Tatsqif

Catatan penjelasan Al Aqidah Al Washithiyah

Catatan penjelasan Al Aqidah Al Washithiyah

Pendahuluan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ؛ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

“Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kita serta kejelekan amal-amal kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan-Nya, tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

“Amma ba‘du. Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama. Setiap perkara baru dalam agama adalah bid‘ah, setiap bid‘ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan membawa ke neraka.”

Kemudian, di antara nikmat Allah kepada umat ini adalah bahwa Allah telah menyempurnakan agama mereka, menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka, dan meridhai Islam sebagai agama mereka.

Dalilnya adalah firman Allah تعالى:

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾
[المائدة: 3]

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kalian, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.”

Rasulullah ﷺ tidaklah diwafatkan kecuali setelah meninggalkan umat ini di atas jalan yang putih dan terang; malamnya seperti siangnya, tidak ada seorang pun yang menyimpang darinya kecuali akan binasa.

Beliau ﷺ tidak meninggalkan suatu kebaikan yang mendekatkan umat kepada surga dan menjauhkan mereka dari neraka kecuali telah beliau tunjukkan. Dan tidak ada suatu keburukan pun kecuali beliau telah memperingatkan umat darinya, sehingga orang yang binasa benar-benar binasa setelah datang kepadanya keterangan yang nyata, dan orang yang hidup benar-benar hidup berdasarkan keterangan yang nyata.

Hal ini sejalan dengan firman Allah:

﴿لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَى مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ﴾
[الأنفال: 42]

“Agar orang yang binasa, binasa setelah datang kepadanya bukti yang nyata; dan agar orang yang hidup, hidup setelah datang kepadanya bukti yang nyata.”

Mengembalikan Perselisihan kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Allah عز وجل memerintahkan kita ketika terjadi perselisihan agar mengembalikannya kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ serta menjadikan keduanya sebagai hakim dalam perkara yang diperselisihkan.

Allah تعالى berfirman:

﴿فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا﴾
[النساء: 59]

“Apabila kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah perkara itu kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.”

Di atas manhaj inilah generasi Salaf dari umat ini berjalan, yaitu para sahabat dan tabi‘in, serta siapa saja yang menempuh jalan dan mengikuti jejak mereka.

Pentingnya Akidah Salafiyah di antara Akidah-Akidah Lainnya

Pentingnya mempelajari akidah Salafiyah bersumber dari pentingnya akidah itu sendiri dan kebutuhan untuk bekerja secara sungguh-sungguh dan terus-menerus dalam mengembalikan manusia kepadanya. Hal tersebut karena beberapa perkara.

Pertama: Akidah yang Mempersatukan Kaum Muslimin

Dengan akidah ini, barisan kaum Muslimin dan para dai dapat dipersatukan serta kalimat mereka dapat dihimpun.

Tanpa akidah ini, mereka akan tercerai-berai. Sebab akidah Salafiyah adalah akidah yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, dan generasi pertama dari kalangan para sahabat.

Setiap persatuan yang dibangun di atas landasan yang menyelisihinya pada akhirnya akan menghadapi kelemahan dan perpecahan.

Kedua: Mengagungkan Nash Al-Qur’an dan Sunnah

Akidah Salafiyah menjadikan seorang Muslim mengagungkan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah.

Ia menjaganya dari menolak kandungan makna nash-nash tersebut atau mempermainkan penafsirannya agar sesuai dengan hawa nafsu.

Dengan demikian, sumber agama diterima dengan sikap tunduk, iman, dan pengagungan.

Ketiga: Menghubungkan Seorang Muslim dengan Salaf

Akidah ini menghubungkan seorang Muslim dengan generasi Salaf, yaitu para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Hal tersebut akan menambah kemuliaan, iman, dan rasa bangganya terhadap jalan mereka.

Mereka adalah para pemimpin wali-wali Allah dan imam orang-orang yang bertakwa.

Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه:

«إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ ﷺ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ، فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ ﷺ، فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ، فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ، يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْهُ سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ»

“Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba, lalu Dia mendapati hati Muhammad ﷺ sebagai hati terbaik di antara hati seluruh hamba. Maka Allah memilih beliau untuk diri-Nya dan mengutus beliau membawa risalah-Nya.

Kemudian Allah melihat hati para hamba setelah hati Muhammad ﷺ, lalu Dia mendapati hati para sahabat beliau sebagai hati terbaik di antara hati para hamba. Maka Allah menjadikan mereka sebagai para pembantu Nabi-Nya yang berjuang membela agama-Nya.

Apa yang dipandang baik oleh kaum Muslimin, maka ia baik di sisi Allah, dan apa yang mereka pandang buruk, maka ia buruk di sisi Allah.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (1/379), dan sanadnya dinilai sahih oleh Syaikh Ahmad Syakir, no. 3600.

Dalam konteks atsar ini, yang dimaksud dengan “kaum Muslimin” adalah para sahabat sebagaimana terlihat dari rangkaian pembicaraan sebelumnya, bukan berarti setiap perkara yang dianggap baik oleh sebagian masyarakat otomatis menjadi dalil syariat.

Perkataan tentang Mengikuti Para Sahabat

Diriwayatkan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما:

«مَنْ كَانَ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ ﷺ؛ كَانُوا خَيْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ، أَبَرَّهَا قُلُوبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللَّهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ ﷺ، وَنَقْلِ دِينِهِ، فَتَشَبَّهُوا بِأَخْلَاقِهِمْ وَطَرَائِقِهِمْ، فَهُمْ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ ﷺ، كَانُوا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيمِ، وَاللَّهِ رَبِّ الْكَعْبَةِ»

“Barang siapa hendak mengikuti suatu teladan, hendaklah ia mengikuti orang yang telah meninggal. Mereka adalah para sahabat Muhammad ﷺ.

Mereka adalah generasi terbaik umat ini, orang-orang yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit sikap berlebih-lebihan serta memaksakan diri.

Mereka adalah suatu kaum yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya ﷺ dan menyampaikan agama-Nya. Maka teladanilah akhlak dan jalan mereka.

Mereka adalah para sahabat Muhammad ﷺ. Mereka berada di atas petunjuk yang lurus. Demi Allah, Rabb Ka‘bah.”

Penulis merujuk kepada Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu‘aim (1/305).

Keempat: Kejelasan dan Kemudahan Akidah Salafiyah

Akidah Salafiyah memiliki karakter berupa kejelasan. Sebab ia menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai titik tolak dalam membangun pemahaman dan keyakinan.

Ia jauh dari penyimpangan melalui ta’wil yang batil, penolakan sifat-sifat Allah (ta‘thil), dan penyerupaan Allah dengan makhluk (tasybih).

Akidah ini menyelamatkan orang yang berpegang teguh kepadanya dari kebinasaan akibat membicarakan hakikat Dzat Allah tanpa ilmu, serta dari menolak nash-nash Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ.

Karena itu, akidah tersebut akan menumbuhkan dalam diri seseorang sikap ridha dan tenteram terhadap takdir Allah, serta kesadaran akan keagungan Allah.

Akidah ini juga tidak membebani akal untuk menyelami perkara-perkara gaib yang berada di luar kemampuannya.

Maka akidah Salafiyah adalah akidah yang mudah, jelas, dan jauh dari kerumitan serta sikap memaksakan sesuatu yang tidak mampu dijangkau akal manusia.

Pentingnya al-‘Aqidah al-Wasithiyyah di antara Kitab-Kitab Akidah Salaf

Kitab al-‘Aqidah al-Wasithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله termasuk karya akidah Salafiyah yang paling mudah dan sederhana untuk dipelajari.

Bahasanya jelas, dalil-dalilnya kuat, dan ungkapannya ringkas.

Allah memberikan penerimaan yang luas terhadap kitab ini. Para penuntut ilmu menyambutnya, mempelajarinya, saling mengkajinya, kemudian mengajarkannya dan menghafalnya dari generasi ke generasi.

