TADABBUR SURAH AL KAHFI 8

TADABBUR SURAT AL KAHFI 8
(Fitnah Kedua: Dunia)
(Kisah Pemilik Dua Kebun)
Teks Ayat (QS. Al-Kahf: 32–49)
Pertama: Apa tema dari bagian ini, dan apa hubungannya dengan tujuan Surah?
Ini adalah kisah kedua dari empat kisah besar dalam surah Al-Kahf yang mulia. Di sini Allah mengisahkan dua orang laki-laki:
Yang pertama adalah pemilik dua kebun, seorang yang memiliki harta dan anak keturunan.
Yang kedua adalah sahabatnya yang memiliki harta dan anak lebih sedikit.
Pemilik kebun tertipu oleh hartanya meskipun telah dinasihati oleh sahabatnya yang beriman, hingga Allah menghancurkan hartanya. Ia pun menyesal, sedih, dan kecewa atas apa yang telah hilang darinya.
Surah ini tidak menutup kisah itu sebelum memberikan penjelasan yang sangat indah, sebagaimana akan kita lihat.
Tidak diragukan bahwa manusia diciptakan dengan kecenderungan mencintai dunia, sehingga dunia sering menekan jiwa orang beriman dan mungkin memalingkannya dari kebenaran, atau dari kesempurnaan agama, serta membuatnya lalai dari mempersiapkan diri untuk negeri akhirat.
Karena Surah Al-Kahf diturunkan untuk mengobati fitnah-fitnah besar, dan fitnah kehidupan dunia —termasuk harta dan anak— adalah salah satu yang terbesar, maka surah ini mengobatinya dengan cara yang sangat kuat, mencabut akar-akar penyakit tersebut dan mengeringkan sumber-sumbernya, bukan sekadar memperbaiki bagian luarnya.
Kedua: Kepada siapa kembali dhamir (kata ganti) “لَهُم” untuk mereka dalam ayat (واضرب لهم مثلاً) ?
Mayoritas ulama tafsir mengatakan bahwa kata ganti “mereka” kembali kepada orang-orang Quraisy yang sombong yang meminta Nabi ﷺ mengusir kaum fakir karena merasa lebih mulia dari mereka.
Allah memerintahkan: berikanlah kepada mereka perumpamaan ini, agar mereka mengetahui bahwa keadaan dunia dapat berubah.
Dikatakan juga bahwa khithab ini ditujukan untuk seluruh umat manusia.
Dari sini kita belajar bahwa memberikan perumpamaan adalah metode pendidikan yang sangat efektif, karena kita menyebutkan kondisi yang mirip dengan kondisi orang yang dinasihati, agar ia mengambil pelajaran dari akibat dan kesudahannya.
Ketiga: Apa makna penggunaan huruf “نَا” (Kami) pada awal kisah?
Dalam awal kisah ini, tampak jelas penggunaan kata kerja dengan dhamir jama‘ (نحن / نَا), seperti:
1. جَعَلْنَا
Artinya: “Kami menjadikan” al Kahfi: 32.
Makna: Allah-lah yang menciptakan, mengatur, dan mengadakan sesuatu sesuai kehendak-Nya.
2. حَفَفْنَاهُمَا
Artinya: “Kami kelilingi keduanya” atau “Kami pagar(i) keduanya”
Makna: Allah menjadikan kedua kebun itu dikelilingi oleh pohon kurma sebagai pelindung dan penghias.
3. جَعَلْنَا
Artinya: “Kami menjadikan”
Makna sama seperti di atas, tetapi yang kedua ini dalam konteks: “Kami jadikan di antara keduanya ladang (tanaman)”. al Kahfi: 32
4. فَجَّرْنَا
Artinya: “Kami memancarkan / Kami mengalirkan (air)”
Makna: Allah membuat air mengalir deras dan memancar di antara dua kebun tersebut, sebagai sumber kehidupan tanaman.
