Tatsqif

WAHB BIN MUNABBIH

WAHB BIN MUNABBIH

Pembaca Kitab-Kitab Terdahulu

Wahb bin Munabbih bin Kamil bin Sij bin Dzi Kibar, seorang imam, ulama besar, ahli sejarah dan kisah-kisah; Abu ‘Abdillah al-Abnawi al-Yamani adz-Dzimari ash-Shan‘ani.

Pujian Para Ulama terhadapnya

Abu Nu‘aim berkata:

قال أبو نعيم: «ومنهم الحكيم الدامغ للمشبِّه، الحليم الدافع للمُتَسفِّه، أبو عبدالله وهب بن منبِّه».

“Di antara mereka adalah seorang yang bijaksana, yang mematahkan hujah orang-orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk, seorang yang santun dalam menghadapi orang-orang yang bertindak bodoh; yaitu Abu ‘Abdillah Wahb bin Munabbih.”

Imam Ahmad berkata:

قال أحمد: «كان من أبناء فارس، له شرف، قال: وكل مَن كان من أهل اليمن له “ذي” هو شريف، يُقال: فلان له ذي، وفلان لا ذي له».

“Dia berasal dari keturunan Persia dan memiliki kedudukan terhormat.” Beliau juga mengatakan, “Setiap orang Yaman yang pada namanya terdapat kata Dzi berasal dari kalangan terhormat. Dikatakan: ‘Fulan memiliki Dzi,’ dan ‘Fulan tidak memiliki Dzi.’”

Kelahirannya

Wahb bin Munabbih lahir pada masa kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, yaitu pada tahun 34 H.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Ia mengambil ilmu dari sejumlah sahabat dan tabi‘in, di antaranya: Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa‘id al-Khudri, an-Nu‘man bin Basyir, Jabir, Ibnu ‘Umar, ‘Abdullah bin az-Zubair, Anas bin Malik, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash—meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai riwayatnya darinya—serta Thawus.

Di antara orang-orang yang meriwayatkan darinya adalah kedua putranya, ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman; ‘Amr bin Dinar, Simak bin al-Fadhl, ‘Auf al-A‘rabi, ‘Ashim bin Raja’ bin Haiwah, Yazid bin Yazid bin Jabir, ‘Abdullah bin ‘Utsman bin Khutsaim, Isra’il Abu Musa, Hammam bin Nafi‘ ayah ‘Abdurrazzaq, al-Mughirah bin Hakim, al-Mundzir bin an-Nu‘man, keponakannya ‘Aqil bin Ma‘qil, keponakannya ‘Abdush Shamad bin Ma‘qil, cucunya Idris bin Sinan, Shalih bin ‘Ubaid, ‘Abdul Karim bin Hauran, ‘Abdul Malik bin Khalaj, Dawud bin Qais, ‘Imran bin Harbadz Abu al-Hudzail, ‘Imran bin Khalid, dan lainnya.

Imam adz-Dzahabi berkata:

قال الذهبي: «وروايته للمسند قليلة، وإنما غزارة علمه في الإسرائيليات، ومن صحائف أهل الكتاب».

“Riwayatnya berupa hadis-hadis musnad hanya sedikit. Kekayaan ilmunya justru terdapat pada riwayat-riwayat Israiliyat dan lembaran-lembaran Ahlul Kitab.”

Az-Zirikli mengatakan bahwa di antara karya-karyanya adalah Dzikr al-Muluk al-Mutawwajah min Himyar wa Akhbaruhum wa Qashashuhum wa Quburuhum wa Asy‘aruhum. Ia juga mempunyai karya Qashash al-Anbiya’ dan Qashash al-Akhyar, sebagaimana disebutkan oleh penulis Kasyf azh-Zhunun.

Tentang kredibilitasnya sebagai perawi:

قال العجلي وأبو زرعة والنسائي: «ثقة».

“Al-‘Ijli, Abu Zur‘ah, dan an-Nasa’i berkata: Tsiqah (terpercaya).”

