Biografi Al-‘Allamah Al-Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah

Biografi Al-‘Allamah Al-Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa kita serta keburukan amal-amal kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ﴾
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, lalu darinya Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian.”
(QS. An-Nisa’: 1)
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Dia memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia telah memperoleh kemenangan yang besar.”
(QS. Al-Ahzab: 70–71)
Amma ba‘du:
Berikut ini adalah biografi singkat Imam, al-‘Allamah, ahli hadis sekaligus ahli fikih, Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani رحمه الله Diambil dari tesis yang diajukan untuk memperoleh gelar magister pada tahun 1433 H, yang berjudul:
“Kaidah-Kaidah Hadis dalam Muqaddimah Kitab Tamam al-Minnah fi at-Ta‘liq ‘ala Fiqh as-Sunnah karya Syekh al-Albani رحمه الله — Sebuah Studi Analitis.”
Mengenal Syekh Al-Albani
Pembahasan Pertama: Kepribadian Al-Albani dan Kehidupan Umumnya
Nama dan Nasabnya
Beliau adalah ahli hadis pada zamannya, Imam dan al-‘Allamah, Muhammad bin Nuh Najati, yang terkenal dengan nama Muhammad Nashiruddin al-Albani, berkunyah Abu Abdurrahman, dinisbatkan kepada putra tertuanya.
Lihat: Muhammad Nashiruddin al-Albani: Muhaddits al-‘Ashr wa Nashir as-Sunnah, Ibrahim Muhammad al-‘Ali, Dar al-Qalam, Damaskus, cet. 2, 2003 M, hlm. 11; Tarjamah Mujazah li Fadhilah al-Muhaddits asy-Syaikh Abi Abdirrahman Muhammad Nashiruddin al-Albani, ‘Ashim Abdullah al-Qaryuti, Dar al-Madani, Jeddah, hlm. 3; Ar-Raudh ad-Dani fi al-Fawa’id al-Haditsiyyah lil-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani, ‘Isham Musa Hadi, al-Maktabah al-Islamiyyah, Amman, Yordania, cet. 1, 1422 H, hlm. 7.
Kelahirannya
Syekh al-Albani dilahirkan di kota Shkodra, yang ketika itu merupakan ibu kota Albania, pada tahun 1332 H, bertepatan dengan 1914 M.
Lihat: Hayat al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana’ al-‘Ulama’ ‘Alaih, Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani, Maktabah as-Sarawi, Kairo, cet. 1, 1407 H/1987 M, jilid 1, hlm. 44; Ahdats Mutsirah fi Hayat asy-Syaikh al-‘Allamah al-Albani, Muhammad Shalih al-Munajjid, disunting oleh Muhammad Hamid Muhammad, Dar al-Iman, Mesir, cet. 1, 2000 M, hlm. 8; Shafahat Baidha’ min Hayat al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani, Abu Asma’ al-Mishri ‘Athiyyah bin Shidqi Ali Salim ‘Audah, Dar al-Atsar, Mesir, cet. 2, 1422 H/2001 M, hlm. 19.
Pertumbuhannya
Beliau tumbuh dalam keluarga yang taat beragama dan sangat kental dengan suasana keilmuan. Ayah beliau, Haji Nuh Najati al-Albani, merupakan lulusan lembaga-lembaga pendidikan syariat di ibu kota Daulah Utsmaniyyah, yaitu Astana, yang sekarang dikenal dengan Istanbul. Setelah menyelesaikan pendidikannya, beliau kembali ke negerinya untuk mengabdi kepada agama dan mengajarkan ilmu yang telah dipelajari dan diterimanya, hingga menjadi seorang rujukan yang didatangi masyarakat untuk mengambil ilmu darinya.
Setelah Raja Ahmad Zogu mengambil alih pemerintahan Albania, ia mulai membawa negeri tersebut menuju sekularisasi dan meniru Barat dalam berbagai pola kehidupannya. Ia memaksa perempuan Muslim Albania membuka hijab, dan mewajibkan kaum laki-laki memakai pakaian Eropa seperti celana panjang dan topi, sebagaimana keadaan di Turki setelah runtuhnya kekhilafahan.
