah Economic Forum.
Letak Geografis Jeddah
Jeddah terletak di pesisir timur Laut Merah pada bagian barat Arab Saudi dan merupakan kota terbesar yang berada di sepanjang pesisir tersebut.
Karena keindahan pantainya, Jeddah dijuluki:
> “Pengantin Laut Merah” (عروس البحر الأحمر).
Batas wilayahnya adalah:
Utara: Kabupaten Rabigh.
Selatan: Makkah dan Bahrah.
Timur: Dataran Tihamah dan dataran tinggi Hijaz.
Barat: Laut Merah.
Di lepas pantainya terdapat rangkaian terumbu karang yang memanjang sejajar dengan garis pantai.
Demografi Jeddah
Secara administratif Jeddah berada di bawah Wilayah Makkah.
Penduduk Jeddah berjumlah sekitar 3.751.722 jiwa, yang setara dengan:
46,8% dari total penduduk Wilayah Makkah,
dan sekitar 11,6% dari seluruh penduduk Arab Saudi berdasarkan sensus tahun 2022.
Jeddah dikenal sebagai kota multikultural dengan penduduk yang berasal dari berbagai bangsa dan latar belakang budaya.
Asal Nama Jeddah
Terdapat beberapa pendapat mengenai asal-usul nama Jeddah:
1. Sebagian ulama bahasa membacanya Juddah (جُدَّة) atau Jiddah (جِدَّة) yang berarti:
> “pantai atau tepian laut.”
2. Pendapat yang paling terkenal membaca nama tersebut sebagai Jaddah (جَدَّة) yang berarti:
> “nenek.”
Penamaan ini dikaitkan dengan keyakinan bahwa makam Sayyidah Hawa, ibu seluruh manusia, berada di kota Jeddah.
3. Ada pula yang mengatakan nama tersebut berasal dari salah seorang keturunan suku Qudha’ah yang menetap di sana lebih dari 2.500 tahun yang lalu.
Iklim Kota Jeddah
Jeddah memiliki iklim panas dan lembap, khususnya pada musim panas.
Suhu pada musim panas dapat mencapai lebih dari 40°C.
Tingkat kelembapan juga cukup tinggi karena pengaruh Laut Merah.
Pada musim dingin, suhu dan kelembapan cenderung lebih rendah dan lebih nyaman.
Curah hujan di Jeddah relatif ringan dan biasanya terjadi pada:
musim dingin,
musim semi,
dan musim gugur,
sering kali disertai badai petir.
Karena berada di tepi Laut Merah, angin yang paling sering bertiup adalah angin barat laut, meskipun pada musim tertentu angin selatan yang panas juga dapat terjadi.
Transportasi di Jeddah
Jeddah memiliki dua stasiun utama Kereta Cepat Haramain:
Stasiun Bandara Internasional King Abdulaziz.
Stasiun Sulaimaniyah.
Kereta ini menghubungkan:
Makkah,
Jeddah,
dan Madinah.
Selain itu pemerintah Saudi juga merencanakan jalur kereta antara Jeddah dan Riyadh sepanjang sekitar 950 km untuk angkutan penumpang dan barang.
Bandara Internasional King Abdulaziz
King Abdulaziz International Airport dibuka pada tahun 1401 H / 1981 M dan menjadi gerbang utama menuju:
Masjidil Haram,
Masjid Nabawi,
serta seluruh tempat-tempat suci di Makkah dan Madinah.
Bandara ini merupakan pusat operasi resmi Saudia dan termasuk salah satu bandara tersibuk di Timur Tengah.
Di dalamnya terdapat Terminal Haji, yang merupakan salah satu terminal penumpang terbesar di dunia.
Beberapa fasilitas utama bandara meliputi:
luas sekitar 105 km²,
6 terminal besar,
220 konter layanan penumpang,
80 mesin layanan mandiri,
63 konter paspor,
kapasitas parkir hingga 21.665 kendaraan,
serta kemampuan menampung 98 pesawat secara bersamaan.
Bandara ini melayani puluhan juta penumpang setiap tahun dan menjadi salah satu simpul transportasi udara terpenting di dunia Islam.
Kota Jeddah
Kereta Cepat Haramain
Kereta Cepat Haramain merupakan salah satu proyek transportasi cepat di Kerajaan Arab Saudi. Proyek ini dibangun untuk melayani para tamu Allah dari kalangan jamaah haji dan umrah, serta memudahkan perjalanan mereka antara Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah.
Pengoperasian resminya diresmikan pada tahun 1440 H/2018 M oleh Pelayan Dua Tanah Suci, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud. Saat itu beliau menaiki perjalanan pertama kereta dari Stasiun Sulaimaniyah di Kota Jeddah menuju Madinah Al-Munawwarah, sebagai tanda dimulainya pengoperasian resmi Kereta Cepat Haramain.
