Keutamaan Kalimat Tauhid

Keutamaan Kalimat Tauhid: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Syahadat dan kalimat tauhid “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ” adalah pengakuan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya yang berhak disembah, tiada sekutu bagi-Nya, dan pengingkaran terhadap segala sekutu yang disembah selain-Nya. Kalimat syahadat ini adalah yang menyelamatkan pengucapnya dengan jujur dari neraka dan azab hari kiamat. Barang siapa mengamalkan apa yang ditunjukkan kalimat ini, maka baginya kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Barang siapa mengucapkannya dengan dusta, maka darahnya tetap terjaga dan hartanya terlindungi di dunia, namun perhitungannya di sisi Allah Azza wajalla.
Kalimat “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ” juga merupakan zikir yang murni bagi Allah bagi orang yang menjaganya dan melaziminya. Kalimat ini memiliki keutamaan yang agung dan banyak sekali, tidak dapat dihitung.
Al-Ḥāfiẓ Ḥakamī rahimahullah telah mengumpulkan banyak sekali tentang keutamaan kalimat tauhid lā ilāha illallāh dan hal-hal yang berkaitan dengannya dalam kitab beliau Ma‘ārij al-Qabūl. Di antara yang beliau ucapkan adalah bait syair berikut:
مَنْ قَالَهَا مُعْتَقِدًا مَعْنَاهَا
وَكَانَ عَامِلًا بِمُقْتَضَاهَا
فِي الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ وَمَاتَ مُؤْمِنًا
يُبْعَثْ يَوْمَ الْحَشْرِ نَاجٍ آمِنًا
“Barangsiapa mengucapkannya dengan meyakini maknanya,
dan ia mengamalkan konsekuensinya
dalam ucapan maupun perbuatan, lalu mati dalam keadaan beriman,
maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan selamat dan aman.”
KEAGUNGAN DAN KEUTAMAAN KALIMAT TAUHID DALAM AL-QUR’AN
Allah memerintahkan ibadah hanya kepada-Nya, seluruh rasul menyerukan prinsip yang sama, syirik dilarang, lalu dijelaskan akibat dan ancamannya.
Berikut ayat-ayat yang mengandung keutamaan Tauhid dan ancaman berbuat syirik:
1. Perintah beribadah hanya kepada Allah
QS. Al-Baqarah: 21–22
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾
“Wahai manusia! Sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa… Maka janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui.”
QS. An-Nisa’: 36
﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا﴾
“Sembahlah Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
QS. Al-An‘am: 102
﴿ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ﴾
“Itulah Allah, Rabb kalian. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Pencipta segala sesuatu. Maka sembahlah Dia.”
QS. Al-Hajj: 77
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, sembahlah Rabb kalian dan kerjakanlah kebaikan agar kalian beruntung.”
QS. Az-Zumar: 2
﴿فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ﴾
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.”
QS. Az-Zumar: 11
﴿قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ﴾
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.’”
QS. Ghafir: 65
﴿هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ﴾
“Dialah Yang Mahahidup, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Maka berdoalah kepada-Nya dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya.”
QS. Al-Bayyinah: 5
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ﴾
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya dalam keadaan hanif.”
2. Tauhid adalah dakwah seluruh rasul
QS. An-Nahl: 36
﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾
“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul: ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’”
QS. Al-Anbiya’: 25
﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ﴾
“Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.’”
QS. Al-A‘raf: 59 — Nabi Nuh
﴿يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ﴾
“Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada sesembahan bagi kalian selain Dia.”
Ungkapan yang sama terdapat dalam dakwah:
Hud: QS. Al-A‘raf: 65; Hud: 50.
Shalih: QS. Al-A‘raf: 73; Hud: 61.
Syu‘aib: QS. Al-A‘raf: 85; Hud: 84.
QS. Al-Mu’minun: 23 — Nabi Nuh
﴿يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ﴾
QS. Al-Mu’minun: 32 — Rasul setelah Nuh
﴿أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ﴾
3. Perintah mengetahui dan mengikrarkan keesaan Allah
QS. Al-Baqarah: 163
﴿وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ﴾
“Sesembahan kalian adalah sesembahan Yang Esa. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
QS. Ali ‘Imran: 18
﴿شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾
“Allah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia; demikian pula para malaikat dan orang-orang berilmu, dengan menegakkan keadilan. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
QS. An-Nahl: 2
﴿أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ﴾
“Berilah peringatan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Aku, maka bertakwalah kepada-Ku.”
QS. Muhammad: 19
﴿فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ﴾
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.”