Sejak saat itu, mulailah hijrah orang-orang yang ingin mempertahankan agama mereka dan khawatir terhadap akibat buruk yang akan terjadi. Ayah Syekh al-Albani pun merasa cemas dan memperkirakan keadaan akan semakin buruk. Karena itu beliau memutuskan berhijrah ke negeri Syam demi menyelamatkan agamanya serta menjaga anak-anaknya dari berbagai fitnah.
Pilihan beliau jatuh pada kota Damaskus, yang sebelumnya telah beliau kenal ketika melewatinya dalam perjalanan pergi dan pulang dari ibadah haji.
Lihat: Hayat al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana’ al-‘Ulama’ ‘Alaih, Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani, jilid 1, hlm. 44–45. Lihat pula: Ahdats Mutsirah fi Hayat asy-Syaikh al-‘Allamah al-Albani, Muhammad Shalih al-Munajjid, hlm. 8; Tarjamah Mujazah li Fadhilah al-Muhaddits asy-Syaikh Abi Abdirrahman Muhammad Nashiruddin al-Albani, ‘Ashim Abdullah al-Qaryuti, hlm. 3–4.
Syekh al-Albani رحمه الله menjelaskan besarnya jasa ayahnya terhadap pendidikan dan pembentukan dirinya ketika sang ayah berhijrah membawanya dari Shkodra, ibu kota Albania saat itu, menuju negeri Syam. Beliau berkata:
“Pada kesempatan ini, sebagai penjelasan sejarah dan sebagai rasa terima kasih kepada ayahku رحمه الله تعالى, aku berhak mengatakan: Dalam hadis tersebut juga terdapat kabar gembira bagi kami, keluarga ayahku, yang berhijrah bersama keluarganya dari negerinya, Shkodra, ibu kota Albania ketika itu, demi menyelamatkan agama dari revolusi Ahmad Zogu—semoga Allah menyimpangkan hatinya—yang mulai memperlakukan kaum Muslim Albania sebagaimana pendahulunya, Ataturk, memperlakukan kaum Muslim Turki.
Dengan karunia dan rahmat Allah, berkat hijrah beliau ke Damaskus, negeri Syam, aku memperoleh sesuatu yang aku tidak akan mampu menunaikan kewajiban syukur kepada Rabb-ku atasnya sekalipun aku hidup sepanjang umur Nabi Nuh عليه الصلاة والسلام.
Di sana aku pertama kali mempelajari bahasa Arab dialek Suriah, kemudian bahasa Arab fusha. Hal itu memungkinkanku mengetahui tauhid yang benar, yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang Arab di sekitarku—apalagi keluarga dan kaumku—kecuali sedikit dari mereka.
Kemudian Allah memberiku taufik, dengan karunia dan kemurahan-Nya, tanpa bimbingan seorang pun dari mereka, untuk mempelajari hadis dan Sunnah, baik dari sisi ushul maupun fikihnya. Sebelumnya aku telah belajar kepada ayahku dan beberapa syekh lainnya sebagian fikih Hanafi serta ilmu-ilmu alat seperti nahwu, sharaf, dan balaghah, setelah lulus dari Sekolah Dasar al-Is‘af al-Khairi.”
Lihat: Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, Maktabah al-Ma‘arif, Riyadh, 1415 H/1995 M, jilid 7, hlm. 615–616.
Keturunannya
Syekh al-Albani berkata:
“Di antara taufik Allah عز وجل kepadaku adalah bahwa Dia mengilhamkanku untuk memberi nama seluruh anakku dengan nama-nama yang menunjukkan penghambaan kepada-Nya. Mereka adalah: Abdurrahman, Abdul Latif, dan Abdurrazzaq dari istriku yang pertama رحمه الله تعالى; serta Abdul Mushawwir dan Abdul A‘la dari istriku yang lainnya.
Adapun nama yang keempat, aku rasa belum ada seorang pun yang mendahuluiku dalam menggunakannya, meskipun aku telah banyak menemukan berbagai nama dalam kitab-kitab biografi perawi. Kemudian beberapa orang yang mencintaiku mengikuti penamaan tersebut, termasuk salah seorang syekh yang mulia.
Kemudian pada tahun 1383 H, ketika aku berada di Madinah al-Munawwarah, aku dikaruniai seorang anak laki-laki lalu aku menamainya Muhammad. Pada tahun 1386 H, aku dikaruniai seorang adik laki-laki baginya, lalu aku menamainya Abdul Muhaimin. Segala puji bagi Allah atas taufik-Nya.”
