Akidah Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i rahimahullah
اعتقاد الإمام محمد بن إدريس الشافعي
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
لِلَّهِ ﷻ أَسْمَاءٌ وَصِفَاتٌ جَاءَ بِهَا كِتَابُهُ، وَأَخْبَرَ بِهَا نَبِيُّهُ ﷺ أُمَّتَهُ.
Allah ‘azza wa jalla memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang disebutkan dalam Kitab-Nya dan diberitahukan oleh Nabi-Nya ﷺ kepada umat beliau.
لَا يَسَعُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِ اللَّهِ ﷻ قَامَتْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ رَدُّهَا؛ لِأَنَّ الْقُرْآنَ نَزَلَ بِهَا، وَصَحَّ عَنْهُ بِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ فِيمَا رَوَى عَنْهُ الْعُدُولُ.
Tidak seorang pun dari makhluk Allah ‘azza wa jalla yang telah tegak hujah atasnya diperbolehkan menolak nama-nama dan sifat-sifat tersebut. Sebab, Al-Qur’an diturunkan dengan menyebutkannya, dan hal itu juga ditetapkan oleh sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan secara sahih dari beliau oleh para perawi yang adil.
فَإِنْ خَالَفَ ذَلِكَ بَعْدَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ بِاللَّهِ ﷻ كَافِرٌ.
Jika seseorang menyelisihi ketetapan itu setelah hujah tegak atasnya, ia telah kafir kepada Allah ‘azza wa jalla.
فَأَمَّا قَبْلَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ مِنْ جِهَةِ الْخَبَرِ فَمَعْذُورٌ بِالْجَهْلِ؛ لِأَنَّ عِلْمَ ذَلِكَ لَا يُدْرَكُ بِالْعَقْلِ، وَلَا بِالرُّؤْيَةِ وَالْفِكْرِ.
Adapun sebelum hujah tegak atasnya melalui penyampaian berita dari wahyu, ia mendapat uzur karena ketidaktahuannya. Sebab, perkara itu tidak dapat diketahui melalui akal, pengamatan, ataupun pemikiran.
وَنَحْوُ ذَلِكَ: إِخْبَارُ اللَّهِ ﷻ إِيَّانَا:
Di antara perkara semacam itu ialah apa yang Allah jalla jalaluh beritahukan kepada kita berikut ini.
أَنَّهُ سَمِيعٌ بَصِيرٌ.
Bahwa Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
وَأَنَّ لَهُ يَدَيْنِ؛ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ﴾.
Bahwa Dia memiliki dua tangan, sebagaimana firman-Nya, “Sebaliknya, kedua tangan-Nya terbuka (Maha Pemurah).” (QS. Al-Ma’idah: 64)
وَأَنَّ لَهُ يَمِينًا؛ بِقَوْلِهِ سُبْحَانَهُ: ﴿وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾.
Bahwa Dia memiliki tangan kanan, sebagaimana firman-Nya, “Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67)
وَأَنَّ لَهُ وَجْهًا؛ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ﴾، وَقَوْلِهِ ﷻ: ﴿وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾.
Bahwa Dia memiliki wajah, sebagaimana firman-Nya, “Segala sesuatu pasti binasa, kecuali zat-Nya.” (QS. Al-Qasas: 88) Dan firman-Nya, “(Akan tetapi,) wajah (zat) Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” (QS. Ar-Rahman: 27)
وَأَنَّ لَهُ قَدَمًا؛ بِقَوْلِهِ ﷺ: «حَتَّى يَضَعَ الرَّبُّ فِيهَا قَدَمَهُ»، يَعْنِي: فِي جَهَنَّمَ.
Bahwa Dia memiliki kaki, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Hingga Rabb meletakkan kaki-Nya di dalamnya.” Yang dimaksud dengan “di dalamnya” ialah di dalam Jahanam.
وَأَنَّهُ يَضْحَكُ مِنْ عَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ؛ بِقَوْلِهِ ﷺ لِلَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ﷻ: «إِنَّهُ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ يَضْحَكُ إِلَيْهِ».
