Tatsqif

Mengenal Tingkatan Nasab dan Hal-Hal yang Berkaitan Dengannya

Mengenal Tingkatan Nasab dan Hal-Hal yang Berkaitan Dengannya

Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang secara langsung berbicara tentang nasab, keturunan, kabilah, dan hubungan kekerabatan. Yang paling penting adalah:

1. Manusia dijadikan bersuku dan berkabilah agar saling mengenal — QS. Al-Hujurat: 13

> ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

Ini ayat paling langsung berkaitan dengan tingkatan Nasab:
الشعوب والقبائل.

2. Allah menjadikan hubungan nasab dan pernikahan — QS. Al-Furqan: 54

> ﴿وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا﴾

“Dan Dialah yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia menjadikannya mempunyai hubungan nasab dan hubungan pernikahan, dan Tuhanmu Mahakuasa.”

Ini bahkan menyebut kata نَسَبًا secara eksplisit.

3. Perintah menisbatkan seseorang kepada ayahnya — QS. Al-Ahzab: 5

> ﴿ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ﴾

“Panggillah mereka dengan menisbatkan mereka kepada bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah.”

Ayat ini menjadi salah satu landasan penting mengenai penjagaan dan ketepatan nasab.

4. Nasab tidak bermanfaat dengan sendirinya pada hari Kiamat — QS. Al-Mu’minun: 101

> ﴿فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ﴾

“Apabila sangkakala telah ditiup, maka pada hari itu tidak ada lagi hubungan nasab di antara mereka yang dapat mereka banggakan, dan mereka tidak pula saling bertanya.”

Para ahli bahasa membagi tingkatan nasab menjadi enam tingkatan:

Tingkatan pertama: asy-Sya‘b (الشَّعْب), dengan huruf ‘ain berharakat fathah. Ia merupakan hubungan nasab yang paling jauh, seperti ‘Adnan, misalnya.

Al-Jauhari berkata, “Ia adalah leluhur berbagai kabilah yang menisbatkan diri kepadanya.” Bentuk jamaknya adalah syu‘ūb (شعوب).

Al-Mawardi dalam Al-Ahkam as-Sulthaniyyah berkata, “Dinamakan sya‘b karena berbagai kabilah bercabang darinya.”

Az-Zamakhsyari dalam Al-Kasysyaf juga menyebutkan penjelasan yang serupa.

Tingkatan kedua: al-Qabilah (القبيلة), yaitu bagian-bagian yang merupakan pecahan dari sya‘b, seperti Rabi‘ah dan Mudhar.

Al-Mawardi berkata, “Dinamakan qabilah karena nasab-nasab di dalamnya saling berhadapan dan bertemu.”

Bentuk jamaknya adalah qaba’il (قبائل). Terkadang kabilah-kabilah juga disebut jamājim (جماجم). Hal ini sebagaimana dapat dipahami dari perkataan Al-Jauhari, “Jamājim bangsa Arab adalah kabilah-kabilah yang menghimpun berbagai buthun.”

Tingkatan ketiga: al-‘Imarah (العِمارة), dengan huruf ‘ain berharakat kasrah, yaitu cabang-cabang nasab yang terdapat dalam suatu kabilah, seperti Quraisy dan Kinanah.

Bentuk jamaknya adalah ‘imārāt (عمارات) dan ‘amā’ir (عمائر).

Tingkatan keempat: al-Bathn (البطن) artinya: perut, yaitu bagian-bagian yang merupakan pecahan dari ‘imarah, seperti Bani ‘Abdi Manaf dan Bani Makhzum.

Bentuk jamaknya adalah buthūn (بطون) dan abthun (أبطن).

Tingkatan kelima: al-Fakhidz (الفخذ) artinya: paha, yaitu bagian-bagian yang merupakan pecahan dari bathn, seperti Bani Hasyim dan Bani Umayyah.

Bentuk jamaknya adalah afkhādz (أفخاذ).

Tingkatan keenam: al-Fashilah (الفصيلة), dengan huruf shad tanpa titik, yaitu bagian-bagian yang merupakan pecahan dari fakhidz, seperti Bani Al-‘Abbas.

Demikianlah urutan yang disebutkan Al-Mawardi dalam Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, beserta contoh-contoh di atas.

Az-Zamakhsyari dalam tafsirnya juga menggunakan urutan yang kurang lebih sama ketika menjelaskan firman Allah Ta‘ala:

﴿وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ﴾

“Dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.”

Hanya saja, Az-Zamakhsyari memberikan contoh Khuzaimah untuk sya‘b, Kinanah untuk qabilah, Quraisy untuk ‘imarah, Qushay untuk bathn, Hasyim untuk fakhidz, dan Al-‘Abbas untuk fashilah.

Secara ringkas, susunannya adalah:

الشَّعْب ← القبيلة ← العِمارة ← البطن ← الفخذ ← الفصيلة

Sya‘b → Qabilah → ‘Imarah → Bathn → Fakhidz → Fashilah

Dengan demikian, fakhidz menghimpun beberapa fashilah; bathn menghimpun beberapa fakhidz; ‘imarah menghimpun beberapa bathn; qabilah menghimpun beberapa ‘imarah; dan sya‘b menghimpun beberapa qabilah.

Imam An-Nawawi dalam Tahrir at-Tanbih berkata, “Sebagian ulama menambahkan tingkatan al-‘Asyirah (العشيرة) sebelum al-fashilah.”

Al-Jauhari berkata, “‘Asyirah seseorang adalah kerabat dekatnya.”

Abu ‘Ubaid meriwayatkan dari Ibnu Al-Kalbi, dari ayahnya, urutan yang berbeda, yaitu: sya‘b, kemudian qabilah, kemudian fashilah, kemudian ‘imarah, kemudian fakhidz. Urutan ini pula yang digunakan Al-Jauhari pada pembahasan kata fakhidz.

Ketahuilah bahwa dari enam tingkatan yang telah disebutkan, istilah yang paling sering digunakan dalam percakapan adalah qabilah (القبيلة), kemudian bathn (البطن). Adapun istilah ‘imarah, fakhidz, dan fashilah lebih jarang disebutkan.

Terkadang setiap tingkatan dari enam tingkatan tersebut juga dapat disebut dengan istilah al-hayy (الحيّ). Penggunaannya bisa secara umum, seperti dikatakan:

حَيٌّ مِنَ الْعَرَبِ

“Suatu kelompok dari bangsa Arab.”

Atau secara khusus, seperti dikatakan:

حَيُّ بَنِي فُلَانٍ

“Kelompok Bani Fulan.”

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button