Lihat: Silsilah al-Ahadits adh-Dha‘ifah wa al-Maudhu‘ah wa Atsaruha as-Sayyi’ fi al-Ummah, Dar al-Ma‘arif, Riyadh, Arab Saudi, cet. 1, 1412 H/1992 M, jilid 6, hlm. 629–630.
Anak-anak Syekh al-Albani رحمه الله secara berurutan adalah sebagai berikut:
Dari istri pertama: Abdurrahman, Abdul Latif, dan Abdurrazzaq.
Dari istri kedua: Abdul Mushawwir, Abdul A‘la, Muhammad, Abdul Muhaimin, Anisah, Asiyah, Salamah, Hassanah, dan Sakinah.
Dari istri ketiga: Hibatullah.
Dari istri keempat: beliau tidak dikaruniai anak.
Lihat: Hayat al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana’ al-‘Ulama’ ‘Alaih, Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani, jilid 1, hlm. 81.
Wafatnya
Syekh al-Albani رحمه الله تعالى wafat pada penghujung sore hari Sabtu, 22 Jumadil Akhir 1420 H, bertepatan dengan 2 Oktober 1999 M, dalam usia sekitar 88 tahun.
Yang menyalatkan jenazah beliau adalah muridnya, Syekh Ibrahim Syaqrah. Pada saat pemakamannya berkumpul saudara-saudaranya, anak-anaknya, murid-muridnya, orang-orang yang mencintainya, sahabat-sahabatnya, serta kerabatnya. Jumlah mereka diperkirakan mencapai 5.000 orang atau lebih.
Beliau dimakamkan pada hari wafatnya di ibu kota Amman, pada sebuah bukit yang dikenal sebagai al-Hamlan, di dekat pemakaman khusus yang berada di samping rumah beliau.
Semoga Allah melimpahkan rahmat yang luas kepada beliau.
Lihat: Ahdats Mutsirah fi Hayat asy-Syaikh al-‘Allamah al-Albani, Muhammad Shalih al-Munajjid, hlm. 46; Shafahat Baidha’ min Hayat al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani, hlm. 100; Al-Imam al-Albani: Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar, Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sadhan, diberi pengantar oleh Abdullah bin ‘Aqil, Dar at-Tauhid, Riyadh, cet. 1, 1429 H/2008 M, hlm. 292; Hushul at-Tahani bil-Kutub al-Muhdah ila Muhaddits asy-Syam Muhammad Nashiruddin al-Albani, Jamal ‘Azzun, jilid 1, hlm. 23.
Pembahasan Kedua: Kepribadian Al-Albani dan Kehidupan Ilmiahnya
Perjalanannya dalam Menuntut Ilmu
Setelah menetap di negeri Syam, awal perjalanan beliau dalam menuntut ilmu adalah dengan masuk ke Sekolah Dasar al-Is‘af al-Khairiyyah di Damaskus. Beliau terus belajar hingga hampir menyelesaikan jenjang sekolah dasar.
Pada masa itu berkecamuk revolusi Suriah melawan penjajah Prancis. Sekolah beliau mengalami kebakaran hingga rusak, sehingga mereka pindah ke sekolah lain di kawasan Souq Sarouja. Di sanalah Syekh al-Albani menyelesaikan pendidikan dasarnya.
Karena ayah beliau memiliki pandangan yang kurang baik terhadap sekolah-sekolah formal dari sisi agama, beliau memutuskan agar putranya tidak melanjutkan pendidikan formal, dan sebagai gantinya menyusun program pendidikan ilmiah khusus untuknya.
Lihat: Hayat al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana’ al-‘Ulama’ ‘Alaih, Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani, jilid 1, hlm. 45; lihat pula: Tarjamah Mujazah li Fadhilah al-Muhaddits asy-Syaikh Abi Abdirrahman Muhammad Nashiruddin al-Albani, ‘Ashim Abdullah al-Qaryuti, hlm. 4.
Sejak kecil beliau telah menerima ilmu dari ayahnya. Beliau belajar bahasa Arab dan fikih Hanafi. Beliau juga mengambil ilmu dari beberapa sahabat ayahnya, di antaranya Syekh Sa‘id al-Burhani, kepada siapa beliau membaca kitab Maraqi al-Falah serta beberapa kitab modern dalam ilmu balaghah.
