Tatsqif

Tarbiah Nabawiyah, Menggabungkan Ta’lim dan Tazkiah

Tarbiah Nabawiyah, Menggabungkan Ta’lim dan Tazkiah

Di momen tahun ajaran baru ini, penting bagi para pendidik, pengajar, dan dai, untuk memperbarui niat, menguatkan tekat, dan menyegarkan kembali semangat.

Allah Ta‘ala berfirman: “Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Kami, menyucikan kalian, serta mengajarkan kepada kalian Kitab dan Hikmah, dan mengajarkan kepada kalian apa yang sebelumnya belum kalian ketahui. Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari nikmat-Ku. Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan kesabaran dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 151–153)

Dari dua ayat ini, marilah kita menyelami pesan-pesan mendalam tentang makna tarbiah dan tazkiah bagi para pendidik, guru, dan da’i.

Pertama: Pendidikan Dimulai dengan Pengajaran dan Penyucian Jiwa Secara Bersamaan

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ﴾

 “Yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Kami, menyucikan kalian, dan mengajarkan kepada kalian Kitab dan Hikmah.”

Kaidah: Pendidikan tidak akan sempurna tanpa penyucian jiwa, dan penyucian jiwa tidak akan berjalan dengan benar tanpa ilmu.

Seorang pendidik tidak sekadar membentuk peserta didik yang kaya informasi, bukan pula membentuk pribadi yang penuh semangat beribadah tetapi minim ilmu. Yang hendak dibentuk adalah manusia yang mengenal Allah, lurus perilakunya, baik pemahamannya, dan benar amalnya.

Intinya:

  • Pengajaran membangun akal.
  • Tazkiah membangun hati.
  • Tarbiah memadukan keduanya.

Pendidik yang berhasil tidak hanya bertanya, “Apa yang telah dipelajari peserta didik?” tetapi juga bertanya, “Apa yang telah berubah dalam diri mereka setelah belajar?”

Kedua: Pendidikan Nabawi Dimulai dengan Membangun Hubungan dengan Wahyu

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا﴾

 “Yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Kami.”

Kaidah: Pendidik tidak memulai pembentukan kepribadian peserta didik semata-mata dari gagasan dan pemikirannya sendiri. Ia memulainya dengan membangun hubungan mereka dengan Kitabullah.

Al-Qur’an bukan sekadar satu mata pelajaran yang ditambahkan ke dalam program pendidikan. Al-Qur’an adalah fondasi yang membentuk cara pandang, nilai-nilai, dan prinsip kehidupan.

Karena itu, hendaknya seorang pendidik bertanya kepada dirinya sendiri: “Ketika para peserta didikku menyelesaikan pendidikannya, apakah mereka hanya semakin terikat dengan informasi, ataukah mereka juga semakin dekat kepada Allah dan firman-Nya?”

Ketiga: Pendidikan Bukan Sekadar Memindahkan Informasi, tetapi Membentuk Manusia

Perhatikan susunan ayat:

﴿يَتْلُو عَلَيْكُمْ… وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ﴾

membacakan kepada kalian …, menyucikan kalian, serta mengajarkan kepada kalian Kitab dan Hikmah.”

Misi pendidikan yang dibawa Rasulullah ﷺ bukanlah sekadar proyek menjejalkan informasi, tetapi sebuah proyek membangun manusia.

Kaidah: Setiap proses pendidikan yang tidak meninggalkan jejak pada perilaku perlu ditinjau kembali metode dan tujuannya.

Keberhasilan bukanlah ketika peserta didik mampu menghafal pelajaran. Keberhasilan adalah ketika apa yang dipelajarinya berubah menjadi: Pemahaman → Iman → Akhlak → Amal → Dampak.

Keempat: Pendidik Membutuhkan Pendidikan bagi Dirinya Sebelum Mendidik Orang Lain

Setelah Allah Ta’ala menyebutkan tugas Rasulullah ﷺ dalam mengajarkan dan menyucikan jiwa manusia, Allah langsung berfirman:

﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ﴾

“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah mengingkari nikmat-Ku.”

Kaidah: Siapa yang ingin mendidik manusia agar memiliki hubungan yang kuat dengan Allah, hendaknya terlebih dahulu memperbaiki hubungannya sendiri dengan Allah.

Pendidik yang menginginkan peserta didiknya gemar berzikir sementara dirinya lalai, mengajarkan syukur sementara dirinya penuh keluhan, dan menyeru kepada keikhlasan sementara dirinya mengejar pujian, akan berhadapan dengan salah satu penghalang terbesar dalam pendidikan: lemahnya keteladanan.

