Buku: Hadis-Hadis Sahih dan Tidak Sahih Seputar Bulan Muharam

Download Pdfnya Klik
ما صح وما لم يصح في شهر محرم
Hadis-Hadis Sahih dan Tidak Sahih Seputar Bulan Muharam
Tim Ilmiah Markaz Inayah
1448 H / 2026 M
Kata Pengantar
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَبَعْدُ:
Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, beserta keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang setia mengikuti petunjuknya. Amma ba’du:
Berikut ini adalah kumpulan hadis, baik yang sahih maupun yang tidak sahih, yang dinukil dan diriwayatkan dari Nabi ﷺ mengenai bulan Allah, Muharam, beserta berbagai hukum dan ibadah yang berkaitan dengannya. Kumpulan ini juga dilengkapi dengan penjelasan mengenai status setiap hadis dari segi diterima (maqbul) atau ditolaknya (mardud).[1]
Semoga dengan ini kaum muslimin bisa memahami dan mengetahui mana saja hadis-hadis yang beredar di masyarakat temasuk dalam kategori hadis sahih atau dhaif, dst. Wallahu ‘alam.
Daftar isi:
Bagian Pertama: Hadis-Hadis yang Tsabit (Sahih dan Hasan) 6
Bagian Kedua: Hadis-Hadis Tidak Sahih Seputar Bulan Muharam dan Hari Asyura 21
Bagian Pertama: Hadis-Hadis Yang Tsabit (Sahih Dan Hasan)
Pendahuluan
Bulan Muharam adalah salah satu bulan suci dalam Islam yang menyimpan berbagai keutamaan, terutama pada hari Asyura (hari kesepuluh). Terdapat banyak riwayat yang sahih dan hasan dari Nabi Muhammad ﷺ yang menjelaskan kedudukan serta anjuran beribadah di bulan ini.
Berikut beberapa daftar hadis-hadis yang tsabit (valid secara sanad dan matan), beserta status keabsahan dan rujukan kitabnya.
1. Keutamaan Empat Bulan Haram
(إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ).
“Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram (suci). Tiga di antaranya berturut-turut: Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam, serta Rajab (kabilah) Mudhar yang berada di antara Jumadilakhir dan Syakban.”
- Status: Sahih
- Sumber: Muttafaq ‘Alaih (Disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim)
2. Keutamaan Puasa Muharam dan Salat Malam
(أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ).
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah (puasa di) bulan Allah, Muharam, dan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.”
- Status: Sahih
- Sumber: Dikeluarkan oleh Muslim
3. Seruan untuk Berpuasa Asyura
(أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ: أَنْ أَذِّنْ فِي النَّاسِ: أَنَّ مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ، فَإِنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ).
“Nabi ﷺ memerintahkan seorang laki-laki dari kabilah Aslam (untuk berseru): ‘Umumkanlah kepada orang-orang: Bahwa barang siapa yang telah makan, hendaklah ia berpuasa (menahan diri) di sisa harinya, dan barang siapa yang belum makan, hendaklah ia berpuasa, karena hari ini adalah hari Asyura.'”
- Status: Sahih
- Sumber: Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
4. Peralihan Hukum Puasa Asyura
(كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ).
“Hari Asyura adalah hari di mana kaum Quraisy biasa berpuasa pada masa Jahiliah, dan Rasulullah ﷺ pun mempuasainya. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau mempuasainya dan memerintahkan (para sahabat) untuk mempuasainya. Namun, ketika puasa Ramadan diwajibkan, beliau meninggalkan (kewajiban) puasa hari Asyura. Maka, barang siapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa, dan barang siapa yang ingin meninggalkannya, silakan meninggalkannya.”
- Status: Sahih
- Sumber: Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
5. Kebebasan Memilih untuk Puasa Asyura
(كَانَ عَاشُورَاءُ يَوْمًا يَصُومُهُ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَرِهَهُ فَلْيَدَعْهُ).
“Asyura adalah hari di mana penduduk Jahiliah biasa berpuasa. Maka, barang siapa di antara kalian yang suka untuk mempuasainya, berpuasalah, dan barang siapa yang tidak suka, tinggalkanlah.”
- Status: Sahih
- Sumber: Sahih al-Jami’ (4457)
6. Pemasangan Kelambu Kakbah di Hari Asyura
(كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ، وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الْكَعْبَةُ، فَلَمَّا فَرَضَ اللَّهُ رَمَضَانَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ).
