SIAPA YANG MENDIDIK SANG PENDIDIK?

SIAPA YANG MENDIDIK SANG PENDIDIK?
Diterjemahkan dari tulisan Dr. Khalif Al ‘Anzi yang berjudul “Man Yurabbi Murabbi”
Seorang pendidik berdiri di hadapan orang-orang yang ia didik. Ia memberikan arahan kepada yang saxtu, menasihati yang lain, memantau keadaan mereka, merasa bahagia melihat perkembangan mereka, dan bersedih ketika melihat mereka mengalami kemunduran.
Ia disibukkan dengan memperbaiki kesalahan mereka, meluruskan perilaku mereka, serta menanamkan iman ke dalam hati mereka. Bahkan, tidak jarang ia menghabiskan waktu bertahun-tahun sambil terus bertanya kepada dirinya sendiri: Bagaimana aku dapat menyentuh hati mereka? Bagaimana aku dapat memberikan pengaruh kepada mereka? Dan bagaimana aku dapat memperbaiki keadaan mereka?
Namun, di tengah kesibukannya yang panjang dalam memperhatikan orang lain, terkadang ada satu pertanyaan penting yang justru terlupakan:
Siapa yang mendidik sang pendidik?
Salah satu bahaya terbesar yang dapat dihadapi seorang pendidik adalah ketika, seiring berjalannya waktu, ia berubah dari seseorang yang dididik menjadi seseorang yang hanya mendidik.
Ia berubah dari orang yang membutuhkan bimbingan menjadi orang yang sibuk memperbaiki orang lain. Dari seseorang yang membutuhkan nasihat menjadi seseorang yang senantiasa memberikan nasihat kepada orang lain.
Hingga tanpa ia sadari, ia mulai merasa bahwa pendidikan dan pembinaan adalah sesuatu yang diperuntukkan bagi orang lain, sedangkan dirinya telah melewati fase ketika ia masih membutuhkan seseorang untuk membimbing, menasihati, dan meluruskan dirinya.
Di sinilah bahaya mulai muncul.
Seorang pendidik, setinggi apa pun ilmunya, sebanyak apa pun pengalamannya, dan seluas apa pun pengaruh yang dimilikinya, tetaplah seorang manusia yang membutuhkan pendidikan dan pembinaan.
Bahkan, kebutuhan seorang pendidik terhadap pembinaan bisa semakin besar ketika lingkup pengaruhnya semakin luas. Sebab, banyaknya berbicara dapat membuatnya kurang mendengarkan. Kesibukannya memperbaiki orang lain dapat membuatnya lalai memperbaiki dirinya sendiri. Dan banyaknya pujian yang ia terima dari manusia dapat menghalanginya untuk melihat sebagian kekurangan yang ada pada dirinya.
Karena itu, Al-Qur’an mengajarkan agar seseorang memulai perhatian dari dirinya sendiri sebelum memperhatikan orang lain. Allah Ta‘ala berfirman:
“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Mendidik orang lain bukanlah alasan untuk mengabaikan diri sendiri. Demikian pula, tanggung jawab seseorang terhadap orang lain tidak pernah menjadi alasan untuk melupakan tanggung jawabnya terhadap dirinya sendiri.
Pendidik Juga Membutuhkan Bekal
Seorang pendidik yang terus-menerus memberi membutuhkan bekal yang terus-menerus pula.
Ia tidak akan mampu menyirami hati orang lain apabila ia sendiri tidak menyirami hatinya.
Seorang pendidik mungkin menghabiskan bertahun-tahun membaca tentang pendidikan, mengadakan kajian, memberikan nasihat, dan memantau perkembangan manusia. Namun, perlahan-lahan, porsi perhatian yang ia berikan kepada dirinya sendiri bisa semakin berkurang.
Pada akhirnya, ilmunya menjadi lebih banyak daripada introspeksinya terhadap diri sendiri.
Pembicaraannya tentang keikhlasan menjadi lebih banyak daripada pemeriksaannya terhadap keikhlasan dirinya.
