Biografi Ulama

Biografi Imam Muhammad bin Abdul Wahhab

Biografi Imam Muhammad bin Abdul Wahhab

1\. Kelahiran, Masa Pertumbuhan, dan Perjalanan Menuntut Ilmu

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid At-Tamimi dilahirkan pada tahun 1115 H, bertepatan dengan tahun 1703 M, di kota Al-‘Uyainah, yang terletak di sebelah utara Riyadh.

Beliau tumbuh dan dibesarkan dalam asuhan ayahnya, Syaikh Abdul Wahhab, di kota tersebut, pada masa pemerintahan Abdullah bin Muhammad bin Hamad bin Mu‘ammar.

Sejak kecil, beliau menunjukkan perkembangan yang sangat cepat, baik dari segi kecerdasan maupun pertumbuhan fisiknya. Beliau memiliki watak yang kuat dan pembawaan yang tegas. Beliau telah menghafal Al-Qur’an sebelum berusia sepuluh tahun dan mencapai usia balig sebelum genap berumur dua belas tahun.

Ayahnya berkata:

“Aku telah melihat bahwa ia sudah layak menjadi imam dalam shalat berjamaah.”

Pada tahun yang sama, ayahnya menikahkan beliau.

### 2\. Pendidikan dan Aktivitas Menuntut Ilmu

Beliau mempelajari fikih mazhab Hanbali, tafsir, dan hadis langsung dari ayahnya.

Sejak usia muda, beliau sangat tekun mempelajari kitab-kitab tafsir, hadis, dan akidah.

Beliau juga memberikan perhatian khusus terhadap karya-karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Imam Ibnul Qayyim, semoga Allah merahmati keduanya. Beliau banyak membaca, menelaah, dan mendalami kitab-kitab kedua ulama tersebut.

### 3\. Perjalanan Ilmiah

Kemudian beliau meninggalkan kampung halamannya dengan tujuan menunaikan ibadah haji ke Baitullah Al-Haram.

Setelah menyelesaikan ibadah haji, beliau menuju Madinah Al-Munawwarah, mendatangi Masjid Nabawi, serta menziarahi makam penghulu para rasul, Nabi Muhammad ﷺ, dan para sahabat beliau yang mulia lagi ikhlas.

### 4\. Guru-Guru Beliau di Madinah Al-Munawwarah

Di antara ulama yang mengamalkan ilmunya pada masa itu adalah Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif, dari keluarga Al Saif An-Najdi. Beliau merupakan salah seorang tokoh ulama terkemuka di kota Al-Majma‘ah.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memperoleh banyak ilmu dari beliau. Syaikh Abdullah sangat mencintai dan memberikan perhatian besar kepada muridnya tersebut. Beliau mencurahkan usaha yang sungguh-sungguh untuk mendidik dan mengajarinya.

Salah satu faktor yang mempererat hubungan dan kecintaan di antara keduanya adalah kesamaan pemikiran dan prinsip dalam masalah akidah tauhid, serta keprihatinan mereka terhadap berbagai keyakinan yang dianggap batil dan amalan yang dinilai menyimpang, yang tersebar di kalangan masyarakat Najd dan wilayah lainnya.

Syaikh Muhammad memperoleh banyak manfaat besar dari kebersamaannya dengan Syaikh Abdullah.

Syaikh Abdullah juga memberikan ijazah periwayatan hadis kepadanya, termasuk hadis masyhur yang dikenal sebagai al-hadits al-musalsal bil-awwaliyyah, yaitu:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Pengasih.”

Ijazah tersebut diberikan melalui dua jalur periwayatan.

Jalur pertama melalui Ibnu Muflih, dari Syaikhul Islam Ahmad bin Taimiyah, dengan sanad yang berakhir kepada Imam Ahmad bin Hanbal.

Jalur kedua melalui Abdurrahman bin Rajab, dari Al-‘Allamah Ibnul Qayyim, dari gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang juga berakhir kepada Imam Ahmad bin Hanbal.

Selain itu, Syaikh Abdullah memberikan ijazah kepada beliau untuk seluruh riwayat yang tercantum dalam tsabat (kumpulan sanad dan ijazah periwayatan) Syaikh Abdul Baqi Al-Hanbali, seorang ulama yang menjadi guru bagi banyak ulama besar pada zamannya.

Ijazah tersebut meliputi periwayatan, pengkajian, dan pengajaran berbagai kitab, di antaranya Shahih Al-Bukhari dengan sanad yang bersambung kepada penyusunnya, Shahih Muslim, kitab-kitab syarah kedua kitab sahih tersebut, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, serta karya-karya Imam Ad-Darimi, semuanya melalui sanad yang bersambung kepada para penyusunnya.

Demikian pula Musnad Imam Asy-Syafi‘i, Al-Muwaththa’ karya Imam Malik, Musnad Imam Ahmad, dan berbagai kitab lainnya yang tercantum dalam kumpulan sanad Syaikh Abdul Baqi.

Selanjutnya, Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif mempertemukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan seorang ahli hadis terkemuka, Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi.

Beliau memperkenalkan muridnya tersebut kepada Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi, menjelaskan kemurnian akidah yang dianutnya, serta menyampaikan kegelisahan dan penolakannya terhadap berbagai amalan yang tersebar di masyarakat, berupa bidah, syirik besar, dan syirik kecil.

Beliau juga menjelaskan bahwa tujuan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab meninggalkan Najd adalah untuk melakukan perjalanan menuntut ilmu dan memperkuat bekal keilmuannya dalam bidang agama, agar dapat membantunya melaksanakan dakwah dan perjuangan di jalan Allah yang telah menjadi tekadnya.

Di antara ulama lainnya yang menjadi tempat beliau menuntut ilmu dan memperoleh manfaat dari kebersamaan dengan mereka adalah Syaikh Ali Afandi Ad-Daghistani, Syaikh Ismail Al-‘Ajluni, Syaikh Abdul Lathif Al-‘Afaliqi Al-Ahsa’i, dan Syaikh Muhammad Al-‘Afaliqi Al-Ahsa’i.

Syaikh Ad-Daghistani dan salah seorang Syaikh Al-Ahsa’i juga memberikan ijazah kepada beliau sebagaimana ijazah yang diberikan oleh Syaikh Abdullah bin Ibrahim, berdasarkan riwayat-riwayat yang terdapat dalam Tsabat Abi Al-Mawahib.

Setelah itu, beliau menuju Najd, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bashrah dengan tujuan akhir negeri Syam, untuk menambah pengetahuan dan memperluas penguasaan terhadap berbagai ilmu yang bermanfaat.

### 5\. Guru-Guru Beliau di Bashrah

Beliau menetap selama beberapa waktu di Bashrah dan mempelajari berbagai disiplin ilmu dari sejumlah ulama.

Di antara guru beliau adalah Syaikh Muhammad Al-Majmu‘i.

Kepada ulama tersebut, beliau banyak mempelajari ilmu nahwu, bahasa Arab, dan hadis.

