Tatsqif

Menata Ulang Konsep Doa: Peran Zikir dan Iftiqar dalam Mewujudkan Istijabah

Menata Ulang Konsep Doa:

Peran Zikir dan Iftiqar dalam Mewujudkan Istijabah

Oleh : Rido Zayn, S.H

Mahasiswa Hadis, Universitas Islam Madinah

Penjelasan Istilah

Iftiqar: menyadari dan mengakui kelemahan, kefakiran, dan kebutuhan mutlak kepada Allah Swt.

Istijabah: terkabulnya doa.

Mukadimah: pembuka atau pendahuluan; dalam doa berupa pujian kepada Allah Swt dan selawat sebelum permintaan.

Munajat: percakapan intim hamba dengan Rabb-nya dalam doa.

Wajh al-dalalah: aspek yang menunjukkan makna atau kandungan hukum dari sebuah dalil.

Dzun Nūn: gelar Nabi Yunus; berarti “pemilik ikan”. “Doa Dzun Nūn” merujuk pada doanya: Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.

Pendahuluan

Dalam literatur spiritual dan fikih Islam, zikir dan doa sering dipahami sebagai dua bentuk ibadah yang berbeda. Zikir biasanya diposisikan sebagai pujian dan pengagungan kepada Allah Swt melalui penyebutan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, sedangkan doa dipahami sebagai permohonan hamba untuk memenuhi kebutuhan dan hajatnya. Pemisahan ini sering membuat seseorang lebih menekankan isi permintaan ketika berdoa, sementara unsur pujian justru diletakkan di pinggir.

Padahal, jika teks-teks kenabian dibaca secara lebih cermat, tampak bahwa hubungan antara zikir dan doa tidak bersifat terpisah. Dalam tradisi Nabi, zikir justru hadir sebagai mukadimah doa, yaitu pembuka yang mempersiapkan adab seorang hamba sebelum menyampaikan permohonannya. Karena itu, doa tidak semata-mata dinilai dari banyaknya permintaan, tetapi dari bagaimana seorang hamba menempatkan dirinya di hadapan Allah Swt.

Artikel ini berangkat dari gagasan bahwa doa yang paling ideal dalam tradisi Islam adalah doa yang diawali dengan pujian kepada Allah Swt dan disertai pengakuan atas kelemahan diri. Dengan kata lain, integrasi antara zikir dan iftiqar membentuk struktur etis doa yang lebih sempurna, lebih mencerminkan adab penghambaan, dan lebih dekat kepada istijabah.

Zikir sebagai Mukadimah Doa

Secara ontologis, zikir menempati kedudukan yang sangat mulia karena ia berorientasi langsung kepada pengagungan Allah Swt, sedangkan doa pada umumnya berhubungan dengan kebutuhan makhluk. Atas dasar itu, menyampaikan permohonan tanpa didahului pujian dapat dipandang sebagai kekurangan dalam adab spiritual. Prinsip ini tampak jelas dalam hadis Fudhalah bin ‘Ubayd radhiyallallah ‘Anhu.

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سمع رجلاً يدعو في صلاته لم يحمد الله تعالى ولم يصل على النبي صلى الله عليه وسلم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم عجل هذا ثم دعاه فقال له أو لغيره: إذا صلى أحدكم فليبدأ بتمجيد ربه عز وجل والثناء عليه، ثم يصلي على النبي صلى الله عليه وسلم، ثم يدعو بعد بما بشاء» رواه الإمام أحمد والترمذي وقال: حديث حسن صحيح.

Rasulullah ﷺ mendengar seseorang berdoa dalam salatnya tanpa memuji Allah Swt dan tanpa berselawat kepada Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda, “Orang ini tergesa-gesa.” Kemudian beliau mengajarkan, “Jika salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah ia memulai dengan memuji Allah Swt dan menyanjung-Nya, lalu berselawat kepada Nabi, kemudian barulah ia berdoa dengan apa yang ia kehendaki.”

Wajh al-dalalah dari hadis ini tidak berhenti pada anjuran teknis dalam berdoa. Hadis tersebut menunjukkan adanya struktur normatif doa: pujian kepada Allah Swt didahulukan, selawat menyusul setelahnya, lalu permohonan diajukan. Teguran Nabi dengan ungkapan “orang ini tergesa-gesa” memperlihatkan bahwa mengabaikan pujian bukan sekadar meninggalkan keutamaan, tetapi menunjukkan kekurangan adab dalam bermunajat kepada Allah Swt. Dengan demikian, zikir berfungsi sebagai mukadimah doa, bukan unsur tambahan yang boleh diabaikan.

