TADABBUR SURAT AL KAHFI 9

KEKUFURAN DAN KESOMBONGAN MENGHANCURKANMU
Apa makna-makna yang menjadi kesimpulan dari susunan ucapan lelaki kafir setelah sebelumnya Allah menyebutkan tentang hartanya dalam firman-Nya:
فَقَالَ لِصَاحِبِهٖ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗۤ
“maka dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap dengannya”?
Setelah Allah menyebutkan secara rinci tentang keindahan dan berbagai nikmat yang diberikan kepadanya dalam dua kebun itu, serta apa yang datang setelahnya berupa kepemilikan harta, seharusnya pemilik kedua kebun itu sujud syukur kepada Allah atas semua yang diberikan kepadanya. Akan tetapi, pembaca yang tadabbur akan terkejut dengan sikap pemilik kebun yang sombong ini.
Kejutannya adalah: awal kisah ini dimulai dengan kata “aku”, dan kata kedua adalah “lebih banyak”, dan yang ketiga adalah “lebih mulia”.
اَنَا اَكۡثَرُ مِنۡكَ مَالًا وَّاَعَزُّ نَفَرًا ٣٤
“Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.”
Kata-kata inilah yang dipakai setan untuk menyesatkan manusia — dialah yang pertama kali mengucapkan, “Aku lebih baik darinya”. Kata inilah yang bukan hanya menyesatkan orang-orang awam, tetapi bahkan orang-orang beragama: mereka berbangga jumlah buku, bacaan, guru, dan semisalnya.
Lelaki kafir itu memulai dengan membanggakan diri di hadapan mukmin karena banyaknya harta dan pengikut:
اَنَا اَكۡثَرُ مِنۡكَ مَالًا وَّاَعَزُّ نَفَرًا
“Aku lebih banyak hartanya darimu dan lebih kuat pengikutnya.”
Kemudian setelah itu ia masuk ke kebunnya dengan penuh rasa aman:
وَدَخَلَ جَنَّتَهٗ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِهٖ ۚ قَالَ مَاۤ اَظُنُّ اَنۡ تَبِيۡدَ هٰذِهٖۤ اَبَدًا ۙ ٣٥
“Ia masuk ke kebunnya dalam keadaan menzalimi dirinya seraya berkata: Aku tidak mengira kebun ini akan binasa selamanya.”
Dan dia menutup ucapannya dengan perkataan kufurnya:
وَّمَاۤ اَظُنُّ السَّاعَةَ قَآٮِٕمَةً ۙ وَّلَٮِٕنۡ رُّدِدْتُّ اِلٰى رَبِّىۡ لَاَجِدَنَّ خَيۡرًا مِّنۡهَا مُنۡقَلَبًا ٣٦
“Dan aku tidak mengira kiamat itu akan terjadi. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, niscaya aku akan mendapat yang lebih baik darinya sebagai tempat kembali.”
Langkah pertama dalam kekufuran terhadap nikmat adalah salah memperlakukan nikmat Allah. Alih-alih membuatnya semakin tunduk dan mendekat kepada Allah, nikmat justru membuatnya semakin sombong, angkuh, dan ujub. Ia masuk ke dalam jalan pamer, bermegah-megahan, dan memburu banyaknya nikmat agar lebih unggul dari orang lain. Inilah langkah pertama yang juga tampak dalam pembangkangan Iblis:
“Aku lebih baik darinya; Engkau menciptakan aku dari api dan menciptakannya dari tanah.”
Sangat disayangkan bahwa langkah ini pada zaman kita mengambil berbagai bentuk baru, dibungkus filsafat dan istilah “percaya diri”, “menghargai diri”, “meningkatkan motivasi”, dan lainnya. Padahal hakikatnya tetap kesombongan yang sama.
Jika langkah pertama itu terus berlanjut dan mengakar dalam jiwa, pasti ia mengantarkan ke langkah kedua: Lengah dan tertipu bahwa dunia ini akan kekal selamanya indah bagi dia, seperti yang dikisahkan:
“Ia masuk ke kebunnya dalam keadaan menzalimi dirinya; Ia berkata: Aku tidak mengira kebun ini akan binasa selamanya.”