Syekh al-Albani mulai mencintai ilmu hadis ketika berusia sekitar dua puluh tahun. Hal itu bermula dari kegemarannya membaca majalah Al-Manar karya Rasyid Ridha, yang memuat berbagai kajian tentang ilmu hadis dan kritik terhadap sejumlah kitab berdasarkan metodologi ahli hadis.
Sejak saat itu beliau رحمه الله تعالى mencurahkan perhatian sangat besar kepada ilmu hadis, mempelajari dan mendalaminya, hingga menjadi sangat ahli di bidang tersebut. Keahlian beliau diakui oleh para ulama besar pada zamannya, baik dari kalangan yang sejalan maupun yang berbeda pendapat dengannya.
Lihat: Ar-Raudh ad-Dani fi al-Fawa’id al-Haditsiyyah lil-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani, ‘Isham Musa Hadi, hlm. 7–8.
Guru-Gurunya
Syekh al-Albani رحمه الله tidak memiliki banyak guru. Guru-guru beliau relatif sedikit. Di antara mereka adalah:
Ayah beliau, Haji Nuh bin Adam al-Albani: darinya beliau mempelajari Al-Qur’an, tajwid, sharaf, dan fikih mazhab Hanafi.
Syekh Sa‘id al-Burhani: kepadanya beliau membaca kitab Maraqi al-Falah dalam mazhab Hanafi serta beberapa kitab modern dalam ilmu balaghah.
Syekh Muhammad Raghib ath-Thabbakh: beliau merupakan salah seorang ulama besar Aleppo pada zamannya. Beliau termasuk guru Syekh al-Albani melalui jalur ijazah, karena memberikan ijazah hadis kepada beliau.
Lihat sumber sebelumnya; juga Hayat al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana’ al-‘Ulama’ ‘Alaih, Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani, jilid 1, hlm. 45.
Murid-Muridnya
Perjalanan Syekh al-Albani رحمه الله dan perpindahannya dari satu negeri ke negeri lainnya mempunyai pengaruh besar terhadap banyaknya murid yang mengambil ilmu dan menimba pengetahuan darinya.
Di antara murid-murid beliau yang terkenal adalah:
Ihsan Ilahi Zhahir رحمه الله, Basim Faisal al-Jawabirah, Husain ‘Audah al-‘Awayisyah, Rabi‘ bin Hadi al-Madkhali, Ali Hasan al-Halabi, Muqbil bin Hadi al-Wadi‘i رحمه الله, Masyhur Hasan Al Salman, dan Muhammad Jamil Zainu.
Selain mereka, masih banyak lagi kalangan ulama dan orang-orang utama yang mengambil ilmu dari beliau atau lama menyertai beliau رحمه الله تعالى.
Lihat: Hayat al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana’ al-‘Ulama’ ‘Alaih, jilid 1, hlm. 94–106; Shafahat Baidha’ min Hayat al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani, hlm. 51–62.
Karya-Karyanya
Syekh al-Albani رحمه الله meninggalkan sejumlah karya yang bermanfaat, tahqiq ilmiah yang bernilai tinggi, serta komentar dan catatan yang sangat berharga.
Di antara karya-karya beliau yang paling terkenal adalah:
Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah.
Kitab ini dicetak dalam beberapa edisi, di antaranya oleh Maktabah Dar al-Ma‘arif, Riyadh, 1415 H/1995 M, sebanyak tujuh jilid.
Silsilah al-Ahadits adh-Dha‘ifah wa al-Maudhu‘ah wa Atsaruha as-Sayyi’ fi al-Ummah.
Dicetak dalam beberapa edisi, di antaranya oleh Maktabah Dar al-Ma‘arif, Riyadh, Arab Saudi, cet. 1, 1412 H/1992 M, sebanyak empat belas jilid.
Irwa’ al-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar as-Sabil.
Dicetak dalam beberapa edisi, di antaranya oleh al-Maktab al-Islami, Beirut, cet. 2, 1405 H/1985 M, sebanyak delapan jilid.
Tahqiq kitab Misykat al-Mashabih karya Muhammad bin Abdullah al-Khatib at-Tabrizi. Dicetak dalam beberapa edisi, di antaranya oleh al-Maktab al-Islami, Beirut, cet. 3, 1405 H/1985 M, sebanyak tiga jilid.