Sinergi Zikir dan Iftiqar

Keindahan doa tidak hanya terletak pada pujian kepada Allah Swt, tetapi juga pada kesadaran seorang hamba akan kelemahan dirinya. Karena itu, doa yang paling kuat bukan hanya yang berisi pengagungan terhadap kesempurnaan Allah Swt, melainkan juga yang dibangun di atas pengakuan akan kefakiran, dosa, dan ketidakberdayaan manusia. Di sinilah letak pentingnya iftiqar dalam adab berdoa.

Jika pujian menampilkan kesempurnaan Allah Swt, maka iftiqar menampilkan kehinaan dan kebutuhan hamba. Pertemuan antara keduanya melahirkan bentuk penghambaan yang utuh: Allah Swt diposisikan sebagai Dzat Yang Mahakaya, Mahakuasa, dan Maha Pemurah, sedangkan manusia memosisikan dirinya sebagai makhluk yang lemah dan sangat membutuhkan. Struktur seperti ini menjadikan doa bukan sekadar permintaan, tetapi pernyataan kehambaan yang paling jujur.

Dalam kehidupan sosial, seseorang yang meminta bantuan kepada orang dermawan biasanya tidak langsung menuntut kebutuhannya. Ia lebih dahulu menunjukkan penghormatan, lalu menjelaskan keadaannya yang sulit. Analogi ini membantu menjelaskan bahwa dalam relasi seorang hamba dengan rabb-nya, adab mendahului permintaan. Namun, dalam konteks ibadah, hal itu tentu lebih agung dan lebih mendalam, sebab yang dipuji adalah Allah Swt dan yang mengaku lemah adalah hamba di hadapan Rabb-nya.

Pola Doa Para Nabi

Konsep zikir dan iftiqar bukan hanya teori normatif, tetapi tercermin secara nyata dalam doa-doa para nabi yang direkam dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Salah satu contoh paling penting adalah doa Nabi Yunus ‘alaihissalam ketika berada dalam perut ikan:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)

Doa ini menarik karena tidak memuat permintaan secara eksplisit, tetapi justru terdiri atas tiga unsur pokok: tauhid, pujian, dan pengakuan dosa. Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa doa Dzun Nun ini, apabila dipanjatkan oleh seorang muslim dalam suatu urusan, maka Allah Swt akan mengabulkannya. Di sinilah letak kekuatan teologisnya: inti doa tidak selalu terletak pada permintaan verbal, tetapi pada kualitas penghambaan yang tercermin dalam zikir dan iftiqar.

Pola yang sama tampak dalam doa Nabi Musa ‘alaihissalam:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash: 24)

Di sini Nabi Musa tidak memulai dengan rincian kebutuhan, tetapi dengan pengakuan bahwa dirinya faqir terhadap karunia Allah Swt. Penekanan pada keadaan diri sebelum menyebut kebutuhan menunjukkan bahwa iftiqar merupakan inti penting dalam doa seorang hamba.

Lebih sempurna lagi, pola tersebut tampak dalam doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Abu Bakar radhiyallahu anhu:

«اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ»

“Ya Allah Swt, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Bukhari)

Doa ini memperlihatkan struktur yang sangat jelas. Ia diawali dengan iftiqar: pengakuan atas kezaliman diri. Setelah itu datang pengakuan terhadap sifat Allah Swt sebagai satu-satunya Dzat yang mengampuni dosa. Barulah pada bagian berikutnya permohonan inti diajukan. Susunan ini menegaskan bahwa adab doa yang ideal dalam Sunnah dibangun di atas dua fondasi: pengagungan kepada Allah Swt dan perendahan diri seorang hamba.

Penutup

Berdasarkan dalil-dalil tersebut, dapat dipahami bahwa doa yang paripurna bukanlah doa yang paling banyak permintaannya, tetapi doa yang paling benar adabnya. Dalam tradisi kenabian, adab itu tampak pada upaya mendahulukan zikir berupa pujian kepada Allah Swt, lalu disertai iftiqar berupa pengakuan atas kelemahan, kefakiran, dan dosa diri. Setelah dua fondasi ini kokoh, barulah permohonan diajukan dengan penuh harap.

Artikel ini merupakan pengembangan dan konseptualisasi dari uraian Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim at-Thayyib, Cet. III (Kairo: Dar al-Hadits, 1999), hlm. 89-91, yang disajikan dengan tambahan penjelasan dan analisis dari penulis.

Muhammad Ridwan

Jurusan Hadis Syarif S1 Universitas Islam Madinah, Arab Saudi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button