Dhamir jama‘ ini kembali kepada Allah Ta‘ala, Dia menyifati diri-Nya demikian.
Setiap kali engkau melihat dhamir seperti ini, ketahuilah bahwa Allah ingin menunjukkan:
– Dialah Pelaku yang sebenarnya
– Dialah Pemberi rezeki yang hakiki, agar engkau tidak sibuk dengan nikmat dan lupa kepada Sang Pemberi nikmat.
Dan sebagaimana Allah memberi, Dia juga mampu mengambilnya kembali.
Ini menjadi pola yang terus muncul sepanjang surah ini, sejak ayat pertama:
1. جَعَلْنَا —
“Kami menjadikan” Al Kahfi: 32.
Makna: Allah menciptakan, mengatur, menetapkan, atau mengadakan sesuatu sesuai kehendak-Nya.
2. لِنَبْلُوَهُمْ —
“Agar Kami menguji mereka” al Kahfi: 7.
Makna: Allah menguji manusia dengan nikmat dan cobaan, untuk menampakkan siapa yang terbaik amalnya.
3. لَجَاعِلُونَ —
“Sungguh Kami akan menjadikan” al Kahfi: 8.
Makna: Penegasan janji Allah bahwa Dia pasti menetapkan atau menjadikan sesuatu sebagaimana yang diberitakan-Nya.
Sampai dalam kisah Ashabul Kahfi:
1. رَبَطْنَا
رَبَطْنَا = Kami meneguhkan / Kami menguatkan (hati mereka)
(sering dipakai dalam konteks “meneguhkan hati”) al Kahfi: 14.
2. زِدْنَاهُمْ
زِدْنَاهُمْ = Kami menambahkan kepada mereka / Kami menambah mereka
al Kahfi: 13.
3. نُقَلِّبُهُمْ
نُقَلِّبُهُمْ = Kami membolak-balikkan mereka
(dalam kisah Ashabul Kahfi: membalikkan tubuh mereka ke kanan dan kiri)
al Kahfi: 18.
4. بَعَثْنَاهُمْ
بَعَثْنَاهُمْ = Kami membangunkan mereka / Kami membangkitkan mereka
(dalam kisah Ashhabul Kahfi: membangunkan mereka dari tidur panjang) al Kahfi: 12.
Seluruhnya menunjukkan bahwa Allah adalah pengatur sebenarnya dari semua urusan.
Keempat: Apa hikmah penyebutan rinci tentang kedua kebun?
Penyebutan detail tentang dua kebun menunjukkan betapa sempurna dan indahnya nikmat tersebut, bukan hanya kebun biasa.
Beberapa maknanya:
1. Berbentuk ganda, bukan satu kebun — menunjukkan kesempurnaan kekayaan.
2. Jenis tanaman khusus dan umum:
Anggur dan kurma disebut khusus karena kualitas dan manfaatnya.
Tanaman lain disebut umum karena manfaatnya yang berkelanjutan sepanjang tahun.
3. Tata letak yang indah dan rapi, menunjukkan kesempurnaan pengaturan.
4. Air yang melimpah dan terus mengalir, tanpa biaya, tanpa berhenti.
5. Buah yang sempurna, sebagaimana firman Allah:
كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا
“Kedua kebun itu memberikan hasilnya, dan ia tidak mengurangi sedikit pun dari hasilnya.”
Al-Kahf: 33
Kebun itu memenuhi hak pemiliknya sepenuhnya, sementara pemiliknya tidak memenuhi hak Rabb-nya: ia justru menyekutukan Allah setelah nikmat sempurna diberikan kepadanya.
Kelima: Apa maksud firman Allah:
وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ
“Dan dia memiliki hasil (buah dan kekayaan).” Al-Kahf: 34
Para ulama menyebutkan dua pendapat:
1. Yang dimaksud adalah buah-buahan dari pohonnya.
2. Yang dimaksud adalah jenis-jenis harta lainnya seperti emas, perak, hewan ternak, dan kekayaan besar.
Pendapat kedua lebih kuat, karena:
Ayat sebelumnya sudah membahas buah pohon,
Dalam bahasa Arab, tsamar juga berarti harta yang banyak.
