Biografi Ibnu Abdil Barr rahimahullah

Biografi Ibnu Abdil Barr rahimahullah
Nama: Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdil Barr An-Namari Al-Qurthubi Al-Maliki.
Nama yang masyhur: Ibnu Abdil Barr.
Kunyah: Abu Umar.
Bidang keilmuan: Hadis dan fikih.
Tahun kelahiran: 368 H / 978 M.
Tempat kelahiran: Cordoba, Andalusia (Spanyol).
Tahun wafat: 463 H / 1071 M.
Tempat wafat: Syathibah (Xàtiva), Andalusia (Spanyol).
Umur Panjang dan Sanad yang Tinggi
Di antara karunia Allah kepada Imam Ibnu Abdil Barr adalah umur panjang yang dianugerahkan kepadanya. Beliau hidup selama sekitar sembilan puluh lima tahun. Dengan usia yang panjang tersebut, beliau sempat bertemu dan mengambil ilmu dari sejumlah ulama yang tidak sempat ditemui oleh banyak ulama sezamannya.
Beliau juga memiliki keistimewaan karena mulai mendengar dan mempelajari hadis sejak masa yang relatif awal. Allah memberkahi umurnya sehingga beliau menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah, berdakwah di jalan-Nya, mengajarkan ilmu, mengajar para penuntut ilmu, menghimpun berbagai riwayat, serta menulis dan menyusun karya-karya ilmiah.
Karya-karyanya tersebar luas ke berbagai negeri. Para ulama pada zamannya mengakui keluasan ilmunya hingga beliau mendapat gelar Hāfiẓ al-Maghrib (حافظ المغرب), “Sang Hafizh dari wilayah Barat dunia Islam.”
Sejumlah ulama terkemuka mengambil ilmu darinya. Di antara yang paling terkenal adalah Ibnu Hazm. Ibnu Hazm memiliki hubungan yang dekat dengannya, sering berinteraksi dan berbincang dengannya, serta mengambil ilmu hadis darinya.
Keluasan dan Ensiklopedia Keilmuannya
Imam Ibnu Abdil Barr dikenal memiliki penguasaan yang mendalam dalam berbagai cabang ilmu sehingga dapat dikatakan sebagai seorang ulama ensiklopedis.
Dalam bidang fikih, beliau merupakan seorang ahli fikih terkemuka yang sulit ditandingi. Beliau juga termasuk di antara ulama fikih generasi awal yang memberikan perhatian besar terhadap fikih perbandingan (الفقه المقارن).
Meskipun beliau merupakan salah seorang tokoh besar Mazhab Maliki, dalam berbagai persoalan beliau tidak jarang mengambil pendapat ulama Syafi‘iyyah dan bahkan mengunggulkannya atas pendapat para ulama mazhabnya sendiri.
Beliau juga merupakan salah seorang imam dalam bidang hadis yang ketelitian dan periwayatannya dijadikan pegangan. Beliau termasuk ulama yang paling kuat hafalannya di Andalusia dan wilayah Maghrib. Bahkan, beliau termasuk ulama yang mencapai tingkatan para imam mujtahid.
Siapa pun yang menelaah karya-karya Ibnu Abdil Barr akan menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang ulama besar. Karya-karyanya menunjukkan keluasan wawasan dan kedalaman penguasaannya terhadap berbagai disiplin ilmu.
Beliau menulis dalam bidang fikih, hadis, biografi para tokoh, sirah, sastra, keutamaan ilmu, dan berbagai disiplin lainnya. Seluruh karya tersebut kemudian mendapatkan perhatian besar dari para ulama setelahnya. Bahkan, karya-karyanya menjadi sumber rujukan penting bagi generasi sesudahnya hingga masa sekarang.
Karya Monumentalnya: At-Tamhīd
Ibnu Abdil Barr mempersembahkan kepada khazanah keilmuan Islam sejumlah besar karya ilmiah yang agung dan bermanfaat dalam berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan. Namun, kitabnya yang berjudul:
«التمهيد لما في الموطأ من المعاني والأسانيد»
At-Tamhīd limā fī al-Muwaṭṭa’ min al-Ma‘ānī wa al-Asānīd
merupakan salah satu karya yang memperoleh perhatian, penghargaan, dan pujian paling besar.
Ibnu Abdil Barr menyusun kitab tersebut berdasarkan nama-nama guru Imam Malik dan mengurutkannya menurut huruf hijaiyah. Kitab ini merupakan karya istimewa yang belum pernah didahului oleh karya sejenis dengan kualitas yang sama.
Ibnu Hazm berkata:
«لَا أَعْلَمُ فِي الْكَلَامِ عَلَى فِقْهِ الْحَدِيثِ مِثْلَهُ، فَكَيْفَ أَحْسَنَ مِنْهُ؟»
“Aku tidak mengetahui sebuah karya dalam pembahasan fikih hadis yang semisal dengannya; lalu bagaimana mungkin ada yang lebih baik darinya?”