QS. Al-Ikhlas: 1–4
﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ﴾
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
4. Larangan paling tegas terhadap syirik
QS. Al-An‘am: 151
﴿أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا﴾
“Janganlah kalian mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.”
QS. Al-Isra’: 22
﴿لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا﴾
“Janganlah engkau mengadakan sesembahan lain bersama Allah, sehingga engkau menjadi tercela dan ditinggalkan.”
QS. Al-Isra’: 39
﴿وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتُلْقَى فِي جَهَنَّمَ مَلُومًا مَدْحُورًا﴾
“Janganlah engkau mengadakan sesembahan lain bersama Allah, sehingga engkau dilemparkan ke dalam Jahanam dalam keadaan tercela dan dijauhkan.”
QS. Asy-Syu‘ara’: 213
﴿فَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ﴾
“Maka janganlah engkau menyeru sesembahan lain bersama Allah, sehingga engkau termasuk orang-orang yang diazab.”
QS. Al-Qashash: 88
﴿وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ﴾
“Janganlah engkau menyeru sesembahan lain bersama Allah. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.”
QS. Al-Jinn: 18
﴿فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا﴾
“Maka janganlah kalian menyeru siapa pun bersama Allah.”
5. Syirik adalah kezaliman terbesar
QS. Luqman: 13
﴿يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ﴾
“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik benar-benar kezaliman yang sangat besar.”
6. Syirik yang dibawa mati tidak diampuni
Ini termasuk ayat ancaman paling tegas.
QS. An-Nisa’: 48
﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا﴾
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah mengada-adakan dosa yang sangat besar.”
QS. An-Nisa’: 116
﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا﴾
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”
7. Pelaku syirik diharamkan masuk surga
QS. Al-Ma’idah: 72
﴿إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ﴾
“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya, tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada penolong bagi orang-orang zalim.”
8. Syirik menggugurkan amal
QS. Al-An‘am: 88
﴿وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya gugurlah segala amal yang telah mereka kerjakan.”
QS. Az-Zumar: 65
﴿وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ﴾
“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: ‘Jika engkau berbuat syirik, niscaya seluruh amalmu akan gugur dan engkau pasti termasuk orang-orang yang merugi. Maka sembahlah Allah saja dan jadilah termasuk orang-orang yang bersyukur.’”
9. Syirik menyebabkan kesesatan yang sangat jauh
QS. An-Nisa’: 116
﴿وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا﴾
“Barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya.”
QS. Al-Hajj: 31
﴿وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ﴾
“Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan ia jatuh dari langit, lalu disambar burung atau diterbangkan angin ke tempat yang sangat jauh.”
10. Ancaman bagi orang yang berdoa kepada selain Allah
QS. Al-Mu’minun: 117
﴿وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ﴾
“Barang siapa menyeru sesembahan lain bersama Allah, padahal tidak ada bukti baginya tentang itu, maka perhitungannya berada di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir tidak akan beruntung.”
QS. Al-Ahqaf: 5
﴿وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ﴾
“Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru selain Allah sesuatu yang tidak dapat mengabulkan doanya sampai hari Kiamat, sementara mereka lalai dari doa orang-orang yang menyerunya?”
QS. Fatir: 13–14
﴿وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ﴾
“Orang-orang yang kalian seru selain-Nya tidak memiliki walau setipis kulit ari biji kurma. Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruan kalian. Sekiranya mereka mendengar pun, mereka tidak dapat mengabulkannya. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kesyirikan kalian.”
KEAGUNGAN DAN KEUTAMAAN KALIMAT TAUHID DALAM HADIS NABI ﷺ
Hadis-hadis Nabi ﷺ tentang keagungan, kemuliaan, dan keutamaan kalimat tauhid لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ sangat banyak. Kalimat ini merupakan kalimat paling agung yang diucapkan seorang hamba. Namun berbagai keutamaan yang disebutkan dalam hadis-hadis berikut terkait dengan kejujuran, keikhlasan, keyakinan, serta pengamalan terhadap konsekuensi kalimat tauhid.
Di antara hadis-hadis tersebut adalah:
1. Beratnya Kalimat Tauhid dalam Timbangan Amal
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ يَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيَقُولُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، وَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَيُخْرِجُ بِطَاقَةً فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ: احْضُرْ وَزْنَكَ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَيَقُولُ: فَإِنَّكَ لَا تُظْلَمُ. قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كِفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ، فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ».
رواه الترمذي.
“Sesungguhnya Allah akan memilih seorang laki-laki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari Kiamat. Kemudian dibentangkan kepadanya sembilan puluh sembilan catatan dosa, setiap catatan sejauh mata memandang.
