Tatsqif

Fenomena Surut Air Laut

﴿ قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ ﴾

Fenomena surut air laut adalah keadaan ketika permukaan air laut turun dan menjauh dari garis pantai sehingga bagian dasar laut yang sebelumnya tertutup air menjadi terlihat. Fenomena ini umumnya terjadi karena pasang surut, yaitu perubahan berkala permukaan laut akibat gaya gravitasi Bulan dan Matahari terhadap Bumi.
Surutnya air laut dapat menjadi pengingat betapa manusia sangat bergantung kepada ketetapan Allah dalam menjaga keseimbangan air di bumi.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ ﴾
[الملك: 30]

“Katakanlah, ‘Bagaimana pendapat kalian jika air kalian menjadi hilang jauh ke dalam bumi, maka siapakah yang akan mendatangkan bagi kalian air yang mengalir?’”
(QS. Al-Mulk: 30)

Namun perlu dibedakan: surutnya air laut secara normal bukanlah makna langsung dari “مَاؤُكُمْ غَوْرًا” dalam ayat tersebut. Ayat itu berbicara tentang air yang masuk jauh ke dalam bumi sehingga tidak dapat dijangkau, sedangkan pasang-surut laut merupakan fenomena periodik yang berbeda.

Ini merupakan sebuah perumpamaan yang dikemukakan dalam Al-Qur’an yang agung. Sudah semestinya kita memperhatikannya, merenungkannya, mentadabburinya, dan berhenti sejenak untuk memikirkan kandungannya. Ayat yang mulia ini menghadirkan di hadapan kita suatu keadaan atau kondisi yang dapat dibayangkan oleh manusia, bahkan dapat benar-benar terjadi dan menjadi kenyataan. Kemungkinan terjadinya keadaan tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil atau jauh dari kenyataan.

Seandainya air kita menjadi غَوْرًا (masuk dan hilang jauh ke dalam bumi).

Seandainya air tidak lagi menjadi مَعِينًا, yaitu air yang mudah diperoleh, mengalir dengan lancar dan terus mengalir sesuai dengan pergerakan serta karakteristiknya yang unik sebagaimana yang kita ketahui. Air mengalir di selokan-selokan dan sungai-sungai, kemudian digunakan dan dialirkan untuk menyiram tanaman dan irigasi dengan aliran yang mudah. Demikian pula air kita gunakan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti minum dan bersuci.

Tidakkah kita akan berhenti dalam keadaan bingung seraya bertanya:

Apa solusi bagi persoalan ini?!

Siapakah yang mampu memperbaikinya?!

Siapakah yang mampu mengembalikan air sehingga kembali mengalir dengan mudah sebagaimana keadaan asalnya yang selama ini kita kenal?!

Ini merupakan pertanyaan logis yang pasti akan muncul ketika menghadapi keadaan seperti itu. Logika, akal, dan kesimpulan yang benar akan membawa seseorang kepada keharusan untuk menyatakan, mengakui, dan tunduk kepada Al-Haqq سبحانه وتعالى, Sang Pencipta dan Sang Pembentuk seluruh makhluk, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Demikian pula mengakui penghambaan yang murni hanya kepada-Nya.

Pandangan dan perenungan seperti ini akan melahirkan akidah yang murni, pengakuan, dan ketundukan kepada Allah yang benar, Sang Pencipta segala sesuatu. Ia akan melahirkan iman dan keyakinan yang dibuktikan oleh amal dan perbuatan manusia, yaitu dengan berpegang teguh kepada jalan yang sesuai dengan fitrah penciptaannya: jalan kesalehan, petunjuk, kebaikan, dan kebajikan.

Pandangan tersebut lahir dari pertanyaan dan kebingungan yang logis tadi. Kehendak dan usaha manusia mempunyai peranan besar dalam mengaktifkan dan menelusurinya, mengatasi keraguan, kebimbangan, dan keterkejutan terhadapnya, serta mencari jalan menuju hidayah, keyakinan, dan keselamatan; atau sebaliknya, mengingkari dan menutupinya.

Dengan demikian, ini merupakan sebuah perumpamaan agung yang sangat layak untuk terus ditadabburi dan dicermati secara mendalam. Ia menjadi peringatan bagi manusia pada setiap waktu.

Barang siapa mengingatnya, akan muncul dalam dirinya pertanyaan berikut:

Apakah saya benar-benar telah memperhatikan perumpamaan tersebut?

Apakah amal dan iman saya benar-benar telah membenarkan apa yang saya pahami dari perenungan itu, sebagai langkah awal menuju usaha yang sungguh-sungguh dalam mencari hidayah dan keyakinan?

Ini adalah sebuah perumpamaan yang mampu menggugurkan hujah orang kafir yang tidak beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, Sang Pencipta. Bahkan, perumpamaan ini mendorongnya untuk bertanya, berpikir, dan merenung.

Pada saat yang sama, perumpamaan ini mendorong seorang mukmin yang membenarkan dan berserah diri kepada Allah yang benar untuk semakin memperbanyak istighfar serta mengharapkan ampunan dan rahmat-Nya atas setiap kelupaan dan kelalaian. Ia juga menumbuhkan dalam dirinya keinginan untuk senantiasa memohon dan mencari jalan menuju hidayah, keyakinan, dan pengetahuan.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button