Jangan Terlalu Sibuk Mengikuti Berita: Menjaga Hati, Waktu, dan Iman di Tengah Derasnya Informasi
Jangan Terlalu Sibuk Mengikuti Berita: Menjaga Hati, Waktu, dan Iman di Tengah Derasnya Informasi
☷ Daftar Isi Artikel
Memahami nasihat agar tidak berlebihan dalam tatabbu‘ al-akhbār (تَتَبُّعُ الْأَخْبَارِ) berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta‘ala yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat waktu, pendengaran, penglihatan, dan akal. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari Kiamat.
Di zaman yang serba digital ini, manusia hidup dalam arus informasi yang hampir tidak pernah berhenti. Setiap hari, bahkan setiap menit, berbagai berita datang silih berganti melalui media sosial, grup WhatsApp, Telegram, YouTube, dan berbagai platform lainnya.
Berita tentang peperangan, konflik politik, perselisihan, kejahatan, bencana, ekonomi, hingga kehidupan pribadi orang lain begitu mudah diakses. Belum selesai membaca satu berita, muncul berita berikutnya. Belum tuntas memahami satu persoalan, perhatian sudah berpindah kepada persoalan yang lain.
Tanpa disadari, sebagian orang menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengikuti perkembangan berita. Pikirannya dipenuhi berbagai peristiwa yang jauh dari kehidupannya, sementara urusan pribadi, keluarga, ibadah, dan kewajibannya justru terabaikan.
Karena itulah, terdapat sebuah nasihat yang patut direnungkan:
لَا تُكْثِرْ مِنْ تَتَبُّعِ الْأَخْبَارِ
“Jangan terlalu banyak mengikuti dan menelusuri berita.”
Ungkapan ini merupakan nasihat yang baik dari segi maknanya, bukan hadis Nabi ﷺ yang sedang dinukil.
Nasihat tersebut bukan berarti seorang muslim harus menutup mata terhadap keadaan dunia. Akan tetapi, ia mengingatkan agar kita tidak berlebihan mengikuti berita sampai kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu ketenangan hati, keberkahan waktu, dan kesungguhan dalam beramal.
1. Apa yang Dimaksud dengan Tatabbu‘ al-Akhbār?
Secara bahasa, تَتَبُّعُ الْأَخْبَارِ (tatabbu‘ al-akhbār) berarti menelusuri, mengikuti, atau mencari berbagai berita dan informasi.
Pada dasarnya, mengikuti berita adalah perkara yang bergantung pada tujuan, isi, dan dampaknya. Ada berita yang bermanfaat dan diperlukan, ada pula yang tidak membawa manfaat atau bahkan mengandung keburukan.
Mengetahui keadaan kaum muslimin, perkembangan pendidikan, persoalan masyarakat, keputusan penting pemerintah, atau berbagai peristiwa yang berkaitan dengan tanggung jawab kita tentu dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Namun, yang perlu diwaspadai adalah ketika mengikuti berita berubah menjadi kebiasaan berlebihan yang menyita waktu, mengganggu ketenangan jiwa, memunculkan prasangka, dan menjauhkan seseorang dari hal-hal yang lebih utama.
Seseorang mungkin mengetahui berbagai konflik yang terjadi di banyak negara, tetapi tidak mengetahui perkembangan pendidikan anak-anaknya sendiri. Ia mengikuti setiap perdebatan di media sosial, tetapi jarang membuka kitab untuk menambah ilmunya. Ia mengetahui pergantian tokoh dan perkembangan politik dari waktu ke waktu, tetapi kurang memperhatikan keadaan iman dan amalnya.
Di sinilah pentingnya membedakan antara mengetahui informasi yang bermanfaat dan menyibukkan diri dengan informasi tanpa batas.
2. Seorang Mukmin Berpaling dari Perkara yang Tidak Bermanfaat
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman ketika menjelaskan sifat orang-orang beriman yang beruntung:
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.”
(QS. Al-Mu’minun: 3)
Ayat ini mengajarkan bahwa salah satu sifat orang beriman adalah tidak menyibukkan dirinya dengan perkara yang tidak bermanfaat.
