Tatsqif

Banyak Bicara dan Omong Kosong

Banyak Bicara dan Omong Kosong

الثرثرة وكثرة الكلام

Ats-Tsartsarah (الثَّرْثَرَة) berarti banyak makan dan banyak berbicara dengan perkataan yang campur-aduk serta diulang-ulang. (Lisān al-‘Arab, 4/101).

Banyak bicara dan omong kosong termasuk di antara penyakit lisan yang banyak menimpa manusia. Hanya sedikit orang yang benar-benar selamat darinya. Padahal, ia termasuk penyakit lisan yang sangat berbahaya bagi pelakunya.

Orang yang suka banyak bicara termasuk manusia yang paling dibenci oleh Rasulullah ﷺ dan termasuk orang yang paling jauh tempat duduknya dari beliau pada hari Kiamat. Banyak bicara juga termasuk sebab masuk neraka, sebab kerasnya hati, jatuhnya kewibawaan seseorang di mata manusia, tanda sedikitnya akal, dan dapat menjauhkan seseorang dari kesempurnaan iman.

Orang yang Banyak Bicara Termasuk yang Paling Dibenci Rasulullah ﷺ dan Paling Jauh dari Majelis Beliau pada Hari Kiamat

Di antara dalil bahwa orang yang suka banyak bicara termasuk orang yang paling dibenci Rasulullah ﷺ dan paling jauh tempat duduknya dari beliau pada hari Kiamat adalah hadis Jabir رضي الله عنه. Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ، فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ؟ قَالَ: «الْمُتَكَبِّرُونَ».

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari Kiamat adalah orang-orang yang banyak bicara, orang-orang yang berbicara dengan dibuat-buat, dan orang-orang yang mutafaihiqun.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui makna orang-orang yang banyak bicara dan mutasyaddiqun, lalu siapakah mutafaihiqun?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang sombong.”
(HR. at-Tirmidzi, Kitāb al-Birr wa ash-Shilah, Bāb Mā Jā’a fī Ma‘ālī al-Akhlāq, no. 1991; Hannād bin as-Sari dalam az-Zuhd, no. 1249).

Banyak Bicara Termasuk Sebab Kerasnya Hati

Dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ، وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي».

“Janganlah kalian memperbanyak pembicaraan tanpa mengingat Allah, karena banyak berbicara tanpa mengingat Allah menyebabkan kerasnya hati. Dan sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras.”
(HR. at-Tirmidzi, Kitāb az-Zuhd, no. 2393; al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Īmān, no. 4730. Sanadnya lemah).

Pembicaraan yang tidak disertai dengan mengingat Allah dapat menyebabkan kerasnya hati karena hati pada hakikatnya tidak akan menjadi tenang dan lembut kecuali dengan mengingat Allah. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴾

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. ar-Ra‘d: 28).

Dzikir kepada Allah adalah makanan hati, sumber kekuatannya, serta obat yang menyembuhkan hati dari penyakit syahwat dan syubhat. Bahkan, dzikir merupakan kehidupan hati. Apabila hati terputus darinya, hati akan menjadi lemah, penyakit syahwat dan syubhat akan menguasainya, kemudian hati menjadi keras sehingga pantas mendapatkan jauhnya rahmat Allah. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari kehinaan dan keterlantaran.

Imam Malik meriwayatkan bahwa sampai kepadanya sebuah riwayat bahwa Isa bin Maryam عليه السلام berkata:

«لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَتَقْسُوَ قُلُوبُكُمْ، فَإِنَّ الْقَلْبَ الْقَاسِيَ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ وَلَكِنْ لَا تَعْلَمُونَ، وَلَا تَنْظُرُوا فِي ذُنُوبِ النَّاسِ كَأَنَّكُمْ أَرْبَابٌ، وَانْظُرُوا فِي ذُنُوبِكُمْ كَأَنَّكُمْ عَبِيدٌ، فَإِنَّمَا النَّاسُ مُبْتَلًى وَمُعَافًى، فَارْحَمُوا أَهْلَ الْبَلَاءِ وَاحْمَدُوا اللَّهَ عَلَى الْعَافِيَةِ».

