SIFAT DAN CIRI-CIRI NABI ﷺ SEBAGAIMANA DIGAMBARKAN OLEH UMMU MA‘BAD AL-KHUZA‘IYYAH

SIFAT DAN CIRI-CIRI NABI ﷺ SEBAGAIMANA DIGAMBARKAN OLEH UMMU MA‘BAD AL-KHUZA‘IYYAH
Mukadimah
إِنَّ الحَمْدَ للهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan dari kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan-Nya, tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Syair tentang Shalawat kepada Nabi ﷺ
إِنَّ الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ حَبِيبِنَا
مِنْ أَفْضَلِ الْأَفْعَالِ وَالْأَعْمَالِ
فَهُوَ النَّبِيُّ الْمُصْطَفَى عَلَمُ الْهُدَى
الطَّيِّبُ الْأَقْوَالِ وَالْأَفْعَالِ
Sesungguhnya bershalawat kepada Nabi, kekasih kita,
termasuk seutama-utama perbuatan dan amalan.
Dialah Nabi pilihan, sang penunjuk jalan hidayah,
yang baik dan mulia ucapan maupun perbuatannya.
صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلَامُهُ عَلَى خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْكِرَامِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَبَعْدُ:
Semoga shalawat dan salam dari Rabb-ku senantiasa tercurah kepada manusia terbaik, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau yang mulia serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Amma ba‘du.
Rasulullah ﷺ adalah Teladan Terbaik
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا﴾
[الأحزاب: 21]
“Sungguh, pada diri Rasulullah benar-benar terdapat teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat ini merupakan landasan pokok dalam meneladani dan mengikuti Rasulullah ﷺ. Beliau adalah sebaik-baik teladan yang patut diikuti dan contoh terbaik yang patut ditiru, baik dalam akhlak, ilmu, amal, kesabaran, ketaatan, jihad, maupun seluruh keadaan kehidupan beliau ﷺ.
Syaikh Abdurrahman as-Sa‘di رحمه الله berkata:
«وَهَذِهِ الْأُسْوَةُ الْحَسَنَةُ إِنَّمَا يَسْلُكُهَا وَيُوَفَّقُ لَهَا مَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ، فَإِنَّ مَا مَعَهُ مِنَ الْإِيمَانِ، وَخَوْفِ اللَّهِ، وَرَجَاءِ ثَوَابِهِ، وَخَوْفِ عِقَابِهِ، يَحُثُّهُ عَلَى التَّأَسِّي بِالرَّسُولِ ﷺ»
“Teladan yang baik ini hanya akan ditempuh dan seseorang diberi taufik untuk mengikutinya apabila ia mengharapkan Allah dan hari akhir. Sebab, keimanan yang ada dalam dirinya, rasa takutnya kepada Allah, harapannya terhadap pahala-Nya, dan ketakutannya terhadap siksa-Nya akan mendorongnya untuk meneladani Rasulullah ﷺ.”
Tafsir as-Sa‘di.
Allah telah menganugerahkan kepada Nabi-Nya ﷺ berbagai kemuliaan dan sifat-sifat terpuji. Karena itu, sudah sepantasnya setiap orang berakal yang menghendaki kebaikan bagi dirinya, mencari kebahagiaan, serta mengharapkan keselamatan, kemenangan, dan keberuntungan, bersungguh-sungguh mengenal Nabinya ﷺ.
Hendaknya ia mempelajari sirah beliau yang harum, mengetahui berita-berita tentang beliau, serta mengenal sifat fisik dan akhlak beliau, juga berbagai bukti kenabian beliau.
Dengan demikian, ia akan lebih mampu meneladani beliau, mengikuti perbuatan beliau, dan mengambil petunjuk dari perkataan beliau sehingga ia mendapatkan kebahagiaan dan menjadi sebab kebahagiaan bagi orang lain.