Kereta ini menghubungkan Kota Makkah dan Madinah dengan melewati Kota Jeddah serta Kota Ekonomi Raja Abdullah di Rabigh. Kereta tersebut merupakan kereta listrik yang menempuh jalur sepanjang 450 km, dengan kecepatan hingga 300 km per jam di atas rel listrik.
Pembangunannya mulai dilakukan pada tahun 1430 H/2009 M, dengan pembiayaan dari Dana Investasi Publik dan partisipasi sektor swasta. Biaya pembangunannya mencapai sekitar 60 miliar riyal.
Perjalanan komersial pertamanya dimulai pada tahun 1440 H/2018 M, sedangkan perjalanan penumpang pertamanya dimulai pada tahun 1440 H/2019 M.
Kereta Haramain terdiri dari:
35 rangkaian kereta,
setiap rangkaian terdiri dari 13 gerbong,
setiap rangkaian menyediakan 417 kursi,
kapasitas angkut harian mencapai 160.000 penumpang,
dan kapasitas tahunan mencapai sekitar 60 juta penumpang
Pelabuhan Islam Jeddah
Pelabuhan Islam Jeddah merupakan pelabuhan utama untuk kegiatan ekspor dan impor Arab Saudi, sekaligus pelabuhan terbesar dan terpenting di antara seluruh pelabuhan di Laut Merah.
Pelabuhan ini memiliki kedudukan penting karena menjadi salah satu gerbang utama yang setiap tahun menerima jamaah haji dan umrah. Pelabuhan tersebut juga merupakan pusat utama kegiatan ekspor ulang di kawasan Laut Merah.
Sekitar 75% perdagangan laut dan aktivitas pemindahan muatan antarkapal yang masuk melalui pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi melewati Pelabuhan Islam Jeddah.
Nilai penting pelabuhan ini juga berasal dari sejarahnya. Pelabuhan tersebut didirikan pada masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pada tahun 26 H/647 M.
Pendiri Kerajaan Arab Saudi, Raja Abdulaziz bin Abdurrahman Al Saud, memberikan perhatian besar terhadap pengembangan pelabuhan ini. Perhatian tersebut kemudian dilanjutkan oleh putra-putra beliau yang menjadi raja setelahnya.
Luas Pelabuhan Islam Jeddah mencapai sekitar 12,5 km². Dengan luas tersebut, pelabuhan ini menjadi:
pelabuhan Saudi terbesar di pesisir Laut Merah berdasarkan luas wilayah,
dan pelabuhan terbesar ketiga di Arab Saudi berdasarkan kapasitas operasional.
Setiap tahun, pelabuhan ini menerima lebih dari 5.000 kapal barang yang berlayar antara Asia dan Eropa. Oleh karena itu, pelabuhan ini menjadi salah satu jalur utama yang menghubungkan kedua benua tersebut.
Menara pengawas di Pelabuhan Jeddah juga termasuk salah satu landmark terkenal kota. Menara tersebut dilengkapi dengan sistem modern untuk mengatur, melayani, dan mengawasi pergerakan kapal, baik di jalur pelayaran maupun di dalam kawasan pelabuhan.
Pendidikan di Kota Jeddah
Jumlah keseluruhan pelajar pada pendidikan umum negeri dan swasta di Provinsi Jeddah mencapai sekitar 696.878 siswa dan siswi. Mereka belajar di sekitar 2.717 sekolah negeri dan swasta.
Berdasarkan statistik terbaru dari Dinas Pendidikan Jeddah tahun 1444 H/2022 M, Jeddah termasuk salah satu kota terkemuka dalam bidang pendidikan akademik di Arab Saudi. Kota ini juga memiliki tiga universitas negeri.
Pendidikan Umum di Jeddah
Sekolah pertama di wilayah Hijaz sebelum penyatuan Kerajaan Arab Saudi didirikan di Kota Jeddah dengan nama Sekolah Al-Falah. Sekolah ini dibuka pada tahun 1323 H/1905 M.
Sekolah Al-Falah berperan dalam penyebaran kebudayaan dan peningkatan pengetahuan masyarakat melalui pengajaran:
bahasa Arab,
kebudayaan Islam,
serta berbagai ilmu dan pengetahuan lainnya.
Sejak saat itu, pendidikan umum di Jeddah terus berkembang.
Jumlah sekolah negeri mencapai sekitar 1.342 sekolah, dengan jumlah siswa dan siswi sekitar 528.548 orang.
Adapun jumlah sekolah swasta dan internasional mencapai sekitar 974 sekolah, dengan total siswa dan siswi sekitar 112.599 orang pada seluruh jenjang pendidikan. Data ini berdasarkan statistik terakhir Dinas Pendidikan Jeddah tahun 1444 H/2022 M.
Pendidikan Tinggi di Jeddah
Kota Jeddah memiliki tiga universitas negeri, yaitu:
1. Universitas Raja Abdulaziz
Universitas Raja Abdulaziz didirikan pada tahun 1387 H/1967 M.