“Janganlah kalian memperbanyak pembicaraan tanpa mengingat Allah sehingga hati kalian menjadi keras. Sesungguhnya hati yang keras jauh dari Allah, tetapi kalian tidak menyadarinya. Janganlah kalian memandang dosa-dosa manusia seolah-olah kalian adalah tuhan-tuhan, tetapi pandanglah dosa-dosa kalian sendiri sebagaimana seorang hamba. Sesungguhnya manusia ada yang sedang mendapat ujian dan ada yang diberi keselamatan. Maka kasihilah orang-orang yang sedang tertimpa ujian dan pujilah Allah atas keselamatan yang diberikan kepada kalian.”
(Diriwayatkan Malik dalam al-Muwaththa’, Kitāb al-Kalām, Bāb Mā Yukrahu min al-Kalām bi Ghairi Dzikrillāh, no. 1797; al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Īmān, no. 4730. Riwayatnya lemah).

Banyak Bicara yang Berisi Ejekan Merupakan Sifat Kaum Munafik

Apabila banyak bicara itu berisi penghinaan dan ejekan terhadap sebagian ajaran agama atau terhadap orang-orang beriman, maka hal tersebut merupakan tanda kemunafikan dan buruknya isi hati.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ﴾

“Dan jika engkau tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Mengapa kepada Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?’”
(QS. at-Taubah: 65).

Allah Ta‘ala juga berfirman:

﴿ إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ ۝ وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu selalu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman melewati mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan mata.”
(QS. al-Muthaffifin: 29–30).

Allah memuji orang yang berpaling dari perkataan sia-sia dan menerangkan bahwa menjauhi perkataan sia-sia merupakan sifat orang-orang beriman:

﴿ قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ﴾

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman; yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna.”
(QS. al-Mu’minun: 1–3).

Allah Ta‘ala juga berfirman:

﴿ فَوَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي خَوْضٍ يَلْعَبُونَ ﴾

“Maka celakalah pada hari itu orang-orang yang mendustakan, yaitu mereka yang bermain-main dalam pembicaraan yang batil.”
(QS. ath-Thur: 11–12).

Dari Abu Dzar رضي الله عنه, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat.’ Beliau bersabda:

«أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَإِنَّهَا رَأْسُ أَمْرِكَ».

“Aku mewasiatkan kepadamu agar bertakwa kepada Allah, karena takwa merupakan pokok seluruh urusanmu.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, tambahkanlah kepadaku.” Beliau bersabda:

«عَلَيْكَ بِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَذِكْرِ اللَّهِ، فَإِنَّ ذَلِكَ لَكَ نُورٌ فِي السَّمَاوَاتِ وَنُورٌ فِي الْأَرْضِ».

“Hendaklah engkau membaca Al-Qur’an dan berdzikir kepada Allah, karena hal itu menjadi cahaya bagimu di langit dan cahaya bagimu di bumi.”

Aku berkata, “Tambahkanlah kepadaku.” Beliau bersabda:

«لَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّهُ يُمِيتُ الْقَلْبَ وَيُذْهِبُ نُورَ الْوَجْهِ».

“Janganlah terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah.”

Kemudian di antara wasiat beliau adalah:

«عَلَيْكَ بِالصَّمْتِ إِلَّا مِنْ خَيْرٍ، فَإِنَّهُ مَرَدَّةٌ لِلشَّيْطَانِ عَنْكَ، وَعَوْنٌ لَكَ عَلَى أَمْرِ دِينِكَ».

“Hendaklah engkau diam kecuali dalam perkara yang baik, karena hal itu akan menolak setan darimu dan membantumu dalam urusan agamamu.”

Beliau juga berpesan:

«انْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ دُونَكَ، وَلَا تَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكَ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرِيَ نِعْمَةَ اللَّهِ عِنْدَكَ».

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih layak agar engkau tidak meremehkan nikmat Allah yang ada padamu.”

