Tiang-Tiang Bersejarah di Masjid Nabawi

Tiang-Tiang Bersejarah (أساطين) di Masjid Nabawi
Sejarah, Dalil, dan Keterangan Ulama
Allah Ta’ala berfirman:
«﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ﴾
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)»
Mengenal tempat-tempat yang pernah digunakan Rasulullah ﷺ untuk beribadah, bermusyawarah, menerima tamu, dan berinteraksi dengan para sahabat termasuk bagian dari mempelajari sirah beliau. Namun, para ulama juga menegaskan bahwa tidak ada satu pun tiang di Masjid Nabawi yang boleh diyakini membawa berkah secara zatnya, serta tidak disyariatkan mengusap, mencium, atau mengusap-usapkan tubuh padanya.
Perhatian Para Ulama terhadap Asāṭīn Masjid Nabawi
Sejak masa sahabat hingga masa-masa berikutnya, letak tiang-tiang tersebut terus dijaga.
Al-Imam As-Samhudi dalam Wafā’ al-Wafā bi Akhbār Dār al-Muṣṭafā menjelaskan bahwa setiap kali Masjid Nabawi diperluas, para khalifah dan penguasa berusaha mempertahankan posisi tiang-tiang bersejarah tersebut sehingga tetap dikenal oleh kaum muslimin.
Begitu pula Ibnu Najjar, Al-Matari, dan para sejarawan Madinah lainnya menjelaskan lokasi masing-masing tiang berdasarkan riwayat-riwayat para sahabat.
1. Tiang Al-Mukhallaqah (الأسطوانة المخلقة)
Disebut Al-Mukhallaqah karena dahulu sering diberi wewangian (khuluq).
Letaknya berada di dekat Mihrab Nabawi.
Inilah lokasi batang pohon kurma tempat Rasulullah ﷺ dahulu bersandar ketika berkhutbah sebelum dibuatkan mimbar.
Dalil
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu:
«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُومُ إِلَى جِذْعٍ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَلَمَّا وُضِعَ لَهُ الْمِنْبَرُ سَمِعْنَا لِلْجِذْعِ حَنِينًا كَحَنِينِ النَّاقَةِ
“Nabi ﷺ dahulu berdiri bersandar pada batang kurma ketika khutbah Jumat. Setelah dibuatkan mimbar, kami mendengar batang kurma itu menangis seperti rintihan unta.”»
HR. Al-Bukhari no. 3584
Rasulullah ﷺ kemudian memeluk batang tersebut hingga tangisannya berhenti.
2. Tiang Aisyah (أسطوانة عائشة)
Tiang Al-Qur’ah atau Tiang Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah tiang ketiga jika dihitung dari arah mimbar, tiang ketiga dari arah makam Rasulullah ﷺ, dan tiang ketiga dari arah kiblat.
Tiang ini juga dikenal dengan beberapa nama, yaitu:
– Tiang Al-Qur’ah (أسطوانة القرعة)
– Tiang Al-Mukhallaqah (الأسطوانة المخلقة) (menurut sebagian riwayat penamaan)
– Tiang Aisyah radhiyallahu ‘anha (أسطوانة عائشة)
– Tiang Al-Muhajirin (أسطوانة المهاجرين)
Mengapa dinamakan Tiang Al-Qur’ah?
Dinamakan Tiang Al-Qur’ah (tiang undian) berdasarkan riwayat yang dibawakan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
««إِنَّ فِي الْمَسْجِدِ لَبُقْعَةً قَبْلَ هَذِهِ الْأُسْطُوَانَةِ، لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ لَاسْتَهَمُوا عَلَيْهَا»»
“Sesungguhnya di dalam masjid ini terdapat suatu tempat di depan tiang ini. Seandainya manusia mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan melakukan undian untuk mendapatkannya.”
HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh sejumlah ulama.
Kemudian para sahabat melihat bahwa tempat yang dimaksud berada di sekitar tiang tersebut, sehingga dinamakan Tiang Al-Qur’ah (tiang undian).
Mengapa dinamakan Tiang Aisyah?
Disebut Tiang Aisyah karena diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah memberitahukan kepada Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma tentang keutamaan shalat di tempat itu. Abdullah bin Az-Zubair kemudian berdiri dan melaksanakan shalat di sana.
Melihat hal tersebut, orang-orang mengira bahwa Aisyah telah menunjukkan secara khusus bahwa tiang itulah yang dimaksud dalam hadis tentang tempat yang memiliki keutamaan. Karena itulah tiang tersebut kemudian dikenal sebagai Tiang Aisyah.
Mengapa dinamakan Tiang Al-Muhajirin?
Tiang ini juga dinamakan Tiang Al-Muhajirin, karena para sahabat dari kalangan Muhajirin Quraisy dahulu sering berkumpul di sekitarnya. Tempat berkumpul itu dikenal dengan nama Majelis Al-Muhajirin.
Atsar dari Zaid bin Aslam
Al-Imam As-Samhudi rahimahullah meriwayatkan dari Zaid bin Aslam bahwa beliau berkata:
«رَأَيْتُ عِنْدَ تِلْكَ الْأُسْطُوَانَةِ مَوْضِعَ جَبْهَةِ النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ رَأَيْتُ دُونَهُ مَوْضِعَ جَبْهَةِ أَبِي بَكْرٍ، ثُمَّ رَأَيْتُ دُونَ مَوْضِعِ جَبْهَةِ أَبِي بَكْرٍ مَوْضِعَ جَبْهَةِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا».