Ibnu Abdil Barr sendiri menggambarkan kedekatannya dengan kitab At-Tamhīd melalui bait-bait syair:
سَمِيرُ فُؤَادِي مِنْ ثَلَاثِينَ حِجَّةً
وَصَاقِلُ ذِهْنِي وَالْمُفَرِّجُ عَنْ هَمِّي
“Ia menjadi teman akrab hatiku selama tiga puluh tahun,
pengasah pikiranku dan penghilang kegelisahanku.”
بَسَطْتُ لَهُمْ فِيهِ كَلَامَ نَبِيِّهِمْ
لِمَا فِي مَعَانِيهِ مِنَ الْفِقْهِ وَالْعِلْمِ
“Di dalamnya aku uraikan untuk mereka sabda Nabi mereka,
karena dalam kandungan maknanya terdapat fikih dan ilmu.”
وَفِيهِ مِنَ الْآدَابِ مَا يُهْتَدَى بِهِ
إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَنَهْيٌ عَنِ الظُّلْمِ
“Di dalamnya terdapat berbagai adab yang menjadi petunjuk,
menuju kebajikan dan ketakwaan, serta larangan dari kezaliman.”
Guru-guru Ibnu Abdil Barr
1. Abu Umar Ahmad bin Abdul Malik bin Hasyim Ibnu al-Makwi (324–401 H).
2. Khalaf bin Qasim bin Sahl Ibnu ad-Dabbagh (325–393 H).
3. Abu Umar Ahmad bin Abdullah al-Baji (332–396 H).
4. Abu Umar Ahmad bin Muhammad ath-Thalamanki (340–429 H).
5. Ahmad bin Fath bin Abdullah at-Tajir.
6. Ahmad bin Qasim bin Abdurrahman al-Bazzaz (w. 395 H).
7. Ahmad bin Muhammad Ibnu al-Jusur (w. 401 H).
8. Ahmad bin Muhammad bin Abdullah Ibnu ash-Shaffar.
9. Ahmad bin Muhammad bin Umar Ibnu Mufarrij.
10. Ahmad bin Muhammad bin Yahya Ibnu al-Hadza’.
11. Ahmad bin Sa‘id bin Hazm.
12. Ahmad bin Abdullah bin Muhammad.
13. Ahmad bin Umar bin Anas.
14. Ahmad bin Umar bin Yusuf.
15. Abdullah bin Muhammad bin Abdul Mu’min.
16. Abdurrahman bin Yahya.
17. Abdurrahman bin Abdullah bin Khalid bin Musafir Ibnu al-Kharraz.
18. Abu al-Walid Abdullah bin Muhammad bin Yusuf Ibnu al-Faradhi (351–403 H).
19. Abu al-Qasim Abdul Warits bin Sufyan bin Jabrun (w. 395 H).
20. Abu Nashr Muhammad bin Ibrahim al-Baghdadi asy-Syafi‘i al-Mahdi.
21. Muhammad bin Ibrahim bin Sa‘id Ibnu Abi al-Qaramid.
22. Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin Ubaidillah al-Bajani.
23. Abu Bakar Muhammad bin Ibrahim bin Mush‘ab al-Asy‘ari Ibnu Abi Muqni‘.
24. Muhammad bin Abdullah bin Isa Ibnu Abi Zamanin (w. 399 H).
25. Abu Nashr Harun bin Musa bin Jandal al-Qaisi.
26. Abu Bakar Wasim bin Ahmad bin Muhammad al-Umawi al-Khantami.
27. Abu Bakar Yahya bin Abdurrahman Ibnu Wajh al-Jannah.
Murid-murid Ibnu Abdil Barr
1. Abu Ja‘far Ahmad bin Muhammad bin Rizq al-Umawi al-Qurthubi (427–477 H).
2. Abu Ali al-Husain bin Muhammad bin Ahmad al-Ghassani al-Jayyani (427–498 H).
3. Abu Muhammad Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Attab al-Qurthubi (433–520 H).
4. Abu al-Hasan Thahir bin Mafuz bin Ahmad asy-Syathibi al-Ma‘afiri (423–484 H).
Di antara murid terkenal lainnya yang disebut sumber biografi adalah Abu Abdullah al-Humaidi (420–488 H) dan Abu Yahya Sufyan bin al-‘Ash (w. 520 H).
Akidah Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr tentang Sifat-Sifat Allah Ta‘ala
Orang yang menelaah karya-karya Al-Hafizh Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullah akan mendapati bahwa beliau berada di atas akidah Salaf, yaitu akidah Ahlul Hadis. Beliau tidak menakwil sifat-sifat Allah Ta‘ala dengan metode ilmu kalam. Dari berbagai keterangan yang beliau tuliskan, dapat dijelaskan beberapa perkara berikut.