Menurut pemeringkatan U.S. News yang disebutkan dalam teks, universitas ini menempati peringkat pertama di dunia Arab dan peringkat ke-51 dunia dalam daftar 1.500 universitas terbaik dunia.
2. Universitas Sains dan Teknologi Raja Abdullah
Universitas ini didirikan pada tahun 1430 H/2009 M dan dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan serta penelitian ilmiah terkemuka.
3. Universitas Jeddah
Universitas Jeddah termasuk universitas yang relatif baru di Arab Saudi. Universitas ini didirikan pada tahun 1435 H/2014 M.
Jumlah mahasiswa pada pendidikan tinggi negeri di Provinsi Jeddah mencapai sekitar 103.000 mahasiswa dan mahasiswi, berdasarkan statistik perguruan tinggi terbaru.
Selain universitas negeri, di Jeddah juga terdapat sejumlah universitas dan perguruan tinggi swasta yang menawarkan bidang studi seperti:
bisnis dan teknologi,
ilmu kesehatan,
ilmu administrasi,
dan berbagai bidang lainnya.
Pusat-Pusat Penelitian
Kota Jeddah memiliki sejumlah lembaga dan pusat penelitian yang berkontribusi dalam mengembangkan aktivitas riset ilmiah di Arab Saudi dalam berbagai bidang, seperti kedokteran, teknologi, teknik, dan ilmu humaniora.
Di antara pusat-pusat penelitian tersebut adalah:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Produk Universitas Jeddah,
Pusat Penelitian Medis Raja Fahd,
Pusat Membran dan Material Berpori Canggih,
Pusat Pembakaran Bersih,
Pusat Biologi Komputasi,
Pusat Komputasi Super,
Pusat Katalisis Kimia,
Pusat Rekayasa Energi Surya dan Sel Fotovoltaik,
Pusat Penelitian Laut Merah,
Pusat Pertanian Gurun,
Pusat Komputasi Visual,
Pusat Desalinasi dan Pemanfaatan Kembali Air,
serta Institut Penelitian dan Konsultasi Universitas Raja Abdulaziz.
Perpustakaan
Di Kota Jeddah terdapat berbagai perpustakaan umum dan khusus yang berkontribusi dalam mendukung pendidikan dan penelitian ilmiah.
Di antara perpustakaan yang paling terkenal adalah:
Perpustakaan Pusat Universitas Raja Abdulaziz,
dan Perpustakaan Umum Raja Fahd di Jeddah.
Perpustakaan Umum Raja Fahd memiliki beberapa bagian, antara lain:
perpustakaan utama,
bagian referensi,
perpustakaan pemuda,
perpustakaan anak-anak,
perpustakaan perempuan,
perpustakaan bagi penyandang tunanetra,
dan perpustakaan multimedia
Proyek-Proyek Pembangunan di Kota Jeddah
Kota Jeddah memiliki sejumlah proyek pembangunan yang bertujuan mengembangkan kota dan menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan.
Di antara proyek tersebut adalah:
Proyek Pengembangan Pusat Kota Jeddah
Proyek Pengembangan Pusat Kota Jeddah merupakan salah satu proyek raksasa yang diumumkan pada tahun 1439 H/2017 M sebagai bagian dari proyek-proyek Dana Investasi Publik.
Proyek ini bertujuan membangun kembali kawasan pesisir di pusat Corniche Jeddah dan mengubahnya menjadi kawasan dinamis yang memiliki fungsi:
pariwisata,
permukiman,
perdagangan,
dan hiburan.
Proyek ini juga bertujuan menempatkan Kota Jeddah sebagai salah satu dari 100 kota terbaik di dunia.
Pada tahun 1443 H/2021 M, Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri, Pangeran Muhammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, meluncurkan rencana induk dan karakteristik utama proyek Jeddah Central, yang sebelumnya dikenal sebagai New Jeddah Downtown.
Total investasi proyek ini mencapai sekitar 75 miliar riyal, yang dialokasikan untuk mengembangkan kawasan seluas 5,7 juta m².
Pembagian kawasan tersebut meliputi:
42% untuk unit-unit permukiman,
35% untuk kawasan hiburan.
Proyek ini akan memiliki empat landmark utama bertaraf internasional, yaitu:
1. gedung opera,
2. museum,
3. stadion olahraga,
4. akuarium samudra dan kawasan budidaya terumbu karang.
Selain itu, proyek tersebut juga mencakup:
10 proyek hiburan dan pariwisata unggulan,
17.000 unit hunian,
marina dengan standar internasional,
resor-resor pantai,
berbagai hotel,
restoran dan kafe mewah lokal maupun internasional,
serta beragam pilihan pusat perbelanjaan.
