Tatsqif

Al-Hajun

Al-Hajun (الحجون)

Pengertian Al-Hajun Menurut Ahli Bahasa Arab

Dalam Lisan al-‘Arab, disebutkan bahwa Al-Hajun (الحجون) adalah:

««الجبل المشرف مما يلي شعب الجزارين بمكة»»

Artinya:

«”Gunung yang menjulang tinggi di sisi Syi’b al-Jazzarin (Lembah Para Penjagal) di Kota Makkah.”»

Nama tempat ini telah dikenal sejak masa Jahiliyah. Hal itu tampak dalam syair Amr bin al-Harits bin Mudhadh al-Jurhumi, yang berkata:

«كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بَيْنَ الْحَجُونِ إِلَى الصَّفَا
أَنِيسٌ وَلَمْ يَسْمُرْ بِمَكَّةَ سَامِرُ»

Artinya:

«”Seakan-akan tidak pernah ada kehidupan antara Al-Hajun hingga Ash-Shafa, dan tidak pernah ada seorang pun yang berbincang pada malam hari di Makkah.”»

Syair ini menggambarkan kesedihan penyair setelah meninggalkan Makkah, seolah-olah kehidupan yang dahulu ramai kini telah sirna.

Keterangan Imam Al-Azraqi رحمه الله

Sejarawan Makkah abad ketiga Hijriah, Imam Abu al-Walid Al-Azraqi dalam kitab أخبار مكة وما جاء فيها من الآثار berkata:

««الحجون: الجبل المشرف حذاء مسجد البيعة الذي يقال له مسجد الحرس، وفيه ثنية تسلك من حائط عوف من عند الماجلين إلى شعب الجزارين، وبأصله في شعب الجزارين كانت المقبرة في الجاهلية.»»

Artinya:

«”Al-Hajun adalah gunung yang menjulang tinggi di hadapan Masjid Bai’ah, yang dahulu juga dikenal sebagai Masjid al-Haras. Di sana terdapat sebuah jalan pegunungan (tsaniyyah) yang menghubungkan Ha’ith ‘Auf, dekat daerah al-Majilin, menuju Syi’b al-Jazzarin. Di kaki gunung tersebut, tepatnya di Syi’b al-Jazzarin, terdapat pemakaman pada masa Jahiliyah.”»

Beliau kemudian membawakan syair Katsir bin Katsir:

«كَمْ بِذَاكَ الْحَجُونِ مِنْ حَيِّ صِدْقٍ
مِنْ كُهُولٍ أَعِفَّةٍ وَشَبَابِ»

Artinya:

«”Betapa banyak penduduk yang jujur dan mulia pernah tinggal di Al-Hajun, baik orang-orang tua yang menjaga kehormatan maupun para pemuda.”»

Syair ini menunjukkan bahwa kawasan Al-Hajun telah dihuni oleh banyak tokoh terhormat sejak dahulu.

Keterangan Imam Al-Fakihi رحمه الله

Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ishaq Al-Fakihi, ulama Makkah abad ketiga Hijriah dalam kitab أخبار مكة في قديم الدهر وحديثه, meriwayatkan perkataan Hind binti ‘Utbah melalui Az-Zubair bin Abu Bakar:

«لَحَا اللَّهُ كُلَّ صَائِبَةٍ بِوَجٍّ
وَمَكَّةَ أَوْ بِأَطْرَافِ الْحَجُونِ
تَدِينُ لِمَعْشَرٍ قَتَلُوا أَبَاهَا
أَقَتْلُ أَبِيكِ جَاءَكِ بِالْيَقِينِ»

Artinya:

«”Semoga Allah membinasakan setiap orang yang tinggal di Wajj, di Makkah, maupun di sekitar Al-Hajun, yang tunduk kepada suatu kaum yang telah membunuh ayahnya. Apakah terbunuhnya ayahmu itulah yang membuatmu yakin?”»

Syair ini termasuk syair yang lahir dari suasana konflik pada masa awal Islam.

