Tatsqif

Semua Urusan Berkah Dengan Insya Allah

Semua Urusan Berkah Dengan Insya Allah

(Serial: Suatu Hari Bersama Nabi )

Suatu hari, di Makkah, Nabi kita Mumammad, Rasulullah ﷺ didatangi oleh kaum Quraisy, mereka bertanya kepada beliau ﷺ tentang kisah Ashabul Kahfi, Zulkarnain, dan tentang Ruh, atas ajaran dari kaum Yahudi. Maka Nabi ﷺ bersabda: (“أخبركم غدا بما سألتم عنه”.) “Aku akan memberitahukan kepada kalian besok tentang apa yang kalian tanyakan,” tanpa mengucapkan istisna (Insya Allah).

Takhrij Hadis: Diriwayatkan oleh At-Tabari dalam Tafsirnya dan Ibnu Ishaq dalam As-Sirah dengan sanad dhaif, munqathi’, dan memiliki syawahid (bukti penguat) yang asalnya terdapat dalam Ash-Shahihain (diriwayatkan oleh Al-Bukhari No. 4734, dan Muslim No. 2794 , kisah tentang hakikat Ruh).

Tadabbur Surah Al-Kahfi, ayat: 23-24.

Hadits ini disebutkan oleh beberapa ulama tafsir sebagai sabab nuzul firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا * إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,” kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah.” Dan ingatlah Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku meberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Ini adalah bimbingan dari Allah kepada Rasulullah ﷺ mengenai adab ketika berazam untuk melakukan sesuatu di masa mendatang, yaitu agar mengembalikan hal tersebut kepada kehendak (masyī’ah) Allah Azza wa Jalla, Yang Maha Mengetahui hal-hal gaib, Yang mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang dan akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi seandainya terjadi bagaimana ia akan terjadi.

Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: Sulaiman bin Daud ‘alaihimassalam pernah berkata: “Malam ini aku sungguh akan menggilir 70 istri” -dalam riwayat lain: 90 istri; dan dalam riwayat lain: 100 istri- “yang mana setiap istri akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan berperang di jalan Allah.” Dikatakan kepadanya -dalam riwayat lain: Malaikat berkata kepadanya-: “Ucapkanlah: Insya Allah.” Namun beliau tidak mengucapkannya. Lalu beliau menggilir istri-istrinya, dan tidak ada yang melahirkan dari mereka melainkan satu wanita saja yang melahirkan separuh manusia. Rasulullah ﷺ bersabda: “Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya beliau mengucapkan ‘Insya Allah’, niscaya beliau tidak melanggar sumpahnya dan keinginannya akan tercapai.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Dan niscaya mereka semua akan berperang di jalan Allah sebagai pasukan berkuda.” (Tafsir Ibnu Katsir: 5/148-149)

Secara umum ayat diatas bermakna: Allah mengarahkan hamba-hamba-Nya untuk tidak memastikan perbuatan apa pun di masa depan kecuali dengan menyandarkannya pada kehendak Allah Ta’ala (maysī’atullah), karena segala sebab dan ajal berada di tangan Allah semata. Apabila seseorang lupa mengucapkan Insya Allah, hendaklah ia mengucapkannya atau beristighfar ketika teringat, juga memohon petunjuk kepada Allah untuk hal yang lebih dekat dan lebih membawa kepada petunjuk dan kebenaran.

Beberapa faedah dari ayat dan hadits:

Penetapan kehendak (maysī’ah) Allah yang pasti berlaku, dan bahwa tiada satu pun yang terjadi dalam usaha manusia maupun di alam semesta kecuali atas kehendak-Nya, serta kewajiban merasa butuh (iftiqār) kepada-Nya.

Disyariatkannya istisna dengan ucapan “Insya Allah” ketika bersumpah atau berjanji untuk masa depan.

Dalam sumpah, Ulama fikih berbeda pendapat mengenai berlakunya istisna setelah berpisahnya majelis; jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hal itu tetap sah secara laghw (bacaan lisan) dan untuk tabarruk (mengambil keberkahan), sedangkan sumpahnya tidak gugur kecuali jika ucapan istisna tersambung secara langsung, berbeda dengan gugurnya kafarat bagi orang yang lupa jika ia menyambungkannya secara langsung.

Artinya, Jika orang yang bersumpah mengucapkan istisna setelah berpisahnya majelis atau setelah jeda diam yang lama, maka ucapannya “Insya Allah” jatuh sebagai laghw dan tabarruk (tetap bernilai pahala), namun tidak menggugurkan kafarat dan tidak mencegah terikatnya sumpah. Jika ia melanggarnya, ia tetap wajib membayar kafarat.

Pembaca sekalian, kalau kita menelaah surat al-Kahfi, ada sekitar 10 ( لا) yang berisi larangan di dalamnya, kita akan bahas sebagian darinya pada artikel ini, dan sebagian lain pada artikel berikutnya, insya Allah Ta’ala.

Tadabbur Surah Al-Kahfi, ayat: 22.

