Mimbar Jumat

Khutbah Jumat: Mendidik Anak dengan Cinta

 

Download Pdfnya Klik

Mendidik Anak dengan Cinta

Penulis:

(Kandidat Magister Universitas Islam Madinah, KSA)

Ustaz Muhammad Rasdil, Lc.

Khutbah pertama:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketahuilah bahwa takwa bukan hanya tentang hubungan kita dengan Allah, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalankan amanah yang Allah berikan kepada kita, termasuk amanah dalam mendidik anak-anak kita.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di antara nikmat terbesar yang Allah ﷻ berikan kepada seseorang adalah anak.

Allah ﷻ berfirman:

﴿الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا﴾

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Anak adalah perhiasan, kebahagiaan, sekaligus amanah.

Karena itu Allah ﷻ berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ayat ini mengingatkan kita bahwa tanggung jawab orang tua bukan sekadar memberikan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan duniawi.

Kita memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar: menjaga anak-anak kita dari api neraka dan mengantarkan mereka menuju kebaikan.

Namun, dalam menjalankan tanggung jawab tersebut, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan:

Mendidik anak membutuhkan cinta.

Anak bukan sekadar tubuh yang harus diatur. Ia memiliki hati, perasaan, pikiran, dan kepribadian.

Karena itu, seorang anak akan lebih mudah menerima nasihat dari orang yang ia cintai dan ia rasakan mencintainya.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Coba kita renungkan sebuah keadaan sederhana.

Jika seorang teman kita datang ke rumah, kemudian ketika sedang makan ia tidak sengaja menumpahkan segelas susu ke meja, mungkin kita akan berkata:

“Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Hal seperti ini biasa terjadi. Mari kita bersihkan bersama.”

Namun, ketika anak kita melakukan hal yang sama, terkadang kita justru berkata:

“Kamu tumpahkan lagi! Bukankah sudah berkali-kali Ayah bilang supaya hati-hati?!”

Bahkan terkadang kita menambahkan kata-kata:

“Dasar ceroboh!” — “Kamu memang tidak pernah bisa berhati-hati!”

Padahal kesalahannya sama.

Yang berbeda adalah cara kita meresponsnya.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Tentu anak harus ditegur ketika melakukan kesalahan.

Tetapi ada perbedaan antara mengoreksi kesalahan anak dan menghancurkan harga dirinya.

Kita bisa mengatakan:

“Perbuatanmu salah. Mari kita perbaiki.”

Tetapi jangan sampai kita mengatakan:

“Kamu anak bodoh.” — “Kamu tidak berguna.” — “Kamu memang selalu membuat masalah.”

Kita ingin anak memahami:

“Saya melakukan kesalahan dan saya harus memperbaikinya.”

Bukan:

“Saya adalah anak yang buruk dan tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar.”

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam mendidik manusia.

Beliau ﷺ tidak hanya memberikan nasihat, tetapi beliau juga menunjukkan cinta kepada orang yang beliau nasihati.

Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ berkata kepada Mu‘adz bin Jabal رضي الله عنه:

«يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ»

“Wahai Mu‘adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu.”

Kemudian beliau memberikan nasihat kepadanya:

«فَلَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ»

“Janganlah engkau meninggalkan doa setelah setiap salat: ‘Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.’”

Perhatikan, jamaah sekalian.

Sebelum memberikan nasihat, Rasulullah ﷺ mengatakan: “Aku mencintaimu.”

Ini memberikan pelajaran bahwa nasihat akan lebih mudah diterima ketika hati telah dipenuhi dengan rasa cinta dan kepercayaan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Karena itu, jangan hanya mencintai anak kita dalam hati.

Tunjukkan dan ungkapkan cinta itu kepada mereka.

Katakan: “Nak, Ayah sayang kepadamu.”

Katakan: “Ayah bangga melihat usahamu.”

Katakan: “Walaupun tadi kamu melakukan kesalahan, Ayah tetap menyayangimu. Mari kita perbaiki bersama.”

Jangan menganggap anak pasti mengetahui bahwa kita mencintainya hanya karena kita bekerja keras untuknya.

Memang benar, bekerja keras demi anak adalah bentuk cinta. Memberikan nafkah adalah bentuk cinta. Menyediakan pendidikan adalah bentuk cinta.

Namun anak juga membutuhkan cinta yang diucapkan, dirasakan, dan ditunjukkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ، فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ»

“Apabila salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, hendaklah ia memberitahukan kepadanya bahwa ia mencintainya.”

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Rasulullah ﷺ juga tidak menyembunyikan kecintaannya kepada anak-anak.

Beliau ﷺ berdoa tentang Al-Hasan dan Al-Husain رضي الله عنهما:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا، فَأَحِبَّهُمَا»

“Ya Allah, sungguh aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.”

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada anak tidak perlu disembunyikan.

Tunjukkanlah. Ucapkanlah. Rasakanlah bersama mereka.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Cinta bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja.

Cinta bukan berarti tidak ada aturan.

Cinta bukan berarti semua keinginan anak harus dituruti.

Justru karena mencintai anak, kita mengajarkan mereka salat. Karena mencintai mereka, kita melarang mereka dari kemaksiatan. Karena mencintai mereka, kita mengajarkan adab. Karena mencintai mereka, kita memberikan batasan.

Tetapi ketika memberikan batasan, jangan sampai cinta itu hilang.