“Aku melihat di dekat tiang itu bekas tempat dahi Rasulullah ﷺ ketika sujud. Kemudian di bawahnya aku melihat bekas tempat dahi Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, lalu di bawah bekas tempat dahi Abu Bakar terdapat bekas tempat dahi Umar radhiyallahu ‘anhuma.”
Tentang keyakinan bahwa doa di tempat ini mustajab
Dalam sebagian kitab sejarah disebutkan:
«وَيُقَالُ: إِنَّ الدُّعَاءَ عِنْدَهَا مُسْتَجَابٌ»
“Dikatakan bahwa doa di sisi tiang tersebut dikabulkan.”
Namun, ungkapan ini hanya berupa riwayat sejarah (ويقال) dan tidak terdapat hadis sahih yang menetapkan secara khusus bahwa doa di tempat tersebut pasti mustajab. Karena itu, tidak boleh meyakini adanya keutamaan khusus dalam berdoa di sana tanpa dalil yang sahih. Seorang Muslim tetap dianjurkan berdoa di Masjid Nabawi secara umum, terlebih di Raudhah, berdasarkan dalil-dalil yang sahih, tanpa mengkhususkan suatu tiang tertentu dengan keyakinan yang tidak memiliki landasan.
3. Tiang At-Taubah (أسطوانة التوبة)
Dikenal pula sebagai Tiang Abu Lubabah.
Ketika Abu Lubabah radhiyallahu ‘anhu merasa bersalah akibat memberi isyarat kepada Bani Quraizhah, beliau datang ke Masjid Nabawi lalu mengikat dirinya pada batang kurma.
Beliau berkata:
«وَاللَّهِ لَا أَحُلُّ نَفْسِي حَتَّى يَحُلَّنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ»
“Demi Allah, aku tidak akan melepaskan diriku sampai Rasulullah ﷺ sendiri yang melepaskannya.”
Allah kemudian menerima taubatnya.
Peristiwa ini disebutkan dalam kitab-kitab sirah dan tafsir, di antaranya Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan QS. At-Taubah ayat 102.
4. Tiang As-Sarir (أسطوانة السرير)
Di tempat inilah Rasulullah ﷺ beriktikaf.
Ketika beriktikaf beliau meletakkan tempat tidurnya (sarir) di lokasi tersebut.
Oleh sebab itu dinamakan Tiang As-Sarir.
5. Tiang Al-Mahras (أسطوانة المحرس)
Dikenal pula sebagai Tiang Ali bin Abi Thalib.
Ali radhiyallahu ‘anhu sering berjaga di tempat tersebut sebelum turun firman Allah:
«﴿ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ﴾»
“Allah akan melindungimu dari manusia.”
(QS. Al-Ma’idah: 67)
Setelah ayat ini turun, Rasulullah ﷺ tidak lagi memerlukan penjagaan sebagaimana sebelumnya.
6. Tiang Al-Wufud (أسطوانة الوفود)
Di sinilah Rasulullah ﷺ menerima para utusan dari berbagai kabilah Arab.
Di tempat tersebut beliau mengajarkan Islam, berdialog, serta menerima baiat dari banyak delegasi.
7. Tiang Murabba’ Al-Qabr (أسطوانة مربعة القبر)
Tiang ini berada di dalam pagar makam Rasulullah ﷺ sehingga tidak terlihat oleh para peziarah.
Para ulama menyebutnya juga sebagai Maqam Jibril, karena di sekitar tempat itulah Malaikat Jibril datang menemui Rasulullah ﷺ, dan di dekatnya terdapat pintu rumah Fathimah radhiyallahu ‘anha.
8. Tiang At-Tahajjud (أسطوانة التهجد)
Pada tiang ini terdapat tulisan:
«هذا متهجد النبي ﷺ»
“Ini adalah tempat Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat tahajud.”
Di tempat tersebut Rasulullah ﷺ sering menghidupkan malam dengan shalat, doa, dan munajat kepada Allah Ta’ala.
Adab Ketika Berziarah
Para ulama menegaskan bahwa:
– Boleh mengetahui lokasi-lokasi bersejarah untuk mengambil pelajaran dari sirah Nabi ﷺ.
– Tidak disyariatkan mengusap, mencium, memeluk, atau menganggap tiang-tiang tersebut membawa berkah.
– Yang disyariatkan adalah memperbanyak shalat, dzikir, doa, membaca Al-Qur’an, dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.
Sebagaimana sabda beliau:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
“Barang siapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami yang bukan berasal darinya, maka amalan itu tertolak.”
HR. Al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718
Penutup
Tiang-tiang Masjid Nabawi bukan sekadar bagian dari bangunan masjid, tetapi merupakan saksi bisu perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ. Mengenalnya akan semakin menghidupkan kecintaan kepada beliau dan memperdalam pemahaman terhadap sirah, tanpa melampaui batas syariat dalam memuliakan tempat-tempat tersebut.Materi ini juga dapat dilengkapi dengan peta posisi seluruh tiang di Raudhah, sehingga jamaah dapat lebih mudah mengenali letaknya ketika berziarah di Masjid Nabawi.



