Ketika Manusia Tak Pernah Puas: Belajar Qanaah, Syukur, dan Ridha terhadap Takdir Allah
Ketika Manusia Tak Pernah Puas: Belajar Qanaah, Syukur, dan Ridha terhadap Takdir Allah
☷ Daftar Isi Artikel
Renungan tentang keinginan manusia, ujian kehidupan, dan rahasia ketenangan hati dalam cahaya Al-Qur’an dan Sunnah.
Pendahuluan
Ada manusia yang mengeluhkan usianya, sementara orang lain berharap dapat mencapai usia tersebut. Ada yang merindukan pekerjaan, sementara orang yang telah bekerja justru merasa lelah dan ingin beristirahat. Ada yang berjuang keluar dari kemiskinan, sementara orang yang memiliki kekayaan berlimpah justru disibukkan oleh berbagai kekhawatiran.
Demikianlah salah satu kenyataan kehidupan manusia. Sesuatu yang hari ini sangat diinginkan, boleh jadi suatu saat justru menjadi hal yang dikeluhkan. Keadaan yang dianggap sebagai sumber kebahagiaan ternyata tidak selalu memberikan ketenteraman sebagaimana yang dibayangkan.
Penyair dan sastrawan Mesir, Abbas Mahmud Al-Aqqad (عباس محمود العقاد), menggambarkan keadaan ini dalam syairnya yang masyhur:
صَغِيرٌ يَطْلُبُ الْكُبْرَا
وَشَيْخٌ وَدَّ لَوْ صَغُرَا
وَخَالٍ يَشْتَهِي عَمَلًا
وَذُو عَمَلٍ بِهِ ضَجِرَا
وَرَبُّ الْمَالِ فِي تَعَبٍ
وَفِي تَعَبٍ مَنِ افْتَقَرَا
Artinya:
“Anak kecil menginginkan kedewasaan, sedangkan orang tua berharap kembali muda. Orang yang tidak memiliki pekerjaan mendambakan pekerjaan, sedangkan orang yang bekerja justru merasa jenuh dengannya. Pemilik harta hidup dalam keletihan, dan orang yang miskin pun berada dalam kesusahan.”
Betapa dalam makna syair tersebut. Ia menggambarkan kenyataan bahwa pergantian keadaan tidak selalu diikuti oleh perubahan hati menjadi lebih tenang.
Namun, Islam tidak membiarkan manusia terombang-ambing oleh keinginan dan kegelisahan. Allah Ta’ala memberikan petunjuk agar manusia memahami hakikat kehidupan, mensyukuri nikmat, bersabar menghadapi ujian, berusaha memperbaiki keadaan, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.
1. Manusia Sering Menginginkan Apa yang Tidak Dimilikinya
Salah satu penyebab kegelisahan adalah kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.
Seseorang melihat kelebihan saudaranya, kemudian melupakan nikmat yang ada pada dirinya. Ia menganggap kehidupan orang lain lebih menyenangkan, padahal setiap manusia memiliki tanggung jawab dan ujian masing-masing.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ
“Janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah Allah lebihkan kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.”
(QS. An-Nisa’: 32)
Ayat ini mendidik manusia agar tidak tenggelam dalam angan-angan dan iri hati terhadap karunia orang lain. Allah justru mengarahkan hamba-Nya untuk memohon kepada-Nya dan melakukan usaha yang baik.
Keberhasilan orang lain seharusnya menjadi motivasi untuk memperbaiki diri, bukan alasan untuk membenci ketentuan Allah.
Menginginkan kehidupan yang lebih baik pada dasarnya bukan kesalahan. Seorang Muslim boleh berusaha meningkatkan penghasilan, mencari pekerjaan yang lebih baik, memperluas ilmu, dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Yang tercela adalah ketika keinginan tersebut berubah menjadi kedengkian, keserakahan, atau ketidakrelaan terhadap ketentuan Allah.
Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar seberapa besar keinginan manusia, tetapi bagaimana ia mengendalikan keinginannya sesuai tuntunan syariat.