Al-Fakihi juga meriwayatkan syair Abdullah bin Salim al-Khayyath tentang Al-Hajun:

«سَائِلْ بِطَلْحَةَ بِالْبِطَاحِ
بِطَاحِ مَكَّةَ فَالْحَجُونِ
هَلْ مِثْلُ طَلْحَةَ فِيكُمْ
فِيمَنْ يُقِيمُ وَمَنْ يَبِينُ»

Artinya:

«”Tanyakanlah tentang Thalhah di lembah-lembah Makkah dan di Al-Hajun. Adakah di antara kalian seseorang yang sebanding dengan Thalhah, baik yang tinggal menetap maupun yang telah pergi?”»

Syair ini merupakan pujian kepada seorang tokoh bernama Thalhah, yang dikenal karena kemuliaannya.

Pos Penjagaan Abdullah bin Az-Zubair

Al-Fakihi juga menyebutkan bahwa markas penjagaan (المسلحة) milik Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma berada di kawasan Al-Hajun.

Beliau meriwayatkan dari Az-Zubair bin Abu Bakar yang berkata:

««حَدَّثَنِي عَمِّي مُصْعَبُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: بَلَغَنِي أَنَّ مَسْلَحَةَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ كَانَتْ بِالْحَجُونِ فِيمَا بَيْنَ الْمَسْجِدِ وَبِئْرِ مَيْمُونَ.»»

Artinya:

«”Pamanku, Mush’ab bin Abdullah, menceritakan kepadaku bahwa pos penjagaan milik Abdullah bin Az-Zubair berada di kawasan Al-Hajun, di antara masjid dan Sumur Maimun.”»

Sumur tersebut dinisbatkan kepada Maimun bin al-Hadhrami.

Faedah Sejarah

Dari keterangan para ulama di atas dapat dipahami bahwa Al-Hajun bukan sekadar sebuah gunung, tetapi merupakan kawasan bersejarah di Makkah yang telah dikenal sejak zaman Jahiliyah.

Para ahli bahasa, ahli sejarah, dan penyair Arab sama-sama menyebutnya sebagai:

– gunung yang berada di bagian atas Kota Makkah,
– dekat Syi’b al-Jazzarin,
– dekat Masjid Bai’ah,
– dan berdekatan dengan kawasan pemakaman tua penduduk Makkah.

Karena itu, nama Al-Hajun sering muncul dalam syair-syair Arab kuno, kitab-kitab sejarah Makkah, serta riwayat-riwayat tentang perjalanan Rasulullah ﷺ dan para sahabat.

Keterangan Imam Al-Bakri Al-Andalusi رحمه الله

Imam Abdullah bin Abdul Aziz Al-Bakri Al-Andalusi (wafat 487 H), penulis kitab معجم ما استعجم من أسماء البلاد والمواضع, menjelaskan tentang Al-Hajun sebagai berikut:

««الحجون بفتح أوله، على وزن فعول: موضع بمكة عند المحصب، هو الجبل المشرف بحذاء المسجد الذي يلي شعب الجزارين، إلى ما بين الحوضين الذين في حائط عوف، وعلى الحجون سقيفة زياد بن عبدالله أحد بني الحارث بن كعب، وكان على مكة.»»

Artinya:

«”Al-Hajun—dengan huruf ha’ berharakat fathah, mengikuti wazan (pola) فعول—adalah sebuah tempat di Makkah yang berada di dekat Al-Muhashshab. Ia merupakan gunung yang menjulang tinggi di samping masjid yang terletak di dekat Syi’b al-Jazzarin hingga kawasan dua kolam di Ha’ith ‘Auf. Di atas Al-Hajun dahulu terdapat bangunan milik Ziyad bin Abdullah, salah seorang dari Bani al-Harits bin Ka’b, yang pernah menjadi gubernur Makkah.”»

Beliau kemudian mengutip syair Nushaib:

«لَا أَنْسَاكِ مَا أَرْسَى ثَبِيرٌ مَكَانَهُ
وَمَا دَامَ جَارًا لِلْحَجُونِ الْمُحَصَّبُ»

Artinya:

«”Aku tidak akan pernah melupakanmu selama Gunung Tsabir tetap tegak di tempatnya, dan selama Al-Muhashshab tetap menjadi tetangga Al-Hajun.”»

