Tatsqif

Amal-Amal yang Memberatkan Timbangan pada Hari Kiamat

Amal-Amal yang Memberatkan Timbangan pada Hari Kiamat

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba‘du.

Penting untuk kita ketahui bahwa setiap amal saleh yang dikerjakan seorang hamba termasuk sesuatu yang dengannya Allah memberatkan timbangan kebaikannya pada hari Kiamat.

Allah Yang Mahatinggi berfirman:

«﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا﴾

“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah. Jika ada suatu kebaikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.”
(QS. an-Nisa’: 40)»

Allah juga berfirman:

«﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ﴾

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya.”
(QS. az-Zalzalah: 7–8)»

Namun, terdapat beberapa amal tertentu yang secara khusus disebutkan dalam nash memiliki keistimewaan dalam memberatkan timbangan amal seseorang pada hari Kiamat. Di antaranya adalah:

1. Tahlil: “Lā Ilāha Illallāh”

Yang dimaksud dengan tahlil adalah mengucapkan:

«لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.”»

Kalimat tauhid memiliki bobot yang sangat berat dalam timbangan.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash—semoga Allah meridhai keduanya—Rasulullah ﷺ bersabda:

««إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيَقُولُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ: احْضُرْ وَزْنَكَ. فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَقَالَ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ. قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ، فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ»

“Sesungguhnya Allah akan memilih seorang laki-laki dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari Kiamat. Kemudian dibentangkan kepadanya sembilan puluh sembilan catatan dosa; setiap catatan sejauh mata memandang.

Kemudian Allah berfirman, ‘Apakah engkau mengingkari sesuatu dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku telah menzalimimu?’

Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’

Allah berfirman, ‘Apakah engkau mempunyai alasan?’

Ia menjawab, ‘Tidak, wahai Rabbku.’

Allah berfirman, ‘Tidak demikian. Sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami dan pada hari ini tidak ada kezaliman terhadapmu.’

Kemudian dikeluarkan sebuah kartu yang bertuliskan: ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.’

Allah berfirman, ‘Hadirilah penimbangan amalmu.’

Ia berkata, ‘Wahai Rabbku, apa artinya kartu kecil ini dibandingkan seluruh catatan tersebut?’

Allah berfirman, ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.’

Kemudian catatan-catatan tersebut diletakkan pada satu sisi timbangan dan kartu itu pada sisi lainnya. Catatan-catatan itu menjadi ringan, sedangkan kartu tersebut menjadi berat. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menjadi berat apabila dibandingkan dengan nama Allah.”

(HR. Ahmad, no. 6699; at-Tirmidzi, no. 2639. Disahihkan oleh Syaikh al-Albani.)»

Hadis ini dikenal sebagai Hadis al-Bithaqah (حديث البطاقة), yaitu hadis tentang kartu tauhid.

2. Memperbanyak Zikir kepada Allah

Di antaranya adalah tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir.

Dari Abu Hurairah—semoga Allah meridhainya—Nabi ﷺ bersabda:

««كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ»

“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi berat dalam timbangan dan dicintai oleh Allah Yang Maha Pengasih: Subḥānallāhil-‘Aẓīm, Subḥānallāhi wa biḥamdih (Mahasuci Allah Yang Mahaagung; Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya).”

(HR. al-Bukhari, no. 6406; Muslim, no. 2694.)»

Dari Juwairiyah—semoga Allah meridhainya—bahwa Nabi ﷺ keluar dari rumahnya pada pagi hari setelah menunaikan shalat Subuh, sementara Juwairiyah berada di tempat shalatnya. Kemudian Nabi ﷺ kembali setelah waktu Dhuha sementara ia masih duduk di sana.

Beliau bertanya:

««مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا؟»

“Apakah engkau masih dalam keadaan seperti ketika aku meninggalkanmu?”»

Ia menjawab, “Ya.”

Nabi ﷺ kemudian bersabda:

««لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ»

“Sesungguhnya setelah meninggalkanmu aku telah mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali. Seandainya kalimat-kalimat tersebut ditimbang dengan semua zikir yang engkau ucapkan sejak pagi tadi, niscaya kalimat-kalimat tersebut akan mengimbanginya:

Subḥānallāhi wa biḥamdih, ‘adada khalqih, wa riḍā nafsih, wa zinata ‘arsyih, wa midāda kalimātih.

Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, sebanyak jumlah makhluk-Nya, sesuai keridhaan-Nya, seberat ‘Arsy-Nya, dan sebanyak tinta untuk menulis kalimat-kalimat-Nya.”

(HR. Muslim, no. 2726.)»

3. Menjaga Zikir Setelah Shalat Wajib

Dari Abdullah bin ‘Amr—semoga Allah meridhai keduanya—Nabi ﷺ bersabda:

««خَصْلَتَانِ أَوْ خَلَّتَانِ لَا يُحَافِظُ عَلَيْهِمَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ: يُسَبِّحُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ عَشْرًا، وَيَحْمَدُ عَشْرًا، وَيُكَبِّرُ عَشْرًا، فَذَلِكَ خَمْسُونَ وَمِائَةٌ بِاللِّسَانِ، وَأَلْفٌ وَخَمْسُ مِائَةٍ فِي الْمِيزَانِ، وَيُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ، وَيَحْمَدُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَيُسَبِّحُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَذَلِكَ مِائَةٌ بِاللِّسَانِ وَأَلْفٌ فِي الْمِيزَانِ…»

“Ada dua amalan yang apabila seorang Muslim menjaganya, niscaya ia masuk surga. Keduanya mudah, tetapi sedikit orang yang mengamalkannya.