Kitab ini benar-benar termasuk salah satu tulisan paling komprehensif sekaligus ringkas mengenai akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah.

Mengapa Dinamakan al-‘Aqidah al-Wasithiyyah?

Pertanyaan ini dijawab sendiri oleh penulisnya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله.

Beliau berkata:

«قَدِمَ عَلَيَّ مِنْ أَرْضِ وَاسِطٍ بَعْضُ قُضَاةِ نَوَاحِيهَا ـ شَيْخٌ يُقَالُ لَهُ: رَضِيُّ الدِّينِ الْوَاسِطِيُّ، مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ ـ قَدِمَ عَلَيْنَا حَاجًّا، وَكَانَ مِنْ أَهْلِ الْخَيْرِ وَالدِّينِ، وَشَكَا مَا النَّاسُ فِيهِ بِتِلْكَ الْبِلَادِ وَفِي دَوْلَةِ التَّتَرِ؛ مِنْ غَلَبَةِ الْجَهْلِ وَالظُّلْمِ، وَدُرُوسِ الدِّينِ وَالْعِلْمِ، وَسَأَلَنِي أَنْ أَكْتُبَ لَهُ عَقِيدَةً تَكُونُ عُمْدَةً لَهُ وَلِأَهْلِ بَيْتِهِ، فَاسْتَعْفَيْتُ مِنْ ذَلِكَ، وَقُلْتُ: قَدْ كَتَبَ النَّاسُ عَقَائِدَ مُتَعَدِّدَةً، فَخُذْ بَعْضَ عَقَائِدِ أَئِمَّةِ السُّنَّةِ. فَأَلَحَّ فِي السُّؤَالِ، وَقَالَ: مَا أُحِبُّ إِلَّا عَقِيدَةً تَكْتُبُهَا أَنْتَ. فَكَتَبْتُ لَهُ هَذِهِ الْعَقِيدَةَ وَأَنَا قَاعِدٌ بَعْدَ الْعَصْرِ، وَقَدِ انْتَشَرَتْ بِهَا نُسَخٌ كَثِيرَةٌ؛ فِي مِصْرَ وَالْعِرَاقِ، وَغَيْرِهِمَا»

“Datang kepadaku dari daerah Wasith salah seorang qadhi dari wilayah tersebut, seorang syaikh bernama Radhiyyuddin al-Wasithi, termasuk pengikut mazhab Syafi‘i. Ia datang kepada kami dalam rangka menunaikan haji.

Ia termasuk orang yang baik dan beragama. Ia mengadukan keadaan manusia di negeri tersebut pada masa kekuasaan Tatar, berupa dominannya kebodohan dan kezaliman serta mulai lenyapnya tanda-tanda agama dan ilmu.

Ia meminta kepadaku agar aku menuliskan sebuah akidah yang dapat dijadikan pegangan olehnya dan keluarganya.

Aku meminta dibebaskan dari permintaan tersebut dan berkata, ‘Orang-orang telah menulis berbagai kitab akidah. Ambillah salah satu akidah yang ditulis oleh para imam Sunnah.’

Namun ia terus mendesakku seraya berkata, ‘Aku tidak menginginkan kecuali sebuah akidah yang engkau sendiri menuliskannya.’

Maka aku menulis akidah ini untuknya ketika aku sedang duduk setelah shalat Ashar. Kemudian banyak salinan kitab ini tersebar di Mesir, Irak, dan negeri-negeri lainnya.”

Maju‘ al-Fatawa (3/164).

Dengan takdir dan taufik Allah, orang yang meminta penulisan akidah tersebut berasal dari Wasith, sehingga kitab ini kemudian dinamakan al-‘Aqidah al-Wasithiyyah.

Kata دَرَسَ الْعِلْمُ bermakna “ilmu itu terhapus, lenyap tanda-tandanya, dan mulai ditinggalkan.”

Kota Wasith

Wasith adalah sebuah kota yang dibangun oleh al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, gubernur pada masa Khalifah Umayyah Abdul Malik bin Marwan.