Beliau juga bersabda:

«صِلْ قَرَابَتَكَ وَإِنْ قَطَعُوكَ».

“Sambunglah hubungan dengan kerabatmu meskipun mereka memutus hubungan denganmu.”

Dan:

«لَا تَخَفْ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ».

“Janganlah engkau takut terhadap celaan orang yang mencela dalam membela agama Allah.”

Dan:

«تُحِبُّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ».

“Cintailah bagi manusia apa yang engkau cintai bagi dirimu sendiri.”

Kemudian beliau menepuk dadaku seraya bersabda:

«يَا أَبَا ذَرٍّ، لَا عَقْلَ كَالتَّدْبِيرِ، وَلَا وَرَعَ كَالْكَفِّ، وَلَا حَسَبَ كَحُسْنِ الْخُلُقِ».

“Wahai Abu Dzar, tidak ada kecerdasan seperti perencanaan yang baik, tidak ada sikap wara‘ seperti menahan diri, dan tidak ada kemuliaan keturunan seperti akhlak yang baik.”
(Diriwayatkan Ibnu Majah, Kitāb az-Zuhd, Bāb al-Wara‘ wa at-Taqwā, no. 4216; ath-Thabrani dalam al-Mu‘jam al-Kabīr, no. 1630. Sanad riwayat ini lemah).

Banyak Bicara Merupakan Tanda Buruknya Akhlak

Dari Abu Tsa‘labah al-Khusyani رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبَكُمْ مِنِّي أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَسَاوِيكُمْ أَخْلَاقًا: الثَّرْثَارُونَ الْمُتَشَدِّقُونَ الْمُتَفَيْهِقُونَ».

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat denganku adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku adalah orang-orang yang buruk akhlaknya, yaitu orang-orang yang banyak bicara, berbicara dengan dibuat-buat, dan menyombongkan diri dalam berbicara.”
(HR. Ahmad, no. 17417; al-Baihaqi dalam as-Sunan, no. 19349; Ibnu Hibban, Kitāb al-Birr wa al-Ihsān, no. 483. Disebutkan bersanad sahih).

Syaikh Mulla Ali al-Qari رحمه الله menjelaskan bahwa ungkapan:

«الثَّرْثَارُونَ الْمُتَشَدِّقُونَ الْمُتَفَيْهِقُونَ»

dapat dipahami sebagai penjelasan dari ungkapan “orang-orang yang paling buruk akhlaknya”. Ini menunjukkan bahwa sifat-sifat tersebut termasuk akhlak yang paling buruk. Dalam kitab an-Nihāyah dijelaskan bahwa ats-tsartsārūn adalah orang-orang yang banyak berbicara secara dibuat-buat, keluar dari kebenaran, serta mengulang-ulang pembicaraan.
(Mirqāt al-Mafātīh Syarh Misykāt al-Mashābīh, 14/68).

Di antara dalil bahwa banyak bicara termasuk akhlak tercela adalah firman Allah tentang sebagian penyair:

﴿ وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ ۝ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ ﴾

“Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah?”
(QS. asy-Syu‘ara’: 224–225).

Imam al-Qurthubi رحمه الله menjelaskan firman Allah:

﴿ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ ﴾

Maksudnya, mereka masuk ke dalam berbagai pembicaraan sia-sia dan tidak mengikuti jalan kebenaran. Sebab orang yang mengikuti kebenaran dan mengetahui bahwa seluruh ucapannya dicatat akan berhati-hati dan tidak berbicara ke sana kemari tanpa mempedulikan apa yang dikatakannya.
(Tafsīr al-Qurthubi, 13/152).

Orang yang Banyak Bicara Termasuk Manusia yang Buruk

Dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda:

«خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا، الْمُوَطَّئُونَ أَكْنَافًا، وَإِنَّ شِرَارَكُمُ الثَّرْثَارُونَ، الْمُتَفَيْهِقُونَ، الْمُتَشَدِّقُونَ».

