Tatsqif

Biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah

Biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah

Beliau adalah seorang imam teladan, ulama besar, ahli zuhud dan ibadah, seorang alim yang mengamalkan ilmunya, serta dai yang menyeru kepada Rabb-nya berdasarkan ilmu dan hujah. Beliau bersabar menghadapi berbagai fitnah dari orang-orang sezaman dengannya dan kezaliman para penguasa.

Beliau adalah pembawa panji ilmu, pengibar panji Al-Qur’an dan Sunnah, serta penumpas bid‘ah dan para pelakunya.

Beliau adalah Syaikhul Islam Taqiyuddin Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdul Halim bin ‘Abdis Salam bin ‘Abdillah bin Al-Khadhir bin ‘Ali bin ‘Abdillah, yang dikenal dengan Ibnu Taimiyah Al-Harrani, kemudian menetap di Damaskus.

Beliau memiliki begitu banyak karya yang sulit ditandingi. Apabila menulis dalam suatu cabang ilmu, kedalaman, keluasan pengetahuan, serta derasnya dalil Al-Qur’an dan Sunnah yang mengalir dalam pikiran dan penanya membuat orang-orang setelahnya sulit menandinginya.

Beliau رحمه الله dilahirkan pada hari Senin, 10 Rabiul Awal—dan ada yang mengatakan 12 Rabiul Awal—tahun 661 H, di kota Harran. Karena itulah beliau dinisbatkan kepadanya dengan sebutan Al-Harrani.

Ketika berusia enam tahun, beliau bersama ayah dan keluarganya pindah ke Damaskus setelah bangsa Tatar menguasai Harran. Penyerbuan itu disertai kehancuran, pembakaran, penjarahan, pembunuhan serta perampasan harta dan kehormatan.

Pemandangan mengerikan tersebut meninggalkan pengaruh dalam diri Ibnu Taimiyah sejak kecil. Masa kanak-kanaknya seakan menjadi singkat dan pikirannya mulai disibukkan oleh pertanyaan: Mengapa semua ini terjadi? Bagaimana umat Islam dapat bangkit kembali sehingga kembali kepada zaman Ash-Shiddiq, keteguhan Al-Faruq, ilmu Ibnu Mas‘ud, Ali dan Mu‘adz, kemenangan pedang Khalid dan Abu ‘Ubaidah, serta kewaraan Ibnu Umar dan kezuhudan Abu Dzar?

Faktor psikologis yang mendorongnya menerima tantangan, berpikir mendalam, dan mengejar kemuliaan itu bertemu dengan berbagai faktor lain yang mengembangkan potensi luar biasa dalam dirinya. Ia pun tumbuh menjadi salah seorang imam besar Ahlus Sunnah pada zamannya.

Keluarga Keilmuan

Salah satu faktor penting yang membentuk keilmuan Ibnu Taimiyah adalah pertumbuhannya dalam keluarga ulama yang memiliki kedudukan tinggi dalam ilmu.

Kakeknya adalah Majduddin Abul Barakat ‘Abdus Salam Ibnu Taimiyah, seorang ulama yang sangat terkenal dan memiliki penguasaan luas terhadap berbagai mazhab. Beliau adalah penulis kitab Muntaqa Al-Akhbar, yang kemudian disyarah oleh Imam Asy-Syaukani dalam Nail Al-Authar.

Ibnu Malik, penulis Alfiyah, berkata tentang Majduddin:

أُلِينَ للشَّيخ مَجد الدِّينِ الفقْهُ كما أُلين لداود الحديدُ.

“Ilmu fikih telah dilunakkan bagi Syaikh Majduddin sebagaimana besi dilunakkan bagi Nabi Dawud.”

Ayah Ibnu Taimiyah adalah Syihabuddin Abul Mahasin ‘Abdul Halim bin ‘Abdis Salam Ibnu Taimiyah, seorang ulama besar. Beliau memiliki kursi pengajaran di Masjid Jami‘ Damaskus dan menyampaikan ilmu di sana pada hari Jumat. Setelah wafat, kedudukannya diteruskan oleh putranya, Ahmad Ibnu Taimiyah.

