Abdullah bin Ahmad bin Muhammad al-Maqdisi, Abu Muhammad Muwaffaq ad-Din Ibnu Qudamah

Abdullah bin Ahmad bin Muhammad al-Maqdisi, Abu Muhammad Muwaffaq ad-Din
Ibnu Qudamah رحمه الله
Wafat: 620 H
Muwaffaq ad-Din Ibnu Qudamah adalah Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Qudamah bin Miqdam bin Nashr, Syaikhul Islam Muwaffaq ad-Din Abu Muhammad al-Jamma‘ili ad-Dimasyqi ash-Shalihi al-Hanbali, seorang ulama besar yang memiliki banyak karya tulis.
Beliau lahir di Jamma‘il pada bulan Sya‘ban tahun 541 H dan wafat pada tahun 620 H. Beliau berhijrah bersama ayah dan saudaranya. Sejak kecil beliau telah menghafal Al-Qur’an dan tekun menuntut ilmu. Kemudian beliau melakukan perjalanan ke Baghdad bersama sepupunya, al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, serta mendengar hadis dan mengambil ilmu dari banyak syaikh di berbagai negeri.
Ringkasan biografi
Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Ahmad bin Muhammad al-Maqdisi, Abu Muhammad Muwaffaq ad-Din.
Beliau lahir pada tahun 541 H/1146 M, wafat tahun 620 H/1222 M, dalam usia sekitar 79 tahun.
Tempat kelahirannya adalah Jamma‘il, Palestina, sedangkan beliau wafat di Damaskus, Suriah. Di antara negeri dan kota yang pernah beliau tinggali atau kunjungi adalah Makkah, Mosul, Baghdad, Damaskus, dan Baitul Maqdis.
Beliau belajar kepada banyak ulama, di antaranya Muhammad bin Ali bin Nashr Ibn al-Baththi, Yahya bin Tsabit ad-Dinawari, Nafisah binti Muhammad al-Bazzazah, Syuhdah binti Abi Nashr al-Ibari, Abdullah bin Ahmad ath-Thusi, dan puluhan ulama lainnya.
Banyak pula ulama yang menjadi murid atau meriwayatkan darinya, seperti Syams ad-Din Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad bin Qudamah, al-Mundziri, adh-Dhiya’ al-Maqdisi, Abu Syamah, dan lain-lain.
Beliau dikenal sebagai seorang imam dalam hadis, seorang ahli hadis yang hujjah, tsiqah, dermawan, sangat cerdas, dan memiliki banyak keutamaan.
Di antara karya beliau adalah al-Mughni, al-Kafi, al-Muqni‘, al-‘Umdah, Raudhah an-Nazhir, Lum‘at al-I‘tiqad, Dzamm at-Ta’wil, Mas’alat al-‘Uluw, Kitab at-Tawwabin, dan banyak karya lainnya.
Biografi dalam al-Maqshad al-Arsyad
Beliau adalah Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Maqdisi, berasal dari Palestina, kemudian tinggal di Damaskus, daerah ash-Shalihiyyah. Beliau adalah seorang faqih, zahid, Syaikhul Islam dan salah seorang imam besar.
Beliau membaca dan menghafal Al-Qur’an serta menghafal kitab Mukhtashar al-Khiraqi. Beliau mendengar ilmu dari ayahnya, Abu al-Makarim Ibn Hilal, Abu al-Ma‘ali Ibn Shabir, dan ulama-ulama lainnya.
Kemudian beliau pergi ke Baghdad bersama sepupunya, al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi. Di sana keduanya mendengar banyak hadis dari Hibah Allah ad-Daqqaq, Ibn al-Baththi, Sa‘dullah ad-Dajjaji, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan banyak ulama lainnya.
Beliau tinggal bersama Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam waktu singkat dan membaca kitab al-Khiraqi kepadanya. Setelah Syaikh Abdul Qadir wafat, beliau terus belajar kepada Abu al-Fath Ibn al-Manni. Kepadanya beliau mempelajari fikih mazhab Hanbali, ilmu khilaf dan ushul fikih hingga mencapai tingkat keilmuan yang sangat tinggi.
