Tatsqif

Kisah Addas

Kisah Addas

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Amma ba‘du:
‘Addas, budak milik Syaibah bin Rabi‘ah, tidak terdapat satu pun dalil shahih yang menunjukkan bahwa ia benar-benar masuk Islam. Memang namanya disebutkan dalam sebagian kitab yang menghimpun nama-nama sahabat, namun hal itu tidak berarti bahwa status sahabatnya telah pasti. Sebab metode para penyusun kitab tersebut adalah memasukkan setiap orang yang terdapat riwayat yang mengisyaratkan persahabatannya dengan Nabi ﷺ, tanpa memilah terlebih dahulu apakah riwayat tersebut shahih atau dha‘if.
Di antara penjelasan tentang hal ini adalah ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam mukadimah kitabnya Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah:

” وقد كثر سؤال جماعة من الإخوان في تبييضه، فاستخرت اللَّه تعالى في ذلك، ورتبته على أربعة أقسام في كل حرف منه:

فالقسم الأول: فيمن وردت صحبته بطريق الرواية عنه، أو عن غيره، سواء كانت الطريق صحيحة، أو حسنة، أو ضعيفة، أو وقع ذكره بما يدل على الصحبة بأي طريق كان” انتهى من “الإصابة في تمييز الصحابة” (1/155).
“Banyak saudara meminta agar aku menyempurnakan kitab ini, maka aku pun beristikharah kepada Allah Ta’ala dan menyusunnya menjadi empat bagian pada setiap huruf.
Bagian pertama berisi orang-orang yang terdapat riwayat tentang persahabatannya, baik melalui riwayat dari dirinya maupun dari selainnya, baik sanadnya shahih, hasan, dha‘if, atau sekadar disebutkan dengan sesuatu yang menunjukkan persahabatan melalui jalur apa pun.”
Kemudian Ibnu Hajar menyebutkan nama ‘Addas pada bagian pertama huruf ‘ain, lalu membawakan beberapa riwayat tentang pertemuannya dengan Nabi ﷺ. Sebagian riwayat tersebut secara tegas menyebutkan keislamannya, di antaranya:
” عدّاس، مولى شيبة بن ربيعة:

كان نصرانيا من أهل نينوى: قرية قرى الموصل، ولقي النبيّ صلى اللَّه عليه وسلّم بالطائف، في قصّة ذكرها ابن إسحاق في “السيرة”، وفيها أنّ شيبة وعتبة كانا بالطائف، فشاهدا ما ردّ أهل الطائف على النبيّ صلى اللَّه عليه وسلّم لما دعاهم إلى الإسلام، فقالا لعدّاس: خذ هذا القِطْف [من] العنب، فضعه بين يدي ذلك الرجل، ففعل، فلما وضع يده فيه قال: ( باسم اللَّه )، فتعجّب عدّاس، وقال له: هذا الكلام ما يقوله أحد من أهل هذه البلاد! فذكر له أنه رسول اللَّه، فعرف صفته، فانكب عليه يقبّله. فلما رجع عداس قالا له: ويحك يا عداس، لا يصرفك عن دينك.

وذكر سليمان التّيميّ في “السيرة” له أنه قال للنبيّ صلى اللَّه عليه وسلّم: أشهد أنك عبد اللَّه ورسوله … ” انتهى من “الإصابة في تمييز الصحابة” (4/117).
“‘Addas, budak milik Syaibah bin Rabi‘ah, adalah seorang Nasrani dari penduduk Ninawa, salah satu desa di Mosul. Ia bertemu Nabi ﷺ di Thaif dalam kisah yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq dalam Sirahnya.
Ketika itu Syaibah dan Utbah menyaksikan bagaimana penduduk Thaif menolak dakwah Nabi ﷺ, maka keduanya berkata kepada ‘Addas:
‘Ambillah setangkai anggur ini dan letakkan di hadapan orang itu.’
Ketika Nabi ﷺ hendak memakannya, beliau mengucapkan:
«بِسْمِ اللَّهِ»
‘Dengan nama Allah.’
Maka ‘Addas merasa heran dan berkata:
‘Ucapan ini tidak pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini.’
Nabi ﷺ kemudian menjelaskan bahwa beliau adalah utusan Allah, lalu ‘Addas mengenali ciri-ciri beliau dan segera mendekat untuk mencium beliau.
Ketika ‘Addas kembali, keduanya berkata:
‘Celaka engkau wahai ‘Addas, jangan sampai dia memalingkanmu dari agamamu.'”
Disebutkan pula oleh Sulaiman At-Taimi dalam kitab Sirahnya bahwa ‘Addas berkata kepada Nabi ﷺ:
أَشْهَدُ أَنَّكَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
“Aku bersaksi bahwa engkau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Namun asal kisah ‘Addas ini sendiri tidak memiliki sanad shahih yang bersambung, melainkan termasuk riwayat mursal (terputus sanadnya).
Dr. Akram Dhiya Al-Umari menjelaskan dalam kitab As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah:
“وأما دعاؤه على ثقيف بقوله (اللهم إليك أشكو ضعف قوتي … إلخ)، ولقاؤه بعداس: فلم يثبت من طريق صحيحة ” انتهى.
“Adapun doa Nabi terhadap Tsaqif:
«اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي …»
‘Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku…’
serta pertemuan beliau dengan ‘Addas, maka keduanya tidak terbukti melalui jalur yang shahih.”
Beliau juga menjelaskan dalam catatan kaki:
“Riwayat Ibnu Ishaq sanadnya sampai kepada Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi dengan sanad yang shahih, namun riwayat tersebut mursal, sedangkan hadits mursal termasuk jenis hadits dha‘if yang tidak dapat dijadikan hujjah kecuali dengan adanya penguat-penguat tertentu.”
Beliau juga menerangkan bahwa seluruh jalur kisah ‘Addas kembali kepada satu sumber yang sama, yaitu melalui jalur Az-Zuhri, sehingga riwayat-riwayat mursal tersebut tidak saling menguatkan.