At-Ta‘liqat ar-Radhiyyah ‘ala ar-Raudhah an-Nadiyyah. Dicetak dalam beberapa edisi, di antaranya oleh Dar al-Qayyim, Arab Saudi, dan Dar Ibn ‘Affan, Kairo, cet. 1, 1423 H/2003 M, sebanyak tiga jilid.
Dan masih sangat banyak karya lainnya. Untuk rincian karya-karya dan tahqiq beliau, lihat: Hayat al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana’ al-‘Ulama’ ‘Alaih, Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani, jilid 2, hlm. 622–905; Shafahat Baidha’ min Hayat al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani, hlm. 64–92; Tarjamah Mujazah li Fadhilah al-Muhaddits asy-Syaikh Abi Abdirrahman Muhammad Nashiruddin al-Albani, hlm. 22–35; Juhud asy-Syaikh al-Albani fi al-Hadits Riwayatan wa Dirayatan, Abdurrahman bin Muhammad bin Shalih al-‘Aizari, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh, cet. 1, 1427 H/2006 M, hlm. 50–89; Al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah lil-Imam al-Albani, Ibrahim Abu Syadi, Dar al-Ghad al-Jadid, Kairo, cet. 1, 1427 H/2006 M, hlm. 21–31.
Perkataan Para Imam dan Ulama tentang Beliau
Para ulama adalah pewaris para nabi. Mereka merupakan teladan dan panutan. Pujian manusia terhadap seorang Muslim termasuk kabar gembira yang disegerakan baginya di dunia. Terlebih jika yang memberikan pujian adalah orang-orang pilihan di tengah masyarakat, yaitu para ulama yang kokoh ilmunya, penuntut ilmu, dan para dai yang menyeru kepada kebaikan.
Imam al-Albani رحمه الله تعالى memperoleh bagian besar dari pujian dan kecintaan mereka—insya Allah. Mudah-mudahan hal tersebut termasuk kabar gembira yang disegerakan bagi beliau, sebagai balasan atas jasa beliau dalam melayani Sunnah, baik dengan tulisan maupun lisan, serta berbagai usaha beliau lainnya yang diberkahi.
Lihat: Al-Imam al-Albani: Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar, Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sadhan, hlm. 217.
Murid beliau, Ali Hasan al-Halabi, berkata:
“Hampir dapat dikatakan bahwa para ulama Ahlus Sunnah kontemporer—semoga Allah merahmati yang telah wafat dan menjaga yang masih hidup—bersepakat, segala puji bagi Allah, mengenai kedudukan imamah dan keilmuan guru sekaligus ayah kami, al-‘Allamah al-Muhaddits Abu Abdurrahman Muhammad Nashiruddin al-Albani, yang wafat pada tahun 1420 H—semoga Allah meliputinya dengan rahmat-Nya. Pernyataan mereka mengenai hal tersebut sangat banyak, tersebar, dikenal, dan penuh kebaikan.”
Lihat: Ad-Durar al-Mutala’li’ah bi Naqdh al-Imam al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani رحمه الله Firyata Muwafaqatihi al-Murji’ah, Maktabah al-Furqan, Uni Emirat Arab, cet. 1, 1423 H/2002 M, hlm. 6.
Berikut beberapa pernyataan ulama mengenai beliau.
Syekh Muhammad bin Ibrahim رحمه الله berkata:
“Beliau adalah seorang pengikut Sunnah, pembela kebenaran, dan orang yang menghadapi ahli kebatilan.”
Lihat: Al-Imam al-Albani: Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar, Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sadhan, hlm. 217.
Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz رحمه الله berkata:
“Aku tidak pernah melihat di bawah kolong langit pada zaman modern ini seorang ulama yang lebih mengetahui hadis daripada al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani.”
Lihat: Hayat al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana’ al-‘Ulama’ ‘Alaih, Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani, jilid 1, hlm. 66.
Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin رحمه الله berkata tentang beliau:
“Beliau memiliki ilmu yang sangat luas dalam bidang hadis, baik dari sisi riwayah maupun dirayah. Allah Ta‘ala telah memberi manfaat kepada banyak manusia melalui apa yang beliau tulis, baik dari sisi ilmu, metode, maupun arah perhatian kepada ilmu hadis. Ini merupakan buah yang sangat besar bagi kaum Muslimin, segala puji bagi Allah.”
Lihat: Ar-Raudh ad-Dani fi al-Fawa’id al-Haditsiyyah lil-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani, ‘Isham Musa Hadi, hlm. 8.