Firman Allah Ta’ala:

{ سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا }

“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap perkara gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.” [QS. Al-Kahfi: 22]

Secara umum, ayat ini bermakna: Allah Ta’ala memberitahukan tentang rekaan Ahli Kitab dan perselisihan mereka mengenai jumlah Ashabul Kahfi tanpa ilmu, kemudian menjelaskan bahwa pengetahuan yang akurat tentang jumlah mereka ada di sisi Allah, serta melarang perdebatan yang sia-sia dalam rincian yang tidak melahirkan amal.

Sebab Nuzul ayat ini: Perselisihan kaum Nasrani Najran pada zaman Nabi ﷺ mengenai jumlah para pemuda tersebut.

Beberapa Faedah:

Larangan mendalami hal-hal gaib tanpa ilmu, serta haramnya mira’ (perdebatan) yang memicu permusuhan. Nabi ﷺ bersabda: “Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Berfokus pada isi dan inti tanpa disibukkan oleh rincian sampingan yang tidak bermanfaat.

Berhati-hati memastikan kebenaran (tatsabbut) dalam perkataan, serta menjaga waktu dan tenaga dengan meninggalkan perdebatan.

Tadabbur Surah Al-Kahfi, ayat: 22.

Firman Allah Ta’ala:

{وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا}

“Dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorang pun di antara mereka (ahlul kitab).” [Al-Kahfi: 22]

Secara umum ayat ini bermakna: Larangan bertanya kepada orang yang tidak memiliki ilmu atau orang yang berbicara tanpa hak dari kalangan Ahli Kitab atau selain mereka.

Beberapa Faedah:

Wajib bertanya kepada Ahluz Zikr (ulama) dan larangan meminta fatwa dari orang yang tidak kompeten.

Mengambil pengetahuan dari sumber-sumbernya yang terpercaya dan asli.

Kemandirian kepribadian seorang muslim dan tidak mengekor kepada orang yang tidak memiliki ilmu.

Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya sekaligus dari para hamba, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan diwafatkannya para ulama.” (Muttafaq ‘Alaih).

Tadabbur Surah Al-Kahfi, ayat: 28.

Firman Allah Ta’ala:

{وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا}

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini.” [QS. Al-Kahfi: 28]

Makna Umum ayat ini: Perintah kepada Nabi ﷺ untuk teguh dan duduk bermajelis bersama orang-orang saleh, mukmin yang lemah, dan orang-orang zuhud, serta tidak memalingkan pandangan kepada kebatilan dan orang-orang kaya dari kalangan ahli dunia.

Sebab Nuzul ayat: Para pemuka Quraisy meminta kepada Nabi ﷺ untuk mengusir para sahabat yang lemah (seperti Salman al-Farisi, Ammar, Shuhaib, dan Bilal) agar mereka mau duduk bersama beliau, maka Allah menurunkan ayat ini (Diriwayatkan oleh At-Tabari dan Ibnu Jarir).

Beberapa faedah:

Wajibnya mengikhlaskan niat karena Allah, keutamaan teman yang saleh, dan haramnya meremehkan orang beriman karena kemiskinan mereka.

Seseorang dinilai dari kejelasan dan teman duduknya, karena pertemanan mempengaruhi perilaku dan pola pikir seseorang.

Sikap tawadu dan bersungguh-sungguh menahan diri untuk selalu menyertai orang-orang saleh.

Nabi ﷺ bersabda: “Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dihasankannya).

Tadabbur Surah Al-Kahfi, ayat: 28.

Lanjutan dari ayat sebelumnya, Allah Ta’ala berfirman:

{وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا}

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [QS. Al-Kahfi: 28]

Makna Umum ayat: Larangan mengikuti orang-orang yang lalai dan memperturutkan hawa nafsu, yang mana urusan mereka menjadi sia-sia dan kacau disebabkan berpalingnya mereka dari dzikir.

Beberapa faedah:

Kelalaian merupakan hukuman bagi hati, dan berpaling dari dzikir adalah penyebab kehancuran serta perturutan hawa nafsu.

Jangan menyerahkan kepemimpinan dan pengaruh kepada orang yang menyia-nyiakan hidupnya dan mengikuti syahwatnya.

Bahaya kelalaian dan dampak hawa nafsu dalam merusak amal perbuatan.

Nabi ﷺ bersabda: “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari).

Marilah kita senantiasa menggantungkan segala niat, rencana, dan langkah hidup kita hanya kepada kehendak dan takdir Allah Ta’ala, dengan selalu mengiringinya lewat ucapan Insya Allah. Hendaklah kita menjaga keikhlasan hati, memelihara lisan dari perdebatan yang tidak berguna, menuntut ilmu dari sumber yang benar, serta memilih pertemanan yang senantiasa mendekatkan diri kita kepada Rabb semesta alam.

Abu Mutsanna, Lc., M.A., Ph.D.

Doktor Bidang Fiqih dan Ushul, King Saud University, Riyadh, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button