Tatsqif

Para Ulama yang Mendapat Petunjuk kepada Akidah Salafus Shalih

Para Ulama yang Mendapat Petunjuk kepada Akidah Salafus Shalih

Pendahuluan

Dengan nama Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada sebaik-baik makhluk Allah, kepada keluarga, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya.

Amma ba‘du.

Berikut ini beberapa contoh ulama yang pernah menekuni ilmu kalam dan menyimpang dari jalan para imam besar serta Salafus Shalih yang mulia, kemudian Allah memberi mereka petunjuk menuju jalan orang-orang beriman.

Di antara mereka ada yang sebelumnya berpaham Jahmiyyah, Mu‘tazilah, tasawuf, Asy‘ariyyah, dan lain sebagainya. Hal itu setelah mereka menjalani kehidupan yang dipenuhi kebingungan, keraguan, dan kegoncangan; setelah tersesat dalam belantara ilmu kalam, lalu akhirnya kembali setelah mengetahui bahwa jalan tersebut hanyalah fatamorgana yang menipu dan hiasan palsu yang memperdaya.

Kisah-kisah ini mengandung pelajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan nasihat bagi orang yang hadir. Sebagian dari mereka adalah ulama terdahulu dan sebagian lainnya ulama kontemporer.

Meskipun sebagian mereka tidak mampu kembali sepenuhnya kepada jalan Salaf dan membersihkan seluruh sisa penyimpangan yang telah melekat dalam pikiran dan hati mereka, secara umum mereka telah kembali dan menyesali perjalanan mereka di atas jalan ilmu kalam dan para mutakallimun.

Ini juga merupakan pelajaran bagi orang-orang pada zaman kita yang menempuh jalan para ahli kalam agar tidak memasuki pintu tersebut. Hendaknya mereka mengetahui bahwa mereka tidak akan mencapai kedalaman ilmu kalam seperti yang telah dicapai para ulama tersebut. Kalaupun mereka mencapainya, ujungnya adalah penyesalan dan kembali kepada kebenaran. Maka sejak sekaranglah, wahai orang-orang yang berakal.

Imam Abu Al-Walid Al-Karabisi رحمه الله

(wafat 214 H)

Abu Bakr bin Al-Asy‘ats berkata tentangnya:

«كَانَ أَعْرَفَ النَّاسِ بِالْكَلَامِ بَعْدَ حَفْصٍ الْفَرْدِ الْكَرَابِيسِيُّ»

“Al-Karabisi adalah orang yang paling mengetahui ilmu kalam setelah Hafsh Al-Fard.”

(Syaraf Ashhab Al-Hadits karya Al-Khatib Al-Baghdadi, hlm. 59)

Ketika kematian mendatanginya, beliau berkata kepada anak-anaknya:

«تَعْلَمُونَ أَحَدًا أَعْلَمَ بِالْكَلَامِ مِنِّي؟»

Mereka menjawab: “Tidak.”

Beliau berkata:

«فَتَتَّهِمُونَنِي؟»

“Apakah kalian mencurigaiku?”

Mereka menjawab: “Tidak.”

Beliau berkata:

«فَإِنِّي أُوصِيكُمْ، أَتَقْبَلُونَ؟»

Mereka menjawab: “Ya.”

Beliau berkata:

«عَلَيْكُمْ بِمَا عَلَيْهِ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ؛ فَإِنِّي رَأَيْتُ الْحَقَّ مَعَهُمْ»

“Berpeganglah kalian kepada apa yang dipegang oleh Ashhabul Hadits, karena sesungguhnya aku melihat bahwa kebenaran ada bersama mereka.”

Diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar A‘lam An-Nubala’ (10/548) dan Syaraf Ashhab Al-Hadits (hlm. 56).

Imam Nu‘aim bin Hammad رحمه الله

(wafat 229 H)

Nu‘aim bin Hammad berkata:

«أَنَا كُنْتُ جَهْمِيًّا؛ فَلِذَلِكَ عَرَفْتُ كَلَامَهُمْ، فَلَمَّا طَلَبْتُ الْحَدِيثَ عَرَفْتُ أَنَّ أَمْرَهُمْ يَرْجِعُ إِلَى التَّعْطِيلِ»

“Dahulu aku seorang Jahmi. Karena itulah aku mengetahui ucapan-ucapan mereka. Ketika aku mulai mempelajari hadis, aku mengetahui bahwa pada akhirnya ajaran mereka kembali kepada ta‘thil, yaitu meniadakan sifat-sifat Allah.”