Beliau tinggal di Baghdad sekitar empat tahun, kemudian kembali ke Damaskus. Setelah itu beliau kembali lagi ke Baghdad, lalu kembali ke Damaskus.
Beliau kemudian menyibukkan dirinya dengan menulis salah satu kitab besar Islam, yaitu al-Mughni. Beliau bersungguh-sungguh dalam menyusunnya dan menghasilkan sebuah kitab yang sangat baik dalam menjelaskan mazhab Hanbali. Banyak orang membacakan kitab itu kepadanya dan banyak manusia memperoleh manfaat dari ilmunya.
Beliau tumbuh dalam kebaikan dan ibadah sebagaimana ayah dan saudaranya, Syaikh Abu Umar. Kesibukan utama beliau adalah fikih dan ilmu.
Sibth Ibn al-Jauzi berkata:
“Beliau adalah seorang imam dalam berbagai cabang ilmu. Pada zamannya, setelah saudaranya Abu Umar dan al-‘Imad, tidak ada orang yang lebih zuhud dan lebih wara‘ darinya. Beliau sangat pemalu, menjauh dari dunia dan para pencintanya, lembut, rendah hati, mencintai orang-orang miskin, berakhlak baik, dermawan dan murah hati. Orang yang melihatnya seakan-akan melihat sebagian sahabat Nabi. Seakan-akan cahaya memancar dari wajahnya.”
Beliau sangat tekun beribadah. Dalam setiap siang dan malam beliau membaca sekitar sepertujuh Al-Qur’an. Beliau biasa melaksanakan salat sunnah di rumahnya.
Sibth Ibn al-Jauzi juga mengatakan bahwa dirinya menyaksikan pada diri Syaikh Abu Umar, saudaranya Muwaffaq ad-Din, dan kerabat mereka al-‘Imad, sifat-sifat luhur yang biasa diceritakan tentang para sahabat dan para wali pilihan.
Para imam besar memberikan banyak pujian kepada Ibnu Qudamah, di antaranya Ibn an-Najjar, Umar Ibn al-Hajib dan Abu Syamah.
Adh-Dhiya’ bahkan menulis biografi dan keutamaan beliau dalam dua jilid. Adh-Dhiya’ menyatakan bahwa beliau adalah:
“Imam dalam Al-Qur’an dan tafsirnya, imam dalam hadis dan persoalan-persoalan rumitnya, imam dalam fikih—bahkan satu-satunya yang menonjol pada zamannya dalam fikih—imam dalam ilmu khilaf, imam dalam faraidh, imam dalam ushul fikih, imam dalam nahwu, imam dalam ilmu hitung, serta mengetahui ilmu tentang peredaran bintang dan tempat-tempatnya.”
Ketika beliau berada di Baghdad, gurunya Abu al-Fath Ibn al-Manni berkata kepadanya:
“Menetaplah di sini, karena Baghdad membutuhkanmu. Jika engkau meninggalkannya, tidak akan ada orang seperti dirimu yang menggantikanmu di Baghdad.”
Al-‘Imad sangat menghormati Ibnu Qudamah. Ia duduk di hadapan beliau seperti seorang murid duduk di hadapan gurunya.
Ibn Ghunaimah berkata:
“Aku tidak mengetahui seorang pun pada zaman kita yang telah mencapai derajat ijtihad selain al-Muwaffaq.”
Abu Amr Ibn ash-Shalah berkata:
“Aku tidak pernah melihat orang seperti Syaikh al-Muwaffaq.”
Ibnu Qudamah mempunyai banyak karya dalam bidang ushuluddin, ushul fikih, bahasa, nasab, zuhud, raqa’iq, dan ilmu-ilmu lainnya.
Disebutkan:
“Seandainya tidak ada karya beliau selain al-Mughni, maka kitab itu saja sudah mencukupi dan memberikan kepuasan.”