Bahwa Dia tertawa kepada hamba-Nya yang beriman, sebagaimana sabda Nabi ﷺ tentang orang yang terbunuh di jalan Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan Allah tertawa kepadanya.”
وَأَنَّهُ يَهْبِطُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا؛ بِخَبَرِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بِذَلِكَ.
Bahwa Dia turun setiap malam ke langit dunia, sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah ﷺ.
وَأَنَّهُ لَيْسَ بِأَعْوَرَ؛ لِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ إِذْ ذَكَرَ الدَّجَّالَ، فَقَالَ: «إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ».
Bahwa Dia tidak buta sebelah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ ketika menyebut Dajal, “Sesungguhnya Dajal itu buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidak buta sebelah.”
وَأَنَّ الْمُؤْمِنِينَ يَرَوْنَ رَبَّهُمْ ﷻ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَبْصَارِهِمْ كَمَا يَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ.
Bahwa orang-orang beriman akan melihat Rabb mereka ‘azza wa jalla pada hari Kiamat dengan mata kepala mereka, sebagaimana mereka melihat bulan pada malam purnama.
وَأَنَّ لَهُ إِصْبَعًا؛ بِقَوْلِهِ ﷺ: «مَا مِنْ قَلْبٍ إِلَّا وَهُوَ بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ ﷻ».
Bahwa Dia memiliki jari, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Tidak ada satu hati pun melainkan berada di antara dua jari Ar-Rahman ‘azza wa jalla.”
فَإِنَّ هَذِهِ الْمَعَانِيَ الَّتِي وَصَفَ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا نَفْسَهُ، وَوَصَفَهُ بِهَا رَسُولُهُ ﷺ، مِمَّا لَا يُدْرَكُ حَقِيقَةُ ذَلِكَ بِالْفِكْرِ وَالرُّؤْيَةِ.
Hakikat sifat-sifat yang Allah Ta‘ala gunakan untuk menyifati diri-Nya dan yang Rasulullah ﷺ gunakan untuk menyifati-Nya itu tidak dapat diketahui melalui pemikiran ataupun pengamatan.
وَلَا يَكْفُرُ بِالْجَهْلِ بِهَا أَحَدٌ؛ إِلَّا بَعْدَ انْتِهَاءِ الْخَبَرِ إِلَيْهِ بِهَا.
Tidak seorang pun menjadi kafir karena ketidaktahuannya tentang sifat-sifat itu, kecuali setelah berita tentangnya sampai kepadanya.
فَإِنْ كَانَ الْوَارِدُ بِذَلِكَ خَبَرًا يَقُومُ فِي الْفَهْمِ مَقَامَ الْمُشَاهَدَةِ فِي السَّمَاعِ؛ وَجَبَتِ الدَّيْنُونَةُ عَلَى سَامِعِهِ بِحَقِيقَتِهِ، وَالشَّهَادَةُ عَلَيْهِ كَمَا عَايَنَ وَسَمِعَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.
Apabila keterangan yang sampai itu berupa berita yang memberikan pemahaman setara dengan penyaksian langsung, orang yang mendengarnya wajib mengimani kebenaran berita itu dan memberikan kesaksian atasnya, seakan-akan ia menyaksikan sendiri dan mendengarnya langsung dari Rasulullah ﷺ.
وَلَكِنْ نُثْبِتُ هَذِهِ الصِّفَاتِ، وَنَنْفِي التَّشْبِيهَ كَمَا نَفَى ذَلِكَ عَنْ نَفْسِهِ تَعَالَى ذِكْرُهُ؛ فَقَالَ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾.
Namun, kita menetapkan sifat-sifat ini dan meniadakan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana Allah Yang Mahatinggi meniadakan penyerupaan itu dari diri-Nya dalam firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)
✧ ✧ ✧
تَمَّ بِحَمْدِ اللَّهِ
Selesai. Segala puji bagi Allah.