Fatawa Umum

Bagaimana Jika Penyembelihan ‘Aqiqah Terlewat Hari Ketujuh?

Pertanyaan

Bismillaah ..

Afwan Ustadz, izin bertanya tentang Aqiqah ..

Kapan Batasan syariat Aqiqah itu ?

Apakah jika ada seorang ana yang pada masu Bayi (Usia 7 hari atau 14 hari) belum di Aqiqah oleh orangtuanya karena alasan finansial (lahir cesar) sehingga menyebabkan tidak bisa menunaikan Aqiqah .. apakah saat sekarang sudah mampu (tapi kondisi anak2 sebagian ada yang sudah baligh sebagian ada yang belum baligh atau menjelang baligh) masih boleh menunaikannya ?

Jazaakallaahu khoyron wa barokallaahu fiikum

Jawaban

Tentang Aqiqah

Aqiqah adalah hewan sembelihan yang disembelih untuk anak yang baru lahir. Asal kata al-‘aqq adalah as-syaqq (membelah) dan al-qat‘ (memotong). Disebut “‘aqiqah” untuk hewan sembelihan karena lehernya disembelih (dibelah). Dan rambut yang tumbuh di kepala bayi ketika lahir juga disebut ‘aqiqah.

Aqiqah merupakan sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) menurut jumhur (mayoritas) ulama, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa’, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“من وُلد له ولد، فأحب أن يَنسُك عن ولده، فليفعل.”

“Barangsiapa yang dikaruniai anak, lalu ia ingin menyembelih (hewan) sebagai aqiqah untuk anaknya, maka hendaklah ia melakukannya.”

Para penulis kitab sunan meriwayatkan dari Samurah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“كل غلام مرتهن بعقيقته، تذبح عنه يوم سابعه، ويحلق، ويتصدق بوزن شعره فضة، أو ما يعادلها، ويسمى.”

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya; disembelihkan hewan untuknya pada hari ketujuh, (rambutnya) dicukur, disedekahkan (dengan) perak seberat timbangan rambutnya, dan ia diberi nama.”

Dalam pelaksanaan aqiqah, sebenarnya tidak ada ritual atau bacaan khusus yang wajib secara syariat selain hal-hal yang disunnahkan atau dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Berikut adalah tata cara aqiqah yang umum dilakukan menurut sunnah:

1. Waktu Pelaksanaan

Dilakukan pada hari ke-7 dari kelahiran anak.

Jika tidak bisa pada hari ke-7, boleh pada hari ke-14, 21, atau kapan saja mampu.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Baihaqi dari Buraidah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“العقيقة تذبح لسبع، أو لأربع عشر، أو لإحدى وعشرين.”

“Aqiqah disembelih pada hari ketujuh, atau hari keempat belas, atau hari kedua puluh satu.”

Jika tidak mampu melakukannya pada waktu-waktu tersebut karena kesulitan ekonomi atau alasan lain, maka boleh melakukan aqiqah setelah waktu-waktu itu ketika telah mampu, tanpa batasan waktu tertentu. Namun, menyegerakan aqiqah ketika ada kemampuan adalah lebih baik.

2. Jumlah Hewan

Anak laki-laki: 2 ekor kambing.

Anak perempuan: 1 ekor kambing.

Berdasarkan hadits riwayat At-Tirmidzi dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan:

“أن يعق عن الغلام شاتان مكافئتان، وعن الجارية شاة.”

“Agar diaqiqahi untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan, dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.”

3. Penyembelihan

Dilakukan atas nama anak yang diaqiqahi.

Disunnahkan membaca:

> “Bismillah, Allahumma laka wa ilayka, hadzihi ‘aqiqat (nama anak)”

Artinya: “Dengan nama Allah, ya Allah ini untuk-Mu dan kepada-Mu, ini adalah aqiqah (nama anak).”

4. Pencukuran Rambut

Dilakukan setelah penyembelihan (boleh bersamaan juga).

Rambut bayi dicukur, kemudian ditimbang dan nilai perak seberat rambutnya disedekahkan.

5. Memberi Nama

Biasanya dilakukan juga pada hari ke-7.

Tidak ada bacaan khusus, atau do khusus, cukup pemberian nama secara baik.

6. Pembagian Daging

Boleh dimasak dulu lalu dibagikan.

Tidak seperti qurban, daging aqiqah boleh dibagikan kepada siapa saja, termasuk orang kaya.

Sebagai tambahan seputar waktu pelaksanaan aqiqah yang terlewatkan waktu sunnahnya, maka berikut penjelasan para Ulama:

🌿 Hukum Waktu Penyembelihan ‘Aqiqah Jika Terlewat Hari Ketujuh

Apabila terlewat hari ketujuh pertama, disunnahkan baginya untuk menyembelih pada hari ketujuh kedua atau ketujuh ketiga, tanpa ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Hal ini diriwayatkan dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya raḍiyallāhu ‘anhum, serta merupakan pendapat para imam dari kalangan fuqahā’.