Al-Hafizh adh-Dhiya’ menceritakan:
“Aku pernah melihat Imam Ahmad bin Hanbal dalam mimpi. Beliau memberikan kepadaku suatu persoalan fikih. Aku berkata, ‘Masalah ini terdapat dalam kitab al-Khiraqi.’ Imam Ahmad berkata, ‘Sahabat kalian, al-Muwaffaq, benar-benar tidak lalai dalam mensyarah kitab al-Khiraqi.’”
Syaikh Izzuddin bin Abdissalam berkata:
“Aku tidak pernah melihat dalam kitab-kitab Islam yang seperti al-Muhalla dan al-Mujalla, serta kitab al-Mughni karya Syaikh Muwaffaq ad-Din, dalam kualitas dan ketelitian pembahasannya.”
Juga dinukil dari beliau bahwa ia berkata:
“Hatiku belum merasa mantap untuk berfatwa hingga aku memiliki satu salinan kitab al-Mughni.”
Di antara syair Ibnu Qudamah adalah:
“Apakah engkau lalai, wahai putra Ahmad, sementara kematian
sedang berjalan mendekat dan akan merenggutmu?
Apakah engkau tertipu karena musibah selama ini melewatimu,
padahal kematian memiliki begitu banyak anak panah yang tepat mengenai sasaran?
Cawan-cawan kematian beredar di antara kita,
dan setiap manusia pasti mendapatkan bagiannya.
Sampai kapan kita menjadikan penundaan sebagai kebiasaan?
Tidakkah cahaya uban sudah cukup menjadi peringatan bagimu?
Tidakkah cukup bagimu bahwa setiap waktu
engkau melewati kubur seorang sahabat atau orang yang dicintai?
Seakan-akan sebentar lagi engkau akan menyusul mereka,
dan tangisan keras tidak akan memberikan manfaat kepadamu.”
Banyak orang belajar fikih kepada Ibnu Qudamah, di antaranya keponakannya, Syaikh Syamsuddin bin Abi Umar. Banyak pula imam dan hafizh yang mendengar hadis darinya.
Beliau wafat pada hari Sabtu, bertepatan dengan Idulfitri, tahun 620 H, di rumahnya di Damaskus. Salat jenazah dilaksanakan pada keesokan harinya kemudian beliau dibawa ke lereng Gunung Qasiun. Jumlah manusia yang menghadiri pemakamannya sangat besar hingga memenuhi jalan-jalan menuju gunung.
Keterangan ini terdapat dalam al-Maqshad al-Arsyad fi Dzikri Ashhab al-Imam Ahmad, karya Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah bin Muhammad Ibn Muflih, Abu Ishaq Burhanuddin.
Biografi Ibnu Qudamah dalam Siyar A‘lam an-Nubala’
Adz-Dzahabi رحمه الله menyebut beliau:
“Syaikh, imam, teladan, al-‘Allamah, mujtahid, Syaikhul Islam, Muwaffaq ad-Din Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah bin Miqdam bin Nashr al-Maqdisi al-Jamma‘ili, kemudian ad-Dimasyqi ash-Shalihi al-Hanbali, penulis kitab al-Mughni.”
Beliau lahir di Jamma‘il, wilayah Nablus, pada bulan Sya‘ban tahun 541 H.
Ketika berusia sepuluh tahun, beliau berhijrah bersama keluarga dan kerabatnya. Beliau menghafal Al-Qur’an, tekun belajar sejak kecil, memiliki tulisan tangan yang indah dan merupakan salah satu lautan ilmu serta manusia yang sangat cerdas.
Pada awal tahun 561 H, beliau bersama sepupunya, al-Hafizh Abdul Ghani, melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Baghdad.
Mereka sempat belajar kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani beberapa puluh hari sebelum wafatnya. Mereka tinggal di madrasah beliau, mempelajari ilmu dan mendengar hadis darinya.
Ibnu Qudamah juga mengambil ilmu dari banyak ulama Baghdad, seperti Hibah Allah bin al-Hasan ad-Daqqaq, Abu al-Fath Ibn al-Baththi, Abu Zur‘ah Ibn Thahir, Ahmad bin al-Muqarrib, Ali Ibn Taj al-Qurra’, Ma‘mar bin al-Fakhir, Syuhdah al-Katibah, Nafisah al-Bazzazah, dan banyak lainnya.
