Ringkasan tiga majelis perdebatan tentang Akidah Washithiyah

Ringkasan tiga majelis perdebatan tentang Akidah Washithiyah
مناظرة في العقيدة الواسطية
Sumber: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmū‘ al-Fatāwā, jilid 3, mulai hlm. 160.
Latar Belakang Majelis Perdebatan
قال رحمه الله تعالى:
بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله رب العالمين، الرحمن الرحيم، مالك يوم الدين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ولا ظهير له ولا معين، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، الذي أرسله إلى الخلق أجمعين، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا، وعلى سائر عباد الله الصالحين.
أما بعد: فقد سئلت غير مرة أن أكتب ما حضرني ذكره مما جرى في المجالس الثلاثة المعقودة للمناظرة في أمر الاعتقاد، بمقتضى ما ورد به كتاب السلطان من الديار المصرية إلى نائبه أمير البلاد، لما سعى إليه قوم من الجهمية والاتحادية والرافضة وغيرهم من ذوي الأحقاد.
فأمر الأمير بجمع القضاة الأربعة، قضاة المذاهب الأربعة، وغيرهم من نوابهم والمفتين والمشايخ، ممن له حرمة وبه اعتداد، وهم لا يدرون ما قصد بجمعهم في هذا الميعاد، وذلك يوم الاثنين ثامن رجب المبارك عام خمس وسبعمائة.
Beliau رحمه الله berkata:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Penguasa Hari Pembalasan.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu, pendukung, dan penolong bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang Dia utus kepada seluruh makhluk. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam yang banyak kepada beliau, keluarga dan para sahabatnya, serta seluruh hamba Allah yang saleh.
Amma ba‘du. Aku telah diminta lebih dari sekali untuk menuliskan apa yang masih kuingat mengenai kejadian dalam tiga majelis yang diselenggarakan untuk memperdebatkan masalah akidah. Majelis tersebut dilaksanakan berdasarkan surat Sultan dari Mesir kepada wakilnya, Amir negeri Syam, setelah sejumlah orang dari kalangan Jahmiyyah, Ittihadiyyah, Rafidhah, dan pihak-pihak lain yang menyimpan kebencian mengadukan persoalan kepadanya.
Amir kemudian memerintahkan agar dikumpulkan empat orang qadhi dari empat mazhab, para wakil mereka, para mufti, para syaikh, dan tokoh-tokoh yang dihormati dan diperhitungkan. Mereka sendiri belum mengetahui tujuan mereka dikumpulkan pada saat itu. Peristiwa tersebut berlangsung pada hari Senin, 8 Rajab 705 H.
Ibnu Taimiyah Diminta Menjelaskan Akidahnya
فقال لي: هذا المجلس عقد لك، فقد ورد مرسوم السلطان بأن أسألك عن اعتقادك، وعما كتبت به إلى الديار المصرية من الكتب التي تدعو بها الناس إلى الاعتقاد. وأظنه قال: وأن أجمع القضاة والفقهاء وتتباحثون في ذلك.
فقلت: أما الاعتقاد فلا يؤخذ عني ولا عمن هو أكبر مني، بل يؤخذ عن الله ورسوله وما أجمع عليه سلف الأمة، فما كان في القرآن وجب اعتقاده، وكذلك ما ثبت في الأحاديث الصحيحة مثل صحيح البخاري ومسلم.
Amir berkata kepadaku:
“Majelis ini diselenggarakan untukmu. Telah datang keputusan Sultan agar aku menanyakan kepadamu tentang akidahmu dan tentang kitab-kitab yang engkau kirimkan ke Mesir, yang dengannya engkau menyeru manusia kepada suatu akidah.”
Seingatku ia juga berkata:
“Dan agar aku mengumpulkan para qadhi dan fuqaha, kemudian kalian membahas masalah tersebut.”
Aku menjawab:
«“Adapun akidah, ia tidak diambil dariku dan tidak pula dari orang yang lebih besar dariku. Akidah diambil dari Allah dan Rasul-Nya serta dari perkara yang telah menjadi kesepakatan Salaf umat ini. Apa yang terdapat dalam Al-Qur’an wajib diyakini. Demikian pula apa yang telah sahih dalam hadis-hadis yang sahih, seperti Shahih Al-Bukhari dan Muslim.”»