(Siyar A‘lam An-Nubala’, 10/597; Tarikh Al-Islam, hlm. 426)

Imam Abu Al-Hasan Al-Asy‘ari رحمه الله

(wafat 324 H)

Dalam kitab Al-Ibanah sebagai salah satu karya terakhir beliau. Abu Al-Hasan Al-Asy‘ari berkata:

«قَوْلُنَا الَّذِي نَقُولُ بِهِ، وَدِيَانَتُنَا الَّتِي نَدِينُ بِهَا، التَّمَسُّكُ بِكِتَابِ اللَّهِ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَا رُوِيَ عَنِ السَّادَةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَأَئِمَّةِ الْحَدِيثِ، وَنَحْنُ بِذَلِكَ مُعْتَصِمُونَ، وَبِمَا كَانَ يَقُولُ بِهِ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ … قَائِلُونَ، وَلِمَا خَالَفَ قَوْلَهُ مُخَالِفُونَ…»

“Pendapat yang kami pegang dan agama yang kami anut adalah berpegang teguh kepada Kitab Allah Rabb kami عز وجل, kepada Sunnah Nabi kami Muhammad ﷺ, serta kepada apa yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi‘in, dan para imam hadis. Dengan semua itu kami berpegang teguh.

Kami mengatakan apa yang dikatakan Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, dan kami menyelisihi apa yang menyelisihi pendapatnya. Sebab beliau adalah imam yang utama dan pemimpin yang sempurna. Melalui beliau Allah menjelaskan kebenaran, menolak kesesatan, menerangkan jalan yang lurus, serta menghancurkan bid‘ah para ahli bid‘ah, penyimpangan orang-orang menyimpang, dan keraguan orang-orang yang ragu.”

(Al-Ibanah ‘an Ushul Ad-Diyanah, hlm. 20–21)

Imam Al-Haramain Al-Juwaini رحمه الله

(wafat 478 H)

Beliau berkata:

«قَرَأْتُ خَمْسِينَ أَلْفًا فِي خَمْسِينَ أَلْفًا، ثُمَّ خَلَّيْتُ أَهْلَ الْإِسْلَامِ بِإِسْلَامِهِمْ فِيهَا، وَعُلُومِهِمُ الظَّاهِرَةِ، وَرَكِبْتُ الْبَحْرَ الْخِضَمَّ، وَغُصْتُ فِي الَّذِي نَهَى أَهْلُ الْإِسْلَامِ… وَالْآنَ فَقَدْ رَجَعْتُ إِلَى كَلِمَةِ الْحَقِّ، عَلَيْكُمْ بِدِينِ الْعَجَائِزِ…»

“Aku telah membaca lima puluh ribu pembahasan dalam lima puluh ribu pembahasan lainnya. Kemudian aku meninggalkan kaum Muslimin bersama keislaman mereka dan ilmu-ilmu mereka yang jelas, lalu aku mengarungi lautan yang sangat dalam dan menyelami perkara yang dilarang oleh para ulama Islam.

Semua itu kulakukan untuk mencari kebenaran. Dahulu aku selalu menghindari taklid. Sekarang aku telah kembali kepada kalimat kebenaran: berpeganglah kalian kepada agama para wanita tua.

Jika kebenaran tidak menjangkaunya dengan kelembutan karunia Allah, maka aku ingin mati di atas agama para wanita tua, dan semoga akhir kehidupanku ketika meninggalkan dunia ditutup dengan kalimat ikhlas:

«لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ»

Maka celakalah Ibnu Al-Juwaini.”

Diriwayatkan Adz-Dzahabi dalam Siyar A‘lam An-Nubala’ (18/471) dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis.

Beliau juga berkata:

«لَوِ اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِي مَا اسْتَدْبَرْتُ، مَا اشْتَغَلْتُ بِالْكَلَامِ»

“Seandainya aku dapat memulai kembali urusanku dengan pengetahuan yang kumiliki sekarang, niscaya aku tidak akan menyibukkan diri dengan ilmu kalam.”

Beliau juga berkata:

«يَا أَصْحَابَنَا، لَا تَشْتَغِلُوا بِالْكَلَامِ، فَلَوْ عَرَفْتُ أَنَّ الْكَلَامَ يَبْلُغُ بِي مَا بَلَغَ، مَا اشْتَغَلْتُ بِهِ»

“Wahai sahabat-sahabatku, janganlah kalian menyibukkan diri dengan ilmu kalam. Seandainya dahulu aku mengetahui bahwa ilmu kalam akan membawaku kepada keadaan yang telah kualami, niscaya aku tidak akan menekuninya.”

Dalam sakit menjelang wafatnya, beliau berkata:

«اشْهَدُوا عَلَيَّ أَنِّي قَدْ رَجَعْتُ عَنْ كُلِّ مَقَالَةٍ تُخَالِفُ السُّنَّةَ، وَأَنِّي أَمُوتُ عَلَى مَا يَمُوتُ عَلَيْهِ عَجَائِزُ نَيْسَابُورَ»

“Persaksikanlah bahwa aku telah kembali dari setiap pendapat yang menyelisihi Sunnah, dan aku meninggal di atas keyakinan yang dipegang oleh para wanita tua Naisabur.”