2. Kekayaan Tidak Selalu Melahirkan Ketenangan
Penyair mengatakan:
وَرَبُّ الْمَالِ فِي تَعَبٍ، وَفِي تَعَبٍ مَنِ افْتَقَرَا
“Pemilik harta berada dalam keletihan, dan orang yang miskin pun berada dalam kesusahan.”
Orang yang tidak memiliki harta mungkin merasa gelisah karena kebutuhan hidupnya belum terpenuhi. Namun, orang kaya pun dapat mengalami kegelisahan karena kesibukan mengelola kekayaan, kekhawatiran kehilangan harta, persaingan, dan berbagai tanggung jawab lainnya.
Maka, kekayaan material bukanlah ukuran mutlak bagi kebahagiaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.”
(HR. Al-Bukhari no. 6446 dan Muslim)
Hadis ini tidak mencela kekayaan. Harta yang halal dapat menjadi sarana untuk menafkahi keluarga, menolong orang yang membutuhkan, mendukung pendidikan, dan membiayai berbagai amal kebajikan.
Akan tetapi, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kekayaan yang paling mendasar terletak pada hati.
Seseorang yang memiliki banyak harta tetapi terus-menerus merasa kurang dapat hidup dalam kegelisahan. Sebaliknya, seseorang yang memiliki penghasilan sederhana dapat merasakan ketenteraman karena bersyukur, menjaga kehormatan diri, dan tidak selalu membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Di sinilah letak pentingnya sifat qanaah.
3. Qanaah: Merasa Cukup Tanpa Berhenti Berusaha
Qanaah (القناعة) adalah sikap merasa cukup dengan pemberian Allah, tidak rakus terhadap dunia, serta menerima hasil usaha yang diperoleh melalui jalan yang halal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang mencukupi, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang Dia berikan kepadanya.”
(HR. Muslim no. 1054)
Hadis ini menyebutkan tiga karunia yang sangat besar: keimanan, rezeki yang mencukupi kebutuhan, dan hati yang merasa cukup.
Betapa banyak manusia yang mendapatkan tambahan penghasilan tetapi tidak mendapatkan tambahan ketenangan. Ketika penghasilannya meningkat, keinginannya pun ikut bertambah. Ketika satu kebutuhan terpenuhi, muncul berbagai keinginan baru yang seolah tidak memiliki batas.
Sebaliknya, orang yang memiliki qanaah mampu membedakan kebutuhan dan keinginan. Ia tetap bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menggantungkan seluruh kebahagiaannya pada pencapaian duniawi.
Qanaah bukan berarti berhenti mencari rezeki, melainkan tidak membiarkan keinginan menguasai hati.
Seorang pedagang yang qanaah tetap berusaha mengembangkan usahanya. Seorang pelajar yang qanaah tetap bersungguh-sungguh meraih prestasi. Seorang pekerja yang qanaah tetap berusaha meningkatkan kemampuan dan penghasilannya.
Perbedaannya terletak pada sikap hati ketika menghadapi hasil usaha: ia bersyukur apabila memperoleh keberhasilan dan tidak berputus asa ketika mengalami kegagalan.
4. Kekayaan dan Kemiskinan Sama-Sama Merupakan Ujian
Sebagian manusia menganggap kekayaan sebagai tanda bahwa Allah memuliakannya, sedangkan kesempitan rezeki dianggap sebagai tanda bahwa Allah menghinakannya.
Padahal, Al-Qur’an meluruskan anggapan tersebut.
Allah Ta’ala berfirman:
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ كَلَّا
“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!”
(QS. Al-Fajr: 15–17)
Ayat ini menjelaskan bahwa kelapangan dan kesempitan rezeki merupakan bentuk ujian Allah.
Orang kaya diuji dengan hartanya: apakah ia bersyukur, menunaikan zakat, menjauhi kesombongan, dan membantu sesama?