Syair ini menunjukkan bahwa Al-Hajun merupakan salah satu penanda geografis yang sangat terkenal di Makkah.

Al-Hajun adalah Pemakaman Penduduk Makkah

Al-Bakri juga menukil perkataan Az-Zubair:

««الحجون مقبرة أهل مكة، تجاه دار أبي موسى الأشعري.»»

Artinya:

«”Al-Hajun adalah pemakaman penduduk Makkah yang terletak berhadapan dengan rumah Abu Musa Al-Asy’ari.”»

Keterangan ini menunjukkan bahwa sejak masa awal Islam kawasan Al-Hajun telah dikenal sebagai lokasi Maqbarah al-Ma’la (Pemakaman Ma’la), tempat dimakamkannya banyak sahabat, tabi’in, dan keluarga Rasulullah ﷺ, termasuk Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Keterangan Imam Al-Hazimi رحمه الله

Imam Al-Hafizh Muhammad bin Musa Al-Hazimi (wafat 548 H) dalam kitabnya الأماكن berkata:

««الحجون، بعد الحاء المفتوحة جيم مضمومة وآخره نون: جبل بأعلى مكة، من البيت على ميل ونصف، عليه سقيفة آل زياد بن عبدالله الحارثي، وكان عاملاً على مكة.»»

Artinya:

«”Al-Hajun—huruf ha’ berfathah, jim berharakat dhammah, dan diakhiri huruf nun—adalah sebuah gunung di bagian atas Kota Makkah. Jaraknya sekitar satu setengah mil dari Ka’bah. Di atasnya dahulu terdapat bangunan milik keluarga Ziyad bin Abdullah Al-Haritsi, yang pernah menjadi penguasa Makkah.”»

Beliau kemudian mengutip syair Abu Dzu’aib Al-Hudzali:

«بِأَيِّهِ مَا وَقَفْتَ وَالرِّكَابُ
بَيْنَ الْحَجُونِ وَبَيْنَ السَّرَرِ»

Artinya:

«”Di manakah engkau berhenti, sementara rombongan kendaraan berada di antara Al-Hajun dan As-Sarar?”»

Syair ini menunjukkan bahwa Al-Hajun juga merupakan salah satu jalur perjalanan yang terkenal bagi para musafir.

Penjelasan Syaikh Hamad Al-Jasir رحمه الله

Syaikh Hamad Al-Jasir, ketika memberikan catatan atas kitab Al-Amakin, menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai letak pasti Al-Hajun, walaupun mereka sepakat bahwa lokasinya berada di bagian atas Kota Makkah, dekat pemakaman.

Beliau berkata bahwa:

– Sebagian ulama terdahulu dan mayoritas ulama belakangan berpendapat bahwa Al-Hajun adalah gunung yang berada di sisi Maqbarah al-Ma’la, menghadap ke arah Al-Abthah, dekat Masjid Jin (Masjid Bai’atul Jin).
– Di gunung tersebut terdapat jalan pegunungan yang dikenal dengan nama Tsaniyyah Kada’ (ثنية كداء).
– Inilah pendapat yang paling masyhur di kalangan ulama muta’akhkhirin.

Namun, beliau juga menyebutkan adanya riwayat dalam Akhbar Makkah yang memberikan pemahaman bahwa Al-Hajun berada di sisi gunung yang berhadapan dengannya, di sebelah lain kawasan Al-Ma’la.

Abu Muhammad Al-Khuza’i berkata:

««الحجون الجبل المشرف على مسجد الحرس بأعلى مكة، على يمينك وأنت مصعد، وهو أيضاً مشرف على شعب الجزارين.»»

Artinya:

«”Al-Hajun adalah gunung yang menjulang tinggi di atas Masjid al-Haras di bagian atas Makkah. Ia berada di sebelah kanan ketika seseorang mendaki ke arah Mina, dan juga menghadap ke Syi’b al-Jazzarin.”»