Proyek Revitalisasi Jeddah Bersejarah
Proyek ini berfokus pada rehabilitasi dan pengembangan kawasan Jeddah Bersejarah. Proyek tersebut diluncurkan oleh Pangeran Muhammad bin Salman pada tahun 1443 H/2021 M, dengan tujuan menjadikan Jeddah Bersejarah sebagai pusat yang menarik proyek-proyek kebudayaan dan bisnis, destinasi utama bagi para pelaku usaha dari berbagai penjuru dunia, serta kawasan terpadu yang mendukung perekonomian dan berkontribusi terhadap pertumbuhan produk domestik bruto.
Pelaksanaan Proyek Revitalisasi Jeddah Bersejarah berlangsung melalui berbagai jalur, meliputi:
– pembangunan infrastruktur dan fasilitas pelayanan,
– penguatan aspek perkotaan,
– peningkatan kualitas hidup dan efisiensinya,
– serta pengembangan dan penataan lingkungan alam.
Proyek ini menjadi bagian utama dari Program Pengembangan Jeddah Bersejarah, yang bertujuan memanfaatkan unsur sejarah, budaya, arsitektur, dan ekonomi agar berkontribusi terhadap pertumbuhan produk domestik bruto sekaligus mewujudkan target Visi Saudi 2030.
Proyek ini juga mencakup upaya menonjolkan berbagai landmark Jeddah Bersejarah, di antaranya:
– 36 masjid bersejarah,
– lebih dari 600 bangunan warisan,
– lima pasar bersejarah utama,
– serta berbagai lapangan, lorong, dan situs yang memiliki nilai sejarah penting.
Pengembangan Kawasan Pesisir
Kawasan pesisir Jeddah membentang dari Bundaran Burung Camar di bagian utara Kota Jeddah hingga Jalan Jabir bin Al-Harits, dengan panjang sekitar 4.500 meter.
Luas keseluruhannya mencapai sekitar 730.000 m² dan mampu menampung hingga 120.000 pengunjung dalam waktu bersamaan.
Kawasan ini memiliki:
– ruang terbuka hijau seluas lebih dari 275.000 m²,
– pantai untuk berenang yang dapat menampung sekitar 10.000 orang,
– pemecah gelombang,
– dan lima menara pengawas.
Pemerintah Kota Jeddah terus mengembangkan kawasan pesisir tersebut. Pengerjaan tahap keempat dan kelima dimulai pada tahun 1439 H/2017 M, dengan biaya keseluruhan sekitar 800 juta riyal.
Di kawasan ini terdapat sejumlah fasilitas yang untuk pertama kalinya dibangun di Jeddah, seperti jalur pejalan kaki gantung. Kawasan tersebut juga telah dilengkapi dengan berbagai layanan yang diperlukan untuk menerima para pengunjung.
Kawasan pesisir Jeddah merupakan destinasi wisata dan rekreasi yang berada di sepanjang Corniche Jeddah. Burung camar, yang banyak ditemukan di pantai-pantai Jeddah, dijadikan sebagai simbol kawasan ini.
Di dalam kawasan pesisir juga terdapat Proyek Pulau Burung Camar di Corniche Utara Jeddah. Proyek ini memiliki:
– panjang sekitar 1.000 meter,
– lebar antara 30 hingga 70 meter,
– luas keseluruhan sekitar 52.240 m².
Kawasan ini mencakup:
– berbagai restoran dan kafe,
– marina atau pelabuhan kapal,
– bioskop,
– pantai khusus perempuan,
– klub kesehatan,
– serta jalur pejalan kaki selebar 25 meter dan sepanjang 1.000 meter.
Warisan Arsitektur Kota Jeddah
Kota Jeddah memiliki sejumlah peninggalan arsitektur yang menjadi ikon kota. Di antara yang paling terkenal adalah sebagai berikut.
Jeddah Bersejarah
Jeddah Bersejarah merupakan kawasan pusat yang memiliki nilai arkeologis, komersial, dan pariwisata.
Kawasan ini terdiri dari:
– sisa-sisa tembok lama Kota Jeddah,
– pintu-pintu gerbang,
– perkampungan,
– pasar,
– bangunan,
– landmark,
– lapangan,
– museum pribadi,
– dan masjid-masjid bersejarah.
Kawasan ini termasuk salah satu situs arkeologi Arab Saudi yang tercatat dalam daftar Warisan Dunia UNESCO.
Jeddah Bersejarah pada mulanya dikenal sebagai kawasan yang dihuni para nelayan setelah menyelesaikan perjalanan menangkap ikan di Laut Merah.
Seiring berjalannya waktu, kawasan ini berkembang menjadi sebuah permukiman manusia yang dihuni oleh kelompok-kelompok etnis yang beragam. Mereka melakukan kegiatan perdagangan, perikanan, pembangunan, serta berbagai kerajinan tangan.
Jeddah Bersejarah memiliki sekitar 400 bangunan. Bangunan tertuanya berasal dari abad ke-10 M, sedangkan yang terbaru berasal dari abad ke-20 M.
