Tatsqif

Al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi

Al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi رحمه الله

Nama lengkap:
Abdul Ghani bin Abdul Wahid bin Ali bin Surur bin Rafi‘ bin Hasan bin Ja‘far al-Maqdisi al-Jamma‘ili, kemudian ad-Dimasyqi ash-Shalihi al-Hanbali.

Kunyah dan gelar:
Abu Muhammad, Taqiyuddin. Beliau dikenal sebagai al-Hafizh, ahli hadis besar pada zamannya, bahkan dijuluki Amirul Mukminin dalam hadis.

Lahir: 541 H / sekitar 1146 M.
Wafat: 600 H / sekitar 1203 M.
Usia: sekitar 59 tahun.

Beliau lahir di Jamma‘il, wilayah dekat Nablus, Palestina. Kemudian sejak kecil berpindah ke Damaskus. Beliau wafat di Mesir dan dimakamkan di Qarafah.

Perjalanan menuntut ilmu

Abdul Ghani al-Maqdisi merupakan salah seorang ulama besar yang sangat banyak melakukan perjalanan dalam mencari hadis.

Beliau mendengar hadis dan menimba ilmu di:

– Damaskus
– Baitul Maqdis
– Baghdad
– Alexandria
– Mesir
– Harran
– Mosul
– Isfahan
– Hamadan

Beliau tidak pernah berhenti mencari ilmu, mendengar hadis, menyalin kitab, menulis, mengajar, beribadah, berpuasa dan melakukan salat malam hingga wafatnya.

Di antara guru-gurunya adalah:

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani,
Abu al-Fath Ibn al-Baththi,
Abu Thahir as-Silafi,
Abu Musa al-Madini,
Ibn al-Jauzi,
Abu al-Makarim Ibn Hilal,
Abu al-Ma‘ali Ibn Shabir,
dan banyak ulama lainnya.

Dikisahkan bahwa beliau menulis dari al-Hafizh Abu Thahir as-Silafi sekitar seribu juz hadis.

Bersama Ibnu Qudamah ke Baghdad

Al-Hafizh Abdul Ghani adalah sepupu Imam Muwaffaq ad-Din Ibnu Qudamah رحمهما الله.

Pada awal tahun 561 H keduanya berangkat bersama menuju Baghdad dalam rangka menuntut ilmu.

Ketika itu keduanya masih muda.

Kecenderungan keilmuan mereka berbeda:

Abdul Ghani lebih condong kepada hadis, sedangkan Ibnu Qudamah lebih condong kepada fikih.

Namun Abdul Ghani juga mempelajari fikih, dan Ibnu Qudamah juga banyak mendengar hadis bersamanya.

Keduanya pertama kali tinggal bersama Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Sang syaikh memperlakukan mereka dengan sangat baik.

Tidak lama kemudian, sekitar lima puluh hari setelah kedatangan mereka, Syaikh Abdul Qadir wafat.

Keduanya kemudian belajar fikih dan ilmu khilaf kepada Abu al-Fath Ibn al-Manni.

Mereka menetap di Baghdad sekitar empat tahun dan memperoleh ilmu yang sangat banyak.

Orang-orang yang melihat kesungguhan, kehormatan diri dan sedikitnya mereka bergaul secara sia-sia sangat mencintai keduanya.

Kekuatan hafalannya

Al-Hafizh Abdul Ghani dikenal memiliki hafalan hadis yang luar biasa.

Imam adh-Dhiya’ al-Maqdisi berkata:

«“Syaikh kami al-Hafizh hampir tidak pernah ditanya tentang suatu hadis kecuali beliau langsung menyebutkannya, menjelaskannya serta menerangkan apakah hadis tersebut sahih atau lemah.”»

Dan apabila ditanya tentang seorang perawi, beliau mampu menjelaskan:

«“Dia adalah fulan bin fulan,”»

kemudian menyebutkan nasab dan keterangan perawi tersebut.