Namun ketenaran sang ayah tidak sebesar ayah dan putranya sehingga digambarkan:

فكان كقمر بين شمسين.

“Ia bagaikan bulan di antara dua matahari.”

Nenek Ibnu Taimiyah dari jalur ayah, Badrah binti Fakhruddin Abi ‘Abdillah Muhammad bin Al-Khadhir, yang memiliki kunyah Ummul Badr, juga termasuk periwayat hadis.

Paman kakeknya, Fakhruddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Al-Khadhir, merupakan murid yang banyak menyertai Ibnul Jauzi, mendengar banyak karya darinya, dan termasuk tokoh besar Hanabilah pada zamannya.

Dengan demikian, keluarga Ibnu Taimiyah memiliki tradisi keilmuan yang sangat kuat.

Kecerdasan, Keilmuan, dan Kesungguhannya

Ibnu Taimiyah memperluas penguasaannya terhadap ilmu-ilmu naqli maupun aqli hingga mencapai tingkat yang sangat tinggi.

Beliau pernah berkata:

إني وقفت على مائة وعشرين تفسيرًا، أستحضر من الجميع الصحيح.

“Aku telah menelaah seratus dua puluh kitab tafsir dan mampu menghadirkan kembali keterangan yang benar dari semuanya.”

Adz-Dzahabi juga menuturkan ungkapan yang sangat terkenal:

كل حديث لا يعرفه ابن تيمية ليس بحديث.

“Setiap hadis yang tidak diketahui Ibnu Taimiyah, hampir dapat dikatakan bukan hadis.”

Maksud ungkapan ini tentu bukan klaim bahwa beliau mengetahui secara mutlak seluruh hadis, tetapi merupakan ungkapan hiperbolis untuk menunjukkan keluasan hafalan dan pengetahuan hadis beliau.

Selain kesibukannya dalam ilmu, Ibnu Taimiyah sangat aktif dalam dakwah, menyeru manusia kepada kebenaran, memerintahkan yang makruf dan mencegah kemungkaran.

Adz-Dzahabi berkata:

كان قوَّالاً بالحق، نَهَّاءً عن المنكر، ذا سطوة وإقدام، وعدم مُداراةٍ.

“Beliau adalah orang yang sangat lantang menyampaikan kebenaran, sangat tegas mencegah kemungkaran, memiliki kewibawaan dan keberanian, serta tidak suka berbasa-basi dalam perkara kebenaran.”

Istighfar ketika Menghadapi Persoalan Ilmiah

Salah seorang sahabatnya dalam menuntut ilmu meriwayatkan bahwa Ibnu Taimiyah berkata:

إنه ليقف في خاطري المسألة والشيء أو الحالة التي تشكل عليَّ، فأستغفر الله تعالى ألف مرة أو أكثر أو أقل، حتى ينشرح الصدر، وينحل ما أشكل.

“Adakalanya suatu masalah atau persoalan yang sulit terlintas dalam pikiranku. Maka aku memohon ampun kepada Allah seribu kali, atau lebih maupun kurang, hingga dadaku menjadi lapang dan persoalan yang sulit itu menjadi terurai.”

Beliau melanjutkan:

وأكون إذ ذاك في السوق، أو المسجد، أو الدرب، أو المدرسة، لا يمنعني ذلك من الذكر والاستغفار إلى أن أنال مطلوبي.

“Ketika itu aku bisa saja sedang berada di pasar, masjid, jalan, atau madrasah. Keadaan tersebut tidak menghalangiku untuk terus berdzikir dan beristighfar sampai aku memperoleh apa yang kucari.”

Ibnul Qayyim berkata dalam Al-Wabil Ash-Shayyib:

حضرت شيخ الإسلام مرة صلى الفجر، ثم جلس يذكر الله تعالى إلى قريب من انتصاف النهار، ثم التفت إليَّ وقال: هذه غدوتي، ولو لم أتغدَّ سقطت قوتي.