Selama menetap di Bashrah, beliau juga banyak menulis pembahasan ilmiah yang bermanfaat dan menyalin berbagai kitab yang bernilai.

Beliau mulai menyebarkan ilmu dan menyampaikan pandangan-pandangannya mengenai bidah, khurafat, serta praktik memohon pertolongan dan menyampaikan berbagai kebutuhan kepada penghuni kubur, yang jasadnya telah menjadi tulang-belulang rapuh dan anggota tubuh yang tercerai-berai.

Beliau memperkuat penjelasannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang terang dan dalil-dalil yang jelas.

Akan tetapi, sebagian masyarakat menanggapinya dengan pendustaan dan gangguan. Mereka akhirnya mengusir beliau dari kota tersebut pada waktu Al-Hajirah, yaitu ketika panas matahari sedang sangat terik.¹

Mereka juga melakukan sejumlah tindakan yang menyakiti gurunya, Syaikh Al-Majmu‘i.

Beliau kemudian menuju Az-Zubair pada musim panas yang sangat menyengat, dengan berjalan kaki.

Dalam perjalanan tersebut, beliau hampir meninggal dunia akibat kehausan yang sangat berat.

Namun, Allah mempertemukan beliau dengan seorang laki-laki dari kota Az-Zubair yang bernama Abu Humaidan.

Ketika laki-laki tersebut melihat bahwa beliau adalah seorang penuntut ilmu yang saleh, ia menaikkan beliau ke atas keledainya dan mengantarkannya hingga sampai ke kota Az-Zubair.

Selanjutnya, beliau bermaksud menuju negeri Syam dengan berjalan kaki, untuk menimba ilmu dari para ulama, memperkaya pengetahuan agama, dan menambah bekal keilmuan.

Catatan kaki 1: Dalam naskah asli tertulis: «الْهَجِيرَةُ» (al-hajirah), yakni waktu tengah hari ketika panas matahari mencapai puncaknya.

### 6\. Kembali ke Najd

Namun, karena bekal perjalanannya semakin menipis, beliau memutuskan untuk kembali.

Beliau singgah di Al-Ahsa dan tinggal bersama Syaikh Abdullah bin Abdul Lathif Asy-Syafi‘i. Di sana, beliau mempelajari berbagai ilmu sesuai dengan kesempatan yang Allah berikan kepadanya.

Kemudian beliau menuju Huraimila, sebuah perkampungan di wilayah Najd, karena ayahnya, Syaikh Abdul Wahhab, telah berpindah dan menetap di sana.

Setelah kembali dari perjalanan panjang untuk mencari dan mendalami ilmu, beliau senantiasa mendampingi ayahnya serta melanjutkan pembelajaran tafsir, hadis, dan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Beliau juga kembali menekuni kitab-kitab dua ulama besar, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Al-‘Allamah Ibnul Qayyim, semoga Allah merahmati keduanya.

Kitab-kitab yang bernilai tersebut semakin menambah ilmu, cahaya pengetahuan, dan ketajaman pandangan beliau, sekaligus membangkitkan semangat dan tekad yang kuat dalam dirinya.

Dengan ketajaman pengamatannya, beliau menyaksikan berbagai keyakinan yang dinilainya menyimpang dan kebiasaan-kebiasaan yang rusak, baik di Najd maupun di wilayah-wilayah yang pernah dikunjunginya.

Oleh karena itu, beliau bertekad untuk memulai gerakan dakwah dan perbaikan.

### 7\. Keadaan Keagamaan dan Politik Najd Sebelum Dakwah

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, wahai pembaca yang mulia, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah pernah mengunjungi Hijaz, Al-Ahsa, Bashrah, dan Az-Zubair.

Bahkan, menurut sebagian riwayat yang dinukil dari kitab Lam‘ Asy-Syihab, beliau juga pernah sampai ke negeri Persia.

Tujuan perjalanan tersebut adalah untuk menghilangkan dahaga keilmuannya dengan menimba pengetahuan agama, memahami dasar-dasar agama dan syariatnya yang lurus, serta mengenali keadaan masyarakat, keyakinan, dan tingkat pengetahuan mereka.

Perjalanan itu dilakukan setelah beliau menyaksikan di Najd, tanah kelahirannya, berbagai kemungkaran dan praktik kesyirikan yang menurut penulis sangat tercela dan merusak hakikat kemanusiaan.

Selama masa menuntut ilmu, beliau sering menjelaskan kepada para pendengar dan orang-orang yang bergaul dengannya mengenai pemahamannya tentang agama dan tauhid.

Beliau juga menerangkan keburukan berbagai praktik yang dilakukan masyarakat awam dan orang-orang yang menyerupai mereka dari kalangan yang mengaku berilmu.

Ketika berada di Madinah Al-Munawwarah, beliau mendengar orang-orang memohon pertolongan kepada Rasulullah ﷺ dan berdoa kepada beliau selain kepada Allah.

Hal tersebut membangkitkan kemarahan dan keprihatinan yang sangat besar dalam dirinya.

Beliau lalu bertanya kepada Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi:

“Wahai Syaikh, bagaimana pendapat Anda mengenai orang-orang ini?”

Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi segera menjawab dengan firman Allah:

﴿إِنَّ هَؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾

“Sesungguhnya apa yang mereka lakukan itu akan dihancurkan, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A‘raf: 139).

Beliau terus mengamati keadaan Najd dan masyarakat di berbagai wilayah yang dikunjunginya.

Menurut penilaiannya, mereka telah berada dalam keadaan yang jauh dari ajaran agama, terutama masyarakat Najd.

### Apa yang Beliau Saksikan?

Sebagaimana dijelaskan oleh para sejarawan Najd terdahulu, seperti Ibnu Bisyr, Ibnu Ghannam, dan Al-Alusi, serta para penulis yang lebih belakangan, seperti Hafizh Wahbah dan lainnya, beliau mendapati bahwa Najd menjadi tempat berkembangnya berbagai khurafat dan keyakinan rusak yang bertentangan dengan prinsip-prinsip agama yang benar.

Di wilayah tersebut terdapat banyak kuburan yang dinisbatkan kepada sejumlah sahabat Nabi ﷺ.

Masyarakat mendatanginya sebagaimana orang melakukan perjalanan haji, memohon pemenuhan kebutuhan kepada penghuni kubur, serta meminta pertolongan agar berbagai kesulitan mereka dihilangkan.

Di Al-Jubailah, misalnya, masyarakat mendatangi makam Zaid bin Al-Khaththab, berdoa di sisinya, dan meminta agar berbagai kebutuhan mereka dipenuhi.

Demikian pula di Ad-Dir‘iyah, terdapat sebuah makam yang mereka yakini sebagai makam salah seorang sahabat Nabi ﷺ.

Yang lebih mengherankan, di daerah Manfuhah, masyarakat melakukan tawasul kepada sebuah pohon kurma jantan, dengan keyakinan bahwa perempuan yang belum menikah akan mendapatkan suami apabila mendatanginya.

