Khutbah Jumat: Keutamaan Ilmu dan Para Ulama

Download Pdfnya Klik
Keutamaan Ilmu dan Para Ulama
Penulis:
(Kandidat Doktor Qassim University, KSA)
Ustaz Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.
Khutbah pertama:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِن الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتوبُ إِلَيه، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أدَّى الأمانةَ، وبلَّغَ الرِّسالةَ، ونصحَ الأُمَّةَ، وجاهَد فِي الله حقَّ جِهادهِ حَتَّى أتاهُ اليقينُ، أَمَّا بَعْدُ:
فعبادَ الله، اتَّقُوا الله، ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾ [آل عمران: 102]،
﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴾ [النساء: 1]،
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴾ [الأحزاب: 70، 71].
Wahai kaum muslimin, hamba-hamba Allah!
Tema khutbah kita hari ini adalah keutamaan ilmu dan para ulama.
Ilmu merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia. Dengan ilmu, seseorang mengenal Rabbnya, memahami agamanya, mengetahui halal dan haram, serta mampu menjalani kehidupan dengan benar.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
﴿ وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴾ [النحل: 78]
“Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati agar kalian bersyukur.”
Allah memberikan manusia sarana untuk memperoleh ilmu: pendengaran, penglihatan, dan hati atau akal. Jika digunakan dengan benar, semua itu akan mengantarkan kepada pengetahuan dan petunjuk.
Karena itulah Allah mengangkat kedudukan orang-orang berilmu.
Allah berfirman:
﴿ يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ﴾ [المجادلة: 11]
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Allah bahkan memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk meminta tambahan ilmu.
Allah berfirman:
﴿ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا ﴾ [طه: 114]
“Dan katakanlah: Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
Para ulama menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan ilmu, sebab Allah tidak memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk meminta tambahan dari urusan dunia kecuali ilmu.
Kaum muslimin rahimakumullah!
Tidak sama orang berilmu dengan orang bodoh.
Allah berfirman:
﴿ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ ﴾ [الزمر: 9]
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang-orang berakal yang dapat mengambil pelajaran.”
Agama Islam adalah agama ilmu. Ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ adalah perintah membaca.
Allah berfirman:
﴿ اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴾ [العلق: 1-2]
“Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.”
Karena itu, seorang muslim tidak boleh merasa cukup dalam belajar. Selama hidupnya ia membutuhkan ilmu, terutama ilmu yang memperbaiki agama dan akhiratnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ بِهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ» [رواه مسلم]
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya dengan sebab itu jalan menuju surga.”
Perhatikanlah, wahai hamba-hamba Allah!
Jalan menuntut ilmu disebut sebagai jalan menuju surga. Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ»
“Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka bagi penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang ia lakukan.”
Dan beliau ﷺ bersabda:
«فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ»
“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama dibandingkan seluruh bintang.”
Mengapa demikian?
Karena ahli ibadah manfaatnya terutama untuk dirinya sendiri, sedangkan seorang alim yang benar dapat memberikan manfaat kepada banyak manusia.
Nabi ﷺ juga bersabda:
«إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ»
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu.”
Wahai kaum muslimin!
Ilmu yang paling agung adalah ilmu yang mengenalkan kita kepada Allah.
Allah berfirman:
﴿ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ ﴾ [محمد: 19]
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan mohonlah ampun atas dosamu.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu mendahului ucapan dan amal.
Seorang muslim harus mengetahui siapa Rabbnya, bagaimana mentauhidkan-Nya, bagaimana beribadah kepada-Nya, apa yang halal dan haram, dan bagaimana mengikuti Rasulullah ﷺ.
Ilmu yang benar akan melahirkan rasa takut kepada Allah.
Allah berfirman:
﴿ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ﴾ [فاطر: 28]
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”
Maka ilmu bukan sekadar banyaknya informasi, gelar, buku yang dibaca, atau luasnya wawasan.
Ilmu yang benar adalah ilmu yang menambah iman, rasa takut kepada Allah, ketakwaan, dan amal saleh.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُكُمْ بِاللَّهِ، وَأَخْشَاكُمْ لَهُ»
“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian dan paling takut kepada-Nya.”
Semakin benar ilmu seseorang tentang Allah, semestinya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah.
Karena itu, Allah memerintahkan kita bertanya kepada orang yang berilmu.
Allah berfirman:
﴿ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴾ [النحل: 43]
“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu apabila kalian tidak mengetahui.”
Akan tetapi, orang yang dijadikan rujukan hendaknya memiliki dua sifat penting: ilmu dan ketakwaan.
Jangan bertanya masalah agama kepada orang bodoh, dan jangan pula mudah mengambil fatwa dari orang yang berbicara tanpa ilmu.