“Sebaik-baik kalian adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya dan mudah didekati serta bergaul. Dan sesungguhnya seburuk-buruk kalian adalah orang-orang yang banyak bicara, orang yang menyombongkan diri dalam berbicara, serta orang yang berbicara dengan dibuat-buat.”
(HR. al-Bazzar dalam Musnad-nya, no. 1526; ath-Thabrani, no. 4521. Disebutkan bersanad hasan).

Apabila orang-orang yang banyak bicara termasuk orang yang paling buruk akhlaknya, maka mereka termasuk manusia yang buruk karena buruknya sifat dan perbuatan mereka.

Banyak Bicara Menjadi Sebab Penyesalan pada Hari Kiamat

Termasuk sebab penyesalan pada hari Kiamat adalah seseorang duduk dalam suatu majelis kemudian bangkit darinya tanpa pernah mengingat Allah, meskipun tidak terdapat pembicaraan haram di dalamnya. Lalu bagaimana jika seluruh majelis itu dipenuhi dengan pembicaraan batil, ghibah, namimah, dusta, penghinaan, dan ejekan? Kita memohon keselamatan kepada Allah.

Dari Abdullah bin Amr رضي الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ قَوْمٍ جَلَسُوا مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ إِلَّا رَأَوْهُ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ».

“Tidaklah suatu kaum duduk dalam sebuah majelis tanpa mengingat Allah di dalamnya kecuali mereka akan melihat majelis itu sebagai penyesalan pada hari Kiamat.”
(HR. Ahmad, no. 6933. Disebutkan bersanad sahih).

Sebagaimana tidak diperbolehkan berbicara dalam kebatilan, seseorang juga tidak dibenarkan sengaja mendengarkan kebatilan dan terus duduk bersama orang-orang yang tenggelam di dalamnya apabila ia mampu meninggalkannya.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ﴾

“Apabila engkau melihat orang-orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa, maka setelah ingat janganlah engkau duduk bersama orang-orang zalim.”
(QS. al-An‘am: 68).

Abu Hayyan menjelaskan bahwa orang yang duduk bersama mereka ketika ayat-ayat Allah dikufuri dan diperolok, padahal ia mampu mengingkarinya, berarti telah menunjukkan kerelaan terhadap kemungkaran tersebut. Karena itu, mendengarkan celaan dengan kerelaan menjadikan pendengarnya ikut menanggung dosa sesuai kadar kerelaan dan keterlibatannya.
(Lihat Tafsīr al-Bahr al-Muhīth, 3/304).

Banyak Bicara dalam Kebatilan Termasuk Sebab Masuk Neraka

Di antara sebab masuk neraka—kita berlindung kepada Allah darinya—adalah ikut tenggelam dalam pembicaraan batil bersama orang-orang yang tenggelam di dalamnya. Ketika mereka membicarakan kebatilan, ia ikut berbicara; ketika mereka mencemarkan kehormatan manusia, ia ikut melakukannya; ketika mereka mengejek, ia ikut mengejek; dan ketika mereka mempermainkan ayat-ayat Allah, ia pun ikut bersama mereka. Karena sifat-sifat seperti itu merupakan sifat orang-orang yang berdosa.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ ۝ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ ۝ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ الْمُجْرِمِينَ ۝ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ۝ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ۝ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ۝ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ﴾

“Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya, kecuali golongan kanan. Mereka berada di dalam surga dan saling bertanya tentang orang-orang yang berdosa, ‘Apa yang memasukkan kalian ke dalam Saqar?’ Mereka menjawab, ‘Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, kami tidak memberi makan orang miskin, dan kami dahulu ikut membicarakan kebatilan bersama orang-orang yang membicarakannya.’”
(QS. al-Muddatstsir: 38–45).

Imam ath-Thabari رحمه الله menjelaskan:

«وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ»

Maksudnya, “Kami dahulu ikut tenggelam dalam kebatilan dan segala sesuatu yang dibenci Allah bersama orang-orang yang melakukannya.”

Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa maksudnya adalah: “Kami membicarakan sesuatu yang tidak kami ketahui.”