Imam Abu Hamid Al-Ghazali رحمه الله

(wafat 505 H)

Pada akhir kehidupannya beliau semakin mendekat kepada Kitab dan Sunnah, mencela ilmu kalam dan para ahlinya, serta menyerukan kembali kepada Kitabullah, Sunnah Rasulullah ﷺ, dan jalan para sahabat رضي الله عنهم.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata:

«وَإِنْ كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ رَجَعَ إِلَى طَرِيقَةِ أَهْلِ الْحَدِيثِ، وَصَنَّفَ إِلْجَامَ الْعَوَامِّ عَنْ عِلْمِ الْكَلَامِ»

“Setelah itu ia kembali kepada metode Ahlul Hadits dan menulis kitab Iljam Al-‘Awam ‘an ‘Ilm Al-Kalam.”

(Majmu‘ Al-Fatawa, 4/7)

Al-Ghazali رحمه الله berkata:

«إِنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ كَانُوا مُحْتَاجِينَ إِلَى مُحَاجَّةِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فِي إِثْبَاتِ نُبُوَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَا زَادُوا عَلَى أَدِلَّةِ الْقُرْآنِ شَيْئًا…»

“Para sahabat رضي الله عنهم membutuhkan argumentasi dalam menghadapi Yahudi dan Nasrani untuk menetapkan kenabian Muhammad ﷺ. Namun mereka tidak menambahkan sesuatu pun di luar dalil-dalil Al-Qur’an.

Mereka tidak menempuh jalan perdebatan keras dengan menyusun analogi-analogi rasional dan premis-premis. Hal itu karena mereka mengetahui bahwa cara tersebut merupakan pemicu fitnah dan sumber kekacauan.

Barang siapa tidak merasa cukup dengan dalil-dalil Al-Qur’an, maka tidak ada penjelasan yang lebih tinggi daripada penjelasan Allah.”

(Iljam Al-‘Awam ‘an ‘Ilm Al-Kalam, hlm. 89–90)

Fakhruddin Ar-Razi رحمه الله

(wafat 606 H)

Pada akhir umurnya beliau berkata:

«لَقَدْ تَأَمَّلْتُ الطُّرُقَ الْكَلَامِيَّةَ وَالْمَنَاهِجَ الْفَلْسَفِيَّةَ، فَمَا رَأَيْتُهَا تَشْفِي عَلِيلًا، وَلَا تَرْوِي غَلِيلًا، وَرَأَيْتُ أَقْرَبَ الطُّرُقِ طَرِيقَ الْقُرْآنِ…»

“Aku telah merenungkan metode-metode ilmu kalam dan jalan-jalan filsafat. Aku tidak melihatnya mampu menyembuhkan orang yang sakit ataupun menghilangkan dahaga.

Aku melihat bahwa jalan yang paling dekat adalah jalan Al-Qur’an.”

Beliau membaca dalam masalah itsbat:

﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾
“Yang Maha Pengasih beristiwa di atas ‘Arsy.”
(QS. Thaha: 5)

Dan:

﴿إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ﴾
“Kepada-Nya naik perkataan-perkataan yang baik.”
(QS. Fathir: 10)

Dan dalam masalah penafian:

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
(QS. Asy-Syura: 11)

Kemudian beliau berkata:

«وَمَنْ جَرَّبَ مِثْلَ تَجْرِبَتِي عَرَفَ مِثْلَ مَعْرِفَتِي»

“Barang siapa mengalami seperti pengalamanku, ia akan mengetahui sebagaimana yang aku ketahui.”

Ibnu Katsir رحمه الله menyebutkan bahwa Ar-Razi berkata:

«مَنْ لَزِمَ مَذْهَبَ الْعَجَائِزِ كَانَ هُوَ الْفَائِزَ»

“Barang siapa tetap berada di atas keyakinan sederhana orang-orang awam yang selamat dari keruwetan ilmu kalam, dialah orang yang beruntung.”

Ibnu Shalah menukil bahwa Fakhruddin Ar-Razi pernah berkata sambil menangis:

«يَا لَيْتَنِي لَمْ أَشْتَغِلْ بِعِلْمِ الْكَلَامِ»

“Andai dahulu aku tidak menyibukkan diri dengan ilmu kalam.”

Di antara bait yang dinisbatkan kepadanya:

نِهَايَةُ إِقْدَامِ الْعُقُولِ عِقَالُ
وَأَكْثَرُ سَعْيِ الْعَالَمِينَ ضَلَالُ

“Ujung dari keberanian akal hanyalah belenggu,
dan kebanyakan usaha manusia berakhir dalam kesesatan.”

وَأَرْوَاحُنَا فِي وَحْشَةٍ مِنْ جُسُومِنَا
وَحَاصِلُ دُنْيَانَا أَذًى وَوَبَالُ

“Ruh-ruh kita merasa asing dalam tubuh kita,
dan hasil dunia kita hanyalah kepedihan dan keburukan.”