Karena itulah adh-Dhiya’ berkata:

«“Beliau adalah Amirul Mukminin dalam hadis.”»

Pernah ada seseorang berkata kepadanya:

«“Ada seseorang yang bersumpah dengan talak bahwa engkau menghafal seratus ribu hadis.”»

Abdul Ghani menjawab:

«“Seandainya ia mengatakan lebih banyak daripada itu, niscaya ia benar.”»

Taj al-Kindi berkata:

«“Setelah ad-Daraquthni tidak ada orang seperti al-Hafizh Abdul Ghani.”»

Ia juga berkata:

«“Al-Hafizh Abdul Ghani tidak pernah melihat seorang yang seperti dirinya sendiri,”»

yakni dalam kekuatan hafalan hadis.

Abu Nizar Rabi‘ah ash-Shan‘ani berkata:

«“Aku pernah menghadiri majelis Abu Musa al-Madini dan Abdul Ghani. Menurutku Abdul Ghani lebih kuat hafalannya.”»

Ketelitian beliau terhadap hadis

Abdul Ghani pernah bercerita bahwa ia berada di majelis al-Hafizh Abu Musa al-Madini.

Terjadi perbedaan pendapat antara dirinya dengan seseorang tentang suatu hadis.

Orang itu berkata:

«“Hadis itu terdapat dalam Shahih al-Bukhari.”»

Abdul Ghani berkata:

«“Tidak terdapat di dalamnya.”»

Orang tersebut kemudian menulis persoalan itu pada secarik kertas dan menyerahkannya kepada Abu Musa.

Abu Musa justru memberikan kertas tersebut kepada Abdul Ghani dan bertanya:

«“Bagaimana pendapatmu?”»

Abdul Ghani menjawab:

«“Hadis itu tidak terdapat dalam Shahih al-Bukhari.”»

Orang tersebut pun merasa malu.

Pengaruhnya dalam menghidupkan ilmu hadis

Al-Hafizh Abdul Ghani memiliki pengaruh sangat besar terhadap perkembangan ilmu hadis di Syam.

Al-Hafizh Ibrahim berkata:

«“Aku tidak melihat berkembangnya hadis di seluruh Syam melainkan karena keberkahan al-Hafizh Abdul Ghani. Setiap orang yang kutanya mengatakan: ‘Pertama kali aku mendengar hadis adalah dari al-Hafizh Abdul Ghani, dan dialah yang mendorongku.’”»

Beliau sangat memuliakan para penuntut ilmu.

Jika mengetahui seorang murid memiliki kecerdasan dan kemampuan, beliau menganjurkannya untuk melakukan rihlah ilmiah.

Beliau gembira apabila para murid memperoleh sanad dan ilmu baru.

Bahkan beliau membekali sebagian muridnya untuk melakukan perjalanan ke Isfahan, Mesir dan negeri-negeri lainnya.

Menjelang wafatnya beliau berpesan kepada anak-anak dan murid-muridnya:

«“Jangan kalian sia-siakan ilmu yang telah kami perjuangkan dengan susah payah ini.”»

Majelis hadisnya

Beliau memiliki majelis hadis yang sangat terkenal.

Di Masjid Jami‘ Damaskus beliau membacakan hadis pada hari Jumat dan malam Kamis.

Banyak manusia berkumpul menghadiri majelis tersebut.

Beliau membacakan hadis sambil menangis dan sering membuat para hadirin ikut menangis.

Disebutkan bahwa orang yang sekali menghadiri majelis beliau hampir tidak ingin meninggalkannya.

Setelah selesai membaca hadis, beliau berdoa panjang.

Ketika beliau datang ke Mesir, Ibn Naja mengumumkan kepada masyarakat:

«“Imam al-Hafizh telah datang dan ingin membacakan hadis. Datangilah majelisnya tiga kali, setelah itu kalian sendiri akan mengenalnya dan akan tumbuh keinginan untuk terus menghadirinya.”»