Pertama: Menetapkan makna lahiriah nash-nash sifat dan tidak menerima tafwidh terhadap maknanya
Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata:
قال أبو عمر ابن عبد البر رحمه الله:
««أَهْلُ السُّنَّةِ مُجْمِعُونَ عَلَى الْإِقْرَارِ بِالصِّفَاتِ الْوَارِدَةِ كُلِّهَا فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، وَالْإِيمَانِ بِهَا، وَحَمْلِهَا عَلَى الْحَقِيقَةِ لَا عَلَى الْمَجَازِ، إِلَّا أَنَّهُمْ لَا يُكَيِّفُونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ، وَلَا يَحُدُّونَ فِيهِ صِفَةً مَحْصُورَةً. وَأَمَّا أَهْلُ الْبِدَعِ وَالْجَهْمِيَّةُ وَالْمُعْتَزِلَةُ كُلُّهَا وَالْخَوَارِجُ فَكُلُّهُمْ يُنْكِرُهَا، وَلَا يَحْمِلُ شَيْئًا مِنْهَا عَلَى الْحَقِيقَةِ، وَيَزْعُمُونَ أَنَّ مَنْ أَقَرَّ بِهَا مُشَبِّهٌ، وَهُمْ عِنْدَ مَنْ أَثْبَتَهَا نَافُونَ لِلْمَعْبُودِ، وَالْحَقُّ فِيمَا قَالَهُ الْقَائِلُونَ بِمَا نَطَقَ بِهِ كِتَابُ اللَّهِ وَسُنَّةُ رَسُولِهِ، وَهُمْ أَئِمَّةُ الْجَمَاعَةِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ».»
“**Ahlus Sunnah telah bersepakat untuk mengakui seluruh sifat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, mengimaninya, serta memahaminya menurut hakikatnya, bukan sebagai majas. Hanya saja mereka tidak menentukan bagaimana hakikat kaifiah sedikit pun dari sifat-sifat tersebut dan tidak memberikan batasan tertentu terhadapnya. Adapun ahli bid‘ah, Jahmiyyah, seluruh Mu‘tazilah, dan Khawarij, mereka mengingkarinya dan tidak memahami sedikit pun darinya menurut hakikatnya. Mereka menganggap orang yang menetapkannya sebagai musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Sementara menurut orang-orang yang menetapkan sifat-sifat tersebut, justru merekalah yang menafikan sifat-sifat Dzat yang disembah. Kebenaran berada pada pendapat orang-orang yang mengatakan sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Mereka itulah para imam Al-Jama‘ah. Segala puji bagi Allah.”
(Ibnu Abdil Barr, At-Tamhīd limā fī al-Muwaṭṭa’ min al-Ma‘ānī wa al-Asānīd, 7/145).
Inilah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka menetapkan sifat-sifat Allah, mengimaninya, dan menetapkan maknanya. Adapun mengenai kaifiah atau bagaimana hakikat sifat tersebut, mereka menyerahkannya kepada Allah. Mereka mengimani sifat-sifat tersebut menurut hakikatnya.
Sebagaimana perkataan yang masyhur dari Imam Malik rahimahullah mengenai istiwa’:
««الِاسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ، وَالْكَيْفُ مَجْهُولٌ»»
“Istiwa’ itu diketahui maknanya, sedangkan bagaimana hakikatnya tidak diketahui.”
Dengan demikian, mereka mengimani istiwa’ baik lafaz maupun maknanya sebagai istiwa’ yang hakiki, sedangkan bagaimana kaifiahnya tidak diketahui kecuali oleh Allah.
Kedua: Menolak pemaknaan majazi dan menetapkan bahwa hukum asal suatu perkataan adalah makna hakikinya
Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata:
««وَأَمَّا ادِّعَاؤُهُمُ الْمَجَازَ فِي الِاسْتِوَاءِ، وَقَوْلُهُمْ فِي تَأْوِيلِ اسْتَوَى: اسْتَوْلَى، فَلَا مَعْنَى لَهُ؛ لِأَنَّهُ غَيْرُ ظَاهِرٍ فِي اللُّغَةِ، وَمَعْنَى الِاسْتِيلَاءِ فِي اللُّغَةِ الْمُغَالَبَةُ، وَاللَّهُ لَا يُغَالِبُهُ وَلَا يَعْلُوهُ أَحَدٌ، وَهُوَ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ. وَمِنْ حَقِّ الْكَلَامِ أَنْ يُحْمَلَ عَلَى حَقِيقَتِهِ حَتَّى تَتَّفِقَ الْأُمَّةُ أَنَّهُ أُرِيدَ بِهِ الْمَجَازُ؛ إِذْ لَا سَبِيلَ إِلَى اتِّبَاعِ مَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا مِنْ رَبِّنَا إِلَّا عَلَى ذَلِكَ. وَإِنَّمَا يُوَجَّهُ كَلَامُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى الْأَشْهَرِ وَالْأَظْهَرِ مِنْ وُجُوهِهِ مَا لَمْ يَمْنَعْ مِنْ ذَلِكَ مَا يَجِبُ لَهُ التَّسْلِيمُ. وَلَوْ سَاغَ ادِّعَاءُ الْمَجَازِ لِكُلِّ مُدَّعٍ مَا ثَبَتَ شَيْءٌ مِنَ الْعِبَارَاتِ. وَجَلَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْ أَنْ يُخَاطِبَ إِلَّا بِمَا تَفْهَمُهُ الْعَرَبُ فِي مَعْهُودِ مُخَاطَبَاتِهَا مِمَّا يَصِحُّ مَعْنَاهُ عِنْدَ السَّامِعِينَ».»