Keterangan Imam Al-Fasi رحمه الله

Syaikh Hamad Al-Jasir juga mengutip perkataan Imam Taqiyuddin Al-Fasi dalam kitab شفاء الغرام:

««الحجون المذكور في حد المحصب جبل بالمعلاة، مقبرة أهل مكة، على يسار الداخل إلى مكة ويمين الخارج منها إلى منى.»»

Artinya:

«”Al-Hajun yang disebutkan dalam batas wilayah Al-Muhashshab adalah gunung yang berada di kawasan Al-Ma’la, yaitu tempat pemakaman penduduk Makkah. Letaknya di sebelah kiri orang yang memasuki Makkah dan di sebelah kanan orang yang keluar menuju Mina.”»

Kesimpulan Para Ulama

Dari penjelasan Imam Al-Bakri, Al-Hazimi, Al-Fasi, dan Syaikh Hamad Al-Jasir dapat disimpulkan bahwa:

– Al-Hajun terletak di bagian atas Kota Makkah.
– Berdekatan dengan Maqbarah al-Ma’la, pemakaman penduduk Makkah.
– Dekat dengan Masjid Bai’ah atau Masjid al-Haras.
– Berdekatan dengan kawasan Al-Muhashshab dan jalan Tsaniyyah Kada’.
– Sejak dahulu Al-Hajun merupakan salah satu lokasi yang paling terkenal di Makkah sehingga sering disebut dalam syair-syair Arab, kitab sejarah, dan riwayat perjalanan Nabi ﷺ.

Penjelasan Imam Ibnu Manzhur رحمه الله dalam Lisan al-‘Arab

Imam Abu al-Fadhl Jamaluddin Muhammad bin Mukarram Ibnu Manzhur رحمه الله menjelaskan asal-usul kata الحجون dari sisi bahasa Arab.

Beliau berkata:

««الِاحْتِجَانُ: هُوَ جَمْعُ الشَّيْءِ وَضَمُّهُ إِلَيْكَ، وَهُوَ افْتِعَالٌ مِنَ الْمِحْجَنِ.»»

Artinya:

«”Al-Ihtijān berarti mengumpulkan sesuatu dan mendekatkannya kepada diri sendiri. Kata ini berasal dari kata المِحْجَن, yaitu tongkat yang ujungnya melengkung.”»

Beliau menyebutkan hadis:

««مَا أَقْطَعَكَ الْعَقِيقَ لِتَحْتَجِنَهُ»»

Artinya:

«”Aku tidak memberikan lembah Al-‘Aqiq kepadamu agar engkau menguasainya untuk kepentinganmu sendiri.”»

Beliau juga mengutip sebuah riwayat:

««وَاحْتَجَنَّاهُ دُونَ غَيْرِنَا»»

Artinya:

«”Kami mengkhususkannya untuk diri kami sendiri, bukan untuk orang lain.”»

Kemudian beliau menjelaskan:

««حَجَنَ الدَّارَ: أَقَامَ بِهَا.»»

Artinya:

«”Ungkapan ‘ḥajana ad-dār’ berarti seseorang menetap di rumah tersebut.”»

Makna Lain Kata Al-Hajn

Ibnu Manzhur juga berkata:

««الْحَجَنُ: الْقُضْبَانُ الْقِصَارُ الَّتِي فِيهَا الْعِنَبُ، وَوَاحِدَتُهَا حَجَنَةٌ.»»

Artinya:

«”Al-Hajn adalah ranting-ranting pendek tempat buah anggur tumbuh. Bentuk tunggalnya adalah ḥajanah.”»

Beliau juga menjelaskan istilah:

««مِحْجَنُ مَالٍ»»

Artinya:

«”Seseorang yang pandai mengelola harta, memperbaikinya, menjaga, serta mengembangkannya.”»

Lalu beliau membawakan syair Nafi’ bin Laqith Al-Asadi:

«قَدْ عَنَّتِ الْجَلْعَدَ شَيْخًا أَعْجَفًا
مِحْجَنَ مَالٍ أَيْنَمَا تَصَرَّفَ»

Artinya:

«”Kesulitan telah menimpa seorang tua yang kurus, namun ia tetap piawai mengelola hartanya ke mana pun ia pergi.”»