Sebagian besar bangunan tersebut dibangun dengan gaya arsitektur kawasan Laut Merah, yang menggunakan:
– lumpur laut,
– batu manqabi,
– kayu untuk pintu dan jendela,
– serta rawasyin, yaitu jendela kayu khas yang dicat dengan warna cokelat, hijau, dan biru.
Bentuk dan warna rawasyin pada masa lalu juga mencerminkan tingkat ekonomi pemilik rumah. Hingga saat ini, rawasyin tetap menjadi ciri khas rumah-rumah dan landmark Jeddah Bersejarah.
Jeddah Bersejarah dahulu dikelilingi sebuah tembok yang pertama kali dibangun pada abad ke-10 Hijriah.
Tembok tersebut memiliki delapan pintu gerbang, yaitu:
1. Bab Al-Madinah,
2. Bab Makkah,
3. Bab Syarif,
4. Bab Al-Magharibah,
5. Bab Jadid,
6. Bab An-Nafi‘ah,
7. Bab Sharif,
8. Bab Ash-Shabbah.
Di dalam tembok, Jeddah Bersejarah terbagi menjadi empat kawasan utama, yaitu:
1. Harat Asy-Syam,
2. Harat Al-Yaman,
3. Harat Al-Mazhlum,
4. Harat Al-Bahr.
Istana-Istana Bersejarah Jeddah
Kota Jeddah memiliki sejumlah bangunan yang berperan penting dalam perjalanan sejarah modern Arab Saudi.
Di antaranya adalah Bait Nassif, tempat Raja Abdulaziz bin Abdurrahman Al Saud tinggal pada tahun 1344 H/1925 M. Beliau menetap di tempat tersebut selama sekitar sepuluh tahun.
Selain itu, terdapat Istana Khuzam, salah satu istana kerajaan bersejarah yang diperintahkan pembangunannya oleh Raja Abdulaziz.
Istana ini dibangun sebagai:
– kediaman kerajaan,
– sekaligus pusat pengelolaan urusan masyarakat.
Istana Khuzam terletak di tengah Kota Jeddah dan termasuk salah satu bangunan pertama di Arab Saudi yang dibangun menggunakan semen dan besi.
Saat ini, istana tersebut menjadi salah satu landmark wisata terkenal di Kota Jeddah.
Masjid-Masjid Bersejarah Jeddah
Kota Jeddah memiliki sejumlah masjid bersejarah yang telah berdiri sejak lama dan mencerminkan karakter arsitektur Hijaz serta Islam.
Masjid Asy-Syafi‘i
Masjid Asy-Syafi‘i disebut dibangun pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.
Masjid ini memiliki ciri khas berupa:
– arsitektur Islam,
– halaman terbuka untuk sirkulasi udara,
– dan bentuk bangunan persegi.
Masjid tersebut telah mengalami beberapa kali renovasi pada berbagai masa.
Pelayan Dua Tanah Suci Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud memberikan perhatian khusus terhadap masjid ini. Ketika masih menjadi putra mahkota, beliau meninjau langsung tahapan pengembangannya pada tahun 1435 H/2014 M dalam kunjungannya ke Jeddah Bersejarah.
Masjid ini kembali dibuka pada bulan Syakban 1436 H/Juni 2015 M setelah selesainya renovasi terakhir.
Masjid Al-Mi‘mar
Masjid Al-Mi‘mar termasuk salah satu masjid bersejarah tertua di Kota Jeddah.
Masjid ini disebut telah dibangun sekitar 340 tahun lalu, yaitu pada tahun 1263 H/1847 M, lalu diperbarui dan diperbaiki pada tahun 1284 H/1867 M.
Kawasan Jeddah Bersejarah juga memiliki sejumlah masjid tua dan bersejarah lainnya, seperti:
– Masjid Utsman bin Affan, yang dibangun antara abad ke-9 dan ke-10 Hijriah. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Al-Abnus karena terdapat dua tiang yang terbuat dari kayu eboni.
– Masjid Al-Basya.
– Masjid ‘Ukasy, yang dibangun pada tahun 1200 H/1786 M.
– Masjid Al-Hanafi, yang dibangun pada tahun 1320 H/1902 M.
Pariwisata di Kota Jeddah
Jeddah merupakan pusat kebudayaan sekaligus destinasi wisata.
Di dalamnya terdapat kawasan bersejarah yang mempertahankan:
– bangunan-bangunan lama,
– landmark bersejarah,
– dan perkampungan yang memiliki corak kehidupan tradisional dengan karakter sosial dan ekonomi yang khas.
Sebagian besar taman rekreasi di Jeddah terhubung dengan kawasan pesisir.
Jeddah dikenal di seluruh Arab Saudi sebagai pusat pengembangan pesisir dan aktivitas laut. Kota ini memiliki lima kawasan pesisir yang menjadi tempat paling banyak dikunjungi.