Laghw (اللَّغْوُ) mencakup perkataan dan perbuatan yang sia-sia atau tidak memiliki manfaat yang layak diperhatikan. Termasuk dalam pelajaran yang dapat diambil dari ayat ini ialah pentingnya menjaga diri dari kesibukan yang tidak membawa kebaikan bagi agama maupun kehidupan.
Bayangkan seseorang yang setiap hari menghabiskan dua atau tiga jam hanya untuk menggulir layar ponselnya, membaca berbagai perdebatan, menonton komentar, dan mengikuti berita yang terus diperbarui.
Setelah berjam-jam berlalu, apa yang diperolehnya? Apakah ilmunya bertambah? Apakah ibadahnya semakin baik? Apakah hubungannya dengan keluarga semakin harmonis? Apakah ia mendapatkan manfaat nyata?
Jika jawabannya tidak, sudah sepatutnya ia mengevaluasi kebiasaannya.
Sebab, tidak semua hal yang menarik untuk diketahui merupakan sesuatu yang penting untuk diikuti.
3. Terlalu Banyak Berita Dapat Mengganggu Ketenangan Hati
Hati manusia memiliki keterbatasan. Ia dapat merasa sedih, takut, marah, gelisah, dan khawatir terhadap berbagai peristiwa yang didengar atau disaksikannya.
Mengikuti berita tentang musibah dan penderitaan manusia memang dapat membangkitkan empati. Akan tetapi, apabila seseorang terus-menerus mengonsumsi berita yang meresahkan tanpa batas dan tanpa kemampuan mengambil tindakan, hal itu dapat membuatnya merasa terbebani secara emosional.
Ia bangun tidur dengan membuka berita. Ketika makan, ia membaca berita. Sebelum tidur, ia kembali mengikuti berita. Bahkan, dalam salat pun terkadang pikirannya masih disibukkan dengan perdebatan atau peristiwa yang baru saja disaksikannya.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)
Ayat ini mengingatkan kita tentang sumber ketenteraman hati yang hakiki, yaitu mengingat Allah.
Karena itu, seorang muslim hendaknya memperhatikan apa yang mendominasi hatinya. Jangan sampai berita dan perdebatan memenuhi pikirannya sepanjang hari, sementara zikir, Al-Qur’an, doa, dan perenungan terhadap akhirat hanya mendapatkan sedikit perhatian.
Kepedulian terhadap penderitaan manusia tetap diperlukan. Namun, kepedulian tersebut hendaknya diarahkan kepada sesuatu yang bermanfaat, seperti berdoa, membantu, bersedekah, menyampaikan informasi yang benar, atau melakukan upaya nyata sesuai kemampuan.
Kepedulian tidak harus dibuktikan dengan mengikuti setiap berita sepanjang waktu.
4. Tidak Semua Berita Layak Dipercaya dan Disebarkan
Salah satu bahaya terlalu banyak mengikuti berita adalah meningkatnya kemungkinan seseorang menerima informasi yang belum jelas kebenarannya.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya menyebabkan kamu menyesali perbuatanmu.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini memberikan prinsip penting dalam menerima informasi, yaitu tabayyun, meneliti kebenaran berita sebelum menjadikannya dasar sikap atau tindakan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.”
(HR. Muslim, no. 5, dalam Muqaddimah Shahih Muslim)
Hadis ini menjadi peringatan bagi orang yang terbiasa menyampaikan semua informasi yang diterimanya tanpa memilah dan memeriksa kebenarannya.
Betapa banyak berita yang tersebar dengan judul provokatif, gambar yang dipotong, video yang kehilangan konteks, atau pernyataan yang dinisbatkan kepada seseorang tanpa bukti yang memadai.
Ironisnya, sebagian orang lebih bersemangat menjadi orang pertama yang menyebarkan berita daripada menjadi orang yang memastikan kebenarannya.
Padahal, seorang muslim tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang ia katakan, tetapi juga atas informasi yang disebarkannya.