Qatadah رحمه الله berkata:

«كُلَّمَا غَوَى غَاوٍ غَوَيْنَا مَعَهُ».

“Setiap kali ada orang tersesat, kami ikut tersesat bersamanya.”

Allah Membenci ‘Katanya dan Katanya’ serta Banyak Pembicaraan yang Tidak Bermanfaat

Dari al-Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الْأُمَّهَاتِ، وَوَأْدَ الْبَنَاتِ، وَمَنَعَ وَهَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ».

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menahan apa yang wajib diberikan dan meminta sesuatu yang bukan haknya. Dan Allah membenci bagi kalian perkataan ‘katanya begini, katanya begitu’, terlalu banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.”
(HR. al-Bukhari, Kitāb al-I‘tishām bi al-Kitāb wa as-Sunnah, Bāb Mā Yukrahu min Katsrat as-Su’āl wa Takallufi Mā Lā Ya‘nīhi, no. 6883 menurut penomoran sumber artikel; Muslim, Kitāb al-Aqdhiyah, Bāb an-Nahyi ‘an Katsrat al-Masā’il min Ghairi Hājah, no. 3323 menurut penomoran sumber artikel).

Abu Ubaid menjelaskan bahwa ungkapan قِيلَ وَقَالَ mengandung larangan banyak berbicara, baik memulai pembicaraan maupun menjawabnya secara berlebihan. Ada pula yang menjelaskannya sebagai kebiasaan menceritakan perkataan manusia dan menyelidiki sesuatu yang tidak memberikan manfaat dan tidak berkaitan dengan urusannya.

Termasuk dalam pengertian tersebut adalah namimah, sebagaimana disebutkan:

«أَلَا أُنَبِّئُكُمْ مَا الْعَضْهُ؟ هِيَ النَّمِيمَةُ، الْقَالَةُ بَيْنَ النَّاسِ».

“Maukah aku beritahukan kepada kalian apakah al-‘adh-hu itu? Yaitu namimah, menyebarkan perkataan di antara manusia.”

Maksudnya adalah banyak menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain sehingga menimbulkan permusuhan.
(Lisān al-‘Arab, 11/574).

Betapa bagus perkataan seorang penyair:

وَسَمْعَكَ صُنْ عَنْ سَمَاعِ الْقَبِيحِ
كَصَوْنِ اللِّسَانِ عَنِ النُّطْقِ بِهِ

“Jagalah pendengaranmu dari mendengar sesuatu yang buruk, sebagaimana engkau menjaga lisanmu dari mengucapkannya.”

Demikian pula perkataan penyair:

عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِينِهِ
فَكُلُّ قَرِينٍ بِالْمُقَارِنِ يَقْتَدِي

“Janganlah bertanya tentang seseorang, tetapi tanyakanlah siapa teman dekatnya; sebab setiap orang akan mengikuti orang yang selalu menemaninya.”
(Lihat al-Bahr al-Muhīth, 3/304).

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا ﴾

“Dan sungguh Allah telah menurunkan ketentuan kepada kalian di dalam Kitab bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kalian duduk bersama mereka sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya jika kalian tetap duduk bersama mereka, tentulah kalian serupa dengan mereka. Sungguh Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di neraka Jahanam.”
(QS. an-Nisa’: 140).

Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa apabila seseorang tetap duduk bersama mereka setelah larangan tersebut sampai kepadanya, kemudian ia rela dengan majelis yang di dalamnya ayat-ayat Allah dikufuri, diperolok dan direndahkan, berarti ia telah ikut bersama mereka dalam dosa tersebut. Karena itulah Allah berfirman:

﴿ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ ﴾

“Sesungguhnya kalian kalau demikian serupa dengan mereka,” yakni dalam dosa.
(Tafsīr Ibnu Katsir, 1/699).