“Suatu ketika aku menghadiri Syaikhul Islam setelah beliau melaksanakan salat Subuh. Kemudian beliau duduk berdzikir kepada Allah hingga mendekati pertengahan siang. Setelah itu beliau menoleh kepadaku dan berkata: ‘Inilah santapan pagiku. Seandainya aku tidak menyantap santapan pagi ini, niscaya kekuatanku akan melemah.’”

Ibnu Taimiyah juga pernah berkata kepada Ibnul Qayyim:

لا أترك الذكر إلا بنية إجمام نفسي وإراحتها، لأستعد بتلك الراحة لذكر آخر.

“Aku tidak meninggalkan dzikir kecuali dengan niat memberi kesempatan kepada diriku untuk beristirahat, sehingga dengan istirahat tersebut aku dapat bersiap untuk berdzikir kembali.”

Guru-Gurunya

Jumlah guru Ibnu Taimiyah mencapai lebih dari dua ratus orang. Di antara guru-gurunya yang terkemuka adalah ayahnya sendiri, ‘Abdul Halim bin ‘Abdis Salam Ibnu Taimiyah (w. 682 H); ahli hadis Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Abdid Da’im (w. 668 H); Ibnu Abil Yusr; Syamsuddin ‘Abdurrahman Al-Maqdisi Al-Hanbali (w. 689 H); serta Al-Hafizh Abul ‘Abbas Al-Halabi Al-Hanafi yang dikenal sebagai Ibnuzh Zhahiri (w. 690 H).

Murid-Muridnya

Murid Ibnu Taimiyah sangat banyak. Di antara yang paling terkenal adalah:

1. Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abi Bakr Az-Zur‘i (w. 751 H).
2. Ibnu ‘Abdil Hadi, Al-Hafizh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad (w. 744 H).
3. Al-Mizzi, Al-Hafizh Abul Hajjaj Yusuf bin Az-Zaki ‘Abdurrahman (w. 742 H).
4. Adz-Dzahabi, Al-Hafizh dan sejarawan Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman (w. 748 H).
5. Ibnu Sayyidin Nas, Abu Al-Fath Muhammad bin Muhammad Al-Ya‘muri Al-Mishri (w. 734 H).
6. Al-Birzali, Al-Hafizh ‘Alamuddin Al-Qasim bin Muhammad (w. 739 H).

Perkataan Para Ulama tentang Ibnu Taimiyah

Ibnu ‘Abdil Hadi

Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Hadi berkata dalam Al-‘Uqud Ad-Durriyyah:

هو الشيخ الإمام الرباني إمام الأئمة، ومفتي الأمة، وبحر العلوم، سيد الحفاظ، وفارس المعاني والألفاظ، فريد العصر، وقريع الدهر، شيخ الإسلام، وعلامة الزمان، وترجمان القرآن، علم الزهاد، وأوحد العباد، وقامع المبتدعين، وآخر المجتهدين… صاحب التصانيف التي لم يسبق إلى مثلها.

“Beliau adalah syaikh, imam rabbani, imam para imam, mufti umat, lautan ilmu, pemimpin para hafizh, kesatria dalam makna dan lafaz, tokoh unik pada masanya, Syaikhul Islam, ulama besar zamannya, penerjemah makna Al-Qur’an, tokoh kaum zuhud, sosok istimewa di kalangan ahli ibadah, penumpas ahli bid‘ah dan seorang mujtahid… pemilik berbagai karya yang sulit ditemukan tandingannya.”

Ibnu Sayyidin Nas

Ibnu Sayyidin Nas Asy-Syafi‘i berkata:

فألْفَيتُه مِمَّن أدرك من العلوم حظًّا، وكاد أن يستوعب السُّنن والآثار حِفْظًا، إنْ تكلَّم في التفسير فهو حامل رايته، أو أفْتَى في الفقه فهو مدْرِك غايته، أو ذاكرَ في الحديث فهو صاحب عَلَمِه وذُو روايته، أو حاضَرَ بالمِلَلِ والنِّحَل لم يُرَ أوسع من نِحلته في ذلك ولا أرفع من درايته.

