TADABBUR SURAT AL KAHFI 10

Faedah 10
Fitnah ketiga: Ilmu
KISAH NABI MUSA DAN KHIDR ALAIHIMAS SALAM
QS. Al-Kahf: 60-82
Apa tema bagian (QS. Al-Kahf: 60-82)? apa kaitannya dengan bagian sebelumnya? dan apa hubungannya dengan tujuan utama surah ini?
Ini adalah kisah ketiga dari empat kisah besar dalam surah yang mulia ini. Kisah ini berbicara tentang fitnah ilmu, yaitu ujian yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Sa‘id bin Jubair, ia berkata:
Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما: “Sesungguhnya Nauf al-Bikali mengklaim bahwa Musa yang dimaksud dalam kisah ini bukan Musa Bani Israil, melainkan Musa yang lain.” Maka Ibnu ‘Abbas berkata: “Musuh Allah telah berdusta.” Ubay bin Ka‘ab telah menceritakan kepada kami dari Nabi ﷺ bahwa:
قَامَ مُوسَى النَّبِيُّ خَطِيبًا فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ فَسُئِلَ أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ؟ فَقَالَ: أَنَا أَعْلَمُ، فَعَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ، إِذْ لَمْ يَرُدَّ العِلْمَ إِلَيْهِ، فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ: أَنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي بِمَجْمَعِ البَحْرَيْنِ، هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ. قَالَ: يَا رَبِّ، وَكَيْفَ بِهِ؟ فَقِيلَ لَهُ: احْمِلْ حُوتًا فِي مِكْتَلٍ، فَإِذَا فَقَدْتَهُ فَهُوَ ثَمَّ، فَانْطَلَقَ وَانْطَلَقَ بِفَتَاهُ يُوشَعَ بْنِ نُونٍ، وَحَمَلَا حُوتًا فِي مِكْتَلٍ، حَتَّى كَانَا عِنْدَ الصَّخْرَةِ وَضَعَا رُءُوسَهُمَا وَنَامَا، فَانْسَلَّ الحُوتُ مِنَ المِكْتَلِ فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي البَحْرِ سَرَبًا، وَكَانَ لِمُوسَى وَفَتَاهُ عَجَبًا، فَانْطَلَقَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِهِمَا وَيَوْمَهُمَا، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ: آتِنَا غَدَاءَنَا، لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا، وَلَمْ يَجِدْ مُوسَى مَسًّا مِنَ النَّصَبِ حَتَّى جَاوَزَ المَكَانَ الَّذِي أُمِرَ بِهِ، فَقَالَ لَهُ فَتَاهُ: (أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهِ إِلَّا الشَّيْطَانُ) قَالَ مُوسَى: (ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِي فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا) فَلَمَّا انْتَهَيَا إِلَى الصَّخْرَةِ، إِذَا رَجُلٌ مُسَجًّى بِثَوْبٍ، أَوْ قَالَ تَسَجَّى بِثَوْبِهِ، فَسَلَّمَ مُوسَى، فَقَالَ الخَضِرُ: وَأَنَّى بِأَرْضِكَ السَّلَامُ؟ فَقَالَ: أَنَا مُوسَى، فَقَالَ: مُوسَى بَنِي إِسْرَائِيلَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِي مِمَّا عُلِّمْتَ رَشَدًا قَالَ: إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا، يَا مُوسَى إِنِّي عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ لَا تَعْلَمُهُ أَنْتَ، وَأَنْتَ عَلَى عِلْمٍ عَلَّمَكَهُ لَا أَعْلَمُهُ، قَالَ: سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا، وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا، فَانْطَلَقَا يَمْشِيَانِ عَلَى سَاحِلِ البَحْرِ، لَيْسَ لَهُمَا سَفِينَةٌ، فَمَرَّتْ بِهِمَا سَفِينَةٌ، فَكَلَّمُوهُمْ أَنْ يَحْمِلُوهُمَا، فَعُرِفَ الخَضِرُ فَحَمَلُوهُمَا بِغَيْرِ نَوْلٍ، فَجَاءَ عُصْفُورٌ، فَوَقَعَ عَلَى حَرْفِ السَّفِينَةِ، فَنَقَرَ نَقْرَةً أَوْ نَقْرَتَيْنِ فِي البَحْرِ، فَقَالَ الخَضِرُ: يَا مُوسَى مَا نَقَصَ عِلْمِي وَعِلْمُكَ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا كَنَقْرَةِ هَذَا العُصْفُورِ فِي البَحْرِ، فَعَمَدَ الخَضِرُ إِلَى لَوْحٍ مِنْ أَلْوَاحِ السَّفِينَةِ، فَنَزَعَهُ، فَقَالَ مُوسَى: قَوْمٌ حَمَلُونَا بِغَيْرِ نَوْلٍ عَمَدْتَ إِلَى سَفِينَتِهِمْ فَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا؟ قَالَ: أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا؟ قَالَ: لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا – فَكَانَتِ الأُولَى مِنْ مُوسَى نِسْيَانًا -، فَانْطَلَقَا، فَإِذَا غُلَامٌ يَلْعَبُ مَعَ الغِلْمَانِ، فَأَخَذَ الخَضِرُ بِرَأْسِهِ مِنْ أَعْلَاهُ فَاقْتَلَعَ رَأْسَهُ بِيَدِهِ، فَقَالَ مُوسَى: أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ؟ قَالَ: أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا؟ – قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ: وَهَذَا أَوْكَدُ – فَانْطَلَقَا، حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا، فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا، فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُ، قَالَ الخَضِرُ: بِيَدِهِ فَأَقَامَهُ، فَقَالَ لَهُ مُوسَى: لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا، قَالَ: هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ ” قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى، لَوَدِدْنَا لَوْ صَبَرَ حَتَّى يُقَصَّ عَلَيْنَا مِنْ أَمْرِهِمَا»
Musa عليه السلام berdiri berkhutbah di hadapan Bani Israil, lalu beliau ditanya: “Siapakah manusia yang paling berilmu?” Musa menjawab: “Aku.” Maka Allah menegurnya karena ia tidak mengembalikan ilmu itu kepada Allah. Lalu Allah mewahyukan kepadanya bahwa ada seorang hamba di pertemuan dua laut yang lebih berilmu darinya.
Musa berkata: “Wahai Rabbku, bagaimana caraku menemuinya?”
Dikatakan kepadanya: “Bawalah seekor ikan dalam sebuah wadah. Jika engkau kehilangannya, maka di situlah ia berada.”
Maka Musa berangkat bersama pembantunya, Yusya‘ bin Nun, sambil membawa ikan tersebut. Hingga ketika mereka sampai di sebuah batu, mereka meletakkan kepala mereka dan tertidur. Ikan itu pun keluar dari wadah dan mengambil jalannya ke laut. Hal itu menjadi sesuatu yang menakjubkan.
Mereka melanjutkan perjalanan hingga keesokan harinya. Musa berkata kepada pembantunya: “Berikan kepada kami makanan pagi kita, sungguh kita telah merasakan keletihan dalam perjalanan ini.” Musa tidak merasakan keletihan kecuali setelah melewati tempat yang diperintahkan.
Pembantunya berkata: “Tahukah engkau ketika kita berlindung di batu tadi? Aku lupa ikan itu, dan tidak ada yang membuatku lupa kecuali setan.”
Musa berkata: “Itulah yang kita cari.” Maka mereka kembali mengikuti jejak mereka.
Ketika sampai di batu itu, mereka melihat seorang lelaki yang berselimut kain. Musa memberi salam, lalu Khidir berkata: “Bagaimana mungkin ada salam di negerimu?” Musa menjawab: “Aku Musa.”
“Apakah Musa Bani Israil?”
“Ya.”
Musa berkata: “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkanku sebagian dari ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu sebagai petunjuk?”
Khidir berkata: “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku. Aku berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang tidak engkau ketahui, dan engkau berada di atas ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui.”
Musa berkata: “Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan mendurhakaimu.”
Mereka pun berjalan di tepi laut. Sebuah perahu lewat dan mengenal Khidir, lalu mereka diangkut tanpa upah. Seekor burung datang dan mematuk air laut satu atau dua kali. Khidir berkata: “Wahai Musa, tidaklah berkurang ilmuku dan ilmumu dari ilmu Allah kecuali seperti patukan burung ini di laut.”
Kemudian Khidir mencabut sebuah papan perahu. Musa berkata: “Mereka mengangkut kita tanpa upah, mengapa engkau merusak perahu mereka untuk menenggelamkan penumpangnya?”