وَلَمْ نَسْتَفِدْ مِنْ بَحْثِنَا طُولَ عُمْرِنَا
سِوَى أَنْ جَمَعْنَا فِيهِ قِيلَ وَقَالُوا

“Sepanjang usia, dari penelitian yang kita lakukan,
tidak kita peroleh kecuali mengumpulkan: ‘orang berkata begini dan mereka berkata begitu’.”

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله

(wafat 751 H)

Dalam An-Nuniyyah yang menggambarkan perubahan Ibnul Qayyim setelah bertemu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله.

Ibnul Qayyim berkata:

يَا قَوْمِ وَاللَّهِ الْعَظِيمِ نَصِيحَةٌ
مِنْ مُشْفِقٍ وَأَخٍ لَكُمْ مِعْوَانِ

“Wahai kaumku, demi Allah Yang Mahaagung, ini adalah nasihat
dari seorang yang menyayangi kalian dan saudara yang ingin membantu kalian.”

جَرَّبْتُ هَذَا كُلَّهُ وَوَقَعْتُ فِي
تِلْكَ الشِّبَاكِ وَكُنْتُ ذَا طَيَرَانِ

“Aku telah mencoba semuanya dan pernah terperangkap
dalam jaring-jaring itu, padahal dahulu aku terbang bebas.”

حَتَّى أَتَاحَ لِيَ الْإِلَهُ بِفَضْلِهِ
مَنْ لَيْسَ تَجْزِيهِ يَدِي وَلِسَانِي

“Hingga Allah dengan karunia-Nya mendatangkan kepadaku seseorang
yang tanganku dan lisanku tidak akan mampu membalas kebaikannya.”

حَبْرٌ أَتَى مِنْ أَرْضِ حَرَّانَ فَيَا
أَهْلًا بِمَنْ جَاءَ مِنْ حَرَّانِ

“Seorang alim besar datang dari negeri Harran;
selamat datang kepada orang yang datang dari Harran.”

فَاللَّهُ يَجْزِيهِ الَّذِي هُوَ أَهْلُهُ
مِنْ جَنَّةِ الْمَأْوَى مَعَ الرِّضْوَانِ

“Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang layak baginya,
berupa Surga Ma’wa disertai keridaan-Nya.”

أَخَذَتْ يَدَاهُ يَدِي وَسَارَ فَلَمْ يَرِمْ
حَتَّى أَرَانِي مَطْلَعَ الْإِيمَانِ

“Kedua tangannya menggenggam tanganku dan terus menuntunku,
hingga ia memperlihatkan kepadaku tempat terbitnya cahaya iman.”

Muhammad Rasyid Ridha رحمه الله

(wafat 1354 H)

Beliau berkata:

«كُنَّا عِنْدَ الِابْتِدَاءِ بِالِاشْتِغَالِ بِعِلْمِ الْكَلَامِ نَرَى فِي الْكُتُبِ خِلَافَ الْحَنَابِلَةِ، فَنَحْسَبُ أَنَّهُمْ قَوْمٌ جَمَدُوا عَلَى ظَوَاهِرِ النُّقُولِ…»

“Ketika dahulu mulai menekuni ilmu kalam, kami membaca dalam kitab-kitab berbagai bantahan terhadap Hanabilah. Kami mengira mereka hanyalah kaum yang terpaku pada lahiriah nash, tidak memahaminya dengan pemahaman yang benar dan tidak mengetahui hakikat ilmu.

Kami mengira bahwa kitab-kitab Asy‘ariyyah semata-mata merupakan sumber agama dan jalan menuju keyakinan.

Kemudian kami membaca kitab-kitab mereka, ternyata kitab-kitab itulah yang menjelaskan kepada kaum Muslimin jalan Salaf yang terbaik serta mengantarkan manusia menuju sumber mereka yang paling jernih.”

Beliau melanjutkan bahwa pembaca kitab-kitab tersebut merasakan kelapangan iman dan kesejukan keyakinan, dan melihat perbedaan besar antara metode Salaf dan kerumitan perdebatan filsafat.

Beliau berkata:

«وَقَدْ ظَهَرَ لِي – إِذْ تَبَيَّنْتُ أَنَّ مَذْهَبَ السَّلَفِ الصَّالِحِ أَسْلَمُ وَأَعْلَمُ وَأَحْكَمُ – أَنَّ هَذَا مِنْ دَلَائِلِ صِدْقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

“Telah jelas bagiku, setelah aku mengetahui bahwa mazhab Salafus Shalih lebih selamat, lebih berilmu, dan lebih bijaksana, bahwa hal itu merupakan salah satu bukti kebenaran Nabi ﷺ.”