Beliau membaca qiraat Nafi‘ kepada Abu al-Hasan al-Batha’ihi dan qiraat Abu Amr kepada gurunya Abu al-Fath Ibn al-Manni.
Di Damaskus beliau mendengar dari Abu al-Makarim Ibn Hilal dan lainnya, di Mosul dari khatibnya Abu al-Fadhl ath-Thusi, dan di Makkah dari al-Mubarak Ibn ath-Thabbakh.
Banyak ulama meriwayatkan hadis darinya, antara lain adh-Dhiya’, Abu Syamah, Ibn an-Najjar dan banyak lainnya.
Adz-Dzahabi berkata:
“Beliau adalah ulama negeri Syam pada zamannya.”
Ibn an-Najjar berkata:
“Beliau adalah imam Hanabilah di Masjid Jami‘ Damaskus. Beliau tsiqah, hujjah, mulia, sangat luas keutamaannya, menjaga kehormatan diri, wara‘ dan ahli ibadah, berjalan di atas manhaj salaf. Pada dirinya tampak cahaya dan kewibawaan. Seseorang mendapatkan manfaat hanya dengan melihat beliau sebelum mendengar ucapannya.”
Umar bin al-Hajib berkata:
“Beliau adalah imamnya para imam dan mufti umat. Allah memberinya keutamaan yang melimpah, kecerdasan yang deras, serta ilmu yang sempurna. Namanya bergema di berbagai negeri, dan zaman terasa bakhil untuk melahirkan orang yang sepertinya.”
Ia juga berkata bahwa Ibnu Qudamah memiliki karya yang sangat banyak, rendah hati, baik akidahnya, memiliki ketenangan, kesabaran, dan kewibawaan. Majelisnya dipenuhi para ahli fikih dan ahli hadis. Beliau sangat tekun beribadah dan senantiasa melakukan tahajud.
Syaikh adh-Dhiya’ menulis biografi Ibnu Qudamah dalam dua jilid. Ia menggambarkan fisiknya:
“Beliau memiliki tubuh yang proporsional dan tinggi, berkulit putih, wajah bersinar, kedua mata hitam dan indah, seakan cahaya keluar dari wajahnya karena keelokannya, berdahi lebar, berjanggut panjang, hidungnya tegak, kedua alisnya berdekatan, kepalanya relatif kecil, tangan dan kakinya halus, tubuhnya ramping dan pancaindra beliau tetap baik.”
Ibnu Qudamah dan al-Hafizh Abdul Ghani menetap di Baghdad selama sekitar empat tahun. Mereka mendalami fikih, hadis dan ilmu khilaf.
Karya-karya Ibnu Qudamah
Di antara karya beliau yang disebutkan oleh adz-Dzahabi adalah:
Al-Mughni, sekitar sepuluh jilid;
Al-Kafi, empat jilid;
Al-Muqni‘;
Al-‘Umdah;
Raudhah an-Nazhir dalam ushul fikih;
Kitab at-Tawwabin;
Nasab Quraisy;
Nasab al-Anshar;
Mukhtashar al-Hidayah;
Mas’alat al-Qadar;
Mas’alat al-‘Uluw;
Al-Mutahabbin fi Allah;
Al-I‘tiqad;
Al-Burhan;
Dzamm at-Ta’wil;
Fadha’il ash-Shahabah;
Fadhl al-‘Asyr;
karya tentang ‘Asyura;
Mukhtashar ‘Ilal al-Khallal;
dan berbagai karya lainnya.
Adh-Dhiya’ berkata:
“Beliau رحمه الله adalah imam dalam tafsir, imam dalam hadis dan perkara-perkara sulit di dalamnya, imam dalam fikih bahkan satu-satunya yang paling menonjol pada zamannya, imam dalam ilmu khilaf, sangat unggul dalam faraidh, imam dalam ushul fikih, nahwu, ilmu hitung, serta mengetahui bintang-bintang yang bergerak dan manzilah-manzilahnya.”