Kota tersebut berada di wilayah selatan Irak, di antara Kufah dan Bashrah.

Dinamakan Wasith karena letaknya berada di tengah-tengah antara kedua wilayah tersebut.

Penulis merujuk kepada Tarikh Wasith karya Bahsyal, hlm. 22.

Makna Lain dari “Wasathiyyah”: Jalan Tengah Ahlus Sunnah

Selain nama kitab tersebut berasal dari kota Wasith, kandungan al-‘Aqidah al-Wasithiyyah juga menggambarkan prinsip jalan tengah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah.

Sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله di dalam kitab tersebut:

«بَلْ هُمْ وَسَطٌ فِي فِرَقِ الْأُمَّةِ؛ كَمَا أَنَّ الْأُمَّةَ هِيَ الْوَسَطُ فِي الْأُمَمِ، فَهُمْ وَسَطٌ فِي بَابِ صِفَاتِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَيْنَ أَهْلِ التَّعْطِيلِ الْجَهْمِيَّةِ وَأَهْلِ التَّمْثِيلِ الْمُشَبِّهَةِ، وَهُمْ وَسَطٌ فِي بَابِ أَفْعَالِ اللَّهِ بَيْنَ الْجَبْرِيَّةِ وَالْقَدَرِيَّةِ…»

“Bahkan Ahlus Sunnah merupakan golongan pertengahan di antara berbagai kelompok umat ini, sebagaimana umat Islam merupakan umat pertengahan di antara umat-umat lainnya.

Dalam masalah sifat-sifat Allah سبحانه وتعالى, mereka berada di tengah antara kaum Jahmiyyah yang menolak sifat-sifat Allah dan kaum Musyabbihah yang menyerupakan Allah dengan makhluk.

Dalam masalah perbuatan Allah, mereka berada di tengah antara Jabariyyah dan Qadariyyah, dan seterusnya.”

Dengan demikian, al-‘Aqidah al-Wasithiyyah bukan hanya bernama demikian karena ditulis untuk seorang ulama dari kota Wasith, tetapi kandungannya juga menjelaskan wasathiyyah—sikap pertengahan—Ahlus Sunnah wal Jama‘ah di antara berbagai kelompok yang menyimpang.

Identitas Kitab dan Daftar Isi

Judul kitab: Al-‘Aqidah al-Wasithiyyah: Keyakinan Golongan yang Selamat dan Mendapat Pertolongan hingga Hari Kiamat, Ahlus Sunnah wal Jamaah

Penulis: Taqiyuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdus Salam bin ‘Abdullah bin Abil Qasim bin Muhammad Ibnu Taimiyah al-Harrani al-Hanbali ad-Dimasyqi (wafat 728 H).

Pengantar tentang Al-‘Aqidah al-Wasithiyyah

Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdul ‘Aziz bin Mani‘ رحمه الله berkata dalam mukadimah hasyiyah beliau:

إِنَّ «الْعَقِيدَةَ الْوَاسِطِيَّةَ» تَأْلِيفُ شَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ، الَّتِي أَلَّفَهَا إِجَابَةً لِطَلَبِ الْقَاضِي رَضِيِّ الدِّينِ الْوَاسِطِيِّ، مِنْ أَحْسَنِ مَا أَلَّفَهُ الْأَئِمَّةُ فِي بَيَانِ مُعْتَقَدِ أَهْلِ السُّنَّةِ، فَلَيْسَ فِي يَدِ الطَّلَبَةِ الْيَوْمَ أَحْسَنُ مِنْهَا وَلَا مِثْلُهَا.

فَإِنَّهُ (رَحِمَهُ اللَّهُ) بَيَّنَ فِيهَا الْقَوْلَ الْحَقَّ فِي مَسْأَلَةِ الْقُرْآنِ، وَأَنَّهُ كَلَامُ اللَّهِ مُنَزَّلٌ غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَأَنَّ أَلْفَاظَهُ وَحُرُوفَهُ وَمَعَانِيَهُ عَيْنُ كَلَامِ اللَّهِ، وَأَنَّ اللَّهَ يَتَكَلَّمُ بِمَشِيئَتِهِ وَإِرَادَتِهِ.

