Sepuluh Amalan Yang Pahalanya Terus Mengalir Setelah Seseorang Meninggal Dunia

|
Sepuluh Amalan Yang Pahalanya Terus Mengalir Setelah Seseorang Meninggal Dunia Karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin bin Hamad al-Badr hafizhahullāh Alih Bahasa: Sadnanto Tarnya Sarngit |
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada rasul yang paling mulia, yaitu Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Adapun setelah itu:
Di antara nikmat Allah ‘azza wajalla yang sangat besar kepada hamba-hamba-Nya yang beriman adalah Allah telah menyediakan bagi mereka berbagai pintu kebaikan dan kebajikan, yang dapat diamalkan oleh seorang hamba yang mendapat petunjuk/taufik dalam kehidupan ini, dan pahalanya tetap mengalir kepadanya setelah kematian. Sebab orang-orang yang berada di dalam kubur telah terikat dengan apa yang telah mereka kerjakan, mereka tidak lagi dapat melakukan amal setelah kematian, dan mereka akan diperhitungkan dan diberi balasan atas apa yang telah mereka kerjakan selama hidup di dunia.
Sementara hamba yang mendapat taufik ini, di dalam kuburnya kebaikan terus berdatangan kepadanya, serta pahala dan karunia terus mengalir tiada henti. Ia telah berpindah dari tempat beramal (dunia), namun pahala tidak pernah terputus darinya; sehingga derajatnya terus meningkat, kebaikannya terus berkembang, dan pahalanya dilipatgandakan padahal ia berada di dalam kuburnya.
Alangkah mulianya keadaan seperti ini, dan betapa indah dan bahagianya tempat kembali tersebut!!
Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa di antara amal-amal saleh, ada yang pahalanya terus mengalir kepada seorang hamba di dalam kuburnya setelah ia meninggal dunia, di antaranya hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu berkata: Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
»سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ، وَهُوَ فِي قَبْرِهِ: مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا، أَوْ كَرَى نَهْرًا، أَوْ حَفَرَ بِئْرًا، أَوْ غَرَسَ نَخْلاً، أَوْ بَنَى مَسْجِدًا، أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا، أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ«
“Ada tujuh amalan yang pahalanya terus mengalir bagi seorang hamba setelah kematiannya, sementara ia berada di dalam kuburnya: orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf, atau meninggalkan seorang anak yang memohonkan ampun untuknya setelah kematiannya”([1]).
Dan dari Abu Umamah al-Bahili raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
»أَرْبَعٌ تَجْرِي عَلَيْهِمْ أُجُورُهُمْ بَعْدَ الْمَوْتِ: رَجُلٌ مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ عَلَّمَ عِلْمًا فَأَجْرُهُ يَجْرِي عَلَيْهِ مَا عُمِلَ بِهِ، وَرَجُلٌ أَجْرَى صَدَقَةً فَأَجْرُهَا يَجْرِي عَلَيْهِ مَا جَرَتْ عَلَيْهِمْ، وَرَجُلٌ تَرَكَ وَلَدًا صَالِحًا يَدْعُو لَهُ«
“Ada empat amalan yang pahalanya terus mengalir kepada seseorang setelah ia meninggal: orang yang meninggal dalam keadaan berjaga di jalan Allah, orang yang mengajarkan ilmu pahalanya terus mengalir kepadanya selama ilmu tersebut diamalkan, orang yang menyalurkan sedekah jariyah maka pahalanya terus mengalir kepadanya selama sedekah itu bermanfaat, dan seseorang yang meninggalkan anak saleh yang mendoakannya”([2]).
Dan dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
»إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ؛ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ «
“Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan yang pahalanya terus menyusul seorang mukmin setelah ia meninggal dunia adalah: ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan, anak saleh yang ia tinggalkan, mushaf yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah yang ia bangun untuk Ibnu Sabil (musafir), sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika ia masih sehat dan hidup. Semua itu akan terus mengalir pahalanya setelah ia meninggal dunia”([3]).
Dan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda juga:
»إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ«
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya”([4]).
Perbedaan dalam penyebutan dan penghitungan amalan-amalan ini di antara hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa jumlah angka tersebut tidak bermaksud dan tidak menunjukkan pembatasan, hal ini hanyalah bagian dari upaya agar mudah dihafal. Di antara amalan yang disebutkan dalam teks-teks dalil tersebut ada yang maknanya bersifat umum, sehingga mencakup berbagai amalan lain yang juga disebutkan dalam hadis-hadis lainnya.
Kesamaan antara hadis-hadis tersebut terletak pada keutamaan yang ada, yaitu pahalanya terus mengalir selama masa hidup dan setelah kematian.
Seorang muslim yang tulus menasihati dirinya sendiri, apabila ia mencermati amalan-amalan ini secara mendalam dan meyakini bahwa pahalanya yang melimpah serta ganjaran besarnya akan selalu mengalir di masa hidupnya dan setelah wafatnya, niscaya ia akan sangat bersemangat untuk mendapatkan bagian dan keberuntungan darinya. Ia pun akan segera bergegas melakukannya selagi masih berada di negeri penangguhan (dunia), sebelum berakhirnya usia dan habisnya ajal (ajal kematian).
Dari Ibnu Abbas raḍiyallāhu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu”([5]).
Saya telah menghimpun dalam risalah ini sepuluh amalan yang telah disebutkan keutamaannya di atas, di antaranya tujuh amalan yang disebutkan dalam hadis Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu yang lalu, serta tiga amalan yang terdapat dalam hadis-hadis setelahnya.
Saya berusaha menjelaskan pintu-pintu kebaikan yang termasuk dalam amalan-amalan tersebut dan tercakup di dalamnya, dengan tujuan mengajak kaum mukminin untuk bersegera melakukannya. Selain itu, agar mereka bersungguh-sungguh dalam mengamalkannya, sehingga pahala mereka menjadi besar, timbangan amal kebaikan mereka menjadi berat, dan pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, mereka menjadi orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih([6]).
([1] (Diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Musnad-nya (no. 7289), dan dinilai hasan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib (no. 73).
([2] (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 22318), dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib (no. 114). Ath-Thabrani juga meriwayatkannya dalam al-Mu’jam al-Kabir (no. 6181) dari hadis Salman raḍiyallāhu ‘anhu, dan al-Albani menilainya hasan dalam Shahih al-Jami’ (no. 888).
([3] (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 242). Dan Al-Albani menilainya hasan dalam Shahih al-Jami‘ (no. 2231).
([4] (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (no. 1631).
([5] (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (7846) dan beliau menshahihkannya, serta disepakati oleh Az-Zahabi. Al-Albani juga mesahihkannya dalam Shahih Al-Jami’ (1077).
([6] (Asal dari risalah ini adalah khutbah Jumat yang saya sampaikan pada tanggal 1/11/1441 H di Kota Madinah Nabawiyah, kemudian beberapa teman mentranskrip dan merapikan formatnya, kemudian saya meninjaunya kembali serta menambahkan beberapa faedah padanya.
Semoga Allah agar membalas setiap orang yang ikut andil dalam menerbitkan dan menyebarkan materi ini di kalangan umat Islam dengan sebaik-baik balasan, khususnya kepada para saudara kita di Kantor Itqan di Negara Kuwait atas perhatian lebih dan usaha mereka dalam menerbitkannya.