Khidir berkata: “Bukankah aku telah mengatakan bahwa engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?”
Musa berkata: “Jangan engkau hukum aku karena kelupaanku dan jangan engkau memberatkan aku.”
Kemudian mereka bertemu seorang anak kecil. Khidir memegang kepalanya dan membunuhnya. Musa berkata: “Apakah engkau membunuh jiwa yang suci tanpa alasan?”
Khidir berkata: “Bukankah aku telah katakan bahwa engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?”
Kemudian mereka sampai ke sebuah negeri. Penduduknya menolak menjamu mereka. Mereka menemukan dinding yang hampir roboh, lalu Khidir menegakkannya. Musa berkata: “Seandainya engkau mau, engkau bisa mengambil upah.”
Khidir berkata: “Inilah perpisahan antara aku dan engkau.”
Nabi ﷺ bersabda:
“Semoga Allah merahmati Musa. Seandainya ia bersabar, niscaya kisah mereka akan diceritakan lebih banyak kepada kita.” selesai.
Asal peristiwa ini adalah teguran Allah kepada Musa عليه السلام karena tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Oleh karena itu al-Bukhari memberi judul hadis ini:
(بَابُ مَا يُسْتَحَبُّ لِلْعَالِمِ إِذَا سُئِلَ: أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ؟ فَيَكِلُ العِلْمَ إِلَى اللَّهِ)
“Bab: Dianjurkannya seorang alim ketika ditanya ‘siapakah orang yang paling berilmu?’ untuk menyerahkan ilmu kepada Allah.”
Makna awal kisah
Al-Qur’an memulai kisah ini secara menakjubkan, langsung pada satu momen tertentu: Musa bersama seorang pemuda berkata, “Aku tidak akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua laut.”
Hal ini memunculkan banyak pertanyaan:
Di mana mereka berada? Dari mana mereka datang? Ke mana mereka menuju? Mengapa Musa meninggalkan kaumnya?
Hadis-hadis Nabi ﷺ menjelaskan latar belakang kisah ini, dan ini menegaskan pentingnya atsar dalam memahami Al-Qur’an.
Ucapan Musa menunjukkan tekad kuat, keteguhan, dan kesungguhan untuk mencapai tujuan.
Pelajaran besar dari kisah Musa dan Khidir
1. Kebutuhan manusia kepada Allah tidak pernah terputus.
2. Hendaknya seseorang tidak menimbulkan fitnah bagi para dai dan ulama. Teguran Allah kepada Musa menunjukkan tingginya kedudukan para nabi disisi Allah.
3. Kesempurnaan akhlak para nabi tampak ketika Musa عليه السلام memohon kepada Allah عز وجل agar ditunjukkan dan dikenalkan kepadanya orang itu, padahal Musa sebenarnya tidak membutuhkan ilmu orang tersebut untuk tugas utama Musa dalam membimbing Bani Israil. Musa tidak iri kepada orang itu, tetapi meminta agar dapat menemuinya untuk belajar darinya.
Hal ini berbeda dengan sikap Qabil ketika Allah عز وجل tidak menerima kurbannya. Saat kurbannya tidak diterima, Qabil tidak berkata: “Ajarkan aku” atau “Bimbing aku”, melainkan berkata: “Aku pasti akan membunuhmu.”
Maka kewajiban setiap orang, setinggi apa pun ilmunya, adalah tetap duduk di posisi seorang pelajar. Musa عليه السلام, yang merupakan Kalimullah dan nabi yang dimuliakan, tetap pergi kepada seorang yang kedudukannya di bawahnya untuk belajar darinya, meskipun Musa sangat bersemangat mengejar perkara-perkara yang luhur dan merasa sedih ketika diberitahu bahwa akan ada orang yang kelak diutus dan memiliki pengikut lebih banyak darinya.
4. Musa عليه السلام meninggalkan kaumnya demi menuntut ilmu. Di sini tampak adanya pertentangan yang sekilas terlihat antara memberi (berdakwah) dan membangun diri (belajar). Oleh karena itu, seorang da‘i harus memiliki masa-masa tertentu untuk meningkatkan kualitas dirinya dan naik ke tingkatan yang lebih tinggi, berupa waktu menyendiri, perenungan, atau evaluasi diri.