Seorang perempuan yang mendatangi pohon tersebut biasa mengucapkan:

يَا فَحْلَ الْفُحُولِ، أُرِيدُ زَوْجًا قَبْلَ الْحَوْلِ

“Wahai pejantan dari segala pejantan, aku menginginkan seorang suami sebelum berlalu satu tahun.”

Di Ad-Dir‘iyah juga terdapat sebuah gua yang sering didatangi masyarakat karena mereka meyakini bahwa gua tersebut pernah menjadi tempat perlindungan salah seorang putri penguasa yang melarikan diri dari penyiksaan sejumlah orang zalim.

Sementara itu, di Syi‘b Ghubaira terdapat makam Dhirar bin Al-Azwar.

Menurut penuturan penulis, masyarakat melakukan berbagai praktik kesyirikan dan kemungkaran di makam tersebut, sampai-sampai sulit dibayangkan adanya praktik serupa.

Di Hijaz, beliau juga menyaksikan pengagungan terhadap makam para sahabat, Ahlulbait, dan Rasulullah ﷺ dalam bentuk yang menurut penulis tidak patut diberikan kecuali kepada Allah, Tuhan seluruh alam.

Demikian pula di Bashrah dan Az-Zubair. Beliau menyaksikan dan mendengar berbagai praktik yang dinilainya sebagai bentuk penyembahan berhala ala jahiliah, baik di Irak, Syam, Mesir, maupun Yaman, yang tidak dapat diterima oleh akal sehat dan tidak dibenarkan oleh syariat.

Beliau juga banyak mendengar mengenai praktik-praktik yang berkaitan dengan Al-‘Aidarus di Aden dan Az-Zaila‘i di Yaman.

Beliau telah melihat banyak hal, mendengar berbagai berita, dan melakukan pengamatan hingga memperoleh keyakinan mengenai keadaan tersebut.

Kemudian beliau menimbang berbagai perbuatan yang dinilainya mungkar itu dengan dua sumber wahyu, yaitu Kitab Allah yang jelas dan Sunnah Rasulullah ﷺ yang terpercaya, serta dengan perjalanan hidup para sahabat yang bertakwa.

Dari perbandingan tersebut, beliau menilai bahwa masyarakat telah jauh dari metode dan ruh ajaran agama.

Menurut penilaiannya, mereka tidak memahami tujuan Allah mengutus para rasul dan alasan Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada seluruh manusia.

Beliau juga memandang bahwa mereka tidak memahami keadaan masyarakat jahiliah dan berbagai bentuk penyembahan berhala yang tercela pada masa tersebut.

Menurut penulis, mereka telah mengubah dan mengganti berbagai prinsip pokok dan cabang agama, kecuali sebagian kecil dari mereka.

Demikianlah gambaran keadaan keagamaan dan peribadatan masyarakat pada masa itu menurut uraian penulis.

### 8\. Keadaan Politik Najd

Adapun keadaan politik Najd, sebagaimana disebutkan dalam kitab Jazirat Al-‘Arab fi Al-Qarn Al-‘Isyrin (Semenanjung Arab pada Abad Kedua Puluh), digambarkan sebagai berikut:

Tidak terdapat sistem hukum dan syariat yang berlaku secara menyeluruh, kecuali keputusan-keputusan yang didasarkan pada kehendak para penguasa dan pejabat mereka.

Najd pada waktu itu terbagi menjadi banyak wilayah kekuasaan. Setiap wilayah diperintah oleh seorang amir yang tidak memiliki ikatan politik yang kuat dengan para penguasa wilayah tetangganya.

Di antara penguasa yang paling menonjol adalah Bani Khalid di Al-Ahsa, keluarga Al Mu‘ammar di Al-‘Uyainah, serta para syarif di Hijaz.

Selain mereka, terdapat sejumlah penguasa kecil yang dianggap tidak begitu penting untuk disebutkan.

Kelompok-kelompok masyarakat tersebut senantiasa terlibat dalam peperangan, terutama dengan suku-suku Badui.

Setiap amir selalu bersiap memanfaatkan kesempatan untuk menyerang wilayah tetangganya apabila melihat adanya kelemahan atau kurangnya kesiapan pertahanan pihak tersebut.

Demikianlah akhir kutipan tersebut.

Itulah keadaan negeri-negeri Arab ketika Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab kembali dari perjalanan ilmiahnya.

### 9\. Awal Gerakan Pembaruan Keagamaan

Setelah beliau meyakini buruknya keadaan masyarakat, baik dalam urusan agama maupun kehidupan duniawi, serta menyaksikan bahwa sebagian besar ulama di Hijaz, Najd, dan berbagai wilayah lainnya membiarkan kemungkaran dan bidah tersebut, kecuali sebagian kecil yang tidak berani secara terbuka menyatakan penolakan mereka, beliau semakin mantap untuk melakukan perbaikan.

Beliau meyakini bahwa masyarakat telah memasukkan berbagai keyakinan dan praktik ke dalam prinsip-prinsip utama Islam yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah yang tegas.

Keyakinannya mengenai kesalahan masyarakat dan kecenderungan mereka terhadap bidah semakin kuat ketika membaca hadis-hadis yang menjelaskan bahwa kaum Muslimin kelak akan mengalami perubahan dan mengikuti jalan umat-umat terdahulu.

Di antaranya hadis sahih:

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian.”

Demikian pula hadis:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَعْبُدَ فِئَامٌ مِنْ أُمَّتِي الْأَوْثَانَ

“Kiamat tidak akan terjadi sampai beberapa kelompok dari umatku menyembah berhala.”

Dan hadis:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ

“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya.”

Pada saat itulah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bertekad untuk menyatakan secara terbuka kepada masyarakatnya bahwa mereka telah menyimpang dari jalan yang lurus dan menjauh dari kebenaran.

Salah seorang penulis menyatakan:

“Sesungguhnya keadaan yang dihadapi sangat sulit dan genting. Situasi seperti ini membutuhkan keberanian yang kuat dan keimanan yang tidak memedulikan gangguan dalam upaya mencari keridaan Allah serta membela kebenaran yang telah diyakini.

Perjuangan tersebut juga bertujuan menyelamatkan umat manusia yang sedang mengalami penderitaan.

Selain itu, diperlukan bekal yang memadai berupa kemampuan berbicara, ketepatan dalam mengemukakan dalil, serta kecakapan menghadapi berbagai kerancuan pemikiran dan sanggahan yang pasti muncul.

Kemudian diperlukan pula seorang pendukung yang kuat, yang dapat melindungi dan membela dakwahnya.”

### 10\. Dakwah kepada Masyarakatnya

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memulai dakwahnya kepada masyarakat di kota Huraimila.

Beliau menjelaskan bahwa tidak boleh berdoa kecuali kepada Allah, tidak boleh menyembelih hewan sebagai ibadah kecuali untuk-Nya, dan tidak boleh bernazar kecuali kepada-Nya.