Abu al-Fath Ibn al-Manni pernah berkata ketika Ibnu Qudamah berada di hadapannya:
“Jika pemuda ini meninggalkan Baghdad, Baghdad akan membutuhkannya.”
Dalam riwayat lain ia berkata kepada Ibnu Qudamah:
“Jika engkau keluar dari Baghdad, tidak akan ada orang sepertimu yang menggantikanmu di dalamnya.”
Muhammad bin Mahmud al-Ashbahani berkata:
“Tidak ada seorang pun yang pernah melihat orang seperti Syaikh al-Muwaffaq.”
Abu Ubaidillah Utsman bin Abdurrahman asy-Syafi‘i berkata:
“Aku tidak pernah melihat orang sepertinya. Beliau selalu mendapatkan pertolongan dalam fatwa-fatwanya.”
Abu Bakr Muhammad bin Ma‘ali Ibn Ghunaimah berkata:
“Aku tidak mengetahui seorang pun pada zaman kita yang mencapai derajat ijtihad selain al-Muwaffaq.”
Akhlak dan kepribadian Ibnu Qudamah
Al-Hafizh al-Yunini menjelaskan bahwa menurut apa yang diketahuinya, hampir tidak ada orang yang mencapai kesempurnaan ilmu dan akhlak seperti Ibnu Qudamah.
Beliau memiliki keindahan rupa dan batin, kebaikan, sifat santun, kemuliaan, berbagai macam ilmu serta akhlak yang luhur.
Allah telah menciptakannya dengan tabiat yang mulia, melimpahkan kepadanya berbagai kemuliaan dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadanya.
Adh-Dhiya’ berkata:
“Al-Muwaffaq tidak pernah berdebat dengan seseorang melainkan sambil tersenyum.”
Diceritakan bahwa Ibnu Qudamah pernah berdebat dengan Ibn Fadhlan asy-Syafi‘i yang sangat terkenal dalam perdebatan, lalu Ibnu Qudamah mampu mengunggulinya.
Setelah salat Jumat, Ibnu Qudamah terkadang duduk untuk berdiskusi dan berdebat ilmiah. Para fuqaha berkumpul di sekelilingnya.
Beliau mengajar sejak pagi hingga matahari meninggi, kemudian mengajar lagi setelah Zuhur hingga Magrib tanpa merasa bosan. Para murid juga mendengar hadis darinya dan belajar nahwu kepadanya.
Hampir setiap orang yang melihat Ibnu Qudamah mencintainya.
Adh-Dhiya’ berkata:
“Aku tidak mengetahui bahwa beliau pernah menyakiti hati seorang penuntut ilmu.”
Beliau memiliki seorang budak perempuan yang kadang menyakitinya dengan akhlaknya, tetapi beliau tidak membalasnya dengan perkataan buruk.
Anak-anak beliau terkadang bertengkar di hadapannya dan beliau tetap tenang.
Al-Baha’ berkata:
“Aku tidak pernah melihat orang yang lebih kuat kesabarannya dibanding beliau.”
Adh-Dhiya’ juga berkata:
“Beliau berakhlak sangat baik. Hampir setiap orang yang melihatnya akan melihatnya dalam keadaan tersenyum. Beliau bercerita dan terkadang bercanda.”
Al-Baha’ berkata:
“Ketika mengajar, Syaikh terkadang bercanda dengan kami dan bersikap akrab.”
Suatu ketika ada orang yang mengadukan anak-anak yang belajar kepadanya. Ibnu Qudamah berkata:
“Mereka masih anak-anak dan pasti membutuhkan bermain. Kalian dahulu juga seperti mereka.”
Beliau tidak pernah berlomba-lomba dengan para pencinta dunia dan hampir tidak pernah mengeluh, padahal terkadang kebutuhan beliau lebih besar daripada kebutuhan orang lain. Bahkan beliau lebih mendahulukan orang lain.