5. Tidak Semua Persoalan Harus Dikomentari
Di antara fenomena yang sering muncul akibat terlalu banyak mengikuti berita adalah keinginan untuk memberikan komentar terhadap hampir semua persoalan.
Ada peristiwa politik, ia berkomentar. Ada perselisihan antartokoh, ia berkomentar. Ada konflik internasional, ia berkomentar. Bahkan, persoalan yang sangat rumit dan membutuhkan pengetahuan mendalam pun terkadang dibicarakan dengan penuh keyakinan, padahal informasi yang dimiliki sangat terbatas.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra’: 36)
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dibicarakan, sekalipun seseorang memiliki kesempatan untuk menyampaikannya.
Terlebih lagi, persoalan yang berkaitan dengan agama, kehormatan seseorang, keselamatan masyarakat, dan urusan publik membutuhkan ilmu, kehati-hatian, serta pertimbangan terhadap akibat dari suatu ucapan.
Diam ketika belum memiliki pengetahuan yang cukup bukanlah tanda kelemahan, melainkan dapat menjadi bentuk kehati-hatian dan penjagaan terhadap lisan.
6. Islam Mengajarkan Kehati-hatian dalam Menyebarkan Berita yang Menyangkut Masyarakat
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ
“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. Padahal, apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang mampu mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya.”
(QS. An-Nisa’: 83)
Ayat ini mengandung pelajaran penting agar berita yang menyangkut keamanan, ketakutan, dan kepentingan masyarakat tidak disebarluaskan secara tergesa-gesa.
Tidak semua informasi dapat dipahami secara benar oleh setiap orang. Ada persoalan yang membutuhkan penjelasan dari ahli ilmu, pihak yang memiliki kewenangan, atau orang yang memahami keadaan secara menyeluruh.
Karena itu, sikap tergesa-gesa menyebarkan berita tanpa memahami duduk persoalan dapat menimbulkan keresahan, kesalahpahaman, bahkan kerugian bagi masyarakat.
Prinsip ini sangat relevan ketika seseorang menerima kabar tentang konflik, ancaman keamanan, tuduhan terhadap individu, atau berbagai persoalan sensitif yang beredar di media sosial.
7. Waktu Terlalu Berharga untuk Dihabiskan pada Berita yang Tidak Bermanfaat
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah.”
(HR. Muslim, no. 2664)
Hadis ini merupakan kaidah agung dalam menjalani kehidupan.
Seorang muslim diperintahkan untuk bersungguh-sungguh mengejar sesuatu yang bermanfaat, baik bagi agama maupun urusan dunianya.
Waktu yang tersedia dalam kehidupan manusia sangat terbatas. Setiap hari yang berlalu tidak akan pernah kembali.
Bayangkan apabila waktu satu atau dua jam yang biasanya digunakan untuk mengikuti berita dialihkan kepada kegiatan yang lebih bermanfaat: membaca Al-Qur’an, menghafal hadis, mempelajari bahasa Arab, membaca kitab para ulama, mendidik anak, berolahraga, atau meningkatkan keterampilan.
Dalam beberapa bulan, perubahan yang diperoleh tentu dapat sangat berarti.
Sebaliknya, orang yang menghabiskan waktunya untuk mengikuti setiap perkembangan berita mungkin hanya memperoleh tambahan pengetahuan tentang berbagai peristiwa yang segera terlupakan.
Jangan sampai kita mengetahui banyak hal tentang kehidupan orang lain, tetapi sedikit mengetahui kekurangan diri sendiri.
Jangan sampai kita begitu sibuk mengikuti perubahan keadaan dunia, tetapi lalai memperbaiki keadaan hati kita.
Dan jangan sampai kita mengetahui berita terbaru setiap hari, tetapi tidak mengetahui kapan terakhir kali kita membaca Al-Qur’an dengan penuh penghayatan.
8. Apakah Mengikuti Berita Berarti Tidak Bermanfaat?
Tentu tidak demikian.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mengabaikan keadaan masyarakat atau bersikap tidak peduli terhadap penderitaan sesama.