Namun beliau juga menegaskan:

«نَعَمْ، لَا أَقُولُ: إِنَّ كُلَّ مَا كَتَبَ الْحَنَابِلَةُ مِنَ الْمَسَائِلِ وَالْمَبَاحِثِ صَوَابٌ، وَإِنَّهَا مَعْصُومَةٌ مِنَ الْخَطَإِ…»

“Namun aku tidak mengatakan bahwa seluruh yang ditulis Hanabilah dalam berbagai persoalan dan pembahasan pasti benar dan terjaga dari kesalahan.”

Karena kemaksuman hanya milik Kitabullah:

﴿وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا﴾

“Sekiranya Al-Qur’an itu berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapatkan banyak pertentangan di dalamnya.”
(QS. An-Nisa’: 82)

(Majallat Al-Manar, 6/620).

‘Abdul Qadir bin Badran Ad-Dimasyqi رحمه الله

(wafat 1346 H)

Beliau adalah seorang imam, ulama besar, peneliti, ahli tafsir, ahli hadis, dan ahli ushul.

Ia lahir pada tahun 1280 H di Duma. Ia tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi praktik tasawuf dan tersebarnya kebodohan.

Beliau berkata tentang perjalanan ilmiahnya:

«إِنَّنِي لَمَّا مَنَّ عَلَيَّ بِطَلَبِ الْعِلْمِ، هَجَرْتُ لَهُ الْوَطَنَ وَالْوَسَنَ، وَكُنْتُ أَطُوفُ الْمَعَاهِدَ لِتَحْصِيلِهِ…»

“Ketika Allah memberikan karunia kepadaku untuk menuntut ilmu, aku meninggalkan tanah air dan ketenangan demi ilmu. Aku berkeliling ke berbagai lembaga untuk memperolehnya.”

Beliau pernah mendalami jalan Ibnu Sina, ilmu logika Al-Farabi, dan berbagai cabang ilmu.

Kemudian beliau berkata:

«فَلَمَّا هِمْتُ فِي تِلْكَ الْبَيْدَاءِ، نَادَانِي مُنَادِي الْهُدَى الْحَقِيقِي: هَلُمَّ إِلَى الشَّرَفِ وَالْكَمَالِ…»

“Ketika aku tersesat di padang luas tersebut, penyeru petunjuk yang sebenarnya memanggilku: ‘Datanglah menuju kemuliaan dan kesempurnaan.’”

Lalu:

«وَمَا ذَلِكَ إِلَّا بِأَنْ تَكُونَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ السَّلَفُ الْكِرَامُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ»

“Dan tidak ada jalan menuju itu selain engkau berada di atas apa yang dipegang oleh Salaf yang mulia dari kalangan sahabat, tabi‘in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.”

Kemudian beliau berkata:

«فَهُنَالِكَ هَدَأَ رَوْعِي، وَجَعَلْتُ عَقِيدَتِي كِتَابَ اللَّهِ، أَكِلُ عِلْمَ صِفَاتِهِ إِلَيْهِ بِلَا تَجْسِيمٍ وَلَا تَأْوِيلٍ وَلَا تَشْبِيهٍ وَلَا تَعْطِيلٍ»

“Di situlah kegelisahanku menjadi tenang. Aku menjadikan Kitabullah sebagai dasar akidahku. Aku menyerahkan ilmu tentang sifat-sifat-Nya kepada-Nya, tanpa tajsim, tanpa ta’wil, tanpa tasybih, dan tanpa ta‘thil.”

(Al-Madkhal ila Madzhab Al-Imam Ahmad, hlm. 42–43)

Muhammad Hamid Al-Fiqi رحمه الله

(wafat 1387 H)
Pendiri Jama‘ah Anshar As-Sunnah Al-Muhammadiyyah

Syaikh Hammad Al-Anshari رحمه الله, salah seorang muridnya, pernah bertanya:

«يَا شَيْخُ، كَيْفَ صِرْتَ مُوَحِّدًا وَأَنْتَ دَرَسْتَ فِي الْأَزْهَرِ؟»

“Wahai Syaikh, bagaimana Anda akhirnya menjadi seorang yang berpegang kepada tauhid sedangkan Anda belajar di Al-Azhar?”

Syaikh Hamid menjawab bahwa dirinya dahulu belajar di Al-Azhar dan mempelajari akidah ahli kalam yang diajarkan di sana.

Setelah lulus dan pulang ke kampungnya, ia berjumpa dengan seorang petani. Di tempat petani itu terdapat kitab:

«اجْتِمَاعُ الْجُيُوشِ الْإِسْلَامِيَّةِ عَلَى غَزْوِ الْمُعَطِّلَةِ وَالْجَهْمِيَّةِ»

karya Ibnul Qayyim.