Makna Ihtijān al-Māl

Ibnu Manzhur berkata:

««احْتِجَانُ الْمَالِ: إِصْلَاحُهُ وَجَمْعُهُ وَضَمُّ مَا انْتَشَرَ مِنْهُ.»»

Artinya:

«”Mengumpulkan harta berarti memperbaikinya, menghimpunnya, dan mengumpulkan kembali bagian-bagian yang berserakan.”»

Beliau juga berkata:

««وَاحْتِجَانُ مَالِ غَيْرِكَ: اقْتِطَاعُهُ وَسَرِقَتُهُ.»»

Artinya:

«”Mengambil harta milik orang lain secara diam-diam berarti merampas atau mencurinya.”»

Makna Al-Hajun dalam Strategi Perang

Ibnu Manzhur juga menyebutkan istilah:

««الْغَزْوَةُ الْحَجُونُ»»

Beliau menjelaskan:

«”Yaitu strategi peperangan dengan memperlihatkan seolah-olah pasukan akan menuju satu tempat, padahal sebenarnya mereka bergerak menuju tempat lain.”»

Ada pula yang mengatakan bahwa maksudnya adalah perjalanan perang yang jauh.

Beliau membawakan syair Al-A’masy:

«وَلَا بُدَّ مِنْ غَزْوَةٍ فِي الرَّبِيعِ
حَجُونٍ تَكِلُّ الْوَقَاحَ الشَّكُورَا»

Artinya:

«”Pasti akan ada suatu ekspedisi perang pada musim semi yang panjang perjalanannya hingga membuat unta-unta yang kuat sekalipun menjadi letih.”»

Pendapat Imam Al-Jauhari رحمه الله

Ibnu Manzhur kemudian mengutip Imam Al-Jauhari:

««الْحَجُونُ، بِفَتْحِ الْحَاءِ، جَبَلٌ بِمَكَّةَ، وَهِيَ مَقْبَرَةٌ.»»

Artinya:

«”Al-Hajun—dengan huruf ha’ berharakat fathah—adalah sebuah gunung di Makkah, dan di sana terdapat pemakaman.”»

Beliau kembali mengutip syair terkenal Amr bin al-Harits al-Jurhumi:

«كَأَنْ لَمْ يَكُنْ بَيْنَ الْحَجُونِ إِلَى الصَّفَا
أَنِيسٌ وَلَمْ يَسْمُرْ بِمَكَّةَ سَامِرُ»

Artinya:

«”Seolah-olah tidak pernah ada kehidupan antara Al-Hajun hingga Ash-Shafa, dan tidak pernah ada orang yang berbincang pada malam hari di Makkah.”»

Disebutkan pula bahwa sebagian ulama menisbatkan syair tersebut kepada Al-Harits Al-Jurhumi.

Pendapat Ibnu Al-Atsir رحمه الله

Ibnu Manzhur juga mengutip perkataan Ibnu Al-Atsir:

««الْحَجُونُ: الْجَبَلُ الْمُشْرِفُ مِمَّا يَلِي شِعْبَ الْجَزَّارِينَ بِمَكَّةَ.»»

Artinya:

«”Al-Hajun adalah gunung yang menjulang tinggi di sisi Syi’b al-Jazzarin di Kota Makkah.”»

Ada pula yang berpendapat:

««هُوَ مَوْضِعٌ بِمَكَّةَ فِيهِ اعْوِجَاجٌ.»»

Artinya:

«”Al-Hajun adalah sebuah tempat di Makkah yang memiliki jalan berkelok.”»

Namun Ibnu Manzhur menegaskan:

««وَالْمَشْهُورُ الْأَوَّلُ.»»

Artinya:

«”Pendapat yang paling masyhur adalah pendapat pertama,”»

yaitu bahwa Al-Hajun adalah sebuah gunung di bagian atas Kota Makkah.