Mengetahui peristiwa penting dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang tepat, menghindari bahaya, memahami kebutuhan masyarakat, serta melaksanakan tanggung jawabnya.
Seorang guru mungkin perlu mengikuti perkembangan pendidikan. Seorang pedagang perlu mengetahui keadaan ekonomi yang memengaruhi usahanya. Seorang peneliti membutuhkan informasi yang relevan dengan bidang keilmuannya. Seorang pemimpin dan pengelola lembaga juga memerlukan informasi untuk menentukan kebijakan.
Demikian pula, mengetahui musibah yang menimpa saudara-saudara kita sesama muslim dapat mendorong munculnya doa, bantuan, kepedulian, dan upaya meringankan penderitaan mereka.
Dengan demikian, yang tercela bukanlah sekadar mengetahui berita, melainkan kesibukan berlebihan yang tidak terkendali atau keterlibatan dalam informasi yang mengandung keburukan.
Tidak pula tepat menjadikan nasihat agar tidak berlebihan mengikuti berita sebagai alasan untuk membiarkan kezaliman atau mengabaikan kewajiban membantu orang lain.
Yang diperlukan adalah keseimbangan antara kepedulian terhadap keadaan masyarakat dan kesungguhan memperbaiki diri sendiri.
9. Bagaimana Sikap Seorang Muslim terhadap Berita?
Agar tidak terjebak dalam kebiasaan mengikuti berita secara berlebihan, beberapa langkah berikut dapat diterapkan.
- Pertama, luruskan tujuan ketika mengikuti berita. Tanyakan kepada diri sendiri apakah informasi tersebut diperlukan, memiliki manfaat, atau dapat membantu kita mengambil tindakan yang baik.
- Kedua, batasi waktu untuk membaca dan menonton berita. Tidak perlu memeriksa perkembangan berita setiap beberapa menit. Pilih waktu tertentu yang tidak mengganggu ibadah, pekerjaan, belajar, dan kebersamaan dengan keluarga.
- Ketiga, pilih sumber informasi yang tepercaya. Hindari bergantung pada akun yang terbiasa menyebarkan sensasi, tuduhan, atau informasi tanpa sumber yang jelas.
- Keempat, biasakan melakukan tabayyun. Jangan menyebarkan informasi hanya karena terlihat menarik, mengejutkan, atau sesuai dengan pendapat pribadi.
- Kelima, jangan merasa harus memberikan komentar terhadap semua persoalan. Tidak mengetahui suatu peristiwa secara lengkap bukanlah kekurangan yang harus ditutupi dengan komentar atau kesimpulan tergesa-gesa.
- Keenam, utamakan ilmu yang bermanfaat. Sediakan waktu terbaik untuk membaca Al-Qur’an, mempelajari agama, memperbaiki ibadah, serta menambah pengetahuan yang benar-benar dibutuhkan.
- Ketujuh, ubah kepedulian menjadi amal nyata. Ketika mengetahui penderitaan saudara sesama muslim, lakukan sesuatu yang bermanfaat sesuai kemampuan, seperti berdoa, memberikan bantuan melalui jalur yang amanah, dan mengajak kepada kebaikan.
- Kedelapan, lakukan muhasabah. Perhatikan apakah kebiasaan mengikuti berita membuat diri semakin berilmu, bijaksana, dan dekat kepada Allah, atau justru semakin gelisah, mudah marah, banyak berdebat, dan lalai terhadap kewajiban.
10. Jangan Menjadi Orang yang Sibuk dengan Dunia, tetapi Lalai terhadap Dirinya
Ada sebuah renungan yang patut kita tanamkan dalam hati:
لَا تَنْشَغِلْ بِأَخْبَارِ النَّاسِ عَنْ إِصْلَاحِ نَفْسِكَ
“Janganlah engkau tersibukkan dengan berita tentang manusia hingga melalaikan perbaikan dirimu sendiri.”
Ungkapan ini merupakan nasihat yang disusun untuk menjelaskan makna tersebut, bukan hadis Nabi ﷺ atau kutipan yang dinisbatkan kepada ulama tertentu.