Pujian Orang-Orang terhadapnya

‘Abdush Shamad bin Ma‘qil meriwayatkan bahwa al-Ja‘d bin Dirham berkata:

«ما كلمتُ عالِمًا قطُّ إلا غَضِبَ وحلَّ حبوته، غير وهب».

“Aku tidak pernah berbicara dengan seorang ulama kecuali ia akhirnya marah dan melepaskan posisi duduknya, selain Wahb.”

Ibadah dan Kezuhudannya

Al-Mutsanna bin ash-Shabbah berkata:

«لَبِثَ وهب بن منبِّه أربعين سنةً لم يسبَّ شيئًا فيه الروح، ولَبِثَ عشرين سنة لم يجعل بين العشاء والصبح وضوءًا».

“Wahb bin Munabbih selama empat puluh tahun tidak pernah mencela sesuatu yang bernyawa, dan selama dua puluh tahun ia tidak memperbarui wudhu antara Isya dan Subuh.”

Maksudnya, ia mengerjakan shalat Subuh dengan wudhu yang digunakannya untuk shalat Isya.

Ja‘far bin Sulaiman meriwayatkan dari ‘Abdush Shamad bin Ma‘qil:

«صحبت عمِّي وهبًا أشهرًا يصلِّي الغَداة بوضوء العشاء».

“Aku menemani pamanku, Wahb, selama beberapa bulan. Ia mengerjakan shalat Subuh dengan wudhu shalat Isya.”

Diriwayatkan pula dari Sallam bin Maimun al-Khawwash, dari Muslim az-Zanji:

«لَبِثَ وهب بن منبِّه أربعين سنةً لا يرقد على فِراش، وعشرين سنة لم يجعل بين العتمة والصبح وضوءًا».

“Wahb bin Munabbih selama empat puluh tahun tidak tidur di atas kasur, dan selama dua puluh tahun tidak memperbarui wudhu antara Isya dan Subuh.”

‘Abdurrazzaq bin Hammam meriwayatkan dari ayahnya bahwa ketika Wahb berdiri untuk shalat Witir, ia berdoa:

«لَكَ الْحَمْدُ السَّرْمَدُ، حَمْدًا لَا يُحْصِيهِ الْعَدَدُ، وَلَا يَقْطَعُهُ الْأَبَدُ، كَمَا يَنْبَغِي لَكَ أَنْ تُحْمَدَ، وَكَمَا أَنْتَ لَهُ أَهْلٌ، وَكَمَا هُوَ لَكَ عَلَيْنَا حَقٌّ».

“Bagi-Mu segala pujian yang kekal; pujian yang tidak mampu dihitung oleh bilangan dan tidak terputus selama-lamanya, sebagaimana layaknya Engkau dipuji, sebagaimana Engkau memang berhak menerimanya, dan sebagaimana pujian itu merupakan hak-Mu atas kami.”

Beberapa Kisah tentang Dirinya

Diriwayatkan dari Katsir bahwa ia pernah melakukan perjalanan bersama Wahb. Mereka bermalam di Sha‘dah di rumah seseorang. Putri pemilik rumah keluar dan melihat cahaya. Pemilik rumah kemudian mengintip dan melihat Wahb berdiri tegak dalam shalat, dalam cahaya yang seolah-olah seperti terangnya matahari.

Orang itu kemudian berkata kepadanya, “Aku melihatmu malam tadi dalam suatu keadaan,” lalu ia menceritakan apa yang dilihatnya.

Wahb menjawab:

«اكتم ما رأيت».

“Rahasiakanlah apa yang engkau lihat.”

Ma‘mar meriwayatkan dari Simak bin al-Fadhl bahwa mereka pernah berada di sisi gubernur ‘Urwah bin Muhammad dan Wahb berada di sampingnya. Datanglah sekelompok orang mengadukan salah seorang pejabat dan menyebutkan perbuatan buruknya.

Wahb mengambil tongkat yang berada di tangan ‘Urwah lalu memukul kepala pejabat tersebut hingga darah mengalir.