Sementara orang yang mengalami kesulitan ekonomi diuji dengan keadaannya: apakah ia bersabar, menjaga diri dari penghasilan haram, dan terus berusaha melalui jalan yang dibenarkan?
Kekayaan tidak otomatis menunjukkan kemuliaan seseorang di sisi Allah, sebagaimana kemiskinan tidak otomatis menunjukkan kehinaan.
Ukuran kemuliaan seorang hamba adalah ketakwaannya kepada Allah, bukan banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki.
Oleh karena itu, janganlah seseorang merendahkan orang miskin karena kemiskinannya. Jangan pula ia memandang setiap orang kaya sebagai manusia yang lebih mulia.
Masing-masing memiliki amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
5. Belajarlah Melihat Nikmat yang Sudah Dimiliki
Di antara penyebab hilangnya rasa syukur adalah terlalu sering memandang orang yang lebih tinggi dalam urusan dunia.
Ketika melihat rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih mahal, pekerjaan yang lebih bergengsi, atau kehidupan yang tampak lebih mewah, seseorang bisa mulai menganggap kecil nikmat yang sebenarnya telah Allah berikan kepadanya.
Rasulullah ﷺ memberikan nasihat:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.”
(HR. Muslim no. 2963)
Petunjuk ini sangat penting dalam kehidupan modern.
Seseorang mungkin mengeluhkan rumahnya yang sederhana, padahal banyak orang belum memiliki tempat tinggal yang layak. Ia mengeluhkan makanannya yang biasa, padahal sebagian manusia mengalami kesulitan mendapatkan makanan. Ia mengeluhkan pekerjaannya, sementara banyak orang masih berjuang mendapatkan penghasilan.
Bukan berarti kesulitan mereka harus dijadikan bahan untuk merasa lebih tinggi. Sebaliknya, keadaan tersebut semestinya menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian.
Dalam urusan dunia, melihat keadaan orang yang lebih sulit dapat membantu seseorang menghargai nikmatnya. Sementara dalam urusan ilmu, ibadah, dan akhlak, ia hendaknya meneladani orang-orang saleh yang lebih baik agar terus terdorong memperbaiki diri.
6. Tidak Semua yang Diinginkan Pasti Baik bagi Kita
Terkadang manusia sangat menginginkan sesuatu karena hanya melihat sisi menyenangkannya.
Ia ingin cepat dewasa tanpa mengetahui beratnya tanggung jawab orang dewasa. Ia ingin memiliki jabatan tanpa memahami besarnya amanah kepemimpinan. Ia menginginkan kekayaan tanpa menyadari kemungkinan ujian yang menyertainya.
Sebaliknya, manusia terkadang membenci suatu keadaan, padahal di dalamnya terdapat hikmah dan kebaikan yang belum ia ketahui.
Allah Ta’ala berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini turun dalam konteks kewajiban berperang, tetapi mengandung pelajaran tentang keterbatasan pengetahuan manusia terhadap hikmah ketentuan Allah.
Manusia mengetahui keinginannya, tetapi tidak mengetahui seluruh akibat dari sesuatu yang diinginkannya.
Boleh jadi kegagalan memperoleh suatu pekerjaan menjadi jalan menuju kesempatan lain yang lebih baik. Boleh jadi tertundanya suatu rencana memberikan kesempatan untuk memperbaiki persiapan. Namun, manusia tidak boleh memastikan bahwa setiap peristiwa tertentu memiliki hikmah khusus yang ia ketahui secara pasti.
Seorang Mukmin meyakini kesempurnaan ilmu dan hikmah Allah, sembari terus melakukan sebab-sebab yang dibenarkan syariat.
7. Ridha terhadap Takdir Tidak Berarti Pasrah Tanpa Usaha
Salah satu kesalahan dalam memahami qanaah dan ridha adalah menganggap keduanya sebagai alasan untuk tidak berusaha memperbaiki kehidupan.