“Mereka (para sahabat) biasa berpuasa Asyura sebelum diwajibkannya Ramadan, dan itu adalah hari di mana Kakbah diberi kelambu (kiswah). Maka, ketika Allah mewajibkan Ramadan, Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barang siapa yang ingin mempuasainya, berpuasalah, dan barang siapa yang ingin meninggalkannya, tinggalkanlah.'”
- Status: Sahih
- Sumber: Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (dari hadis Aisyah)
7. Menahan Makan Bagi yang Telah Makan
(بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى قَوْمِي مِنْ أَسْلَمَ فَقَالَ: مُرْ قَوْمَكَ فَلْيَصُومُوا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ وَجَدْتَهُ مِنْهُمْ قَدْ أَكَلَ فِي أَوَّلِ يَوْمِهِ فَلْيَصُمْ آخِرَهُ).
“Rasulullah ﷺ mengutusku kepada kaumku dari (kabilah) Aslam, lalu beliau bersabda: ‘Perintahkanlah kaummu agar mereka berpuasa pada hari ini, yaitu hari Asyura. Barang siapa yang engkau dapati di antara mereka telah makan di awal harinya, hendaklah ia berpuasa (menahan diri) di akhir harinya.'”
- Status: Hasan
- Sumber: As-Silsilah Ash-Shahihah (2624)
8. Hari di Antara Hari-Hari Allah
(إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ).
“Sesungguhnya Asyura adalah salah satu hari dari hari-hari Allah. Maka, barang siapa yang ingin (berpuasa), berpuasalah, dan barang siapa yang ingin (tidak berpuasa), tinggalkanlah.”
- Status: Sahih
- Sumber: Sahih al-Jami’ (2101)
9. Keutamaan Penebusan Dosa
(صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ، مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبِلَةً، وَصَوْمُ عَاشُورَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً).
“Puasa hari Arafah menebus dosa dua tahun: tahun yang lalu dan tahun yang akan datang. Adapun puasa Asyura menebus dosa satu tahun yang lalu.”
- Status: Sahih
- Sumber: Sahih al-Jami’ (3806)
10. Harapan Penebusan Dosa kepada Allah
(صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ).
“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar ia menebus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya. Dan puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia menebus dosa setahun sebelumnya.”
- Status: Sahih
- Sumber: Sahih al-Jami’ (3853)
11. Asyura adalah Hari Kesepuluh
(عَاشُورَاءُ يَوْمُ الْعَاشِرِ).
“Asyura adalah hari kesepuluh.”
- Status: Sahih
- Sumber: Sahih al-Jami’ (3968)
12. Keselamatan Nabi Musa dan Keutamaan Islam
(عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ: مَا هَذَا الْيَوْمُ… فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ. أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى… فَقَالَ: فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ، فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ).
“Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, lalu mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau pun bertanya kepada mereka: ‘Hari apakah ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa…’ Maka beliau bersabda: ‘Kami lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian.’ Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa.”
- Status: Sahih
- Sumber: Diriwayatkan oleh Muslim
13. Kesungguhan Nabi dalam Berpuasa Asyura
(عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ، يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَهَذَا الشَّهْرَ، يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ).
“Dari Ibnu Abbas, ia berkata: ‘Aku tidak pernah melihat Nabi ﷺ bersungguh-sungguh mencari keutamaan puasa pada suatu hari yang lebih beliau utamakan atas hari-hari lainnya kecuali hari ini, yakni hari Asyura, dan bulan ini, yakni bulan Ramadan.'”
- Status: Sahih
- Sumber: Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
14. Rencana Puasa Hari Kesembilan (Tasu’a)
(حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوا: إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ: فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ. قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ، حَتَّى تُوُفِّيَ).
“Ketika Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk mempuasainya, para sahabat berkata: ‘Sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Maka beliau bersabda: ‘Jika datang tahun depan, insyaallah, kita akan berpuasa pada hari kesembilan.’ (Ibnu Abbas) berkata: ‘Namun, tahun depan belum tiba hingga beliau wafat.'”
- Status: Sahih
- Sumber: Diriwayatkan oleh Muslim
15. Perintah Puasa Asyura kepada Umat Islam
(كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ، وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صُومُوهُ أَنْتُمْ).
“Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi, dan mereka menjadikannya sebagai hari raya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Berpuasalah kalian (pada hari itu).'”
- Status: Sahih
- Sumber: Diriwayatkan oleh Muslim
16. Janji Puasa Hari Kesembilan
(لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ).
“Sungguh, jika aku masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan.”
- Status: Sahih
- Sumber: Diriwayatkan oleh Muslim
17. Menghitung Hilal Muharam
(كَانَ يَعُدُّ مِنْ هِلَالِ الْمُحَرَّمِ، ثُمَّ يُصْبِحُ يَوْمَ التَّاسِعِ صَائِمًا).
“Beliau terbiasa menghitung (hari) dari munculnya hilal Muharam, kemudian pada pagi hari kesembilan beliau berpuasa.”
- Status: Sahih
- Sumber: Diriwayatkan oleh Muslim
18. Tidak Adanya Kewajiban Mutlak
(هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ، وَلَمْ يَكْتُبْ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، وَأَنَا صَائِمٌ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ).
“Ini adalah hari Asyura, dan Allah tidak mewajibkan kepada kalian untuk mempuasainya, namun aku berpuasa. Maka, barang siapa yang ingin (berpuasa), berpuasalah, dan barang siapa yang ingin (tidak berpuasa), berbukalah.”
- Status: Sahih
- Sumber: Sahih al-Jami’ (7002)
19. Panduan Ibnu Abbas tentang Puasa Asyura
(أَتَيْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ رِدَاءَهُ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَسَأَلْتُهُ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ: إِذَا رَأَيْتَ هِلَالَ الْمُحَرَّمِ فَاعْدُدْ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ التَّاسِعِ فَأَصْبِحْ صَائِمًا…).
“Aku mendatangi Ibnu Abbas ketika ia sedang berbantalkan selendangnya di Masjidilharam, lalu aku bertanya kepadanya tentang puasa hari Asyura. Ia pun menjawab: ‘Jika engkau melihat hilal bulan Muharam, maka hitunglah. Apabila tiba hari kesembilan, maka jadilah orang yang berpuasa (berpuasalah)…'”
- Status: Sahih
- Sumber: Sahih Abi Dawud (2114)
20. Menyelisihi Tradisi Hari Raya Yahudi
(كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَعُدُّهُ الْيَهُودُ عِيدًا، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “فَصُومُوهُ أَنْتُمْ”).
“Hari Asyura adalah hari yang dianggap sebagai hari raya oleh orang-orang Yahudi, maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Berpuasalah kalian (pada hari itu).'”
- Status: Sahih
- Sumber: Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
21. Tradisi Penduduk Khaibar
(كَانَ أَهْلُ خَيْبَرَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ. يَتَّخِذُونَهُ عِيدًا. وَيُلْبِسُونَ نِسَاءَهُمْ فِيهِ حُلِيَّهُمْ وَشَارَتَهُمْ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ: فَصُومُوهُ أَنْتُمْ).
“Penduduk Khaibar biasa berpuasa pada hari Asyura, menjadikannya sebagai hari raya, dan memakaikan perhiasan serta pakaian indah kepada wanita-wanita mereka pada hari itu. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Berpuasalah kalian (pada hari itu).'”
- Status: Sahih
- Sumber: Diriwayatkan oleh Muslim
22. Perintah Puasa di Pertengahan Hari (Qudaid)
(أَنَّهُ قَالَ لِرَجُلٍ أَتَاهُ بِقُدَيْدٍ: أَطَعِمْتَ الْيَوْمَ شَيْئًا؟ قَالَ: إِنِّي شَرِبْتُ مَاءً. قَالَ: فَلَا تَطْعَمْ شَيْئًا حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، وَأْمُرْ مَنْ وَرَاءَكَ أَنْ يَصُومُوا هَذَا الْيَوْمَ).
“Bahwasanya beliau ﷺ berkata kepada seorang laki-laki yang datang kepadanya di Qudaid: ‘Apakah engkau telah menyantap sesuatu hari ini?’ Ia menjawab: ‘Aku baru minum air.’ Beliau bersabda: ‘Maka janganlah engkau menyantap apa pun sampai matahari terbenam, dan perintahkanlah orang-orang di belakangmu agar mereka berpuasa pada hari ini.'”