Karena itu, di awal tahun ajaran, salah satu pertanyaan terpenting yang perlu diajukan oleh setiap pendidik kepada dirinya adalah: “Apa yang harus aku perbaiki dalam diriku sebelum aku menuntut peserta didikku memperbaikinya?”

Kelima: Pendidikan Membutuhkan Pertolongan Allah, Bukan Hanya Mengandalkan Sarana dan Metode

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ﴾

 “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan kesabaran dan salat.”

Ayat ini merupakan petunjuk yang sangat agung bagi para pendidik dan dai, karena mendidik manusia bukanlah pekerjaan ringan.

Terkadang seorang pendidik telah mencurahkan waktu yang panjang kepada seorang peserta didik, tetapi belum melihat hasil yang diharapkan. Terkadang nasihat harus diulang puluhan kali. Terkadang ia menghadapi sikap keras kepala, kejenuhan, atau lemahnya semangat belajar.

Kaidah: Jangan memikul beban pendidikan hanya dengan kekuatanmu sendiri. Mintalah pertolongan kepada Allah.

Sarana pendidikan penting. Pengalaman penting. Pelatihan penting. Kurikulum penting. Keterampilan mengajar juga penting.

Namun, di atas semua itu ada sesuatu yang jauh lebih menentukan:

pertolongan dan taufik dari Allah Azza wa Jalla.

Dan di antara sarana terbesar untuk meraih pertolongan itu adalah: kesabaran dan salat.

Keenam: Kesabaran Bukan Sekadar Akhlak Tambahan bagi Pendidik, tetapi Syarat Keberhasilannya

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ﴾

 “Mohonlah pertolongan dengan kesabaran dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Kaidah: Siapa yang terburu-buru menuntut hasil pendidikan, ia akan merusak banyak benih yang telah ditanamnya.

Pendidikan adalah proses jangka panjang.

Boleh jadi hari ini seorang pendidik belum melihat pengaruh dari sebuah kalimat yang ia sampaikan kepada peserta didiknya. Bahkan, bisa jadi ia baru memahami nilai sebuah sikap pendidikan yang pernah diambilnya bertahun-tahun kemudian.

Karena itu, pendidik harus bersabar menghadapi:

  • lambatnya perubahan;
  • perbedaan kemampuan;
  • kesalahan yang terus berulang;
  • perbedaan karakter dan kepribadian;
  • lemahnya motivasi;
  • serta perbedaan tahap perkembangan dan usia.

Jangan ukur keberhasilan pendidikan hanya dengan apa yang tampak hari ini. Sebab, sebagian benih yang paling baik justru membutuhkan waktu paling lama untuk tumbuh.

Ketujuh: Salat Bukan Hanya Terapi bagi Pendidik, tetapi Sumber Kekuatan dalam Mendidik

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ﴾

 “Mohonlah pertolongan dengan kesabaran dan salat.”

Hal yang patut direnungkan adalah bahwa Al-Qur’an tidak hanya mengarahkan manusia untuk mengandalkan pengalaman, kompetensi, dan keterampilan. Allah justru mengembalikan pendidik kepada kesabaran dan salat.

Kaidah: Kekuatan seorang pendidik tidak hanya terletak pada keterampilannya, tetapi terutama pada hubungannya dengan Allah.

Karena itu, seorang pendidik hendaknya memiliki waktu-waktu khusus untuk bermunajat kepada Rabb-nya, mendoakan peserta didiknya, memohon pertolongan Allah dalam menjalankan amanahnya, dan mengadukan kepada-Nya berbagai kesulitan yang ia hadapi dalam perjalanan pendidikan.

Sebab, boleh jadi seorang pendidik tidak mampu membuka hati peserta didiknya dengan nasihatnya, tetapi Allah mampu membukanya dengan satu doa yang ia panjatkan dalam kesunyian.

Kesimpulan

Manhaj pendidikan yang terkandung dalam ayat-ayat ini dimulai dari “wahyu”, berjalan melalui “tazkiah”, membutuhkan “zikir dan syukur”, serta memperoleh kekuatannya dari “salat dan memohon pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla”.

Pendidikan yang sejati bukan sekadar membuat seseorang tahu, tetapi membimbingnya agar beriman, berakhlak, beramal, dan akhirnya memperoleh petunjuk. Wallāhu Ta‘ālā A‘lam.

Abu Mutsanna, Lc., M.A., Ph.D.

Doktor Bidang Fiqih dan Ushul, King Saud University, Riyadh, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button