TADABBUR SURAH AL KAHFI 7

*TADABBUR SURAH AL KAHFI 7*
*Fitnah Aqidah dalam Kisah Ashabul Kahfi (QS Al-Kahfi 9–26)*
Surah Al-Kahfi — melalui petunjuk-petunjuk rabbani, kisah-kisah, berita-berita gaib, dan peristiwa-peristiwa masa silam — telah membahas jenis-jenis fitnah terbesar yang menimpa manusia, dan yang juga kita alami dalam kehidupan kita saat ini: fitnah agama, fitnah harta, fitnah ilmu, dan fitnah kekuasaan serta jabatan. Kita akan membahas seluruh fitnah ini dengan sedikit penjelasan dan perincian, sebagai pendidikan jiwa, penyucian akhlak, peneguhan iman, pengokohan nilai, dan penjagaan dari fitnah.
Pembahasan kita kali ini adalah tentang fitnah aqidah/agama, yang merupakan fitnah terbesar dan paling berbahaya.
Banyak mufasir, sejarawan, dan ulama lainnya menyebutkan bahwa Ashabul Kahfi hidup pada masa seorang raja bernama Daqyānūs. Mereka adalah para pemuda dari keluarga-keluarga terhormat. Pada suatu hari raya kaumnya, mereka melihat kaumnya menyembah berhala, bersujud kepada patung, dan mengagungkannya. Allah membukakan mata hati mereka, mengangkat tabir kelalaian dari hati mereka, dan memberi mereka petunjuk. Mereka pun mengetahui bahwa kaum mereka berada dalam kesesatan. Mereka keluar dari agama kaumnya dan berpindah kepada ibadah kepada Allah semata, tanpa sekutu. (Al-Bidāyah wan-Nihāyah 2/135).
Mereka adalah pemuda-pemuda terpandang dan kaya. Mereka melihat penyimpangan kaumnya dari agama — dengan menyembah berhala, terikat kepada dunia, dan melupakan akhirat. Mereka mencoba melakukan perbaikan sejauh mampu:
(هَؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِم بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا)
“Kaum kami ini telah menjadikan sesembahan selain Dia; mengapa mereka tidak mendatangkan bukti yang jelas? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (QS. Al-Kahfi: 14–15)
Namun mereka menghadapi tekanan, persekusi, dan permusuhan berat. Mereka takut agama dan akidah mereka — modal terbesar mereka — hilang. Maka mereka memutuskan untuk melarikan diri ke sebuah gua yang gelap, sempit, dan menakutkan, demi menjaga agama mereka.
Celakalah hidup di istana megah tanpa agama…
Celakalah hidup bergelimang harta tanpa agama…
Celakalah hidup penuh jabatan dan kekuasaan tanpa agama…
Allah berfirman:
(أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا * إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا * فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا)
(QS. Al-Kahfi: 9–10)
Ayat 9
“Apakah kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (memiliki) batu yang tertulis itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”
Ayat 10
“(Ingatlah) ketika para pemuda itu mencari perlindungan ke dalam gua, lalu mereka berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan berilah kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.’”
Husnuzan kepada Allah mendorong para pemuda ini — yang menentang keluarga dan kaumnya — untuk lari kepada Allah dan mencari keridaan-Nya. Mereka meninggalkan kehidupan lapang menuju sempitnya gua demi agama. Allah pun melapangkan gua itu dengan rahmat-Nya:
(فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُمْ مِرْفَقًا)
(QS. Al-Kahfi: 16)
Ayat 16
“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua. Niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.”
Perhatikan firman-Nya:
(يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحْمَتِهِ)
“Rabb kalian akan melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian.”
Sebagian kecil rahmat Allah saja cukup untuk menjadikan gua, penjara, atau sel sempit sebagai taman surga.
Allah menidurkan mereka selama 309 tahun, menjaga mereka hingga raja zalim itu binasa dan masyarakat musyrik itu hancur:
{ فَضَرَبۡنَا عَلَىٰۤ ءَاذَانِهِمۡ فِی ٱلۡكَهۡفِ سِنِینَ عَدَدࣰا (١١) ثُمَّ بَعَثۡنَـٰهُمۡ لِنَعۡلَمَ أَیُّ ٱلۡحِزۡبَیۡنِ أَحۡصَىٰ لِمَا لَبِثُوۤا۟ أَمَدࣰا (١٢) نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَیۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ إِنَّهُمۡ فِتۡیَةٌ ءَامَنُوا۟ بِرَبِّهِمۡ وَزِدۡنَـٰهُمۡ هُدࣰى (١٣) } [سُورَةُ الكَهۡفِ: ١١-١٣]
(QS. Al-Kahfi: 11–13)
Ayat 11
“Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.”