Beliau juga menjelaskan bahwa keyakinan masyarakat terhadap kuburan, bebatuan, dan pepohonan, berupa meminta pertolongan kepadanya, mempersembahkan nazar untuknya, serta meyakini bahwa benda-benda tersebut dapat memberikan manfaat atau mendatangkan mudarat secara gaib, merupakan kesesatan dan kebatilan.

Beliau menerangkan bahwa keadaan mereka tidak dapat dibenarkan dan berbagai praktik tersebut harus ditinggalkan.

Dalam menyampaikan dakwahnya, beliau memperkuat penjelasan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, perkataan dan perbuatan Rasulullah ﷺ, serta perjalanan hidup para sahabat.

Akibatnya, terjadi perselisihan dan perdebatan antara beliau dengan sebagian masyarakat, bahkan dengan ayahnya sendiri yang merupakan seorang ulama terkemuka.

Menurut penulis, hal itu terjadi karena ayahnya masih terpengaruh oleh pendapat-pendapat para pengikut tradisi taklid yang membungkus praktik-praktik tersebut dengan alasan mencintai orang-orang saleh.

Meskipun demikian, beliau terus berjuang melalui lisan, tulisan, nasihat, dan bimbingan.

Sejumlah penduduk kota tersebut mulai mengikuti dakwahnya.

Keadaan demikian berlangsung hingga ayahnya, Syaikh Abdul Wahhab, wafat pada tahun 1153 H.

Menurut penulis, tampaknya ayah beliau pada akhirnya menerima pandangan dan prinsip-prinsip dakwah putranya. Demikian pula saudaranya, Sulaiman, setelah sebelumnya terjadi perselisihan dan saling memberikan bantahan di antara keduanya.²

Catatan kaki 2: Lihat kitab Shiyanat Al-Insan ‘an Waswasat Asy-Syaikh Dahlan, hlm. 461, cetakan ketiga. Di sana disebutkan surat Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab kepada Ahmad bin Muhammad At-Tuwaijiri serta Ahmad dan Muhammad, dua putra Utsman bin Syabbanah. Dalam surat tersebut, beliau menasihati mereka agar lebih bersungguh-sungguh membela kebenaran daripada membela kebatilan. Beliau juga menyatakan secara tegas bahwa kesyirikan merupakan perkara terbesar yang dilarang oleh Allah. Lihat pula jawaban ketiga orang tersebut kepada Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab pada halaman 461, yang menyatakan bahwa mereka telah meninggalkan pandangan yang sebelumnya mereka anut.

Setelah ayahnya wafat, beliau semakin terang-terangan menyampaikan dakwah kepada masyarakat dan mengingkari keyakinan-keyakinan yang dinilainya sesat.

Beliau menyerukan agar masyarakat mengikuti Rasulullah ﷺ dalam perkataan dan perbuatan.

Di kota tersebut terdapat dua kelompok kesukuan yang masing-masing mengklaim kepemimpinan.

Tidak ada penguasa yang mampu mengatur seluruh masyarakat, memberikan hak kepada orang-orang lemah, dan mencegah tindakan orang-orang yang berbuat kerusakan.

Salah satu kelompok tersebut memiliki sejumlah budak yang melakukan berbagai kemungkaran dan kerusakan serta tidak segan-segan menganiaya orang lain.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bertekad untuk menghentikan dan mencegah tindakan mereka.

Ketika para budak tersebut mengetahui tekad beliau, mereka berencana membunuhnya secara diam-diam.

Mereka memanjat tembok untuk menyusup ke tempat beliau berada.

Namun, sebagian masyarakat mengetahui tindakan tersebut dan berteriak memperingatkan mereka sehingga para pelaku melarikan diri.

### 11\. Perpindahan ke Al-‘Uyainah

Setelah peristiwa tersebut, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab meninggalkan Huraimila menuju Al-‘Uyainah, tempat kelahiran dan kampung halaman leluhurnya.

Penguasa Al-‘Uyainah pada waktu itu adalah Utsman bin Hamad bin Mu‘ammar.

Utsman menyambut kedatangan beliau dengan penuh penghormatan dan kemuliaan.

Syaikh Muhammad menjelaskan kepadanya mengenai dakwah pembaruan yang beliau perjuangkan, yang menurut penulis berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah yang suci.

Beliau menerangkan makna tauhid dan menjelaskan bahwa berbagai keyakinan dan amalan masyarakat pada masa itu bertentangan dengan tauhid.

Beliau membacakan sejumlah ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi ﷺ sebagai dalil.

Beliau juga menyampaikan harapan kepada Utsman bahwa apabila ia membela kalimat La ilaha illallah, Allah akan memberikan pertolongan kepadanya, meninggikan kedudukannya, serta menjadikannya pemimpin yang memiliki kekuasaan atas Najd dan wilayah lainnya.

Beliau juga mengharapkan agar Utsman memperoleh kebahagiaan abadi, insya Allah.

Utsman menerima dan menyambut baik penjelasan tersebut.

Syaikh Muhammad kemudian mulai menyampaikan dakwah secara terbuka, menyerukan pengesaan Allah dalam ibadah, berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah ﷺ, memerintahkan yang makruf, dan mencegah kemungkaran.

Dengan bantuan Amir Utsman, beliau menebang pepohonan yang diagungkan secara berlebihan oleh masyarakat dan merobohkan bangunan berkubah di atas makam Zaid bin Al-Khaththab.

Beliau juga melaksanakan hukuman had terhadap seorang perempuan yang berulang kali mengakui telah melakukan zina, setelah memastikan bahwa perempuan tersebut memiliki akal yang sehat dan kesadaran yang sempurna.

Sejak saat itu, nama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab semakin terkenal dan berita mengenai dakwahnya tersebar ke berbagai wilayah.

Berita tersebut akhirnya sampai kepada Sulaiman bin Muhammad bin ‘Ura‘ir, penguasa Al-Ahsa dan Bani Khalid.

Menurut penulis, penguasa yang dinilainya zalim dan tidak berilmu itu kemudian mengirimkan sepucuk surat kepada Utsman bin Mu‘ammar.

Isi surat tersebut adalah:

“Orang alim yang berada di tempatmu itu telah melakukan berbagai tindakan dan menyampaikan berbagai perkataan sebagaimana yang telah diketahui.

Apabila suratku ini sampai kepadamu, bunuhlah dia.

Jika engkau tidak membunuhnya, kami akan menghentikan bagian pendapatanmu yang berada pada kami di Al-Ahsa.”

Ancaman tersebut membuat Utsman sangat gelisah.

Ia merasa berat untuk menentang Ibnu ‘Ura‘ir, sementara menurut penulis, ia melupakan keagungan Allah, Tuhan seluruh alam.

Akibat surat tersebut dan kelemahan keteguhan Utsman, ia memerintahkan agar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab diusir dari wilayah kekuasaannya.

Nasihat dan peringatan Syaikh Muhammad tidak berhasil mengubah keputusannya.

Padahal, beliau telah mengingatkan bahwa seorang dai dan pembaru pasti menghadapi gangguan serta bahwa kesudahan yang baik adalah milik orang-orang yang bertakwa.