“Adapun klaim mereka bahwa istiwa’ merupakan majas, serta perkataan mereka dalam menakwilkan istawā dengan istaulā (menguasai), maka pendapat itu tidak memiliki dasar makna, karena hal tersebut bukan makna yang tampak dalam bahasa. Makna istīlā’ dalam bahasa adalah mengalahkan atau menguasai setelah adanya perlawanan, sedangkan Allah tidak dapat dikalahkan dan tidak ada seorang pun yang berada di atas-Nya. Dia adalah Yang Maha Esa lagi tempat bergantung seluruh makhluk.
Hukum asal suatu perkataan adalah dipahami menurut makna hakikinya sampai umat bersepakat bahwa yang dimaksud dengannya adalah makna majazi. Sebab tidak ada jalan untuk mengikuti apa yang diturunkan kepada kita dari Rabb kita kecuali dengan cara tersebut.
Firman Allah ‘Azza wa Jalla harus diarahkan kepada maknanya yang paling masyhur dan paling jelas selama tidak terdapat sesuatu yang wajib diterima yang menghalangi pemahaman tersebut. Seandainya setiap orang diperbolehkan mengklaim adanya majas, niscaya tidak ada satu pun ungkapan yang dapat ditetapkan maknanya. Mahasuci Allah ‘Azza wa Jalla dari berbicara kepada manusia kecuali dengan sesuatu yang dipahami oleh bangsa Arab berdasarkan kebiasaan komunikasi mereka, yang maknanya dapat dipahami dengan benar oleh para pendengarnya.”
Kemudian beliau berkata:
««وَالِاسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ فِي اللُّغَةِ وَمَفْهُومٌ، وَهُوَ الْعُلُوُّ وَالِارْتِفَاعُ عَلَى الشَّيْءِ وَالِاسْتِقْرَارُ وَالتَّمَكُّنُ فِيهِ».»
“Istiwa’ telah diketahui dan dipahami dalam bahasa, yaitu tinggi dan berada di atas sesuatu, menetap dan berada dengan kukuh padanya.”
Kemudian beliau mengutip Abu Ubaidah mengenai firman Allah:
«﴿ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ﴾ [البقرة: 29]»
Abu Ubaidah berkata:
««عَلَا»»
“Yakni: tinggi.”
Ia berkata:
««وَتَقُولُ الْعَرَبُ: اسْتَوَيْتُ فَوْقَ الدَّابَّةِ، وَاسْتَوَيْتُ فَوْقَ الْبَيْتِ».»
“Orang Arab mengatakan: ‘Aku berada di atas kendaraan,’ dan ‘aku berada di atas rumah.’”
Abu Umar Ibnu Abdil Barr kemudian berkata:
««الِاسْتِوَاءُ الِاسْتِقْرَارُ فِي الْعُلُوِّ، وَبِهَذَا خَاطَبَنَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ».»
“Istiwa’ adalah menetap dalam ketinggian. Dengan makna seperti inilah Allah ‘Azza wa Jalla berbicara kepada kita.”
Kemudian beliau menyebutkan firman Allah:
«﴿لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ﴾ [الزخرف: 13]»
“Agar kamu duduk di atas punggungnya, kemudian kamu mengingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya.”
Dan:
«﴿وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ﴾ [هود: 44]»
“Dan kapal itu berlabuh di atas (Gunung) Judi.”
Dan:
«﴿فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنْتَ وَمَنْ مَعَكَ عَلَى الْفُلْكِ﴾ [المؤمنون: 28]»
“Apabila engkau dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas kapal.”
(Ibnu Abdil Barr, At-Tamhīd, 7/131, cet. Wizārat ‘Umūm al-Awqāf wa asy-Syu’ūn al-Islāmiyyah, Maroko).