5. Keikutsertaan seorang pemuda menunjukkan bahwa Musa tidak keberatan menempatkan dirinya sebagai seorang pelajar di hadapan muridnya sendiri, yaitu Yusya‘ bin Nun. Hal ini justru memperindah citra seorang alim di mata para pengikutnya dan menuntun mereka ke jalan yang benar.
6. Kematangan dalam hubungan, yang tercermin dari perpisahan Yusya‘ dan perpisahan Musa, masing-masing pada masanya.
7. Fikih tentang wilayah spesifikasi keilmuan dan peran keilmuan. “Aku memiliki ilmu yang tidak engkau ketahui, dan engkau memiliki ilmu yang tidak aku ketahui.” Ini berbeda dengan sikap Samiri ketika berkata, “Aku mengetahui apa yang tidak mereka ketahui,” lalu menonjolkan “aku” dan klaim keilmuan pribadi, sebagaimana juga tampak penonjolan ego dalam kisah pemilik dua kebun pada awal surah.
Makna lupa di awal kisah
Musa عليه السلام pun berangkat, dan muridnya ikut bersamanya, sebagaimana perintah Allah agar ia mencari hamba yang saleh itu untuk belajar darinya. Maka lupa menjadi hal pertama yang menimpa mereka. Ini menjadi pelajaran bagi manusia bahwa penyakit pertama ilmu adalah lupa, sebagaimana firman Allah:
“Dan sungguh Kami telah berpesan kepada Adam dahulu, tetapi ia lupa, dan tidak Kami dapati padanya tekad yang kuat.”
Yang juga patut diperhatikan pada bagian ini adalah banyaknya penyebutan kata “lupa” dalam konteks ini, sebagai peringatan bagi pembaca yang merenung tentang bahaya lupa dan pentingnya terus-menerus mengingat. Hal ini tidak dapat terwujud kecuali dengan istiqamah bersama Kitab Allah. Apabila suatu musibah datang atau suatu peristiwa terjadi, seseorang akan siap dan sigap menghadapinya, karena kesabaran itu muncul pada saat benturan pertama. Barang siapa memiliki kesiapan iman yang cukup di dalam hatinya, maka berbagai peristiwa tidak akan mengguncangnya.
Perhatikan pula betapa besarnya perhatian setan untuk menghalangi manusia dari ilmu, serta usahanya membubarkan majelis-majelis ilmu dan pertemuan orang-orang saleh.
Makna “Aku tidak akan berhenti”
Penyebutan pemuda (murid) di sini bukanlah sesuatu yang kebetulan. Dialah yang kelak akan mendapatkan pembukaan dan keberhasilan di masa depan. Karena itu, jangan meremehkan kedudukan seorang pelajar, sebab bisa jadi dialah yang akan melanjutkan perjalanan, menyebarkan ilmu, dan kemudian mendidik generasi setelahnya.
Dalam kisah ini juga terdapat pelajaran tentang baiknya memilih orang yang mendampingi kita dalam dakwah dan dalam menuntut ilmu.
Ucapan “Aku tidak akan berhenti” menunjukkan persoalan kejenuhan, keteguhan dalam menuntut ilmu, dan kesabaran dalam proyek-proyek jangka panjang, serta konsistensi untuk tetap bertahan dalam pekerjaan besar apa pun, “atau aku berjalan dalam waktu yang sangat lama.”
Kata “atau” di sini bukan untuk menunjukkan pilihan, melainkan dimaksudkan sebagai penegasan tekad untuk terus melangkah sampai hamba yang saleh itu benar-benar ditemui, karena keyakinan Musa عليه السلام terhadap kebenaran janji Allah atas apa yang telah Dia kabarkan.
Mengapa lupa dinisbatkan kepada setan?
Apa yang terjadi pada pemuda Musa berupa kelupaan untuk memberitahukan kepada Musa tentang peristiwa yang menakjubkan itu adalah kelupaan yang sebenarnya tidak lazim terjadi dalam waktu yang dekat, terlebih dengan keanehan kejadian tersebut dan besarnya perhatian terhadap perkara yang dilupakan itu. Sebab Musa dan pemudanya sama-sama menantikan peristiwa ganjil tersebut.