Keberanian dan ibadahnya
Al-Baha’ juga menyebut keberanian Ibnu Qudamah. Ia berkata:
“Beliau maju menghadapi musuh. Tangannya pernah terluka dan beliau ikut memanah musuh.”
Adh-Dhiya’ berkata:
“Beliau melaksanakan salat dengan khusyuk.”
Beliau biasanya mengerjakan salat sunnah Fajar dan salat-salat sunnah malam di rumahnya.
Pada malam hari beliau membaca beberapa surat Al-Qur’an dalam salatnya dan bangun pada waktu sahur untuk beribadah. Terkadang beliau mengeraskan bacaannya dan beliau memiliki suara yang bagus.
Akidah Ibnu Qudamah
Al-Hafizh al-Yunini berkata bahwa dahulu ia mendengar tuduhan sebagian orang terhadap Hanabilah bahwa mereka melakukan tasybih, yaitu menyerupakan Allah dengan makhluk.
Ia pun berniat menanyakan hal tersebut kepada Syaikh Muwaffaq Ibnu Qudamah.
Ia berkata:
“Berbulan-bulan aku ingin menanyakannya. Suatu hari aku naik gunung bersamanya. Ketika kami sampai di dekat rumah Ibn Muharib aku berkata: ‘Wahai tuanku…’ Aku belum sempat melanjutkan pertanyaanku.”
Ibnu Qudamah langsung berkata:
“Tasybih itu mustahil.”
Al-Yunini bertanya:
“Mengapa?”
Beliau menjawab:
“Karena salah satu syarat menyerupakan sesuatu ialah kita telah melihat sesuatu itu, kemudian menyerupakannya dengan yang lain. Siapakah yang pernah melihat Allah kemudian menggambarkan-Nya kepada kita sehingga dapat menyerupakan-Nya?”
Adh-Dhiya’ juga menyebut sejumlah kisah mengenai karamah Ibnu Qudamah.
Abu Syamah berkata:
“Beliau adalah seorang imam besar dalam ilmu dan amal dan telah menyusun banyak kitab. Hanya saja pembicaraan beliau mengenai akidah mengikuti metode yang terkenal di kalangan pengikut mazhabnya.”
Adz-Dzahabi kemudian menanggapi ucapan Abu Syamah dengan makna bahwa Ibnu Qudamah dan para ulama sepertinya juga dapat merasa heran terhadap metode pihak lain. Setiap kelompok terkadang merasa heran terhadap kelompok lainnya.
Adz-Dzahabi kemudian berkata:
“Kami berharap setiap orang dari umat yang dirahmati ini yang telah mengerahkan segala kemampuannya dalam mencari kebenaran akan mendapatkan ampunan.”
Keluarga dan wafat
Ibnu Qudamah memiliki beberapa anak, di antaranya al-Majd Isa, Muhammad, Yahya, Shafiyyah dan Fathimah.
Beliau wafat pada hari Sabtu, bertepatan dengan Idulfitri tahun 620 H, di rumahnya di Damaskus.
Beliau dimakamkan pada hari berikutnya dan jumlah orang yang menghadiri pemakamannya tidak terhitung banyaknya.
Adh-Dhiya’ mengatakan:
“Aku termasuk orang yang memandikan jenazahnya.”
Keterangan ini dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A‘lam an-Nubala’.
Ringkasan kedudukan ilmiah Ibnu Qudamah
Muwaffaq ad-Din Ibnu Qudamah adalah seorang imam, hujjah, penulis produktif, ahli dalam berbagai cabang ilmu dan memiliki kedalaman ilmu yang sangat besar.
Di antara karya fikih beliau yang terpenting adalah:
al-Mughni,
al-Kafi,
al-Muqni‘,
dan al-‘Umdah.
Beliau juga seorang imam dalam ilmu khilaf, faraidh, ushul fikih, fikih, nahwu dan ilmu hitung.
Beliau wafat tahun 620 H.
Lihat: Fawat al-Wafayat, 2/158–159; Siyar A‘lam an-Nubala’, 22/165–172.