Kita menegur karena mencintai, bukan karena membenci.

Kita mengoreksi karena menginginkan kebaikan, bukan karena ingin melampiaskan kemarahan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Anak yang tumbuh dalam cinta dan penghargaan akan lebih mudah belajar menghargai dirinya dan orang lain.

Ia akan lebih mudah bekerja sama dengan orang tuanya.

Ketika anak merasa dihargai atas kebaikan yang dilakukannya, ia akan terdorong untuk mengulangi kebaikan tersebut.

Sebaliknya, anak yang selalu dicela dan direndahkan bisa mencari perhatian dengan cara yang salah.

Maka ketika anak melakukan sesuatu yang buruk, jangan hanya bertanya: “Bagaimana cara menghentikan perilaku ini?”

Tetapi tanyakan juga: “Apa yang sedang dirasakan dan dibutuhkan oleh anak saya?”

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Pendidikan yang berhasil bukanlah pendidikan yang membuat anak takut kepada orang tua setiap saat.

Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang membuat anak mau melakukan kebaikan meskipun orang tuanya tidak berada di sisinya.

Kita tidak mungkin selamanya berada di samping anak.

Akan datang hari ketika anak pergi ke sekolah tanpa kita. Pergi ke kampus tanpa kita. Pergi bekerja tanpa kita. Bahkan suatu hari mereka akan membangun rumah tangganya sendiri.

Maka yang harus kita bangun bukan hanya pengawasan di luar diri mereka.

Kita harus membangun pengawasan Allah di dalam hati mereka.

Kita harus menanamkan iman, akhlak, rasa tanggung jawab, dan kecintaan kepada kebaikan.

Semoga Allah memberikan kita kemampuan untuk mendidik anak-anak kita dengan cara yang diridai-Nya.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah kedua:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

Amma Ba’du

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita kembali meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ.

Ketahuilah bahwa anak-anak kita bukan hanya membutuhkan orang tua yang mampu memberikan nafkah.

Mereka membutuhkan orang tua yang hadir.

Mereka membutuhkan ayah dan ibu yang mau mendengarkan, yang mau memahami, yang mau memeluk, yang mau memberikan penghargaan, yang mau mengatakan:

“Ayah mencintaimu.” — “Ibu menyayangimu.” — “Ayah bangga kepadamu.” — “Kalau kamu salah, mari kita perbaiki bersama.”

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita mungkin tidak mampu memberikan anak kita segala sesuatu yang mereka inginkan.

Kita mungkin tidak mampu memberikan rumah yang paling mewah.

Kita mungkin tidak mampu memberikan sekolah yang paling mahal.

Tetapi ada sesuatu yang dapat kita berikan setiap hari: Cinta.

Anak mungkin lupa apa yang pernah kita belikan untuknya.

Tetapi mereka akan mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berada di dekat kita.

Apakah mereka merasa aman? Apakah mereka merasa dihargai? Apakah mereka merasa didengar? Apakah mereka merasa dicintai?

Ataukah mereka selalu merasa takut, disalahkan, dan tidak pernah cukup baik?

Karena itu, sebelum kita memperbanyak nasihat kepada anak, mari kita memperbanyak cinta.

Sebelum kita menuntut mereka memahami kita, mari kita belajar memahami mereka.

Sebelum kita bertanya mengapa mereka tidak mau mendengarkan kita, mari kita bertanya: “Apakah mereka sudah merasakan bahwa kita mencintai mereka?”

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ingatlah sabda Rasulullah ﷺ:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Maka marilah kita menjaga amanah ini.

Didik anak-anak kita dengan ilmu. Didik mereka dengan keteladanan. Didik mereka dengan ketegasan. Dan didik mereka dengan cinta dan kasih sayang.

Karena cinta membangun jembatan, dan di atas jembatan itulah nasihat dapat sampai dari hati orang tua kepada hati anak.

Mendidik dengan cinta bukan berarti tanpa aturan. Mendidik dengan cinta berarti memberikan aturan tanpa kehilangan kasih sayang.

Ya Allah, perbaikilah anak-anak kami.

Ya Allah, jadikanlah mereka anak-anak yang saleh dan salehah.

Ya Allah, jadikanlah mereka penyejuk mata bagi kami.

Ya Allah, berikanlah kami kesabaran dalam mendidik mereka.

Ya Allah, berikanlah kami hikmah dalam menasihati mereka.

Ya Allah, jadikanlah rumah-rumah kami rumah yang dipenuhi iman, ilmu, kasih sayang, ketenangan, dan keberkahan.

Ya Allah, lindungilah anak-anak kami dari segala fitnah, pergaulan buruk, akhlak buruk, dan segala sesuatu yang menjauhkan mereka dari-Mu.

Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami generasi yang mencintai Al-Qur’an, mencintai salat, mencintai kebaikan, berbakti kepada orang tua, dan bermanfaat bagi agama dan umat.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

عباد الله ﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

markazinayahofficial

@markazinayah

t.me/markaz_inayah

@markazinayah

@markazinayah

add/markaz_inayah

pin.it/27A9yFJT5

@markazinayah

@markazinayah

www.markazinayah.com

+6285333345252

Muhammad Rasdil Amirullah, Lc.

(S2, Jurusan Ushul Tarbiyah Al-Islamiyah, Universitas Islam Madinah, KSA)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button