Karena itu, seseorang yang duduk dalam majelis kemaksiatan dan tidak mengingkari kemaksiatan tersebut padahal ia mampu, dikhawatirkan ikut mendapatkan dosa. Ia semestinya mengingkari mereka ketika mereka berbicara atau melakukan maksiat. Jika tidak mampu mengingkarinya, hendaknya ia meninggalkan majelis tersebut agar tidak termasuk dalam ancaman ayat ini.
(Tafsīr al-Qurthubi, 5/418).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ كَثُرَ كَلَامُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ، وَمَنْ كَثُرَ سَقَطُهُ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ، وَمَنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ، فَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ».

“Barang siapa banyak bicaranya, banyak pula kesalahannya. Barang siapa banyak kesalahannya, banyak pula dosanya. Barang siapa banyak dosanya, maka neraka lebih pantas baginya. Karena itu, barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(Diriwayatkan ath-Thabrani dalam al-Mu‘jam al-Ausath, no. 6660; al-Qudha‘i dalam Musnad asy-Syihāb, no. 357. Sanadnya lemah).

Adapun bagian terakhir hadis, yaitu:

«فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Hendaklah ia berkata yang baik atau diam,”

memiliki dasar yang sahih dalam hadis Abu Hurairah رضي الله عنه yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ juga bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا؛ فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ».

“Sesungguhnya Allah meridhai tiga perkara bagi kalian dan membenci tiga perkara bagi kalian. Allah meridhai kalian agar menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, agar kalian semuanya berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak berpecah-belah. Dan Dia membenci bagi kalian perkataan ‘katanya begini dan katanya begitu’, terlalu banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.”
(HR. Muslim, Kitāb al-Aqdhiyah, Bāb an-Nahyi ‘an Katsrat al-Masā’il min Ghairi Hājah, no. 3322 menurut penomoran sumber artikel).

Diriwayatkan dari al-Ahnaf bin Qais bahwa Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه berkata kepadanya:

«يَا أَحْنَفُ، مَنْ كَثُرَ ضَحِكُهُ قَلَّتْ هَيْبَتُهُ، وَمَنْ مَزَحَ اسْتُخِفَّ بِهِ، وَمَنْ كَثُرَ كَلَامُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ، وَمَنْ كَثُرَ سَقَطُهُ قَلَّ حَيَاؤُهُ، وَمَنْ قَلَّ حَيَاؤُهُ قَلَّ وَرَعُهُ، وَمَنْ قَلَّ وَرَعُهُ مَاتَ قَلْبُهُ».

“Wahai Ahnaf, barang siapa banyak tertawa, akan berkurang kewibawaannya. Barang siapa banyak bercanda, ia akan diremehkan. Barang siapa banyak berbicara, akan banyak kesalahannya. Barang siapa banyak kesalahannya, akan berkurang rasa malunya. Barang siapa sedikit rasa malunya, akan sedikit sikap wara‘nya. Dan barang siapa sedikit sikap wara‘nya, hatinya akan mati.”
(Diriwayatkan ath-Thabrani dalam al-Mu‘jam al-Ausath, no. 2299; al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Īmān, no. 4768).

Kesimpulan

Syariat tidak mencela berbicara secara mutlak. Berbicara yang berisi ilmu, nasihat, amar makruf nahi mungkar, mendamaikan manusia, berdzikir kepada Allah, mengajarkan kebaikan, dan memenuhi kebutuhan merupakan amal yang terpuji. Yang dicela adalah banyak berbicara tanpa kebutuhan dan manfaat, terlebih apabila pembicaraan itu menyeret kepada dusta, ghibah, namimah, ejekan, perdebatan batil, pembicaraan tentang sesuatu yang tidak diketahui, atau mempermainkan perkara agama.

Karena itu, prinsip yang sangat agung dalam menjaga lisan adalah sabda Rasulullah ﷺ:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ».

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Seorang muslim hendaknya menimbang perkataannya sebelum mengucapkannya: apabila perkataan tersebut merupakan kebaikan yang jelas, ia mengucapkannya; apabila mengandung keburukan, ia meninggalkannya; dan apabila tidak jelas manfaatnya, keselamatan lebih dekat dengan menahan lisan.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ ﴾

“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18).

Wallāhu a‘lam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button