Tuduhan bahwa Ibnu Taimiyah Menyebarkan Akidah Tertentu
وأما الكتب فما كتبت إلى أحد كتابا ابتداء أدعوه به إلى شيء من ذلك، ولكني كتبت أجوبة أجبت بها من يسألني من أهل الديار المصرية وغيرهم.
وكان قد بلغني أنه زور علي كتاب إلى الأمير ركن الدين الجاشنكير أستاذ دار السلطان، يتضمن ذكر عقيدة محرفة، ولم أعلم بحقيقته، لكن علمت أنه مكذوب.
وكان يرد علي من مصر وغيرها من يسألني عن مسائل في الاعتقاد وغيره، فأجيبه بالكتاب والسنة وما كان عليه سلف الأمة.
Adapun kitab-kitab tersebut, aku tidak pernah dengan inisiatif sendiri mengirimkan sebuah kitab kepada seseorang untuk mengajaknya kepada perkara tersebut. Yang kutulis hanyalah jawaban kepada orang-orang yang bertanya kepadaku, baik dari Mesir maupun daerah lainnya.
Telah sampai kepadaku berita bahwa ada sebuah surat yang dipalsukan atas namaku dan dikirim kepada Amir Ruknuddin Al-Jasyankir, pejabat istana Sultan. Di dalamnya dicantumkan suatu akidah yang telah diselewengkan. Aku tidak mengetahui secara persis isi surat tersebut, tetapi aku mengetahui bahwa surat itu adalah kedustaan yang dinisbatkan kepadaku.
Orang-orang dari Mesir dan tempat lainnya biasa mengirimkan pertanyaan kepadaku mengenai masalah akidah dan lainnya. Aku menjawab mereka berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan apa yang menjadi pegangan Salaf umat ini.
Pokok-Pokok Akidah Ahlus Sunnah
Ketika diminta menuliskan akidahnya, Ibnu Taimiyah menyampaikan beberapa pokok berikut.
اعتقاد أهل السنة والجماعة: الإيمان بما وصف الله به نفسه، وبما وصفه به رسوله، من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل، وأن القرآن كلام الله غير مخلوق، منه بدأ وإليه يعود.
والإيمان بأن الله خالق كل شيء من أفعال العباد وغيرها، وأنه ما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن، وأنه أمر بالطاعة وأحبها ورضيها، ونهى عن المعصية وكرهها.
والعبد فاعل حقيقة والله خالق فعله، وأن الإيمان والدين قول وعمل يزيد وينقص، وأن لا نكفر أحدا من أهل القبلة بالذنوب، ولا نخلد في النار من أهل الإيمان أحدا.
وأن الخلفاء بعد رسول الله أبو بكر ثم عمر ثم عثمان ثم علي، وأن مرتبتهم في الفضل كترتيبهم في الخلافة.
Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah:
Beriman kepada apa yang Allah sifatkan bagi diri-Nya dan apa yang Rasul-Nya sifatkan bagi-Nya, tanpa tahrif (menyelewengkan makna), tanpa ta‘thil (meniadakan sifat), tanpa takyif (menentukan bagaimana hakikatnya), dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).
Al-Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk; berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.
Beriman bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk perbuatan manusia dan selainnya. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.
Allah memerintahkan ketaatan, mencintai dan meridhainya. Dia melarang kemaksiatan dan membencinya.
Seorang hamba benar-benar melakukan perbuatannya, sedangkan Allah adalah Pencipta perbuatan tersebut.
Iman dan agama adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.
Kita tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum Muslimin hanya karena dosa-dosa yang dilakukannya dan tidak menetapkan kekal di neraka bagi seorang pun yang memiliki iman.
Para khalifah setelah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali. Urutan keutamaan mereka sesuai dengan urutan kekhalifahan mereka.
Mengapa Akidah Ini Disebut Al-Wasithiyah?
وقلت لهم: هذه كان سبب كتابتها أنه قدم علي من أرض واسط بعض قضاة نواحيها، شيخ يقال له “رضي الدين الواسطي” من أصحاب الشافعي، قدم علينا حاجا وكان من أهل الخير والدين.