Ayat 12
“Kemudian Kami bangunkan mereka agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).”
Ayat 13
“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”
Contoh Fitnah Agama pada Zaman Nabi ﷺ dan Para Sahabat
Rasulullah ﷺ dan para sahabat menghadapi fitnah agama dengan berbagai bentuk: bujukan harta, jabatan, ancaman siksa, pengusiran, hingga pembunuhan. Namun mereka tetap teguh. Ketika ditawarkan kompromi: “Setahun menyembah Allah dan setahun menyembah berhala kami.”
Mereka menolak dan tetap teguh meski harus berkorban jiwa.
Mereka berhijrah ke Habasyah kemudian ke Madinah, meninggalkan kampung halaman demi menjaga agama. Mereka mencari “gua keselamatan” seperti Ashabul Kahfi.
*Macam-macam Fitnah agama*
1. Tekanan masyarakat & penguasa musyrik agar meninggalkan tauhid
Puncaknya terdapat dalam ayat ini:
📌 QS Al-Kahfi: 14
> وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَا مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا
Artinya (Kemenag):
“Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu berkata, ‘Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak akan menyeru Tuhan selain Dia. Jika kami melakukan demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.’”
Ayat ini menunjukkan:
– Mereka ditekan untuk meninggalkan tauhid.
– Namun mereka tetap menyatakan dengan tegas kalimat tauhid.
2. Ancaman kematian dan pemaksaan agama
Ini disebutkan dalam ayat 20, sebagaimana Anda minta:
📌 QS Al-Kahfi: 20
> إِنَّهُمْ إِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَن تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا
Artinya (Kemenag):
“Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempari kamu dengan batu, atau memaksa kamu kembali kepada agama mereka; dan jika kamu kembali (kepada agama mereka), kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.”
Ayat ini menunjukkan dua fitnah besar:
– Ancaman dibunuh (“يرجموكم”).
– Pemaksaan untuk kembali kepada agama kufur (“يعيدوكم في ملتهم”).
3. Tekanan sosial & politik untuk menyembah selain Allah
Hal ini tercermin dalam ayat:
QS Al-Kahfi: 15
> هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً
Artinya (Kemenag):
“Kaum kami telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan sembahan…”
Ayat ini menggambarkan:
– Lingkungan sosial yang penuh syirik.
– Tekanan sosial untuk mengikuti agama penguasa.
– Fitnah aqidah yang menyeluruh dalam masyarakat.
Cara selamat dari fitnah aqidah adalah dengan melarikan diri dari lingkungan syirik, sabar, memperkuat iman, dan membaca doa perlindungan (ayat 10):
رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
“Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan siapkanlah bagi kami petunjuk dalam urusan kami ini.”
*Cara Memperkuat Akidah dan Terhindar dari Fitnah Aqidah*
Pertama: Pentingnya Menjaga Agama
Kebajikan agama seseorang di dunia berarti kebahagiaan dan keberhasilannya di akhirat. Agama adalah modal utama seorang Muslim. Barang siapa mengabaikannya dan membiarkan dirinya terjerumus dalam fitnah, maka ia akan merugi dan gagal. Sebaliknya, barang siapa menjaga dan memperkuat agamanya, ia akan beruntung dan sukses.
Oleh karena itu, doa Nabi ﷺ:
( اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ) .
> “Ya Allah, perbaiki agamaku yang merupakan penopang urusanku, perbaiki duniaku yang menjadi tempat rezekiku, perbaiki akhiratku yang menjadi tempat kembaliku, jadikan hidupku sebagai tambahan kebaikan bagiku, dan jadikan kematianku sebagai ketenangan dari segala keburukan.”
(HR. Muslim 2720)
Al-Munawi – rahimahullah – menjelaskan:
( اللهم أصلح لي ديني الذي هو عصمة أمري ) أي : الذي هو حافظ لجميع أموري ، فإن مَن فسد دينُه فسدت جميعُ أموره وخاب وخسر في الدنيا والآخرة .
> “Ya Allah, perbaiki agamaku yang merupakan penopang urusanku,” artinya agama yang menjaga seluruh urusannya. Barang siapa rusak agamanya, rusaklah seluruh urusannya dan ia akan merugi di dunia dan akhirat.
(Faid al-Qadir 2/173).
Kedua: Cara Memperkuat Agama dan Melindungi dari Fitnah
Seorang Muslim, dengan izin Allah, dapat memperkuat agamanya dan memeliharanya dari fitnah dengan mengikuti petunjuk para mukmin yang saleh. Di antaranya:
1. Menjauhi Lingkungan yang Rusak
Menjauhi tempat tinggal penuh kekufuran atau kemaksiatan.
Menghindari pergaulan dengan orang fasik.
Lingkungan kafir atau buruk bisa mempengaruhi hati orang Muslim jika tinggal di tengah mereka.