Petani itu berkata kepadanya:

«أَنْتَ عِنْدَكَ شَهَادَةٌ تُعَيِّشُكَ فِي كُلِّ الدُّنْيَا… لَكِنَّهَا مَا عَلَّمَتْكَ الشَّيْءَ الَّذِي يَجِبُ أَنْ تَتَعَلَّمَهُ أَوَّلًا»

“Engkau memiliki ijazah yang dapat menjadi bekal hidupmu di mana pun di dunia, tetapi ijazah itu belum mengajarkan kepadamu perkara yang seharusnya pertama kali engkau pelajari.”

Syaikh Hamid bertanya:

“Apa itu?”

Petani tersebut menjawab:

«مَا عَلَّمَتْكَ التَّوْحِيدَ!»

“Ijazahmu belum mengajarkan tauhid kepadamu!”

Kemudian ia berkata:

«تَوْحِيدُ السَّلَفِ»

“Tauhid Salaf.”

Lalu petani itu menunjukkan sejumlah kitab, seperti kitab As-Sunnah, At-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, Khalq Af‘al Al-‘Ibad karya Al-Bukhari, I‘tiqad Ahl As-Sunnah karya Al-Lalaka’i, serta kitab-kitab Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim.

Petani itu berpesan agar Hamid Al-Fiqi kembali ke Kairo dan mencari kitab-kitab tersebut di Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah.

Ia berkata:

«لَكِنَّهَا مُكَدَّسٌ عَلَيْهَا الْغُبَارُ، وَأَنَا أُرِيدُكَ تَنْفُضُ مَا عَلَيْهَا مِنَ الْغُبَارِ وَتَنْشُرَهَا»

“Kitab-kitab itu tertumpuk dan diselimuti debu. Aku ingin engkau membersihkan debunya lalu menerbitkannya.”

Nasihat petani sederhana tersebut membekas dalam hati Syaikh Hamid Al-Fiqi karena keluar dari hati yang tulus.

Beliau kemudian benar-benar mencari kitab-kitab yang disebutkan tersebut.

(Al-Majmu‘ karya Syaikh Hammad Al-Anshari, 1/294–297)

Syaikh ‘Abdurrahman Al-Wakil رحمه الله

(wafat 1390 H)

Beliau berkata:

«وَدَارَ الزَّمَنُ فَأَصْبَحْتُ طَالِبًا فِي التَّوْحِيدِ وَالْفَلْسَفَةِ، وَدَرَسْتُ فِيهَا التَّصَوُّفَ…»

“Waktu terus berlalu hingga aku menjadi pelajar dalam bidang tauhid dan filsafat, dan aku mempelajari tasawuf di dalamnya.”

Beliau sebelumnya menganggap Ibnu Taimiyyah sebagai orang sesat dan menyesatkan, berdasarkan apa yang diterimanya dari sebagian gurunya.

Namun kemudian ia mulai membaca kitab-kitab Ibnu Taimiyyah.

Beliau berkata:

«لَكِنِّي هَذِهِ الْمَرَّةَ تَشَجَّعْتُ وَقَرَأْتُهَا، وَاسْتَغْرَقْتُ فِي الْقِرَاءَةِ؛ فَأَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ بِصُبْحٍ مُشْرِقٍ هَتَكَ عَنِّي حُجُبَ اللَّيْلِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ»

“Namun kali ini aku memberanikan diri membacanya dan tenggelam dalam pembacaan. Allah kemudian menganugerahkan kepadaku pagi yang bercahaya yang menyingkap dariku tirai malam yang selama ini menyelimutiku.”

Kemudian ia bergabung dengan Jama‘ah Anshar As-Sunnah Al-Muhammadiyyah.

Beliau berkata bahwa melalui jamaah tersebut ia diajak:

«إِلَى تَدَبُّرِ الْحَقِّ وَالْهُدَى مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ عَلَى فَهْمِ سَلَفِنَا الصَّالِحِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ»

“Untuk merenungkan kebenaran dan petunjuk dari Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman Salafus Shalih رضي الله عنهم.”

(Mashra‘ At-Tashawwuf, 1/6)

Dr. Muhammad Khalil Harras رحمه الله

(wafat 1390 H)

Syaikh Muhammad Aman Al-Jami رحمه الله, salah seorang muridnya, menceritakan bahwa Muhammad Khalil Harras adalah seorang ulama Al-Azhar yang mengkhususkan diri dalam bidang filsafat dan logika.

Pada awalnya ia sangat menentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, karena yang diketahuinya bahwa Ibnu Taimiyyah adalah penentang filsafat dan logika.

Bahkan ia bermaksud menjadikan disertasinya sebagai bantahan terhadap Ibnu Taimiyyah.

Untuk itu ia mengumpulkan kitab-kitab Ibnu Taimiyyah di Kairo dan mempelajarinya selama sekitar tiga bulan.

Setelah membaca kitab-kitab tersebut, pandangannya berubah total.

Syaikh Muhammad Aman Al-Jami menuturkan bahwa Harras mengatakan dirinya baru memahami Islam secara benar setelah membaca kitab-kitab tersebut.

