Biografi Ulama

Keberanian Abdullah bin Mas‘ud: Ketika Kekuatan Iman Mengalahkan Rasa Takut

Keberanian Abdullah bin Mas‘ud: Ketika Kekuatan Iman Mengalahkan Rasa Takut

☷ Daftar Isi Artikel

Keimanan yang kuat kepada Allah Ta‘ala akan melahirkan keberanian dalam menghadapi kesulitan dan berbagai risiko demi membela agama-Nya. Ketika kecintaan kepada Allah dan agama-Nya telah meresap ke dalam hati, seorang mukmin tidak mudah gentar menghadapi ancaman, sekalipun kekuatan yang dihadapinya jauh lebih besar daripada kemampuan yang dimilikinya.

Salah satu teladan yang menggambarkan kekuatan iman tersebut adalah Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi ﷺ yang dikenal karena keberanian, keluasan ilmu, dan keteguhannya dalam beragama. Pada masa-masa awal Islam, ketika kaum muslimin masih sedikit dan menghadapi penindasan kaum musyrikin Quraisy, beliau tampil memperdengarkan bacaan Al-Qur’an secara terbuka di Masjidilharam, meskipun tidak memiliki perlindungan kesukuan yang kuat.

Peristiwa tersebut menjadi bukti keteguhan hati seorang mukmin yang bertawakal kepada Allah Ta‘ala, sekaligus memperlihatkan bagaimana keberanian dalam menyampaikan kebenaran dapat mengalahkan rasa takut terhadap manusia.

Abdullah bin Mas‘ud Membaca Al-Qur’an di Hadapan Kaum Quraisy

‘Urwah bin az-Zubair rahimahullah, seorang ulama dari kalangan tabiin, meriwayatkan:

كَانَ أَوَّلَ مَنْ جَهَرَ بِالْقُرْآنِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بِمَكَّةَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ.

“Orang pertama yang membaca Al-Qur’an dengan suara lantang secara terbuka di Makkah setelah Rasulullah ﷺ adalah Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu.”

Pada suatu hari, para sahabat Rasulullah ﷺ berkumpul dan berkata, “Demi Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengar Al-Qur’an dibacakan dengan suara lantang di hadapan mereka. Siapakah yang bersedia memperdengarkannya kepada mereka?”

Abdullah bin Mas‘ud menjawab, “Aku.”

Para sahabat mengkhawatirkan keselamatannya. Mereka menginginkan seseorang yang mempunyai keluarga besar atau kabilah yang dapat memberikan perlindungan apabila kaum Quraisy hendak mencelakakannya.

Namun, Abdullah bin Mas‘ud menjawab dengan penuh keyakinan:

دَعُونِي فَإِنَّ اللَّهَ سَيَمْنَعُنِي.

“Biarkan aku. Sesungguhnya Allah akan melindungiku.”

Keesokan harinya, pada waktu duha, Abdullah bin Mas‘ud berangkat menuju Maqam Ibrahim. Saat itu, para pemuka Quraisy sedang berkumpul di tempat-tempat pertemuan mereka.

Beliau berdiri di dekat Maqam Ibrahim, kemudian membaca dengan suara lantang:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Kemudian beliau melanjutkan:

﴿الرَّحْمَٰنُ ۝ عَلَّمَ الْقُرْآنَ﴾

“(Allah) Yang Maha Pengasih, yang telah mengajarkan Al-Qur’an.” (QS. Ar-Rahman: 1–2)

Beliau terus membaca surah tersebut, sementara orang-orang Quraisy mulai memperhatikan dan saling bertanya, “Apa yang sedang diucapkan oleh Ibnu Ummi ‘Abd?”

Ibnu Ummi ‘Abd adalah salah satu panggilan yang dikenal bagi Abdullah bin Mas‘ud.

Setelah menyadari bahwa yang dibacanya adalah ayat-ayat Al-Qur’an, mereka berkata, “Sesungguhnya dia sedang membaca sebagian dari apa yang dibawa oleh Muhammad.”