Pada majelis pertama saja masyarakat sudah sangat terkesan.

Sebagian hadirin menangis hingga ada yang hampir pingsan.

Seorang faqih Hanbali bernama Najm bin Abdul Wahhab pernah berkata kepada beliau:

«“Wahai Taqiyuddin, demi Allah, sungguh engkau telah memikul Islam. Seandainya aku mampu, aku tidak akan pernah meninggalkan majelismu.”»

Penjagaan waktunya

Beliau termasuk orang yang sangat menjaga waktu.

Saudaranya, Syaikh al-‘Imad berkata:

«“Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih menjaga waktunya dibanding saudaraku.”»

Ibnu Qudamah juga berkata:

«“Al-Hafizh Abdul Ghani menggabungkan antara ilmu dan amal. Dia adalah sahabatku sejak kecil dan dalam menuntut ilmu. Hampir setiap kali kami berlomba melakukan kebaikan, dia mendahuluiku, kecuali dalam sedikit perkara.”»

Sebagian riwayat menyebut bahwa setelah salat Subuh beliau mengajarkan Al-Qur’an dan hadis, kemudian menghabiskan waktunya dengan salat, membaca, menyalin kitab dan mengajar hingga malam.

Beliau juga sangat rajin tahajud.

Ketika berada di Isfahan, orang yang menjadi tuan rumahnya mengatakan:

«“Abdul Ghani hampir tidak tidur pada malam hari. Ia terus salat, membaca Al-Qur’an dan menangis.”»

Ibadah dan zuhud

Beliau dikenal sangat tekun dalam ibadah, wara‘, banyak berpuasa dan melakukan salat malam.

Penglihatannya melemah karena:

– banyak menangis,
– banyak menyalin kitab,
– dan banyak membaca.

Beliau juga sangat sering bersiwak hingga disebutkan:

«“Giginya seperti butiran es karena bersihnya.”»

Beliau pernah mengatakan bahwa tiga perkara terbesar yang seharusnya dimohon seorang hamba kepada Allah adalah:

keridaan Allah, melihat wajah Allah Yang Mahamulia, dan Firdaus yang tertinggi.

Ketika ditanya tentang karamah para ahli ibadah yang terkadang lebih banyak diceritakan daripada karamah para ulama, beliau menjawab dengan makna:

«“Kesibukan seorang ulama dengan ilmu itu sendiri merupakan karamah. Apakah kalian menginginkan karamah bagi para ulama yang lebih besar daripada kesibukan mereka dengan ilmu?”»

Kedermawanannya

Beliau sangat dermawan dan tidak menyimpan harta.

Jika memperoleh dinar atau dirham, beliau segera menginfakkannya.

Diceritakan bahwa malam hari beliau membawa keranjang-keranjang tepung secara sembunyi-sembunyi ke rumah orang miskin.

Beliau memberikannya dalam kegelapan sehingga penerimanya tidak mengetahui siapa yang memberi.

Terkadang beliau memperoleh pakaian sebagai hadiah, tetapi pakaian itu diberikan kepada orang lain sementara pakaian beliau sendiri bertambal.

Ibnu Qudamah berkata:

«“Al-Hafizh selalu mendahulukan orang lain dengan apa saja yang diperolehnya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.”»

Pernah seseorang memiliki utang 98 dirham. Ketika ia hendak melunasinya, pemberi utang berkata:

«“Engkau tidak lagi memiliki utang kepadaku.”»

Ia bertanya:

«“Siapa yang telah membayarnya?”»

Ternyata Abdul Ghani telah melunasinya dan meminta pemberi utang untuk merahasiakan hal tersebut.

Al-Afdhal bin Shalahuddin pernah mengirimkan kepadanya banyak nafkah dan gandum.

Beliau membagikan semuanya kepada manusia.

Pada masa kelaparan di Mesir, beliau sendiri pernah tidak makan selama tiga malam karena makanannya diberikan kepada orang lain.