—
Keterangan az-Zirikli dalam al-A‘lam
Az-Zirikli menyebut:
“Abdullah bin Muhammad bin Qudamah al-Jamma‘ili al-Maqdisi, kemudian ad-Dimasyqi al-Hanbali, Abu Muhammad Muwaffaq ad-Din: seorang ahli fikih dan termasuk ulama Hanabilah terbesar.”
Beliau memiliki banyak karya, antara lain:
al-Mughni, yaitu syarah Mukhtashar al-Khiraqi dalam fikih;
Raudhah an-Nazhir dalam ushul fikih;
al-Muqni‘;
Dzamm ma ‘alaihi Mudda‘u at-Tashawwuf;
Dzamm at-Ta’wil;
Dzamm al-Muwaswisin;
Lum‘at al-I‘tiqad;
Kitab at-Tawwabin;
at-Tabyin fi Ansab al-Qurasyiyyin;
al-Kafi dalam fikih;
al-‘Umdah;
karya mengenai al-Qadar;
Fadha’il ash-Shahabah;
al-Mutahabbin fi Allah Ta‘ala;
ar-Riqqah mengenai orang-orang saleh dan sifat mereka;
al-Istibshar fi Nasab al-Anshar;
al-Burhan fi Masa’il al-Qur’an, dan lain-lain.
Beliau lahir di Jamma‘il, salah satu desa di Nablus, Palestina. Beliau belajar di Damaskus, kemudian pergi ke Baghdad pada tahun 561 H dan tinggal sekitar empat tahun. Setelah itu kembali ke Damaskus dan wafat di sana.
Keterangan dalam at-Taj al-Mukallal
Muhammad Shiddiq Khan al-Qinnauji menyebut bahwa Ibnu Qudamah adalah:
“Abdullah bin Muhammad bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi, Syaikhul Islam dan salah seorang tokoh besar.”
Beliau lahir tahun 541 H. Beliau membaca Al-Qur’an, tekun mempelajari ilmu dan mendengar hadis. Banyak orang belajar kepadanya dan kelompok besar mendapatkan manfaat dari ilmunya.
Beliau sangat pemalu, menjauh dari dunia dan para pencinta dunia, lembut, mudah bergaul, rendah hati dan mencintai kaum miskin.
Orang yang melihatnya seakan-akan melihat sebagian sahabat Nabi.
Beliau memiliki akal yang sempurna, sangat teliti, banyak diam, menjaga kehormatan diri, wara‘, ahli ibadah dan menempuh jalan para salaf.
Di wajah beliau tampak cahaya, kewibawaan dan ketenangan. Seseorang dapat mengambil manfaat hanya dengan melihatnya sebelum mendengar pembicaraannya.
Beliau banyak menulis kitab. Para murid mendatanginya dari berbagai tempat dan namanya tersebar ke berbagai negeri.
Beliau memiliki pengetahuan hadis yang baik dan penguasaan dalam bahasa Arab.
Umar bin al-Hajib berkata dalam Mu‘jam-nya:
“Beliau adalah imamnya para imam dan mufti umat. Allah mengkhususkannya dengan keutamaan yang melimpah, kecerdasan yang deras dan ilmu yang sempurna. Dalam hadis ia termasuk penunggang kuda terdepan, dan dalam fikih ia adalah kesatria di medannya.”
Abu Syamah berkata:
“Beliau adalah syaikh Hanabilah, seorang imam dari imam-imam kaum Muslimin dan salah satu tokoh besar agama.”
Adh-Dhiya’ sangat memujinya dan menyusun biografi khusus tentang beliau.
Adh-Dhiya’ berkata:
“Beliau adalah imam dalam Al-Qur’an dan tafsirnya serta dalam hadis dan masalah-masalah rumitnya.”
Ibn Ghunaimah berkata:
“Aku tidak mengetahui seorang pun pada zaman kita yang mencapai derajat ijtihad selain al-Muwaffaq.”