Teks Lengkap Hadis Ummu Ma‘bad
Al-Hakim meriwayatkan dengan sanadnya dari Hisyam bin Hubaisy bin Khuwailid, sahabat Rasulullah ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ keluar dari Makkah untuk berhijrah menuju Madinah.
Bersama beliau terdapat Abu Bakar رضي الله عنه, mantan budak Abu Bakar yang bernama ‘Amir bin Fuhairah, serta penunjuk jalan mereka dari Bani Laits, yaitu Abdullah bin Uraiqith.
Dalam perjalanan tersebut, mereka melewati dua tenda milik Ummu Ma‘bad al-Khuza‘iyyah.
Ummu Ma‘bad adalah seorang wanita yang tegar dan kuat. Ia biasa duduk di halaman tendanya serta memberi minum dan makanan kepada orang-orang yang singgah.
Mereka bertanya kepadanya apakah ada daging dan kurma yang dapat mereka beli. Namun, mereka tidak mendapatkan apa pun darinya karena saat itu sedang terjadi masa sulit dan kekeringan.
Kemudian Rasulullah ﷺ melihat seekor kambing di salah satu sisi tenda.
Beliau bertanya:
«مَا هَذِهِ الشَّاةُ يَا أُمَّ مَعْبَدٍ؟»
“Wahai Ummu Ma‘bad, mengapa kambing ini berada di sini?”
Ia menjawab:
«شَاةٌ خَلَّفَهَا الْجَهْدُ عَنِ الْغَنَمِ»
“Ini kambing yang tertinggal dari kawanan karena kelemahannya.”
Beliau bertanya:
«هَلْ بِهَا مِنْ لَبَنٍ؟»
“Apakah kambing ini mempunyai susu?”
Ummu Ma‘bad menjawab:
«هِيَ أَجْهَدُ مِنْ ذَلِكَ»
“Keadaannya jauh lebih lemah daripada untuk dapat menghasilkan susu.”
Beliau bertanya:
«أَتَأْذَنِينَ لِي أَنْ أَحْلُبَهَا؟»
“Apakah engkau mengizinkanku untuk memerahnya?”
Ummu Ma‘bad menjawab:
«بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، إِنْ رَأَيْتَ بِهَا حَلْبًا فَاحْلُبْهَا»
“Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu. Jika engkau melihat ada susu padanya, maka perahlah.”
Rasulullah ﷺ kemudian meminta agar kambing itu dibawa kepada beliau. Beliau mengusap ambingnya dengan tangan beliau, menyebut nama Allah Ta‘ala, dan mendoakan keberkahan bagi Ummu Ma‘bad pada kambingnya.
Tiba-tiba kambing tersebut merenggangkan kedua kakinya dan susunya mengalir deras.
Beliau kemudian meminta sebuah wadah besar yang dapat mencukupi minuman sekelompok orang. Beliau memerah kambing itu hingga susu mengalir deras dan memenuhi wadah.
Kemudian beliau memberikan susu itu kepada Ummu Ma‘bad hingga ia minum sampai puas.
Setelah itu beliau memberikan minum kepada para sahabatnya hingga mereka semua puas.
Dan Rasulullah ﷺ minum paling akhir.
Kemudian beliau memerah kambing tersebut sekali lagi hingga wadah itu penuh. Beliau meninggalkan susu tersebut untuk Ummu Ma‘bad, kemudian mereka melanjutkan perjalanan.
Tidak lama setelah itu, suami Ummu Ma‘bad, Abu Ma‘bad, pulang menggiring beberapa ekor kambing yang kurus kering. Karena sangat kurusnya, kambing-kambing tersebut berjalan dengan lemah dan hanya memiliki sedikit sumsum pada tulangnya.
Ketika Abu Ma‘bad melihat susu tersebut, ia sangat terkejut.
Ia berkata:
“Dari mana engkau mendapatkan susu ini, wahai Ummu Ma‘bad? Padahal kambing-kambing sedang pergi jauh, semuanya tidak sedang menghasilkan susu, dan di rumah ini tidak ada seekor kambing pun yang dapat diperah?”