Pembicaraannya tentang kesabaran menjadi lebih banyak daripada kesabarannya dalam menghadapi kehidupan.
Pembicaraannya tentang tawakal menjadi lebih banyak daripada sejauh mana ia benar-benar bersandar kepada Allah.
Di sinilah muncul sebuah kesenjangan yang berbahaya antara apa yang dikatakan seseorang dan apa yang ia jalani dalam kehidupannya.
Al-Qur’an telah memperingatkan agar ilmu tidak berhenti sebatas perkataan tanpa memberikan pengaruh pada amal. Allah Ta‘ala berfirman:
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Shaff: 3)
Seorang pendidik semestinya menjadi orang yang paling takut terhadap kesenjangan ini. Sebab, ia terlalu sering berbicara tentang berbagai nilai dan makna kebaikan, mengulanginya, dan terbiasa dengannya.
Pendidik Membutuhkan Lingkungan yang Mendidiknya
Di antara hal yang perlu dipahami adalah bahwa seorang pendidik juga membutuhkan persahabatan yang baik.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang dengan mengharap keridaan-Nya.”
(QS. Al-Kahfi: 28)
Jika Rasulullah ﷺ saja diperintahkan untuk bersabar bersama orang-orang beriman yang senantiasa mengingat Allah, lalu bagaimana dengan orang yang kedudukannya jauh di bawah beliau?
Seorang pendidik tidak membutuhkan sahabat yang hanya mengaguminya.
Ia juga tidak membutuhkan lingkungan yang hanya melihat dirinya sebagai pendidik yang sukses.
Ia membutuhkan sahabat yang mengingatkannya kepada Allah, membantunya melihat dirinya sebagaimana adanya, serta memberikan ruang baginya untuk menjadi seorang penuntut ilmu di tengah orang-orang berilmu, menjadi saudara di antara saudara-saudaranya, dan menjadi seorang hamba yang tetap membutuhkan nasihat dan pengingat.
Salah satu dampak paling berbahaya dari peran sebagai pendidik adalah ketika seorang pendidik hidup dalam lingkungan yang tidak pernah memberinya sesuatu selain pujian.
Semua orang datang kepadanya untuk bertanya.
Semua orang menunggu arahannya.
Semua orang berterima kasih atas pengaruh yang ia berikan.
Seiring berjalannya waktu, bisa menjadi sulit baginya untuk menemukan seseorang yang berani mengatakan kepadanya:
“Engkau salah.”
Jiwa yang hanya mendengar pujian dapat tertipu oleh pujian tersebut.
Karena itu, salah satu nikmat terbesar yang dapat diberikan Allah kepada seseorang adalah dikaruniai seorang penasihat yang tulus dan tidak suka berbasa-basi.
Seseorang yang berani menunjukkan kesalahan, mengingatkan ketika ia mulai menyimpang, dan membantunya melihat kekurangan dirinya sendiri.
Namun, ada satu pertanyaan yang tidak boleh hilang dari benak kita:
Apa yang telah pendidikan lakukan terhadap diri kita sendiri?
Seberapa banyak hati kita berubah ketika kita mengajak manusia kepada kebaikan?
Seberapa dekat kita dengan Allah ketika kita mengajak orang lain untuk mendekat kepada-Nya?
Seberapa sering kita mengawasi diri sendiri ketika kita sibuk mengawasi langkah orang-orang yang kita didik?
Bahaya terbesar yang mungkin terjadi pada seorang pendidik bukanlah kegagalannya dalam mendidik orang lain.
Namun, bahaya terbesar adalah ketika ia berhasil memberikan pengaruh kepada orang lain, sementara proses pendidikan terhadap dirinya sendiri telah berhenti.
Karena itu, hendaknya seorang pendidik senantiasa menjadi pendidik sekaligus orang yang terus dididik; menjadi guru sekaligus murid; menjadi orang yang memberikan nasihat sekaligus orang yang membutuhkan nasihat.
Jangan sampai ia terlalu sibuk memperbaiki manusia hingga melupakan dirinya sendiri.