—
Manhaj Ibnu Qudamah dalam akidah
Ibn Rajab menjelaskan bahwa karya-karya Ibnu Qudamah dalam ushuluddin sangat bagus.
Sebagian besar disusun mengikuti metode para imam ahli hadis, penuh dengan hadis dan atsar yang disebutkan bersama sanadnya, sebagaimana metode Imam Ahmad dan para imam hadis.
Ibnu Qudamah tidak menyukai tenggelam dalam perdebatan rumit ilmu kalam, bahkan ketika tujuannya untuk membantah ahli kalam.
Inilah metode Imam Ahmad dan para ulama terdahulu.
Beliau sangat berpegang kepada riwayat yang datang dari Al-Qur’an dan Sunnah, baik dalam persoalan ushul maupun lainnya. Beliau tidak menyukai penggunaan ungkapan-ungkapan yang tidak memiliki dasar dari generasi terdahulu.
Dalam perkara sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah, beliau memerintahkan untuk menerimanya dan mengimaninya tanpa takyif, tanpa tamtsil, tanpa tahrif, tanpa ta’wil yang menyimpang dan tanpa ta‘thil.
Di antara karya beliau dalam bidang tersebut adalah:
al-Burhan fi Mas’alat al-Qur’an,
Mas’alat al-‘Uluw,
Dzamm at-Ta’wil,
risalah kepada Fakhruddin Ibn Taimiyah,
risalah tentang haramnya mempelajari kitab ahli kalam,
serta karya-karya lainnya.
Dalam ilmu hadis beliau menulis Mukhtashar al-‘Ilal.
Dalam fikih beliau menulis al-Mughni.
Dalam ushul fikih beliau menulis ar-Raudhah, yaitu Raudhah an-Nazhir.
Beliau juga menulis Dzamm al-Waswas dan Kitab al-Mutahabbin fi Allah.
Kedudukan kitab al-Mughni
Syaikh Izzuddin bin Abdissalam berkata:
“Aku tidak pernah melihat dalam kitab-kitab Islam dalam bidang ilmu seperti al-Muhalla, al-Mujalla, dan kitab al-Mughni karya Syaikh Muwaffaq ad-Din, dari sisi kualitas dan ketelitian pembahasannya.”
Beliau juga berkata:
“Aku belum merasa mantap untuk berfatwa sampai aku memiliki satu salinan kitab al-Mughni.”
Ibn Rajab berkata bahwa kitab al-Mughni sangat besar manfaatnya dan banyak ulama memujinya.
Banyak orang belajar fikih kepada Ibnu Qudamah. Banyak imam, hafizh dan ulama hadis juga meriwayatkan darinya, di antaranya adh-Dhiya’ dan al-Mundziri.
Ketenangan dan akhlaknya ketika berdebat
Ibnu Qudamah hampir tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali dalam keadaan tersenyum.
Sampai-sampai sebagian orang berkata:
“Syaikh ini membunuh lawan debatnya dengan senyumannya.”
Kisah ini menunjukkan luasnya ilmu beliau sekaligus kelembutan akhlaknya. Perdebatan ilmiah tidak menjadikannya kasar ataupun mudah marah.
Wafatnya
Ibnu Qudamah رحمه الله wafat pada tahun 620 H, pada hari Idulfitri.
Ismail al-Katib bercerita:
“Pada malam Idulfitri aku bermimpi seakan-akan mushaf Utsman diangkat dari Masjid Jami‘ Damaskus menuju langit. Aku pun diliputi kesedihan yang sangat. Kemudian pada hari Idulfitri al-Muwaffaq wafat.”
Diriwayatkan pula sejumlah mimpi lainnya berkaitan dengan wafat beliau.
Ibnu Rajab kemudian menyebut sebagian fatwa Ibnu Qudamah dalam kitab ath-Thabaqat.
Sumber terakhir ini adalah at-Taj al-Mukallal min Jawahir Ma’atsir ath-Thiraz al-Akhir wal-Awwal, karya Abu ath-Thayyib Muhammad Shiddiq Khan al-Bukhari al-Qinnauji.