Ummu Ma‘bad menjawab:
“Tidak, demi Allah. Hanya saja tadi seorang laki-laki yang penuh keberkahan melewati tempat kita. Keadaannya begini dan begini.”
Abu Ma‘bad berkata:
«صِفِيهِ لِي يَا أُمَّ مَعْبَدٍ»
“Gambarkanlah ciri-cirinya kepadaku, wahai Ummu Ma‘bad.”
Lalu Ummu Ma‘bad menggambarkan sifat dan ciri-ciri Rasulullah ﷺ.
Ummu Ma‘bad al-Khuza‘iyyah menggambarkan sifat dan penampilan Rasulullah ﷺ dengan mengatakan:
“رأيت رَجُلا ظَاهَرَ الْوَضَاءَةِ، أَبْلَجَ الْوَجْهِ، حَسَنَ الْخَلْقِ، لم تَعِبْهُ ثُجْلَةٌ، ولم تُزْرِ بِهِ صَعْلَةٌ، وَسِيمٌ؛ في عَيْنَيْهِ دَعَجٌ، وفي أَشْفَارِهِ وَطَفٌ، وفي صَوْتِهِ صَهَلٌ، وفيعُنُقِهِ سَطَعٌ، وفي لِحْيَتِهِ كَثَاثَةٌ، أَزَجُّ أَقْرَنُ، إن صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ، وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَاهُ وَعَلاهُ الْبَهَاءُ، أَجْمَلُ الناس وَأَبَهَاهُ من بَعِيدٍ، وأَحْلاهُ وَأَحْسَنُهُ من قَرِيبٍ، حُلْوُ الْمِنْطَقِ، فَصْلٌ؛ لا هَذِرٌ وَلا نَزِرٌ، كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتٌ نَظْمٌ يَتَحَدَّرْنَ، رَبْعٌ لا يَأْسَ من طُولٍ وَلا تَقْتَحِمُهُ عَيْنٌ من قِصَرٍ، غُصْنٌ بين غُصْنَيْنِ فَهُوَ أَنْضَرُ الثَّلاثَةِ مَنْظَرًا، وَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًا، له رُفَقَاءُ يَحُفُّونَ بِهِ، إن قال انصتوا لِقَوْلِهِ، وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا إلى أَمْرِهِ، مَحْفُودٌ مَحْشُودٌ، لا عَابِسٌ وَلا مُفَنَّدٌ”.
«“Aku melihat seorang laki-laki yang tampak jelas keelokan dan ketampanannya, wajahnya cerah bercahaya, dan bentuk tubuhnya bagus serta proporsional. Perut yang besar tidak mencacatinya, dan kepalanya pun tidak kecil sehingga mengurangi keelokannya.
Beliau adalah seorang yang tampan dan rupawan. Pada kedua matanya terdapat warna hitam yang sangat pekat dan putih yang sangat jernih. Bulu matanya panjang. Pada suaranya terdapat kekuatan dan ketegasan. Lehernya tinggi dan jenjang. Jenggotnya lebat. Alisnya panjang, tipis, dan berdekatan.
Apabila beliau diam, tampak pada dirinya kewibawaan. Apabila beliau berbicara, tampaklah keagungan dan keelokannya.
Dari kejauhan, beliau adalah manusia yang paling indah dan paling menawan; sedangkan dari dekat, beliau adalah orang yang paling manis dan paling elok.
Tutur katanya manis dan jelas, tidak terlalu banyak dan tidak pula terlalu sedikit. Ucapannya seakan-akan untaian mutiara yang tersusun rapi dan mengalir satu demi satu.
Tinggi badannya sedang; tidak terlalu tinggi sehingga dipandang berlebihan, dan tidak pula pendek sehingga diremehkan oleh mata yang memandang.