Ibn Faris berkata bahwa asal makna tsamar adalah sesuatu yang berkembang dan bertambah.
Ibnu Faris berkata:
الثاء والميم والراء أصل واحد، وهو شيء يتولد من شيء مجتمعا ثم يحمل عليه غيره استعارة، ومنه سمي ثمر الشجر ثمرا، ومنه سمي المال الكثير ثمرا، ويقال: ثمر ماله إذا كثر، وهذا القول أولى بالصواب لأن حمل الجملة القرآنية على التأسيس أولى من حملها على التأكيد، فقد سبق الحديث عن ثمر الشجر في قوله (كلتا الجنتين آتت أكلها) فالأولى أن يكون المراد هنا شيئا آخر وهو صنوف المال الكثير.
“Huruf ث – م – ر memiliki satu makna dasar, yaitu sesuatu yang lahir dari sesuatu yang lain dalam keadaan terkumpul, kemudian digunakan untuk makna lain secara majazi. Dari sini dinamai buah pohon (ثَمَر) dengan nama tersebut. Dari makna ini pula dinamai harta yang banyak sebagai tsamar. Dikatakan: ‘tsamara māluhu’ apabila hartanya banyak.
Pendapat ini lebih tepat, karena menafsirkan kalimat Al-Qur’an dengan makna baru (tasis/penetapan makna) lebih utama daripada menafsirkannya dengan pengulangan makna (taukid).
Sebab, pembahasan tentang buah kebun telah disebutkan sebelumnya dalam firman-Nya: (كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا), maka lebih utama jika yang dimaksud pada ayat berikutnya adalah makna lain, yaitu berbagai macam harta yang banyak.”
Maka makna yang lebih kuat adalah bahwa mereka memiliki berbagai macam harta selain buah-buahan, seperti emas, perak, dan hewan ternak.
Menunjukkan bahwa pemilik kebun itu memiliki banyak hasil dan kekayaan, selain dari kebunnya.
Karena kata ثمر bisa diartikan buah dari pohon secara literal, atau harta dan kekayaan secara kiasan.
Ayat ini menjadi awal dari dialog sombong pemilik kebun terhadap temannya, karena merasa lebih kaya dan lebih berkuasa.
Keenam: Kata كان (kaana) mengandung dua kemungkinan makna:
bisa menunjukkan bahwa ia adalah orang kaya turun-temurun, Ia sudah kaya sejak dulu.
Atau hartanya tersebut akan hilang sebentar lagi, isyarat bahwa harta itu akan segera hilang.
Dan kedua makna ini sangat dalam; penjelasan panjang justru bisa mengurangi kehalusan maknanya. Maka renungkanlah hal ini—semoga Allah menjagamu.
Ketujuh: Apa makna urutan ucapan pemilik kebun setelah disebutkan hartanya?
Setelah seluruh nikmat itu disebutkan, yang seharusnya muncul adalah sujud syukur.
Namun yang muncul justru kesombongan.
Tiga kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah:
1. أنا — Aku
2. أكثر — lebih banyak
3. أعز — lebih kuat
Inilah tiga kata yang dipakai Iblis ketika membangkang:
> (أنا خير منه)
Aku lebih baik darinya.
Dan inilah awal kehancuran manusia di dunia, bahkan juga menimpa sebagian ahli agama modern yang berbangga-bangga dengan bacaan, guru, dan kitab.
Urutan kesesatan pemilik kebun:
1. Kesombongan:
أنا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفْرًا
“Aku lebih banyak hartanya darimu dan lebih mulia jumlah pengikutnya.”