Ibnu Abdil Barr kemudian kembali menegaskan:
««أَهْلُ السُّنَّةِ مُجْمِعُونَ عَلَى الْإِقْرَارِ بِالصِّفَاتِ الْوَارِدَةِ كُلِّهَا فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، وَالْإِيمَانِ بِهَا وَحَمْلِهَا عَلَى الْحَقِيقَةِ لَا عَلَى الْمَجَازِ، إِلَّا أَنَّهُمْ لَا يُكَيِّفُونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ…»»
“Ahlus Sunnah telah bersepakat menetapkan seluruh sifat yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah, mengimaninya, serta memahaminya menurut hakikatnya dan bukan sebagai majas. Hanya saja mereka tidak menentukan bagaimana kaifiah sedikit pun dari sifat-sifat tersebut….”
(Ibnu Abdil Barr, At-Tamhīd, 7/145).
Ketiga: Menolak takwil kalam terhadap sifat-sifat Allah Ta‘ala
Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata:
««وَقَدْ أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ بِالسُّنَنِ وَالْفِقْهِ، وَهُمْ أَهْلُ السُّنَّةِ، عَنِ الْكَفِّ عَنِ الْجِدَالِ وَالْمُنَاظَرَةِ فِيمَا سَبِيلُهُ اعْتِقَادُهُ بِالْأَفْئِدَةِ مِمَّا لَيْسَ تَحْتَهُ عَمَلٌ، وَعَلَى الْإِيمَانِ بِمُتَشَابِهِ الْقُرْآنِ وَالتَّسْلِيمِ لَهُ، وَلِمَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي أَحَادِيثِ الصِّفَاتِ كُلِّهَا وَمَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا، وَإِنَّمَا يُبِيحُونَ الْمُنَاظَرَةَ فِي الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ وَمَا كَانَ فِي سَائِرِ الْأَحْكَامِ يَجِبُ الْعَمَلُ بِهَا».»
“Para ulama yang menguasai Sunnah dan fikih—dan merekalah Ahlus Sunnah—telah bersepakat untuk menahan diri dari perdebatan dan polemik mengenai perkara-perkara yang jalannya adalah diyakini dengan hati dan tidak berkaitan dengan amalan. Mereka bersepakat untuk mengimani ayat-ayat mutasyabih dalam Al-Qur’an dan menerimanya, demikian pula seluruh hadis sifat yang datang dari Nabi ﷺ serta perkara-perkara yang semakna dengannya. Mereka hanya membolehkan perdebatan mengenai halal dan haram serta hukum-hukum lainnya yang berkaitan dengan amalan.”
(Ibnu Abdil Barr, Al-Istidz-kār, 2/513, cet. Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah).
Kemudian beliau meriwayatkan dari Mush‘ab bin Abdullah bahwa ia mendengar Imam Malik berkata:
««إِنَّ أَهْلَ بَلَدِنَا يَكْرَهُونَ الْجِدَالَ وَالْكَلَامَ وَالْبَحْثَ وَالنَّظَرَ إِلَّا فِيمَا تَحْتَهُ عَمَلٌ، وَأَمَّا مَا سَبِيلُهُ الْإِيمَانُ بِهِ وَاعْتِقَادُهُ وَالتَّسْلِيمُ لَهُ فَلَا يَرَوْنَ فِيهِ جِدَالًا وَلَا مُنَاظَرَةً».»
“Sesungguhnya penduduk negeri kami tidak menyukai perdebatan, ilmu kalam, pembahasan, dan adu argumentasi kecuali dalam perkara yang berkaitan dengan amalan. Adapun perkara yang jalannya adalah mengimani, meyakini, dan menerimanya, maka mereka tidak memandang adanya ruang untuk perdebatan dan polemik di dalamnya.”
(Ibnu Abdil Barr, Al-Istidz-kār, 2/513).
Beliau juga meriwayatkan dari Al-Walid bin Muslim:
««سَأَلْتُ الْأَوْزَاعِيَّ وَالثَّوْرِيَّ وَمَالِكَ بْنَ أَنَسٍ وَاللَّيْثَ بْنَ سَعْدٍ عَنِ الْأَحَادِيثِ الَّتِي فِيهَا الصِّفَاتُ، فَكُلُّهُمْ قَالَ: أَمِرُّوهَا كَمَا جَاءَتْ بِلَا تَفْسِيرٍ».»
“Aku bertanya kepada Al-Auza‘i, Ats-Tsauri, Malik bin Anas, dan Al-Laits bin Sa‘ad mengenai hadis-hadis yang berisi sifat-sifat Allah. Mereka semua berkata: ‘Biarkanlah hadis-hadis itu sebagaimana datangnya, tanpa menentukan penjelasan kaifiahnya.’”
(Ibnu Abdil Barr, Al-Istidz-kār, 2/513).
Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
««يُسَلَّمُ بِهَا كَمَا جَاءَتْ، فَقَدْ تَلَقَّاهَا الْعُلَمَاءُ بِالْقَبُولِ».»
“Hadis-hadis tersebut diterima sebagaimana datangnya, karena para ulama telah menerimanya dengan penerimaan.”
(Ibnu Abdil Barr, Al-Istidz-kār, 2/513).