Mereka pun segera bangkit menghampirinya dan memukuli wajahnya. Meskipun demikian, Abdullah bin Mas‘ud tetap melanjutkan bacaannya hingga mencapai bagian yang Allah kehendaki untuk dibacanya.

Setelah itu, beliau kembali menemui para sahabat dengan wajah yang memperlihatkan bekas-bekas pukulan.

Para sahabat berkata, “Inilah yang kami khawatirkan akan menimpamu.”

Akan tetapi, Abdullah bin Mas‘ud menjawab:

مَا كَانَ أَعْدَاءُ اللَّهِ أَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْهُمُ الْآنَ، وَلَئِنْ شِئْتُمْ لَأُغَادِيَنَّهُمْ بِمِثْلِهَا غَدًا.

“Belum pernah musuh-musuh Allah itu terasa lebih hina dan tidak berarti di hadapanku daripada sekarang. Jika kalian menghendaki, besok pagi aku akan kembali menemui mereka dan melakukan hal yang sama.”

Para sahabat menjawab, “Tidak perlu. Cukuplah bagimu bahwa engkau telah memperdengarkan kepada mereka sesuatu yang mereka benci.”

Takhrij riwayat: Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dalam As-Siyar wa al-Maghazi (hlm. 186) dan Imam Ahmad dalam Fadha’il ash-Shahabah (no. 1535, jilid II, hlm. 837), melalui jalur Muhammad bin Ishaq, dari Yahya bin ‘Urwah bin az-Zubair, dari ayahnya, ‘Urwah bin az-Zubair rahimahullah.

Riwayat tersebut merupakan berita sejarah yang disampaikan oleh ‘Urwah bin az-Zubair, seorang tabiin.

Kekuatan Tawakal yang Melahirkan Keberanian

Kisah tersebut memperlihatkan betapa kuatnya keimanan dan tawakal Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu kepada Allah Ta‘ala.

Beliau memahami besarnya bahaya yang mungkin menimpanya. Para sahabat pun telah mengingatkan bahwa dirinya tidak mempunyai perlindungan kesukuan yang memadai untuk menghadapi ancaman kaum Quraisy. Namun, keadaan tersebut tidak menghalanginya untuk menyampaikan ayat-ayat Allah secara terbuka.

Jawabannya, “Biarkan aku. Sesungguhnya Allah akan melindungiku,” menunjukkan keyakinan yang mendalam terhadap pertolongan Allah Ta‘ala.

Tawakal yang demikian bukan berarti mengabaikan keberadaan bahaya, melainkan menyerahkan urusan kepada Allah setelah menyadari risiko yang dihadapi dan tetap teguh dalam menjalankan kebaikan.

Apabila pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memenuhi hati seorang mukmin, kebesaran dan kekuasaan manusia tidak lagi mendominasi perasaannya. Ia menyadari bahwa segala kekuatan berada di bawah kekuasaan Allah, sehingga ancaman manusia tidak mudah menggoyahkan keteguhannya dalam membela kebenaran.

Inilah yang tergambar dalam sikap Abdullah bin Mas‘ud. Meskipun menghadapi para pemuka Quraisy yang terkenal keras dalam memusuhi dakwah Islam, beliau tidak membiarkan rasa takut menguasai dirinya.

Bahkan, setelah menerima pukulan dan mengalami luka, keberaniannya tidak surut. Beliau justru menyatakan kesediaannya untuk kembali memperdengarkan Al-Qur’an kepada mereka pada keesokan harinya.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa keberanian dalam menjalankan ketaatan dapat semakin menguatkan hati seorang mukmin. Pengalaman menghadapi ancaman dengan tetap berpegang pada kebenaran menjadikannya semakin menyadari betapa lemahnya kekuatan manusia di hadapan kekuasaan Allah Ta‘ala.

Dari peristiwa ini dapat dipetik pelajaran bahwa kekuatan iman memiliki pengaruh besar terhadap keberanian seseorang dalam menghadapi ujian. Semakin kuat keyakinan kepada Allah, semakin besar pula kemampuannya untuk mengendalikan rasa takut dan tetap teguh dalam kebenaran.