Kemudian Allah berfirman, ‘Apakah engkau mengingkari sesuatu dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku telah menzalimimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’
Allah berfirman, ‘Apakah engkau mempunyai alasan?’ Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’
Allah berfirman, ‘Bahkan, engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan pada hari ini engkau tidak akan dizalimi.’
Lalu dikeluarkan sebuah kartu yang di dalamnya tertulis: ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.’
Kemudian Allah berfirman, ‘Datanglah untuk menyaksikan timbanganmu.’ Ia berkata, ‘Wahai Rabbku, apalah arti kartu ini dibandingkan dengan seluruh catatan tersebut?’
Allah berfirman, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.’
Kemudian catatan-catatan tersebut diletakkan pada satu sisi timbangan dan kartu itu pada sisi lainnya. Catatan-catatan itu menjadi ringan dan kartu tersebut menjadi berat. Tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan beratnya nama Allah.”
2. Kalimat Tauhid sebagai Sebab Keselamatan dari Neraka
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: عَلَى الْفِطْرَةِ. ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: خَرَجْتَ مِنَ النَّارِ».
رواه مسلم.
“Nabi ﷺ mendengar seorang laki-laki mengucapkan, ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Engkau berada di atas fitrah.’
Kemudian orang tersebut mengucapkan, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.’
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Engkau telah keluar dari neraka.’”
3. Keikhlasan dalam Tauhid Membuka Pintu-Pintu Langit
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«مَا قَالَ عَبْدٌ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَطُّ مُخْلِصًا، إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ حَتَّى تُفْضِيَ إِلَى الْعَرْشِ، مَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ».
رواه الترمذي.
“Tidaklah seorang hamba mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ dengan tulus ikhlas, melainkan pintu-pintu langit dibukakan baginya hingga sampai kepada ‘Arsy, selama ia menjauhi dosa-dosa besar.”
4. Lā Ilāha Illallāh adalah Zikir yang Paling Utama
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ».
رواه الترمذي وابن ماجه.
“Zikir yang paling utama adalah لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, dan doa yang paling utama adalah الْحَمْدُ لِلَّهِ.”
5. Kalimat Tauhid adalah Ucapan Terbaik Para Nabi
Dari Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ».
رواه الترمذي.
“Doa yang terbaik adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik ucapan yang aku ucapkan dan yang diucapkan para nabi sebelumku adalah:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan dan segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.’”
6. Keutamaan Mengucapkan Kalimat Tauhid Seratus Kali
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ».
رواه البخاري ومسلم.
“Barang siapa dalam sehari mengucapkan seratus kali:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh budak, dituliskan baginya seratus kebaikan, dihapuskan darinya seratus keburukan, dan kalimat itu menjadi perlindungan baginya dari setan pada hari tersebut hingga sore. Tidak ada seorang pun yang membawa amalan yang lebih utama darinya kecuali seseorang yang mengerjakan lebih banyak daripada itu.”
7. Kalimat Tauhid Menjaga Kehormatan Darah Seorang Muslim
Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
«بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِلَى الْحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ، قَالَ: فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ، قَالَ: وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ، قَالَ: فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: فَكَفَّ عَنْهُ الْأَنْصَارِيُّ، فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ، قَالَ: فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ لِي: يَا أُسَامَةُ، أَقَتَلْتَهُ بَعْدَمَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا، قَالَ: أَقَتَلْتَهُ بَعْدَمَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ».
رواه البخاري ومسلم.
“Rasulullah ﷺ mengutus kami kepada al-Huraqah dari Juhainah. Kami mendatangi mereka pada pagi hari dan berhasil mengalahkan mereka. Aku dan seorang laki-laki Anshar mengejar seorang laki-laki dari mereka.
Ketika kami mengepungnya, ia mengucapkan, ‘Lā ilāha illallāh.’ Laki-laki Anshar itu menahan diri darinya, sedangkan aku menikamnya dengan tombakku hingga membunuhnya.
Ketika kami kembali, berita tersebut sampai kepada Nabi ﷺ. Beliau berkata kepadaku, ‘Wahai Usamah, apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Lā ilāha illallāh?’
Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ia hanya mengucapkannya untuk melindungi dirinya.’
Beliau kembali bersabda, ‘Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Lā ilāha illallāh?’
Beliau terus mengulanginya hingga aku berharap seandainya aku belum masuk Islam sebelum hari tersebut.”
8. Ikhlas dalam Tauhid Menjadi Sebab Diharamkan dari Neraka
Dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ».
رواه البخاري ومسلم.
“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ dengan mengharapkan wajah Allah.”