Sungguh mengherankan apabila seseorang dapat menghabiskan banyak waktu untuk mengetahui keadaan orang lain, tetapi tidak menyediakan waktu untuk memeriksa keadaan hatinya.
Ia mengetahui siapa yang sedang berselisih, siapa yang menang dan kalah, siapa yang dipuji dan dicela, serta berbagai persoalan yang berlangsung di berbagai penjuru dunia.
Namun, sudahkah ia memperhatikan bagaimana salatnya? Bagaimana hubungan dengan kedua orang tuanya? Bagaimana pendidikan anak-anaknya? Bagaimana kejujurannya? Bagaimana kesungguhan dalam menuntut ilmu? Dan bagaimana persiapannya menghadapi kematian?
Kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh peristiwa yang terjadi di dunia seolah-olah semuanya berada dalam kekuasaan kita.
Namun, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah, ucapan, perbuatan, waktu, dan tanggung jawab yang Allah bebankan kepada kita.
Karena itu, hendaknya perhatian terbesar kita tertuju kepada perkara-perkara yang benar-benar menjadi tanggung jawab kita, tanpa mengabaikan hak dan kebutuhan orang lain.
Penutup
Mengikuti berita bukanlah sesuatu yang tercela secara mutlak. Bahkan, dalam keadaan tertentu, mengetahui informasi yang benar merupakan kebutuhan dan bagian dari tanggung jawab seorang muslim.
Akan tetapi, terlalu berlebihan dalam tatabbu‘ al-akhbār dapat menyebabkan waktu terbuang, hati dipenuhi kegelisahan, lisan mudah terlibat dalam perdebatan, dan perhatian terhadap ilmu serta amal menjadi berkurang.
Seorang muslim yang bijaksana mengetahui kapan harus mencari informasi, kapan harus memeriksa kebenarannya, kapan perlu bertindak, dan kapan sebaiknya berhenti mengikuti sesuatu yang tidak bermanfaat.
Ketahuilah berita secukupnya, ambillah manfaatnya, lakukan kewajiban yang berkaitan dengannya, lalu kembalilah kepada urusan yang lebih utama.
Jangan sampai kita selalu mengetahui berita terbaru, tetapi terlambat memperbaiki diri. Jangan sampai kita memahami berbagai persoalan dunia, tetapi tidak memahami keadaan hati kita sendiri.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjaga pendengaran, penglihatan, lisan, dan hati kita dari segala sesuatu yang tidak diridai-Nya. Semoga Allah memberikan kepada kita kemampuan untuk memanfaatkan waktu dalam ketaatan, membimbing kita kepada ilmu yang bermanfaat, menganugerahkan kejernihan dalam menerima informasi, serta menjauhkan kita dari fitnah, kebohongan, prasangka buruk, dan kesibukan yang sia-sia.
اللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا، وَأَصْلِحْ قُلُوبَنَا وَأَعْمَالَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَوْقَاتِنَا، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا وَأَسْمَاعَنَا وَأَبْصَارَنَا عَمَّا لَا يُرْضِيكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ.
Ya Allah, berilah kami manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, tambahkanlah ilmu kepada kami, perbaikilah hati dan amal kami, berkahilah waktu kami, jagalah lisan, pendengaran, dan penglihatan kami dari segala sesuatu yang tidak Engkau ridai, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya.
Amin, ya Rabbal ‘alamin.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Referensi Utama
- Al-Qur’an: QS. Al-Mu’minun: 3; Ar-Ra‘d: 28; Al-Hujurat: 6; Al-Isra’: 36; An-Nisa’: 83.
- Shahih Muslim, Muqaddimah, hadis no. 5, tentang larangan menceritakan semua yang didengar.
- Shahih Muslim, hadis no. 2664, tentang kesungguhan terhadap sesuatu yang bermanfaat.
- Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, hadis tentang anjuran berkata baik atau diam.
- Tafsir Ibnu Katsir, penafsiran ayat-ayat yang berkaitan dengan tabayyun, perkara sia-sia, dan penyebaran berita.