Suatu ketika keluarganya mendapat hadiah buah aprikot. Beliau segera berkata:

«لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ»

“Kalian tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sampai kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai.”
(QS. Ali ‘Imran: 92)

Lalu beliau memerintahkan buah itu dibagikan.

Amar makruf nahi mungkar

Al-Hafizh Abdul Ghani sangat tegas dalam amar makruf nahi mungkar.

As-Suyuthi berkata:

«“Beliau memerintahkan yang makruf dan melarang kemungkaran. Dalam membela agama Allah, beliau tidak takut celaan orang yang mencela.”»

Adh-Dhiya’ berkata:

«“Beliau tidak melihat kemungkaran kecuali berusaha mengubahnya dengan tangan atau lisannya.”»

Pernah beliau melihat khamar lalu menumpahkannya.

Pemilik khamar menghunus pedang, tetapi Abdul Ghani tidak takut dan mengambil pedang tersebut dari tangannya.

Beliau memang memiliki tubuh yang kuat.

Di Damaskus beliau juga sering menghancurkan alat-alat musik yang dipandangnya sebagai kemungkaran.

Ibnu Qudamah berkata:

«“Al-Hafizh tidak mampu bersabar apabila melihat kemungkaran.”»

Pada suatu kejadian, Abdul Ghani bersama beberapa kawannya menumpahkan khamar milik suatu kelompok hingga terjadi perkelahian.

Ketika sebagian keluarganya menyalahkan tindakan itu, Abdul Ghani menghibur mereka dan membaca:

«وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ»

“Cegahlah dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.”
(QS. Luqman: 17)

Wibawanya

Allah memberikan kewibawaan yang besar kepada beliau.

Diceritakan bahwa sebagian putra Shalahuddin memiliki alat-alat musik. Ketika Abdul Ghani menemukannya, beliau menghancurkannya.

Sekelompok orang kemudian mengejar beliau dengan tongkat.

Namun seorang penunggang kuda datang, turun dari kudanya, mencium tangan al-Hafizh dan berkata:

«“Anak-anak muda itu tidak mengenal Anda.”»

Ketika beliau menemui al-Malik al-‘Adil, sang raja berdiri menghormatinya.

Diceritakan bahwa al-‘Adil berkata:

«“Aku tidak pernah takut kepada seseorang seperti rasa takutku kepada orang ini.”»

Orang bertanya:

«“Paduka, dia hanya seorang faqih. Mengapa Anda takut?”»

Ia menjawab:

«“Ketika ia masuk, seakan-akan yang kulihat adalah seekor singa.”»

Al-Malik al-‘Adil sendiri kemudian berkata kepada Abdul Ghani:

«“Tidak ada pada dirimu sesuatu yang tercela, baik dalam agama maupun dalam urusan dunia. Manusia memang pasti memiliki orang-orang yang dengki.”»

Sifat dan penampilannya

Adh-Dhiya’ menggambarkan fisiknya:

Beliau tidak berkulit putih pucat, tetapi cenderung sawo matang. Rambutnya bagus, janggutnya tebal, dahinya lebar, tubuhnya besar dan tinggi sempurna.

Disebutkan:

«“Seakan-akan cahaya keluar dari wajahnya.”»

Penglihatannya menjadi lemah karena banyak menangis, menyalin dan membaca kitab.

Adh-Dhiya’ berkata:

«“Aku tidak mengetahui seorang pun dari Ahlus Sunnah yang melihat al-Hafizh kecuali mencintai dan banyak memujinya.”»

Ketika berada di Isfahan, orang-orang berdiri di pasar untuk melihat beliau.

Di Mesir, ketika beliau berangkat salat Jumat, para muridnya sulit berjalan bersamanya karena banyaknya manusia yang mengelilinginya.

Beliau juga lembut kepada murid.

Suatu ketika para murid yang masih muda tertawa keras di sekelilingnya. Beliau hanya tersenyum dan tidak marah.