Faedah Bahasa

Dari penjelasan para ahli bahasa dapat disimpulkan bahwa nama Al-Hajun berkaitan dengan makna:

– mengumpulkan dan menghimpun;
– tempat yang tinggi dan menonjol;
– serta kawasan pegunungan yang memiliki jalan menanjak atau berkelok.

Karena itu, para ahli bahasa dan ahli sejarah hampir seluruhnya sepakat bahwa Al-Hajun adalah sebuah gunung di bagian atas Kota Makkah, yang kemudian dikenal pula sebagai kawasan Pemakaman Al-Ma’la, salah satu tempat bersejarah yang sangat masyhur sejak zaman Jahiliyah hingga masa Islam.

Penjelasan Syaikh Ahmad bin Ibrahim Al-Ghazawi رحمه الله

Syaikh Ahmad bin Ibrahim Al-Ghazawi dalam kitabnya شذرات الذهب (Syadzarat adz-Dzahab), pada pembahasan nomor 977, menulis:

««قرأت في الآونة الأخيرة بحثًا ضافيًا شافيًا عن موضع الحجون بمكة المكرمة، وتصحيحًا لما هو مدفوع وممنوع من الأقاويل التي تنافي الحقيقة، والتي تجعل الحجون يمين الصاعد إلى المحصب أو الأبطح، وما هو إلا ما تواتر به الإجماع حتى اليوم في الجانب الأيسر، وهو المشرف على مقبرة المعلاة، وهو الذي تقع فيه ثنية كداء.»»

Artinya:

«”Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah penelitian yang sangat lengkap mengenai letak Al-Hajun di Makkah. Penelitian itu meluruskan berbagai pendapat yang tidak tepat, yang menyatakan bahwa Al-Hajun berada di sebelah kanan orang yang mendaki menuju Al-Muhashshab atau Al-Abthah. Padahal pendapat yang telah menjadi kesepakatan hingga sekarang adalah bahwa Al-Hajun berada di sebelah kiri, menghadap ke Pemakaman Al-Ma’la, dan di sanalah terdapat Tsaniyyah Kada’.”»

Beliau kemudian mengutip syair Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu:

«عَدِمْنَا خَيْلَنَا إِنْ لَمْ تَرَوْهَا
تُثِيرُ النَّقْعَ مَوْعِدُهَا كَدَاءُ»

Artinya:

«”Celakalah kami bila kalian tidak melihat pasukan berkuda kami, yang mengangkat debu ketika tiba di Kada’.”»

Syair ini berkaitan dengan peristiwa Fathu Makkah (Penaklukan Kota Makkah).

Kada’ adalah Jalan Masuk Rasulullah ﷺ ke Makkah

Syaikh Al-Ghazawi menambahkan bahwa besar kemungkinan Tsaniyyah al-Madaniyyin yang disebut dalam sebagian riwayat juga adalah jalan yang sama.

Beliau berkata bahwa setiap orang yang datang dari Madinah menuju Makkah akan memasuki kota melalui jalur tersebut.

Penjelasan Syaikh Sa’d bin Abdullah bin Junaidil رحمه الله

Dalam kitabnya:

««معجم الأماكن الوارد ذكرها في صحيح البخاري»»

beliau menjelaskan:

««الحجون: بحاء مهملة مفتوحة بعدها جيم معجمة مضمومة ثم واو ساكنة وآخره نون معجمة: ثنية بأعلى مكة.»»

Artinya:

«”Al-Hajun ditulis dengan huruf ha’ berfathah, jim berdhammah, kemudian wau sukun dan diakhiri huruf nun. Al-Hajun adalah sebuah jalan pegunungan (tsaniyyah) yang berada di bagian atas Kota Makkah.”»

Hadis Shahih tentang Al-Hajun

Syaikh Ibnu Junaidil kemudian membawakan hadis Shahih Al-Bukhari dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

««انطلق النبي صلى الله عليه وسلم من المدينة بعدما ترجل وادهن ولبس إزاره ورداءه هو وأصحابه، فقدم مكة لأربع خلون من ذي الحجة، فطاف بالبيت وسعى بين الصفا والمروة، ولم يحل من أجل بدنه لأنه قلدها، ثم نزل بأعلى مكة عند الحجون.»»