“Aku mendapatinya sebagai seorang yang memperoleh bagian sangat besar dari berbagai disiplin ilmu. Ia hampir saja menguasai seluruh Sunnah dan atsar dalam hafalannya. Apabila berbicara tentang tafsir, dialah pembawa panjinya. Apabila berfatwa dalam fikih, ia telah mencapai puncaknya. Apabila berbicara tentang hadis, dialah pemegang panji dan periwayatnya. Apabila membahas agama-agama dan berbagai aliran, tidak terlihat orang yang lebih luas pengetahuannya dan lebih tinggi pemahamannya daripada beliau.”

Kemudian ia berkata:

برز في كل فن على أبناء جنسه، ولم تر عين من رآه مثله، ولا رأت عينه مثل نفسه.

“Beliau menonjol dalam setiap disiplin ilmu dibandingkan orang-orang sezamannya. Mata orang yang melihatnya tidak pernah melihat orang seperti dirinya, dan matanya sendiri pun tidak pernah melihat orang seperti dirinya.”

Al-Hafizh Al-Mizzi

Al-Hafizh Abu Al-Hajjaj Al-Mizzi berkata:

ما رأيت مثله، ولا رأى هو مثل نفسه، وما رأيت أحدًا أعلم بكتاب الله وسنة رسوله ولا أتبع لهما منه.

“Aku belum pernah melihat orang seperti dirinya, dan ia sendiri belum pernah melihat orang seperti dirinya. Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih mengetahui Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya serta lebih kuat dalam mengikuti keduanya daripada dirinya.”

Ibnu Az-Zamlakani

Kamaluddin Ibnu Az-Zamlakani berkata:

كان إذا سئل عن فن من العلم، ظن الرائي والسامع أنه لا يعرف غير ذلك الفن، وحكم أن أحدًا لا يعرفه مثله.

“Apabila beliau ditanya tentang suatu disiplin ilmu, orang yang melihat dan mendengarnya akan mengira bahwa beliau tidak mengetahui ilmu selain bidang tersebut dan akan menyimpulkan bahwa tidak ada seorang pun yang menguasainya seperti beliau.”

Ia melanjutkan:

وكان الفقهاء من سائر الطوائف إذا جلسوا معه، استفادوا في مذاهبهم منه ما لم يكونوا قد عرفوه قبل ذلك، ولا يعرف أنه ناظر أحدًا فانقطع معه.

“Para fuqaha dari berbagai mazhab apabila duduk bersamanya akan memperoleh darinya pengetahuan tentang mazhab mereka sendiri yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Tidak diketahui bahwa beliau pernah berdebat dengan seseorang kemudian tidak mampu melanjutkan hujahnya.”

Dan:

واجتمعت فيه شروط الاجتهاد على وجهها.

“Pada dirinya terkumpul syarat-syarat ijtihad secara sempurna.”

Penilaian Imam Adz-Dzahabi

Adz-Dzahabi memberikan penilaian panjang tentang Ibnu Taimiyah:

كان آية في الذكاء وسرعة الإدراك، رأسًا في معرفة الكتاب والسنة والاختلاف، بحرًا في النقليات، هو في زمانه فريد عصره علمًا وزهدًا، وشجاعة وسخاءً، وأمرًا بالمعروف ونهيًا عن المنكر، وكثرة تصانيف.

“Beliau merupakan sosok luar biasa dalam kecerdasan dan kecepatan memahami, seorang pemuka dalam pengetahuan tentang Al-Qur’an, Sunnah, dan perbedaan pendapat; lautan dalam ilmu-ilmu naqli. Pada zamannya beliau merupakan sosok langka dalam ilmu, kezuhudan, keberanian, kedermawanan, amar makruf nahi mungkar, dan banyaknya karya.”

Adz-Dzahabi menyebut bahwa beliau telah layak mengajar dan berfatwa pada usia tujuh belas tahun, serta menguasai ilmu ushul dan berbagai cabang ilmu Islam.