Ibnu Abdil Barr juga menukil perkataan Ibnu Khuwaiz Mindad Al-Maliki:
««أَهْلُ الْأَهْوَاءِ عِنْدَ مَالِكٍ وَسَائِرِ أَصْحَابِنَا هُمْ أَهْلُ الْكَلَامِ، فَكُلُّ مُتَكَلِّمٍ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ وَالْبِدَعِ، أَشْعَرِيًّا كَانَ أَوْ غَيْرَ أَشْعَرِيٍّ، وَلَا تُقْبَلُ لَهُ شَهَادَةٌ فِي الْإِسْلَامِ، وَيُهْجَرُ وَيُؤَدَّبُ عَلَى بِدْعَتِهِ، فَإِنْ تَمَادَى عَلَيْهَا اسْتُتِيبَ مِنْهَا».»
“Menurut Malik dan seluruh ulama mazhab kami, ahlul-ahwa’ adalah para ahli kalam. Setiap ahli kalam termasuk ahlul-ahwa’ dan ahli bid‘ah, baik ia seorang Asy‘ari maupun selain Asy‘ari. Kesaksiannya dalam perkara kaum Muslimin tidak diterima; ia dijauhi dan diberi tindakan disiplin karena bid‘ahnya. Apabila ia terus mempertahankannya, ia diminta bertobat darinya.”
(Ibnu Abdil Barr, Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih, 2/942, cet. Dār Ibn al-Jauzī, Kerajaan Arab Saudi).
Keempat: Menetapkan sifat istiwa’ dan ketinggian Allah serta tidak menakwil maknanya
Dalam penjelasannya terhadap hadis nuzul, Nabi ﷺ bersabda:
««يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟»»
“Rabb kita Tabaraka wa Ta‘ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: ‘Siapakah yang berdoa kepada-Ku sehingga Aku mengabulkan doanya? Siapakah yang meminta kepada-Ku sehingga Aku memberinya? Siapakah yang memohon ampun kepada-Ku sehingga Aku mengampuninya?’”
(Diriwayatkan oleh Malik, Al-Bukhari, dan Muslim).
Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr berkata:
««وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي السَّمَاءِ عَلَى الْعَرْشِ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَاوَاتٍ كَمَا قَالَتِ الْجَمَاعَةُ، وَهُوَ مِنْ حُجَّتِهِمْ عَلَى الْمُعْتَزِلَةِ وَالْجَهْمِيَّةِ فِي قَوْلِهِمْ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَلَيْسَ عَلَى الْعَرْشِ».»
“Di dalam hadis ini terdapat dalil bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas, di atas ‘Arsy-Nya, di atas tujuh lapis langit, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Jama‘ah. Ini termasuk hujah mereka terhadap Mu‘tazilah dan Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berada di setiap tempat dan tidak berada di atas ‘Arsy.”
Kemudian beliau menyebutkan sejumlah dalil Al-Qur’an, di antaranya:
«﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾ [طه: 5]»
“Yang Maha Pengasih beristiwa’ di atas ‘Arsy.”
«﴿ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ﴾ [السجدة: 4]»
“Kemudian Dia beristiwa’ di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kalian selain Dia seorang penolong dan tidak pula pemberi syafaat.”
«﴿إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ﴾ [فاطر: 10]»
“Kepada-Nya naik perkataan-perkataan yang baik.”
«﴿أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ﴾ [الملك: 16]»
“Apakah kalian merasa aman terhadap Dia yang di atas langit bahwa Dia akan membenamkan bumi bersama kalian?”
«﴿سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى﴾ [الأعلى: 1]»
“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Mahatinggi.”
«﴿الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ﴾ [البقرة: 255]»
“Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”
«﴿الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ﴾ [الرعد: 9]»
“Yang Mahabesar lagi Mahatinggi.”
«﴿رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ﴾ [غافر: 15]»
“Yang Mahatinggi derajat-Nya, Yang memiliki ‘Arsy.”
«﴿يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ﴾ [النحل: 50]»
“Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka.”
«﴿يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ﴾ [السجدة: 5]»
“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya.”
«﴿تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ﴾ [المعارج: 4]»
“Para malaikat dan Ruh naik kepada-Nya.”
«﴿إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ﴾ [آل عمران: 55]»
“Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku.”
«﴿بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ﴾ [النساء: 158]»
“Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya.”
Kemudian Ibnu Abdil Barr menjelaskan:
««وَالْعُرُوجُ هُوَ الصُّعُودُ».»
“Al-‘urūj berarti naik ke atas.”
Tentang firman Allah:
«﴿أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ﴾»
beliau berkata:
««فَمَعْنَاهُ مَنْ عَلَى السَّمَاءِ، يَعْنِي عَلَى الْعَرْشِ، وَقَدْ يَكُونُ فِي بِمَعْنَى عَلَى».»