Akhirnya disertasinya bukan lagi bantahan terhadap Ibnu Taimiyyah, tetapi berjudul:

«ابْنُ تَيْمِيَّةَ السَّلَفِيُّ»

“Ibnu Taimiyyah Sang Salafi.”

Muhammad Khalil Harras inilah yang kemudian menulis syarah terkenal terhadap:

«الْعَقِيدَةُ الْوَاسِطِيَّةُ»

Syaikh Taqiyuddin Al-Hilali رحمه الله

(wafat 1406 H)

Salah satu sebab keluarnya beliau dari tarekat Tijaniyyah adalah perdebatan dengan Syaikh Muhammad bin Al-‘Arabi Al-‘Alawi.

Beliau berkata:

«لَقَدْ كُنْتُ فِي غَمْرَةٍ عَظِيمَةٍ، وَضَلَالٍ مُبِينٍ، وَكُنْتُ أَرَى خُرُوجِي مِنَ الطَّرِيقَةِ التِّجَانِيَّةِ كَالْخُرُوجِ مِنَ الْإِسْلَامِ، وَلَمْ يَكُنْ يَخْطُرُ لِي بِبَالٍ أَنْ أَتَزَحْزَحَ عَنْهَا قَيْدَ شَعْرَةٍ»

“Sungguh dahulu aku berada dalam kebingungan yang sangat besar dan kesesatan yang nyata. Aku menganggap keluar dari tarekat Tijaniyyah sama seperti keluar dari Islam. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk bergeser darinya meskipun hanya sehelai rambut.”

(Al-Hadiyyah Al-Hadiyah, hlm. 12)

Setelah meninggalkan tarekat tersebut beliau menggubah syair, di antaranya:

وَلَمَّا أَبَانَ اللَّهُ لِي نُورَ دِينِهِ
وَأَنْقَذَنِي مِنْ طُرُقِ أَصْحَابِ خِرْقَةْ

“Ketika Allah menampakkan kepadaku cahaya agama-Nya,
dan menyelamatkanku dari jalan para pemilik khirqah.”

أُولَئِكَ قَوْمٌ بَدَّلُوا الدِّينَ بِالرَّدَى
وَقَدْ مَرَقُوا مِنْ هَدْيِهِ شَرَّ مَرْقَةْ

“Mereka adalah kaum yang menukar agama dengan kebinasaan,
dan sangat jauh menyimpang dari petunjuknya.”

وَأَبْغَضَنِي الْأَقْوَامُ حِينَ نَبَذْتُهُمْ
وَمِلْتُ إِلَى قَفْوِ الْكِتَابِ وَسُنَّةْ

“Kaum itu membenciku ketika aku meninggalkan mereka
dan memilih mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah.”

Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi رحمه الله

(wafat 1420 H)

Beliau memperoleh banyak pengaruh dari Syaikh Bahjat Al-Baithar.

Ath-Thanthawi berkata:

«لَقَدْ وَجَدْتُ أَنَّ الَّذِي أَسْمَعُهُ مِنْهُ يَصْدِمُ كُلَّ مَا نَشَأْتُ عَلَيْهِ»

“Aku mendapati bahwa apa yang kudengar darinya bertabrakan dengan hampir seluruh pemahaman yang di atasnya aku dibesarkan.”

Beliau mengatakan bahwa sebelumnya dalam akidah ia mengikuti apa yang ditetapkan oleh Asy‘ariyyah dan Maturidiyyah.

Ia juga dahulu meyakini ungkapan:

«طَرِيقَةُ السَّلَفِ أَسْلَمُ، وَطَرِيقَةُ الْخَلَفِ أَحْكَمُ»

“Metode Salaf lebih selamat, sedangkan metode Khalaf lebih bijaksana.”

Namun Syaikh Bahjat menjelaskan:

«إِنَّ مَا عَلَيْهِ السَّلَفُ هُوَ الْأَسْلَمُ، وَهُوَ الْأَحْكَمُ»

“Apa yang dipegang oleh Salaf itulah yang paling selamat sekaligus paling bijaksana.”

Ath-Thanthawi juga berkata bahwa sejak kecil ia dibesarkan dalam sikap menjauh, bahkan membenci Ibnu Taimiyyah. Namun Syaikh Bahjat memperkenalkannya dengan baik kepada Ibnu Taimiyyah.

Ia juga dahulu sangat fanatik terhadap mazhab Hanafi, sedangkan Syaikh Bahjat mengajaknya melampaui fanatisme mazhab dan berpegang kepada dalil.

Ath-Thanthawi berkata:

«وَتَأَثَّرْتُ بِهِ، وَذَهَبْتُ مَعَ الْأَيَّامِ مَذْهَبَهُ مُقْتَنِعًا بِهِ…»

“Aku terpengaruh olehnya dan seiring berjalannya waktu aku mengikuti pandangannya dengan penuh keyakinan.”