وشكا ما الناس فيه بتلك البلاد وفي دولة التتر من غلبة الجهل والظلم ودروس الدين والعلم، وسألني أن أكتب له عقيدة تكون عمدة له ولأهل بيته.
فاستعفيت من ذلك وقلت: قد كتب الناس عقائد متعددة، فخذ بعض عقائد أئمة السنة.
فألح في السؤال وقال: ما أحب إلا عقيدة تكتبها أنت.
فكتبت له هذه العقيدة وأنا قاعد بعد العصر، وقد انتشرت بها نسخ كثيرة في مصر والعراق وغيرهما.
Aku berkata kepada mereka:
Sebab aku menulis akidah ini adalah karena seorang qadhi dari daerah Wasith, seorang syaikh bernama Radhiyuddin Al-Wasithi, yang bermazhab Syafi‘i, datang kepadaku dalam perjalanan hajinya. Ia termasuk orang yang baik dan taat beragama.
Ia mengadukan keadaan masyarakat di daerah tersebut di bawah kekuasaan Tatar, berupa merebaknya kebodohan dan kezaliman serta semakin hilangnya agama dan ilmu.
Ia memintaku menuliskan sebuah akidah yang dapat menjadi pegangan bagi dirinya dan keluarganya.
Pada awalnya aku menolak dan berkata:
“Orang-orang telah menulis banyak kitab akidah. Ambillah salah satu kitab akidah karya para imam Sunnah.”
Namun ia terus mendesak dan berkata:
“Aku hanya menginginkan sebuah akidah yang engkau sendiri tuliskan.”
Maka aku menulis akidah ini untuknya dalam sekali duduk setelah Ashar. Kemudian salinan kitab tersebut tersebar luas di Mesir, Irak, dan daerah-daerah lainnya.
Al-Wasithiyah Dibacakan di Hadapan Para Ulama
فأشار الأمير بأن لا أقرأها أنا لرفع الريبة، وأعطاها لكاتبه الشيخ كمال الدين، فقرأها على الحاضرين حرفا حرفا، والجماعة الحاضرون يسمعونها، ويورد المورد منهم ما شاء ويعارض فيما شاء.
Amir mengisyaratkan agar aku sendiri tidak membacakannya, demi menghilangkan kecurigaan. Maka ia menyerahkan kitab tersebut kepada sekretarisnya, Syaikh Kamaluddin.
Ia kemudian membacakan Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah kepada seluruh hadirin kata demi kata.
Semua yang hadir mendengarkannya. Siapa pun diperbolehkan mengajukan keberatan terhadap bagian yang dikehendakinya dan membantah apa saja yang ingin dibantahnya.
Perdebatan tentang Tahrif dan Ta‘thil
فكان مما اعترض علي بعضهم لما ذكر في أولها:
ومن الإيمان بالله: الإيمان بما وصف به نفسه ووصفه به رسوله من غير تحريف ولا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل.
فقال: ما المراد بالتحريف والتعطيل؟
ومقصوده أن هذا ينفي التأويل الذي أثبته أهل التأويل، الذي هو صرف اللفظ عن ظاهره، إما وجوبا وإما جوازا.
فقلت: تحريف الكلم عن مواضعه كما ذمه الله تعالى في كتابه، وهو إزالة اللفظ عما دل عليه من المعنى.
Salah seorang dari mereka mempersoalkan perkataan pada awal Al-Wasithiyah:
«“Termasuk beriman kepada Allah adalah beriman kepada apa yang Allah sifatkan bagi diri-Nya dan apa yang Rasul-Nya sifatkan bagi-Nya, tanpa tahrif, ta‘thil, takyif, dan tamtsil.”»
Ia bertanya:
“Apa yang dimaksud dengan tahrif dan ta‘thil?”
Tujuan pertanyaannya adalah karena ungkapan tersebut dianggap menolak ta’wil menurut istilah ahli takwil, yaitu memalingkan suatu lafaz dari makna lahiriahnya, baik dianggap wajib maupun boleh.
Aku menjawab:
«“Tahrif adalah menyelewengkan kalimat dari tempatnya sebagaimana dicela Allah dalam Kitab-Nya, yaitu mengalihkan suatu lafaz dari makna yang ditunjukkannya.”»
Mengapa Menggunakan Istilah “Tahrif”, Bukan “Ta’wil”?