كَمَا أَنَّهُ (رَحِمَهُ اللَّهُ) بَيَّنَ الْقَوْلَ الصَّحِيحَ فِي وُجُوبِ إِثْبَاتِ الصِّفَاتِ الْإِلَهِيَّةِ؛ كَاسْتِوَاءِ اللَّهِ عَلَى عَرْشِهِ، وَعُلُوِّهِ عَلَى خَلْقِهِ، وَنُزُولِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ، وَمَجِيئِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَنَظَرِ الْمُؤْمِنِينَ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ فِي عَرَصَاتِ الْقِيَامَةِ وَبَعْدَ دُخُولِهِمُ الْجَنَّةَ.

وَوَضَّحَ مَعْنَى قُرْبِ اللَّهِ مِنْ عِبَادِهِ، وَمَعْنَى كَوْنِهِ مَعَهُمْ أَيْنَمَا كَانُوا، وَبَيَّنَ أَنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ حَقٌّ ثَابِتٌ عَلَى مَا يَلِيقُ بِعَظَمَةِ اللَّهِ تَعَالَى.

وَذَكَرَ قَوْلَ أَهْلِ الْحَقِّ فِي الْإِيمَانِ بِالْقَدَرِ، وَرَدَّ قَوْلَ الْمُعْتَزِلَةِ وَالْجَبْرِيَّةِ.

وَبَيَّنَ أُصُولَ أَهْلِ السُّنَّةِ الَّتِي بَنَوْا عَلَيْهَا عَقَائِدَهُمْ وَأَعْمَالَهُمْ.

إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ قَوَاعِدِ الْعَقَائِدِ، الْمُؤَيَّدَةِ بِنُصُوصِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ سَلَفِ الْأُمَّةِ، فَهِيَ جَدِيرَةٌ بِالِاعْتِنَاءِ بِهَا حِفْظًا وَدَرْسًا وَمُطَالَعَةً.
> Sesungguhnya Al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang beliau tulis untuk memenuhi permintaan Qadhi Radhiyuddin al-Wasithi, merupakan salah satu karya terbaik yang ditulis oleh para imam dalam menjelaskan akidah Ahlus Sunnah. Pada masa sekarang, tidak ada di tangan para penuntut ilmu kitab yang lebih baik darinya ataupun yang sebanding dengannya.

Beliau رحمه الله menjelaskan di dalamnya pendapat yang benar mengenai masalah Al-Qur’an, yaitu bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah, diturunkan dan bukan makhluk; lafaz, huruf, dan maknanya merupakan kalam Allah. Dan bahwa Allah berbicara sesuai dengan kehendak dan keinginan-Nya.

Beliau رحمه الله juga menjelaskan pendapat yang benar tentang wajibnya menetapkan sifat-sifat Allah, seperti istiwa’ Allah di atas ‘Arsy-Nya, ketinggian-Nya di atas seluruh makhluk-Nya, turunnya Allah ke langit dunia setiap malam, kedatangan-Nya pada Hari Kiamat, serta orang-orang beriman melihat Allah سبحانه وتعالى di padang Kiamat dan setelah mereka masuk surga.

Beliau juga menjelaskan makna kedekatan Allah dengan hamba-hamba-Nya dan makna kebersamaan-Nya dengan mereka di mana pun mereka berada. Beliau menerangkan bahwa semua itu adalah benar dan tetap adanya, dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allah تعالى.

Beliau menyebutkan pendapat Ahlul Haq mengenai iman kepada takdir, sekaligus membantah pendapat Mu‘tazilah dan Jabariyah.

Beliau juga menjelaskan pokok-pokok Ahlus Sunnah yang menjadi landasan dalam membangun akidah dan amal mereka.