Artinya:

«”Rasulullah ﷺ berangkat dari Madinah setelah menyisir rambut, memakai minyak wangi, mengenakan kain ihram (izar dan rida’) bersama para sahabatnya. Beliau tiba di Makkah pada tanggal 4 Dzulhijjah, lalu thawaf di Ka’bah dan melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah. Beliau tidak bertahallul karena membawa hewan kurban yang telah diberi kalung. Setelah itu beliau singgah di bagian atas Kota Makkah, yaitu di Al-Hajun.”»

(HR. Al-Bukhari)

Hadis ini menjadi dalil yang sangat kuat bahwa Al-Hajun merupakan tempat Rasulullah ﷺ singgah pada Haji Wada’.

Riwayat Asma’ binti Abu Bakar رضي الله عنها

Ibnu Junaidil juga meriwayatkan dari Abdullah, maula Asma’ binti Abu Bakar, bahwa ia berkata:

««كان يسمع أسماء تقول كلما مرت بالحجون: صلى الله على محمد، لقد نزلنا معه هاهنا، ونحن يومئذ خفاف، قليل ظهرنا، قليلة أزوادنا، فأعتمرت أنا وأختي عائشة.»»

Artinya:

«”Setiap kali Asma’ binti Abu Bakar melewati Al-Hajun, beliau selalu berkata:»

«’Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Muhammad ﷺ. Dahulu kami pernah singgah bersama beliau di tempat ini. Saat itu kami hanya memiliki sedikit kendaraan tunggangan dan sedikit bekal. Di sinilah aku dan saudariku Aisyah melaksanakan umrah.'”»

Riwayat ini menunjukkan bahwa Al-Hajun memiliki hubungan erat dengan perjalanan ibadah Rasulullah ﷺ bersama keluarga dan para sahabat.

Hubungan Al-Hajun dengan Kada’

Syaikh Ibnu Junaidil menjelaskan bahwa Ibnu Hajar Al-‘Asqalani رحمه الله berkata:

««كداء بفتح الكاف والمد… وهذه الثنية هي التي ينزل منها إلى المعلى مقبرة أهل مكة، وهي التي يقال لها الحجون.»»

Artinya:

«”Kada’ dibaca dengan kaf berfathah dan alif panjang. Jalan pegunungan inilah yang digunakan untuk turun menuju Al-Ma’la, yaitu pemakaman penduduk Makkah. Jalan inilah yang disebut Al-Hajun.”»

Beliau menambahkan bahwa jalan tersebut dahulu sangat terjal.

Kemudian:

– Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu memperbaikinya.
– Setelah itu Abdul Malik bin Marwan menyempurnakannya.
– Lalu Khalifah Al-Mahdi kembali memperluas dan memudahkannya.

Keterangan ini dinukil oleh Imam Al-Azraqi dalam kitab Akhbar Makkah.

Keterangan Imam Al-Fasi رحمه الله

Imam Al-Fasi berkata:

««كداء هو الموضع الذي يستحب للمحرم دخول مكة منه، وهو الثنية التي بأعلى مكة، التي يهبط منها إلى المقبرة المعروفة، ويقال لها الحجون.»»

Artinya:

«”Kada’ adalah tempat yang disunnahkan bagi orang yang berihram untuk memasuki Kota Makkah. Ia merupakan jalan pegunungan di bagian atas Makkah yang menurun menuju pemakaman yang terkenal, dan jalan itu dikenal pula dengan nama Al-Hajun.”»

Pelajaran Penting

Keterangan para ulama ini menunjukkan bahwa:

– Al-Hajun bukan hanya nama sebuah gunung.
– Ia juga merupakan nama jalan pegunungan (Tsaniyyah Kada’).
– Berdekatan dengan Pemakaman Al-Ma’la.
– Menjadi salah satu pintu masuk Rasulullah ﷺ ketika memasuki Kota Makkah.
– Oleh sebab itu, tempat ini mempunyai nilai sejarah yang sangat besar dalam sirah Nabawiyah.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button