Inilah sikap merasa aman dari perubahan keadaan dunia. Dunia menjadi satu-satunya tujuan dan puncak harapannya. Ia tidak lagi melihat apa pun di balik dunia ini, sebagaimana sifat orang-orang kafir dalam QS Yunus:
{ إِنَّ ٱلَّذِینَ لَا یَرۡجُونَ لِقَاۤءَنَا وَرَضُوا۟ بِٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَٱطۡمَأَنُّوا۟ بِهَا وَٱلَّذِینَ هُمۡ عَنۡ ءَایَـٰتِنَا غَـٰفِلُونَ (٧) أُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُ بِمَا كَانُوا۟ یَكۡسِبُونَ (٨) }
[سُورَةُ يُونُسَ: ٧-٨]
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharap perjumpaan dengan Kami, yang rela dengan kehidupan dunia serta merasa tenang dengannya, dan mereka lalai dari ayat-ayat Kami — tempat mereka adalah neraka karena apa yang mereka lakukan.”
Jika seseorang menggantungkan kemuliaannya pada urusan dunia, pasti akhirnya ia tenang dengan dunia saja dan meninggalkan selainnya.
Karena itu datanglah langkah ketiga, yaitu kekufuran dan pengingkaran terhadap hari kiamat:
وَّمَاۤ اَظُنُّ السَّاعَةَ قَآٮِٕمَةً ۙ وَّلَٮِٕنۡ رُّدِدْتُّ اِلٰى رَبِّىۡ لَاَجِدَنَّ خَيۡرًا مِّنۡهَا مُنۡقَلَبًا
“Aku tidak mengira kiamat itu akan terjadi. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, niscaya aku akan mendapat yang lebih baik darinya.”
Apakah langkah ketiga ini mengejutkan?
Tidak. Ia sangat wajar — bila kita mengikuti alurnya.
Barangsiapa mengira dunia kekal, pasti ia akan mengingkari akhirat.
Sebab keimanan kepada akhirat hanya mungkin jika kita yakin dunia fana dan cepat lenyap. Karena itulah pengingkaran akhirat selalu berkaitan dengan keyakinan bahwa dunia adalah segalanya:
{ وَقَالُوۤا۟ إِنۡ هِیَ إِلَّا حَیَاتُنَا ٱلدُّنۡیَا وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوثِینَ }
[سُورَةُ الأَنۡعَامِ: ٢٩]
“Mereka berkata: Tidak ada yang ada selain kehidupan dunia ini, dan kami tidak akan dibangkitkan.”
Yang menarik, lelaki mukmin terkejut pada langkah ketiga ini — yakni pengingkaran kiamat — dan menganggapnya kekufuran:
{ قَالَ لَهُۥ صَاحِبُهُۥ وَهُوَ یُحَاوِرُهُۥۤ أَكَفَرۡتَ بِٱلَّذِی خَلَقَكَ مِن تُرَابࣲ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةࣲ ثُمَّ سَوَّىٰكَ رَجُلࣰا }
[سُورَةُ الكَهۡفِ: ٣٧]
“Kawannya (yang beriman) berkata kepadanya sambil bercakap-cakap dengannya, “Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikanmu seorang laki-laki yang sempurna?”
Dalam Al-Qur’an, iman kepada Allah selalu digandengkan dengan iman kepada hari akhir; tidak ada rukun iman lain yang digandengkan sebanyak itu.
Apa hubungan firman Allah:
وَدَخَلَ جَنَّتَهٗ
“Ia masuk ke dalam kebunnya”, padahal kebunnya ada dua?
Ungkapan ini sangat menakjubkan. Ia menunjukkan — sebagaimana dikatakan az-Zamakhsyari — betapa kebun itu telah menguasai hati dan hidupnya. Seakan-akan kebun itu adalah seluruh surganya; tidak ada surga lain baginya selain surga dunia tersebut.
Dikatakan pula bahwa itu adalah seluruh “kebun” yang ia miliki — dan di akhirat ia tidak akan mendapat bagian sama sekali.
Dan “kebun” yang memperdaya manusia bukan hanya kebun pertanian; bisa jadi jabatan, kekuasaan, popularitas, kecantikan, pasar, atau apa pun yang menawan jiwa orang yang tertipu — kecuali orang yang diselamatkan Allah.
Apa makna firman Allah:
وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِهٖ ۚ
“Ia menzalimi dirinya”?
Ini menunjukkan perhatian terhadap keadaan jiwa saat seseorang melihat nikmat.
Ada orang yang ketika melihat hasil kerja, ilmu, jabatan, atau harta, ia bersyukur dan rendah hati — seperti Dzulkarnain berkata:
“Ini adalah rahmat dari Tuhanku.”
Sebaliknya, ada yang sombong seperti Qarun:
“Sesungguhnya aku diberi itu semata karena ilmu yang ada padaku.”