Padahal, Islam memadukan antara ikhtiar, doa, tawakal, dan penerimaan terhadap ketentuan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ
“Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah bersikap lemah.”
(HR. Muslim no. 2664)
Hadis ini mengandung tiga prinsip penting.
Pertama, seorang Muslim diperintahkan untuk bersungguh-sungguh mengejar perkara yang bermanfaat, baik dalam urusan agama maupun dunia.
Kedua, ia harus memohon pertolongan Allah karena keberhasilan tidak semata-mata bergantung pada kemampuan dirinya.
Ketiga, ia tidak boleh menyerah kepada kemalasan atau menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban.
Orang yang belum mendapatkan pekerjaan hendaknya berusaha mencari pekerjaan, meningkatkan keterampilan, dan memperbanyak doa. Orang yang memiliki pekerjaan tetapi menghadapi tekanan hendaknya berusaha menyelesaikan masalahnya secara bijaksana. Orang yang mengalami kesulitan ekonomi hendaknya mencari jalan keluar yang halal dan tidak putus harapan.
Apabila setelah usaha yang benar hasilnya belum sesuai harapan, barulah ia menyerahkan urusannya kepada Allah dengan kesabaran dan ketawakalan.
Dengan demikian, ridha terhadap takdir bukanlah menyerah sebelum berusaha, tetapi menerima ketentuan Allah tanpa meninggalkan ikhtiar yang diperintahkan.
8. Syukur ketika Lapang dan Sabar ketika Sempit
Kehidupan manusia terus berubah. Ada masa sehat dan sakit, lapang dan sempit, keberhasilan dan kegagalan, kebahagiaan dan kesedihan.
Tidak ada manusia yang selamanya berada dalam satu keadaan.
Namun, seorang Mukmin mempunyai pedoman yang menjadikan setiap keadaan sebagai kesempatan memperoleh kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya merupakan kebaikan, dan hal itu tidak dimiliki siapa pun selain orang beriman. Apabila memperoleh kesenangan, ia bersyukur sehingga hal itu menjadi kebaikan baginya. Apabila ditimpa kesusahan, ia bersabar sehingga hal itu menjadi kebaikan baginya.”
(HR. Muslim no. 2999)
Inilah salah satu rahasia ketenangan seorang Mukmin.
Ketika diberikan kekayaan, ia tidak menjadi sombong. Ketika mengalami kemiskinan, ia tidak kehilangan harapan. Ketika diberikan kesehatan, ia memanfaatkannya untuk beramal. Ketika diuji dengan penyakit, ia bersabar sambil berikhtiar mencari pengobatan.
Syukur dan sabar bukan sekadar ucapan, melainkan sikap yang diwujudkan melalui perbuatan.
Allah Ta’ala juga berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Bentuk tambahan nikmat dari Allah tidak harus selalu berupa bertambahnya harta. Nikmat dapat berupa keberkahan, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, kemudahan beribadah, atau berbagai kebaikan lain yang Allah kehendaki.
Karena itu, jangan menunda rasa syukur sampai seluruh keinginan terpenuhi. Mulailah bersyukur atas nikmat yang sudah ada.
9. Memahami Takdir dengan Benar
Pada bagian lain syair tersebut, penyair menggambarkan kebingungan manusia menghadapi perubahan kehidupan melalui ungkapan:
فَهَلْ حَارُوا مَعَ الْأَقْدَارِ أَوْ هُمْ حَيَّرُوا الْقَدَرَا؟
Ungkapan ini merupakan bentuk pertanyaan retoris dalam bahasa sastra. Maksud yang dapat dipahami ialah menggambarkan manusia yang terus-menerus berubah keinginannya dan kebingungan menghadapi keadaan.
Namun, ungkapan yang menyandarkan kebingungan kepada takdir tidak boleh dipahami secara hakiki. Allah Mahatahu terhadap segala sesuatu, dan ketetapan-Nya tidak pernah diliputi kebingungan. Karena itu, dalam penjelasan akidah, ungkapan semacam ini perlu diberi batasan makna dan sebaiknya diganti dengan redaksi yang lebih jelas.