Namun hal itu terjadi karena setan tidak menyukai pertemuan semacam ini dan dampak yang ditimbulkannya, berupa tersebarnya ilmu-ilmu yang lurus serta tersingkapnya keluasan ilmu dan hikmah Allah. Maka setan berusaha memalingkan darinya, meskipun hanya dengan menunda terjadinya peristiwa itu, dengan harapan muncul berbagai akibat dan kejadian lain.
Demikianlah setan, ia tidak membiarkan satu pun pintu untuk menghalangi manusia dari Allah kecuali ia akan memasukinya. Jika dalam kisah ini ia tampak hanya melalui satu kata dan satu isyarat, maka dalam surah ini ia juga tampil dalam satu bagian penuh, sebagai penegasan betapa besar dan berbahayanya perannya.
Ke mana perginya Yusya‘ bin Nun?
Orang yang merenungi alur kisah ini akan melihat bahwa pemuda Musa tiba-tiba menghilang dari panggung cerita setelah Musa bertemu dengan Khidir رحمه الله. Namun, hilangnya dia dari rangkaian kisah ini bukan berarti ia hilang dari panggung sejarah. Sesungguhnya, masuknya Bani Israil ke tanah suci pada masa berikutnya terjadi bersama Yusya‘ bin Nun, pemuda yang sama yang dibina oleh Musa.
Musa, yang telah mendidik pemuda itu dan melewati bersamanya pengalaman-pengalaman besar semacam ini, ternyata tidak ditakdirkan oleh Allah untuk memimpin masuk ke tanah suci tersebut. Sebaliknya, pencapaian besar itu terjadi di tangan pemuda yang menyertai dan belajar langsung dari pengalaman Musa عليه السلام. Oleh karena itu, seorang da‘i hendaknya bersungguh-sungguh mempersiapkan orang-orang yang akan melanjutkan dakwah dan gagasan setelahnya, karena tidak selalu orang yang berada di puncak akan Allah jadikan sebagai peraih hasil akhir. Bisa jadi keberhasilan itu diberikan kepada generasi kedua atau ketiga, dan seterusnya.
Adapun makna yang terkandung dalam janji Musa kepada Khidir عليه السلام ketika berkata: “Engkau akan mendapatiku, insya Allah, sebagai orang yang sabar,” adalah bahwa ucapan ini lebih kuat dalam menunjukkan keteguhan dan kesinambungan kesabaran dibandingkan dengan sekadar berkata “aku akan bersabar”. Sebab penggunaan bentuk kata benda menunjukkan ketetapan dan keberlangsungan, seakan-akan Musa berkata: “Engkau akan mendapati kesabaran sebagai keadaan yang menetap dalam diriku.”
Apa makna dan pelajaran dari Musa عليه السلام meninggalkan Bani Israil demi menuntut ilmu?
Bahwa Musa عليه السلام meninggalkan pelaksanaan sebagian beban kenabian untuk mencari ilmu kepada Khidir عليه السلام adalah perkara yang sangat agung dan layak untuk direnungkan secara mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa seorang penuntut ilmu perlu memiliki fase-fase dalam hidupnya untuk memvariasikan aktivitasnya. Kadang ia fokus menuntut ilmu, kadang berdakwah kepada Allah, kadang mengurus para janda dan orang miskin, kadang berupaya mematahkan dominasi materialisme dalam kehidupan, kadang membantah syubhat, dan kadang mengangkat kalimat Allah serta menolong agama-Nya. Demikian seterusnya.
Apa makna dari usaha Musa عليه السلام mencari dan menuntut ilmu kepada Khidir رحمه الله?
Meskipun Musa memiliki kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah dibandingkan Khidir رحمه الله, hal itu tidak menghalanginya untuk tetap menuntut ilmu. Ini merupakan pelajaran yang sangat besar tentang menuntut ilmu, bahkan dari orang-orang yang secara kedudukan lebih rendah, apabila Allah membukakan kepada mereka ilmu yang tidak diberikan kepada orang-orang yang lebih besar darinya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis pada ucapan Khidir رحمه الله:
(يَا مُوسَى إِنِّي عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ لَا تَعْلَمُهُ أَنْتَ، وَأَنْتَ عَلَى عِلْمٍ عَلَّمَكَهُ لَا أَعْلَمُهُ)
“Wahai Musa, sesungguhnya aku berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang tidak engkau ketahui, dan engkau berada di atas ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui.”