Beliau bagaikan sebuah dahan di antara dua dahan lainnya; beliau adalah yang paling segar dan indah dipandang di antara ketiganya, serta yang paling tinggi kedudukannya.
Beliau mempunyai para sahabat yang mengelilinginya. Apabila beliau berbicara, mereka diam menyimak perkataannya. Apabila beliau memerintahkan sesuatu, mereka segera melaksanakan perintahnya.
Beliau adalah seorang yang dilayani dan dikelilingi para sahabatnya. Beliau tidak bermuka masam dan tidak pula berbicara dengan perkataan yang tidak berguna.”»
Setelah mendengar gambaran istrinya, Abu Ma‘bad berkata:
«هَذَا وَاللَّهِ صَاحِبُ قُرَيْشٍ الَّذِي ذُكِرَ لَنَا مِنْ أَمْرِهِ مَا ذُكِرَ، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَصْحَبَهُ، وَلَأَفْعَلَنَّ إِنْ وَجَدْتُ إِلَى ذَلِكَ سَبِيلًا»
“Demi Allah, inilah orang Quraisy yang telah banyak diceritakan kepada kita tentang dirinya. Sungguh aku telah berkeinginan untuk menjadi sahabatnya. Dan aku benar-benar akan melakukannya jika aku mendapatkan jalan untuk menemuinya.”
Syair Misterius yang Terdengar di Makkah
Pada pagi harinya terdengar sebuah suara lantang di Makkah. Orang-orang mendengar suara tersebut, tetapi mereka tidak mengetahui siapa yang mengucapkannya.
Suara itu melantunkan:
جَزَى اللَّهُ رَبُّ النَّاسِ خَيْرَ جَزَائِهِ
رَفِيقَيْنِ حَلَّا خَيْمَتَيْ أُمِّ مَعْبَدِ
“Semoga Allah, Rabb seluruh manusia, memberikan sebaik-baik balasan,
kepada dua orang sahabat yang singgah di kedua tenda Ummu Ma‘bad.”
هُمَا نَزَلَاهَا بِالْهُدَى وَاهْتَدَتْ بِهِ
فَقَدْ فَازَ مَنْ أَمْسَى رَفِيقَ مُحَمَّدِ
“Keduanya singgah di tempatnya membawa petunjuk, dan dengannya ia memperoleh hidayah;
sungguh beruntunglah orang yang menjadi sahabat Muhammad.”
فَيَا لَقُصَيٍّ مَا زَوَى اللَّهُ عَنْكُمُ
بِهِ مِنْ فَعَالٍ لَا تُجَازَى وَسُؤْدُدِ
“Wahai keturunan Qushay! Betapa besar yang telah Allah jauhkan dari kalian,
berupa berbagai kemuliaan melalui dirinya dan keluhuran yang tiada dapat ditandingi.”
لِيَهْنِ أَبَا بَكْرٍ سَعَادَةُ جَدِّهِ
بِصُحْبَتِهِ مَنْ يُسْعِدُ اللَّهُ يَسْعَدِ
“Bergembiralah Abu Bakar dengan kebahagiaan dan keberuntungan nasibnya,
karena menjadi sahabat beliau; siapa yang Allah bahagiakan, niscaya ia benar-benar berbahagia.”
لِيَهْنِ بَنِي كَعْبٍ مَقَامُ فَتَاتِهِمْ
وَمَقْعَدُهَا لِلْمُؤْمِنِينَ بِمَرْصَدِ
“Bergembiralah Bani Ka‘ab dengan tempat tinggal wanita mereka,
dan tempat duduknya yang menjadi persinggahan bagi orang-orang beriman.”
سَلُوا أُخْتَكُمْ عَنْ شَاتِهَا وَإِنَائِهَا
فَإِنَّكُمُ إِنْ تَسْأَلُوا الشَّاةَ تَشْهَدِ
“Tanyakanlah kepada saudari kalian tentang kambing dan wadah susunya;
bahkan seandainya kalian dapat bertanya kepada kambing itu sendiri, niscaya ia akan memberikan kesaksian.”