### 12\. Perjalanan Menuju Ad-Dir‘iyah

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah kemudian meninggalkan Al-‘Uyainah dengan berjalan kaki.

Seorang penunggang kuda ditugaskan untuk mengawasinya dari belakang.

Saat itu, beliau hanya membawa sebuah kipas, sementara cuaca berada pada puncak panas musim kemarau.

Penunggang kuda tersebut sempat berniat membunuh beliau atas dorongan Ibnu Mu‘ammar.

Namun, tangannya gemetar sehingga ia tidak mampu melaksanakan niat tersebut, dan Allah melindungi Syaikh Muhammad dari kejahatannya.

Selama perjalanan, beliau tidak berhenti berzikir kepada Allah dan terus mengulang firman-Nya:

﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2–3).

Beliau tiba di Ad-Dir‘iyah pada waktu Asar tahun 1158 H.

Di sana, beliau menjadi tamu Abdurrahman bin Suwailim dan sepupunya, Ahmad bin Suwailim.

Ibnu Suwailim merasa khawatir terhadap keselamatan dirinya karena takut kepada Amir Muhammad bin Saud.

Ia mengetahui keadaan masyarakat yang pada umumnya tidak menerima ajaran yang dibawa oleh ulama tersebut dan sering membalasnya dengan gangguan, terutama para pemegang kekuasaan.

Namun, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang dipenuhi keimanan dan keyakinan kepada Allah, menenangkan hati tuan rumahnya.

Beliau memberikan berbagai nasihat dan menanamkan harapan serta keyakinan bahwa Allah pasti akan memberikan jalan keluar dan pertolongan yang besar.

Sejumlah tokoh masyarakat Ad-Dir‘iyah kemudian mengetahui keberadaan beliau.

Mereka mendatanginya secara diam-diam, lalu beliau menjelaskan kepada mereka makna tauhid dan tujuan dakwah yang diperjuangkannya.

### 13\. Pertemuan dengan Amir Muhammad bin Saud

Amir Muhammad bin Saud memiliki dua saudara laki-laki bernama Mis yari dan Tsunaiyan, serta seorang istri yang dikenal cerdas dan bijaksana.

Setelah kedua saudaranya tersebut memperoleh pengetahuan dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, mereka memberitahukan kepada sang amir bahwa Syaikh Muhammad sedang menjadi tamu Ibnu Suwailim.

Mereka berkata:

“Sesungguhnya orang ini adalah anugerah yang Allah datangkan kepadamu. Maka manfaatkanlah keistimewaan yang Allah berikan kepadamu ini.”

Mereka mendorong sang amir untuk mengunjungi Syaikh Muhammad.

Amir Muhammad bin Saud menerima saran tersebut dan mendatangi beliau.

Syaikh Muhammad mengajaknya kepada tauhid serta menjelaskan bahwa tauhid merupakan tujuan diutusnya para rasul.

Beliau membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan kebatilan beribadah kepada selain Allah.

Beliau juga mengingatkan sang amir mengenai keadaan masyarakat Najd yang diliputi kesyirikan, kebodohan, perpecahan, perselisihan, pertumpahan darah, dan perampasan harta.

Secara keseluruhan, beliau menjelaskan kelemahan masyarakat dalam urusan agama dan dunia, serta ketidaktahuan mereka terhadap syariat Islam.

Beliau berharap agar Muhammad bin Saud menjadi pemimpin yang mampu mempersatukan kaum Muslimin.

Beliau juga menyampaikan harapan bahwa kepemimpinan dan kekuasaan akan diberikan kepadanya dan dilanjutkan oleh keturunannya.

Allah kemudian melapangkan hati Muhammad bin Saud.

Ia mencintai Syaikh Muhammad dan menerima dakwah yang disampaikan kepadanya.

Sang amir menyatakan kesediaannya untuk memberikan pertolongan dan berdiri bersama beliau menghadapi pihak-pihak yang menentangnya.

Namun, amir mengajukan dua syarat.

Syarat pertama: Syaikh Muhammad tidak boleh meninggalkan mereka apabila Allah memberikan kemenangan dan kekuasaan kepada mereka.

Syarat kedua: Syaikh Muhammad tidak boleh melarang sang amir memungut pendapatan yang telah ditetapkannya atas penduduk Ad-Dir‘iyah pada musim panen buah-buahan.

Syaikh Muhammad menjawab syarat pertama:

الدَّمُ بِالدَّمِ، وَالْهَدْمُ بِالْهَدْمِ

“Darah dibalas dengan darah, dan kehancuran dihadapi bersama kehancuran.”

Maksudnya, beliau menyatakan kesetiaan dan kebersamaan dalam menghadapi segala risiko perjuangan.

Adapun mengenai syarat kedua, beliau menjawab:

“Semoga Allah membukakan berbagai kemenangan bagimu dan memberikan harta rampasan perang yang mencukupimu sehingga engkau tidak lagi membutuhkan pungutan tersebut.”

Amir Muhammad bin Saud kemudian mengadakan baiat dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk mendukung dakwah kepada Allah, berjihad di jalan-Nya, berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah ﷺ, memerintahkan yang makruf, mencegah kemungkaran, dan menegakkan syiar-syiar agama.

### 14\. Perkembangan Dakwah di Ad-Dir‘iyah

Setelah Syaikh Muhammad menetap di Ad-Dir‘iyah, orang-orang yang sebelumnya telah mengikuti dan menerima prinsip-prinsip dakwahnya mulai berdatangan.

Di antara mereka terdapat sejumlah tokoh keluarga Al Mu‘ammar dan tokoh masyarakat lainnya.

Rombongan demi rombongan datang dari berbagai penjuru setelah mengetahui bahwa beliau telah berada di wilayah yang memiliki perlindungan dan kekuatan politik.

Ketika Utsman bin Mu‘ammar, yang sebelumnya mengusir Syaikh Muhammad dari wilayahnya, mendengar bahwa Muhammad bin Saud telah berbaiat kepada beliau, mendukungnya, dan bahwa masyarakat Ad-Dir‘iyah telah menjadi para pendukung serta pembelanya, Utsman menyesali tindakannya.

Ia kemudian datang bersama sejumlah pemimpin dan tokoh terkemuka daerah untuk menyampaikan permintaan maaf.

Utsman juga meminta agar Syaikh Muhammad bersedia kembali ke Al-‘Uyainah.

Namun, Syaikh Muhammad menyerahkan keputusan tersebut kepada persetujuan Amir Muhammad bin Saud.

Sang amir menolak memberikan izin sehingga Utsman kembali tanpa berhasil memenuhi keinginannya.

Sejak saat itu, semakin banyak orang melakukan perjalanan untuk menemui Syaikh Muhammad dan menimba ilmu dari sumber pengetahuannya yang menurut penulis bersih dari khurafat dan penyembahan berhala.

Namun, keadaan ekonomi amir dan masyarakat Ad-Dir‘iyah pada waktu itu belum mampu menanggung kebutuhan seluruh penuntut ilmu yang berdatangan.