“Maknanya adalah: Dia yang berada di atas langit, yakni di atas ‘Arsy. Kata fī terkadang digunakan dengan makna ‘alā (di atas).”
Kemudian beliau menyimpulkan:
««وَهَذِهِ الْآيَاتُ كُلُّهَا وَاضِحَاتٌ فِي إِبْطَالِ قَوْلِ الْمُعْتَزِلَةِ».»
“Seluruh ayat ini sangat jelas dalam membatalkan pendapat Mu‘tazilah.”
(Ibnu Abdil Barr, At-Tamhīd limā fī al-Muwaṭṭa’ min al-Ma‘ānī wa al-Asānīd, 7/129–130).
Dalam Al-Istidz-kār, beliau juga berkata mengenai hadis budak perempuan:
««وَأَمَّا قَوْلُهُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ لِلْجَارِيَةِ: أَيْنَ اللَّهُ؟ فَعَلَى ذَلِكَ جَمَاعَةُ أَهْلِ السُّنَّةِ، وَهُمْ أَهْلُ الْحَدِيثِ وَرُوَاتُهُ الْمُتَفَقِّهُونَ فِيهِ وَسَائِرُ نَقَلَتِهِ، كُلُّهُمْ يَقُولُ مَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ: ﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾، وَأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي السَّمَاءِ وَعِلْمَهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَهُوَ ظَاهِرُ الْقُرْآنِ».»
“Adapun sabda Nabi ﷺ kepada budak perempuan dalam hadis ini, ‘Di manakah Allah?’, maka demikianlah pendapat jamaah Ahlus Sunnah. Mereka adalah Ahlul Hadis, para perawinya, orang-orang yang memahami fikih hadis, dan seluruh orang yang menukilkannya. Mereka semua mengatakan sebagaimana yang Allah Ta‘ala firmankan dalam Kitab-Nya, ‘Yang Maha Pengasih beristiwa’ di atas ‘Arsy,’ dan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas langit, sedangkan ilmu-Nya berada di setiap tempat. Inilah makna lahiriah Al-Qur’an.”
(Ibnu Abdil Barr, Al-Istidz-kār, 7/337. Hadis «أَيْنَ اللَّهُ؟» diriwayatkan Muslim dari Mu‘awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, no. 537 dalam penomoran yang masyhur; sebagian cetakan menggunakan penomoran berbeda).
Kemudian beliau berkata:
««وَلَمْ يَزَلِ الْمُسْلِمُونَ إِذَا دَهَمَهُمْ أَمْرٌ يُقْلِقُهُمْ فَزِعُوا إِلَى رَبِّهِمْ، فَرَفَعُوا أَيْدِيَهُمْ وَأَوْجُهَهُمْ نَحْوَ السَّمَاءِ يَدْعُونَهُ، وَمُخَالِفُونَا يَنْسِبُونَا فِي ذَلِكَ إِلَى التَّشْبِيهِ، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ، وَمَنْ قَالَ بِمَا نَطَقَ بِهِ الْقُرْآنُ فَلَا عَيْبَ عَلَيْهِ عِنْدَ ذَوِي الْأَلْبَابِ».»
“Kaum Muslimin sejak dahulu, apabila ditimpa suatu perkara yang mencemaskan mereka, segera berlindung kepada Rabb mereka. Mereka mengangkat tangan dan wajah mereka ke arah langit seraya berdoa kepada-Nya. Orang-orang yang menyelisihi kami menuduh kami melakukan tasybih karena hal tersebut. Allah-lah tempat memohon pertolongan. Barang siapa mengatakan sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Qur’an, maka tidak ada cela atasnya menurut orang-orang yang berakal.”
(Ibnu Abdil Barr, Al-Istidz-kār, 7/337).
Kelima: Menetapkan sifat nuzul dan sifat-sifat lainnya
Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dengan sanadnya dari Sahnun bin Manshur yang berkata bahwa ia bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal mengenai hadis-hadis sifat, antara lain hadis:
««يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا»»
“Rabb kita Tabaraka wa Ta‘ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir.”
Demikian pula hadis tentang kaum mukminin melihat Rabb mereka di surga dan hadis-hadis sifat lainnya.
Imam Ahmad menjawab:
««كُلُّ هَذَا صَحِيحٌ».»
“Semua ini sahih.”
Ishaq berkata:
««كُلُّ هَذَا صَحِيحٌ، وَلَا يَدَعُهُ إِلَّا مُبْتَدِعٌ أَوْ ضَعِيفُ الرَّأْيِ».»
“Semua ini sahih. Tidak ada yang meninggalkannya kecuali ahli bid‘ah atau orang yang lemah pemikirannya.”