Ia berkata:

فإن ذكر التفسير فهو حامل لوائه، وإن عد الفقهاء فهو مجتهدهم المطلق، وإن حضر الحفاظ نطق وخرسوا، وسرد وأبلسوا.

“Apabila tafsir disebutkan, maka dialah pembawa panjinya. Apabila para fuqaha dihitung, maka ia termasuk mujtahid mutlak mereka. Apabila para hafizh hadir, ia berbicara sementara mereka terdiam; ia menyebutkan riwayat-riwayat sementara mereka tercengang.”

Namun Adz-Dzahabi tetap memberikan penilaian manusiawi dan tidak menganggapnya maksum:

وهو بشر من البشر، له ذنوب، فالله يغفر له، ويسكنه أعلى الجنة.

“Bagaimanapun, beliau adalah manusia sebagaimana manusia lainnya; ia memiliki dosa-dosa. Semoga Allah mengampuninya dan menempatkannya di tingkatan tertinggi surga.”

Adz-Dzahabi juga berkata tentang keluasan pengetahuan hadisnya:

وله خبرة تامة بالرجال وجرحهم وتعديلهم وطبقاتهم، ومعرفة بفنون الحديث، وبالعالي والنازل، وبالصحيح والسقيم، مع حفظه لمتونه الذي انفرد به.

“Beliau memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai para perawi, jarh dan ta‘dil mereka, tingkatan-tingkatan mereka, berbagai disiplin ilmu hadis, sanad ‘ali dan nazil, hadis sahih dan lemah, disertai hafalan matan hadis yang sangat istimewa.”

Kemudian Adz-Dzahabi mengucapkan ungkapan terkenalnya:

بحيث يصدق عليه أن يقال: كل حديث لا يعرفه ابن تيمية فليس بحديث، لكن الإحاطة لله.

“Sedemikian luasnya sehingga layak dikatakan: ‘Setiap hadis yang tidak diketahui Ibnu Taimiyah, hampir dapat dikatakan bukan hadis.’ Namun, pengetahuan yang meliputi segala sesuatu hanyalah milik Allah.”

Tentang tafsir, ia berkata:

وأما التفسير فمسلم إليه، وله في استحضار الآيات من القرآن وقت إقامة الدليل بها على المسألة قوة عجيبة.

“Adapun dalam bidang tafsir, keunggulannya telah diakui. Beliau memiliki kemampuan yang menakjubkan dalam menghadirkan ayat-ayat Al-Qur’an ketika menggunakannya sebagai dalil atas suatu permasalahan.”

Kesaksian Ibnul Qayyim

Ibnul Qayyim berkata dalam Al-Wabil Ash-Shayyib:

علم الله ما رأيت أحدًا أطيب عيشًا منه قط، مع ما كان فيه من ضيق العيش، وخلاف الرفاهية والنعيم، بل ضدها، ومع ما كان فيه من الحبس والتهديد والإرهاق، وهو مع ذلك من أطيب الناس عيشًا، وأشرحهم صدرًا، وأقواهم قلبًا، وأسرهم نفسًا، تلوح نضرة النعيم على وجهه.

“Allah mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang kehidupannya lebih baik dan tenteram daripada beliau, padahal beliau mengalami kesempitan hidup, jauh dari kemewahan dan kenikmatan, bahkan mengalami kebalikannya; ditambah penjara, ancaman, dan tekanan. Meskipun demikian, beliau termasuk manusia yang paling tenteram hidupnya, paling lapang dadanya, paling kuat hatinya, dan paling bahagia jiwanya. Cahaya kenikmatan tampak pada wajahnya.”

Ibnul Qayyim melanjutkan:

وكنا إذا اشتد بنا الخوف، وساءت منا الظنون، وضاقت بنا الأرض، أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه، فيذهب ذلك كله، وينقلب انشراحًا وقوة ويقينًا.

“Ketika rasa takut kami semakin kuat, prasangka-prasangka buruk menguasai kami, dan bumi terasa sempit bagi kami, kami mendatanginya. Begitu kami melihatnya dan mendengar perkataannya, semua itu pun hilang dan berubah menjadi kelapangan dada, kekuatan, dan keyakinan.”