Sebaliknya, ketika iman melemah dan ketergantungan hati kepada makhluk semakin besar, ancaman manusia dapat terasa begitu menakutkan hingga menghalangi seseorang dari kewajiban dan kebaikan.

Oleh karena itu, keberanian seorang mukmin bukanlah keberanian yang lahir dari kesombongan atau sikap meremehkan bahaya, melainkan keberanian yang dibangun di atas keimanan, tawakal, dan keyakinan terhadap pertolongan Allah Ta‘ala.

Peristiwa ini juga mengajarkan bahwa upaya manusia untuk menghalangi tersebarnya petunjuk Allah tidak akan mampu memadamkan cahaya agama-Nya.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ﴾

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 32)

Mengenal Sosok Abdullah bin Mas‘ud dan Keutamaannya

Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu bukan hanya dikenal karena keberaniannya dalam membela Islam, tetapi juga karena kedudukan dan keluasan ilmunya di tengah para sahabat Rasulullah ﷺ.

Beliau adalah seorang imam yang rabbani, Abu Abdirrahman Abdullah bin Ummu ‘Abd al-Hudzali, yang lebih dikenal dengan nama Abdullah bin Mas‘ud. Beliau merupakan salah seorang sahabat yang senantiasa mendampingi Rasulullah ﷺ, melayani keperluan beliau, serta dipercaya membawa siwak dan kedua sandal beliau.

Abdullah bin Mas‘ud memeluk Islam sejak masa-masa awal dakwah dan termasuk golongan as-sabiqunal awwalun, yaitu orang-orang yang paling dahulu masuk Islam. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa beliau merupakan orang keenam yang memeluk Islam.

Beliau mengikuti dua kali hijrah, turut serta dalam Perang Badar, dan menghadiri berbagai peperangan setelahnya bersama Rasulullah ﷺ.

Kedekatannya dengan Nabi ﷺ memberikan kesempatan yang sangat besar untuk mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah secara langsung. Beliau bahkan menghafal sebanyak tujuh puluh surah Al-Qur’an dari lisan Rasulullah ﷺ.

Dengan keluasan ilmu dan pemahamannya, Abdullah bin Mas‘ud menjadi salah seorang tokoh terkemuka di kalangan sahabat, imam dalam bidang qiraah, serta ulama fikih yang menjadi rujukan umat.

Pujian Rasulullah ﷺ terhadap Bacaannya

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ، فَلْيَقْرَأْهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ».

“Barang siapa ingin membaca Al-Qur’an dalam keadaan masih segar sebagaimana ketika diturunkan, hendaklah ia membacanya menurut bacaan Ibnu Ummu ‘Abd (Abdullah bin Mas‘ud).”

Hadis tersebut menunjukkan keutamaan Abdullah bin Mas‘ud dalam penguasaan bacaan Al-Qur’an. Kedekatannya dengan Rasulullah ﷺ menjadikan beliau salah seorang sahabat yang memiliki kedudukan istimewa dalam bidang ini.

Pengakuan Para Sahabat terhadap Keluasan Ilmunya

Suatu ketika, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu memandang Abdullah bin Mas‘ud yang sedang berdiri, lalu berkata:

«كُنَيْفٌ مُلِئَ عِلْمًا!»

“Sebuah wadah kecil yang dipenuhi ilmu!”

Ungkapan tersebut merupakan pujian terhadap keluasan ilmu Abdullah bin Mas‘ud. Meskipun memiliki tubuh yang kecil, beliau menyimpan ilmu dan pemahaman agama yang sangat luas.

Abdurrahman bin Yazid juga menuturkan:

“Kami mendatangi Hudzaifah, lalu berkata kepadanya, ‘Ceritakanlah kepada kami tentang orang yang paling menyerupai Rasulullah ﷺ dalam hal petunjuk, perilaku, dan pembawaannya, agar kami dapat mengambil ilmu darinya dan mendengarkan penuturannya.’

Hudzaifah menjawab, ‘Dia adalah Ibnu Mas‘ud!’”