‘Urwah tertawa dan merebahkan tubuhnya seraya berkata, “Wahb mencela kami karena marah, tetapi dia sendiri marah!”

Wahb menjawab:

«وَمَا لِي لَا أَغْضَبُ وَقَدْ غَضِبَ الَّذِي خَلَقَ الْأَحْلَامَ؟!»

“Mengapa aku tidak boleh marah, sementara Dia yang menciptakan sifat santun pun telah murka?!”

Kemudian ia membacakan firman Allah:

﴿فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ﴾
[الزخرف: ٥٥]

“Maka ketika mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka.”

Isma‘il bin ‘Abdul Karim meriwayatkan dari ‘Abdush Shamad bin Ma‘qil bahwa pernah dikatakan kepada Wahb:

“Wahai Abu ‘Abdillah, dahulu engkau sering bermimpi kemudian menceritakannya kepada kami, dan mimpi itu benar-benar terjadi.”

Wahb menjawab:

«هَيْهَاتَ، ذَهَبَ ذَلِكَ عَنِّي مُنْذُ وَلِيتُ الْقَضَاءَ».

“Jauh sekali. Hal itu telah hilang dariku sejak aku menjabat sebagai hakim.”

Mutiara Perkataan Wahb bin Munabbih

Wahb berkata:

«الدَّرَاهِمُ خَوَاتِيمُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، فَمَنْ ذَهَبَ بِخَاتَمِ اللَّهِ قُضِيَتْ حَاجَتُهُ».

“Dirham-dirham adalah seperti stempel Allah di bumi. Siapa yang membawa stempel tersebut, kebutuhannya akan terpenuhi.”

Dalam salah satu nasihatnya ia berkata:

«يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّهُ لَا أَقْوَى مِنْ خَالِقٍ، وَلَا أَضْعَفَ مِنْ مَخْلُوقٍ، وَلَا أَقْدَرَ مِمَّنْ طَلَبْتَهُ فِي يَدِهِ، وَلَا أَضْعَفَ مِمَّنْ هُوَ فِي يَدِ طَالِبِهِ».

“Wahai anak Adam, tidak ada yang lebih kuat daripada Sang Pencipta, dan tidak ada yang lebih lemah daripada makhluk. Tidak ada yang lebih berkuasa daripada Dzat yang sesuatu yang engkau cari berada di tangan-Nya, dan tidak ada yang lebih lemah daripada orang yang dirinya berada dalam kekuasaan orang yang mengejarnya.”

Hammad bin Salamah meriwayatkan dari Abu Sinan ‘Isa bin Sinan bahwa ia mendengar Wahb berkata:

«كُنْتُ أَقُولُ بِالْقَدَرِ حَتَّى قَرَأْتُ بِضْعَةً وَسَبْعِينَ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ الْأَنْبِيَاءِ، فِي كُلِّهَا: مَنْ جَعَلَ إِلَى نَفْسِهِ شَيْئًا مِنَ الْمَشِيئَةِ فَقَدْ كَفَرَ، فَتَرَكْتُ قَوْلِي».

“Dahulu aku menganut paham Qadariyah, hingga aku membaca lebih dari tujuh puluh kitab dari kitab-kitab para nabi. Dalam semuanya disebutkan: ‘Barang siapa menisbatkan kepada dirinya sesuatu dari kehendak secara independen, maka ia telah kufur.’ Maka aku meninggalkan pendapatku tersebut.”

Imam Ahmad, al-‘Ijli, dan ulama lainnya mengatakan:

«رَجَعَ عَنْ قَوْلِهِ فِي الْقَدَرِ».

“Ia telah rujuk dari pendapatnya tentang masalah takdir.”