دَعَاهَا بِشَاةٍ حَائِلٍ فَتَحَلَّبَتْ
عَلَيْهِ صَرِيحًا ضَرَّةُ الشَّاةِ مُزْبِدِ
“Beliau meminta dibawakan kambing yang tidak menghasilkan susu, lalu tiba-tiba ia mengeluarkan susu;
ambing kambing itu mengalirkan susu murni dengan deras hingga berbuih.”
فَغَادَرَهُ رَهْنًا لَدَيْهَا لِحَالِبٍ
يُرَدِّدُهَا فِي مَصْدَرٍ بَعْدَ مَوْرِدِ
“Lalu beliau meninggalkannya di sisi wanita itu sebagai bukti yang tetap bagi orang yang memerahnya;
ia dapat terus memerahnya kembali, dari satu waktu pemerahan menuju waktu pemerahan berikutnya.”
Derajat Riwayat Ummu Ma‘bad
Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Sa‘ad dalam Ath-Thabaqat al-Kubra (1/231), ath-Thabarani dalam Al-Mu‘jam al-Kabir (no. 3605) dan Al-Ahadits ath-Thiwal (1/254), serta al-Hakim dalam Al-Mustadrak (3/10).
Hadis Ummu Ma‘bad mengenai gambaran sifat Rasulullah ﷺ diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak (no. 4274).
Al-Hakim berkata:
«هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ…»
“Hadis ini sanadnya sahih, namun al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.”
Al-Hakim kemudian menjelaskan beberapa hal yang menurutnya menguatkan kesahihan riwayat ini. Di antaranya adalah berita mengenai singgahnya Nabi ﷺ di kedua tenda tersebut diriwayatkan dalam sejumlah riwayat yang sahih. Orang-orang yang meriwayatkan kisah tersebut secara lengkap adalah penduduk kedua tenda dari kalangan Arab Badui yang tidak dicurigai membuat-buat hadis atau menambah dan menguranginya.
Mereka menerimanya kata demi kata dari Abu Ma‘bad dan Ummu Ma‘bad. Riwayat ini juga mempunyai jalur-jalur sanad yang bersambung melalui anggota keluarga, seperti seorang anak mengambil riwayat dari ayahnya dan seorang ayah dari kakeknya, tanpa adanya keterputusan sanad menurut penilaian al-Hakim.
Riwayat ini juga diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam Al-Mu‘jam al-Kabir (no. 3605).
Ibnu Katsir رحمه الله berkata dalam Al-Bidayah wan Nihayah:
«وَقِصَّتُهَا مَشْهُورَةٌ مَرْوِيَّةٌ مِنْ طُرُقٍ يَشُدُّ بَعْضُهَا بَعْضًا»
“Kisah Ummu Ma‘bad merupakan kisah yang masyhur, diriwayatkan melalui beberapa jalur yang sebagiannya saling menguatkan.”
Syaikh al-Albani رحمه الله berkata dalam takhrij Misykat al-Mashabih:
«ضَعِيفٌ، وَقَدْ يَرْقَى إِلَى الْحَسَنِ بِتَعَدُّدِ طُرُقِهِ»
“Riwayat ini lemah, namun bisa meningkat kepada derajat hasan karena banyaknya jalur periwayatannya.”
Dengan demikian, terdapat perbedaan penilaian ulama terhadap kekuatan sanadnya: al-Hakim mensahihkannya, sementara al-Albani menilai sanad individualnya lemah tetapi memungkinkan naik menjadi hasan karena banyaknya jalur.
Penjelasan Kosakata dalam Riwayat
Dalam riwayat Ummu Ma‘bad al-Khuza‘iyyah tersebut, jika setiap ciri utama dipisahkan, dapat diurutkan menjadi sekitar 25 sifat/ciri Rasulullah ﷺ:
1. ظَاهَرَ الْوَضَاءَةِ — Tampak nyata ketampanan, kebersihan, dan keelokan beliau.