Ujian dan fitnah yang menimpanya

Abdul Ghani mengalami berbagai ujian berat.

Beliau pernah mengatakan:

«“Aku memohon kepada Allah agar diberi keadaan seperti Imam Ahmad.”»

Kemudian beliau mengalami berbagai ujian dan gangguan.

Di Isfahan beliau mengoreksi sekitar 290 kekeliruan Abu Nu‘aim dalam kitab tentang para sahabat.

Sebagian orang yang fanatik terhadap Abu Nu‘aim marah dan mengancam keselamatan beliau, sehingga Abdul Ghani harus meninggalkan Isfahan secara sembunyi-sembunyi.

Di Mosul beliau pernah membaca kitab tentang para perawi lemah karya al-‘Uqaili.

Karena isi kitab tersebut mengenai salah satu tokoh yang dihormati masyarakat setempat, beliau ditangkap dan dipenjara.

Mereka bahkan sempat berniat membunuhnya.

Akhirnya Allah menyelamatkannya.

Perselisihan mengenai masalah sifat Allah

Di Damaskus muncul perselisihan antara Abdul Ghani dan sebagian fuqaha mengenai beberapa persoalan sifat Allah dan Al-Qur’an.

Beliau membacakan hadis-hadis tentang sifat dan nuzul Allah berdasarkan pemahamannya terhadap metode para salaf.

Sebagian ahli kalam menuduhnya melakukan tajsim.

Terjadilah perdebatan yang keras.

Beberapa ulama dan pejabat kemudian menghadirkannya dalam suatu majelis.

Mereka meminta beliau menandatangani suatu rumusan akidah yang mereka buat, tetapi beliau menolak.

Perselisihan semakin besar hingga mimbar tempat beliau mengajar dihancurkan dan beliau akhirnya meninggalkan Damaskus.

Beliau pergi terlebih dahulu ke Ba‘labak.

Penduduk Ba‘labak bahkan menawarkan:

«“Apabila Anda mau, kami akan pergi bersama Anda ke Damaskus untuk menghadapi orang-orang yang menyakiti Anda.”»

Abdul Ghani menolak.

Kemudian beliau menuju Mesir.

Penilaian Imam adz-Dzahabi terhadap perselisihan tersebut

Adz-Dzahabi mengkritik sebagian riwayat yang menyebut seolah-olah seluruh fuqaha sepakat mengkafirkan Abdul Ghani.

Beliau menjelaskan bahwa ini berlebihan.

Karena di Damaskus ketika itu terdapat banyak ulama besar yang memiliki akidah yang sama atau dekat dengannya, seperti:

– saudaranya Syaikh al-‘Imad,
– Imam Muwaffaq ad-Din Ibnu Qudamah,
– Syaikh Abu Umar,
– Syamsuddin al-Bukhari,
– banyak ulama Hanabilah,
– dan sejumlah ahli hadis.

Mereka tidak mengkafirkan Abdul Ghani.

Adz-Dzahabi kemudian memberikan penilaian yang seimbang:

«“Bagaimanapun juga, al-Hafizh Abdul Ghani termasuk ahli agama, ilmu, ibadah dan orang yang terang-terangan menyampaikan kebenaran. Kebaikan-kebaikannya sangat banyak.”»

Beliau juga mengatakan bahwa yang paling sempurna dalam perkara sifat Allah ialah:

«“Berhenti pada lafaz-lafaz Al-Qur’an dan Sunnah. Inilah mazhab salaf رضي الله عنهم.”»

Lalu adz-Dzahabi berdoa agar Allah merahmati dan mengampuni semua pihak.

Karya-karya Al-Hafizh Abdul Ghani

Beliau mempunyai sangat banyak karya, terutama dalam bidang hadis.

Di antaranya:

الكمال في معرفة رجال الكتب الستة — al-Kamal fi Ma‘rifati Rijal al-Kutub as-Sittah

Salah satu karya terpenting beliau tentang para perawi enam kitab hadis.