Menghindari perselisihan antara Muslim, terutama yang bisa menimbulkan perpecahan dan permusuhan.
Ibnu Taimiyah – rahimahullah – berkata:
ومن استقرأ أحوال الفتن التي تجري بين المسلمين : تبيَّن له أنه ما دخل فيها أحدٌ فحمد عاقبة دخوله ؛ لما يحصل له من الضرر في دينه ودنياه ، ولهذا كانت مِن باب المنهي عنه ، والإمساك عنها من المأمور به الذي قال الله فيه ( فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم ) . ” منهاج السنَّة النبوية ” ( 4 / 410 ) .
> Terjemahannya:
“Barang siapa meneliti keadaan fitnah yang terjadi di antara kaum Muslimin, maka akan tampak baginya bahwa tidak ada seorang pun yang memasukinya lalu memuji akibat masuknya, karena apa yang diperoleh darinya berupa kerugian terhadap agamanya dan dunianya. Oleh sebab itu, perkara ini termasuk yang dilarang, dan menjauhinya adalah termasuk yang diperintahkan, sebagaimana Allah berfirman: (‘Maka hendaklah orang-orang yang menentang perintah-Nya berhati-hati, agar tidak menimpa mereka fitnah atau azab yang pedih’) [An-Nur: 63].”
Sumber: Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah (4/410).
2. Memperkuat Iman melalui Ibadah
Melakukan kewajiban, menjauhi larangan, dan meningkatkan ketaatan.
Shalat adalah kewajiban terbesar; menjaga waktunya, syaratnya, rukun, dan khusyuk.
Allah berfirman:
( وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ) العنكبوت/ من الآية 45 .
“Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan munkar.” QS. Al-Ankabut: 45.
Nabi ﷺ menasihati untuk bersegera melakukan kebaikan agar selamat dari fitnah dunia seperti harta, wanita, kedudukan.
Nabi ﷺ memperingatkan: seseorang bisa menjadi Muslim di malam hari, tapi kafir di siang hari, atau sebaliknya, menjual agamanya demi kesenangan dunia.
Rasulullah ﷺ menganjurkan untuk melaksanakan seluruh ketaatan sebagai jalan untuk selamat dari fitnah agama, dan memperingatkan agar fitnah dunia seperti harta, wanita, dan kedudukan tidak menjadi sebab seseorang menjual agamanya demi itu. Beliau memberi tahu bahwa seseorang bisa saja menjadi Muslim pada malam hari, lalu murtad di siang hari; atau menjadi Muslim di siang hari, lalu murtad di malam hari.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:
( بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا ، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا ) . رواه مسلم ( 118 ) .
‘Bersegeralah melakukan amal, karena fitnah itu seperti potongan malam yang gelap; seseorang menjadi Muslim pada pagi hari lalu menjadi kafir di sore hari, atau menjadi Muslim di sore hari lalu menjadi kafir di pagi hari, menjual agamanya demi sedikit kenikmatan dunia.’
(HR. Muslim no. 118).”
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin – rahimahullah – menjelaskan:
المهم : أن الرسول عليه الصلاة والسلام حذرنا من هذه الفتن التي كقطع الليل المظلم ، يصبح الإنسان مؤمناً ويمسى كافراً – والعياذ بالله – يومٌ واحدٌ يرتد عن الإسلام ، يخرج من الدَّين ، يصبح فيه مؤمناً ويمسى كافراً – نسأل الله العافية – لماذا ؟ يبيع دينه بعرَض من الدنيا ، ولا تظن أن العرَض من الدنيا هو المال ! كل متاع الدنيا عرَض ، سواء مال ، أو جاه ، أو رئاسة ، أو نساء ، أو غير ذلك ، كل ما في الدنيا من متاع : فإنه عرَض ، كما قال تعالى : ( تبتغون عرَض الحياة الدنيا فعند الله مغانم كثيرة ) فما في الدنيا كله عرَض .
فهؤلاء الذين يُصبحون مؤمنين ويمسون كفاراً ، أو يمسون ويصبحون كفاراً : كلهم يبيعون دينهم بعرَض من الدنيا .
نسأل الله أن يعيذنا وإياكم من الفتن ، واستعيذوا دائما من الفتن . ” شرح رياض الصالحين ” ( 2 / 20 ) .
“Yang penting: Rasulullah ﷺ memperingatkan kita dari fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap, di mana seseorang bisa menjadi mukmin di pagi hari lalu menjadi kafir di sore hari—mohon perlindungan Allah—sehari saja ia bisa murtad dari Islam, keluar dari agama, menjadi mukmin di pagi hari lalu menjadi kafir di sore hari. Mengapa? Karena ia menjual agamanya demi sesuatu yang fana dari dunia. Jangan mengira bahwa ‘sesuatu yang fana dari dunia’ hanyalah harta! Semua kenikmatan dunia bersifat fana, baik harta, kedudukan, jabatan, wanita, atau selainnya; semua yang ada di dunia hanyalah sementara, sebagaimana firman Allah: “Kamu mencari kenikmatan kehidupan dunia, padahal di sisi Allah terdapat banyak keuntungan (yang hakiki).” Maka semua yang ada di dunia hanyalah sementara.
