Tatsqif

Sahabat Usaid bin Hudhair Bagian 2: Hidayah yang Mengubah Sejarah

Sahabat Usaid bin Hudhair

(di sadur dari situs Al-Kalim Tayyib, kisah-kisah sahabat)

Bagian 2: Hidayah yang Mengubah Sejarah

Melihat Usaid bin Hudhair datang dengan tombak di tangannya dan wajah yang menyiratkan kemarahan, As’ad bin Zurarah segera berkata kepada Mus’ab,

Wahai Mus’ab, itu adalah pemimpin kaum, orang yang paling bijaksana dan paling mulia di antara mereka: Usaid bin Hudhair. Jika Allah membukakan hatinya untuk menerima Islam, niscaya banyak orang akan mengikutinya. Maka bersungguh-sungguhlah kepada Allah dalam urusannya, dan perlakukanlah dia dengan sebaik-baiknya.”

Usaid pun berdiri di hadapan mereka. Dengan nada keras ia berkata,

“Apa yang membawa kalian datang ke perkampungan kami? Mengapa kalian menyesatkan orang-orang lemah di antara kami? Tinggalkan tempat ini, jika kalian masih menyayangi nyawa kalian!”

Ancaman itu tidak membuat Mus’ab gentar. Ia tidak membalas dengan kemarahan, tidak pula terpancing oleh emosi. Dengan wajah yang bercahaya oleh iman dan tutur kata yang penuh ketenangan, ia berkata,

“Wahai pemuka kaum, maukah engkau menerima tawaran yang lebih baik daripada itu?”

Usaid terdiam sejenak, “Apakah itu?” tanyanya.

Mus’ab menjawab,

“Duduklah bersama kami. Dengarkanlah apa yang kami sampaikan. Jika engkau melihatnya sebagai kebenaran, terimalah. Namun jika engkau tidak menyukainya, kami akan pergi dan tidak akan kembali mengganggumu.”

Jawaban itu begitu adil, begitu santun, sehingga hati Usaid mulai luluh sebelum telinganya mendengar satu ayat pun.

“Engkau berlaku adil,” katan Usaid.

Ia menancapkan tombaknya ke tanah, lalu duduk.

Saat itulah Mus’ab mulai menjelaskan hakikat Islam. Ia berbicara tentang keesaan Allah, tentang rahmat-Nya, tentang kehidupan setelah kematian. Kemudian ia membacakan beberapa ayat Al-Qur’an.

Belum lama ayat-ayat itu mengalun, wajah Usaid berubah. Garis-garis kemarahan menghilang, berganti dengan sinar ketenangan. Dahi yang semula berkerut kini berseri. Hatinya yang datang membawa penolakan kini dipenuhi kekaguman.

Dengan suara yang jujur ia berkata,

“Betapa indah ucapan yang engkau sampaikan. Betapa agung ayat-ayat yang engkau bacakan.”

Lalu ia bertanya dengan penuh kerinduan,

“Apa yang harus dilakukan seseorang jika ingin memeluk Islam?”

Mus’ab menjawab,

“Mandilah, sucikan pakaianmu, bersaksilah bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba sekaligus utusan-Nya, kemudian dirikanlah salat dua rakaat.”

Usaid segera menuju sumur. Ia bersuci dengan airnya yang jernih, lalu mengucapkan dua kalimat syahadat dengan hati yang mantap. Setelah itu ia menunaikan salat dua rakaat sebagai seorang muslim yang baru dilahirkan oleh hidayah.

Hari itu, Islam memperoleh seorang tokoh besar dari kalangan Arab. Seorang kesatria yang disegani, pemimpin yang dihormati, dan pribadi yang dikenal karena kecerdasan serta kemuliaan akhlaknya. Kaumnya menjulukinya “Al-Kamil” (orang yang sempurna), sebab ia memadukan keberanian seorang pendekar dengan kecerdasan seorang cendekiawan. Di tengah masyarakat yang masih sedikit mengenal baca tulis, Usaid termasuk orang yang mampu membaca dan menulis, selain mahir memainkan pedang dan piawai memanah.

Namun, keislaman Usaid bukanlah akhir dari kisah ini. Justru dari satu hati yang terbuka itu, Allah mengubah perjalanan sebuah kota.

Usaid segera menemui Sa’ad bin Mu’adz, pemimpin Aus yang sebelumnya mengutusnya. Tidak lama kemudian, Sa’ad sendiri datang menemui Mus’ab. Pertemuan itu pun berakhir sebagaimana pertemuan Usaid: dengan keimanan yang memenuhi hati. Sa’ad memeluk Islam.

Masuk Islamnya dua pemimpin besar ini menjadi titik balik yang luar biasa. Berbondong-bondong penduduk suku Aus mengikuti jejak mereka. Rumah-rumah yang sebelumnya dipenuhi berhala mulai dipenuhi lantunan Al-Qur’an. Hati-hati yang dahulu dipisahkan oleh permusuhan dipersatukan oleh kalimat Lā ilāha illallāh.

Sejak saat itu, Yatsrib berubah sedikit demi sedikit menjadi negeri yang siap menyambut Rasulullah ﷺ. Kota yang dahulu hanya dikenal karena konflik antarsuku, kini dipersiapkan Allah menjadi Madinah al-Munawwarah, kota yang bercahaya. Di sanalah Rasulullah ﷺ berhijrah, membangun masyarakat Islam pertama, dan meletakkan fondasi peradaban yang kelak menerangi dunia.

Begitulah cara Allah mengubah sejarah. Bukan selalu melalui pasukan yang besar atau kekuatan senjata, tetapi melalui satu hati yang mau mendengar kebenaran. Tombak yang semula diangkat untuk mengusir dakwah akhirnya tertancap di tanah, sementara pemiliknya berdiri sebagai pembela agama Allah.

Betapa benar firman-Nya, bahwa hidayah mampu mengubah musuh menjadi saudara, penentang menjadi penolong, dan satu jiwa yang tersentuh Al-Qur’an dapat menjadi sebab hidayah bagi sebuah umat.

(Bersambung pada Bagian 3…)

Usamah Maming, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button