Kitab ini kemudian menjadi dasar penting bagi karya-karya ilmu rijal setelahnya.

Di antaranya pula:

عمدة الأحكام — ‘Umdat al-Ahkam

Kitab hadis-hadis hukum yang sangat terkenal, terutama hadis yang disepakati oleh Imam al-Bukhari dan Muslim.

الأحكام الكبرى — al-Ahkam al-Kubra

الأحكام الصغرى — al-Ahkam ash-Shughra

المصباح في عيون الأحاديث الصحاح — al-Mishbah fi ‘Uyun al-Ahadits ash-Shihah

Kumpulan hadis Shahih al-Bukhari dan Muslim dengan sanad beliau sendiri, disebut mencapai puluhan juz.

نهاية المراد في السنن — Nihayat al-Murad fi as-Sunan

Karya besar dalam hadis yang disebut mencapai sekitar dua ratus juz, meskipun belum sempat disempurnakan.

تبيين الإصابة لأوهام حصلت لأبي نعيم في معرفة الصحابة

Karya yang mengoreksi berbagai kekeliruan Abu Nu‘aim dalam bidang pengenalan sahabat.

دُرَر الأثر — Durar al-Atsar

السيرة — as-Sirah

النصيحة في الأدعية الصحيحة

فضائل مكة

فضل رمضان

فضل عشر ذي الحجة

فضائل الحج

مناقب الصحابة

مناقب عمر بن عبد العزيز

محنة الإمام أحمد

ذم الرياء

ذم الغيبة

الترغيب في الدعاء

التهجد

الاقتصاد في الاعتقاد

dan puluhan karya lainnya.

Sebagian sumber menyebut jumlah karya beliau mencapai sekitar 46 judul atau lebih.

Kitab al-Kamal dan pengaruhnya

Di antara karya terbesar beliau ialah:

الكمال في معرفة الرجال

Kitab ini menghimpun biografi para perawi dalam:

– Shahih al-Bukhari,
– Shahih Muslim,
– Sunan Abi Dawud,
– Jami‘ at-Tirmidzi,
– Sunan an-Nasa’i,
– Sunan Ibn Majah.

Kitab ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan ilmu rijal.

Di kemudian hari, al-Hafizh al-Mizzi mengembangkan karya ini menjadi Tahdzib al-Kamal, yang kemudian menjadi dasar bagi karya-karya rijal berikutnya seperti Tahdzib at-Tahdzib karya Ibn Hajar.

Keluarga dan anak-anaknya

Abdul Ghani menikah dengan Rabi‘ah, putri pamannya Ahmad bin Muhammad bin Qudamah.

Dari pernikahan tersebut lahir beberapa anak:

Muhammad, yang kemudian menjadi al-Hafizh ‘Izzuddin Abu al-Fath.

Abdullah, yang menjadi al-Hafizh Jamaluddin Abu Musa.

Abdurrahman, yang menjadi seorang mufti dan dikenal sebagai Abu Sulaiman.

Dan seorang putri bernama Fathimah.

Anak-anak beliau juga menjadi ulama.

Sakit dan wafatnya

Pada bulan Rabiul Awal tahun 600 H, beliau mengalami sakit berat.

Sakit tersebut berlangsung sekitar enam belas hari hingga beliau kesulitan berbicara dan berdiri.

Putranya Abu Musa sering bertanya:

«“Apa yang ayah inginkan?”»

Beliau menjawab:

«“Aku menginginkan surga. Aku menginginkan rahmat Allah.”»

Beliau tidak mengatakan selain itu.

Pada hari Senin, putranya membawakan air hangat.

Abdul Ghani mengulurkan tangan sebagai tanda hendak berwudu.

Setelah berwudu pada waktu Subuh, beliau berkata:

«“Wahai Abdullah, berdirilah dan imamilah kami. Ringankan salatnya.”»

Putranya mengimami jamaah, sementara beliau salat dalam keadaan duduk.