Syekh Bakr bin Abdullah Abu Zaid رحمه الله berkata:
“Kedudukan ilmiah al-Albani telah tertanam di dalam jiwa para ulama, demikian pula pembelaannya terhadap Sunnah dan akidah salaf. Hal ini tidak akan diperselisihkan kecuali oleh musuh yang bodoh. Adapun penilaian akhirnya, kami serahkan kepada para pembaca sehingga kami tidak perlu memperpanjang pembahasan.”
Luhat: Ar-Rudud, Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Dar al-‘Ashimah, cet. 1, 1414 H, hlm. 344.
Perkataan para ulama mengenai Syekh al-Albani رحمه الله jauh lebih banyak daripada yang dapat dihitung. Cukuplah beberapa contoh tersebut bagi kita. Untuk mengetahui lebih banyak pernyataan para ulama tentang beliau, lihat: Hayat al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana’ al-‘Ulama’ ‘Alaih, Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani, jilid 2, hlm. 540–563; Tarjamah Mujazah li Fadhilah al-Muhaddits asy-Syaikh Abi Abdirrahman Muhammad Nashiruddin al-Albani, ‘Ashim Abdullah al-Qaryuti, hlm. 15–19.
Daftar Sumber dan Referensi
Ahdats Mutsirah fi Hayat asy-Syaikh al-‘Allamah al-Albani, Muhammad Shalih al-Munajjid, disunting oleh Muhammad Hamid Muhammad, Dar al-Iman, Mesir, cet. 1, 2000 M.
Al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah lil-Imam al-Albani, Ibrahim Abu Syadi, Dar al-Ghad al-Jadid, Kairo, cet. 1, 1427 H/2006 M.
Al-Imam al-Albani: Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar, Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sadhan, diberi pengantar oleh Abdullah bin ‘Aqil, Dar at-Tauhid, Riyadh, cet. 1, 1429 H/2008 M.
Tarjamah Mujazah li Fadhilah al-Muhaddits asy-Syaikh Abi Abdirrahman Muhammad Nashiruddin al-Albani, ‘Ashim Abdullah al-Qaryuti, Dar al-Madani, Jeddah.
Juhud asy-Syaikh al-Albani fi al-Hadits Riwayatan wa Dirayatan, Abdurrahman bin Muhammad bin Shalih al-‘Aizari, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh, cet. 1, 1427 H/2006 M.
Hushul at-Tahani bil-Kutub al-Muhdah ila Muhaddits asy-Syam Muhammad Nashiruddin al-Albani, Jamal ‘Azzun, Maktabah al-Ma‘arif, Riyadh, cet. 1, 1428 H.
Hayat al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana’ al-‘Ulama’ ‘Alaih, Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani, Maktabah as-Sarawi, Kairo, cet. 1, 1407 H/1987 M.
Ad-Durar al-Mutala’li’ah bi Naqdh al-Imam al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani رحمه الله Firyata Muwafaqatihi al-Murji’ah, Maktabah al-Furqan, Uni Emirat Arab, cet. 1, 1423 H/2002 M.
Ar-Rudud, Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Dar al-‘Ashimah, cet. 1, 1414 H.
Ar-Raudh ad-Dani fi al-Fawa’id al-Haditsiyyah lil-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani, ‘Isham Musa Hadi, al-Maktabah al-Islamiyyah, Amman, Yordania.
Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, Muhammad Nashiruddin al-Albani, Maktabah al-Ma‘arif, Riyadh, 1415 H/1995 M.
Silsilah al-Ahadits adh-Dha‘ifah wa al-Maudhu‘ah wa Atsaruha as-Sayyi’ fi al-Ummah, Muhammad Nashiruddin al-Albani, Dar al-Ma‘arif, Riyadh, Arab Saudi, cet. 1, 1412 H/1992 M.
Shafahat Baidha’ min Hayat al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani, Abu Asma’ al-Mishri ‘Athiyyah bin Shidqi Ali Salim ‘Audah, Dar al-Atsar, Mesir, cet. 2, 1422 H/2001 M.
Muhammad Nashiruddin al-Albani: Muhaddits al-‘Ashr wa Nashir as-Sunnah, Ibrahim Muhammad al-‘Ali, Dar al-Qalam, Damaskus, cet. 2, 2003 M.