وذكرت في غير هذا المجلس: أني عدلت عن لفظ التأويل إلى لفظ التحريف؛ لأن التحريف اسم جاء القرآن بذمه، وأنا تحريت في هذه العقيدة اتباع الكتاب والسنة.
فنفيت ما ذمه الله من التحريف، ولم أذكر فيها لفظ التأويل بنفي ولا إثبات؛ لأنه لفظ له عدة معان كما بينته في موضعه من القواعد.
فإن معنى لفظ “التأويل” في كتاب الله غير معنى لفظ التأويل في اصطلاح المتأخرين من أهل الأصول والفقه، وغير معنى لفظ التأويل في اصطلاح كثير من أهل التفسير والسلف.
لأن من المعاني التي قد تسمى تأويلا ما هو صحيح منقول عن بعض السلف، فلم أنف ما تقوم الحجة على صحته، فإذا ما قامت الحجة على صحته وهو منقول عن السلف فليس من التحريف.
Terjemahan
Dalam majelis lain aku menjelaskan bahwa aku sengaja meninggalkan istilah “ta’wil” dan memilih istilah “tahrif”, sebab tahrif merupakan istilah yang dicela oleh Al-Qur’an.
Dalam akidah ini aku berusaha mengikuti lafaz Al-Qur’an dan Sunnah. Karena itu aku menafikan apa yang Allah cela berupa tahrif.
Aku tidak menggunakan istilah ta’wil, baik untuk menafikan maupun menetapkannya, karena kata ta’wil mempunyai beberapa makna.
Makna ta’wil dalam Kitab Allah berbeda dengan makna ta’wil menurut terminologi ulama ushul dan fikih belakangan. Ia juga berbeda dengan penggunaan istilah ta’wil pada banyak ahli tafsir dan Salaf.
Sebab, sebagian perkara yang disebut ta’wil memang memiliki makna yang benar dan dinukil dari sebagian Salaf. Karena itu aku tidak menolak sesuatu yang telah tegak dalil atas kebenarannya.
Apabila telah terbukti kebenarannya dan dinukil dari Salaf, maka hal tersebut bukan tahrif.
Mengapa Menggunakan “Tamtsil”, Bukan “Tasybih”?
وقلت له أيضا: ذكرت في النفي التمثيل ولم أذكر التشبيه؛ لأن التمثيل نفاه الله بنص كتابه حيث قال:
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾
وقال:
﴿هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا﴾
وكان أحب إلي من لفظ ليس في كتاب الله ولا في سنة رسوله، وإن كان قد يعنى بنفيه معنى صحيح كما قد يعنى به معنى فاسد.
Aku juga berkata kepadanya:
“Aku menggunakan kata tamtsil (penyerupaan secara sepadan) dalam penafian dan tidak menggunakan kata tasybih, karena tamtsil telah dinafikan Allah secara tegas dalam Kitab-Nya.”
Allah berfirman:
«﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
(QS. Asy-Syura: 11)»
Dan Allah berfirman:
«﴿هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا﴾
“Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang sebanding dengan-Nya?”
(QS. Maryam: 65)»
Aku lebih menyukai lafaz yang terdapat dalam Al-Qur’an daripada istilah yang tidak terdapat dalam Kitab Allah maupun Sunnah Rasul-Nya. Sebab, suatu istilah yang tidak berasal dari keduanya terkadang dimaksudkan untuk makna yang benar dan terkadang pula dimaksudkan untuk makna yang batil.
Kaidah Salaf: Makna Diketahui, Kaifiyah Tidak Diketahui
فقلت: قولي من غير تكييف ولا تمثيل ينفي كل باطل، وإنما اخترت هذين الاسمين؛ لأن التكييف مأثور نفيه عن السلف، كما قال ربيعة ومالك وابن عيينة وغيرهم المقالة التي تلقاها العلماء بالقبول:
الاستواء معلوم، والكيف مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة.
فاتفق هؤلاء السلف على أن التكييف غير معلوم لنا، فنفيت ذلك اتباعا لسلف الأمة.
Aku berkata:
“Perkataanku ‘tanpa takyif dan tanpa tamtsil’ menolak seluruh pemahaman yang batil.