Musim Jeddah
Sejak tahun 1440 H/2019 M, Kota Jeddah menyelenggarakan Musim Jeddah, yang diluncurkan sebagai bagian dari program Musim Saudi.
Festival ini mencakup berbagai kegiatan:
– seni,
– musik,
– budaya,
– hiburan,
– dan olahraga.
Kegiatan tersebut diselenggarakan di berbagai kawasan, baik kawasan yang telah ada di dalam kota maupun kawasan baru yang dibangun khusus untuk festival.
Pada penyelenggaraan pertama Musim Jeddah tahun 2019, yang berlangsung dari 8 Juni hingga 29 Juli, kegiatan dipusatkan di lima kawasan dalam kota, yaitu:
1. Jeddah Bersejarah atau Al-Balad,
2. Corniche Al-Hamra,
3. kawasan pesisir,
4. Kota Olahraga Raja Abdullah,
5. Abhur.
Selain itu, kegiatan juga diselenggarakan di kawasan sekitar Jeddah dan di Kota Ekonomi Raja Abdullah.
Pada penyelenggaraan kedua yang dimulai pada Syawal 1443 H/Mei 2022 M, kegiatan tetap dilaksanakan di lima kawasan tersebut, ditambah sembilan kawasan baru yang dibangun khusus untuk festival.
Di antaranya adalah kawasan City Walk, yang merupakan kawasan terbesar Musim Jeddah dengan luas sekitar 282.000 m².
City Walk memiliki sembilan kawasan pendukung, seperti:
– Desa Anime,
– Desa Petualangan,
– Desa Mode,
– kawasan barbeku,
– serta kawasan studio Arab dan internasional.
Kawasan Musim Jeddah 2022 juga meliputi:
– Jeddah Art Promenade,
– Taman Pangeran Majid,
– taman hiburan bergerak bernama Jeddah Pier yang memiliki 39 wahana,
– Color Garden,
– Adrenaland,
– serta Jeddah Jungle.
Jeddah Jungle memiliki kebun binatang yang berisi lebih dari 1.000 hewan. Para pengunjung dapat melihat hewan-hewan tersebut dari dekat, menikmati petualangan safari, serta berjalan di jalur hutan.
Kawasan baru lainnya adalah Jeddah Yacht Club, yang menawarkan berbagai pengalaman rekreasi, seperti:
– menyelam,
– memancing,
– parasailing,
– dan kendaraan amfibi.
Berbagai konser musik dan festival juga diselenggarakan di Jeddah Superdome, yang disebut sebagai kubah tanpa tiang terbesar di dunia.
Musim Jeddah 2022 mencatat rekor jumlah pengunjung sekitar 6 juta orang dari dalam dan luar negeri.
Jumlah wisatawan dari luar wilayah mencapai lebih dari satu juta orang yang berasal dari 129 negara.
Festival ini juga membuka berbagai peluang dan kemitraan bagi sektor swasta serta menciptakan sekitar 76.000 lapangan pekerjaan langsung dan tidak langsung.
Lebih dari 80% tenaga kerja pada festival tersebut merupakan warga negara Saudi.
Festival Jeddah Bersejarah
Kawasan Jeddah Bersejarah menjadi lokasi penting untuk penyelenggaraan:
– festival,
– perayaan,
– kegiatan budaya dan hiburan tahunan,
– serta penerimaan rombongan wisata.
Kawasan ini setiap tahun menyelenggarakan Festival Jeddah Bersejarah, yang merupakan festival pertama yang diselenggarakan di Kota Jeddah.
Festival ini memadukan unsur warisan budaya dan kebudayaan dengan jumlah pengunjung lebih dari setengah juta orang.
Penyelenggaraan pertamanya dimulai pada 15 Rabiulawal 1435 H/16 Januari 2014 M.
Festival tersebut bertujuan untuk:
– memperkuat kedudukan Arab Saudi sebagai sumber kebudayaan, sastra, dan sejarah Arab serta Islam,
– mengenalkan generasi baru kepada sejarah kawasan ini,
– memperkenalkan adat, tradisi, dan warisan masyarakatnya,
– menceritakan kisah masa lalu dan menghubungkannya dengan masa kini,
– serta memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengenal kisah-kisah dari abad yang lalu.
Warisan kawasan Jeddah Bersejarah diperkirakan telah berlangsung lebih dari 3.000 tahun.
Landmark Wisata Jeddah
Jeddah memiliki sejumlah fasilitas dan tempat pertunjukan seni serta kawasan rekreasi.
Di antaranya terdapat lima kawasan pesisir utama, yaitu:
1. Roshn Waterfront,
2. Corniche Utara,
3. Corniche Tengah,
4. Taman Dhahban,
5. Pantai As-Saif.
Kawasan-kawasan tersebut termasuk lokasi yang paling banyak dikunjungi di kota. Sebagian di antaranya juga digunakan untuk menyelenggarakan konser musik.