Abu Usamah meriwayatkan dari Abu Sinan bahwa ia mendengar Wahb berkata kepada ‘Atha’ al-Khurasani:

«كَانَ الْعُلَمَاءُ قَبْلَنَا قَدِ اسْتَغْنَوْا بِعِلْمِهِمْ عَنْ دُنْيَا غَيْرِهِمْ، فَكَانُوا لَا يَلْتَفِتُونَ إِلَيْهَا، وَكَانَ أَهْلُ الدُّنْيَا يَبْذُلُونَ دُنْيَاهُمْ فِي عِلْمِهِمْ، فَأَصْبَحَ أَهْلُ الْعِلْمِ يَبْذُلُونَ لِأَهْلِ الدُّنْيَا عِلْمَهُمْ رَغْبَةً فِي دُنْيَاهُمْ، وَأَصْبَحَ أَهْلُ الدُّنْيَا قَدْ زَهِدُوا فِي عِلْمِهِمْ؛ لِمَا رَأَوْا مِنْ سُوءِ مَوْضِعِهِ عِنْدَهُمْ».

“Para ulama sebelum kita merasa cukup dengan ilmu mereka sehingga tidak membutuhkan dunia milik orang lain. Karena itu mereka tidak menoleh kepadanya. Sebaliknya, para pencinta dunia rela mengorbankan dunia mereka demi mendapatkan ilmu para ulama.

Namun sekarang para ahli ilmu justru menyerahkan ilmu mereka kepada para pencinta dunia karena menginginkan dunia mereka. Akibatnya, para pencinta dunia pun tidak lagi menghargai ilmu mereka karena melihat betapa rendahnya kedudukan ilmu itu pada diri mereka sendiri.”

Wahb juga berkata:

«احْفَظُوا عَنِّي ثَلَاثًا: إِيَّاكُمْ وَهَوًى مُتَّبَعًا، وَقَرِينَ سُوءٍ، وَإِعْجَابَ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ».

“Ingatlah dariku tiga perkara: jauhilah hawa nafsu yang diikuti, teman yang buruk, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.”

Ia juga berkata:

«دَعِ الْمِرَاءَ وَالْجَدَلَ؛ فَإِنَّهُ لَنْ يُعْجِزَ أَحَدُ رَجُلَيْنِ: رَجُلٌ هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ، فَكَيْفَ تُعَادِي وَتُجَادِلُ مَنْ هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ؟! وَرَجُلٌ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنْهُ، فَكَيْفَ تُعَادِي وَتُجَادِلُ مَنْ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنْهُ وَلَا يُطِيعُكَ؟!»

“Tinggalkanlah perdebatan dan berbantah-bantahan. Sebab orang yang engkau hadapi tidak akan keluar dari salah satu dari dua keadaan: ia lebih berilmu darimu; lalu bagaimana engkau memusuhi dan mendebat orang yang lebih berilmu darimu? Atau engkau lebih berilmu darinya; lalu bagaimana engkau memusuhi dan mendebat orang yang engkau lebih berilmu darinya, sementara ia tidak mau menurutimu?”

Abu ‘Ashim an-Nabil meriwayatkan dari Abu Sallam, dari Wahb bin Munabbih:

«الْعِلْمُ خَلِيلُ الْمُؤْمِنِ، وَالْحِلْمُ وَزِيرُهُ، وَالْعَقْلُ دَلِيلُهُ، وَالْعَمَلُ قَيِّمُهُ، وَالصَّبْرُ أَمِيرُ جُنُودِهِ، وَالرِّفْقُ أَبُوهُ، وَاللِّينُ أَخُوهُ».

“Ilmu adalah sahabat karib seorang mukmin, kesantunan adalah pembantunya, akal adalah penunjuk jalannya, amal adalah pengurusnya, kesabaran adalah panglima pasukannya, kelembutan adalah ayahnya, dan sikap lunak adalah saudaranya.”

Wahb berkata:

«الْمُؤْمِنُ يَنْظُرُ لِيَعْلَمَ، وَيَتَكَلَّمُ لِيَفْهَمَ، وَيَسْكُتُ لِيَسْلَمَ، وَيَخْلُو لِيَغْنَمَ».