Setelah jamaah selesai, putranya duduk di samping kepala beliau.

Abdul Ghani berkata:

«“Bacakan surat Yasin.”»

Putranya membacakannya.

Beliau berdoa dan putranya mengaminkan.

Putranya kemudian berkata:

«“Ada obat di sini. Apakah ayah ingin meminumnya?”»

Beliau menjawab:

«“Wahai anakku, tidak tersisa lagi kecuali kematian.”»

Putranya bertanya:

«“Apakah ayah menginginkan sesuatu?”»

Beliau menjawab:

«“Aku ingin melihat wajah Allah سبحانه وتعالى.”»

Putranya bertanya:

«“Apakah ayah rida kepadaku?”»

Beliau menjawab:

«“Ya, demi Allah.”»

Beliau juga menyatakan keridaannya kepada saudara-saudaranya.

Kemudian putranya meminta wasiat.

Abdul Ghani berkata:

«“Aku mewasiatkan kepadamu agar bertakwa kepada Allah dan senantiasa menjaga ketaatan kepada-Nya.”»

Ketika beberapa orang datang menjenguk dan mulai berbicara, beliau berkata:

«“Apa ini? Berdzikirlah kepada Allah. Ucapkan: لا إله إلا الله.”»

Setelah mereka pergi, bibir beliau terus bergerak berdzikir kepada Allah.

Tidak lama kemudian ruhnya keluar.

Beliau wafat pada hari Senin, 23 Rabiul Awal tahun 600 H.

Jenazahnya dimakamkan pada hari Selasa di al-Qarafah, Mesir.

Banyak ulama, pejabat dan masyarakat menghadiri pemakamannya.

Pujian para ulama

As-Suyuthi menyebutnya:

«“Al-Hafizh, imam, muhaddits Islam, Taqiyuddin Abu Muhammad al-Maqdisi.”»

Adz-Dzahabi menyebutnya:

«“Imam, alim, al-Hafizh al-Kabir, orang yang jujur, teladan, ahli ibadah, atsari, pengikut sunnah, ulama para huffazh.”»

Taj al-Kindi berkata:

«“Setelah ad-Daraquthni tidak ada orang seperti al-Hafizh Abdul Ghani.”»

Ibnu Qudamah berkata:

«“Allah menyempurnakan keutamaannya dengan ujian berupa gangguan ahli bid‘ah dan permusuhan mereka kepadanya, serta dengan diberikannya ilmu dan banyak kitab.”»

Abu Musa al-Madini menuliskan tentang kemampuan ilmiahnya:

«“Sedikit sekali orang yang datang kepada kami yang memahami bidang ini sebagaimana pemahaman Syaikh Imam Abdul Ghani al-Maqdisi.”»

Beliau bahkan mengatakan bahwa seandainya ad-Daraquthni dan ulama-ulama sekelasnya masih hidup, mereka akan membenarkan ketelitian Abdul Ghani dalam kritik hadis.

Kesimpulan

Al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi رحمه الله merupakan salah seorang imam besar Ahlul Hadis abad keenam Hijriah.

Keistimewaannya terkumpul dalam beberapa perkara:

hafalan hadis yang luar biasa,
penguasaan ilmu rijal,
perjalanan ilmiah yang luas,
produktivitas dalam menulis,
ibadah dan zuhud,
kedermawanan,
keberanian dalam amar makruf nahi mungkar,
serta keteguhan menghadapi ujian.

Beliau adalah sahabat dan sepupu dekat Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi, tetapi keduanya memiliki spesialisasi yang sedikit berbeda:

Ibnu Qudamah sangat menonjol dalam fikih, sedangkan
Abdul Ghani al-Maqdisi sangat menonjol dalam hadis.

Keduanya menjadi dua tokoh besar keluarga al-Maqdisi yang memberikan pengaruh sangat besar bagi perkembangan ilmu Islam di Damaskus dan dunia Islam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button