Demikian pula berbagai kaidah akidah lainnya yang diperkuat dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, dan ijmak Salaf umat ini. Oleh karena itu, kitab ini sangat layak untuk mendapatkan perhatian, baik dengan cara dihafalkan, dipelajari, maupun dibaca dan ditelaah.

Daftar Isi

Mukadimah Penulis

Pokok-Pokok Iman dan Enam Rukunnya

Bab Pertama: Iman kepada Allah تعالى

Pasal Pertama: Kaidah-Kaidah Dasar dalam Mengimani Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah

Menjauhkan diri dari tahrif (penyelewengan makna), ta‘thil (penolakan sifat), takyif (menentukan bagaimana hakikat sifat), dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk).

Ilhad atau penyimpangan dalam nama-nama Allah dan ayat-ayat-Nya.

Allah tidak boleh dikiaskan dengan makhluk-Nya.

Pasal Kedua: Mengimani Sifat-Sifat yang Allah Tetapkan bagi Diri-Nya dalam Kitab-Nya

Surah Al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.

Ayat Kursi merupakan ayat paling agung dalam Kitab Allah.

Sifat hidup.

Sifat ilmu.

Sifat kekuatan.

Sifat mendengar dan melihat.

Sifat kehendak.

Sifat cinta.

Sifat ridha.

Sifat rahmat.

Sifat marah, murka, tidak menyukai, dan membenci.

Dua sifat: datang (al-maji’) dan mendatangi (al-ityan).

Menetapkan sifat wajah bagi Allah سبحانه.

Menetapkan dua tangan bagi Allah تعالى.

Menetapkan dua mata bagi Allah تعالى.

Menetapkan sifat mendengar dan melihat bagi Allah تعالى.

Sifat makar, tipu daya terhadap musuh-Nya, dan al-mihal bagi Allah تعالى dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya.

Sifat memaafkan, mengampuni, merahmati, keperkasaan, dan kekuasaan.

Menetapkan nama bagi Allah.

Ayat-ayat tentang sifat yang dinafikan, dalam rangka menyucikan Allah dan meniadakan keserupaan dengan-Nya.

Istiwa’ Allah di atas ‘Arsy-Nya.

Menetapkan ketinggian Allah di atas makhluk-Nya.

Menetapkan kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya.

Menetapkan sifat berbicara bagi Allah تعالى.

Menetapkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dari Allah تعالى.

Menetapkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat.

Pasal Ketiga: Mengimani Sifat-Sifat Rabb yang Dijelaskan Rasulullah ﷺ

Hadis-hadis tentang sifat Allah:

Menetapkan turunnya Allah ke langit dunia.

Menetapkan sifat gembira bagi Allah عز وجل.

Menetapkan sifat tertawa.

Menetapkan sifat takjub dan sifat-sifat lainnya.

Menetapkan kaki atau telapak kaki.

Menetapkan sifat berbicara dan suara.

Menetapkan ketinggian Allah dan sifat-sifat lainnya.

Menetapkan ketinggian Allah.

Menetapkan ketinggian Allah.

Menetapkan ketinggian Allah.

Menetapkan sifat kebersamaan (ma‘iyyah).

Menetapkan bahwa Allah berada di hadapan orang yang sedang shalat.

Menetapkan ketinggian Allah dan sifat-sifat lainnya.

Menetapkan kedekatan Allah تعالى.

Menetapkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka.

Pasal Keempat: Sikap Pertengahan Ahlus Sunnah wal Jamaah di Antara Berbagai Kelompok Umat

Pokok pertama: Bab nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Pokok kedua: Perbuatan-perbuatan Allah.

Pokok ketiga: Ancaman.

Pokok keempat: Istilah-istilah iman dan agama.

Pokok kelima: Para sahabat رضي الله عنهم.

Pasal Kelima

Termasuk dalam iman kepada Allah: meyakini bahwa Allah سبحانه berada di atas langit-langit-Nya, tinggi di atas ‘Arsy-Nya.