Sebagian penuntut ilmu, karena kecintaan dan semangat mereka terhadap ilmu, bekerja dengan menerima upah pada malam hari.

Sementara itu, pada siang hari mereka menghadiri majelis-majelis ilmu.

Keadaan tersebut berlangsung hingga Allah memberikan kelapangan rezeki dan kemudahan setelah masa-masa kesulitan.

Syaikh Muhammad terus mencurahkan seluruh kemampuan dan tenaganya untuk membimbing serta mengajarkan agama kepada masyarakat.

Beliau menjelaskan makna kalimat La ilaha illallah, yang mengandung penafian dan penetapan.

Lafaz:

لَا إِلَهَ

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah,” mengandung penafian terhadap seluruh sesembahan selain Allah.

Sedangkan lafaz:

إِلَّا اللَّهُ

“Kecuali Allah,” mengandung penetapan bahwa hanya Allah yang berhak menerima ibadah.

Beliau juga menjelaskan makna uluhiyah, yaitu bahwa Tuhan yang berhak disembah adalah Zat yang kepada-Nya hati tertuju dengan kecintaan, rasa takut, pengagungan, dan pengharapan.

Beliau mengajarkan kepada masyarakat tiga prinsip dasar agama (Al-Ushul Ats-Tsalatsah).

Melalui pengajaran tersebut, menurut penulis, pemahaman mereka semakin terang, hati mereka semakin bersih, dan keyakinan mereka semakin lurus.

Kecintaan para penuntut ilmu dan orang-orang yang datang kepada Syaikh Muhammad pun semakin bertambah.

Selanjutnya, beliau mulai mengirimkan surat kepada para penguasa dan hakim di berbagai wilayah Najd.

Beliau mengajak mereka untuk menerima dan mengikuti dakwahnya, meninggalkan kesyirikan, serta menjauhi sikap keras kepala dalam menolak kebenaran.

Sebagian menerima ajakannya dan sebagian lainnya menolak.

Ada yang menjadikan beliau sebagai bahan ejekan, memperolok-oloknya, serta menuduhnya sebagai orang yang bodoh dan tidak memiliki pengetahuan.

Sebagian menuduh beliau melakukan sihir.

Sebagian lainnya menuduh beliau melakukan berbagai perkara tercela yang menurut penulis sama sekali tidak pernah dilakukannya.

Semoga Allah memerangi kebodohan dan taklid buta.

Seandainya mereka menggunakan akal dengan benar, tentu mereka memahami bahwa orang yang bodoh tidak akan mampu mengemukakan dalil-dalil sahih untuk membuktikan pendapatnya.

Orang yang tidak berilmu juga tidak akan mampu menghadapi para ulama besar dengan argumentasi rasional dan dalil-dalil wahyu yang kuat hingga membuat pendengarnya tunduk kepada kebenaran.

Seorang penyihir tidak akan memerintahkan kebaikan, tidak akan menyerukan yang makruf, dan tidak akan melarang kemungkaran.

Namun, tuduhan-tuduhan seperti itu bukanlah sesuatu yang mengherankan karena para rasul dan seluruh pembaru sebelumnya juga pernah menerima tuduhan serupa.

### 15\. Perluasan Dakwah dan Konflik Bersenjata

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terus menghabiskan waktu siang dan malam untuk menyebarkan dakwah, memberikan nasihat, serta menulis berbagai risalah ilmiah.

Pada mulanya, beliau mencukupkan diri dengan sarana-sarana damai tersebut.

Amir Muhammad bin Saud memberikan dukungan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Akan tetapi, menurut penulis, para penentang dakwah berusaha menggalang dukungan untuk memerangi gerakan tersebut dengan berbagai cara.

Mereka juga melakukan tindakan kekerasan terhadap orang-orang yang bergabung dengan dakwah.

Karena itu, Syaikh Muhammad dan Amir Muhammad bin Saud memandang perlu menggunakan kekuatan senjata di samping kegiatan dakwah keagamaan.

Peperangan yang dilandasi konflik keagamaan tersebut kemudian berlangsung selama bertahun-tahun.

Dalam sebagian besar pertempuran, kemenangan berpihak kepada Ibnu Saud.

Satu demi satu desa dan wilayah jatuh ke dalam kekuasaannya.

Sebagian masyarakat bergabung dan menyatakan ketaatan secara sukarela setelah memahami tujuan dakwah tersebut.

Penulis menyatakan:

“Apabila engkau ingin mengetahui sikap keras kepala, kezaliman, pelanggaran, tindakan permusuhan, serta pengingkaran perjanjian yang dilakukan sebagian pihak secara berulang kali, bacalah kitab ‘Unwan Al-Majd.”

Menurut penulis, para pemimpin dakwah pada dasarnya hanya bertujuan melakukan pembelaan diri dan menghilangkan berbagai hambatan yang menghalangi penyebaran dakwah tauhid.

Setelah penaklukan Riyadh dan semakin meluasnya wilayah kekuasaan mereka, serta setelah berbagai kelompok yang sebelumnya sulit ditundukkan berada di bawah kekuasaan mereka, Syaikh Muhammad menyerahkan pengelolaan harta masyarakat dan harta rampasan perang kepada Amir Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud.³

Beliau kemudian memusatkan perhatiannya pada kegiatan keilmuan, ibadah, dan penyampaian pelajaran.

Catatan kaki 3: Riyadh ditaklukkan pada tahun 1187 H oleh Imam Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud setelah Dahham bin Dawwas melarikan diri dari kota tersebut. Menurut penulis, pelariannya terjadi setelah ia berulang kali melakukan penyerangan terhadap para pemimpin dakwah dan beberapa kali melanggar perjanjian. Penulis menyatakan bahwa kesudahan yang baik diperuntukkan bagi orang-orang bertakwa dan pasukan Allah yang bertauhid.Pada tahun 1179 H, Imam Muhammad bin Saud wafat dan putranya, Abdul Aziz, dibaiat sebagai penguasa.Pada tahun 1215 H, Saud bin Abdul Aziz, atas perintah ayahnya, melancarkan serangan ke Irak yang mengakibatkan kerugian besar bagi penduduk Karbala. Dalam serangan tersebut, bangunan berkubah di atas makam Al-Husain dihancurkan.Pada bulan Rajab tahun 1218 H, Imam Abdul Aziz dibunuh oleh seorang laki-laki Syiah yang datang dari Irak dengan menyamar sebagai seorang darwis. Laki-laki tersebut menampakkan kesalehan dan ketaatan serta mempelajari sebagian Al-Qur’an. Abdul Aziz memuliakan dan memberinya bantuan, sementara laki-laki itu terus mempelajari berbagai perkara agama.Menurut penulis, laki-laki tersebut kemudian menyerang sang imam dari saf ketiga ketika orang-orang sedang bersujud dan menikamnya dengan sebilah belati sebagai tindakan balas dendam. Imam Abdul Aziz meninggal akibat serangan tersebut, kemudian Saud bin Abdul Aziz dibaiat sebagai penguasa.