Aku memilih kedua istilah tersebut karena penafian takyif telah diriwayatkan dari Salaf, sebagaimana perkataan Rabi‘ah, Malik, Ibnu ‘Uyainah, dan lainnya yang diterima oleh para ulama:
«الاستواء معلوم، والكيف مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة»
«“Istiwa itu diketahui maknanya, bagaimana hakikatnya tidak diketahui, mengimaninya adalah wajib, dan mempertanyakan bagaimana hakikatnya adalah bid‘ah.”»
Para Salaf tersebut sepakat bahwa kaifiyah sifat Allah tidak diketahui oleh kita. Karena itu aku menafikan takyif sebagai bentuk mengikuti Salaf umat ini.
Pembicaraan tentang Sifat Mengikuti Pembicaraan tentang Zat
وذكرت في ضمن ذلك كلام الخطابي الذي نقل أنه مذهب السلف، وهو إجراء آيات الصفات وأحاديث الصفات على ظاهرها مع نفي الكيفية والتشبيه عنها، إذ الكلام في الصفات فرع على الكلام في الذات، يحتذى فيه حذوه ويتبع فيه مثاله.
فإذا كان إثبات الذات: إثبات وجود لا إثبات تكييف، فكذلك إثبات الصفات: إثبات وجود لا إثبات تكييف.
Aku juga menyebutkan perkataan Al-Khaththabi yang dinukil sebagai mazhab Salaf, yaitu:
Ayat-ayat dan hadis-hadis tentang sifat Allah dipahami sebagaimana zahirnya, dengan menafikan kaifiyah dan penyerupaan terhadap Allah.
Sebab, pembahasan tentang sifat merupakan cabang dari pembahasan tentang Zat. Kaidah yang berlaku pada sifat mengikuti kaidah yang berlaku pada Zat.
Jika menetapkan Zat Allah berarti menetapkan keberadaan-Nya, bukan menentukan bagaimana hakikat Zat-Nya, maka demikian pula menetapkan sifat-sifat Allah berarti menetapkan keberadaan sifat-sifat tersebut, bukan menentukan bagaimana hakikatnya.
Apakah Boleh Mengatakan “Allah adalah Jisim, tetapi Tidak Seperti Jisim Lain”?
فقال أحد كبار المخالفين:
فحينئذ يجوز أن يقال: هو جسم لا كالأجسام.
فقلت له أنا وبعض الفضلاء الحاضرين:
إنما قيل إنه يوصف الله بما وصف به نفسه وبما وصفه به رسوله، وليس في الكتاب والسنة أن الله جسم حتى يلزم هذا السؤال.
Salah seorang tokoh besar dari pihak yang berbeda pendapat berkata:
“Kalau begitu, boleh dikatakan: ‘Dia adalah jisim, tetapi tidak seperti jisim-jisim lainnya.’”
Aku dan beberapa ulama terkemuka yang hadir menjawab:
«“Yang kita katakan hanyalah bahwa Allah disifati dengan apa yang Dia sifatkan bagi diri-Nya dan dengan apa yang Rasul-Nya sifatkan bagi-Nya. Tidak terdapat dalam Al-Qur’an maupun Sunnah pernyataan bahwa Allah adalah ‘jisim’, sehingga pertanyaan seperti ini tidak menjadi konsekuensi dari perkataan kami.”»
Posisi Ahlus Sunnah dalam Sifat Allah
فإن الفرقة الناجية – أهل السنة والجماعة – يؤمنون بذلك كما يؤمنون بما أخبر الله في كتابه، من غير تحريف ولا تعطيل، ومن غير تكييف ولا تمثيل.
بل هم وسط في فرق الأمة كما أن الأمة هي الوسط في الأمم.
فهم وسط في باب صفات الله بين أهل التعطيل الجهمية وبين أهل التمثيل المشبهة.
Golongan yang selamat, yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah, mengimani apa yang diberitakan Rasulullah ﷺ tentang Allah sebagaimana mereka mengimani apa yang Allah beritakan dalam Kitab-Nya:
tanpa tahrif, tanpa ta‘thil, tanpa takyif, dan tanpa tamtsil.
Mereka berada di tengah-tengah berbagai kelompok umat ini, sebagaimana umat Islam merupakan umat pertengahan di antara umat-umat lainnya.
