Khutbah: Antara Pengorbanan dan Ibadah Kurban

Download Pdfnya Klik
Khutbah Pertama
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ رَبِّي لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. أَمَّا بَعْدُ:
Wahai kaum mukminin, Rahumakumullah:
Dipagi yang berbahagia ini, saya berwasiat kepada kalian dan diri saya sendiri untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala, karena ia adalah sebaik-baik bekal. Allah berfirman:
﴿ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ ﴾ [البقرة: 197]
“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd.
Wahai hamba-hamba Allah:
Di hari yang agung ini; hari Nahar atau hari berkurban, hari haji akbar, kita teringat kisah pengorbanan dan penebusan yang dikabarkan oleh berita paling benar dalam kisah-kisah Al-Qur’an tentang Kekasih Allah, Nabi Ibrahim, dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihimas salam. Sebuah kisah agung yang menjelaskan makna pengorbanan dan penebusan, yang darinya syariat kurban berasal, dan menjadi sunah bagi manusia hingga hari ini sampai kelak hari kiamat.
Wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah:
Sungguh Ibrahim Al-Khalil ‘alaihissalam telah berkata kepada putranya setelah ia dikaruniai anak tersebut di masa tuanya, kemudian mendidiknya hingga anak itu mencapai usia sanggup berusaha bersamanya:
﴿ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴾ [الصافات: 102]
“Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102)
Wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah:
Sungguh Ibrahim Al-Khalil ‘alaihissalam telah mengorbankan kenyamanan yang dia miliki, dan berkorban dengan hijrahnya ke tanah yang tandus tiada tanaman. Bersama dengan anak dan istrinya, Hajar dan Ismail ‘alaihimassalam, yang turut serta dalam pengorbanan tersebut.
Hajar adalah teladan wanita yang sabar dan senantiasa mengharap pahala dari Allah, ketika itu ia dibawa oleh suaminya dari tanah Palestina ke gurun Makkah yang tandus, lalu Ibrahim menempatkannya di sana, di dekat lokasi Baitul Haram.
Hajar pun bertanya, “Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau meninggalkan kami di sini tanpa ada teman dan tetangga?”
Ibrahim tidak menjawab sepatah kata pun.
Hajar bertanya lagi, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”
Ibrahim menjawab, “Ya.”
Maka Hajar dengan penuh keyakinan membalas, “Kalau begitu, Dia tidak akan menelantarkan kami.”
Ia juga mengorbankan putra yang sangat dicintainya, yang baru didapatkannya di usia senja. Inilah pengorbanan sejati dari keluarga yang diberkahi. Dari seorang ayah yang jujur dan taat pada perintah Allah; berpadu dengan seorang istri yang sabar, tunduk pada syariat Allah, dan taat pada suaminya karena Allah; melahirkan seorang putra yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Mereka semua disatukan oleh iman, ikatan kesabaran, dan semangat penebusan jiwa.
Wahai kaum mukminin:
Sesungguhnya hewan-hewan kurban yang disembelih pada hari ini dan ditumpahkan darahnya, telah didahului oleh pengorbanan-pengorbanan besar yang dipersembahkan oleh Bapak Para Nabi ‘alaihissalam, yang Allah firmankan tentangnya:
﴿ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً ﴾ [النحل: 120]
“Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan).” (QS. An-Nahl: 120)
Ya, sungguh Ibrahim Al-Khalil adalah teladan dalam pengorbanan, teladan dalam keteguhan, teladan dalam mengikuti tauhid dan meninggalkan kesyirikan, teladan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan dalam melaksanakan segala titah-Nya.
Ibrahim Al-Khalil tidak menyembelih domba kecuali setelah ia membuktikan kejujuran iman dan keyakinannya. Ia mengorbankan dirinya di dalam kobaran api demi tegaknya Laa ilaaha illallaah dan tauhid kepada Allah. Ia mengorbankan keluarganya di padang pasir demi mematuhi perintah-Nya. Ia rela menyembelih putra satu-satunya sebagai wujud kepatuhan kepada perintah Allah; peristiwa yang Allah firmankan kepadanya:
﴿ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ ﴾ [الصافات: 106]
“Sungguh, ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-Saffat: 106)
Wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah:
Tujuan utama dari pengorbanan ini tidak lain adalah agar Allah menguji hati hamba-hamba-Nya dalam hal mendengar, taat, dan patuh pada perintah-Nya, agar kelak Dia Jalla wa ‘Ala mengaruniakan nikmat yang besar, sebagai buah dari kejujuran dalam menghadapi cobaan tersebut.