“Seorang mukmin memperhatikan agar memperoleh ilmu, berbicara agar memahami, diam agar selamat, dan menyendiri agar memperoleh keuntungan.”

Ia berkata:

«ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ أَصَابَ الْبِرَّ: السَّخَاءُ، وَالصَّبْرُ عَلَى الْأَذَى، وَطِيبُ الْكَلَامِ».

“Tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang, ia akan memperoleh kebajikan: kedermawanan, kesabaran menghadapi gangguan, dan tutur kata yang baik.”

Wahb berkata:

«إِذَا سَمِعْتَ مَنْ يَمْدَحُكَ بِمَا لَيْسَ فِيكَ، فَلَا تَأْمَنْهُ أَنْ يَذُمَّكَ بِمَا لَيْسَ فِيكَ».

“Jika engkau mendengar seseorang memujimu dengan sesuatu yang sebenarnya tidak ada pada dirimu, maka jangan merasa aman bahwa suatu hari ia juga akan mencelamu dengan sesuatu yang sebenarnya tidak ada pada dirimu.”

Ibnu al-Mubarak meriwayatkan dari Wuhaib bin al-Ward bahwa seseorang datang kepada Wahb bin Munabbih dan berkata, “Aku telah berniat untuk tidak lagi bergaul dengan manusia.”

Wahb menjawab:

«لَا تَفْعَلْ، إِنَّهُ لَا بُدَّ لَكَ مِنَ النَّاسِ، وَلَا بُدَّ لَهُمْ مِنْكَ، وَلَهُمْ إِلَيْكَ حَوَائِجُ وَلَكَ نَحْوُهَا، وَلَكِنْ كُنْ فِيهِمْ أَصَمَّ سَمِيعًا، أَعْمَى بَصِيرًا، سَكُوتًا نَطُوقًا».

“Jangan lakukan itu. Engkau tetap membutuhkan manusia dan mereka pun membutuhkanmu. Mereka mempunyai berbagai kebutuhan kepadamu dan engkau juga memiliki kebutuhan kepada mereka. Akan tetapi, ketika berada di tengah mereka jadilah seperti orang tuli yang sebenarnya mendengar, seperti orang buta yang sebenarnya melihat, dan seperti orang yang banyak diam namun mampu berbicara.”

Wahb juga berkata:

«الْمُؤْمِنُ يُخَالِطُ لِيَعْلَمَ، وَيَسْكُتُ لِيَسْلَمَ، وَيَتَكَلَّمُ لِيَفْهَمَ، وَيَخْلُو لِيَغْنَمَ».

“Seorang mukmin bergaul agar mendapatkan ilmu, diam agar selamat, berbicara agar memahami, dan menyendiri agar memperoleh keuntungan.”

Ia berkata:

«طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عَيْبِ أَخِيهِ، طُوبَى لِمَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ مِنْ غَيْرِ مَسْكَنَةٍ، طُوبَى لِمَنْ تَصَدَّقَ مِنْ مَالٍ جَمَعَهُ مِنْ غَيْرِ مَعْصِيَةٍ، طُوبَى لِأَهْلِ الضُّرِّ وَأَهْلِ الْمَسْكَنَةِ، طُوبَى لِمَنْ جَالَسَ أَهْلَ الْعِلْمِ وَالْحِلْمِ، طُوبَى لِمَنْ اقْتَدَى بِأَهْلِ الْعِلْمِ وَالْحِلْمِ وَالْخَشْيَةِ، طُوبَى لِمَنْ وَسِعَتْهُ السُّنَّةُ فَلَمْ يَعْدُهَا».

“Berbahagialah orang yang sibuk dengan aib dirinya sehingga tidak sempat mengurusi aib saudaranya. Berbahagialah orang yang merendahkan diri karena Allah tanpa menghinakan dirinya. Berbahagialah orang yang bersedekah dari harta yang dikumpulkannya tanpa kemaksiatan. Berbahagialah orang-orang yang tertimpa kesulitan dan orang-orang miskin. Berbahagialah orang yang duduk bersama ahli ilmu dan orang-orang yang santun. Berbahagialah orang yang meneladani orang-orang yang memiliki ilmu, kesantunan, dan rasa takut kepada Allah. Dan berbahagialah orang yang merasa cukup dengan Sunnah sehingga tidak melampaui batasnya.”