2. أَبْلَجَ الْوَجْهِ — Wajah beliau cerah dan bercahaya.
3. حَسَنَ الْخَلْقِ — Bentuk tubuh beliau bagus dan proporsional.
4. لَمْ تَعِبْهُ ثُجْلَةٌ — Tidak berperut besar.
5. وَلَمْ تُزْرِ بِهِ صَعْلَةٌ — Kepala beliau tidak kecil/tidak proporsional.
6. وَسِيمٌ — Tampan dan rupawan.
7. فِي عَيْنَيْهِ دَعَجٌ — Matanya indah; hitamnya sangat hitam dan putihnya sangat jernih.
8. وَفِي أَشْفَارِهِ وَطَفٌ — Bulu matanya panjang.
9. وَفِي صَوْتِهِ صَهَلٌ — Suaranya kuat dan tegas.
10. وَفِي عُنُقِهِ سَطَعٌ — Lehernya jenjang.
11. وَفِي لِحْيَتِهِ كَثَاثَةٌ — Jenggotnya lebat.
12. أَزَجُّ أَقْرَنُ — Alisnya panjang, halus, dan berdekatan.
13. إِنْ صَمَتَ فَعَلَيْهِ الْوَقَارُ — Ketika diam, tampak kewibawaan beliau.
14. وَإِنْ تَكَلَّمَ سَمَاهُ وَعَلَاهُ الْبَهَاءُ — Ketika berbicara, tampak keagungan dan keelokan beliau.
15. أَجْمَلُ النَّاسِ وَأَبْهَاهُ مِنْ بَعِيدٍ — Dari kejauhan, beliau paling indah dan menawan.
16. وَأَحْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍ — Dari dekat, beliau semakin manis dan elok dipandang.
17. حُلْوُ الْمَنْطِقِ — Tutur katanya manis dan menyenangkan.
18. فَصْلٌ، لَا هَذِرٌ وَلَا نَزِرٌ — Bicaranya jelas dan seimbang; tidak berlebihan dan tidak terlalu sedikit.
19. كَأَنَّ مَنْطِقَهُ خَرَزَاتٌ نَظْمٌ يَتَحَدَّرْنَ — Ucapannya teratur dan indah seperti untaian mutiara.
20. رَبْعٌ — Tinggi badannya sedang dan proporsional; tidak terlalu tinggi dan tidak pendek.
21. أَنْضَرُ الثَّلَاثَةِ مَنْظَرًا — Ketika bersama dua sahabatnya, beliau paling indah dan segar dipandang.
22. وَأَحْسَنُهُمْ قَدْرًا — Beliau tampak paling mulia dan berwibawa di antara mereka.
23. إِنْ قَالَ أَنْصَتُوا لِقَوْلِهِ — Ketika beliau berbicara, para sahabat diam dan menyimak.
24. وَإِنْ أَمَرَ تَبَادَرُوا إِلَى أَمْرِهِ، مَحْفُودٌ مَحْشُودٌ — Ketika memerintah, para sahabat segera melaksanakannya; beliau dikelilingi, dilayani, dan dihormati.
25. لَا عَابِسٌ وَلَا مُفَنَّدٌ — Tidak bermuka masam dan tidak berbicara dengan perkataan yang sia-sia.
Penjelasan Kisah
Ketika Nabi ﷺ bertekad berhijrah menuju Madinah, beliau ditemani oleh Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه. Dalam perjalanan tersebut turut bersama mereka mantan budak Abu Bakar, ‘Amir bin Fuhairah, serta penunjuk jalan mereka, Abdullah bin Uraiqith al-Laitsi.
Dalam perjalanan mereka melewati tenda Ummu Ma‘bad رضي الله عنها.
Nama Ummu Ma‘bad adalah:
عَاتِكَةُ بِنْتُ خَالِدِ بْنِ مُنْقِذِ بْنِ رَبِيعَةَ، أُمُّ مَعْبَدٍ الْخُزَاعِيَّةُ
“‘Atikah binti Khalid bin Munqidz bin Rabi‘ah, Ummu Ma‘bad al-Khuza‘iyyah.”