Apa makna ucapan lelaki zalim:
قَالَ مَاۤ اَظُنُّ اَنۡ تَبِيۡدَ هٰذِهٖۤ اَبَدًا ۙ ٣٥
“Aku tidak mengira kebun ini akan binasa selamanya”?
Salah satu hal paling berbahaya yang digunakan setan untuk menipu manusia adalah perasaan bahwa keadaan akan tetap stabil. Setan berkata kepada Adam:
{ فَوَسۡوَسَ إِلَیۡهِ ٱلشَّیۡطَـٰنُ قَالَ یَـٰۤـَٔادَمُ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ وَمُلۡكࣲ لَّا یَبۡلَىٰ }
[سُورَةُ طه: ١٢٠]
“Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
Manusia selalu mencari rasa aman. Setiap kali orang zalim merasa stabil dan kuat, ia semakin melampaui batas. Karena itulah ketika Musa datang kepada Fir’aun, Fir’aun berkata kepada kaumnya:
{ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِیۤ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡیَدۡعُ رَبَّهُۥۤۖ إِنِّیۤ أَخَافُ أَن یُبَدِّلَ دِینَكُمۡ أَوۡ أَن یُظۡهِرَ فِی ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ }
[سُورَةُ غَافِرٍ: ٢٦]
“Aku khawatir ia akan mengubah agamamu atau menimbulkan kerusakan.”
Seakan ia berkata:
“Kalian sudah tahu siapa aku. Aku stabil. Ini lebih aman bagi kalian daripada perubahan yang tidak kalian ketahui.”
Apa makna ucapan berikutnya:
وَّمَاۤ اَظُنُّ السَّاعَةَ قَآٮِٕمَةً ۙ
“Aku tidak mengira kiamat akan terjadi…”?
Ini adalah langkah ketiga, setelah sombong dengan “aku”, lalu merasa aman, lalu berakhir dengan kekufuran.
Ucapan ini punya dua kemungkinan:
1. Ia tahu ia bohong → maka itu merupakan ejekan dan penghinaan.
Seperti orang-orang Quraisy yang melempar tulang dan berkata:
“Siapa yang bisa menghidupkan tulang belulang ini?”
2. Ia percaya dengan ucapannya → maka ia termasuk orang paling bodoh.
Karena tidak ada hubungan antara kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat.
Bahkan biasanya Allah menghalangi dunia dari wali-wali-Nya dan memberikannya kepada musuh-musuh-Nya.
Apa hubungan susunan jawaban lelaki mukmin kepada lelaki kafir?
Jawaban mukmin disusun terbalik dari urutan kesalahan lelaki kafir:
1. Ia menjawab yang paling besar: kufur dan ingkar kiamat
اَكَفَرۡتَ بِالَّذِىۡ خَلَقَكَ مِنۡ تُرَابٍ ثُمَّ مِنۡ نُّـطۡفَةٍ ثُمَّ سَوّٰٮكَ رَجُلًاؕ
→ “Apakah kamu kafir kepada Tuhan yang menciptakanmu…?”
2. Kemudian ia menjawab kesalahannya tentang kekekalan kebun
وَلَوۡلَاۤ اِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ ۚ
→ “Mengapa ketika engkau masuk ke kebunmu tidak engkau katakan…”
3. Terakhir ia jawab kesombongannya tentang harta
اِنۡ تَرَنِ اَنَا اَقَلَّ مِنۡكَ مَالًا وَّوَلَدًا ۚ ٣٩
→ “Jika engkau melihat aku lebih sedikit darimu…”
Karena dosa terbesar harus ditegur pertama kali.
Mengapa disebutkan hanya “tanah” dan “nutfah”?
Karena keduanya adalah dua fase paling hina dalam penciptaan manusia.
Tujuannya bukan menjelaskan detail penciptaan, tetapi menghinakan asal manusia agar ia tidak sombong.
Mengapa lelaki mukmin tidak menjawab kesombongannya, tetapi justru membantah ketika ia mengingkari kiamat?
Karena masalahnya bukan harga diri pribadi.
Ketika kafir itu berkata: “Aku lebih kaya darimu”, si mukmin diam — tidak perlu membalas pamer.
Tetapi ketika ia mengingkari hari kiamat, si mukmin wajib menjelaskan:
“Apakah kamu kafir kepada Tuhan yang menciptakanmu…?”
Ini menunjukkan bahwa penolakannya adalah karena Allah, bukan karena ego.
Apa makna ucapan: “Adapun aku — dialah Allah, Rabbku”?
Ini adalah pengumuman iman.
Ia bangga dengan tauhidnya meskipun ia miskin.