Wahb berkata tentang orang bodoh:

«الْأَحْمَقُ إِذَا تَكَلَّمَ فَضَحَهُ حُمْقُهُ، وَإِذَا سَكَتَ فَضَحَهُ عِيُّهُ، وَإِذَا عَمِلَ أَفْسَدَ، وَإِذَا تَرَكَ أَضَاعَ، لَا عِلْمُهُ يُعِينُهُ، وَلَا عِلْمُ غَيْرِهِ يَنْفَعُهُ، تَوَدُّ أُمُّهُ أَنَّهَا ثَكِلَتْهُ، وَامْرَأَتُهُ لَوْ عَدِمَتْهُ، وَيَتَمَنَّى جَارُهُ مِنْهُ الْوَحْدَةَ، وَيَجِدُ جَلِيسُهُ مِنْهُ الْوَحْشَةَ».

“Orang bodoh apabila berbicara, kebodohannya membongkar dirinya. Apabila diam, ketidakmampuannya berbicara membongkar dirinya. Apabila berbuat, ia merusak; apabila meninggalkan sesuatu, ia menyia-nyiakannya. Ilmunya sendiri tidak mampu menolongnya dan ilmu orang lain pun tidak bermanfaat baginya. Ibunya berharap seandainya dahulu kehilangan dirinya, istrinya berharap seandainya tidak memilikinya, tetangganya berharap dapat jauh darinya, dan teman duduknya merasa tidak nyaman bersamanya.”

Abu Nu‘aim dalam Hilyat al-Auliya’ menukil banyak perkataan Wahb yang ia riwayatkan dari umat-umat terdahulu.

Wafatnya

Adz-Dzahabi berkata bahwa Wahb pernah mengalami ujian berat, dipenjara dan dipukul.

Habban bin Zuhair al-‘Adawi meriwayatkan dari Abu ash-Shaida’ Shalih bin Tharif:

«لَمَّا قَدِمَ يُوسُفُ بْنُ عُمَرَ الْعِرَاقَ بَكَيْتُ وَقُلْتُ: هَذَا الَّذِي ضَرَبَ وَهْبَ بْنَ مُنَبِّهٍ حَتَّى قَتَلَهُ».

“Ketika Yusuf bin ‘Umar tiba di Irak, aku menangis dan berkata: ‘Inilah orang yang memukul Wahb bin Munabbih hingga menyebabkan kematiannya.’”

Maksudnya adalah ketika Yusuf bin ‘Umar menjabat sebagai gubernur Yaman, sebelum Khalifah Hisyam memindahkannya untuk menjadi gubernur Irak. Ia dikenal sebagai seorang yang sangat keras, bengis, dan ditakuti.

Dikisahkan oleh al-Mada’ini bahwa jamuan makannya di Irak setiap hari mencapai lima ratus meja, dan makanan pada meja yang paling jauh maupun paling dekat sama kualitasnya.

Kemudian ia diberhentikan dari jabatan gubernur Irak ketika terbunuhnya al-Walid. Setelah itu lehernya dipenggal pada tahun 127 H.

Adapun Wahb bin Munabbih, ia wafat di Shan‘a pada awal pemerintahan Khalifah Hisyam bin ‘Abdul Malik, pada bulan Muharram tahun 114 H. Ada pula pendapat bahwa ia wafat pada Dzulhijjah tahun 113 H.

Sumber Biografi

Biografi Wahb bin Munabbih dapat ditemukan antara lain dalam:

* Siyar A‘lam an-Nubala’ karya adz-Dzahabi.
* Hilyat al-Auliya’ karya Abu Nu‘aim.
* Tarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asakir.
* Al-A‘lam karya az-Zirikli.
* Ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa‘d.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button