Dalam masalah sifat-sifat Allah, mereka berada di tengah antara:
Jahmiyyah yang melakukan ta‘thil, yaitu meniadakan sifat-sifat Allah,
dan
Musyabbihah yang melakukan tamtsil, yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk.
“Ini Bukan Akidah Ahmad; Ini Akidah Salaf”
فقلت:
ما جمعت إلا عقيدة السلف الصالح جميعهم، ليس للإمام أحمد اختصاص بهذا، والإمام أحمد إنما هو مبلغ العلم الذي جاء به النبي صلى الله عليه وسلم.
ولو قال أحمد من تلقاء نفسه ما لم يجئ به الرسول لم نقبله.
وهذه عقيدة محمد.
Aku berkata:
«“Yang kuhimpun tidak lain adalah akidah seluruh Salafus Shalih. Akidah ini bukan sesuatu yang khusus milik Imam Ahmad. Imam Ahmad hanyalah menyampaikan ilmu yang dibawa Nabi ﷺ.”»
«“Seandainya Ahmad mengatakan sesuatu dari dirinya sendiri yang tidak dibawa Rasulullah ﷺ, niscaya kami tidak akan menerimanya.”»
«“Inilah akidah Muhammad ﷺ.”»
Ini merupakan salah satu bagian terpenting dari munazharah tersebut. Ibnu Taimiyah menolak anggapan bahwa Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah sekadar merepresentasikan “akidah Hanbali”. Menurutnya, yang sedang ia pertahankan adalah akidah yang dinukil dari generasi Salaf secara umum.
Tantangan Ibnu Taimiyah: Datangkan Satu Riwayat dari Tiga Generasi Pertama
وقلت مرات:
قد أمهلت كل من خالفني في شيء منها ثلاث سنين، فإن جاء بحرف واحد عن أحد من القرون الثلاثة – التي أثنى عليها النبي صلى الله عليه وسلم حيث قال:
خير القرون القرن الذي بعثت فيه ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
يخالف ما ذكرته فأنا أرجع عن ذلك.
وعلي أن آتي بنقول جميع الطوائف عن القرون الثلاثة توافق ما ذكرته، من الحنفية والمالكية والشافعية والحنبلية والأشعرية وأهل الحديث والصوفية وغيرهم.
Aku berulang kali mengatakan:
«“Aku memberikan waktu tiga tahun kepada siapa saja yang menyelisihiku dalam salah satu perkara yang tertulis di dalamnya. Jika ia mampu mendatangkan satu huruf saja dari salah seorang generasi tiga abad pertama yang bertentangan dengan apa yang kusebutkan, maka aku akan menarik kembali pendapatku.”»
Yaitu tiga generasi yang dipuji Nabi ﷺ dalam sabdanya:
«خير القرون القرن الذي بعثت فيه ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم»
«“Sebaik-baik generasi adalah generasi ketika aku diutus, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka.”»
Sebaliknya, aku berkewajiban mendatangkan nukilan dari berbagai kelompok yang berasal dari tiga generasi tersebut yang sesuai dengan apa yang kutuliskan: dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi‘iyyah, Hanabilah, Asy‘ariyyah, Ahlul Hadis, kaum sufi, dan selain mereka.
Mengapa Imam Ahmad Sangat Menonjol dalam Masalah Sunnah?
الإمام أحمد رحمه الله لما انتهى إليه من السنة ونصوص رسول الله صلى الله عليه وسلم أكثر مما انتهى إلى غيره، وابتلي بالمحنة والرد على أهل البدع أكثر من غيره، كان كلامه وعلمه في هذا الباب أكثر من غيره، فصار إماما في السنة أظهر من غيره.
وإلا فالأمر كما قاله بعض شيوخ المغاربة العلماء الصلحاء:
المذهب لمالك والشافعي، والظهور لأحمد بن حنبل.
يعني أن الذي كان عليه أحمد عليه جميع أئمة الإسلام، وإن كان لبعضهم من زيادة العلم والبيان وإظهار الحق ودفع الباطل ما ليس لبعض.
Imam Ahmad رحمه الله menerima dan menguasai Sunnah serta nash-nash Rasulullah ﷺ dalam jumlah yang sangat banyak. Di samping itu, beliau mengalami ujian dalam mempertahankan akidah dan menghadapi ahli bid‘ah lebih besar daripada yang dialami banyak ulama lainnya.