Meskipun kisah ‘Addas ini berstatus mursal dan tidak diriwayatkan dengan sanad yang bersambung, keadaan dan kabarnya setelah itu menjadi tidak diketahui dalam rangkaian peristiwa sirah Nabi ﷺ. Tidak ditemukan lagi penyebutan tentang dirinya, kecuali dalam sebuah riwayat yang dibawakan oleh Al-Waqidi dalam kitab Al-Maghazi (1/34). Ia berkata:

> “Muhammad bin Abdullah menceritakan kepadaku, dari Az-Zuhri, dari Abu Bakar bin Sulaiman bin Abi Hatsmah, ia berkata: Aku mendengar Hakim bin Hizam berkata:

> ‘Tidak pernah aku menuju suatu perjalanan yang lebih aku benci daripada perjalananku menuju Badar, dan tidak pernah tampak kepadaku tanda-tanda yang membuatku gelisah sebagaimana yang tampak sebelum aku berangkat.’

Hakim melanjutkan:

> ‘Ketika kami sampai di Ats-Tsaniyyah Al-Baidha’ — yaitu jalan menurun menuju daerah Fakh bagi orang yang datang dari Madinah — tiba-tiba kami melihat ‘Addas sedang duduk di sana sementara orang-orang berlalu-lalang di hadapannya.

> Ketika dua putra Rabi’ah, yaitu Utbah dan Syaibah, melewatinya, tiba-tiba ‘Addas bangkit menuju keduanya, lalu memegang kaki mereka yang berada di sanggurdi tunggangan mereka sambil berkata:

> بِأَبِي وَأُمِّي أَنْتُمَا، وَاللَّهِ إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ، وَمَا تُسَاقَانِ إِلَّا إِلَى مَصَارِعِكُمَا

> “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusan bagi kalian berdua, demi Allah, sesungguhnya Muhammad benar-benar Rasul Allah, dan kalian tidak sedang digiring kecuali menuju tempat kematian kalian!”

> Kedua matanya mengalirkan air mata hingga membasahi kedua pipinya.

> Aku pun hampir memutuskan untuk kembali pulang, namun akhirnya aku tetap melanjutkan perjalanan.

> Kemudian lewatlah Al-‘Ash bin Munabbih bin Al-Hajjaj. Setelah Utbah dan Syaibah berlalu, ia berhenti di hadapan ‘Addas dan bertanya:

> مَا يُبْكِيكَ؟
“Apa yang membuatmu menangis?”

> ‘Addas menjawab:

> يُبْكِينِي سَيِّدَايَ وَسَيِّدَا أَهْلِ الْوَادِي، يَخْرُجَانِ إِلَى مَصَارِعِهِمَا، وَيُقَاتِلَانِ رَسُولَ اللَّهِ

> “Yang membuatku menangis adalah kedua tuanku dan pemimpin penduduk lembah ini sedang pergi menuju kematian mereka, dan mereka akan memerangi Rasulullah.”

> Maka Al-‘Ash bertanya:

> وَإِنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ؟

“Apakah benar Muhammad itu Rasul Allah?”

> Maka ‘Addas gemetar dengan sangat, bulu kuduknya berdiri, lalu ia menangis dan berkata:

> إِي وَاللَّهِ، إِنَّهُ لَرَسُولُ اللَّهِ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً

> “Ya, demi Allah, sesungguhnya beliau benar-benar Rasul Allah untuk seluruh manusia.”