Hadis ini menunjukkan bahwa keutamaan tersebut bukan sekadar diperoleh dengan ucapan lisan, tetapi terkait dengan keikhlasan kepada Allah.
9. Kalimat Tauhid adalah Cabang Iman yang Paling Utama
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ».
رواه مسلم.
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh — atau lebih dari enam puluh — cabang. Yang paling utama adalah ucapan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman.”
10. Kalimat Tauhid di Akhir Kehidupan adalah Sebab Masuk Surga
Dari Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ».
رواه أبو داود.
“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, maka ia masuk surga.”
Ini menunjukkan betapa agungnya nikmat apabila seorang hamba diberi taufik oleh Allah sehingga kalimat terakhir yang diucapkannya ketika meninggalkan dunia adalah kalimat tauhid.
11. Talqin Lā Ilāha Illallāh kepada Orang yang Akan Meninggal
Dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ».
رواه مسلم.
“Talqinlah orang-orang yang sedang menghadapi kematian di antara kalian dengan ucapan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ.”
Yang dimaksud dengan مَوْتَاكُمْ dalam hadis ini adalah orang yang sedang menghadapi kematian. Ia dituntun dengan lembut agar mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, sehingga diharapkan kalimat tauhid menjadi ucapan terakhirnya di dunia.
Kalimat Tauhid Memiliki Hak dan Konsekuensi
Hadis-hadis di atas menunjukkan keagungan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. Namun kalimat tauhid bukan sekadar ucapan lisan tanpa makna dan konsekuensi. Ia harus diucapkan dengan ilmu, keyakinan, kejujuran, keikhlasan, kecintaan, penerimaan, ketundukan, serta pengingkaran terhadap segala sesembahan selain Allah.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang orang-orang yang mengatakan bahwa siapa yang mengucapkan Lā ilāha illallāh akan masuk surga. Beliau berkata:
«مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَأَدَّى حَقَّهَا وَفَرْضَهَا، دَخَلَ الْجَنَّةَ».
“Barang siapa mengucapkan Lā ilāha illallāh, kemudian menunaikan hak dan kewajibannya, maka ia masuk surga.”
Dengan demikian, لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ bukan hanya kalimat yang diucapkan. Ia adalah kalimat yang diketahui maknanya, diyakini kebenarannya, diucapkan dengan jujur dan ikhlas, dicintai, diterima, diamalkan konsekuensinya, serta disertai pengingkaran terhadap seluruh sesembahan selain Allah.
Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata kepada seseorang yang bertanya kepadanya:
وَقِيلَ لِوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ: أَلَيْسَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ مِفْتَاحَ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: بَلَى، وَلَكِنْ لَيْسَ مِفْتَاحٌ إِلَّا لَهُ أَسْنَانٌ، فَإِنْ جِئْتَ بِمِفْتَاحٍ لَهُ أَسْنَانٌ فُتِحَ لَكَ، وَإِلَّا لَمْ يُفْتَحْ لَكَ.
“Bukankah lā ilāha illallāh adalah kunci surga?”
Beliau menjawab:
“Betul, tetapi tidak ada satu pun kunci kecuali memiliki gigi-gigi. Maka jika engkau datang membawa kunci yang bergigi, akan dibukakan untukmu. Namun jika engkau datang tanpa gigi-giginya, maka tidak akan dibukakan.”
Atsar ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Janā’iz, Bāb fī al-Janā’iz wa man kāna ākhiru kalāmihi lā ilāha illā Allāh, secara mu‘allaq dengan shighat jazm.
Maka, para ulama menyebutkan delapan syarat laailaha illallah yang dihimpun dalam bait tersebut adalah: ilmu (العلم), yakin (اليقين), ikhlas (الإخلاص), jujur (الصدق), cinta (المحبة), tunduk (الانقياد), menerima (القبول), dan mengingkari segala sesembahan selain Allah (الكفر بما سوى الله من المعبودات).
Dikumpulkan dalam puisi berikut:
عِلْمٌ يَقِينٌ وَإِخْلَاصٌ وَصِدْقُكَ مَعْ
مَحَبَّةٍ وَانْقِيَادٍ وَالْقَبُولِ لَهَا
وَزِيدَ ثَامِنُهَا الْكُفْرَانُ مِنْكَ بِمَا
سِوَى الْإِلٰهِ مِنَ الْأَنْدَادِ قَدْ أُلِّهَا
“Ilmu, keyakinan, keikhlasan, dan kejujuranmu, disertai kecintaan, ketundukan, dan penerimaan terhadapnya.
Dan ditambahkan syarat kedelapan, yaitu pengingkaranmu terhadap segala sesuatu selain Allah yang dijadikan sebagai tandingan dan disembah.”