Karya-Karyanya

Karya Ibnu Taimiyah sangat banyak sehingga para murid dan orang-orang yang mencintainya pun kesulitan menghitungnya.

Ibnul Qayyim berkata:

إني عجزت عن حصرها وتعدادها.

“Aku tidak mampu membatasi dan menghitung seluruh karya beliau.”

Dalam pendataan yang disebutkan dalam teks ini, Ibnul Qayyim menyebut:

– sekitar 92 karya dalam tafsir berupa kitab, risalah, dan kaidah;
– sekitar 20 karya dalam bidang ushul;
– sekitar 145 karya dalam bentuk kaidah dan fatwa;
– sekitar 55 karya fikih;
– sekitar 22 wasiat, ijazah, dan surat ilmiah.

Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Hadi juga menyebutkan banyak karya Ibnu Taimiyah dalam Al-‘Uqud Ad-Durriyyah min Manaqib Syaikh Al-Islam Ibni Taimiyah.

Beberapa Perkataan Ibnu Taimiyah

Di antara perkataan yang dinukil darinya:

ما يصنع أعدائي بي؟ أنا جنتي وبستاني في صدري، أين رحت فهي معي لا تفارقني، أنا حبسي خلوة، وقتلي شهادة، وإخراجي من بلدي سياحة.

“Apa yang dapat dilakukan musuh-musuhku terhadapku? Surgaku dan tamanku berada di dalam dadaku. Ke mana pun aku pergi, ia selalu bersamaku dan tidak pernah meninggalkanku. Penjaraku adalah khalwat, terbunuhnya aku adalah syahid, dan pengusiranku dari negeriku adalah perjalanan.”

Beliau juga berkata:

إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لا يدخل جنة الآخرة.

“Sesungguhnya di dunia terdapat sebuah surga. Siapa yang tidak memasukinya, ia tidak akan memasuki surga akhirat.”

Dan:

المحبوس من حبس قلبه عن ربه تعالى، والمأسور من أسره هواه.

“Orang yang benar-benar terpenjara adalah orang yang hatinya terhalang dari Rabb-nya, dan orang yang benar-benar tertawan adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya.”

Ibnul Qayyim juga menukil perkataan beliau ketika berada di penjara benteng Damaskus:

لو بذلت ملء هذه القلعة ذهبًا ما عدل عندي شكر هذه النعمة، أو قال: ما جزيتهم على ما تسببوا لي فيه من الخير.

“Seandainya aku memberikan emas sepenuh benteng ini, hal itu belum sebanding dengan rasa syukurku atas nikmat ini.”

Atau beliau berkata:

“Aku belum dapat membalas mereka atas kebaikan yang mereka menjadi sebab aku mendapatkannya.”

Wafatnya

Ibnu Taimiyah رحمه الله wafat pada malam 20 Dzulqa‘dah 728 H, ketika berada di penjara Benteng Damaskus.

Sulit menggambarkan keseluruhan kehidupan beliau dalam sebuah biografi singkat karena begitu banyak sisi dalam kepribadiannya, ujian dan kesulitan yang dialaminya, banyaknya karya, serta luasnya bidang ilmu dan ijtihad yang dikuasainya.

Beliau adalah seorang faqih, ahli ushul, mufassir, hafizh, dan salah seorang tokoh besar dalam pembelaan terhadap tauhid dan Sunnah.

Karena itulah Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata:

وهو أكبر من أن ينبه على سيرته مثلي، فلو حلفت بين الركن والمقام لحلفت على أني لم أر بعيني مثله، وأنه ما رأى مثل نفسه.

“Beliau jauh lebih besar daripada sekadar orang sepertiku memberikan gambaran tentang perjalanan hidupnya. Seandainya aku diminta bersumpah di antara Rukun dan Maqam, sungguh aku akan bersumpah bahwa kedua mataku belum pernah melihat orang seperti dirinya, dan beliau sendiri belum pernah melihat orang yang sebanding dengan dirinya.”

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button