Karena itu, perkataan dan ilmu beliau dalam masalah ini menjadi lebih banyak dan lebih tampak. Akhirnya beliau dikenal sebagai imam dalam Sunnah lebih menonjol daripada yang lainnya.
Namun pada hakikatnya, sebagaimana dikatakan sebagian syaikh dari Maghrib yang merupakan ulama saleh:
«المذهب لمالك والشافعي، والظهور لأحمد بن حنبل»
«“Mazhab itu juga terdapat pada Malik dan Asy-Syafi‘i, sedangkan kemunculan dan ketenarannya tampak melalui Ahmad bin Hanbal.”»
Maksudnya, prinsip yang dipegang Imam Ahmad sebenarnya juga merupakan prinsip seluruh imam Islam. Hanya saja, sebagian mereka mendapatkan kelebihan dalam ilmu, penjelasan, penampakan kebenaran, dan penolakan terhadap kebatilan dibandingkan sebagian yang lain.
Hadis tentang Allah Memanggil Adam
ولما جاء حديث أبي سعيد المتفق عليه في الصحيحين عن النبي:
يقول الله يوم القيامة:
يا آدم. فيقول: لبيك وسعديك. فينادي بصوت: إن الله يأمرك أن تبعث بعثا إلى النار.
سألهم الأمير: هل هذا الحديث صحيح؟
فقلت: نعم، هو في الصحيحين، ولم يخالف في ذلك أحد.
واحتاج المنازع إلى الإقرار به، ووافق الجماعة على ذلك.
Ketika sampai pada hadis Abu Sa‘id yang disepakati keberadaannya dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman pada hari Kiamat:
«“Wahai Adam!”»
Adam menjawab:
«“Aku memenuhi panggilan-Mu dan siap menaati-Mu.”»
Kemudian diserukan dengan suara:
«“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk mengeluarkan rombongan penghuni neraka.”»
Amir bertanya kepada mereka:
“Apakah hadis ini sahih?”
Aku menjawab:
«“Ya. Hadis ini terdapat dalam dua kitab Shahih dan tidak seorang pun memperselisihkan kesahihannya.”»
Orang yang berdebat denganku akhirnya harus mengakuinya, dan seluruh hadirin pun menyepakati hal tersebut.
Selesai.
Inti Manhaj yang Dipertahankan Ibnu Taimiyah
Keseluruhan munazharah ini berputar pada satu prinsip besar yang beliau nyatakan sejak awal:
أما الاعتقاد فلا يؤخذ عني ولا عمن هو أكبر مني، بل يؤخذ عن الله ورسوله وما أجمع عليه سلف الأمة.
“Adapun akidah, ia tidak diambil dariku dan tidak pula dari orang yang lebih besar dariku. Akidah diambil dari Allah dan Rasul-Nya serta apa yang telah disepakati oleh Salaf umat ini.”
Karena itu, dalam bab sifat Allah, prinsip yang beliau pertahankan adalah:
إثبات بلا تمثيل، وتنزيه بلا تعطيل
“Menetapkan sifat tanpa menyerupakan, dan menyucikan Allah tanpa meniadakan sifat-Nya.”
Dengan bahasa Al-Wasithiyah:
الإيمان بما وصف الله به نفسه، وبما وصفه به رسوله، من غير تحريف ولا تعطيل، ومن غير تكييف ولا تمثيل.
“Beriman kepada apa yang Allah sifatkan bagi diri-Nya dan apa yang Rasul-Nya sifatkan bagi-Nya, tanpa tahrif, tanpa ta‘thil, tanpa takyif, dan tanpa tamtsil.”
Satu bagian yang sangat kuat untuk dijadikan inti kajian adalah dialog tentang istilah tahrif–ta‘wil, takyif–tamtsil, kemudian pernyataan Ibnu Taimiyah:
«وهذه عقيدة محمد» —
“Inilah akidah Muhammad ﷺ.”
Itu merangkum tujuan utama beliau: tidak menjadikan persoalan sifat sebagai fanatisme kepada Imam Ahmad, tetapi mengembalikannya kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan riwayat Salaf.