Ia bertasbih sepuluh kali setiap selesai shalat, bertahmid sepuluh kali, dan bertakbir sepuluh kali. Jumlahnya seratus lima puluh di lisan dalam sehari, tetapi menjadi seribu lima ratus dalam timbangan.

Ketika hendak tidur, ia bertakbir tiga puluh empat kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, dan bertasbih tiga puluh tiga kali. Jumlahnya seratus di lisan, tetapi menjadi seribu dalam timbangan….”

(HR. Ahmad, no. 6616; Abu Dawud, no. 5065; at-Tirmidzi, no. 3410; an-Nasa’i, no. 1331; Ibnu Majah, no. 926. Disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Ṣaḥīḥ at-Targhīb wa at-Tarhīb.)»

4. Bersabar dan Mengharap Pahala ketika Kehilangan Anak yang Saleh

Dari Zaid, dari Abu Sallam, dari salah seorang maula Rasulullah ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

««بَخٍ بَخٍ، خَمْسٌ مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يُتَوَفَّى فَيَحْتَسِبُهُ وَالِدَاهُ»

“Sungguh luar biasa! Ada lima perkara, betapa beratnya kelima perkara tersebut dalam timbangan: Lā ilāha illallāh, Allāhu Akbar, Subḥānallāh, Alḥamdulillāh, dan seorang anak saleh yang meninggal dunia kemudian kedua orang tuanya mengharap pahala dari Allah atas kehilangannya.”»

Kemudian beliau bersabda:

««بَخٍ بَخٍ لِخَمْسٍ، مَنْ لَقِيَ اللَّهَ مُسْتَيْقِنًا بِهِنَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ: يُؤْمِنُ بِاللَّهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَبِالْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْحِسَابِ»

“Sungguh luar biasa lima perkara! Barang siapa bertemu Allah dalam keadaan meyakini kelimanya, niscaya ia masuk surga: beriman kepada Allah, hari Akhir, surga dan neraka, kebangkitan setelah kematian, dan hisab.”

(HR. Ahmad, no. 15107. Disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah aṣ-Ṣaḥīḥah.)»

5. Akhlak yang Mulia

Akhlak mulia merupakan salah satu amal yang paling berat dalam timbangan pada hari Kiamat.

Dari Abu Darda’—semoga Allah meridhainya—Nabi ﷺ bersabda:

««مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ»

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan daripada akhlak yang baik.”

(HR. Abu Dawud, no. 4799. Disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Abī Dāwud.)»

Dalam riwayat lain, dari Ummu Darda’, dari Abu Darda’—semoga Allah meridhainya—ia berkata bahwa ia mendengar Nabi ﷺ bersabda:

««مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ، وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ»

“Tidak ada sesuatu yang diletakkan dalam timbangan yang lebih berat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya dengan akhlak yang baik, seseorang dapat mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat.”

(HR. at-Tirmidzi, no. 2003. Disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Ṣaḥīḥ at-Tirmiżī.)»

Dengan demikian, beratnya timbangan seorang hamba bukan hanya berkaitan dengan banyaknya ibadah ritual. Kejujuran, kesabaran, kelembutan, menjaga lisan, tidak menyakiti orang lain, memaafkan, dan berbagai bentuk akhlak mulia juga memiliki kedudukan yang sangat besar dalam timbangan amal.

6. Mengikuti Jenazah hingga Selesai Dikuburkan

Dari Ubay—semoga Allah meridhainya—Nabi ﷺ bersabda:

««مَنْ تَبِعَ جَنَازَةً حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيُفْرَغَ مِنْهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ، وَمَنْ تَبِعَهَا حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِهِ مِنْ أُحُدٍ»

“Barang siapa mengikuti jenazah sampai dishalatkan dan selesai penguburannya, maka baginya dua qirath. Barang siapa mengikutinya sampai dishalatkan, maka baginya satu qirath. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh pahala itu lebih berat dalam timbangannya daripada Gunung Uhud.”

(HR. Ahmad, no. 20256. Disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi‘ aṣ-Ṣaghīr.)»

Kesimpulan

Di antara amal yang secara khusus disebutkan dalam nash sebagai pemberat timbangan pada hari Kiamat adalah:

1. Tauhid dan kalimat “Lā ilāha illallāh”.
2. Zikir kepada Allah, khususnya tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir.
3. Menjaga zikir setelah shalat wajib dan sebelum tidur.
4. Bersabar dan mengharap pahala kepada Allah ketika kehilangan anak yang saleh.
5. Memiliki akhlak yang mulia.
6. Mengikuti jenazah hingga selesai penguburannya.

Di atas semuanya, setiap amal saleh sekecil apa pun tidak akan disia-siakan oleh Allah:

«﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ﴾

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya.”
(QS. az-Zalzalah: 7)»

Wallahu a‘lam.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button