Disebutkan dari ‘Abdullāh bin Buraydah, dari ayahnya raḍiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

 «الْعَقِيقَةُ تُذْبَحُ لِسَبْعٍ، أَوْ أَرْبَعَ عَشْرَةَ، أَوْ إِحْدَى وَعِشْرِينَ»

“Aqiqah disembelih pada hari ketujuh, atau hari keempat belas, atau hari kedua puluh satu.”

Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Awsath dan Ash-Shaghir, serta oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra.

Diriwayatkan pula dari Ummu Kurz raḍiyallāhu ‘anhā, ia berkata:

Seorang wanita dari keluarga ‘Abdurrahman bin Abī Bakr raḍiyallāhu ‘anhumā berkata:

“Jika istri ‘Abdurrahman melahirkan anak laki-laki, kami akan menyembelih seekor unta.”

Maka ‘Āisyah raḍiyallāhu ‘anhā berkata:

“لَا، بَلِ السُّنَّةُ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ، يُطْبَخُ جَدْوَلًا، وَلَا يُكْسَرُ لَهَا عَظْمٌ، فَيَأْكُلُ وَيُطْعِمُ وَيَتَصَدَّقُ؛ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي الْيَوْمِ السَّابِعِ، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَفِي أَرْبَعَ عَشْرَةَ، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَفِي إِحْدَى وَعِشْرِينَ” أخرجه ابن راهويه في “مسنده”.

“Tidak, tetapi sunnahnya untuk anak laki-laki adalah dua ekor kambing yang sepadan, dan untuk anak perempuan seekor kambing. Dimasak tanpa mematahkan tulangnya, lalu ia makan, memberi makan, dan bersedekah. Hendaknya dilakukan pada hari ketujuh. Jika tidak, maka pada hari keempat belas. Jika tidak juga, maka pada hari kedua puluh satu.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Rāhawayh dalam Musnad-nya.

Dari Samurah bin Jundub raḍiyallāhu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

 «الغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُسَمَّى، وَيُحْلَقُ»

“Seorang anak tergadai dengan aqiqahnya; disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, diberi nama, dan dicukur rambutnya.”

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam As-Sunan.

At-Tirmidzi berkata:

[هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ، وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ العِلْمِ يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُذْبَحَ عَنِ الغُلاَمِ العَقِيقَةُ يَوْمَ السَّابِعِ، فَإِنْ لَمْ يَتَهَيَّأْ يَوْمَ السَّابِعِ فَيَوْمَ الرَّابِعَ عَشَرَ، فَإِنْ لَمْ يَتَهَيَّأْ عُقَّ عَنْهُ يَوْمَ حَادٍ وَعِشْرِينَ] اهـ.

“Hadis ini hasan sahih. Amalan para ulama mengikuti hal ini: disunnahkan menyembelih aqiqah pada hari ketujuh. Jika tidak sempat pada hari ketujuh, maka pada hari keempat belas. Jika tidak juga, maka pada hari kedua puluh satu.”

📘 Pendapat Para Imam Mazhab

🔹 Imam Ibnu Rusyd Al-Māliki berkata dalam Al-Bayān wa At-Tahṣīl (3/391):

[رَوَى ابنُ وهب: أنه إن لم يعقّ عنه يوم سابعه عقّ عنه يوم السابع الثاني، فإن لم يفعل عقّ عنه في الثالث] اهـ.

“Ibnu Wahb meriwayatkan: Jika tidak di-aqiqahi pada hari ketujuh, maka di-aqiqahi pada hari ketujuh kedua. Jika tidak juga, maka pada hari ketujuh ketiga.”

🔹 Imam An-Nawawi berkata dalam Rawḍat ath-Thālibīn (3/229):

[قال أبو عبد الله الْبُوشَنْجِيُّ من أصحابنا: إن لم تذبح في السابع، ذبحت في الرابع عشر، وإلا ففي الحادي والعشرين] اهـ.

“Abū ‘Abdillāh Al-Būsyanjī dari kalangan sahabat kami berkata: Jika tidak disembelih pada hari ketujuh, maka disembelih pada hari keempat belas; jika tidak, maka pada hari kedua puluh satu.”

🔹 Imam Ibnu Qudāmah berkata dalam Al-Mughnī (9/461):

[ويذبح يوم السابع، قال أصحابنا: السنة أن تذبح يوم السابع، فإن فات ففي أربع عشرة، فإن فات ففي إحدى وعشرين. ويروى هذا عن عائشة رضي الله عنها. وبه قال إسحاق.. وأما كونه في أربع عشرة، ثم في أحد وعشرين، فالحجة فيه قول عائشة رضي الله عنها، وهذا تقديرٌ؛ الظاهر أنها لا تقوله إلا توقيفًا] اهـ.