Amir Muhammad bin Saud dan putranya, Abdul Aziz, tidak mengambil keputusan dalam berbagai urusan sebelum terlebih dahulu memberitahukannya kepada Syaikh Muhammad agar beliau menjelaskan ketentuan hukumnya menurut syariat.

Mereka juga tidak melaksanakan suatu keputusan hukum kecuali berdasarkan perintah dan pendapat beliau.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terus menjalani kehidupan yang menurut penulis dipenuhi kebaikan dan keteladanan hingga beliau wafat pada bulan Zulkaidah tahun 1206 H.

Semoga Allah merahmati beliau dan menempatkannya di surga yang luas.

### 16\. Keilmuan dan Sifat-Sifat Syaikh

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah merupakan salah seorang tokoh ulama besar.

Menurut penulis, beliau adalah pembela Sunnah dan penentang bidah, seorang ulama yang memiliki pengetahuan luas serta penguasaan mendalam terhadap berbagai disiplin ilmu.

Beliau dikenal sebagai imam dalam bidang tafsir, hadis, fikih, usul fikih, serta ilmu-ilmu pendukung seperti nahwu, sharaf, dan balaghah.

Beliau juga menguasai prinsip-prinsip dasar dan cabang-cabang akidah Islam.

Beliau memiliki kemampuan menjelaskan persoalan-persoalan yang rumit, memecahkan berbagai masalah yang sulit, serta menyampaikan argumentasi dengan bahasa yang fasih.

Beliau kuat dalam berhujah dan mampu mengemukakan dalil-dalil serta bukti-bukti yang jelas dengan ungkapan yang sangat baik dan mudah dipahami.

Pada wajahnya tampak tanda-tanda kesalehan, perilaku yang baik, dan kebersihan hati.

Beliau mencintai sesama manusia, bermurah hati kepada mereka, serta memberikan bantuan dan kebaikan dengan penuh kemurahan.

Beliau ikhlas dalam memberikan nasihat dan bimbingan karena Allah.

Beliau juga banyak menghabiskan waktunya untuk berzikir dan beribadah, sehingga lisannya hampir tidak pernah berhenti mengingat Allah.

Dalam memberikan bantuan, beliau bersikap seperti orang yang benar-benar bertawakal dan percaya kepada Tuhannya.

Beliau bahkan bersedia menanggung utang dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan para tamu dan orang-orang yang meminta bantuan kepadanya.

Beliau memiliki wibawa dan keagungan pribadi sehingga masyarakat memandangnya dengan penuh penghormatan.

Meskipun demikian, beliau tetap memiliki sifat tawaduk dan kelembutan dalam berinteraksi dengan orang kaya maupun miskin, orang terpandang maupun rakyat biasa.

Beliau memberikan perhatian dan kecintaan yang besar kepada para penuntut ilmu.

Beliau mengeluarkan hartanya untuk membantu mereka dan membimbing masing-masing sesuai dengan kemampuan serta kesiapan mereka.

Setiap hari, beliau menyelenggarakan beberapa majelis ilmu untuk mengajarkan berbagai disiplin pengetahuan, seperti tauhid, tafsir, hadis, fikih, usul fikih, dan berbagai ilmu bahasa Arab.

Beliau memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai persoalan-persoalan terperinci dalam tafsir dan hadis.

Beliau juga memiliki penguasaan yang baik terhadap ilmu tentang cacat-cacat tersembunyi dalam hadis (‘ilal al-hadits) dan keadaan para perawinya.

Beliau tidak mudah merasa bosan atau malas dalam menjelaskan pelajaran, melakukan penelitian, menyusun karya tulis, dan mengajar.

Beliau dikenal sebagai pribadi yang sabar, berakal matang, dan penyantun.

Beliau tidak mudah terpancing amarah, kecuali apabila kehormatan agama dilanggar atau syiar-syiar kaum Muslimin dihina.

Dalam keadaan demikian, beliau melakukan pembelaan melalui kekuatan senjata maupun argumentasi lisan.

Beliau sangat menghormati para ulama dan senantiasa menyebutkan keutamaan-keutamaan mereka.

Beliau memerintahkan yang makruf dan mencegah kemungkaran.

Beliau tidak membiarkan praktik bidah begitu saja, tetapi mengingkari para pelakunya dengan kelembutan dan sikap yang baik.

Beliau berusaha menghindari kekerasan, kemarahan, dan tindakan kasar, kecuali apabila menurut pertimbangannya keadaan menuntut tindakan tersebut.

Tidak mengherankan apabila Syaikh Muhammad memiliki berbagai sifat terpuji dan akhlak mulia tersebut.

Sebab, menurut penulis, beliau mewarisi sifat-sifat tersebut dari para ayah dan leluhurnya yang saleh, yang dikenal memiliki ilmu, keutamaan, dan kezuhudan.

Kakeknya, Sulaiman bin Ali, merupakan salah seorang ulama terbesar Najd pada zamannya.

Beliau menguasai banyak disiplin ilmu sehingga para penuntut ilmu berdatangan dari berbagai penjuru Najd untuk belajar kepadanya.

Ibnu Bisyr menyatakan:

“Beliau menyusun banyak karya tulis, mengajar, memberikan fatwa, serta memberikan manfaat kepada para penuntut ilmu melalui keluasan pengetahuannya.”

Ayah Syaikh Muhammad, yaitu Syaikh Abdul Wahhab, juga merupakan seorang ulama yang memiliki ilmu luas, sifat wara, dan kezuhudan.

Beliau menguasai ilmu-ilmu syariat beserta berbagai disiplin ilmu pendukungnya.

Beliau pernah menjabat sebagai hakim di beberapa wilayah Najd, di antaranya Al-‘Uyainah dan Huraimila.

Beliau juga memiliki sejumlah karya tulis dan risalah yang dinilai baik.

Semoga Allah melimpahkan rahmat yang luas kepada mereka semua.

### 17\. Karya-Karya Ilmiah Syaikh

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyusun sejumlah kitab dan risalah ilmiah.

Di antara karya-karya beliau adalah:

* Kitab At-Tauhid — kitab yang sangat terkenal sehingga tidak memerlukan pengenalan panjang.

* Kasyf Asy-Syubuhat — Menyingkap Berbagai Syubhat.

* Al-Ushul Ats-Tsalatsah — Tiga Landasan Utama.

* Mukhtashar As-Sirah An-Nabawiyyah — Ringkasan Sirah Nabi.

* Mukhtashar Al-Inshaf wa Asy-Syarh Al-Kabir fi Al-Fiqh — Ringkasan kitab Al-Inshaf dan Asy-Syarh Al-Kabir dalam bidang fikih.

* Nashihat Al-Muslimin bi Ahadits Khatam Al-Mursalin — Nasihat bagi Kaum Muslimin melalui Hadis-Hadis Penutup Para Rasul.