Sebagaimana dikatakan As-Sa‘di, ini adalah syukur atas nikmat iman, dan pengajaran bagi kaum mukmin untuk merasa tinggi dengan agamanya meski keadaan dunia merendahkannya.
Apa makna firman Allah: “Dan mengapa ketika engkau masuk ke kebunmu…”?
Kata “walau lā” di sini bermakna nasihat dan teguran.
Ayat ini membantah ucapannya: “Aku tidak mengira kebun ini akan binasa.”
Seolah-olah lelaki mukmin berkata:
“Seharusnya ucapanmu ketika melihat nikmat adalah ‘Mā syā’a Allāh, lā quwwata illā billāh’.”
Ini adalah sikap orang beriman: merasa fakir kepada Allah — lawan dari sikap merasa cukup seperti orang kafir.
Apa makna: “Jika engkau melihat aku lebih sedikit darimu…”?
Maksudnya:
“Apakah sebab kamu melihat aku lebih miskin, kamu lalu sombong kepadaku?”
Ia kemudian berkata:
فَعَسٰى رَبِّىۡۤ اَنۡ يُّؤۡتِيَنِ خَيۡرًا مِّنۡ جَنَّتِكَ وَيُرۡسِلَ عَلَيۡهَا حُسۡبَانًا مِّنَ السَّمَآءِ فَتُصۡبِحَ صَعِيۡدًا زَلَـقًا ۙ ٤٠
“Maka mudah-mudahan Tuhanku akan memberikan kepadaku (kebun) yang lebih baik dari kebunmu (ini); dan Dia mengirimkan petir dari langit ke kebunmu, sehingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin;”.
Ini menunjukkan kuatnya yakin si mukmin bahwa Allah mampu membolak-balikkan keadaan hanya dengan dua kata:
يُؤْتِيـنِ – يُرْسِل
“Memberi” dan “mengirim”.
Ini mengingatkan pembaca:
“Sesungguhnya perintah Kami terhadap sesuatu hanya dengan Kami mengatakan kepadanya: Jadilah! — maka jadilah ia.”
Apa makna kata “ḥusbānā”?
Para ulama memberikan banyak makna:
1. Azab sebagai balasan (perhitungan) atas amal.
2. Hujan batu atau badai besar.
3. Api dari langit.
4. Petir yang membakar.
Dipilihnya kata yang kaya makna ini menunjukkan luasnya ragam azab Allah dan bahwa bala Allah tidak bisa dihitung jenisnya:
“Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu kecuali Dia.”
Apa makna penyebutan
اَوۡ يُصۡبِحَ مَآؤُهَا غَوۡرًا فَلَنۡ تَسۡتَطِيۡعَ لَهٗ طَلَبًا ٤١
“atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka engkau tidak akan dapat menemukannya lagi.” setelah menyebut hujan azab?
Untuk menunjukkan bahwa bala bisa datang dari atas atau dari bawah.
Jika tidak dihancurkan oleh azab dari langit, maka ia akan dihancurkan oleh hilangnya sumber kehidupan: air.
Apa makna:
وَاُحِيۡطَ بِثَمَرِهٖ
“Dan harta kekayaannya dibinasakan”?
Al-Qur’an tidak merinci kehancuran kebun, hanya menyebutkan dua kata ini.
Padahal ketika menceritakan nikmatnya Allah merinci panjang lebar.
Ini adalah metode Al-Qur’an:
Nikmat dirinci karena layak dirinci, sedangkan musibah cukup dijelaskan secara global untuk mengambil pelajaran.
Ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh menggantungkan hati pada dunia, tetapi bersandar hanya kepada Allah.
*Intisari Pelajaran*
1. **Kesombongan** adalah pintu pertama kekufuran.
2. Nikmat yang salah disikapi menjadi **musibah terbesar**.
3. **Merasa aman** dari musibah adalah tipuan setan.
4. Ketertipuan dunia mengarah ke **pengingkaran akhirat**.
5. Prioritas dakwah: tegur **kekufuran dulu**, bukan urusan dunia.
6. Mukmin tidak peduli penghinaan dunia, tetapi peduli **kehormatan agama**.
7. Jagalah **kondisi hati** saat melihat nikmat.
8. Dunia bisa **menguasai hati** — seperti kebun itu.
9. Adab melihat nikmat: *“Mā syā’a Allāh, lā quwwata illā billāh.”*
10. Allah bisa **mengubah nasib** dalam sekejap.
11. Azab Allah sangat banyak bentuknya.
12. Nikmat dirinci, musibah diglobal — metode Qur’ani untuk mendidik.
13. **Jangan gantungkan hati pada dunia**, tetapi pada Allah.