Jeddah juga memiliki sejumlah landmark ikonik, di antaranya:
Menara Pengawas Pelabuhan Islam Jeddah
Menara ini berada di pesisir Laut Merah dan dirancang dengan gaya arsitektur berteknologi tinggi.
Menara tersebut dilengkapi dengan sistem manajemen lalu lintas kapal VTMIS.
Air Mancur Raja Fahd
Air Mancur Raja Fahd berada di pesisir Laut Merah dan dikenal sebagai air mancur tertinggi di dunia dalam jenisnya.
Menara Khuzam
Menara Khuzam merupakan landmark bersejarah yang pernah menjadi bagian dari jaringan distribusi air kota selama sekitar empat dekade.
Tiang Bendera Saudi
Tiang bendera Saudi di Jeddah disebut sebagai salah satu tiang bendera tertinggi di dunia, dengan tinggi sekitar 171 meter.
Kehidupan Budaya Kota Jeddah
Jeddah memiliki berbagai landmark budaya yang menjadikannya sebagai salah satu ikon kebudayaan penting.
Hal tersebut terlihat dari:
– pola arsitekturnya yang mencerminkan warisan dan peradaban,
– perannya dalam mendukung pertumbuhan aktivitas kebudayaan,
– keberadaan klub sastra pertama di Arab Saudi,
– serta penyelenggaraan pameran buku internasional terbesar kedua di Arab Saudi setiap tahun.
Klub Sastra dan Budaya Jeddah
Klub Sastra dan Budaya Jeddah didirikan pada tahun 1395 H/1975 M.
Klub ini merupakan klub sastra pertama di Arab Saudi dan didirikan sebagai tempat bagi para pemikir serta forum pertemuan sastrawan di Jeddah.
Dalam perjalanannya, klub ini telah menghasilkan sejumlah kegiatan penting, seperti:
– Forum Kelompok Dialog yang membahas persoalan sastra dan pemikiran, seperti wacana pencerahan kritis dan kreatif serta narasi lokal.
– Forum Pembacaan Teks yang membahas berbagai isu dan perkembangan terbaru dalam dunia sastra.
Klub ini juga berperan dalam penerbitan puluhan buku dalam bidang:
– puisi,
– cerpen,
– novel,
– serta berbagai jurnal dan terbitan berkala.
Pameran Buku Internasional Jeddah
Pameran Buku Internasional Jeddah termasuk pameran yang relatif baru jika dibandingkan dengan sejarah pameran buku internasional di dunia Arab dan negara-negara Teluk.
Pameran ini merupakan pameran buku internasional kedua yang diselenggarakan di Arab Saudi setelah Pameran Buku Internasional Riyadh.
Penyelenggaraan pertamanya dimulai pada tahun 1437 H/2015 M.
Jumlah pengunjungnya mencapai sekitar setengah juta orang.
Biasanya pameran ini disertai sekitar 100 kegiatan, di antaranya:
– lomba penerjemahan kreatif yang memberikan penghargaan Penerjemah Kreatif kepada para penerjemah Saudi,
– kafe budaya yang menyelenggarakan dialog dan pertemuan dengan para penulis, sastrawan, dan kritikus Arab,
– bagian khusus pameran seni,
– paviliun khusus penulis Saudi,
– paviliun anak,
– sekitar 60 lokakarya,
– serta panggung penandatanganan buku yang diikuti sekitar 200 penulis laki-laki dan perempuan.
Museum-Museum di Kota Jeddah
Jeddah memiliki sejumlah museum yang menceritakan sejarah kota dan melestarikan warisannya.
Museum Jeddah di Istana Khuzam
Museum ini berada di istana Raja Abdulaziz bin Abdurrahman Al Saud yang dikenal sebagai Istana Khuzam.
Museum tersebut menggambarkan perkembangan peradaban dan sejarah Arab Saudi.
Museum Ath-Thayyibat
Museum Ath-Thayyibat memiliki berbagai koleksi benda bersejarah yang dipamerkan di beberapa lantai.
Koleksinya ditempatkan di dalam kompleks yang memiliki banyak ruangan dan mencerminkan gaya arsitektur kota tua.
Museum Terbuka
Jeddah juga memiliki museum terbuka yang menyimpan salah satu koleksi patung dan karya seni terbesar di dunia.
Museum ini menampilkan sekitar 20 karya seni dari seniman-seniman besar dunia, di antaranya:
– seniman Inggris Henry Moore,
– seniman Prancis Victor Vasarely,
– dan César Baldaccini.
Pada tahun 2023, diselenggarakan Biennale Seni Islam dengan tema “Rumah Pertama” di area Terminal Haji yang terkenal di Bandara Internasional Raja Abdulaziz Jeddah.
Biennale tersebut menggambarkan hubungan erat antara seni dan keimanan.