Allah Ta’ala berfirman:
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Agar kamu tidak bersedih hati secara berlebihan terhadap apa yang luput darimu dan tidak pula terlalu bergembira dengan sombong terhadap apa yang diberikan kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”
(QS. Al-Hadid: 23)
Ayat ini memberikan keseimbangan yang luar biasa.
Ketika sesuatu yang dicintai terlepas dari tangan, seorang Muslim boleh bersedih, tetapi hendaknya tidak berlarut-larut dalam penyesalan yang merusak keimanannya.
Ketika memperoleh keberhasilan, ia boleh bergembira, tetapi tidak boleh menjadikan keberhasilan tersebut sebagai alasan untuk bersikap angkuh.
Dalam penafsiran ayat ini, terdapat penjelasan dari Ikrimah yang dinukil oleh para ahli tafsir:
لَيْسَ أَحَدٌ إِلَّا وَهُوَ يَفْرَحُ وَيَحْزَنُ، وَلَكِنِ اجْعَلُوا الْفَرَحَ شُكْرًا وَالْحُزْنَ صَبْرًا
“Tidak seorang pun melainkan mengalami kegembiraan dan kesedihan. Akan tetapi, jadikanlah kegembiraan sebagai syukur dan kesedihan sebagai kesabaran.”
(Dinukil dalam Tafsir Ibnu Katsir ketika menjelaskan QS. Al-Hadid: 23)
Dengan demikian, ketenangan seorang Mukmin bukan berarti ia tidak pernah bersedih atau merasa kecewa. Akan tetapi, ia memiliki petunjuk untuk mengelola perasaan tersebut sehingga tidak keluar dari batas-batas yang diridhai Allah.
10. Menjadikan Kehidupan sebagai Ladang Amal
Pada akhirnya, tujuan hidup bukanlah sekadar memperoleh seluruh keinginan dunia.
Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.”
(QS. Al-Mulk: 2)
Ayat ini menjelaskan bahwa kehidupan merupakan tempat ujian untuk memperlihatkan kualitas amal manusia.
Seorang anak hendaknya memanfaatkan masa kecilnya untuk belajar dan membiasakan kebaikan. Seorang pemuda hendaknya memanfaatkan kekuatan dan waktunya untuk menuntut ilmu serta beramal saleh. Orang dewasa hendaknya menunaikan tanggung jawabnya. Sementara orang yang telah lanjut usia hendaknya mengisi sisa kehidupannya dengan ketaatan dan memperbanyak bekal menuju akhirat.
Demikian pula dalam urusan harta. Orang kaya dapat mendekatkan diri kepada Allah melalui sedekah, zakat, dan berbagai amal kebajikan. Sementara orang yang kekurangan tetap memiliki kesempatan memperoleh pahala melalui kesabaran, kejujuran, doa, dan amal saleh sesuai kemampuannya.
Dengan demikian, pertanyaan terpenting bukanlah, “Mengapa aku tidak memiliki kehidupan seperti orang lain?” melainkan, “Bagaimana aku menggunakan keadaan yang Allah berikan untuk mendekatkan diri kepada-Nya?”
11. Langkah Praktis Menumbuhkan Qanaah dan Ketenangan
Ada beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
- Membiasakan syukur. Luangkan waktu untuk menyadari nikmat keimanan, kesehatan, keluarga, keamanan, dan kesempatan beribadah.
- Mengurangi perbandingan duniawi. Jangan menjadikan kemewahan orang lain sebagai ukuran utama keberhasilan diri.
- Membedakan kebutuhan dan keinginan. Tidak semua yang diinginkan harus dimiliki, sekalipun seseorang mampu membelinya.
- Berusaha melalui jalan yang halal. Tetaplah bekerja, belajar, dan meningkatkan kemampuan tanpa mengorbankan ketentuan agama.
- Menghadapi kesulitan dengan sabar. Kesabaran tidak meniadakan usaha untuk menyelesaikan masalah.