Kesaksian Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu tersebut memperlihatkan betapa dekatnya Abdullah bin Mas‘ud dengan tuntunan Rasulullah ﷺ, bukan hanya dalam penguasaan ilmu, tetapi juga dalam perilaku dan pembawaannya sehari-hari.

Kedudukan beliau semakin tampak dalam surat yang dikirimkan Umar bin al-Khaththab kepada penduduk Kufah.

Haritsah bin Mudharrib menuturkan bahwa surat tersebut dibacakan kepada mereka. Di antara isinya adalah:

“Sesungguhnya aku telah mengutus kepada kalian Ammar bin Yasir sebagai pemimpin, dan Abdullah bin Mas‘ud sebagai pengajar sekaligus penasihat.

Keduanya merupakan orang-orang pilihan di antara para sahabat Muhammad ﷺ yang turut serta dalam Perang Badar.

Karena itu, teladanilah keduanya dan dengarkanlah perkataan mereka.

Sungguh, aku telah mengutamakan kalian daripada diriku sendiri dengan menyerahkan Abdullah bin Mas‘ud kepada kalian.”

Surat tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan Umar bin al-Khaththab terhadap keilmuan dan keteladanan Abdullah bin Mas‘ud. Beliau bahkan mengutamakan kebutuhan penduduk Kufah untuk memperoleh bimbingan ilmu dengan mengutus seorang sahabat yang sangat berharga bagi dirinya.

Ketelitian Abdullah bin Mas‘ud dalam Meriwayatkan Hadis

Di samping dikenal sebagai ahli Al-Qur’an dan fikih, Abdullah bin Mas‘ud termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadis Rasulullah ﷺ.

Meskipun memiliki kedekatan yang sangat erat dengan Nabi ﷺ, beliau senantiasa menjaga ketelitian dan kehati-hatian dalam menyampaikan hadis. Beliau tidak menganggap ringan persoalan menisbatkan suatu perkataan kepada Rasulullah ﷺ, bahkan sangat memperhatikan ketepatan lafaz riwayat yang disampaikannya.

Sikap tersebut lahir dari sifat wara dan rasa tanggung jawab yang besar dalam menjaga Sunnah.

Abu Amr asy-Syaibani menuturkan:

“Aku pernah duduk bersama Ibnu Mas‘ud selama satu tahun. Sepanjang masa itu, setiap kali beliau mengucapkan, ‘Rasulullah ﷺ bersabda,’ tubuhnya langsung gemetar. Kemudian beliau mengatakan, ‘Demikianlah,’ atau ‘Kurang lebih seperti ini,’ atau ‘Mendekati seperti ini.’”

Riwayat tersebut menggambarkan betapa besar pengagungan Abdullah bin Mas‘ud terhadap hadis Nabi ﷺ. Beliau sangat berhati-hati agar tidak menisbatkan kepada Rasulullah ﷺ suatu lafaz yang belum benar-benar diyakininya.

Kehati-hatian itu juga tercermin dalam bimbingannya kepada para murid. Beliau menekankan pentingnya menjaga ketepatan periwayatan dan tidak menyampaikan sesuatu secara sembarangan atas nama agama.

Selain memperhatikan keabsahan dan ketelitian riwayat, Abdullah bin Mas‘ud juga mempertimbangkan kemampuan orang-orang yang menerima ilmu.

Beliau mengingatkan agar seseorang tidak menyampaikan pembicaraan yang melampaui tingkat pemahaman masyarakat sehingga menimbulkan kebingungan atau fitnah bagi mereka.

Beliau berkata:

«مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ إِلَّا كَانَ فِتْنَةً لِبَعْضِهِمْ».

“Tidaklah engkau menyampaikan suatu pembicaraan kepada sekelompok orang yang tidak mampu dijangkau oleh akal mereka, melainkan hal itu akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka.”

Perkataan tersebut mengandung pelajaran penting tentang metode pengajaran dan penyampaian ilmu. Seorang pengajar hendaknya memperhatikan keadaan, tingkat pemahaman, dan kesiapan orang-orang yang menerima penjelasannya.