> Hakim berkata:

> “Maka Al-‘Ash bin Munabbih pun masuk Islam, kemudian ia tetap melanjutkan perjalanan dalam keadaan ragu dan bimbang hingga akhirnya terbunuh bersama kaum musyrikin dalam keadaan masih dipenuhi keraguan dan kebimbangan.”

Kemudian disebutkan pula:

> وَيُقَالُ: رَجَعَ عَدَّاسٌ وَلَمْ يَشْهَدْ بَدْرًا، وَيُقَالُ: شَهِدَ بَدْرًا وَقُتِلَ يَوْمَئِذٍ، وَالْقَوْلُ الْأَوَّلُ أَثْبَتُ عِنْدَنَا

> “Ada yang mengatakan bahwa ‘Addas kembali pulang dan tidak ikut menghadiri Perang Badar. Ada pula yang mengatakan bahwa ia ikut hadir di Badar dan terbunuh pada hari itu. Namun menurut kami pendapat pertama lebih kuat.”

Selesai kutipan.

Namun, riwayat ini hanya diriwayatkan oleh Al-Waqidi seorang diri, dan ia adalah seorang perawi yang ditinggalkan riwayatnya (matruk) oleh para ulama hadits. Meskipun ia dikenal sebagai imam dalam bidang sejarah dan sirah, akan tetapi riwayatnya tidak dapat dijadikan hujjah atau sandaran dalam penetapan hukum maupun fakta sejarah yang memerlukan pembuktian yang kuat.

Sebagaimana dikatakan oleh para ahli hadits:

> الواقدي متروك الحديث

“Al-Waqidi adalah perawi yang ditinggalkan haditsnya.”

Oleh karena itu, berita ini tidak cukup kuat untuk dijadikan bukti pasti mengenai keislaman ‘Addas atau keterlibatannya dalam peristiwa Perang Badar.”

Al-Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:
” جمع فأوعى وخلط الغث بالسمين ، والخرز بالدر الثمين، فاطرحوه لذلك ، ومع هذا فلا يستغنى عنه في المغازي ، وأيام الصحابة وأخبارهم…

وقد تقرر أن الواقدي ضعيف، يُحتاج إليه في الغزوات ، والتاريخ ، ونورد آثاره من غير احتجاج…

لا عبرة بتوثيق من وثقه، إذ قد انعقد الإجماع اليوم على أنه ليس بحجة، وأن حديثه في عداد الواهي رحمه الله” انتهى من “سير اعلام النبلاء” (9/454 – 469).
> “Ia (Al-Waqidi) telah mengumpulkan banyak riwayat dan menghimpunnya, namun ia mencampurkan antara riwayat yang buruk dengan yang baik, antara manik-manik biasa dengan mutiara yang berharga. Oleh karena itu para ulama meninggalkan riwayatnya.

Meskipun demikian, keberadaannya tetap dibutuhkan dalam pembahasan peperangan (maghazi), hari-hari perjuangan para sahabat, dan berita-berita sejarah mereka.

Telah menjadi ketetapan di kalangan para ulama bahwa Al-Waqidi adalah perawi yang lemah. Meski demikian, riwayat-riwayatnya masih digunakan dalam pembahasan peperangan dan sejarah, dan kami menyebutkan atsar-atsarnya tanpa menjadikannya sebagai hujjah atau sandaran.

Tidak ada nilai bagi penilaian tsiqah dari orang yang menilainya tsiqah, karena pada masa sekarang telah terbentuk ijma’ (kesepakatan para ulama) bahwa ia bukanlah hujjah, dan bahwa hadits-haditsnya termasuk dalam kategori riwayat yang sangat lemah (wāhin).”

Selesai dari Siyar A’lam an-Nubala’ (9/454–469).

Penjelasan istilah:

الغث بالسمين (al-ghatsts bis-samīn) : mencampurkan sesuatu yang buruk dan tidak bernilai dengan sesuatu yang baik dan berharga.

الخرز بالدر الثمين : mencampurkan manik-manik biasa dengan mutiara yang mahal.

ليس بحجة : tidak dapat dijadikan hujjah atau sandaran dalam penetapan hukum maupun fakta sejarah yang membutuhkan pembuktian kuat.

الواهي : sangat lemah.

Kesimpulan

“Kesimpulannya, kisah masuk Islamnya ‘Addas tidak diriwayatkan melalui sanad yang shahih.”

Dengan demikian, para ulama ahli hadits tidak menetapkan secara pasti bahwa ‘Addas masuk Islam atau termasuk sahabat Nabi ﷺ, karena seluruh riwayat yang menyebutkan keislamannya berkisar antara riwayat mursal, terputus sanadnya, atau berasal dari jalur Al-Waqidi yang sangat lemah.

Wallahu a’lam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button