- Memperbanyak doa dan tawakal. Mintalah kepada Allah rezeki yang halal, keberkahan, dan hati yang merasa cukup.
- Mengingat kehidupan akhirat. Jadikan keberhasilan dunia sebagai sarana ketaatan, bukan tujuan akhir kehidupan.
Dengan membiasakan hal-hal tersebut, seorang Muslim berusaha membangun hati yang tidak mudah dikuasai keserakahan, kedengkian, maupun penyesalan berkepanjangan.
Penutup: Bahagia Bukan Berarti Memiliki Segalanya
Syair tentang anak kecil yang ingin dewasa, orang tua yang ingin kembali muda, penganggur yang mendambakan pekerjaan, pekerja yang merasa jenuh, serta orang kaya dan miskin yang sama-sama menghadapi kesulitan memberikan sebuah pelajaran penting.
Manusia dapat menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki. Namun, ketika berhasil mendapatkannya, boleh jadi ia justru menemukan bentuk ujian yang lain.
Oleh sebab itu, kebahagiaan sejati tidak semestinya digantungkan sepenuhnya pada keadaan dunia yang senantiasa berubah.
Seorang Muslim hendaknya terus berusaha memperbaiki kehidupannya, sekaligus memelihara rasa syukur dan keridhaan terhadap ketentuan Allah.
Jangan sampai kerinduan terhadap nikmat yang belum diperoleh menjadikan kita lupa mensyukuri nikmat yang telah dimiliki. Jangan pula kelelahan menghadapi tanggung jawab hari ini membuat kita melupakan betapa dahulu kita pernah berdoa untuk memperoleh kesempatan tersebut.
Barangkali pekerjaan yang hari ini terasa melelahkan adalah pekerjaan yang dahulu sangat kita harapkan. Barangkali rumah sederhana yang hari ini kita keluhkan adalah rumah yang dahulu kita impikan. Barangkali kesehatan yang kita anggap biasa adalah nikmat yang sangat dirindukan oleh mereka yang sedang terbaring sakit.
Karena itu, bersyukurlah sebelum nikmat berlalu. Berusahalah sebelum kesempatan hilang. Bersabarlah ketika menghadapi ujian, dan jangan pernah kehilangan harapan terhadap rahmat Allah.
Sebab, orang yang memiliki banyak hal belum tentu memiliki hati yang tenang. Namun, orang yang dikaruniai hati yang qanaah telah mendapatkan salah satu nikmat terbesar dalam kehidupan.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا قَانِعَةً، وَنُفُوسًا مُطْمَئِنَّةً، وَأَلْسِنَةً شَاكِرَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً مُتَقَبَّلَةً. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ عِنْدَ النِّعَمِ، وَمِنَ الصَّابِرِينَ عِنْدَ الْبَلَاءِ، وَمِنَ الرَّاضِينَ بِقَضَائِكَ وَقَدَرِكَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَاجْعَلِ الْآخِرَةَ خَيْرًا لَنَا مِنَ الْأُولَى. آمِينَ.
“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami hati yang merasa cukup, jiwa yang tenteram, lisan yang bersyukur, dan amal saleh yang Engkau terima. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang bersyukur ketika memperoleh nikmat, bersabar ketika menghadapi ujian, serta ridha terhadap ketetapan dan takdir-Mu. Berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami. Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami, dan jadikanlah kehidupan akhirat lebih baik bagi kami daripada kehidupan dunia. Amin.”
Catatan: Doa penutup ini merupakan susunan doa yang maknanya baik, bukan satu redaksi hadis yang dinukil secara utuh.
Rujukan utama: Al-Qur’an; Shahih Al-Bukhari; Shahih Muslim; Tafsir Ibnu Katsir pada QS. Al-Hadid: 23; serta syair Abbas Mahmud Al-Aqqad dalam Hayy Al-Arba’in, bagian Khawathir fi Syu’un An-Nas.