Tidak semua persoalan harus disampaikan kepada setiap orang dengan cara dan tingkat pembahasan yang sama. Ilmu perlu disampaikan dengan hikmah agar dapat dipahami secara benar dan memberikan manfaat, bukan justru menimbulkan kesalahpahaman.

Dengan demikian, ketelitian Abdullah bin Mas‘ud dalam meriwayatkan hadis tidak hanya berkaitan dengan penjagaan lafaz dan kebenaran berita, tetapi juga mencakup kebijaksanaan dalam menyampaikan ilmu kepada orang lain.

Murid-Murid Abdullah bin Mas‘ud dan Pengaruh Keilmuannya

Keluasan ilmu Abdullah bin Mas‘ud memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan keilmuan Islam, khususnya melalui para muridnya dari kalangan tabiin.

Banyak ulama mengambil ilmu dan meriwayatkan hadis dari beliau. Mereka kemudian menjadi tokoh-tokoh penting dalam bidang tafsir, hadis, fikih, dan qiraah, serta meneruskan warisan ilmu tersebut kepada generasi setelahnya.

Di antara murid-murid beliau yang terkenal adalah:

  1. Alqamah.
  2. Al-Aswad.
  3. Masruq.
  4. Ar-Rabi‘ bin Khutsaim.
  5. Syuraih al-Qadhi.
  6. Abu Wa’il.
  7. Zirr bin Hubaisy.
  8. Abidah as-Salmani.
  9. Amr bin Maimun.
  10. Abdurrahman bin Abi Laila.
  11. Abu Utsman an-Nahdi.
  12. Al-Harits bin Suwaid.
  13. Rib‘i bin Hirasy.

Selain mereka, masih banyak ulama lain yang memperoleh manfaat dari ilmu dan riwayat Abdullah bin Mas‘ud.

Riwayat-riwayat yang bersumber dari beliau juga dinukil melalui kedua putranya, Abdurrahman dan Abu Ubaidah; keponakannya, Abdullah bin Utbah; serta istrinya, Zainab ats-Tsaqafiyyah.

Melalui para murid dan perawi tersebut, ilmu Abdullah bin Mas‘ud tersebar luas serta menjadi salah satu fondasi penting bagi perkembangan tradisi keilmuan Islam, terutama di Kufah.

Warisan keilmuannya memperlihatkan bahwa pengabdian para sahabat dalam membela agama tidak terbatas pada keberanian menghadapi musuh, tetapi juga mencakup kesungguhan dalam mempelajari, menjaga, mengajarkan, dan menyebarkan wahyu kepada umat.

Wafatnya Abdullah bin Mas‘ud

Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu wafat di Madinah pada tahun 32 Hijriah, ketika berusia sekitar enam puluh tahun.

Beliau meninggalkan keteladanan yang agung dalam keimanan, keberanian, tawakal, pengagungan terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, serta ketelitian dalam menjaga ilmu agama.

Kisah hidupnya mengajarkan bahwa keberanian dan keluasan ilmu merupakan dua keutamaan yang dapat bersatu dalam diri seorang mukmin. Keimanan menjadikannya teguh dalam menghadapi ancaman, sedangkan ilmu membimbingnya untuk bertindak dengan benar, penuh kehati-hatian, dan bertanggung jawab.

Keberanian Abdullah bin Mas‘ud ketika memperdengarkan Al-Qur’an di hadapan kaum Quraisy menjadi teladan dalam membela kebenaran. Sementara itu, ketelitian dan kesungguhannya dalam meriwayatkan hadis serta mendidik para murid menjadi contoh bagaimana amanah ilmu harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Semoga Allah Ta‘ala meridai Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, membalas seluruh jasa dan pengabdiannya dalam membela serta menyebarkan agama Islam, dan memberikan taufik kepada kaum muslimin untuk meneladani keimanan, keberanian, dan kesungguhannya dalam menuntut serta mengamalkan ilmu.

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ.

Semoga Allah meridai beliau dan menjadikannya rida.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA. & Narasumber di https://chat.whatsapp.com/DdLUj6dLOnD9UlRoOiENpF?s=cl&p=a&mlu=4&ilr=4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button