Allah berfirman:
﴿ وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ﴾ [الإسراء: 36]
“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya.”
Wahai hamba-hamba Allah!
Ilmu merupakan amanah. Ia dapat mengantarkan seseorang ke surga, tetapi apabila niatnya rusak, ilmu juga dapat menjadi hujah yang memberatkannya.
Nabi ﷺ bersabda:
«وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ» [رواه مسلم]
“Al-Qur’an adalah hujah yang membelamu atau hujah yang memberatkanmu.”
Karena itu kita harus menuntut ilmu dengan ikhlas, mengamalkannya, dan tidak menjadikannya sebagai jalan mencari pujian, kedudukan, atau popularitas.
Ilmu tanpa amal dapat menjadi bencana bagi pemiliknya.
Maka marilah kita berdoa:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا.
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, dan hati yang khusyuk.”
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah kedua:
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
Amma Ba’du
Wahai kaum muslimin, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Ketahuilah bahwa keberadaan para ulama merupakan nikmat besar bagi umat.
Melalui mereka, ilmu agama dijaga, syariat dijelaskan, kesalahan diluruskan, dan manusia dibimbing kepada jalan yang benar. Karena itu, wafatnya para ulama merupakan musibah besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا» [متفق عليه]
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga apabila tidak tersisa seorang alim, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”
Maka tugas kita adalah menghormati para ulama yang benar, mengambil ilmu dari sumber terpercaya, dan mendidik generasi berikutnya agar mencintai ilmu.
Jangan sampai anak-anak kita hanya mengejar ilmu dunia tetapi tidak mengenal Rabbnya, tidak memahami salatnya, tidak mengetahui aqidahnya, dan tidak mengenal halal dan haram.
Ilmu dunia yang bermanfaat adalah kebaikan, tetapi ilmu agama merupakan kebutuhan paling mendasar untuk menyelamatkan iman dan akhirat. Ilmu juga membutuhkan kesungguhan.
Allah berfirman:
﴿ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ﴾ [العنكبوت: 69]
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Diriwayatkan dalam syair yang terkenal dari Imam asy-Syafi‘i:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي *** فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ *** وَنُورُ اللَّهِ لَا يُعْطَاهُ عَاصِي
“Aku mengadukan kepada Waki‘ buruknya hafalanku, Maka ia membimbingku untuk meninggalkan kemaksiatan.
Ia memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya, Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.”
Maka ilmu memerlukan kesungguhan, kebersihan hati, ketakwaan dan menjauhi kemaksiatan.
Wahai kaum muslimin!
Marilah kita hidup bersama ilmu: belajar, mengajarkan, mengamalkan dan mewariskannya kepada keluarga serta generasi kita.
Jangan menjadi orang yang malas belajar agama, karena orang yang tidak mau belajar akan mudah tersesat oleh syubhat dan hawa nafsu. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang disebut dalam firman-Nya:
﴿ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ ﴾ [الروم: 56]
“Dan orang-orang yang diberi ilmu dan iman berkata…”
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat.
اللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.
“Ya Allah, berilah kami manfaat dengan ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami, ajarkanlah kepada kami apa yang bermanfaat bagi kami, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.”
Kemudian bersalawat dan bersalamlah kepada orang yang Allah perintahkan kalian untuk bersalawat dan bersalam kepadanya.
﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk beliau dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Aḥzāb: 56)
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ»
“Sesungguhnya di antara hari terbaik kalian adalah hari Jumat. Karena itu, perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari itu, sebab shalawat kalian akan disampaikan kepadaku.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Beliau ﷺ juga bersabda:
«أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً»
“Manusia yang paling dekat denganku pada hari Kiamat adalah mereka yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. At-Tirmidzi)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللهم اغفِر لَنا ذُنوبَنا وإسرافَنا في أمرِنا، وثبت أقدامنا وانصرنا على القوم الكافرين.
اللهم كن لعبادِكَ المستضعَفين، ودمِّرِ اليهودَ الـمُجرمين ومَن وَالَاهُم اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي فِلِسْطِينَ، اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي غَزَّةَ.
اللّهمَّ آمِنَّا في أوطانِنا، وأصلِحْ أئمّتَنا وُولاةَ أمورِنا، واجعل وِلايتَنا فيمن خافَكَ واتّقاكَ واتّبعَ رِضاك.
عِبَادَ الله: اذكرُوا اللهَ ذِكرًا كثيرًا، وسبِّحوهُ بُكرةً وأصيلًا، وآخرُ دَعوانا أَنِ الحمدُ للهِ ربِّ العالمين.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ حُكَّامَ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ إِنْدُونِيسِيَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ.
+6285333345252