Pengorbanan Ibrahim Al-Khalil ‘alaihissalam bukanlah sekadar cerita yang diriwayatkan, melainkan rekam jejak mulia yang abadi. Setiap episodenya adalah madrasah dalam keikhlasan beramal, pengorbanan, keteguhan, ketundukan, dan pendidikan tauhid. Ia adalah cermin yang memantulkan sosok seorang hamba saat berserah diri pada perintah Rabbnya, kendati perintah itu berupa menyembelih anak kandungnya sendiri.
Wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah:
Sembari mengenang kisah Ibrahim Al-Khalil bersama putranya dan istrinya Hajar, kita juga harus mengarahkan pandangan yang tajam pada hari ini kepada mereka yang mengorbankan segalanya demi kesucian agama di bumi Palestina.
Tidakkah kita melihat hari ini gambaran pengorbanan yang terulang pada ribuan sosok ibu di Palestina? Tidakkah kita melihat pengorbanan ayah dan ibu, harta dan anak, bangunan dan tempat tinggal? Tidakkah kita menyaksikan pengorbanan para wanita dan harta benda? Tidakkah kalian mendengar kabar tentang seorang dokter wanita luar biasa yang mengorbankan sembilan anak dan suaminya demi agama dan tanah sucinya, sementara ia sendiri tetap teguh menjalankan tugas medis merawat para korban luka di rumah sakit?
Inilah bentuk nyata dari penebusan. Hakikat pengorbanan bukanlah sekadar menyembelih domba dan menyantapnya di Idul Adha. Pengorbanan sejati adalah saat engkau mempersembahkan apa yang engkau miliki demi agamamu, demi membela Islam, dan demi mempertahankan tempat-tempat suci.
Tidakkah kita melihat Ismail ‘alaihissalam yang bersiap untuk syahid disembelih oleh ayahnya di usia belia? Hari ini, kita menyaksikan pada wajah anak-anak Palestina puluhan rupa “Ismail”, saat mereka gugur setiap hari akibat kebrutalan pengeboman musuh Zionis yang menghancurkan rumah-rumah dan tempat bernaung mereka.
Penduduk Palestina, melalui keteguhan dan kesabaran mereka, tengah merajut makna pengorbanan yang paling agung. Mereka menghidupkan kembali pelajaran tentang pengorbanan sejati untuk melindungi agama dan akidah. Mereka mengingatkan kita bahwa Islam bukan sekadar euforia memakai baju baru, atau sekadar menyembelih hewan kurban lalu berpesta daging bersama keluarga. Mereka mempertaruhkan nyawa, merelakan anak-anak mereka, dan mengorbankan gedung-gedung yang mereka bangun dari tetes keringat sendiri; demi bertahan menghadapi agresi mesin perusak yang tak pernah menghargai nyawa dan kehormatan seorang mukmin.
Wahai kaum mukminin:
Oleh karena itu, hewan kurban (Udhhiyah) adalah satu hal, sementara pengorbanan (Tadhhiyah) adalah pilar yang jauh lebih luas. Dalam agama yang agung ini, pengorbanan adalah kerelaan memberi dan berkorban. Pengorbanan berarti engkau tidak akan membiarkan agamamu dilecehkan, sementara engkau hanya sibuk menyembelih hewan kurban dan bersenang-senang.
Pengorbanan adalah ketaatan mutlak kepada Allah Subhanahu, sekalipun itu bertentangan dengan hawa nafsu dan kenyamananmu. Pengorbanan berarti menyerahkan jiwa dan anak-anak demi Allah. Bagi seorang muslimah, pengorbanan berarti menaati suaminya, mematuhi perintah Tuhannya, dan mencetak generasi penerus yang kelak akan membela Islam.
Wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah:
Tentu saja makna pengorbanan tidak selalu harus diidentikkan dengan tumpahan darah. Agar kita tidak merasa putus asa, jika saat ini kita belum mampu berjuang dengan darah dan harta di medan perang, ada jalan pengorbanan lain yang wajib ditekuni seorang muslim di setiap siang dan malamnya: Pengorbanan melalui tenaga, pengorbanan dengan waktu, pengorbanan lewat ilmu, dan pengorbanan melalui karya.
Barangsiapa yang rela membuang waktu istirahatnya demi melayani kepentingan umat manusia, maka ia termasuk orang-orang yang berkorban demi agama Allah, asalkan niatnya tulus murni karena Allah.
- Seorang dokter yang kelelahan mengobati pasien tanpa menjadikan profesinya sekadar alat mencari keuntungan yang memberatkan rakyat, ia sedang berkorban di jalan Allah dengan kemampuannya.
- Seorang petani yang menanam dan memanen agar kaum muslimin dapat mandiri dan berhenti bergantung pada impor asing, ia adalah pahlawan yang sedang berkorban di tengah masyarakatnya.
- Begitu pula pejabat publik yang mengorbankan jam tidurnya demi kenyamanan dan kesejahteraan rakyat, ini adalah bentuk luhur dari pengorbanan.
- Hingga seorang pelajar yang menuntut ilmu; ia berkorban menahan rasa lelah demi membangun masa depan masyarakatnya.
Siapa pun yang profesional dalam pekerjaannya, melahirkan karya dan inovasi, serta menyiapkan kekuatan untuk membangun umat; mereka semua berada dalam payung makna pengorbanan dan perjuangan.
Wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah:
Maka, meski pengorbanan di medan jihad adalah derajat tertinggi, pengorbanan dalam membangun pabrik, sekolah, fasilitas kesehatan, lahan pertanian, serta mencetak umat yang mandiri dengan hasil produksinya sendiri, juga merupakan perjuangan vital. Hal ini harus menjadi fokus utama kita demi kebangkitan umat yang kini tengah melemah dan dikuasai musuh akibat kelemahan dan kelalaian kita sendiri.
Wahai kaum mukminin:
Kita perlu merevitalisasi makna pengorbanan dalam hidup kita pada dua hal sekaligus: Pengorbanan di jalan Allah dengan harta dan nyawa untuk meninggikan agama-Nya serta melindungi hal yang suci; juga pengorbanan dengan waktu, tenaga, dan jerih payah untuk membangun kemajuan, peradaban, dan kemandirian umat.
أَسْأَلُ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُمْ لِمَا يُحِبُّ وَيَرْضَىٰ، أَقُولُ مَا سَمِعْتُمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ الْمُجْرِمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
أَمَّا بَعْدُ:
Wahai kaum mukminin:
Di hari yang mulia ini, hari yang paling agung di dunia tanpa ada keraguan; sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
«خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ هُوَ يَوْمُ النَّحْرِ»
“Sebaik-baik hari saat matahari terbit di atasnya adalah hari Nahar (Idul Adha).”
Pada hari ini, para jemaah haji menyempurnakan ibadah manasik mereka; mulai dari melempar jumrah, mencukur rambut (tahallul), menyembelih hewan hadyu (dam), hingga tawaf dan sa’i. Inilah rangkaian amal ibadah haji di hari Nahar ini.
Adapun kita semua—wahai kaum mukminin—berada dalam pusaran ibadah yang lain; yaitu ibadah salat Id, menyembelih hewan kurban, serta menggemakan takbir dan tahlil, Allah berfirman:
﴿ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ ﴾ [الحج: 37]
“Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)
Kumandangkanlah takbir di jalan-jalan dan di masjid-masjid. Lantunkanlah takbir usai salat fardu. Hari-hari ini adalah hari-hari takbir, di mana syariat takbir terus berlanjut hingga terbenamnya matahari pada hari terakhir Tasyrik, yakni tanggal tiga belas Zulhijah.
Wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah:
Menyembelih kurban adalah sunah muakkadah bagi mereka yang mampu. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa kurban hukumnya wajib bagi yang mampu, sebab ini merupakan salah satu bentuk pengagungan terhadap syiar Allah Ta’ala:
﴿ ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ ﴾ [الحج: 32]
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Wahai kaum mukminin, sekalian:
Di antara syarat sahnya kurban adalah memilih hewan kurban yang sehat tanpa cacat. Kemudian disembelih setelah pelaksanaan salat Id; sebab barangsiapa yang menyembelihnya sebelum salat, maka itu hanya dihitung sebagai sedekah daging biasa, bukan kurban. Sedekahkanlah sebagian dagingnya dan hadiahkan pula kepada tetangga-tetangga Anda.
Hati-hatilah, jangan pernah menjual bagian sekecil apa pun dari hewan kurban tersebut, termasuk jangan memberikan daging/kulitnya sebagai upah kepada jagal (penyembelih). Hewan kurban harus dipersembahkan seutuhnya murni untuk Allah. Karena ia adalah syiar agama, dan pengagungannya bersumber dari hati yang bertakwa.
Wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah:
Pada hari yang fitrah ini, umat muslim saling berjumpa dan berjabat tangan, menyampaikan ucapan selamat Idul Adha. Maka pastikan bahwa jabat tangan dan ucapan tersebut benar-benar tulus keluar dari lubuk hati yang bersih—hati yang tidak menyimpan kedengkian, hasad, maupun dendam kesumat.
Kita sangat membutuhkan persatuan. Kita harus merapatkan barisan dan menyembuhkan penyakit yang menggerogoti keikhlasan hati kita, sebagai dampak dari berbagai konflik, perselisihan, dan musibah. Seorang mukmin adalah saudara kandung bagi mukmin lainnya; ia harus berjabat tangan dengannya tidak hanya menggunakan fisiknya, melainkan menggunakan kelapangan batinnya.
Wahai kaum mukminin, hamba-hamba Allah:
Perhatikanlah esensi hari raya. Merupakan fitrah manusia untuk bergembira, namun janganlah merayakannya dengan cara yang diharamkan, baik pada saat hari raya maupun hari lainnya:
﴿ قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ ﴾ [يونس: 58]
“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.'” (QS. Yunus: 58)
Bersenang-senanglah, bahagiakan jiwa Anda, keluarga, serta anak-anak di hari yang berkah ini. Bergembira pada Idul Adha adalah ibadah dan bagian dari mengagungkan syiar Allah. Namun, jangan jadikan momen ini sebagai pembenaran untuk melakukan kemaksiatan atau melanggar larangan Allah. Tentang hari-hari ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ»
“Hari-hari (Tasyrik) adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah.”
Dan karena ini adalah momentum perayaan syukur (Id), maka diharamkan bagi kita untuk berpuasa.
Sambunglah tali silaturahmi dengan kerabat, jenguklah keadaan mereka. Jika jarak memisahkan, hubungilah mereka walau hanya lewat telepon genggam. Silaturahmi adalah pilar syiar Allah yang kokoh. Waspadalah dari memutus hubungan kekerabatan, sebab perbuatan memutus tali silaturahmi merupakan salah satu jalan menuju api neraka, wal ‘iyadzu billah.
Akhirnya, marilah bershalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana perintah Allah Ta‘ala:
﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ عَلَى نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ نَبِيِّنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُومًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُومًا، وَلَا تَدَعْ فِينَا وَلَا مَعَنَا شَقِيًّا وَلَا مَحْرُومًا.
اللَّهُمَّ انْصُرِ الْإِسْلَامَ وَأَعِزَّ الْمُسْلِمِينَ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْخَيْرِ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَانْشُرِ السَّلَامَ وَالْأَمْنَ فِي الْعِبَادِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ كُنْ عَوْنًا لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَكُنْ مَعَهُمْ وَلِيَّهُمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، وَاجْعَلِ الدَّائِرَةَ عَلَيْهِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
عِبَادَ اللَّهِ: ﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
﴿وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ﴾.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللهِ وَبَرَكَاتُهُ