- Status: Maqbul (Dapat diterima / Perawinya terpercaya)
- Sumber: At-Thabarani / Majma’ az-Zawa’id
Bagian Kedua: Hadis-Hadis Tidak Sahih Seputar Bulan Muharam dan Hari Asyura
Pendahuluan
Berikut ini beberapa hadis yang berstatus daif (lemah), maudhu’ (palsu), maupun munkar. Tujuannya adalah untuk menjaga integritas keilmuan Islam serta memberikan edukasi agar umat lebih berhati-hati dalam mengamalkan atau menyebarkan suatu riwayat.
1. Keutamaan Budak, Malam, dan Muharam
أَزْكَى الرِّقَابِ أَغْلَاهَا ثَمَنًا، وَأَفْضَلُ اللَّيْلِ جَوْفُ اللَّيْلِ، وَأَفْضَلُ الشُّهُورِ الْمُحَرَّمُ.
“Budak yang paling suci adalah yang paling mahal harganya, waktu malam yang paling utama adalah pertengahan malam, dan bulan yang paling utama adalah Muharam.”
- Status: Daif
- Sumber: Dha’if al-Jami’ as-Shaghir (794)
2. Penghulu Bulan dan Hari
سَيِّدُ الْأَشْهُرِ الْمُحَرَّمُ، وَسَيِّدُ الْأَيَّامِ الْجُمُعَةُ…
“Penghulu bulan-bulan adalah Muharam dan penghulu hari-hari adalah Jumat…”
- Status: Maudhu’ (Palsu)
- Sumber: Dha’if al-Jami’ (3326)
3. Anjuran Berpuasa Setelah Ramadan
إِنْ كُنْتَ صَائِمًا بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ فَصُمْ الْمُحَرَّمَ؛ فَإِنَّهُ شَهْرُ اللَّهِ، وَفِيهِ يَوْمٌ تَابَ اللَّهُ فِيهِ عَلَى قَوْمٍ، وَيَتُوبُ فِيهِ عَلَى قَوْمٍ آخَرِينَ.
“Jika engkau hendak berpuasa setelah bulan Ramadan, maka berpuasalah di bulan Muharam; karena ia adalah bulan Allah, dan di dalamnya terdapat hari di mana Allah menerima tobat suatu kaum, dan akan menerima tobat kaum yang lain.”
- Status: Daif
- Sumber: Dha’if at-Targhib wa at-Tarhib (614)
4. Puasa Usamah bin Zaid
أَنَّ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ كَانَ يَصُومُ الْأَشْهُرَ الْحُرُمَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ: صُمْ شَوَّالًا. فَتَرَكَ الْأَشْهُرَ الْحُرُمَ ثُمَّ لَمْ يَزَلْ يَصُومُ شَوَّالًا حَتَّى مَاتَ.
“Bahwa Usamah bin Zaid terbiasa berpuasa di bulan-bulan haram, lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: ‘Berpuasalah di bulan Syawal.’ Maka ia pun meninggalkan puasa di bulan-bulan haram dan terus berpuasa di bulan Syawal hingga ia wafat.”
- Status: Daif (Munqathi’ / Sanad Terputus)
- Sumber: Zawa’id Ibnu Majah
5. Bulan Allah yang Tuli
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ، وَأَفْضَلُ الشُّهُورِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ الْمُحَرَّمُ وَهُوَ شَهْرُ اللَّهِ الْأَصَمُّ.
“Salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat di pertengahan malam, dan bulan yang paling utama setelah Ramadan adalah Muharam, dan ia adalah bulan Allah yang tuli (sunyi dari peperangan).”
- Status: Daif
- Sumber: Latha’if al-Ma’arif (hlm. 79)
6. Penundaan Waktu Kurban
الضَّحَايَا إِلَى هِلَالِ الْمُحَرَّمِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَسْتَأْنِيَ ذَلِكَ.
“Waktu berkurban itu berlanjut sampai munculnya hilal bulan Muharam, bagi siapa saja yang ingin menundanya.”
- Status: Daif
- Sumber: Dha’if al-Jami’ (3595)
7. Pahala Tiga Puluh Kebaikan
مَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً.
“Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Muharam, maka untuk setiap harinya ia mendapatkan tiga puluh kebaikan.”
- Status: Maudhu’
- Sumber: Dha’if al-Jami’ (5654)
8. Perintah Menyelisihi Yahudi (1)
صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا وَبَعْدَهُ يَوْمًا.