Tema utamanya berpusat pada dua hal, yaitu:
– kiblat,
– dan hijrah.
Kegiatan ini bertujuan menghidupkan berbagai bentuk kehidupan budaya, intelektual, dan seni yang terus mengambil inspirasi dari rumah pertama yang dibangun untuk manusia, yaitu Ka‘bah.
Olahraga di Kota Jeddah
Jeddah memiliki sejumlah stadion dan fasilitas untuk berbagai cabang olahraga.
Stadion Internasional Raja Abdullah merupakan salah satu fasilitas olahraga paling terkenal di kota.
Jeddah juga menjadi tuan rumah balapan Formula 1 di Sirkuit Jeddah, yang dikenal sebagai salah satu sirkuit tercepat dan memiliki jumlah tikungan terbanyak di dunia.
Selain itu, Jeddah menjadi markas dua klub olahraga tertua dan paling populer di Arab Saudi, yaitu:
– Klub Al-Ahli,
– dan Klub Al-Ittihad.
Fasilitas Olahraga di Kota Jeddah
Kota Jeddah memiliki banyak fasilitas olahraga.
Kota Olahraga Raja Abdullah termasuk salah satu dari 50 kompleks olahraga terbesar di dunia.
Kompleks ini dirancang sesuai standar FIFA dan mampu menampung sekitar 60.000 penonton.
Di dalamnya terdapat Stadion Internasional Raja Abdullah, yang juga dikenal sebagai Al-Jawharah Al-Musy‘ah atau Permata Bersinar.
Stadion tersebut disebut sebagai salah satu dari 50 stadion olahraga terbesar di dunia dan salah satu stadion terbesar di dunia Arab.
Pada tahun 1440 H/2019 M, stadion ini untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah pertandingan Piala Super Italia yang dihadiri lebih dari 61.000 penonton.
Stadion ini juga menjadi lokasi penyelenggaraan Piala Super Spanyol pada tahun 1441 H/2020 M.
Jeddah juga memiliki Stadion Pangeran Abdullah Al-Faisal yang didirikan pada dekade 1970-an.
Stadion ini menjadi tuan rumah berbagai pertandingan lokal dan internasional.
Luas keseluruhannya mencapai sekitar 84.000 m², dengan kapasitas sekitar 23.000 kursi.
Di Kota Ekonomi Raja Abdullah terdapat Royal Greens Golf Club, salah satu klub golf di Arab Saudi.
Klub ini memiliki akademi pengajaran golf dan area latihan serta menjadi tuan rumah Kejuaraan Golf Profesional Internasional Saudi.
Balapan Formula 1 di Kota Jeddah
Grand Prix Formula 1 Arab Saudi merupakan salah satu perlombaan terkenal yang diselenggarakan di Kota Jeddah sejak pertama kali dimulai pada tahun 2021.
Perlombaan ini dilaksanakan di sirkuit yang disebut sebagai salah satu sirkuit tercepat dan memiliki jumlah tikungan terbanyak di dunia.
Sirkuit tersebut memiliki total 27 tikungan, terdiri dari:
– 16 tikungan ke kiri,
– 11 tikungan ke kanan.
Para pembalap dapat mencapai kecepatan sekitar 250 km per jam.
Sirkuit tersebut dirancang melalui kerja sama antara desainer Jerman Hermann Tilke dan tim olahraga otomotif.
Dengan panjang sekitar 6,174 km, sirkuit ini termasuk salah satu sirkuit jalan raya terpanjang di dunia.
Klub-Klub yang Bermarkas di Jeddah
Kota Jeddah menjadi markas dua klub olahraga yang termasuk tertua dan paling populer di Arab Saudi, yaitu:
– Klub Al-Ittihad Saudi,
– Klub Al-Ahli Saudi.
Kedua klub tersebut termasuk dalam 18 klub yang berkompetisi di Liga Roshn Saudi.
Lembaga-Lembaga yang Berkantor Pusat di Jeddah
Jeddah merupakan pusat politik, keagamaan, dan ekonomi.
Di kota ini terdapat kantor pusat sejumlah organisasi dan lembaga, di antaranya:
– Organisasi Kerja Sama Islam,
– Bank Pembangunan Islam,
– Akademi Fikih Islam Internasional,
– Forum Ekonomi Jeddah,
– Persatuan Kantor Berita Negara-Negara Organisasi Kerja Sama Islam,
– Badan Survei Geologi Saudi,
– kantor pusat Saudi Arabian Airlines,
– kantor pusat Saudi National Bank,
– Pangkalan Udara Raja Abdullah,
– Kota Olahraga Raja Abdullah,
– dan Kota Ekonomi Raja Abdullah.
Sumber
– Badan Survei Geologi Saudi.
– Otoritas Umum Statistik.
– Kementerian Urusan Kota dan Perumahan.
– Kementerian Transportasi dan Layanan Logistik.