Ayat: QS. Al-Kahf 18:34
Konteks: Pemilik kebun sombong membanggakan kekayaannya kepada temannya.
2. Ketertipuan oleh dunia:
مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا
“Aku tidak menyangka bahwa (kebun) ini akan binasa selamanya.”
Ayat: QS. Al-Kahf 18:35
Konteks: Pemilik kebun merasa aman dan yakin bahwa hartanya akan selalu ada.
3. Kekafiran dan penolakan hari kiamat:
وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً
Terjemahan: “Dan aku tidak menyangka bahwa Hari Kiamat akan terjadi.”
Ayat: QS. Al-Kahf 18:36
Konteks: Dia mengingkari kemungkinan adanya hari pembalasan.
Ini adalah tiga langkah jatuh:
1. Kesombongan dengan nikmat
Saat nikmat membuat manusia tinggi hati, sombong, dan merasa lebih baik dari orang lain.
Inilah langkah pertama menuju kerusakan iman.
Ini mirip dengan kesombongan Iblis ketika berkata:
“أنا خير منه”.
Dalam dunia modern, hal ini muncul dalam bentuk:
“Pengembangan diri” yang berlebihan,
“Cinta diri” yang kelewatan,
“Motivasi diri” yang dibuat-buat,
Budaya pamer pencapaian.
Semua itu pakaian baru dari penyakit lama: kesombongan.
2. Ketertipuan dengan dunia dan merasa aman darinya
:مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا
“Aku tidak menyangka bahwa (kebun) ini akan binasa selamanya.”
Ayat: QS. Al-Kahf 18:35
Ketika manusia:
merasa dunia adalah tujuan utama,
berat kepada dunia,
malas menuju akhirat.
Allah mengecam sifat orang kafir dalam Surah Yunus:
رَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا
“Mereka merasa puas dengan kehidupan dunia dan merasa aman darinya.”
Ayat: QS. Yunus 10:7
Konteks: Allah menggambarkan orang-orang kafir yang hanya mengutamakan dunia dan melupakan akhirat.
3. Ingkar terhadap hari kiamat
وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً
“Dan aku tidak menyangka bahwa Hari Kiamat akan terjadi.”
Ayat: QS. Al-Kahf 18:36
Ini adalah akibat alami dari dua langkah sebelumnya.
Siapa yang merasa dunia kekal,
pasti tidak meyakini akhirat.
Respons sahabatnya yang beriman
Ketika sahabatnya mendengar ucapan yang ketiga —ingkar hari kiamat— ia langsung berkata:
أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا
“Apakah engkau mengingkari (Allah) yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu menyempurnakanmu menjadi seorang laki-laki?”
Ayat: QS. Al-Kahf 18:37
Konteks: Teman pemilik kebun menegur sombongnya dan mengingatkan penciptaan manusia oleh Allah.
Ia menyebutnya kafir, sebab mengingkari hari kiamat sama dengan mengingkari kekuasaan Allah.
Penutup Kajian
Alhamdulillah, setelah kita mengkaji ayat-ayat tentang fitnah dunia dalam Surah Al-Kahf—kisah dua pemilik kebun, kesombongan manusia, kelalaian terhadap akhirat, serta keselamatan bagi orang yang berpegang teguh pada iman—kita belajar bahwa harta, kedudukan, dan dunia bukanlah ukuran kemuliaan, tetapi yang menentukan adalah iman dan amal shalih.
Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang tidak tertipu oleh dunia, tetapi memanfaatkannya untuk akhirat.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا إِلَى النَّارِ مَصِيرَنَا، وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ هِيَ دَارَنَا وَقَرَارَنَا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَزَهْرَتِهَا، وَنَعُوذُ بِكَ أَنْ نَغْتَرَّ بِهَا، وَاجْعَلْ مَا عِنْدَكَ خَيْرًا وَأَبْقَى لَنَا.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ؛ فَإِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.