Sebagaimana dikatakan, hikmah adalah barang hilang milik seorang mukmin; di mana pun ia menemukannya, dialah yang paling berhak atasnya, meskipun ia menemukannya pada orang yang ilmunya lebih sedikit dan usianya lebih muda darinya.
Apa makna yang terkandung dalam penyebutan Khidir sebagai ‘seorang hamba dari hamba-hamba Kami’?
Pembaca yang merenung tidak sepatutnya melewati firman Allah Ta‘ala: “Lalu mereka berdua mendapati seorang hamba dari hamba-hamba Kami.” Yang terlintas biasanya adalah: seorang alim dari para ulama, atau seorang yang diberi ilham, atau seorang yang diberi ilmu hadis. Namun Allah عز وجل justru menyifatinya dengan penghambaan dalam konteks pujian. Seakan-akan sifat terbesar pada dirinya adalah penghambaan yang sempurna dan total kepada Allah.
Seolah ayat ini berkata kepada pembaca yang merenung: Rawatlah penghambaanmu kepada Allah, niscaya engkau akan berada di derajat tertinggi, apa pun tingkat ilmumu.
Kata “hamba” disebutkan dalam bentuk nakirah (tidak ditentukan) sebagai bentuk pengagungan, yaitu: mereka mendapati seorang hamba, yakni hamba yang agung dan dimuliakan dari hamba-hamba Kami.
Seakan-akan pemuliaan melalui sifat penghambaan di sini bersumber dari firman Allah pada awal surah: “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab kepada hamba-Nya.” Allah memuji Nabi-Nya dengan sifat penghambaan yang dinisbatkan kepada-Nya, dan konteks pemuliaan di sini sejalan dengan konteks tersebut.
Apa makna didahulukannya rahmat atas ilmu dalam pujian kepada Khidir عليه السلام?
Ini adalah penyebutan ketiga tentang rahmat dalam surah ini. Antara penyebutan ini dan yang sebelumnya terdapat benang halus yang menyatukan satu makna penting dari tema-tema utama surah ini.
Allah عز وجل memuji Khidir عليه السلام dengan dua sifat:
Pertama: penghambaan, ketika Allah berfirman “seorang hamba dari hamba-hamba Kami”, yaitu hamba yang Kami khususkan dengan kedudukan tertentu di sisi Kami, sebagaimana telah dijelaskan.
Kedua: rahmat dan ilmu, dan Allah mendahulukan rahmat atas ilmu, karena ilmu tanpa rahmat akan menjerumuskan pemiliknya ke jurang kesombongan. Seorang alim tanpa rahmat adalah setan yang terkutuk. Iblis dahulu adalah makhluk yang paling berilmu di kalangan jin, namun kesombongan membutakan hatinya hingga ia menjadi pemimpin penghuni neraka.
Ini merupakan isyarat bagi setiap penuntut ilmu agar lebih dahulu menumbuhkan rahmat di dalam hati sebelum menimbun ilmu, agar tidak tertimpa apa yang menimpa Iblis berupa kesombongan. Hendaknya ia menyirami hatinya dengan rahmat sebelum memenuhi dirinya dengan ilmu, sehingga Allah menjaganya dengan rahmat itu dari kesesatan.
Perhatikan pula penyandaran kata memberi dan mengajarkan kepada kata Kami yang menunjukkan keagungan, sebagai penegasan bahwa Pemberi rahmat dan Pengajar segala ilmu hanyalah Allah عز وجل semata. Karena itu, tidak layak diminta kecuali kepada-Nya dan tidak diharapkan kecuali apa yang ada di sisi-Nya.
Apa saja bentuk adab dalam pertanyaan Musa kepada Khidir عليه السلام: “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkanku sebagian dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk?”
Dalam kalimat ini terdapat banyak bentuk adab, di antaranya:
Musa berkata “bolehkah aku mengikutimu”, padahal sejatinya ia memang datang untuk mengikuti dan menyertainya. Namun ia tetap meminta izin sebagai bentuk adab yang tinggi.
Di antaranya pula penghilangan huruf ya pada lafaz تعلمن, seakan huruf itu disamarkan, untuk menggambarkan kerendahan diri murid di hadapan gurunya.