Kemudian Abu Umar Ibnu Abdil Barr berkata:
««الَّذِي عَلَيْهِ أَهْلُ السُّنَّةِ وَأَئِمَّةُ الْفِقْهِ وَالْأَثَرِ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ وَمَا أَشْبَهَهَا: الْإِيمَانُ بِمَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِيهَا، وَالتَّصْدِيقُ بِذَلِكَ، وَتَرْكُ التَّحْدِيدِ وَالْكَيْفِيَّةِ فِي شَيْءٍ مِنْهُ».»
“Pendapat yang dipegang oleh Ahlus Sunnah serta para imam fikih dan atsar dalam persoalan ini dan perkara-perkara yang serupa dengannya adalah mengimani apa yang datang dari Nabi ﷺ mengenai hal tersebut, membenarkannya, serta tidak memberikan batasan dan tidak menentukan kaifiah sedikit pun darinya.”
(Ibnu Abdil Barr, At-Tamhīd, 7/147–148).
Ibnu Abdil Barr selanjutnya berkata:
««وَقَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: يَنْزِلُ رَبُّنَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، عِنْدَهُمْ مِثْلُ قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ﴾، وَمِثْلُ قَوْلِهِ: ﴿وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا﴾، كُلُّهُمْ يَقُولُ: يَنْزِلُ وَيَتَجَلَّى وَيَجِيءُ بِلَا كَيْفٍ».»
“Sabda Rasulullah ﷺ, ‘Rabb kita turun ke langit dunia,’ menurut mereka sama seperti firman Allah ‘Azza wa Jalla, ‘Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung,’ dan seperti firman-Nya, ‘Dan datanglah Rabbmu, sementara para malaikat berbaris-baris.’ Mereka semua mengatakan: Allah turun, menampakkan diri, dan datang tanpa menentukan bagaimana kaifiahnya.”
Kemudian beliau melanjutkan:
««لَا يَقُولُونَ: كَيْفَ يَجِيءُ؟ وَكَيْفَ يَتَجَلَّى؟ وَكَيْفَ يَنْزِلُ؟ وَلَا مِنْ أَيْنَ جَاءَ؟ وَلَا مِنْ أَيْنَ تَجَلَّى؟ وَلَا مِنْ أَيْنَ يَنْزِلُ؟ لِأَنَّهُ لَيْسَ كَشَيْءٍ مِنْ خَلْقِهِ، وَتَعَالَى عَنِ الْأَشْيَاءِ وَلَا شَرِيكَ لَهُ».»
“Mereka tidak mengatakan: ‘Bagaimana Dia datang? Bagaimana Dia menampakkan diri? Bagaimana Dia turun? Dari mana Dia datang? Dari mana Dia menampakkan diri? Dan dari mana Dia turun?’ Sebab Dia tidak seperti sesuatu pun dari makhluk-Nya. Mahatinggi Dia dari segala sesuatu dan tidak ada sekutu bagi-Nya.”
Beliau kemudian berkata:
««وَفِي قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ﴾ دَلَالَةٌ وَاضِحَةٌ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ قَبْلَ ذَلِكَ مُتَجَلِّيًا لِلْجَبَلِ، وَفِي ذَلِكَ مَا يُفَسِّرُ مَعْنَى حَدِيثِ التَّنْزِيلِ».»
“Dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla, ‘Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung,’ terdapat petunjuk yang jelas bahwa sebelum itu Dia belum menampakkan diri kepada gunung tersebut. Dalam hal ini terdapat sesuatu yang menjelaskan makna hadis tentang nuzul.”
(Ibnu Abdil Barr, At-Tamhīd, 7/153).
Keenam: Menerima hadis ahad dalam masalah akidah
Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata:
««لَيْسَ فِي الِاعْتِقَادِ كُلِّهِ فِي صِفَاتِ اللَّهِ وَأَسْمَائِهِ إِلَّا مَا جَاءَ مَنْصُوصًا فِي كِتَابِ اللَّهِ، أَوْ صَحَّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَوْ أَجْمَعَتْ عَلَيْهِ الْأُمَّةُ، وَمَا جَاءَ مِنْ أَخْبَارِ الْآحَادِ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ أَوْ نَحْوِهِ يُسَلَّمُ لَهُ وَلَا يُنَاظَرُ فِيهِ».»
“Dalam seluruh perkara akidah yang berkaitan dengan sifat-sifat dan nama-nama Allah, tidak ada yang dijadikan landasan kecuali apa yang dinyatakan secara tegas dalam Kitab Allah, atau yang sahih dari Rasulullah ﷺ, atau yang telah menjadi ijmak umat. Adapun riwayat-riwayat ahad yang datang mengenai seluruh perkara tersebut atau yang semisal dengannya, maka riwayat itu diterima dan tidak diperdebatkan.”
(Ibnu Abdil Barr, Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih, 2/942, cet. Dār Ibn al-Jauzī, Kerajaan Arab Saudi).
Semoga Allah merahmati Imam Ibnu Abdil Barr, mengampuninya, dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan atas ilmu, karya, dan amal yang telah beliau persembahkan.