“Berpuasalah kalian pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi padanya; berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.”
- Status: Daif
- Sumber: Dha’if al-Jami’ (3506)
9. Perintah Menyelisihi Yahudi (2)
لَئِنْ بَقِيتُ لَآمُرَنَّ بِصِيَامِ يَوْمٍ قَبْلَهُ أَوْ يَوْمٍ بَعْدَهُ.
“Sungguh jika aku masih hidup, aku pasti akan memerintahkan untuk berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.”
- Status: Munkar (dengan lafaz lengkap ini)
- Sumber: As-Silsilah Adh-Dha’ifah (4297)
10. Puasanya Para Nabi
صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، يَوْمٌ كَانَتِ الْأَنْبِيَاءُ تَصُومُهُ فَصُومُوهُ.
“Berpuasalah kalian pada hari Asyura, itu adalah hari di mana para nabi biasa berpuasa padanya, maka berpuasalah kalian.”
- Status: Daif
- Sumber: Dha’if al-Jami’ (3507)
11. Hari Raya Nabi Terdahulu
عَاشُورَاءُ عِيدُ نَبِيٍّ كَانَ قَبْلَكُمْ فَصُومُوهُ أَنْتُمْ.
“Asyura adalah hari raya nabi sebelum kalian, maka berpuasalah kalian padanya.”
- Status: Daif
- Sumber: Dha’if al-Jami’ (3670)
12. Penamaan Asyura
عَاشُورَاءُ يَوْمُ التَّاسِعِ.
“Asyura adalah hari kesembilan.”
- Status: Maudhu’
- Sumber: As-Silsilah Adh-Dha’ifah (3849)
13. Terbelahnya Lautan
فُلِقَ الْبَحْرُ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ.
“Lautan dibelah untuk Bani Israil pada hari Asyura.”
- Status: Maudhu’
- Sumber: Dha’if al-Jami’ (3989)
14. Kebiasaan Puasa Nabi
كَانَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ: أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ وَالِاثْنَيْنِ مِنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى.
“Beliau ﷺ terbiasa berpuasa sembilan hari (awal) Zulhijah, hari Asyura, dan tiga hari setiap bulan: hari Senin pertama setiap bulan, serta hari Kamis dan Senin pada pekan berikutnya.”
- Status: Daif
- Sumber: Dha’if al-Jami’ (4570)
15. Perintah Berpuasa Asyura
كَانَ يَصُومُ عَاشُورَاءَ وَيَأْمُرُ بِهِ.
“Beliau ﷺ terbiasa berpuasa Asyura dan memerintahkannya.”
- Status: Daif
- Sumber: Dha’if al-Jami’ (4571)
16. Keutamaan Mutlak Hari Puasa
لَيْسَ لِيَوْمٍ فَضْلٌ عَلَى يَوْمٍ فِي الصِّيَامِ إِلَّا شَهْرَ رَمَضَانَ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ.
“Tidak ada hari yang memiliki keutamaan berpuasa melebihi hari yang lain kecuali bulan Ramadan dan hari Asyura.”
- Status: Daif
- Sumber: Dha’if al-Jami’ (4925)
17. Bercelak Mata di Hari Asyura
مَنْ اكْتَحَلَ بِالْإِثْمِدِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَرْمَدْ أَبَدًا.
“Barang siapa bercelak dengan itsmid (celak mata) pada hari Asyura, matanya tidak akan pernah sakit selamanya.”
- Status: Maudhu’
- Sumber: Dha’if al-Jami’ (5467)
18. Meluaskan Rezeki Keluarga
مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي سَنَتِهِ كُلِّهَا.
“Barang siapa memberikan keleluasaan (rezeki) bagi keluarganya pada hari Asyura, niscaya Allah akan meluaskan rezekinya sepanjang tahun tersebut.”
- Status: Daif
- Sumber: Dha’if al-Jami’ (5873)
19. Empat Hal yang Tidak Ditinggalkan Nabi
أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ: صِيَامَ عَاشُورَاءَ، وَالْعَشْرَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ.
“Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi: puasa Asyura, puasa sepuluh hari (awal Zulhijah), puasa tiga hari setiap bulan, dan salat dua rakaat sebelum fajar.”