* Kitab Al-Kaba’ir — Kitab tentang Dosa-Dosa Besar.

* Adab Al-Masyyi ila Ash-Shalah — Adab Berjalan Menuju Shalat.

* Ushul Al-Iman — Pokok-Pokok Keimanan.

* Mukhtashar Zad Al-Ma‘ad — Ringkasan Zad Al-Ma‘ad.

* Mukhtashar Shahih Al-Bukhari — Ringkasan Shahih Al-Bukhari.

* Masa’il Al-Jahiliyyah — Persoalan-Persoalan Jahiliah.

* Istinbath min Al-Qur’an — Penggalian Hukum dan Pelajaran dari Al-Qur’an, terdiri atas dua jilid.

* Ahadits Al-Fitan — Hadis-Hadis tentang Fitnah dan Berbagai Ujian.

Selain karya-karya tersebut, beliau juga menulis banyak risalah lainnya, yang sebagian besar membahas masalah tauhid.

### 18\. Anak-Anak dan Murid-Murid Syaikh

Dalam kitab ‘Unwan Al-Majd disebutkan bahwa sejumlah ulama terkemuka pernah menuntut ilmu kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Di antara mereka adalah empat putranya yang menjadi ulama dan hakim terkemuka.

Keempatnya mempelajari ilmu-ilmu syariat dan berbagai disiplin ilmu kesusastraan Arab.

Mereka juga mempelajari cabang-cabang fikih dan prinsip-prinsip dasarnya hingga memiliki kemampuan yang matang dalam ilmu-ilmu rasional maupun ilmu-ilmu yang bersumber dari riwayat.

Keempat putra tersebut adalah:

* Husain bin Muhammad bin Abdul Wahhab.

* Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab.

* Ali bin Muhammad bin Abdul Wahhab.

* Ibrahim bin Muhammad bin Abdul Wahhab.⁴

Catatan kaki 4: Adapun putra beliau yang kelima, yaitu Hasan, tampaknya tidak termasuk ulama besar yang secara khusus menekuni ilmu agama. Penulis menyatakan: “Sebagian anggota keluarga Al Syaikh telah memberitahukan kepadaku bahwa Hasan, ayah Syaikh Abdurrahman bin Hasan, wafat dalam usia muda. Ia tidak banyak menyibukkan diri dengan kegiatan keilmuan, melainkan lebih banyak berkecimpung dalam perdagangan dan berbagai urusan duniawi.”

Masing-masing dari keempat putra tersebut memiliki sebuah madrasah di dekat rumahnya.

Mereka memiliki banyak murid, baik dari penduduk Ad-Dir‘iyah maupun para penuntut ilmu yang datang dari luar daerah.

Jumlah murid mereka begitu banyak sehingga orang yang mendengarnya mungkin mengira bahwa jumlah tersebut dilebih-lebihkan.

Ilmu agama terus diwariskan di kalangan keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Penulis menyampaikan harapan agar tradisi keilmuan tersebut tetap berlangsung hingga datangnya hari Kiamat, insya Allah.

Pada masa penulisan biografi ini, keluarga Al Syaikh memegang berbagai jabatan keagamaan di Kerajaan Arab Saudi.

Di antaranya adalah jabatan dalam bidang fatwa, pendidikan, amar makruf nahi mungkar, kepemimpinan lembaga-lembaga pendidikan dan perguruan tinggi, penyelesaian berbagai persoalan keagamaan, pembelaan terhadap agama, serta penegakan syariat Nabi Muhammad ﷺ.

Semoga Allah memberikan balasan terbaik kepada mereka dan membimbing kita bersama mereka kepada segala sesuatu yang dicintai dan diridai-Nya.

Adapun para murid dan penuntut ilmu yang belajar langsung kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kemudian menjadi hakim dan mufti, jumlah mereka sangat banyak sehingga sulit dihitung.

Namun, tidak mengapa apabila disebutkan sebagian kecil di antara mereka.

### Beberapa Murid Terkemuka

1\. Syaikh Hamad bin Nashir bin Utsman bin Mu‘ammar

Beliau merupakan seorang ulama terkemuka dan ayah dari penulis kitab Minhat Al-Qarib.⁵

Catatan kaki 5: Minhat Al-Qarib fi Ar-Radd ‘ala ‘Ubbad Ash-Shalib (Anugerah yang Dekat dalam Membantah Para Penyembah Salib) ditulis oleh Al-‘Allamah Syaikh Abdul Aziz, putra Syaikh Ahmad yang disebutkan. Redaksi akhir catatan kaki dalam naskah sumber tampak tidak lengkap.

2\. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Al-Hushain An-Nashiri

Beliau merupakan seorang ulama yang dikenal zuhud dan wara. Pada masa itu, beliau menjabat sebagai hakim di wilayah Al-Wasym.

3\. Syaikh Sa‘id bin Hujji

Beliau adalah seorang ulama utama yang mengamalkan ilmunya dan pernah menjabat sebagai hakim di Hawthah Bani Tamim.

4\. Syaikh Abdurrahman bin Nami

Beliau merupakan seorang ulama terkemuka yang pernah menjabat sebagai hakim di Al-‘Uyainah dan Al-Ahsa.

5\. Syaikh Ahmad bin Rasyid Al-‘Uraini

Beliau adalah seorang ulama utama yang menjabat sebagai hakim di wilayah Sudair.

6\. Syaikh Abdul Aziz Abu Husain

Beliau termasuk salah seorang murid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang disebutkan dalam daftar para ulama tersebut.

7\. Syaikh Hasan bin ‘Aidan

Beliau pernah menjabat sebagai hakim di kota Huraimila.

8\. Syaikh Abdul Aziz bin Suwailim

Beliau pernah menjabat sebagai hakim di wilayah Al-Qashim.

### 19\. Keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Di antara keturunan Syaikh Hasan yang paling terkenal dan masih hidup pada masa penulisan biografi ini adalah Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Hasan.

Pada waktu itu, beliau menjabat sebagai Mufti Kerajaan Arab Saudi dan menjadi rujukan utama bagi berbagai lembaga keagamaan.

Demikian pula saudaranya, Syaikh Abdul Lathif, yang menjabat sebagai pimpinan lembaga-lembaga pendidikan agama dan perguruan tinggi.

Syaikh Abdul Malik juga menjabat sebagai pimpinan lembaga-lembaga amar makruf nahi mungkar di Makkah Al-Mukarramah.

Sementara itu, di antara keturunan Husain bin Muhammad bin Abdul Wahhab yang paling terkenal pada masa tersebut adalah Syaikh Umar bin Hasan.

Beliau menjabat sebagai pimpinan lembaga amar makruf nahi mungkar di wilayah Najd dan kawasan timur Arab Saudi.

Sumber: Kitab Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab: ‘Aqidatuhu as-Salafiyyah wa Da‘watuhu al-Ishlahiyyah wa Tsana’ al-‘Ulama’ ‘Alaih, karya Al-‘Allamah Syaikh Ahmad bin Hajar bin Muhammad Al Abu Thami.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button