Khidir عليه السلام membalas adab Musa, yaitu adab seorang penuntut ilmu, dengan kerendahan hati seorang guru, ketika ia berkata “bersamaku bersabar”, dan ia pun melakukan penghilangan serupa sebagaimana Musa melakukannya.
Apa makna “rusydan” dalam firman Allah: “dari apa yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk”?
Rusyd dengan dhammah pada huruf ra dan sukun pada syin berarti berpijak pada kebaikan dan mengenai kebenaran. Maknanya: “Apakah engkau mengajarkanku dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu suatu ilmu yang dengannya aku mendapat petunjuk, berdiri di atas kebaikan, dan sampai kepada kebenaran?”
Kata ini juga dibaca rasyadan dengan dua fathah, dengan makna yang sama. Keduanya adalah dua bentuk bahasa, seperti bukhl dan bakhal.
Apa kaitan tiga peristiwa ini dengan fitnah ilmu?
Peristiwa-peristiwa ini mengingatkanmu ketika membacanya bahwa boleh jadi engkau diuji dengan suatu kekurangan yang menurunkan kedudukanmu di mata manusia, tetapi ia justru merupakan rahmat dari Allah dan penyelamatan dari keburukan yang lebih besar yang tidak engkau ketahui.
Ya, boleh jadi engkau diuji dengan aib yang membuat namamu redup di mata manusia, tetapi dengannya namamu diangkat di sisi Allah, dan Allah lebih baik dan lebih kekal.
Aib yang tampak dapat menyelamatkanmu dari kekaguman diri yang tersembunyi, dari kesombongan yang terpendam, dari setitik kesombongan yang karena kecilnya engkau tidak menyadarinya, namun tidak tersembunyi dari Allah Yang Maha Lembut, lalu Dia membersihkanmu darinya.
Ketika engkau membaca Surah al-Kahf hari ini, ingatlah bahwa boleh jadi kehilangan orang-orang tercinta telah menyakitkanmu dan membuat hatimu merasa asing dari manusia. Namun bisa jadi ketika Allah membuatmu merasa asing dari makhluk, Dia justru mengizinkanmu merasa tenteram hanya bersama-Nya, dengan zikir-Nya dan firman-Nya.
Ya, boleh jadi engkau diuji dengan kehilangan yang engkau tidak tahu bagaimana Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Boleh jadi engkau diuji dengan kehancuran yang engkau tidak tahu bagaimana Allah akan memulihkanmu setelahnya. Namun ketika engkau menatap dunia nyata dengan penyesalan atas apa yang hilang, Tuhanmu di alam gaib sedang menyiapkan untukmu sesuatu yang lebih baik, lebih dekat, dan lebih bermanfaat. Pada saat kehilangan itu sendiri, Tuhanmu sebenarnya sedang memberimu, hanya saja engkau belum melihat dan belum datang penjelasan atas apa yang dahulu tidak sanggup engkau sabari.
Ketika engkau membaca Surah al-Kahf hari ini, ingatlah bahwa penangguhan Allah terhadap orang-orang zalim, yang membuat hatimu sedih dan hancur karena melihat orang-orang tertindas, itu bisa jadi demi dirimu. Bisa jadi Allah melapangkan kenikmatan bagi mereka agar buahnya menjadi milikmu. Engkau melihat mereka berlomba meninggikan bangunan dan bermegah-megahan, sementara hartamu tersimpan di bawah bangunan mereka, ditabungkan untukmu. Lalu datang suatu masa ketika harta itu dikeluarkan untukmu dan engkau berbahagia dengannya. Seakan-akan mereka tidak membangun kecuali agar engkau kelak menempatinya, dan tidak menanam kecuali agar engkau yang memanennya.
Ketika engkau membaca Surah al-Kahf hari ini, ingatlah bahwa boleh jadi pada kerusakan perahumu terdapat keselamatan, pada kehilangan orang-orang tercinta terdapat pengganti, dan di bawah bangunan musuh-musuhmu terdapat harta terpendam yang menantimu.
Ketika engkau membaca Surah al-Kahf hari ini, belajarlah bersabar, meskipun engkau belum memahami hikmah dan belum menangkap rahmat dalam sebagian takdir Allah. Belajarlah bersabar, karena boleh jadi suatu hari akan datang kepadamu penjelasan atas apa yang dahulu tidak sanggup engkau sabari, lalu engkau pun berharap seandainya dahulu engkau benar-benar bersabar.