Orang-orang yang menjadi mukmin di pagi hari lalu kafir di sore hari, atau mukmin di sore hari lalu kafir di pagi hari, semua itu menjual agamanya demi sesuatu yang fana dari dunia.
Kita memohon kepada Allah agar melindungi kita dan kalian dari fitnah-fitnah, dan selalu berlindung dari segala fitnah.” (Syarh Riyadh as-Salihin, 2/20)
3. Doa
Memohon perlindungan dari Allah agar teguh di agama dan jalan yang lurus.
Contoh doa: QS. Al-Fatihah:
( اهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيم )
“Ihdinas-siratal-mustaqim”
Doa Nabi ﷺ:
اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ
“Ya Allah, tunjukilah aku kepada orang-orang yang Engkau beri petunjuk, lindungilah aku dari orang-orang yang Engkau beri perlindungan, pimpin aku dengan orang yang Engkau pimpin, berkahilah apa yang Engkau berikan kepadaku, dan lindungilah aku dari kejahatan yang Engkau tetapkan…”
(HR. Tirmidzi 464, Abu Dawud 1425)
4. Menjauhi pergaulan buruk
Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau ﷺ bersabda:
( الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ ) .
“Seseorang mengikuti agama temannya, maka perhatikan siapa yang kamu jadikan teman.”
(HR. Abu Dawud 4833, Tirmidzi 2378)
Ikuti hanya teman yang agamanya baik dan terpercaya.
Al-Khattabi – rahimahullah – berkata:
لا تخالل إلا من رضيت دينه وأمانته ؛ فإنك إذا خاللته قادك إلى دينه ومذهبه ، فلا تُغَرِّرْ بدينك ولا تخاطر بنفسك فتخالل من ليس مرضيّاً في دينه ومذهبه .
“Jangan bergaul akrab kecuali dengan orang yang engkau puas dengan agamanya dan kejujurannya; karena jika engkau bergaul dengannya, ia akan menuntunmu kepada agamanya dan madzhabnya. Jangan engkau mempertaruhkan agamamu atau mengambil risiko dengan bergaul dengan orang yang agamanya dan madzhabnya tidak engkau puas.” “Al-‘Uzlah” (hal. 141)
5. Belajar ilmu syar’i dan merujuk pada ulama terpercaya
Orang yang tidak tahu agama mudah tertipu oleh fitnah.
Banyak yang terjerumus karena kebodohan, seperti mempercayai sesuatu yang batil di dunia atau ikut-ikutan kemusyrikan.
Maka salah satu cara terpenting bagi seorang Muslim untuk menolak fitnah yang mengancam agamanya adalah dengan ilmu syar’i. Karena itu, orang yang jahil lebih rentan terhadap fitnah dalam agamanya. Perhatikan mereka yang mengelilingi kuburan, atau yang meyakini adanya manfaat atau mudharat dari orang mati; jika engkau meneliti keadaan mereka, engkau akan melihat bahwa mereka termasuk orang-orang yang jahil. Dan siapa pun di antara mereka yang memiliki ilmu, ia termasuk orang yang telah menjual agamanya demi menikmati sesuatu yang fana dari dunia.
Ketiga: Jika Terjerumus dalam Fitnah Agama
Barang siapa terkena fitnah agama, hendaknya:
1. Segera keluar darinya dengan taubat nasuha.
2. Mengubah lingkungan menjadi bersih dan baik.
3. Berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh.
4. Mengikuti dengan amal saleh sebanyak-banyaknya.
QS. Hud: 114–115
وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ * وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
“Dirikanlah shalat di kedua ujung siang dan di awal malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan menghapus kejahatan. Itu adalah peringatan bagi orang-orang yang mengingat. Bersabarlah, karena Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
5. Mengetahui kelemahan diri dan asal-usul fitnah. Jika fitnahnya terkait nafsu, berusaha menjaganya melalui pernikahan atau puasa. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa puasa bisa menahan nafsu.
*Penutup*
Maka marilah kita jaga agama selama masih dalam keadaan aman, tenteram dan sentausa, berlindunglah kepada Allah agar dijauhkan dari segala fitnah yang membinasakan, jagalah tauhid kita karena ia adalah gua keselamatan. Terapkan syariat dalam kehidupan sehari-hari, satukan barisan, dan sebarkan agama ini dengan akhlak dan keteladanan.
Wallāhu a‘lam