- Status: Daif
- Sumber: Irwa’ al-Ghalil (4/111)
20. Menahan Susu Bayi
كَانَ يُعَظِّمُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، حَتَّى إِنْ كَانَ لَيَدْعُو بِصِبْيَانِهِ، وَصِبْيَانِ فَاطِمَةَ الْمَرَاضِيعِ، فَيَقُولُ لِأُمَّهَاتِهِمْ: لَا تُرْضِعُوهُمْ إِلَى اللَّيْلِ…
“Beliau sangat mengagungkan hari Asyura, hingga beliau memanggil anak-anaknya dan anak-anak Fatimah yang masih menyusu, lalu beliau berkata kepada ibu-ibu mereka: ‘Jangan susui mereka sampai malam tiba…'”
- Status: Daif
- Sumber: As-Silsilah Adh-Dha’ifah (6749)
21. Puasa Para Nabi (Lafaz Berbeda)
صَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ كَانَتْ تَصُومُهُ الْأَنْبِيَاءُ فَصُومُوهُ أَنْتُمْ.
“Puasa Asyura adalah hari di mana para nabi biasa berpuasa, maka berpuasalah kalian.”
- Status: Munkar (dengan lafaz ini)
- Sumber: Irwa’ al-Ghalil (4/112)
22. Pahala Ibadah Enam Puluh Tahun
مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ عِبَادَةَ سِتِّينَ سَنَةً بِصِيَامِهَا وَقِيَامِهَا، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشَرَةِ آلَافِ مَلَكٍ… إِلَخْ.
“Barang siapa berpuasa pada hari Asyura, Allah mencatat baginya ibadah selama enam puluh tahun lengkap dengan puasa dan salat malamnya. Dan barang siapa berpuasa pada hari Asyura, ia akan diberi pahala sepuluh ribu malaikat… dan seterusnya.”
- Status: Maudhu’
- Sumber: Maudhu’at Ibnu al-Jauzi (2/570)
23. Kewajiban Puasa Bani Israil dan Tobat Adam
إِنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ صَوْمَ عَاشُورَاءَ فَصُومُوهُ، وَوَسِّعُوا عَلَى أَهَالِيكُمْ فَإِنَّهُ الْيَوْمُ الَّذِي تَابَ اللَّهُ فِيهِ عَلَى آدَمَ… .
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada Bani Israil untuk berpuasa Asyura, maka berpuasalah kalian, dan berikanlah keleluasaan kepada keluarga kalian, karena ia adalah hari di mana Allah menerima tobat Adam…”
- Status: Maudhu’
- Sumber: Tartib al-Maudhu’at (585)
24. Penebus Dosa Lima Puluh Tahun
مَنْ صَامَ آخِرَ سَنَةٍ وَأَوَّلَ الْأُخْرَى جَعَلَ اللَّهُ لَهُ كَفَّارَةَ خَمْسِينَ سَنَةً.
“Barang siapa berpuasa di akhir tahun dan di awal tahun berikutnya, Allah menjadikannya sebagai penebus dosa selama lima puluh tahun.”
- Status: Maudhu’
- Sumber: Tartib al-Maudhu’at (583)
25. Menutup Tahun dengan Puasa
مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، وَأَوَّلَ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ… .
“Barang siapa berpuasa di hari terakhir bulan Zulhijah, dan hari pertama bulan Muharam, sungguh ia telah menutup tahun yang lalu dengan puasa…”
- Status: Maudhu’
- Sumber: Al-La’ali’ al-Mashnu’ah (2/92)
26. Kubah di Udara
مَنْ صَامَ تِسْعَةَ أَيَّامٍ مِنْ أَوَّلِ الْمُحَرَّمِ بَنَى اللَّهُ لَهُ قُبَّةً فِي الْهَوَاءِ مِيلًا فِي مِيلٍ، لَهَا أَرْبَعَةُ أَبْوَابٍ.
“Barang siapa berpuasa sembilan hari di awal bulan Muharam, Allah akan membangunkan untuknya sebuah kubah di udara selebar satu mil persegi, yang memiliki empat pintu.”
- Status: Maudhu’
- Sumber: Al-La’ali’ al-Mashnu’ah (2/92)
27. Burung Surad Berpuasa Asyura
رَأَى رَسُولُ اللَّهِ عَلَى يَدَيَّ صُرَدًا فَقَالَ: هَذَا أَوَّلُ طَيْرٍ صَامَ عَاشُورَاءَ.