Kemudian beliau menyimpulkan perjalanan dirinya:

«كَيْفَ نَشَأْتُ مُقَلِّدًا مُؤَوِّلًا كَارِهًا لِابْنِ تَيْمِيَّةَ، ثُمَّ أَثَّرَ فِيَّ الشَّيْخُ بَهْجَت، فَغَدَوْتُ سَلَفِيَّ الْعَقِيدَةِ مُتَمَسِّكًا بِالدَّلِيلِ»

“Bagaimana dahulu aku tumbuh sebagai seorang muqallid, melakukan ta’wil, dan membenci Ibnu Taimiyyah; kemudian Syaikh Bahjat memengaruhiku hingga akhirnya aku menjadi seorang yang berakidah Salafi dan berpegang kepada dalil.”

(Rijal min At-Tarikh, hlm. 171–172)

Syaikh Muhammad Jamil Zainu رحمه الله

(wafat 1431 H)

Beliau menceritakan:

«كَيْفَ اهْتَدَيْتُ إِلَى التَّوْحِيدِ؟»

“Bagaimana aku mendapat petunjuk kepada tauhid?”

Beliau berkata bahwa suatu ketika ia membaca di hadapan guru sufinya hadis Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما, yaitu sabda Nabi ﷺ:

«إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ»

“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”

Beliau tertarik dengan penjelasan yang dinukil dari para ulama:

«ثُمَّ إِنْ كَانَتِ الْحَاجَةُ الَّتِي يَسْأَلُهَا لَمْ تَجْرِ الْعَادَةُ بِجَرَيَانِهَا عَلَى أَيْدِي خَلْقِهِ، كَطَلَبِ الْهِدَايَةِ وَالْعِلْمِ … وَشِفَاءِ الْمَرَضِ وَحُصُولِ الْعَافِيَةِ، سَأَلَ رَبَّهُ ذَلِكَ…»

“Jika kebutuhan yang diminta termasuk sesuatu yang secara kebiasaan tidak mampu dilakukan oleh makhluk, seperti meminta hidayah, ilmu, kesembuhan dari penyakit, dan keselamatan, maka hendaknya ia meminta hal itu kepada Rabb-nya.”

Muhammad Jamil Zainu lalu berkata kepada gurunya:

“Hadis ini dan penjelasannya menunjukkan tidak bolehnya meminta pertolongan kepada selain Allah dalam sesuatu yang hanya mampu dilakukan Allah.”

Gurunya menjawab:

“Boleh!”

Ia bertanya:

“Apa dalilnya?”

Guru tersebut menyebut kebiasaan salah seorang kerabatnya meminta kepada seorang wali yang telah meninggal agar menjadi perantara bagi kesembuhannya.

Muhammad Jamil Zainu berkata:

«إِنَّكَ رَجُلٌ عَالِمٌ، قَضَيْتَ عُمْرَكَ فِي قِرَاءَةِ الْكُتُبِ، ثُمَّ تَأْخُذُ عَقِيدَتَكَ مِنْ عَمَّتِكَ الْجَاهِلَةِ!»

“Engkau seorang alim. Engkau menghabiskan umurmu membaca kitab-kitab, lalu mengambil akidahmu dari bibimu yang tidak berilmu!”

Gurunya kemudian berkata:

«عِنْدَكَ أَفْكَارٌ وَهَّابِيَّةٌ!»

“Engkau mempunyai pemikiran Wahhabi!”

Muhammad Jamil Zainu mengatakan bahwa waktu itu ia belum mengenal dakwah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab kecuali melalui tuduhan-tuduhan yang didengarnya.

Namun ia berkata dalam hati:

“Jika yang disebut Wahhabi itu meyakini bahwa pertolongan dalam perkara yang hanya mampu dilakukan Allah harus diminta kepada Allah semata dan bahwa Allah semata yang menyembuhkan, maka aku harus mempelajarinya.”

(Kaifa Ihtadaitu ila At-Tauhid wa Ash-Shirath Al-Mustaqim, hlm. 35–36)

Penutup

Kisah-kisah di atas merupakan contoh para ulama besar yang, menurut penilaiannya, memperoleh petunjuk kepada cahaya kebenaran setelah mengalami kebingungan dalam berbagai jalan pemikiran.

Diantara tokoh lain yang mengalami perjalanan serupa adalah:

Muhammad Al-Makki bin ‘Azzuz dari Tunisia,
Mahmud Syukri Al-Alusi dari Irak,
Syaikh ‘Id Al-‘Abbasi,
‘Abduzh Zhahir Abu As-Samh,
Muhammad Az-Zamzami dari Maroko,
Muhammad Bahjat Al-Baithar dari Syam,
‘Abdul Qadir As-Sindi,
dan banyak ulama lainnya dari berbagai masa dan negeri.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ الْهَادِي إِلَى سَوَاءِ السَّبِيلِ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

Segala puji bagi Allah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabat beliau.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button