“Disembelih pada hari ketujuh. Para sahabat kami berkata: Sunnahnya disembelih pada hari ketujuh. Jika terlewat, maka pada hari keempat belas; jika terlewat lagi, maka pada hari kedua puluh satu. Hal ini diriwayatkan dari ‘Āisyah raḍiyallāhu ‘anhā, dan pendapat ini juga dipegang oleh Ishāq.

Adapun penetapan waktu empat belas dan dua puluh satu hari, maka hujjahnya adalah perkataan ‘Āisyah raḍiyallāhu ‘anhā. Ini adalah penetapan yang tampaknya tidak diucapkan beliau kecuali berdasarkan tuntunan (tawqīf) dari Nabi ﷺ.”

🔹 Al-‘Allāmah Ibnu Al-Qaṭṭān dalam Al-Iqnā‘ fī Masā’il Al-Ijmā‘ (1/306):

[وقوله عليه السلام: «الغلامُ مُرتَهِنٌ بِعَقِيقَته» دليل أنها عن الغلام لا عن الكبير، وعليه مذاهب العلماء في مراعاة السابع؛ الأول، والثاني، والثالث] اهـ.

“Sabda Nabi ﷺ: ‘Seorang anak tergadai dengan aqiqahnya’ menunjukkan bahwa aqiqah itu dilakukan untuk anak kecil, bukan untuk orang dewasa. Berdasarkan itu, para ulama memperhatikan hitungan hari ketujuh: pertama, kedua, dan ketiga.”

📚 Jika Terlewat Semua Waktu Tersebut

Apabila terlewat hari ketujuh pertama, kedua, dan ketiga, maka:

Menurut mazhab Asy-Syafi‘iyyah: disyariatkan menyembelihnya sebelum anak baligh.

Menurut sebagian ulama lainnya: boleh menyembelih kapan saja sebagai qadha’ (pengganti) karena tidak ada waktu yang disyaratkan dalam pelaksanaan qadha’.

Imam Al-Qarāfī dalam Adz-Dzakhīrah (4/164) berkata:

[فإن فاته -أي السابع الثالث- ففي الرابع؛ وهو مروي عن مالك، وأهل العراق يعقون عن الكبير] اهـ.

> “Jika terlewat hari ketujuh ketiga, maka pada hari ketujuh keempat. Hal ini diriwayatkan dari Mālik. Adapun penduduk Irak, mereka meng-aqiqahi untuk orang yang telah dewasa.”

Imam An-Nawawi berkata dalam Rawḍat ath-Thālibīn (3/229):

[ولا تفوت بتأخيرها عن السبعة، لكن الاختيار أن لا تُؤَخَّر إلى البلوغ] اهـ.

“Aqiqah tidak gugur dengan keterlambatan dari hari ketujuh, namun yang lebih utama adalah tidak menundanya sampai anak baligh.”

Al-Hāfizh Ibnu Hajar berkata dalam Fath al-Bārī (9/594):

[ذكر الأسابيع للاختيار لا للتعيين؛ فنقل الرافعي أنه يدخل وقتها بالولادة؛ قال: وذكر السابع في الخبر بمعنى أن لا تُؤَخَّر عنه اختيارًا، ثم قال: والاختيار أن لا تُؤَخَّر عن البلوغ] اهـ.

“Penyebutan hari-hari ketujuh itu menunjukkan pilihan waktu, bukan penetapan wajib. Ar-Rāfi‘ī menyebutkan bahwa waktunya masuk sejak kelahiran. Disebutkan hari ketujuh dalam hadis hanya untuk menunjukkan agar tidak ditunda, dan yang utama adalah tidak menundanya sampai anak baligh.”

Imam Ibnu Qudāmah dalam Al-Mughnī (9/461) berkata:

[احتمل أن يجوز في كل وقت؛ لأن هذا قضاء فائت، فلم يتوقف؛ كقضاء الأضحية وغيرها] اهـ.

“Ada kemungkinan bahwa penyembelihan aqiqah boleh dilakukan kapan saja, karena ia adalah qadha atas amalan yang terlewat, sehingga tidak terikat waktu, seperti qadha kurban dan lainnya.”

Imam Ibnu Hazm dalam Al-Muhallā (6/234) berkata:

[فإن لم يذبح في اليوم السابع ذبح بعد ذلك متى أمكن] اهـ.

“Jika tidak disembelih pada hari ketujuh, maka disembelih setelah itu kapan saja memungkinkan.”

🌿 Kesimpulan:

Dari semua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa:

Waktu utama aqiqah adalah hari ketujuh setelah kelahiran.

Jika terlewat, maka hari keempat belas, lalu hari kedua puluh satu.

Jika semua waktu itu terlewat, boleh dilakukan kapan saja, bahkan setelah anak dewasa, selama diniatkan dengan benar.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button