“Rasulullah ﷺ melihat burung surad di kedua tanganku, lalu beliau bersabda: ‘Ini adalah burung pertama yang berpuasa Asyura.'”
- Status: Tidak Sahih
- Sumber: Tartib al-Maudhu’at (589)
28. Mandi dan Bercelak di Hari Asyura
مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَمْرَضْ ذَلِكَ الْعَامَ، وَمَنْ اكْتَحَلَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَرْمَدْ ذَلِكَ الْعَامَ.
“Barang siapa mandi pada hari Asyura, ia tidak akan sakit pada tahun tersebut, dan barang siapa bercelak pada hari Asyura, matanya tidak akan sakit pada tahun tersebut.”
- Status: Maudhu’
- Sumber: Majmu’ Fatawa Ibnu Baz (26/249)
29. Menghidupkan Malam Asyura
مَنْ أَحْيَا لَيْلَةَ عَاشُورَاءَ فَكَأَنَّمَا عَبَدَ اللَّهَ تَعَالَى بِمِثْلِ عِبَادَةِ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ، وَمَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ…
“Barang siapa menghidupkan (dengan ibadah) malam Asyura, maka seolah-olah ia beribadah kepada Allah Ta’ala seperti ibadahnya penduduk langit, dan barang siapa salat empat rakaat…”
- Status: Tidak Sahih
- Sumber: Al-Maudhu’at karya Ibnu al-Jauzi (2/122)
30. Pahala Tujuh Puluh Nabi
أَنَّهُ مَنْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِكَذَا وَكَذَا كُتِبَ لَهُ ثَوَابُ سَبْعِينَ نَبِيًّا.
“Bahwasanya barang siapa salat dua rakaat pada hari Asyura dengan membaca surah ini dan ini, maka akan dicatat baginya pahala tujuh puluh nabi.”
- Status: Maudhu’
- Sumber: Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql (1/150)
31. Kubah Putih di Surga Firdaus
مَنْ صَلَّى عَاشُورَاءَ أَرْبَعِينَ رَكْعَةً، أَعْطَاهُ اللَّهُ فِي الْفِرْدَوْسِ قُبَّةً بَيْضَاءَ.
“Barang siapa mengerjakan salat (sunah) Asyura sebanyak empat puluh rakaat, Allah akan memberinya sebuah kubah putih di surga Firdaus.”
- Status: Maudhu’
- Sumber: Tartib al-Maudhu’at (500)
32. Menangis pada Hari Asyura
الْبُكَاءُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ نُورٌ تَامٌّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Menangis pada hari Asyura adalah cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.”
- Status: Maudhu’
- Sumber: Al-Fawa’id al-Majmu’ah (hlm. 440)
33. Salat Antara Zuhur dan Asar
مَنْ صَلَّى يَوْمَ عَاشُورَاءَ، مَا بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ مَرَّةً…
“Barang siapa salat empat rakaat pada hari Asyura antara waktu Zuhur dan Asar, pada setiap rakaat ia membaca Surah Al-Fatihah satu kali…”
- Status: Maudhu’
- Sumber: Al-Fawa’id al-Majmu’ah (hlm. 47)
34. Puasanya Hewan Buas
كَانَتِ الْوُحُوشُ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ.
“Hewan-hewan buas pun berpuasa pada hari Asyura.”
- Status: Munkar
- Sumber: Al-Fawa’id al-Majmu’ah (hlm. 98)
35. Menangisi Terbunuhnya Al-Husain
مَا مِنْ عَبْدٍ يَبْكِي يَوْمَ قُتِلَ الْحُسَيْنُ يَعْنِي يَوْمَ عَاشُورَاءَ إِلَّا كَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ أُولِي الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ.
“Tidaklah seorang hamba menangis pada hari terbunuhnya Al-Husain, yakni hari Asyura, melainkan pada hari Kiamat ia akan dikumpulkan bersama Ulul Azmi dari kalangan para rasul.”
- Status: Maudhu’
- Sumber: Al-Fawa’id al-Majmu’ah (hlm. 440)
- Artikel ini bersal dari: https://saaid.org/mktarat/mohram/54.htm, yang kemudian kami menyusun ulang dengan mengelompokkan hadis-hadis shahih dan dhaif serta palsu dalam satu kelompok masing-masing, agar lebih mudah dipahami. Wallahu’alam. ↑