Pasal Keenam

Termasuk dalam iman kepada Allah: meyakini bahwa Dia dekat dengan makhluk-Nya.

Bab Kedua: Termasuk Iman kepada Allah, Kitab-Kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya

Pasal Pertama

Mengimani bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah, diturunkan dan bukan makhluk.

Pasal Kedua

Mengimani bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat.

Bab Ketiga: Iman kepada Hari Akhir

Pasal Pertama: Mengimani Seluruh Perkara yang Diberitakan Nabi ﷺ yang Terjadi Setelah Kematian

Fitnah atau ujian kubur.

Azab dan kenikmatan kubur.

Pasal Kedua: Kiamat Besar dan Berbagai Kedahsyatannya

Dikembalikannya ruh ke dalam jasad.

Manusia bangkit dari kubur.

Matahari didekatkan.

Keringat manusia.

Ditegakkannya timbangan amal.

Dibukanya catatan-catatan amal.

Hisab.

Telaga yang didatangi umat.

Shirath.

Masuk surga.

Syafaat.

Allah menciptakan sejumlah kaum untuk surga, kemudian memasukkan mereka ke dalamnya.

Bab Keempat: Iman kepada Takdir, yang Baik maupun yang Buruk

Pasal Pertama

Tingkatan pertama dari tingkatan-tingkatan iman kepada takdir.

Pasal Kedua

Tingkatan kedua dari tingkatan-tingkatan iman kepada takdir.

Tidak ada pertentangan antara takdir dan syariat, demikian pula antara Allah menakdirkan kemaksiatan dan kebencian-Nya terhadap kemaksiatan tersebut.

Menetapkan takdir tidak bertentangan dengan penyandaran perbuatan manusia kepada mereka secara hakiki, serta bahwa mereka melakukan perbuatan tersebut berdasarkan pilihan mereka.

Bab Kelima: Di Antara Pokok-Pokok Golongan yang Selamat, Ahlus Sunnah wal Jamaah

Pasal Pertama: Agama dan Iman Adalah Ucapan dan Perbuatan

Ahlus Sunnah tidak mengafirkan kaum muslimin hanya karena kemaksiatan dan dosa besar secara mutlak.

Pasal Kedua: Ringkasan Mazhab Ahlus Sunnah Mengenai Para Sahabat Rasulullah ﷺ

Keutamaan para sahabat, tingkatan dan perbedaan keutamaan mereka, serta sikap Ahlus Sunnah wal Jamaah terhadap hal tersebut.

Hukum mendahulukan ‘Ali رضي الله عنه atas khalifah lainnya dari empat Khulafaur Rasyidin dalam urutan kekhalifahan.

Kedudukan Ahlul Bait Rasulullah ﷺ menurut Ahlus Sunnah.

Kedudukan istri-istri Rasulullah ﷺ menurut Ahlus Sunnah.

Ahlus Sunnah wal Jamaah berlepas diri dari ucapan ahli bid‘ah terhadap para sahabat dan Ahlul Bait serta membela mereka.

Manhaj Ahlus Sunnah terhadap perselisihan yang terjadi di antara para sahabat.

Sebagian keutamaan dan kemuliaan para sahabat Rasulullah ﷺ.

Pasal Ketiga

Membenarkan adanya karamah para wali.

Bab Keenam: Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dan Sifat-Sifat Terpuji Mereka

Pasal Pertama: Mengikuti Jejak Rasulullah ﷺ dan Jalan Generasi Terdahulu

Mengapa mereka dinamakan Ahlul Kitab was Sunnah?

Mengapa mereka dinamakan Ahlul Jamaah?

Ijmak merupakan landasan ketiga.

Ijmak yang dapat dipastikan dan dijadikan pegangan.

Pasal Kedua: Di Antara Sifat-Sifat Terpuji Ahlus Sunnah

Penjelasan tentang perkara-perkara yang menyempurnakan akidah, berupa akhlak mulia dan amal-amal terpuji yang menjadi karakter Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Di antara keistimewaan Ahlus Sunnah.

Penutup

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button