Ada pula yang mengatakan bahwa namanya adalah ‘Atikah binti Khalid bin Khalif.
Dialah wanita yang tendanya disinggahi Rasulullah ﷺ ketika beliau keluar dari Makkah menuju Madinah dalam rangka hijrah. Disebutkan bahwa tempat tersebut dikenal dengan nama Khيمah Ummu Ma‘bad (Tenda Ummu Ma‘bad).
Suaminya adalah Abu Ma‘bad رضي الله عنه. Para ulama berbeda pendapat mengenai nama aslinya. Muhammad bin Ismail menyebutkan bahwa namanya Hubaisy. Disebutkan pula bahwa Abu Ma‘bad wafat pada masa hidup Rasulullah ﷺ dan dahulu tinggal di daerah Qudaid.
Rasulullah ﷺ dan para sahabat meminta makanan kepada Ummu Ma‘bad untuk mereka beli. Namun karena kondisi paceklik, mereka tidak mendapatkannya.
Ummu Ma‘bad mempunyai seekor kambing yang tidak menghasilkan susu.
Nabi ﷺ meminta izin untuk memerahnya. Setelah diizinkan, beliau mengusap ambing kambing tersebut dan dengan izin Allah keluarlah susu yang melimpah.
Mereka semua meminumnya.
Setelah itu Rasulullah ﷺ dan rombongan melanjutkan perjalanan.
Ketika suami Ummu Ma‘bad pulang, ia terheran-heran melihat susu tersebut. Ummu Ma‘bad kemudian menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya serta menggambarkan ciri-ciri laki-laki yang singgah di tendanya.
Dari gambaran tersebut, Abu Ma‘bad mengetahui bahwa laki-laki itu adalah Muhammad Rasulullah ﷺ.
Ia pun bertekad menemui dan mengikuti beliau. Disebutkan bahwa kemudian keduanya masuk Islam.
Keberkahan Kambing Ummu Ma‘bad
Ibnu Sa‘ad meriwayatkan dalam Ath-Thabaqat al-Kubra perkataan Ummu Ma‘bad:
«فَبَقِيَتِ الشَّاةُ الَّتِي لَمَسَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ضَرْعَهَا عِنْدَنَا حَتَّى كَانَ زَمَانُ الرَّمَادَةِ، زَمَانَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، وَهِيَ سَنَةُ ثَمَانِي عَشْرَةَ مِنَ الْهِجْرَةِ. قَالَتْ: وَكُنَّا نَحْلُبُهَا صَبُوحًا وَغَبُوقًا وَمَا فِي الْأَرْضِ قَلِيلٌ وَلَا كَثِيرٌ»
“Kambing yang ambingnya pernah disentuh Rasulullah ﷺ itu tetap berada bersama kami hingga datang masa ar-Ramadah pada zaman Umar bin al-Khaththab, yaitu pada tahun kedelapan belas Hijriah.”
Ummu Ma‘bad melanjutkan:
“Kami tetap memerah susunya pada pagi dan petang hari, padahal ketika itu tidak ada sedikit ataupun banyak makanan yang tumbuh di bumi.”
Pada waktu itu Ummu Ma‘bad telah memeluk Islam.
Kisah Ummu Ma‘bad ini tidak hanya menggambarkan keindahan fisik dan kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ, tetapi juga memperlihatkan bagaimana orang yang baru bertemu beliau dalam waktu singkat dapat menangkap kewibawaan, kelembutan, keberkahan, dan kemuliaan pribadi beliau ﷺ.
Demikianlah gambaran yang sangat indah tentang sosok Rasulullah ﷺ sebagaimana disampaikan oleh Ummu Ma‘bad al-Khuza‘iyyah.
Wallahu a‘lam.



